Golgotha School of Ministry

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

Rabu, tgl 20 Juli 2011, pk 19.00

Pdt. Budi Asali, M. Div.

(HP: 7064-1331 / 6050-1331)

[email protected]

http://www.golgothaministry.org

Unconditional Election 

(Pemilihan tanpa syarat)

pelajaran 8

20 juli 2011

 

Dasar Alkitab dari point ini:

Dalam persoalan ini, dalam Alkitab ada dua kelompok ayat:

 

1.   Ayat-ayat yang kelihatannya menunjukkan bahwa dalam hal buruk / dosapun Allah bekerja secara aktif.

 

Contoh:

 

a.   Kej 45:5-8 - “(5) Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu. (6) Karena telah dua tahun ada kelaparan dalam negeri ini dan selama lima tahun lagi orang tidak akan membajak atau menuai. (7) Maka Allah telah menyuruh aku mendahului kamu untuk menjamin kelanjutan keturunanmu di bumi ini dan untuk memelihara hidupmu, sehingga sebagian besar dari padamu tertolong. (8) Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah; Dialah yang telah menempatkan aku sebagai bapa bagi Firaun dan tuan atas seluruh istananya dan sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir”.

Bdk. Maz 105:17 - diutusNyalah seorang mendahului mereka: Yusuf, yang dijual sebagai budak’.

 

b.   Maz 105:25 - diubahNya hati mereka untuk membenci umatNya, untuk memperdayakan hamba-hambaNya”.

Bdk. Kel 1:8-10 - “(8) Kemudian bangkitlah seorang raja baru memerintah tanah Mesir, yang tidak mengenal Yusuf. (9) Berkatalah raja itu kepada rakyatnya: ‘Bangsa Israel itu sangat banyak dan lebih besar jumlahnya dari pada kita. (10) Marilah kita bertindak dengan bijaksana terhadap mereka, supaya mereka jangan bertambah banyak lagi dan - jika terjadi peperangan - jangan bersekutu nanti dengan musuh kita dan memerangi kita, lalu pergi dari negeri ini.’”.

 

c.   Kel 4:21 - “Firman TUHAN kepada Musa: ‘Pada waktu engkau hendak kembali ini ke Mesir, ingatlah, supaya segala mujizat yang telah Kuserahkan ke dalam tanganmu, kauperbuat di depan Firaun. Tetapi Aku akan mengeraskan hatinya, sehingga ia tidak membiarkan bangsa itu pergi.

 

2.   Ayat-ayat yang kelihatannya menunjukkan bahwa dalam hal buruk / dosa Allah bekerja secara pasif.

 

Contoh:

 

a.   Ro 1:24,26,28 - “(24) Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka akan kecemaran, sehingga mereka saling mencemarkan tubuh mereka. ... (26) Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar. ... (28) Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas”.

 

b.   Maz 81:12-13 - “(12) Tetapi umatKu tidak mendengarkan suaraKu, dan Israel tidak suka kepadaKu. (13) Sebab itu Aku membiarkan dia dalam kedegilan hatinya; biarlah mereka berjalan mengikuti rencananya sendiri!”.

 

c.   Kis 14:16 - “Dalam zaman yang lampau Allah membiarkan semua bangsa menuruti jalannya masing-masing.

 

Adanya dua kelompok ayat ini menyebabkan kita ‘menjadi serba salah’ dalam menafsirkan. Kalau kita menganggap Allah aktif dalam pelaksanaan rencana yang berhubungan dengan dosa, maka kita mengabaikan kelompok ayat yang kedua, dan kalau kita menganggap Allah hanya sekedar mengijinkan dalam persoalan dosa (seperti yang dilakukan oleh Arminianisme), maka kita mengabaikan kelompok ayat yang pertama.

 

Jadi, satu-satunya cara / jalan, yang betul-betul mempedulikan kedua kelompok ayat itu adalah menafsirkan sebagai berikut:

Dalam pelaksanaan rencana yang berhubungan dengan dosa, Allah memang bekerja secara pasif, yaitu menarik kasih karuniaNya, dan mengijinkan setan dan / atau manusia untuk menggoda manusia yang ditetapkan untuk jatuh ke dalam dosa itu sehingga dosa itu pasti terjadi.

Supaya tidak dianggap bahwa Allah hanya semata-mata mengijinkan terjadinya dosa, maka diberi ayat-ayat kelompok pertama.

Ayat-ayat kelompok pertama bisa ada dalam Alkitab, untuk menunjukkan bahwa semua itu terjadi karena penentuan Allah. Allah adalah first cause / penyebab pertama dari segala sesuatu. Ini bukan merupakan sesuatu yang aneh, karena kalau saya membangun sebuah rumah, sekalipun saya membangun rumah itu menggunakan orang lain (pemborong, kuli dsb) dan tidak membangunnya sendiri, saya tetap bisa berkata bahwa sayalah yang membangun rumah.

Catatan: kalau mau tahu lebih mendalam lagi tentang hal ini, baca buku saya yang berjudul ‘Providence of God’.

 

5) Predestinasi, kehendak bebas dan tanggung jawab manusia.

 

a)   Banyak orang Reformed yang tidak setuju dengan istilah free will ( = kehendak bebas).

 

Charles Haddon Spurgeon: “Any man who should deny that man is a free agent might well be thought unreasonable, but free-will is a different thing from free-agency. Luther denounces free-will when he said that ‘free-will is the name for nothing’; and President Edwards demolished the idea in his mastery treatise” (= Orang yang menyangkal bahwa manusia adalah agen bebas akan dianggap tidak masuk akal / tidak rasionil, tetapi kebebasan kehendak berbeda dengan tindakan bebas. Luther mencela kehendak bebas ketika ia berkata bahwa ‘kehendak bebas adalah nama untuk sesuatu yang tidak ada’; dan Presiden Edwards menghancurkan gagasan / idee ini dalam bukunya yang luar biasa) - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 7, hal 10.

 

Robert L. Dabney: “... I have not used the phrase ‘freedom of the will’. I exclude it, because persuaded that it is inaccurate, and that it has occasioned much confusion and error. Freedom is properly predicated of a person, not of a faculty. ... I have preferred therefore to use the phrase, at once popular and exact: ‘free agency’ and ‘free agent’” (= Saya tidak memakai ungkapan ‘kebebasan kehendak’. Saya meniadakannya karena diyakinkan bahwa itu adalah tidak tepat, dan bahwa itu menimbulkan banyak kebingungan dan kesalahan. Kebebasan secara tepat ditujukan kepada seseorang, bukan pada bagian dari jiwa / pikiran. ... Karena itu saya lebih menyukai untuk menggunakan ungkapan yang sekaligus populer dan tepat: ‘tindakan bebas’ dan ‘agen bebas’) - ‘Lectures in Systematic Theology’, hal 129.

 

Catatan:

·               Istilah ‘agent’ berarti ‘a person that performs actions or is able to do so’ (= seseorang yang melakukan tindakan-tindakan atau yang mampu melakukannya).

·               Istilah ‘agency’ berarti ‘action’ (= tindakan) atau ‘the business of a person’ (= kegiatan / kesibukan seseorang).

Ini diambil dari Webster’s New World Dictionary.

 

Tetapi karena istilah ‘free will’ sudah begitu populer, dan lebih-lebih dalam kalangan orang awam di Indonesia istilah kehendak bebas sangat populer sedangkan istilah ‘agen bebas’ dan ‘tindakan bebas’ tidak pernah terdengar, maka saya tetap menggunakan istilah free will / kehendak bebas. Tetapi tentu saja kita harus berhati-hati terhadap penyalahgunaan dari istilah free will / kehendak bebas ini.

 

b)  Arti yang salah dan benar dari free will ( = kehendak bebas).

 

1.   Adanya free will / kehendak bebas tidak berarti bahwa manusia itu bebas secara mutlak.

Kalau kita meninjau doktrin Allah (theology), maka kita bisa melihat bahwa satu-satunya makhluk yang bebas mutlak adalah Allah, dan Allah menciptakan segala sesuatu dan membuat segala sesuatu tergantung kepada diriNya (Neh 9:6  Maz 94:17-19  Maz 104:27-30  Kis 17:28  1Tim 6:13  Ibr 1:3). Jadi jelas bahwa manusia tidak bebas secara mutlak, tetapi sebaliknya tergantung kepada Allah.

 

2.   Adanya free will / kehendak bebas tidak berarti bahwa manusia selalu bisa / mampu melakukan apa yang ia kehendaki.

Ini berlaku dalam hal:

a.   Biasa / jasmani. Misalnya manusia boleh saja ingin terbang, tetapi ia tidak bisa terbang.

b.   Rohani. Orang berdosa di luar Kristus tidak bisa berbuat baik atau datang kepada Kristus dengan kekuatannya sendiri. Bahkan orang kristenpun sering menginginkan hal yang baik tetapi tidak mampu melakukannya (Ro 7:18-23  Mat 26:41).

Jadi, free will / kehendak bebas tidak berhubungan dengan kemampuan untuk melakukan apa yang ia kehendaki.

 

3.   Adanya free will / kehendak bebas tidak berarti pada saat manapun dalam kehidupannya, manusia itu betul-betul bisa memilih beberapa tindakan sesuai dengan kehendaknya sendiri.

Orang Reformed mempercayai bahwa segala sesuatu ditentukan oleh Allah, dan pasti akan terjadi sesuai kehendak Allah. Karena itu adalah omong kosong kalau kita dalam hal ini beranggapan bahwa manusia betul-betul bisa memilih tindakan sesuai dengan kemauannya. Sebaliknya, ia pasti akan melakukan tindakan yang telah ditentukan oleh Allah.

Catatan: kalau mau mengetahui tentang penentuan mutlak dari Allah atas segala sesuatu, bacalah buku saya yang berjudul ‘Providence of God’.

 

4.   Free will / kehendak bebas berarti: semua yang manusia lakukan, ia lakukan sesuai dengan ketetapan Tuhan, tetapi pada saat yang sama, ia tetap melakukan itu karena itu memang adalah kehendaknya / keputusannya. Ia tidak dipaksa oleh Allah untuk melakukan kehendak / ketetapan Allah tersebut. Ia akan secara sukarela melakukan ketetapan Allah tersebut.

 

Bahkan pada saat manusia itu dipaksa untuk melakukan sesuatu, ia tetap melakukan sesuai keputusan / kehendaknya sendiri. Misalnya: seseorang ditodong dan dipaksa untuk menyerahkan uangnya. Ia bisa saja memutuskan untuk melawan, apapun resikonya. Tetapi setelah ia mempertimbangkan resiko kehilangan nyawa / terluka, maka ia mengambil keputusan untuk menyerahkan uangnya. Ini tetap adalah keputusan / kehendak bebasnya. Karena itu sebetulnya ungkapan bahasa Inggris ‘I did it against my will’ (= aku melakukan itu bertentangan kehendakku) adalah sesuatu yang salah.

 

Yang bisa terjadi adalah: sesuatu dilakukan terhadap kita bertentangan dengan kehendak kita. Misalnya kita diikat lalu dibawa ke tempat yang tidak kita ingini. Tetapi ini bukan kita yang melakukan.

 

Jadi, kalau kita melakukan sesuatu, itu karena kita mau / menghendaki untuk melakukan hal itu.

 

c)   Predestinasi tidak menghancurkan kebebasan manusia.

 

Pdt. Jusuf B. S. secara memfitnah menggambarkan Calvinisme sebagai berikut: “Tidak ada kemauan bebas dari manusia” - ‘Keselamatan Tidak Bisa Hilang?’, hal 22.

Saya katakan bahwa Pdt. Jusuf B. S. memfitnah Calvinisme, bukan sekedar menyerang Calvinisme, karena ia menuliskan kalimat itu di bawah point ke 2 dari lima pokok Calvinisme, yang ia sebut dengan istilah ‘Ikatan Takdir’. Jadi pada waktu orang membaca bukunya, maka orang jelas akan mengambil kesimpulan bahwa itu adalah ajaran Calvinisme. Padahal Calvinisme tidak pernah mengajarkan seperti itu.

 

Sekalipun Calvinisme mempercayai kedaulatan Allah yang menentukan keselamatan seseorang dan bahkan juga menentukan segala sesuatu yang lain, tetapi Calvinisme tetap mempercayai kebebasan manusia. Mengapa? Karena dalam Kitab Suci kita melihat bahwa sekalipun segala sesuatu terjadi sesuai kehendak / rencana Allah, tetapi pada waktu manusianya melakukan hal itu, ia tidak dipaksa, tetapi melakukannya dengan sukarela.

Misalnya:

1.   Pada waktu mengutus Musa kepada Firaun, Tuhan berkata bahwa Ia akan mengeraskan hati Firaun (Kel 4:21  7:3). Ini menunjukkan bahwa Tuhan sudah menentukan bahwa Firaun tidak akan melepaskan Israel. Tetapi pada waktu Musa sampai kepada Firaun, dikatakan bahwa ‘Firaun mengeraskan hatinya sendiri’ (Kel 7:22  8:15,19,32  9:34-35  14:5).

2.   Yudas mengkhianati / menyerahkan Yesus sesuai dengan ketetapan Allah (Luk 22:22), tetapi pada waktu Yudas melakukan hal itu, ia betul-betul melakukannya dengan kehendaknya sendiri. Kita tidak melihat bahwa Allah memaksa dia untuk mengkhianati Yesus.

3.   Orang-orang yang membunuh Yesus melakukan hal itu sesuai dengan apa yang sudah Allah tentukan dari semula (Kis 4:27-28), tetapi pada waktu mereka melakukannya, mereka betul-betul bebas, dan melakukannya atas kehendak mereka sendiri.

 

Sekarang perhatikan beberapa kutipan atau penjelasan dari beberapa ahli theologia Reformed yang jelas mempercayai baik ‘kedaulatan Allah’ maupun ‘kebebasan manusia’.

 

Robert L. Dabney: “... God executes this purpose as to man’s acts, not against but through and with man’s own free will. In producing spiritually good acts, He ‘worketh in man to will and to do’ and determines that he ‘shall be willing in the day of His power’. And in bringing about bad acts, He simply leaves the sinner in circumstances such that he does, of himself only, yet certainly, choose the wrong” (= ... Allah melaksanakan rencanaNya yang berkenaan dengan tindakan manusia, bukan menentang tetapi melalui dan dengan kehendak bebas manusia. Dalam menghasilkan tindakan-tindakan yang baik secara rohani, Ia ‘bekerja dalam manusia untuk menghendaki dan melakukan’ dan menentukan bahwa ia ‘akan mau pada hari kuasaNya’. Dan untuk menghasilkan tindakan-tindakan yang jahat, Ia hanya membiarkan orang berdosa itu dalam keadaan sedemikian rupa sehingga ia melakukan, hanya dari dirinya sendiri, tetapi dengan pasti, memilih yang jahat / salah) - ‘Lectures in Systematic Theology’, hal 223.

 

Catatan: kata-kata yang diletakkan di antara tanda petik itu diambil dari Fil 2:13 dan Maz 110:3 (versi KJV).

 

R. C. Sproul, dalam bukunya ‘Chosen by God’, menjelaskan beberapa point sehubungan dengan hubungan antara kedaulatan Allah dan kebebasan manusia ini:

a.   Ia berkata bahwa kita tidak menerima kontradiksi, sehingga kalau kedaulatan Allah memang bertentangan dengan kebebasan manusia, maka salah satu harus dibuang.

“If human freedom and divine sovereignty are real contradictions, then one of them, at least, has to go” (= Jika kebebasan manusia dan kedaulatan ilahi sungguh-sungguh bertentangan, maka sedikitnya salah satu dari mereka harus dibuang) - ‘Chosen by God’, hal 41.

b.   Tetapi ia lalu berkata bahwa yang bertentangan / kontradiksi dengan kedaulatan Allah bukanlah kebebasan manusia, tetapi kebebasan mutlak dari manusia, yang ia sebut dengan istilah autonomos (self-law). Tetapi perlu diingat bahwa Calvinisme memang tidak mempercayai kebebasan mutlak dari manusia (lihat arti yang salah dan benar dari free will dalam point b di atas).

c.   Sedangkan kedaulatan Allah dan kebebasan manusia bukanlah merupakan suatu kontradiksi tetapi merupakan suatu paradox, yaitu hal-hal yang kelihatannya saja merupakan kontradiksi.

 

Charles Hodge: God can control the free acts of rational creatures without destroying either their liberty or their responsibility” (= Allah bisa mengontrol tindakan-tindakan bebas dari makhluk-makhluk rasionil tanpa menghancurkan kebebasan ataupun tanggung jawab mereka) - ‘Systematic Theology’, vol II, hal 332.

 

Saya berpendapat bahwa bagian yang harus diperhatikan dalam kata-kata Charles Hodge ini adalah ‘God can’ (= Allah bisa).

Kalau saya membuat film, maka saya akan menyusun naskah, dimana setiap pemain sudah ditentukan harus bertindak apa atau berkata apa. Tetapi selalu ada sedikit kebebasan bagi para pemain. Kalau saya tidak memberikan kebebasan sama sekali, maka para pemain itu akan menjadi robot, yang tidak lagi mempunyai kebebasan apapun.

Tetapi Allah berbeda dengan saya atau dengan manusia lain. Allah bisa menentukan dan mengontrol segala sesuatu sampai detail-detail yang sekecil-kecilnya, tanpa menghancurkan kebebasan manusia! Bagaimana Ia bisa melakukan hal itu, merupakan suatu mystery bagi kita, tetapi yang jelas Kitab Suci menunjukkan bahwa Allah memang menentukan dan menguasai segala sesuatu, tetapi manusia tetap mempunyai kebebasan.

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali