Golgotha School of Ministry

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

Rabu, tgl 1 Juni 2011, pk 19.00

Pdt. Budi Asali, M. Div.

(HP: 7064-1331 / 6050-1331)

[email protected]

http://www.golgothaministry.org

Unconditional Election

(Pemilihan tanpa syarat)

pelajaran 3: 1 juni 2011

 

8)    Doktrin Total Depravity, dan doktrin bahwa iman adalah pemberian Allah, menunjukkan adanya Predestinasi.

 

Loraine Boettner: “If the doctrine of Total Inability or Original Sin be admitted, the doctrine of unconditional Election follows by the most inescapable logic” (= Jika doktrin tentang Ketidak-mampuan Total atau Dosa Asal diterima, maka doktrin pemilihan yang tidak bersyarat akan mengikuti oleh suatu logika yang tidak terhindarkan) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 95.

 

Keadaan Total Depravity dari manusia, tidak memungkinkan manusia untuk percaya kepada Yesus dengan kekuatan dan kemauannya sendiri. Ini sudah saya bahas dalam pelajaran tentang Total Depravity, dan tidak akan saya ulangi di sini.

Tetapi Kitab Suci maupun fakta menunjukkan bahwa ada orang-orang tertentu yang ternyata beriman / percaya kepada Yesus. Mengapa bisa demikian? Karena adanya:

 

a)    Pekerjaan Allah di dalam diri mereka.

Ini terlihat dari ayat-ayat di bawah ini:

Yoh 6:37a - “Semua yang diberikan Bapa kepadaKu akan datang kepadaKu”.

Yoh 17:2b - “Ia akan memberikan hidup kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepadaNya.

Yoh 17:6 - “Aku telah menyatakan namaMu kepada semua orang, yang Engkau berikan kepadaKu dari dunia. Mereka itu milikMu dan Engkau telah memberikan mereka kepadaKu dan mereka telah menuruti firmanMu”.

Yoh 17:9 - “Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepadaKu, sebab mereka adalah milikMu”.

Yoh 6:44 - “Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepadaKu, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir jaman”.

1Kor 1:30a - “Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus.

 

b) Pemberian iman / pertobatan dari Allah kepada mereka.

Kis 11:18b - “Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup”.

Fil 1:29 - “Sebab kepada kamu dikaru­niakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia”.

 

Jadi, kalau ada orang yang percaya kepada Yesus, itu karena Allah bekerja dalam dirinya dan memberikan iman kepadanya. Sebaliknya kalau ada orang yang terus menolak Kristus sampai ia mati, itu disebabkan karena Allah tidak bekerja dalam dirinya dan / atau tidak memberikan iman kepadanya. Jadi, adanya orang yang percaya dan yang tidak percaya, menunjukkan bahwa ada orang yang diberi iman dan tidak diberi iman oleh Bapa. Jadi di sini ada pemilihan / penetapan dari Bapa, tentang siapa yang diberi iman (Elect - orang yang dipilih / ditentukan untuk selamat) dan siapa yang tidak diberi iman (Reprobate - orang yang dipilih / ditentukan untuk binasa). Semua ini mendukung doktrin Reformed / Calvinisme tentang Unconditional Election / Predestinasi.

 

Arthur W. Pink menguraikan hal ini dengan cara yang menarik. Ia berkata: “‘Salvation is of the Lord’ (Jonah 2:9); but the Lord does not save all. Why not? He does save some; then if He saves some, why not others? Is it because they are too sinful and depraved? No; for the apostle wrote, ‘This is a faithful saying, and worthy of all acceptation, that Christ Jesus came into the world to save sinners; of whom I am chief’ (1Tim. 1:15). Therefore, if God saved the ‘chief’ of sinners, none are excluded because of their depravity. Why then does not God save all? Is it because some are too stony-hearted to be won? No; because of the most stony-hearted people of all it is written, that God will yet ‘take the stony heart out of their flesh, and will give them a heart of flesh (Ezek. 11:19)” [= ‘Keselamatan adalah dari TUHAN’ (Yunus 2:9); tetapi Tuhan tidak menyelamatkan semua orang. Mengapa tidak? Ia memang menyelamatkan sebagian orang; lalu jika Ia menyelamatkan sebagian orang, mengapa Ia tidak menyelamatkan yang lain? Apakah karena mereka terlalu berdosa dan bejat? Tidak; karena rasul menulis, ‘Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa, dan di antara mereka akulah yang paling berdosa’ (1Tim 1:15). Karena itu, jika Allah menyelamatkan orang yang paling berdosa, tidak ada yang tidak bisa diselamatkan karena kebejatan mereka. Lalu mengapa Allah tidak menyelamatkan semua? Apakah karena sebagian orang terlalu keras hatinya untuk dimenangkan? Tidak; karena tentang bangsa yang paling keras hatinya dituliskan, bahwa Allah akan ‘mengambil hati yang keras itu dari daging mereka, dan akan memberikan hati dari daging’ (Yeh 11:19)] - ‘The Sovereignty of God’, hal 45.

 

Penekanan dari kutipan di atas ini adalah: manusia tidak selamat bukan karena mereka terlalu jahat / keras hati.

 

Arthur W. Pink lalu melanjutkan: “Why is it that all are not saved, particularly all who hear the Gospel? Do you still answer, Because the majority refuse to believe? Well, that is true, but it is only a part of the truth. It is the truth from the human side. But there is a Divine side too, and this side of the truth needs to be stressed or God will be robbed of His glory” (= Mengapa tidak semua diselamatkan, khususnya semua yang mendengar Injil? Apakah kamu tetap menjawab, Karena mayoritas menolak untuk percaya? Itu memang benar, tetapi itu hanyalah sebagian dari kebenaran. Itu adalah kebenaran dari sudut manusia. Tetapi ada sudut Allah juga, dan sudut kebenaran ini perlu ditekankan, atau Allah akan dirampok kemuliaanNya) - ‘The Sovereignty of God’, hal 46.

 

Penekanan dari kutipan di atas ini adalah: sekalipun memang benar bahwa manusia tidak selamat karena mereka menolak untuk percaya, tetapi itu adalah dari sudut pandang manusia. Ada sudut pandang Allah yang juga harus diperhatikan.

 

Arthur W. Pink melanjutkan lagi: “The unsaved are lost because they refuse to believe; the others are saved because they believe. But why do these others believe? What is it that causes them to put their trust in Christ? Is it because they are more intelligent than their fellows, and quicker to discern their need of salvation? Perish the thought, ‘Who maketh thee to differ from another? And what hast thou that thou didst not receive? Now if thou didst receive it, why dost thou glory, as if thou hadst not received it?’ (1Cor. 4:7)” [= Orang yang tidak selamat terhilang karena mereka menolak untuk percaya; yang lain diselamatkan karena mereka percaya. Tetapi mengapa yang lain ini percaya? Apa yang menyebabkan mereka percaya kepada Kristus? Apakah karena mereka lebih pandai dari pada sesama mereka, dan lebih cepat melihat kebutuhan keselamatan mereka? Buanglah pikiran itu, ‘Karena siapa yang membuat engkau berbeda dari orang lain? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?’ (1Kor 4:7)] - ‘The Sovereignty of God’, hal 46.

Catatan: 1Kor 4:7 versi Kitab Suci Indonesia berbunyi: Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?”.

Bagian yang saya garisbawahi itu salah terjemahan.

NIV: For who makes you different from anyone else? What do you have that you did not receive? And if you did receive it, why do you boast as though you did not?” (= Karena siapa yang membuat engkau berbeda dari orang lain? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?).

 

Penekanan dari kutipan di atas ini adalah: seseorang bisa percaya, bukan karena ia lebih baik dari orang-orang yang tidak percaya.

 

Akhirnya Arthur W. Pink menyimpulkan dan sekaligus memberikan dasar Kitab Suci untuk kesimpulannya itu:

¨     “It is God himself who makes the difference between the elect and the non-elect, for of His own it is written, ‘And we know that the Son of God is come, and hath given us an understanding, that we may know Him that is true’ (1John 5:20)” [= Adalah Allah sendiri yang membuat perbedaan antara orang pilihan dan orang yang bukan pilihan, karena tentang milikNya dituliskan, ‘Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar’ (1Yoh 5:20)] - ‘The Sovereignty of God’, hal 46.

¨     “Faith is God’s gift, and ‘all men have not faith’ (2Thess. 3:2); therefore, we see that God does not bestow this gift upon all. Upon whom then does He bestow this saving favour? And we answer, upon His own elect - ‘As many as were ordained to eternal life believed’ (Acts 13:48)” [= Iman adalah pemberian / karunia Allah, dan ‘bukan semua orang beroleh iman’ (2Tes 3:2); karena itu, kita melihat bahwa Allah tidak memberikan pemberian / karunia ini kepada semua orang. Lalu kepada siapa Ia memberikan hadiah / kemurahan yang menyelamatkan ini? Dan kami menjawab, kepada orang pilihanNya - ‘Semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya’ (Kis 13:48)] - ‘The Sovereignty of God’, hal 47.

 

Penekanan dari kesimpulan ini adalah: perbedaan yang menyebabkan satu orang percaya sedangkan yang lain tidak, terletak dalam diri Allah. Ia memberikan iman hanya kepada orang-orang pilihan!

 

9)    Bahwa manusia diselamatkan semata-mata karena kasih karunia Allah, bukan karena perbuatan baik manusia, tidak bisa tidak akan menunjuk pada adanya Predestinasi.

Kitab Suci memang secara jelas mengajar bahwa manusia diselamatkan semata-mata oleh kasih karunia Allah, dan sama sekali bukan karena perbuatan baik manusia.

 

Ef 2:8-9 - “(8) Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, (9) itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri”.

 

Kalau keselamatan memang bukan terjadi karena perbuatan baik manusia, tetapi karena pemberian kasih karunia, maka jelaslah bahwa siapa yang diselamatkan dan siapa yang tidak diselamatkan tergantung kepada Allah. Kalau Allah memberikan kasih karuniaNya kepada seseorang maka orang itu akan percaya kepada Yesus dan selamat. Sebaliknya kalau Allah menahan kasih karuniaNya dari diri seseorang (dan Ia berhak melakukan hal ini - bdk. Ro 9:15,18), maka orang itu tidak akan percaya kepada Yesus dan tidak akan selamat. Lalu siapa yang diberi kasih karunia dan siapa yang tidak? Berdasarkan apa Allah memilih? Jelas berdasarkan Predestinasi / pemilihan Allah. Memang Predestinasi berhubungan sangat erat dengan kasih karunia.

 

Hal ini terlihat dari Ef 1:4-8a yang berbunyi: “(4) Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapanNya. (5) Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anakNya, sesuai dengan kerelaan kehendakNya, (6) supaya terpujilah kasih karuniaNya yang mulia, yang dikaruniakanNya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihiNya. (7) Sebab di dalam Dia dan oleh darahNya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karuniaNya (8a) yang dilimpahkanNya kepada kita.

 

Perhatikan bahwa kalau dalam Ef 1:4-5 Paulus berbicara tentang Predestinasi / pemilihan, maka dalam Ef 1:6-8a ia berbicara tentang kasih karuniaNya. Bahkan dalam Ef 1:6 itu ada kata-kata supaya terpujilah kasih karuniaNya yang mulia”, yang jelas menunjukkan bahwa tujuan Predestinasi / pemilihan itu adalah untuk meninggikan kasih karunia Allah.

 

Hubungan erat antara Predestinasi dan kasih karunia Allah ini juga terlihat dari Ro 11:5-6 yang berbunyi: “(5) Demikian juga pada waktu ini ada tinggal suatu sisa, menurut pilihan kasih karunia. (6) Tetapi jika hal itu terjadi karena kasih karunia, maka bukan lagi karena perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka kasih karunia itu bukan lagi kasih karunia”.

 

Pdt. Jusuf B. S. dan Guy Duty sama-sama menekankan keselamatan yang merupakan anugerah / pemberian cuma-cuma dari Allah berdasarkan Ef 2:8-9, tetapi anehnya mereka tetap mengakui bahwa manusia selamat karena kemauan mereka, dan bahkan dipilih oleh Allah karena Allah melihat lebih dulu kebaikan mereka / iman mereka. Ini jelas merupakan suatu kontradiksi! Bahwa mereka berdua memang mengajarkan kontradiksi itu, akan saya tunjukkan di bawah ini, melalui kutipan-kutipan dari buku-buku mereka.

 

a)    Pdt. Jusuf B. S.

 

1. Dalam bukunya ‘Keselamatan tidak bisa hilang?’, hal 9, ia berkata: “Kita menerima keselamatan dari Tuhan dengan cuma-cuma, bukan karena jasa, kebaikan, usaha atau pekerjaan kita”. Dan ia lalu mengutip Ef 2:8 sebagai dasar. Saya setuju dengan kata-katanya di sini.

 

2. Tetapi lalu dalam buku yang sama, hal 67, ia berkata:

“Ada seseorang ditanya, kalau sekarang mati, ke mana? Jawabnya tegas: ‘Ke Surga!’. Kalau lima tahun lagi mati, ke mana? Orang itu berpikir lalu katanya: ‘Kalau saya tetap setia, saya ke Surga!’. Betulkah ini? Kepastian keselamatan kita, tergantung dari Allah dan kita. Allah 100 % menghendaki keselamatan kita. Ia tidak pernah berubah Ibr 13:8. Sebab itu sekarang hanya tergantung dari kita. Kalau kita sungguh-sungguh, itu berarti kita akan tumbuh, tidak tinggal kanak-kanak rohani, pasti naik, kita juga pasti tetap selamat. Jadi kepastian keselamatan itu tergantung dari kesungguhan kita dengan kata lain: tergantung dari tingkat kerohanian kita.

 

Dari kata-katanya ini jelas terlihat bahwa kesetiaan, kesungguhan dan bahkan tingkat kerohanian seseorang berperan / punya andil dalam keselamatan seseorang! Ini jelas menjurus pada ajaran sesat ‘Salvation by works’ (= Keselamatan karena perbuatan baik), dan bertentangan dengan kata-katanya sendiri yang telah saya kutip di atas dan juga bertentangan dengan Kitab Suci.

 

b) Guy Duty.

 

1. Dalam bukunya ‘Keselamatan bersyarat atau tanpa syarat?’, ia berkata:

·       Keselamatan adalah anugerah, kasih, dan belas kasihan dari Allah bagi umat manusia yang berdosa” - hal 38.

·       Tanpa anugerah dan kasih Allah yang tak dapat dibeli dan tak terbalaskan, tidak ada orang berdosa yang diselamatkan ... Tetapi anugerah Allah yang cuma-cuma, yang sebenarnya tidak layak kita terima, ...” - hal 115.

 

2. Tetapi lucunya dalam bagian-bagian lain dari buku yang sama, ia lalu mengatakan hal-hal yang bertentangan, seperti:

·       “Kata-kata ‘predestinasi’ dan ‘pemilihan’, bagaimana-pun tidak dapat mengubah fakta bahwa Allah membuat rencana kekal-Nya bagi manusia menurut apa yang Ia ketahui terlebih dahulu, yaitu apa yang akan manusia perbuat dengan kuasa mereka untuk memutuskan secara bebas” - hal 126.

·       “Apakah itu Yakub, Esau, Firaun, orang-orang Yahudi, atau orang-orang kafir, tak seorangpun yang dipredes-tinasikan tanpa memandang kepada tindakan bebas dari kehendaknya sendiri. Teks-teks yang mereka kutip ini tidak membuktikan keselamatan tanpa syarat. Teks-teks ini tidak mengesampingkan kehendak manusia sebagai satu syarat untuk memperoleh belas kasihan ilahi - hal 110.

·       “Lalu mengapa Allah lebih menyukai Yakub dan mengabaikan Esau? Ingat definisi-definisi Leksikon-leksikon terkemuka tentang pemilihan yang menyiratkan arti ‘pilihan (choice), memilih (select), yaitu, yang terbaik dari antara jenisnya atau kelasnya’ -- ‘dipilih (selected), yaitu dari antara yang berkualitas lebih baik dari lainnya’. Alasan-alasan Allah bagi pemilihannya atas Yakub dengan melampaui Esau adalah alasan-alasan yang ditemukan dalam kepribadian kedua orang ini, ... Marilah kita melihat sekilas kepribadian dari kedua orang itu, dan melihat jika hal ini benar” - hal 103.

 

Guy Duty lalu menguraikan panjang lebar segala ‘kebaikan Yakub’ dan ‘kejelekan Esau’ (hal 103-104).

 

Dari semua ini jelas terlihat bahwa sama seperti Pdt. Jusuf B. S., Guy Duty juga mengatakan bahwa kehendak dan kebaikan manusia itu mempunyai andil dalam keselamatannya, dan dengan demikian menentang ajarannya sendiri di atas, yaitu bahwa manusia diselamatkan hanya karena anugerah cuma-cuma dari Allah.

 

Pikirkan sendiri, apakah ajaran Pdt. Jusuf B. S. dan Guy Duty ini sesuai dengan Ro 11:5-6, yang jelas-jelas menekankan kasih karunia dan menyingkirkan perbuatan baik, sebagai alasan pemilihan / Predestinasi?

 

Ro 11:5-6 - “(5) Demikian juga pada waktu ini ada tinggal suatu sisa, menurut pilihan kasih karunia. (6) Tetapi jika hal itu terjadi karena kasih karunia, maka bukan lagi karena perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka kasih karunia itu bukan lagi kasih karunia.

 

Sekarang kita melihat hal ini dari sudut Reformed / Calvin sendiri.

 

Loraine Boettner: “Through the election of individuals the truly gracious character of salvation is most clearly shown. Those who declare that salvation is entirely by the grace of God, and yet deny the doctrine of election, hold an inconsistent position (= Melalui pemilihan individu-individu sifat keselamatan yang betul-betul karena kasih karunia ditunjukkan secara paling jelas. Mereka yang menyatakan bahwa keselamatan itu sepenuhnya oleh kasih karunia Allah, tetapi menyangkal doktrin pemilihan, memegang posisi yang tidak konsisten) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 95.

 

Calvin: “We shall never be clearly persuaded, as we ought to be, that our salvation flows from the wellspring of God’s free mercy until we come to know his eternal election, which illumines God’s grace by this contrast: that he does not indiscriminately adopt all into the hope of salvation but gives to some what he denies to others” (= Kita tidak akan pernah diyakinkan secara jelas, seperti yang seharusnya, bahwa keselamatan kita mengalir dari mata air belas kasihan cuma-cuma dari Allah sampai kita mengenal pemilihanNya yang kekal, yang menerangi kasih karunia Allah oleh kontras ini: bahwa Ia tidak secara sama rata mengadopsi semua orang ke dalam pengharapan keselamatan tetapi memberikan kepada sebagian orang apa yang tidak Ia berikan kepada yang lain) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, Chapter XXI, no 1.

 

Dalam buku tafsirannya tentang surat Roma, Calvin mengomentari Ro 11:6 dengan berkata: “But if no regard to works can be admitted in election, without obscuring the gratuitous goodness of God, which he designed thereby to be so much commended to us, what answer can be given to Paul by those infatuated persons, (phrenetici - insane,) who make the cause of election to be that worthiness in us which God has foreseen? For whether you introduce works future or past, this declaration of Paul opposes you; for he says, that grace leaves nothing to works. ... why God, before the foundation of the world, chose only some and passes by others: and he declares, that God was led to make this difference by nothing else, but by his own good pleasure; for if any place is given to works, so much, he maintains, is taken away from grace. It hence follows, that it is absurd to blend foreknowledge of works with election. For if God chooses some and rejects others, as he has foreseen them to be worthy or unworthy of salvation, then the grace of God, the reward of works being established, cannot reign alone, but must be only in part the cause of our election” (= Tetapi jika perbuatan baik tidak bisa diterima dalam pemilihan, tanpa mengaburkan kebaikan yang bersifat kasih karunia dari Allah, yang Ia rencanakan dengan cara itu supaya sangat kita hargai, jawaban apa yang bisa diberikan kepada Paulus oleh orang-orang gila itu, yang mengatakan bahwa penyebab dari pemilihan adalah kelayakan dalam diri kita yang telah dilihat lebih dulu oleh Allah? Karena apakah kamu mengajukan perbuatan baik yang akan datang ataupun yang lalu, pernyataan Paulus ini menentangmu; karena ia mengatakan, bahwa kasih karunia tidak menyisakan apapun untuk perbuatan baik. ... mengapa Allah, sebelum dunia dijadikan, hanya memilih sebagian dan melewati yang lain: dan ia menyatakan bahwa Allah dipimpin untuk membuat perbedaan ini bukan oleh apapun yang lain, tetapi oleh kerelaan kehendakNya; karena jika ada tempat yang diberikan kepada perbuatan baik, ia berpendapat bahwa begitu banyak yang diambil dari kasih karunia. Karena itu, adalah sesuatu yang menggelikan untuk memadukan / mencampur ‘pengetahuan lebih dulu tentang perbuatan baik’ dengan ‘pemilihan’. Karena jika Allah memilih sebagian orang dan menolak yang lain, karena Ia telah melihat lebih dulu apakah mereka layak atau tidak layak untuk keselamatan, maka kasih karunia Allah, dengan ditegakkannya / adanya upah perbuatan baik, tidak bisa bertahta sendirian, tetapi harus merupakan hanya sebagian dari penyebab pemilihan).

 

Calvin lalu melanjutkan dengan membicarakan tentang Abraham (bacalah Ro 4:1-5 dan Ro 3:24!) dan berkata: “... if works come to the account, when God adopts a certain number of men unto salvation, reward is a matter of debt, and that therefore it is not a free gift (= ... jika perbuatan baik diperhitungkan pada waktu Allah mengadopsi sejumlah orang tertentu untuk keselamatan, pahala / upah adalah persoalan hutang, dan karena itu bukan lagi merupakan pemberian cuma-cuma).

 

Ro 4:1-5 - “(1) Jadi apakah akan kita katakan tentang Abraham, bapa leluhur jasmani kita? (2) Sebab jikalau Abraham dibenarkan karena perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak di hadapan Allah. (3) Sebab apakah dikatakan nas Kitab Suci? ‘Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.’ (4) Kalau ada orang yang bekerja, upahnya tidak diperhitungkan sebagai hadiah, tetapi sebagai haknya. (5) Tetapi kalau ada orang yang tidak bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang durhaka, imannya diperhitungkan menjadi kebenaran”.

 

Ro 3:24 - “dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus”.

 

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali