Golgotha School of Ministry

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

Rabu, tgl 8 Juni 2011, pk 19.00

Pdt. Budi Asali, M. Div.

(HP: 7064-1331 / 6050-1331)

[email protected]

http://www.golgothaministry.org

Unconditional Election

(Pemilihan tanpa syarat)

Pelajaran 4: 8 Juni 2011

 

10) Ayat-ayat yang menunjukkan bahwa orang-orang yang belum percaya kepada Kristus, yang sudah disebut dengan istilah ‘umat Tuhan’, ‘domba’, dan bahkan ‘anak Allah’. Ini jelas menunjukkan bahwa mereka adalah orang pilihan Allah.

 

a) Kis 18:9b-10 - “(9b) ‘Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam! (10) Sebab Aku menyertai engkau dan tidak ada seorangpun yang akan menjamah dan menganiaya engkau, sebab banyak umatKu di kota ini’”.

 

Kata-kata ini diucapkan oleh Tuhan kepada Paulus, yang pada saat itu sedang menghadapi kemarahan orang-orang Yahudi di Korintus. Tuhan tidak menghendaki Paulus meninggalkan tempat itu, sebaliknya Tuhan menyuruh Paulus untuk terus memberitakan Injil di situ. Mengapa? Karena ada banyak ‘umat Tuhan’ di sana. Orang-orang itu masih kafir, tetapi Tuhan menyebut mereka sebagai ‘umatNya’ karena mereka adalah orang-orang pilihanNya, yang pasti akan bertobat. Supaya mereka bisa bertobat, maka Paulus harus memberitakan Injil di sana.

 

b) Yoh 10:16 - “Ada lagi padaKu domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suaraKu.

Kata-kata ‘bukan dari kandang ini’ menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang non Yahudi yang pada saat itu belum percaya. Kata-kata akan mendengarkan suaraKu’ lebih-lebih menunjukkan bahwa mereka belum percaya kepada Yesus. Tetapi mereka sudah disebut sebagai ‘domba’! Ini menunjukkan bahwa mereka adalah orang pilihan!

 

Calvin (tentang Yoh 10:8): “Thus, according to the secret election of God, we are already sheep in his heart, before we are born; but we begin to be sheep in ourselves by the calling, by which he gathers us into his fold” (= Jadi, menurut pemilihan yang rahasia dari Allah, kita sudah adalah domba dalam hatiNya, sebelum kita dilahirkan, tetapi kita mulai menjadi domba dalam diri kita oleh panggilan, dengan mana Ia mengumpulkan kita ke dalam kandangNya).

 

Calvin: “Therefore, according to God’s secret predestination (as Augustine says), ‘many sheep are without, and many wolves are within.’” [= Karena itu, menurut predestinasi rahasia dari Allah (seperti dikatakan Agustinus), ‘banyak domba ada di luar, dan banyak serigala ada di dalam’] - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book IV, Ch. 1, no 8.

 

c) Yoh 11:51-52 - “(51) Hal itu dikatakannya bukan dari dirinya sendiri, tetapi sebagai Imam Besar pada tahun itu ia bernubuat, bahwa Yesus akan mati untuk bangsa itu, (52) dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai.

 

Kata-kata ‘bangsa itu’ jelas menunjuk kepada bangsa Yahudi, sedangkan kata-kata ‘anak-anak Allah yang tercerai-berai’ jelas menunjuk kepada orang-orang non Yahudi yang saat itu belum percaya kepada Yesus. Mengapa orang-orang non Yahudi yang belum percaya ini sudah disebut ‘anak-anak Allah’? Jelas karena mereka adalah orang pilihan Tuhan, yang pasti akan bertobat, dan pasti akan dikumpulkan dan dipersatukan oleh kematian Yesus!

 

Calvin (tentang Yoh 11:52): But how comes it that they who, in consequence of being wretchedly scattered and wandering, became the enemies of God, are here called the children of God? I answer, as has been already said, God had in his breast children, who in themselves were wandering and lost sheep, or rather who were the farthest possible from being sheep, but, on the contrary, were wolves and wild beasts. It is therefore by election that he reckons as the children of God, even before they are called, those who at length begin to be manifested by faith both to themselves and to others (= Tetapi bagaimana mungkin bahwa mereka yang, sebagai konsekwensi dari keberadaan mereka yang tersebar dan mengembara secara buruk, menjadi musuh-musuh Allah, di sini disebut anak-anak Allah? Saya menjawab, seperti telah dikatakan, Allah mempunyai di dadaNya anak-anak, yang dalam diri mereka sendiri adalah domba-domba yang mengembara dan terhilang, atau lebih tepat, ada dalam kemungkinan yang terjauh dari keberadaan sebagai domba, tetapi sebaliknya, adalah serigala-serigala dan binatang-binatang liar. Karena itu, adalah oleh pemilihan maka Ia menganggap / memperhitungkan sebagai anak-anak Allah, bahkan sebelum mereka dipanggil, mereka yang akhirnya mulai dinyatakan oleh iman, baik kepada diri mereka sendiri dan kepada orang-orang lain).

 

Bdk. Yoh 17:20-21 - “(20) Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepadaKu oleh pemberitaan mereka; (21) supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku”.

 

Saya menantang orang Arminian, khususnya Pdt. Jusuf B. S., untuk menjelaskan dari sudut pandang Arminian, mengapa dalam ketiga text di atas ini orang-orang yang tidak percaya bisa disebut dengan istilah ‘umat Tuhan’, ‘domba’ dan bahkan ‘anak Allah’!

 

11) Adanya pertanyaan ‘Apakah Allah tidak adil?’ dalam Ro 9:14.

 

Ro 9:6-15 - “(6) Akan tetapi firman Allah tidak mungkin gagal. Sebab tidak semua orang yang berasal dari Israel adalah orang Israel, (7) dan juga tidak semua yang terhitung keturunan Abraham adalah anak Abraham, tetapi: ‘Yang berasal dari Ishak yang akan disebut keturunanmu.’ (8) Artinya: bukan anak-anak menurut daging adalah anak-anak Allah, tetapi anak-anak perjanjian yang disebut keturunan yang benar. (9) Sebab firman ini mengandung janji: ‘Pada waktu seperti inilah Aku akan datang dan Sara akan mempunyai seorang anak laki-laki.’ (10) Tetapi bukan hanya itu saja. Lebih terang lagi ialah Ribka yang mengandung dari satu orang, yaitu dari Ishak, bapa leluhur kita. (11) Sebab waktu anak-anak itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat, - supaya rencana Allah tentang pemilihanNya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilanNya - (12) dikatakan kepada Ribka: ‘Anak yang tua akan menjadi hamba anak yang muda,’ (13) seperti ada tertulis: ‘Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau.’ (14) Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah Allah tidak adil? Mustahil! (15) Sebab Ia berfirman kepada Musa: ‘Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati.’”.

 

Memang kalau seseorang untuk pertama kalinya mendengar doktrin Predestinasi, biasanya reaksi yang pertama muncul adalah ‘Allah itu tidak adil’. Tentang apakah adanya Predestinasi itu memang menunjukkan bahwa Allah itu tidak adil atau tidak, akan saya bahas belakangan. Di sini saya hanya ingin menunjukkan bahwa adanya pertanyaan ‘Apakah Allah tidak adil?’ dalam Ro 9:14 itu jelas menunjukkan bahwa doktrin Predestinasi ini memang adalah ajaran Kitab Suci / Paulus.

 

Dalam Ro 9:6-9 Paulus mengajarkan tentang pemilihan terhadap Ishak, bukan terhadap Ismael. Lalu dalam Ro 9:10-13 Paulus mengajarkan tentang pemilihan terhadap Yakub dan penolakan terhadap Esau, yang ia katakan sama sekali tidak didasarkan pada perbuatan mereka (karena mereka sudah dipilih sebelum mereka dilahirkan), tetapi pada panggilan / kehendak Allah. Lalu dalam Ro 9:14, Paulus menanyakan suatu pertanyaan yang ia tahu pasti akan timbul dalam diri orang yang mendengar tentang doktrin Predestinasi yang baru ia ajarkan: ‘Apakah Allah tidak adil?’.

 

Kalau doktrin Predestinasi ini tidak ada, atau kalau Tuhan melakukan Predestinasi / pemilihan dengan melihat pada perbuatan baik manusia yang akan terjadi, maka pertanyaan ‘Apakah Allah tidak adil?’ itu tidak akan muncul dalam Ro 9:14! Tetapi ternyata pertanyaan itu muncul, dan ini membuktikan bahwa doktrin Predestinasi itu memang adalah ajaran Paulus / Kitab Suci!

 

12) Segala sesuatu tergantung Tuhan, dan ini bisa terlihat dari:

 

1Sam 2:6-8 - “(6) TUHAN mematikan dan menghidupkan, Ia menurunkan ke dalam dunia orang mati dan mengangkat dari sana. (7) TUHAN membuat miskin dan membuat kaya; Ia merendahkan, dan meninggikan juga. (8) Ia menegakkan orang yang hina dari dalam debu, dan mengangkat orang yang miskin dari lumpur, untuk mendudukkan dia bersama-sama dengan para bangsawan, dan membuat dia memiliki kursi kehormatan”.

 

Ayub 1:21 - “katanya: ‘Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!’”.

 

Maz 75:7-8 - “(7) Sebab bukan dari timur atau dari barat dan bukan dari padang gurun datangnya peninggian itu, (8) tetapi Allah adalah Hakim: direndahkanNya yang satu dan ditinggikanNya yang lain.

 

Maz 135:6-7 - “(6) TUHAN melakukan apa yang dikehendakiNya, di langit dan di bumi, di laut dan di segenap samudera raya; (7) Ia menaikkan kabut dari ujung bumi, Ia membuat kilat mengikuti hujan, Ia mengeluarkan angin dari dalam perbendaharaanNya”.

 

Amsal 16:1 - “Manusia dapat menimbang-nimbang dalam hati, tetapi jawaban lidah berasal dari pada TUHAN.

 

Amsal 16:4 - TUHAN membuat segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing, bahkan orang fasik dibuatNya untuk hari malapetaka”.

 

Amsal 16:9 - “Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi TUHANlah yang menentukan arah langkahnya.

 

Amsal 16:33 - “Undi dibuang di pangkuan, tetapi setiap keputusannya berasal dari pada TUHAN.

 

Amsal 19:21 - “Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan TUHANlah yang terlaksana.

 

Amsal 21:1 - Hati raja seperti batang air di dalam tangan TUHAN, dialirkanNya ke mana Ia ingini”.

 

Amsal 21:31 - “Kuda diperlengkapi untuk hari peperangan, tetapi kemenangan ada di tangan TUHAN.

 

Mat 10:29-30 - “(29) Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak BapaMu. (30) Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya”.

 

Kalau segala sesuatu terjadi karena kehendak Tuhan, maka selamat atau tidaknya manusia pasti juga tergantung Tuhan / kehendak Tuhan, dan ini menunjuk pada Predestinasi.

 

Catatan: Bagian ini saya bahas singkat saja, karena ini saya bahas secara mendetail / panjang lebar dalam buku ‘Providence of God’.

 

III) Penjabaran / penguraian Predestinasi.

 

1)    Predestinasi bersifat kekal.

 

Mengapa kita mempercayai bahwa Predestinasi itu bersifat kekal?

 

a)    Allah adalah ‘intelligent being’ (= makhluk berakal / makhluk cerdas).

Bahwa Allah adalah ‘intelligent being’, terlihat dari manusia yang juga adalah ‘intelligent being’, padahal manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.

Keberadaan Allah sebagai ‘intelligent being’ ini tidak memungkinkan ada saat dimana Ia tidak mempunyai rencana sama sekali.

 

Bahkan ada ahli theologia yang berani mengatakan bahwa Allah tidak lebih dulu ada dibanding dengan rencanaNya. Sepintas lalu ini kelihatan extrim dan merupakan suatu pendewaan terhadap rencana Allah. Tetapi coba renungkan: bisakah saudara membayangkan adanya saat dimana Allah, yang adalah ‘intelligent being’ itu, ada dalam keadaan bermalas-malasan tanpa mempunyai rencana apapun? Saya sendiri tidak bisa membayangkan hal itu, dan karena itu saya berpendapat bahwa Rencana Allah sudah ada sejak kekekalan.

 

Herman Bavinck: “Scaliger correctly observed that God’s decree was not preceded by a long period of reflection and deliberation, so that for a long time God would have been without purpose and without a will ... It is impossi­ble to conceive of God as a being without a purpose and without an active and operative will (= Scaliger secara benar mengamati bahwa ketetapan Allah tidak didahului oleh waktu pemikiran dan pertimbangan yang lama, sehingga untuk waktu yang lama Allah tidak mempunyai tujuan / rencana dan tidak mempunyai kehendak ... Adalah tidak mungkin untuk membayangkan Allah sebagai makhluk tanpa tujuan / rencana dan tanpa kehendak yang aktif dan operatif) - ‘The Doctrine of God’, hal 370.

 

Herman Hoeksema: “God is en eternally active God. ... We must, therefore, not imagine, ... that God the Lord began to be active when in the beginning He created the heavens and the earth, while before the creation He was completely idle and inactive (= Allah adalah Allah yang aktif secara kekal. ... Karena itu, kita tidak boleh membayangkan bahwa Allah Tuhan mulai aktif ketika pada mulanya Ia menciptakan langit dan bumi, sementara sebelum penciptaan Ia sepenuhnya bermalas-malasan / menganggur dan tidak aktif) - ‘Reformed Dogmatics’, hal 153.

 

b)    Kemahatahuan dan kemahabijaksanaan Allah menyebabkan Ia bisa merencanakan seluruh rencanaNya dari sejak kekekalan.

Kalau manusia membuat rencana, maka manusia membuatnya secara bertahap. Misalnya pada waktu kita ada di SMP kita merencanakan untuk masuk SMA tertentu, dan pada waktu di SMA baru kita meren­canakan untuk masuk perguruan tinggi tertentu. Setelah lulus dari perguruan tinggi, baru kita merencanakan untuk bekerja di tempat tertentu, dsb. Tidak ada manusia yang dari lahir lalu bisa meren­canakan segala sesuatu dalam seluruh hidupnya! Mengapa? Karena manusia tidak maha tahu sehingga ia tidak mampu melakukan hal itu. Manusia membutuhkan penambahan pengetahuan untuk bisa membuat rencana lanjutan.

Tetapi Allah yang maha tahu dan maha bijaksana, merencanakan seluruh RencanaNya sejak semula!

 

c)    Kitab Suci menyatakan bahwa Rencana Allah (secara umum) memang bersifat kekal / sudah ada sejak kekekalan.

 

2Raja 19:25 - “Bukankah telah kaudengar, bahwa Aku telah menentukannya dari jauh hari, dan telah merancangnya pada zaman purbakala? Sekarang Aku mewujudkannya, bahwa engkau membuat sunyi senyap kota-kota yang berkubu menjadi timbunan batu”.

 

Maz 139:16 - “mataMu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitabMu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya.

 

Yes 37:26 - “Bukankah telah kaudengar, bahwa Aku telah menentukannya dari jauh hari dan telah merancangnya dari zaman purbakala? Sekarang Aku mewujudkannya, bahwa engkau membuat sunyi senyap kota-kota yang berkubu menjadi timbunan batu”.

 

Yes 46:10-11 - “(10) yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: KeputusanKu akan sampai, dan segala kehendakKu akan Kulaksanakan, (11) yang memanggil burung buas dari timur, dan orang yang melaksanakan putusanKu dari negeri yang jauh. Aku telah mengatakannya, maka Aku hendak melangsungkannya, Aku telah merencanakannya, maka Aku hendak melaksanakannya”.

 

d)    Dalam persoalan Predestinasipun, Kitab Suci menyatakan bahwa Allah telah merencanakannya sejak kekekalan.

 

2Tim 1:9 - “Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karuniaNya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman.

 

Ef 1:4-5,11 - “(4) Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapanNya. (5) Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anakNya, sesuai dengan kerelaan kehendakNya, ... (11) Aku katakan ‘di dalam Kristus’, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan - kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendakNya”.

 

2Tes 2:13 - “Akan tetapi kami harus selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu, saudara-saudara, yang dikasihi Tuhan, sebab Allah dari mulanya telah memilih kamu untuk diselamatkan dalam Roh yang menguduskan kamu dan dalam kebenaran yang kamu percayai”.

 

Ro 9:11-13 - “(11) Sebab waktu anak-anak itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat, - supaya rencana Allah tentang pemilihanNya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilanNya - (12) dikatakan kepada Ribka: ‘Anak yang tua akan menjadi hamba anak yang muda,’ (13) seperti ada tertulis: ‘Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau.’”.

 

Ro 8:29-30 - “(29) Sebab semua orang yang dipilihNya dari semula, mereka juga ditentukanNya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran AnakNya, supaya Ia, AnakNya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. (30) Dan mereka yang ditentukanNya dari semula, mereka itu juga dipanggilNya. Dan mereka yang dipanggilNya, mereka itu juga dibenarkanNya. Dan mereka yang dibenarkanNya, mereka itu juga dimuliakanNya”.

 

Wah 13:8 - “Dan semua orang yang diam di atas bumi akan menyembahnya, yaitu setiap orang yang namanya tidak tertulis sejak dunia dijadikan di dalam kitab kehidupan dari Anak Domba, yang telah disembelih”.

 

Wah 17:8 - “Dan mereka yang diam di bumi, yaitu mereka yang tidak tertulis di dalam kitab kehidupan sejak dunia dijadikan, akan heran, apabila ....”.

 

2)        Predestinasi bersifat ‘unconditional’ / tak bersyarat.

 

Kebanyakan gereja percaya Predestinasi, tetapi apa dasarnya Allah memilih? Jawaban terhadap pertanyaan ini menentukan apakah orang itu Reformed atau tidak.

 

Kalau jawabannya menunjukkan suatu ‘conditional election’ (= pemilihan yang bersyarat), dimana Predestinasi / pemilihan itu tergantung pada kehidupan manusianya (Allah memilih orang karena Ia tahu bahwa orang itu baik / akan menjadi baik / akan beriman), maka orang itu bukan Reformed / Calvinist.

 

Sebaliknya kalau jawabannya menunjukkan suatu ‘unconditional election’ (= pemilihan yang tidak bersyarat), dimana Predestinasi / pemilihan itu sama sekali tidak tergantung pada kehidupan manusia yang dipilih, tetapi semata-mata tergantung kepada Allah, maka orang itu Reformed / Calvinist (Catatan: tetapi tentu ada hal-hal lain yang harus ia percayai untuk betul-betul disebut Reformed / Calvinist).

 

a)    Dasar Kitab Suci dari Predestinasi / pemilihan yang tidak bersyarat.

 

1. Di atas sudah kita pelajari bahwa Predestinasi bersifat kekal. Jadi, kita sudah dipilih sebelum kita lahir, dan ini menunjukkan bahwa pemilihan ini tidak tergantung perbuatan / hidup kita (unconditional).

 

Ro 9:11 - “Sebab waktu anak-anak itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat, - supaya rencana Allah tentang pemilihanNya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilanNya”.

 

2. Kita sudah melihat bahwa pemilihan terhadap Israel dilakukan bukan karena mereka baik, tetapi semata-mata karena kehendak Allah. Calvin menjadikan ini sebagai salah satu dasar dari Unconditional Election (= pemilihan yang tidak bersyarat).

 

Calvin: “... let those now come forward who would bind God’s election either to the worthiness of men or to the merit of works. Since they see one nation preferred above all others, and hear that God was not for any reason moved to be more favorably inclined to a few, ignoble - indeed, even wicked and stubborn - men, will they quarrel with him because he chose to give such evidence of his mercy?” (= ... biarlah maju ke depan mereka yang mengikat pemilihan Allah pada kelayakan manusia atau pada jasa pekerjaan / perbuatan baik mereka. Karena mereka melihat satu bangsa dipilih di atas yang lain, dan mendengar bahwa Allah bukan karena alasan apapun digerakkan untuk bersikap lebih baik kepada segelintir orang-orang hina / rendah / tercela, bahkan jahat dan tegar tengkuk, akankah mereka bertengkar dengan Dia karena Ia memilih untuk memberikan bukti dari belas kasihanNya?) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, Chapter XXI, no 5.

 

3. Yoh 15:16a - “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu”.

 

Calvin: “We therefore find Christ’s statement to his disciples, ‘You did not choose me, but I chose you’ (John 15:16), generally valid among all believers. There he not only rules out past merits but also indicates his disciples had nothing in themselves for which to be chosen if he had not first turned to them in his mercy” [= Karena itu kita menemukan pernyataan Kristus kepada murid-muridNya: ‘Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu’ (Yoh 15:16), yang merupakan suatu hal yang benar / sah secara umum di antara semua orang percaya. Di sana Ia bukan hanya menyingkirkan jasa-jasa pada waktu lampau tetapi juga menyatakan bahwa murid-muridNya tidak mempunyai apapun dalam diri mereka sendiri yang menyebabkan mereka dipilih, kalau Ia tidak lebih dulu berbalik kepada mereka dalam belas kasihanNya] - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, Chapter XXII, no 3.

 

4. Ro 11:35 - “Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepadaNya, sehingga Ia harus menggantikannya?”.

 

Calvin: “And how is Paul’s statement to be understood, ‘Who has first given to him, and he shall receive recompense (Rom. 11:35)? He means to show that God’s goodness so anticipates men that among them he finds nothing either past or future to win them his favor” [= Dan bagaimana pernyataan Paulus dimengerti: ‘Siapakah yang lebih dulu memberikan sesuatu kepadaNya, dan ia akan menerima balas jasa (Ro 11:35)? Ia bermaksud menunjukkan bahwa kebaikan Allah begitu mendahului manusia sehingga di antara mereka Ia tidak menemukan apapun, baik di waktu lampau maupun di waktu yang akan datang, yang menyebabkan Ia bersikap baik kepada mereka] - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, Chapter XXII, no 3.

 

Catatan: terjemahan Kitab Suci Indonesia berbeda dengan KJV dalam Ro 11:35 ini, tetapi kalau kita menggunakan terjemahan Indonesia ataupun NIV / NASB maka tetap akan cocok dengan argumentasi Calvin.

 

5. 2Tim 1:9 - “Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karuniaNya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman”.

 

Ayat ini jelas menunjukkan bahwa Predestinasi tidak tergantung perbuatan baik / kehidupan kita, tetapi tergantung pada Rencana Allah dan kasih karunia Allah.

 

6. Ro 9:11-13 - “(11) Tetapi bukan hanya itu saja. Lebih terang lagi ialah Ribka yang mengandung dari satu orang, yaitu dari Ishak, bapa leluhur kita. Sebab waktu anak-anak itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat, - supaya rencana Allah tentang pemilihanNya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilanNya - (12) dikatakan kepada Ribka: ‘Anak yang tua akan menjadi hamba anak yang muda,’ (13) seperti ada tertulis: ‘Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau’”.

 

Ini adalah dasar yang sangat kuat / menyolok bahwa Predestinasi tidak dilakukan karena Allah melihat / tahu lebih dulu bahwa orang itu bakal baik / beriman.

 

Calvin:

·       “Suppose we admit that Jacob was chosen because he had worth arising out of virtues to come; why should Paul say that he had not yet been born? ... But the apostle proceeds to resolve this difficulty, and teaches that the adoption of Jacob comes not from works but from God’s call” (= Kalau kita mengakui bahwa Yakub dipilih karena ia mempunyai kelayakan yang ditimbulkan oleh kebaikannya di masa yang akan datang; mengapa Paulus harus mengatakan bahwa ia belum dilahirkan? ... Tetapi sang rasul meneruskan untuk memecahkan kesukaran ini, dan mengajar bahwa pengangkatan Yakub sebagai anak tidak datang dari perbuatan tetapi dari panggilan Allah) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, Chapter XXII, no 4.

·       “But because he well knew that God could foresee nothing good in man except what he had already determined to bestow by the benefit of his election, he does not resort to that absurd disorder of putting good works before their cause” [= Tetapi karena ia (Paulus) tahu benar bahwa Allah tidak melihat lebih dulu apapun yang baik dalam diri manusia kecuali apa yang Ia telah tetapkan untuk berikan sebagai manfaat pemilihanNya, ia tidak mengambil jalan menuju urutan kacau yang menggelikan yang menempatkan perbuatan baik sebelum penyebabnya] - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, Chapter XXII, no 5.

·       “Esau and Jacob are brothers, born of the same parents, as yet enclosed in the same womb, not yet come forth into the light. In them all things are equal, yet God’s judgment of each is different. For he receives one and rejects the other. It was only by right of primogeniture that one excelled the other. Yet even that is disregarded, and what is denied to the elder is given to the younger” (= Esau dan Yakub adalah saudara, dilahirkan dari orang tua yang sama, dan masih terbungkus dalam kandungan yang sama, belum dilahirkan. Dalam diri mereka semua hal adalah sama, tetapi penghakiman Allah terhadap mereka masing-masing berbeda. Karena Ia menerima yang satu dan menolak yang lain. Hanya karena hak kesulungan maka seseorang melebihi yang lain. Tetapi bahkan hal itu diabaikan, dan apa yang tidak diberikan kepada yang lebih tua diberikan kepada yang lebih muda) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, Chapter XXII, no 5.

 

The Biblical Illustrator: Old Testament (tentang 2Sam 1:26): “THE LOVE OF CHRIST WAS WONDERFUL WHEN WE CONSIDER THOSE HE LOVED. ... There was nothing lovely in us. It is as natural for anything lovely to draw forth our admiration as for the magnet to attract the iron or the flower to attract the bee. There was great reason why Jonathan should love David. But when we come to consider our Lord’s love for us, we have to say - What was there in me that could merit esteem, Or give the Creator delight? It is recorded that a minister once announced his intention of being in the vestry of his Church, for a certain time on a certain day, to meet any one who might have scriptural difficulties, that he might try to solve them. Only one came. ‘What is your difficulty,’ said the minister. The man answered, ‘My difficulty is in the ninth chapter of Romans, where it says, ‘Jacob have I loved, but Esau have I hated.’ ‘Yes,’ said the minister, ‘there is great difficulty in that verse; but which part of the verse forms your difficulty?’ ‘The latter part, of course,’ said the man. ‘I cannot understand why God should hate Esau.’ The minister’s reply was this: ‘The verse has often been a difficulty to me, but my difficulty has always been in the first part of the verse; I never could understand how God could love that wily, deceitful, supplanting scoundrel, Jacob.’ (= Kasih Kristus itu sangat indah pada waktu kita mempertimbangkan mereka yang Ia kasihi. ... Tidak ada yang bagus dalam diri kita. Merupakan sesuatu yang alamiah / wajar untuk apapun yang bagus untuk menarik kekaguman kita seperti magnet menarik besi, atau bunga menarik lebah. Ada alasan yang besar / agung mengapa Yonatan mengasihi Daud. Tetapi pada waktu kita mempertimbangkan kasih Tuhan kita bagi kita, kita harus mengatakan - Ada apa di dalam diriku yang bisa layak mendapatkan penghargaan, Atau memberikan sang Pencipta kesenangan? Ada tercatat bahwa seorang pendeta suatu kali mengumumkan tujuan / maksudnya untuk berada di suatu tempat di Gerejanya, untuk waktu tertentu pada hari tertentu, untuk menemui siapapun yang mungkin mempunyai kesukaran berkenaan dengan Kitab Suci, supaya ia bisa mencoba untuk membereskannya. Hanya satu orang yang datang. ‘Apa kesukaranmu’, kata sang pendeta. Orang itu menjawab, ‘Kesukaranku ada dalam pasal ke 9 dari Roma, dimana dikatakan, ‘Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau’. ‘Ya’, kata sang pendeta, ‘ada kesukaran yang besar dalam ayat itu; tetapi bagian yang mana dari ayat itu yang membentuk kesukaranmu?’ ‘Bagian yang terakhir, tentu saja’, kata orang itu. ‘Saya tidak bisa mengerti mengapa Allah harus membenci Esau’. Jawaban sang pendeta adalah ini: ‘Ayat ini telah sering merupakan suatu kesukaran bagiku, tetapi kesukaranku selalu ada dalam bagian pertama dari ayat itu; aku tidak pernah bisa mengerti bagaimana Allah bisa mengasihi Yakub yang cerdik / licik, penuh tipu daya / dusta, bajingan pengganti itu’.).

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali