(Rungkut
Megah Raya Blok D No 16)
Rabu,
tgl 06 Juli 2011, pk 19.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
(HP:
7064-1331 / 6050-1331)
http://www.golgothaministry.org
Unconditional
Election
(Pemilihan tanpa syarat)
Pelajaran
7 tanggal 6 Juli 2011
c)
Alasan / dasar Allah melakukan reprobation.
Baik
Robert L. Dabney maupun Loraine Boettner percaya bahwa sekalipun iman
dan / atau perbuatan baik bukanlah dasar dari election, tetapi
dosa merupakan dasar dari reprobation.
Robert
L. Dabney:
“...
it is disputed what is the ground of this righteous preterition of the
non-elect. The honest reader of his Bible would suppose that it was, of course,
their guilt and wickedness foreseen by God, and, for wise reasons, permissively
decreed by Him. This, we saw, all but the supralapsarian admitted in substance.
God’s election is everywhere represented in Scripture, as an act of mercy, and
His preterition as an act of righteous anger against sin” (= ...
diperdebatkan apa yang menjadi dasar dari pelewatan yang
benar dari orang yang tidak dipilih. Pembaca Alkitab yang jujur akan
menganggap bahwa itu tentu adalah kesalahan dan
kejahatan mereka yang dilihat lebih dulu oleh Allah, dan, karena
alasan-alasan yang bijaksana, diijinkan olehNya. Kami
melihat bahwa hal ini pada pokoknya diterima oleh semua kecuali oleh penganut
Supralapsarianisme. Pemilihan Allah dimana-mana
dinyatakan dalam Kitab Suci, sebagai suatu tindakan belas kasihan, dan pelewatanNya
sebagai tindakan kemarahan yang benar terhadap dosa) - ‘Lectures
in Systematic Theology’, hal 240.
Catatan:
saya berpendapat bahwa tidak benar kalau semua menerima pandangan ini kecuali
penganut Supralapsarian-isme.
Loraine
Boettner:
“‘When
the Arminian says that faith and works constitute the ground of election we
dissent,’ says Clark. ‘But if he says that foreseen unbelief and
disobedience constitute the ground of reprobation we assent readily enough. A
man is not saved on the ground of his virtues but he is condemned on the ground
of his sin. As strict Calvinists we insist that while some men are saved from
their unbelief and disobedience, in which all are involved, and others are not,
it is still the sinner’s sinfulness that constitutes the ground of his
reprobation. Election and reprobation proceed on different grounds; one the
grace of God, the other the sin of man’” (= ‘Pada waktu orang Arminian
berkata bahwa iman dan ketaatan / perbuatan baik merupakan dasar pemilihan, kami
tidak setuju,’ kata Clark. ‘Tetapi jika ia berkata
bahwa ketidakpercayaan dan ketidaktaatan yang telah dilihat lebih dulu merupakan
dasar dari reprobation, kami
menyetujui dengan cepat. Seseorang tidak diselamatkan berdasarkan
kebaikannya, tetapi ia dihukum berdasarkan dosanya. Sebagai Calvinist yang
ketat, kami berkeras bahwa sementara sebagian manusia diselamatkan dari
ketidak-percayaan dan ketidaktaatan mereka, di dalam mana semua orang terlibat,
dan sebagian yang lain tidak diselamatkan, adalah
keberdosaan dari orang berdosa itu yang merupakan dasar dari reprobationnya.
Election dan reprobation
bertolak dari dasar yang berbeda; yang satu
berdasarkan kasih karunia Allah, yang lain
berdasarkan dosa manusia) - ‘The
Reformed Doctrine of Predestination’, hal 114.
Tetapi
Charles Hodge tidak setuju bahwa dosa adalah dasar dari reprobation. Dasar dari reprobation
tetap adalah kedaulatan Allah.
Charles
Hodge:
“God
condemns no man, and foreordains no man to condemnation, except on account of
his sin. But the preterition of such men, leaving them, rather than others
equally guilty, to suffer the penalty of their sins, is distinctly declared to
be a sovereign act” (= Allah tidak menghukum
siapapun, dan tidak menentukan lebih dulu siapapun kepada penghukuman, kecuali
karena dosanya. Tetapi tindakan melewati mereka,
meninggalkan mereka, dan bukannya orang-orang lain yang sama bersalahnya, untuk
mendapatkan hukuman atas dosa-dosa mereka, dinyatakan secara jelas sebagai
tindakan yang berdaulat) - ‘Systematic
Theology’, vol II, hal 346.
Louis
Berkhof mendukung Hodge dengan berkata:
·
“... the decree of reprobation comprises two
elements, namely, preteri-tion or the determination to pass by some men; and
condemnation (sometimes called precondemnation) or the determination to punish
them who are passed by for their sins”
[= ... ketetapan reprobation
terdiri dari dua elemen, yaitu, preterition
atau penentuan untuk melewati sebagian manusia; dan hukuman
(kadang-kadang disebut hukuman sebelumnya) atau penentuan untuk menghukum mereka
yang dilewati karena dosanya]
- ‘Systematic Theology’, hal 116.
·
“Preterition is a sovereign act of God, and act of
His mere good pleasure, in which the demerits of man do not come into
consideration ... The reason for preteretion is not known by men. It cannot be
sin, for all men are sinners. We can only say that God passed some by for good
and wise reasons sufficient unto Himself”
(= Tindakan melewati merupakan tindakan berdaulat dari
Allah, dan tindakan dari kerelaanNya, dimana pelanggaran / kesalahan
manusia tidak dipertimbangkan ... Alasan dari tindakan melewati itu tidak
diketahui oleh manusia. Alasannya tidak mungkin
adalah dosa, karena semua orang adalah orang berdosa. Kita hanya dapat
berkata bahwa Allah melewati sebagian orang karena alasan-alasan yang baik dan
bijaksana yang cukup untuk diriNya sendiri)
- ‘Systematic Theology’, hal 116.
Dengan
demikian Louis Berkhof mempunyai pandangan yang sama dengan B. B. Warfield di
bawah ini.
B.
B. Warfield:
“Were
not all men sinners, there might still be an election, as sovereign as now; and
there being an election, there would still be as sovereign a rejection: but the
rejection would not be a rejection to punishment, to destruction, to eternal
death, but to some other destiny consonant to the state in which those passed by
should be left. It is not indeed, then, because men are sinners that men are
left unelected; election is free, and its obverse of rejection must be equally
free: but it is solely because men are sinners that what they are left to is
destruction”
(= Andaikata semua manusia tidak berdosa, tetap bisa
ada pemilihan, yang sama berdaulatnya dengan sekarang; dan dengan adanya
pemilihan, juga ada penolakan yang sama berdaulatnya: tetapi penolakan itu tidak
akan merupakan penolakan kepada hukuman, kepada penghancuran, kepada kematian
kekal, tetapi kepada tujuan yang lain yang sesuai / cocok dengan keadaan dimana
orang-orang yang dilewati itu berada. Jadi, bukannya
karena mereka berdosa sehingga mereka lalu tidak dipilih; pemilihan itu bebas,
dan pasangannya yaitu penolakan harus sama bebasnya: tetapi
karena semua manusia adalah orang berdosa maka mereka ditinggalkan kepada
penghancuran)
- ‘Biblical and Theological Studies’, hal 317.
Saya
lebih setuju dengan pandangan dari Charles Hodge, Louis Berkhof, B. B. Warfield,
karena Ro 9:11-13 yang berbunyi:
“(11) Sebab waktu anak-anak itu belum dilahirkan
dan belum melakukan yang baik atau yang jahat, -
supaya rencana Allah tentang pemilihanNya diteguhkan, bukan berdasarkan
perbuatan, tetapi berdasarkan panggilanNya - (12) dikatakan kepada Ribka:
‘Anak yang tua akan menjadi hamba anak yang muda,’
(13) seperti ada tertulis: ‘Aku mengasihi Yakub,
tetapi membenci Esau’”.
Jelas
bahwa ayat ini menunjukkan bahwa sama seperti pemilihan
Yakub tidak tergantung perbuatan Yakub, demikian
juga penolakan / reprobation terhadap
Esau juga tidak tergantung pada dosa Esau.
d)
Guna / tujuan dari reprobation.
Loraine
Boettner mengatakan bahwa guna / tujuan reprobation
adalah:
1.
Untuk menyatakan kebencian Allah terhadap dosa dan juga untuk menyatakan
keadilan Allah.
2.
Untuk orang pilihan, hal ini menyebabkan kita
sadar akan apa yang seharusnya kita terima andaikata Allah tidak bermurah hati
kepada kita. Kesadaran seperti ini sudah ada pada waktu orang pilihan ini
hidup di dunia, dan ini menyebabkan kita lebih menghargai kasih dan
kemurahan hati Allah yang telah menyelamatkan kita, sehingga kita akan lebih
bersyukur kepada Allah, memuji Allah, dan mengasihi Allah. Tetapi di dunia,
adanya banyak penderitaan atau kadang-kadang kesenangan, sering membuat kita
lupa akan nasib kita yang seharusnya andaikata Allah tidak bermurah hati kepada
kita. Tetapi nanti pada waktu kita sudah masuk
ke surga, kesadaran ini akan lebih nyata lagi, karena dari Luk 16:22-23
dan Wah 14:10 terlihat bahwa orang-orang yang masuk ke surga dan ke neraka
bisa saling melihat. Jadi nanti
di surga kita bisa melihat orang-orang yang ada di neraka, dan menyadari
sepenuhnya bahwa itulah nasib kita andaikata Allah tidak bermurah hati kepada
kita.
Calvin
menyatakan guna / tujuan dari reprobation
ini dengan mengutip kata-kata Agustinus: “The
Lord can therefore also give grace ... to whom he will ... because he is
merciful, and not give to all because he is a just judge. For
by giving to some what they do not deserve, ... he can show his free grace
... By not giving to all, he can manifest what all
deserve” (= Karena itu Tuhan juga bisa memberi kasih karunia ...
kepada siapa yang dikehendakiNya ... karena Ia berbelas kasihan, dan tidak
memberikan kepada semua karena Ia adalah Hakim yang adil. Karena
dengan memberikan kepada sebagian apa yang tidak layak mereka dapatkan, ... Ia
bisa menunjukkan kasih karuniaNya yang cuma-cuma ... Dengan
tidak memberikan kepada semua, Ia bisa menunjukkan apa yang semua layak dapatkan)
- ‘Institutes of the Christian
Religion’, Book III, Chapter XXIII, no 11.
e)
Pelaksanaan dari penentuan binasa
ini.
R.
L. Dabney:
“...
God does nothing to those thus passed by, to make their case any worse, or to
give any additional momentum to their downward course. He leaves them as they
are” (= ... Allah tidak melakukan apa-apa kepada
mereka yang dilewatiNya, untuk membuat keadaan mereka menjadi lebih buruk,
atau untuk memberikan tambahan momentum pada kejatuhan mereka. Ia membiarkan
mereka sebagaimana adanya mereka) - ‘Lectures
in Systematic Theology’, hal 239.
R.
L. Dabney:
“When
it is said that God hardens the non-elect, it is not, and cannot be intended,
that He exerts positive influence upon them to make them worse. ... God is only
the negative cause of hardening - the positive depravation comes only from the
sinner’s own voluntary feelings and acts. And the mode in which God gives
place to, or permits this self-inflicted work, is by righteously withholding His
restraining word and Spirit; and second, by surrounding the sinner (through His
permissive providence) with such occasions and opportunities as the guilty
man’s perverse heart will voluntarily abuse to increase his guilt and
obduracy” [= Ketika dikatakan bahwa Allah mengeraskan orang yang bukan
pilihan, itu tidak berarti bahwa Ia menggunakan pengaruh
positif pada mereka untuk membuat mereka makin jelek. ... Allah
hanyalah merupakan penyebab negatif dari pengerasan - kebejadan positif
datang hanya dari perasaan dan tindakan sukarela dari orang berdosa itu.
Dan cara dimana Allah memberi tempat, atau mengijinkan pekerjaan yang timbul
dengan sendirinya ini, adalah dengan secara benar menahan
firman dan RohNya yang mengekang; dan kedua, dengan
melingkupi orang berdosa itu (melalui ProvidensiaNya yang mengijinkan) dengan
kejadian dan kesempatan yang akan disalah-gunakan secara sukarela oleh orang
yang hatinya bengkok dan salah untuk meningkatkan kesalahannya dan kebandelannya]
- ‘Lectures in Systematic Theology’,
hal 242-243.
Dengan
demikian, sekalipun Allah menetapkan seseorang untuk binasa, tetapi nanti orang
itu sendiri yang dengan sukarela memilih kehidupan yang berdosa, menolak Kristus
dsb, sehingga ia binasa karena kesalahannya sendiri.
Pertanyaan:
Kalau Allah membiarkan orang dalam dosa dan tidak menolong mereka, apakah itu
berarti bahwa Allah melakukan dosa pasif (bdk. Amsal 24:11-12)? R. L. Dabney
mengatakan tidak, karena hukum yang mengikat kita tidak
berlaku bagi Allah, yang adalah pembuat hukum dan yang berada di atas hukum!
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali