Pdt. Budi Asali, M. Div.
(HP:
7064-1331 / 6050-1331)
http://www.golgothaministry.org
XXXX
BAG
09
2)
Manusia berdosa itu tidak mencari Allah.
Ro 3:11
- “Tidak ada seorangpun yang berakal
budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah”.
Dalam
Kitab Suci memang ada orang-orang yang mencari Allah, tetapi ini hanya bisa
terjadi karena Allah sudah lebih dulu bekerja di dalam diri orang itu dan
melahirbarukannya. Tanpa pekerjaan Allah, maka berlaku Ro 3:11 ini, yaitu
tidak ada seorangpun yang mencari Allah!
Orang
yang beragama, yang taat / sungguh-sungguh sekalipun, sebetulnya tidak mencari
Allah. Mereka mungkin hanya berjuang untuk agamanya / golongannya, atau mencari
keselamatan / surga, damai / sukacita, dan berkat-berkat lain, atau mereka
mencari jalan untuk bebas dari murka / hukuman Allah, tetapi diri
Allah sendiri tidaklah mereka cari!
3)
Manusia tidak bisa memperkenan Allah.
Ibr 11:6
menyatakan bahwa tanpa iman manusia tidak bisa memperkenan Allah, dan Fil 1:29
menyatakan bahwa iman adalah karunia / pemberian Allah! Ini jelas menunjukkan
bahwa dari dirinya sendiri (tanpa pekerjaan / karunia Allah) manusia tidak
mungkin bisa memperkenan Allah.
Ibr 11:6
- “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan
kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya
bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh
mencari Dia”.
Fil
1:29 - “Sebab kepada kamu dikaruniakan
bukan saja untuk percaya kepada Kristus,
melainkan juga untuk menderita untuk Dia”.
4) Manusia berdosa itu tidak bisa mengerti / menghargai Injil / Firman
Tuhan.
Sebagai
dasar dari pernyataan ini perhatikanlah ayat-ayat sebagai berikut:
a)
1Kor 1:18 - “Sebab pemberitaan tentang salib memang
adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita
yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah”.
b)
1Kor 1:23 - “tetapi kami memberitakan Kristus yang
disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan
untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan”.
c)
1Kor 2:14 - “Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa
yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu
baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai
secara rohani”.
Barnes’
Notes: “Perhaps, also, the word
‘know’ here implies also the idea of ‘loving,’ or ‘approving’ of
them, as it often does in the Scripture”
(= Mungkin, juga, kata ‘tahu / memahami’ di sini secara implicit juga
menunjukkan gagasan tentang ‘mengasihi’, atau ‘menyetujui’ mereka,
seperti yang sering terjadi dalam Kitab Suci).
Charles Hodge (tentang 1Kor 2:14): “‘To know’ is
to discern the nature of any thing, whether as true, or good, or beautiful. This
is in accordance with the constant usage of scripture. To know God is to discern
his truth and excellence; to know the truth is to apprehend it as true and good” (= ‘mengetahui
/ memahami’ artinya melihat sifat dasar dari apapun, apakah sebagai benar,
atau baik atau indah. Ini sesuai dengan penggunaan yang konstan dari Kitab Suci.
‘Mengetahui / mengenal Allah’ berarti melihat kebenaran dan keunggulanNya;
‘mengenal / mengetahui kebenaran’ berarti melihat / memahaminya sebagai
benar dan baik).
Bdk.
2Tim 3:7 - “yang walaupun selalu
ingin diajar, namun tidak pernah dapat mengenal
kebenaran”.
Ini
tidak mungkin diartikan ada orang yang sungguh-sungguh mencari kebenaran tetapi
tidak pernah bisa mengertinya. Mengapa? Karena akan bertentangan dengan
ayat-ayat di bawah ini.
Bdk.
Amsal 2:1-5 - “(1) Hai anakku, jikalau
engkau menerima perkataanku dan menyimpan perintahku di dalam hatimu, (2)
sehingga telingamu memperhatikan hikmat, dan engkau
mencenderungkan hatimu kepada kepandaian, (3) ya, jikalau engkau berseru kepada
pengertian, dan menujukan suaramu kepada kepandaian, (4) jikalau engkau
mencarinya seperti mencari perak, dan mengejarnya seperti mengejar harta
terpendam, (5) maka engkau akan memperoleh
pengertian tentang takut akan TUHAN dan mendapat pengenalan akan Allah”.
Bdk.
Yoh 8:31-32 - “(31) Maka kataNya kepada
orang-orang Yahudi yang percaya kepadaNya: ‘Jikalau
kamu tetap dalam firmanKu, kamu benar-benar adalah muridKu (32) dan kamu
akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan
kamu.’”.
d)
Dalam Kis 16:14 Lidia memperhatikan Injil setelah Allah membuka
hatinya. Andaikata tidak ada pekerjaan Allah ini, pasti iapun tidak akan
mempedulikan Injil / Firman Tuhan yang diberitakan oleh Paulus.
Kis
16:14-15 - “(14) Seorang dari perempuan-perempuan itu yang bernama Lidia turut
mendengarkan. Ia seorang penjual kain ungu dari kota Tiatira, yang beribadah
kepada Allah. Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang
dikatakan oleh Paulus. (15) Sesudah ia dibaptis bersama-sama dengan seisi
rumahnya, ia mengajak kami, katanya: ‘Jika kamu berpendapat, bahwa aku
sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, marilah menumpang di rumahku.’ Ia
mendesak sampai kami menerimanya”.
Calvin:
“Man’s
disposition voluntarily so inclines to falsehood that he more quickly derives
error from one word than truth from a wordy discourse” (= Kecenderungan
manusia dengan sukarela begitu condong pada kepalsuan sehingga ia dengan lebih
cepat mendapatkan kesalahan dari satu kata dari pada kebenaran dari suatu
pelajaran yang panjang) - ‘Institutes
of the Christian Religion’, Book II, Chapter II, no 7.
5) Manusia berdosa itu tidak bisa datang kepada Yesus / percaya kepada
Yesus.
Sebagai
dasar lihatlah pembahasan ayat-ayat di bawah ini:
a)
Mat 16:16-17 - “(16) Maka jawab Simon Petrus: ‘Engkau adalah
Mesias, Anak Allah yang hidup!’ (17) Kata Yesus kepadanya: ‘Berbahagialah
engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang
menyatakan itu kepadamu, melainkan BapaKu yang di sorga”.
Dalam
Mat 16:16-17 ini, pada waktu Petrus menyatakan imannya kepada Kristus
sebagai Mesias / Kristus dan Anak Allah, maka Yesus berkata: “...
bukan manusia yang menyatakan itu
kepadamu melainkan Bapamu yang di sorga”.
Kata
‘menyatakan’ dalam Kitab Suci bahasa
Inggris (KJV/RSV/NIV/NASB) diterjemahkan ‘reveal’
(= menyingkapkan sesuatu yang tadinya tertutup / tersembunyi). Ini
menunjukkan bahwa andaikata tidak ada pekerjaan Bapa yang menyingkapkan hal yang
tertutup / tersembunyi itu, maka jelas bahwa hati / pikiran Petrus akan terus
buta terhadap ke-Mesias-an / keilahian Yesus.
b)
Yoh 6:37 berbunyi: “Semua yang diberikan Bapa kepadaKu
akan datang kepadaKu, dan barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak akan Kubuang”.
Ini
menunjukkan bahwa orang tidak datang kepada Kristus karena kehendak mereka
sendiri, tetapi karena Bapa memberikan mereka kepada Kristus.
Calvin
mengomentari bagian ini dengan berkata: “Faith
is not a thing which depends on the will of men” (= Iman bukanlah sesuatu
yang tergantung pada kehendak manusia).
c)
Yoh 6:44,65.
Yoh 6:44
- “Tidak ada seorangpun yang dapat
datang kepadaKu, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa
yang mengutus Aku”.
Yoh 6:65b
- “Tidak ada seorangpun dapat datang
kepadaKu, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya”.
Kedua
ayat ini menunjukkan secara explicit
bahwa manusia yang ada dalam dosa itu tidak mampu datang kepada Yesus. Ia hanya
bisa datang kepada Yesus karena pekerjaan Bapa.
Orang-orang
Arminian keberatan terhadap penafsiran ini, dan mereka berkata bahwa kata-kata ‘tidak
dapat’ dalam Yoh 6:44,65 itu harus diartikan ‘tidak
mau’. Ini seperti kata-kata ‘tidak dapat’
dalam Kej 37:4b yang juga diartikan ‘tidak mau’.
Kej 37:4
(NIV/Lit): ‘they hated him and could not speak a kind word to him’
(= mereka membencinya dan tidak dapat mengucapkan kata yang ramah
kepadanya).
Jawaban
terhadap pandangan ini:
1.
Belum tentu bahwa kata-kata ‘tidak dapat’
dalam Kej 37:4 harus diartikan ‘tidak mau’.
Bukan hanya NIV, tetapi juga KJV, NKJV, RSV, NASB, ASV, dan bahkan Living
Bible, menterjemahkan ‘could
not’ (= tidak dapat). Hanya Good
News Bible yang menterjemahkan ‘would
not’ (= tidak mau).
Terjemahan
‘tidak dapat’ ini bukan hanya sesuai dengan
arti hurufiahnya, tetapi juga sangat masuk akal. Karena ayat itu membicarakan
saudara-saudara Yusuf, yang karena kebencian mereka terhadap Yusuf, lalu tidak
dapat berbicara secara ramah terhadap Yusuf. Kalau saudara sangat
membenci seseorang, bukankah memang tidak mudah untuk bisa berbicara secara
ramah kepada dia?
2.
Kalaupun dalam Kej 37:4 kata-kata ‘tidak
dapat’ diartikan ‘tidak mau’, itu
tidak berarti bahwa dalam Yoh 6:44,65 ini juga harus diartikan seperti itu.
Doktrin
Reformed tentang Total Depravity / Total
Inability mengajarkan bahwa manusia yang masih ada di dalam dosa bukan hanya
tidak mau, tetapi juga tidak dapat melakukan apapun yang baik. Jadi, manusia berdosa
itu tidak mempunyai kemauan maupun kemampuan dalam hal berbuat
baik. Ini terlihat dari Fil 2:13 yang berbunyi: “karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun
pekerjaan menurut kerelaanNya”.
Ini
terjemahannya kurang jelas. Perhatikan terjemahan-terjemahan Kitab Suci bahasa
Inggris di bawah ini:
KJV:
“For
it is God which worketh in you both to will and to do of his good
pleasure” (= Karena Allahlah yang bekerja dalam kamu baik untuk
menghendaki maupun untuk melakukan kehendakNya yang baik).
RSV:
“for
God is at work in you, both to will and to work for his good pleasure”
(= karena Allah bekerja dalam kamu, baik untuk menghendaki maupun untuk
mengerjakan untuk kehendakNya yang baik).
NASB:
“for
it is God who is at work in you, both to will and to work for His good
pleasure” (= karena Allahlah yang bekerja dalam kamu, baik untuk
menghendaki maupun untuk mengerjakan untuk kehendakNya yang baik).
NIV:
“for
it is God who works in you to will and to act according to his good
purpose” (= karena Allahlah yang bekerja dalam kamu untuk menghendaki
dan untuk berbuat menurut rencanaNya yang baik).
Disamping
itu, doktrin ini didukung oleh banyak ayat Kitab Suci yang secara
explicit menggunakan kata-kata ‘tidak dapat /
tidak mungkin’ (seperti Yer 13:23
Mat 7:17-18 Yoh 15:4-5 Ro 8:7-8 1Kor 2:14).
Bacalah semua ayat-ayat ini, dan saudara bisa melihat bahwa akan terasa sangat
aneh kalau semua kata-kata ‘tidak dapat’
dalam ayat-ayat itu harus diartikan ‘tidak mau’.
Dan khususnya dalam Ro 8:7-8, apakah kata-kata ‘tidak
mungkin’ di sana juga harus diartikan ‘tidak
mau’?
Ro
8:7-8 - “(7) Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena
ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak
mungkin baginya. (8) Mereka yang hidup dalam daging, tidak
mungkin berkenan kepada Allah”.
Doktrin
ini juga didukung oleh ayat-ayat Kitab Suci yang lain yang sekalipun menyatakan
hal itu secara implicit tetapi
menyatakannya secara sangat kuat (seperti Kej 6:5
Kej 8:21 Yes 64:6
Yer 4:22 Yoh 8:34 Ro 3:12
Ro 6:20 Ro 7:18-19).
d)
Fil 1:29 - “Sebab kepada kamu dikaruniakan
bukan saja untuk percaya kepada Kristus,
melainkan juga untuk menderita untuk Dia”.
Ini
menunjukkan secara jelas bahwa iman adalah karunia dari Allah. Kalau Allah tidak
mengaruniakan iman kepada seseorang, maka orang itu tidak mungkin akan percaya
kepada Yesus.
e)
Kis 11:18b - “Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Allah
mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup”.
Ini
menunjukkan bahwa pertobatan merupakan karunia / pemberian Allah. Kalau melihat
kontex Kis 10-11 (khususnya Kis 10:43), maka jelas yang dimaksud
dengan ‘pertobatan’ di sini adalah ‘datangnya / berimannya seseorang
kepada Yesus’.
Kis 10:43
- “Tentang Dialah semua nabi bersaksi, bahwa barangsiapa percaya
kepadaNya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena
namaNya.’”.
f)
1Kor 12:3b berbunyi: “tidak
ada seorangpun, yang dapat mengaku: ‘Yesus adalah Tuhan,’ selain oleh Roh
Kudus”.
Ini
secara explicit mengatakan bahwa tidak
ada seorangpun bisa mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan, kalau bukan karena Roh
Kudus. Kalau cuma mengaku-ngaku di mulut, tentu bisa (bdk. Mat 7:21-23
Luk 6:46). Tetapi kalau mengaku Yesus sebagai Tuhan dengan hati yang
betul-betul percaya, maka ini hanya bisa terjadi karena pekerjaan Roh Kudus
dalam diri orang itu.
g)Yoh 12:39-40 - “(39)
Karena itu mereka tidak dapat percaya,
sebab Yesaya telah berkata juga: (40) ‘Ia telah membutakan mata dan
mendegilkan hati mereka, supaya mereka jangan melihat dengan mata, dan menanggap
dengan hati, lalu berbalik, sehingga Aku menyembuhkan mereka.’”.
Bagian
ini menyebabkan orang yang percaya pada doktrin Total Depravity akan dengan mudah percaya pada doktrin
tentang Predestinasi. Perhatikan logikanya! Kita, sebagai orang
berdosa, tidak bisa percaya / datang kepada Kristus. Tetapi kita toh percaya
kepada Kristus. Mengapa? Karena Allah melahirbarukan kita dan lalu memberi kita
iman. Mengapa Allah melahirbarukan kita dan memberi iman kepada kita tetapi
tidak kepada orang-orang lain? Karena Allah telah memilih kita untuk
diselamatkan.
Bagian
ini juga seharusnya menyebabkan kita sabar (bukan
putus asa!) kalau kita memberitakan Injil dan ditolak, bahkan
diejek / dibenci. Ingat bahwa tanpa pekerjaan Allah, orang yang kita injili
itu memang tidak akan bisa percaya dan datang kepada Yesus! Tetapi jangan
katakan ‘memang belum waktunya ia percaya’.
Mengapa? Karena kita tidak tahu sudah atau belum waktunya. Dan kata-kata itu
kelihatannya hanya menguatkan atau membenarkan ketidak-percayaan orang itu.
6) Manusia berdosa itu mati dalam dosa / mati secara rohani.
Hal
ini terlihat dari ayat-ayat di bawah ini:
a)
Yoh 10:10b - “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup,
dan mempunyainya dalam segala kelimpahan”.
Bahwa
Yesus datang dengan tujuan supaya mereka / manusia berdosa mempunyai hidup,
jelas menunjukkan bahwa manusia itu mati (secara rohani).
b)
Ef 2:1-3 - “(1) Kamu dahulu sudah mati karena
pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu. (2) Kamu
hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati
penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara
orang-orang durhaka. (3) Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di antara
mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak
daging dan pikiran kami yang jahat. Pada dasarnya kami adalah orang-orang
yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain”.
Mati
secara rohani / mati dalam dosa artinya adalah:
1.
Ia aktif berbuat dosa.
Ini
terlihat dari Ef 2:1-3 di atas, yang sekalipun dalam ay 1nya
menunjukkan bahwa manusia itu mati dalam dosa, tetapi menunjukkan dalam ay 2-3nya
bahwa itu adalah kehidupan yang berdosa.
Jadi,
kalau di atas telah kita lihat bahwa manusia berdosa itu tidak bisa berbuat
baik, maka sekarang kita lihat bahwa manusia berdosa itu aktif / terus menerus
berbuat dosa.
Calvin:
“For
our nature is not only destitute and empty of good, but so fertile and fruitful
of every evil that it cannot be idle” [= Karena kita bukan hanya miskin /
melarat dan kosong dalam hal baik, tetapi begitu subur dan banyak berbuah dalam
setiap kejahatan sehingga kita tidak bisa malas / menganggur (dalam hal
berbuat jahat)] - ‘Institutes
of the Christian Religion’, Book II, Chapter I, no 8.
2.
Ia tidak peduli pada hal-hal rohani, baik dosanya maupun Allah, Firman
Tuhan / Injil, dsb.
Sehubungan
dengan hal ini, ada 2 illustrasi yang populer tetapi salah yang sering
dipakai dalam penginjilan:
a.
Kita digambarkan seperti orang yang sakit keras, dan Allah memberi kita
obat. Karena itu kalau kita mau disembuhkan, kita mesti mau membuka mulut kita
untuk meminum obat itu.
Illustrasi
ini adalah illustrasi Arminian, dan illustrasi
ini salah karena Kitab Suci tidak menggambarkan orang berdosa sebagai orang yang
sakit tetapi sebagai orang yang mati.
Memang
Yesus sendiri menggambarkan diriNya sebagai ‘tabib’, dan orang berdosa
sebagai ‘orang sakit’ (Mat 9:12-13),
tetapi bagian ini sama sekali tidak ditujukan untuk mengajar tentang Total Depravity. Ia mengatakan perumpamaan dalam Mat 9:12-13 hanya
untuk membela diri terhadap serangan orang-orang Farisi yang melarangNya bergaul
dengan orang jahat.
b.
Kita hampir tenggelam, dan Allah
melemparkan tali, dan kita harus mau memegang tali itu
kalau kita mau selamat.
Ini
juga salah, karena seharusnya kita adalah orang yang sudah
tenggelam dan sudah mati! Untuk menyelamatkan kita, Allah
menyelam, mengangkat kita lalu menghidupkan kita kembali!
7) Manusia sudah bejat sejak lahir, bahkan sejak dalam kandungan.
Ini
terlihat dari:
a)
Kej 8:21b - “Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang
ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya”.
b)
Maz 51:7 - “Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku
dikandung ibuku”.
c)
Maz 58:4 - “Sejak lahir orang-orang fasik telah menyimpang, sejak dari
kandungan pendusta-pendusta telah sesat”.
d)
Pkh 9:3b - “Hati anak-anak manusiapun penuh dengan kejahatan, dan kebebalan ada
dalam hati mereka seumur hidup, dan kemudian mereka menuju alam orang mati”.
Calvin:
“...
even infants themselves, while they carry their condemnation along with them
from the mother’s womb, are guilty not of another’s fault but of their own.
For even though the fruits of their iniquity have not yet come forth, they have
the seed enclosed within them. Indeed, their whole nature is a seed of sin;
hence it can be only hateful and abhorrent to God” (= ... bahkan
bayi-bayi, sementara mereka membawa penghukuman mereka bersama-sama dengan diri
mereka dari kandungan, bersalah bukan karena kesalahan orang lain tetapi dari
diri mereka sendiri. Karena sekalipun buah dari kejahatan mereka belum muncul,
mereka mempunyai benih terbungkus dalam diri mereka. Memang, seluruh diri mereka
adalah benih dosa; dan karenanya mereka hanya bisa dibenci dan menjijikkan bagi
Allah) - ‘Institutes of the
Christian Religion’, Book II, Chapter I, no 8.
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali