Pdt. Budi Asali, M. Div.
(HP:
7064-1331 / 6050-1331)
http://www.golgothaministry.org
XXXXXX
BAG. 05
K) James Arminius (1560-1609) dan Calvinisme.
James
Arminius lahir pada tahun 1560. Jadi pada waktu Calvin mati pada tahun 1564, ia
baru berusia sekitar 4 tahun. Karena itu jelas bahwa ia tidak pernah
berkonfrontasi langsung dengan Calvin sendiri. Tetapi ia berkonfrontasi dengan
Calvinisme.
James
Arminius adalah seorang ahli theologia Belanda, dan karena itu Arminianisme
mula-mula muncul di Belanda, pada awal abad 17.
A.
H. Strong berkata sebagai berikut tentang Arminius:
“Arminius
(1560-1609), professor in the University of Leyden, in South Holland, while
formally accepting the doctrine of the Adamic unity of the race propounded both
by Luther and Calvin, gave a very different interpretation to it - an
interpretation which verged toward Semi-Pelagianism and the anthropology of the
Greek Church”
[= Arminius (1560-1609), profesor di Universitas Leyden di Belanda Selatan,
sekalipun secara formal menerima doktrin kesatuan Adam dari umat manusia yang
diajukan oleh Luther dan Calvin, memberi suatu penafsiran yang sangat berbeda
terhadapnya - suatu penafsiran yang berbatasan / sangat dekat dengan
Semi-Pelagianisme dan doktrin manusia dari Gereja Yunani]
- ‘Systematic Theology’, hal 601.
A.
H. Strong juga memberikan pandangan Arminian sebagai berikut:
“...
God bestows upon each individual from the first dawn of consciousness a special
influence of the Holy Spirit, which is sufficient to counteract the effect of
the inherited depravity and to make obedience possible, provided the human will
cooperates, which it still has power to do”
(= ... Allah memberikan kepada setiap individu
dari saat pertama adanya kesadaran suatu pengaruh istimewa dari Roh Kudus, yang
cukup untuk menetralkan akibat dari kebejatan warisan dan membuat ketaatan itu
mungkin, asalkan kehendak manusia itu mau bekerja
sama, dan manusia masih mempunyai kekuatan untuk melakukan hal ini)
- ‘Systematic Theology’, hal 601.
Catatan:
Melihat
kepercayaan Arminian seperti yang dikatakan oleh A. H. Strong ini, saya lebih
condong untuk berpendapat bahwa Arminianism bukan termasuk pada Semi-Pelagianism
tetapi pada Semi-Augustinianism. Tetapi para ahli Theologia memang sering
mencampuradukkan Semi-Augustinianism dengan Semi-Pelagianism.
![]()
Pelagianism
Semi-Pelagianism / Semi-Augustinianism
Augustinianism
![]()
![]()
![]()
![]()
Arminianism Calvinism
Catatan:
Sepanjang yang saya ketahui tidak ada golongan kristen jaman sekarang yang
menganut ajaran Pelagianism, yang memang jelas-jelas sesat.
Pertentangan
Calvinisme dan Arminianisme ini akhirnya menyebabkan terjadinya Synod
of Dort pada tahun 1618-1619. Arminius sendiri mati sebelum Synod
of Dort itu dimulai, yaitu pada tahun 1609, sehingga pada Synod of Dort itu pengikut-pengikut Arminiuslah yang dipanggil.
Guy
Duty lagi-lagi memberikan fitnahan yang tidak berdasar
pada waktu ia menceritakan Synod of Dort
itu (diterjemahkan ‘Dewan Dort’) sebagai berikut:
“Orang-orang Arminian dipanggil menghadap Dewan dan
diberi waktu untuk berbicara. Tetapi Dewan yang sudah mempunyai kecenderungan
berprasangka mengambil keputusan yang berdasarkan kesimpulan yang dulu-dulu
juga. Prasangka lama dan rasa cemburu dikipasi terus sampai menjadi nyala api
yang panas. Doktrin Arminianisme tentang Predestinasi bersyarat diperiksa dan
disalahkan” - ‘Keselamatan, bersyarat atau tanpa syarat?’, hal 23.
Guy
Duty melanjutkan fitnahannya dengan berkata:
“Dewan Dort tidak menyelesaikan apa-apa dalam hal
perselisihan yang telah berlangsung selama 1300 tahun ini, ... Banyak hal dalam
sejarah ini merupakan suatu catatan sedih tentang persekongkolan yang keji,
politik kekuasaan, permainan kata, dan penghindaran dari fakta-fakta. Para
Calvinis di Dort tidak menjawab kesukaran-kesukaran dan keberatan-keberatan yang
berada seputar doktrin-doktrin mereka. Demikian juga halnya dengan para Calvinis
sekarang” - ‘Keselamatan, bersyarat atau tanpa syarat?’,
hal 24.
Synod of Dort
itu akhirnya mengecam Arminianisme dan mendukung Calvinisme dengan 5 points
Calvinismenya (TULIP).
Sekarang
mari kita melihat bagaimana pandangan James Arminius tentang Calvin dan
ajarannya / buku-bukunya. Sekalipun James Arminius tidak setuju dengan Calvin
dalam hal-hal tertentu, tetapi ia tetap sangat menghormati Calvin dan ajarannya,
dan bahkan menganjurkan pengikut-pengikutnya untuk membaca buku-buku tafsiran
Calvin dan buku ‘Institutes of the
Christian Religion’. Ia berkata:
“Next
to the study of Scripture which I earnestly inculcate, I
exhort my pupils to peruse Calvin’s Commentaries, which I extol in loftier
terms than Helmich himself (a Dutch divine, 1551-1608); for I affirm that
he excels beyond comparison (incomparabilem esse) in the
interpretation of Scripture, and that his commentaries ought to be more highly
valued than all that is handed down to us by the library of the fathers; so
that I acknowledge him to have possessed above most others, or rather above all
other men, what may be called an eminent spirit of prophecy (spiritum
aliquem prophetic eximium). His Institutes ought to be
studied after the (Heidelberg) Catechism, as containing a fuller explanation,
but with discrimination (cum delectu), like the writings of all men”
[= Disamping belajar Kitab Suci yang dengan sungguh-sungguh aku tanamkan, aku
mendesak murid-muridku untuk membaca dengan teliti buku-buku tafsiran Calvin,
yang aku puji dengan istilah-istilah yang lebih tinggi / mulia dari pada Helmich
sendiri (seorang ahli theologia Belanda, 1551-1608); karena aku
menegaskan bahwa ia jauh melebihi orang lain dalam
penafsiran Kitab Suci, dan bahwa buku-buku tafsirannya harus dinilai lebih
tinggi dari pada semua perpustakaan bapa-bapa gereja yang diwariskan kepada kita;
sehingga aku mengakui bahwa ia mempunyai, lebih dari
kebanyakan orang lain, atau lebih tepat lebih dari semua manusia lain, apa yang
disebut roh nubuat yang ulung. Buku ‘Institutes’nya
harus dipelajari setelah Katekisasi (Heidelberg), karena berisikan penjelasan
yang lebih penuh, tetapi dengan diskriminasi, seperti tulisan dari semua orang]
- Philip Schaff, ‘History of the
Christian Church’, vol VIII, hal 280.
Bandingkan
sikap James Arminius terhadap Calvin dan ajarannya ini dengan sikap para
pengikutnya, seperti Pdt. dr. Jusuf B. S. (dari Gereja Bukit Zaitun) dan Guy
Duty, terhadap Calvin dan ajarannya!
1)
Bahwa Pdt. dr. Jusuf B. S. memang merendahkan sekali Calvin dan ajarannya
terlihat dari bukunya yang berjudul ‘Keselamatan tidak bisa hilang?’,
dimana:
a)
Ia mengganti Acrostic TULIP menjadi LIPAS (hal 23).
Total Depravity.
®
Lemah
total.
Unconditional Election.
®
Ikatan Takdir.
Limited Atonement.
®
Penebusan
terbatas.
Irresistible Grace.
®
Anugerah
Allah.
Perseverance of the Saints.
® Selamat.
b)
Ia menyebut Calvinisme sebagai “Teori-teori
manusiawi yang memojokkan Allah menjadi pembohong” dan menganggap
Calvinisme memutarbalikkan kebenaran (hal 25).
c)
Ia berkata “Bukankah ini teori yang ditunggangi iblis??” (hal 32).
d)
Ia berkata “Teori ini (Calvinisme) seperti candu, merusak habis-habisan sampai
binasa dan orangnya tidak merasa, tahu-tahu sesudah mati berada di Neraka”
(hal 34).
Bahkan
dalam satu makalahnya Pdt. dr. Jusuf B. S. pernah mengatakan bahwa ajaran Calvinisme itu adalah racun.
Lebih
hebat lagi, dalam buku ‘Diktat PD’ yang diterbitkan oleh Gereja Bukit Zaitun
(yang rupa-rupanya juga ditulis oleh Pdt. dr. Jusuf B. S.), dikatakan bahwa
Calvinisme adalah “Pelajaran
keselamatan dari Injil yang lain Gal 1:7”
(hal 6).
Istilah
‘Injil yang lain’ dengan
referensi ayat dari Gal 1:7 jelas menunjukkan bahwa itu berarti ‘ajaran
sesat’, karena dalam Gal 1:8-9 Paulus lalu mengatakan terkutuklah
orang yang mengajarkan Injil yang lain itu.
Tetapi
anehnya, dalam bagian Pendahuluan dari buku ‘Keselamatan tidak bisa
hilang?’, ia berkata: “ini
(Calvinisme) belum termasuk hal-hal yang
sesat” (hal 7). Siapa yang bisa mengerti kontradiksi seperti ini?
2)
Bahwa Guy Duty memang sangat merendahkan Calvin dan ajarannya (juga
Augustine dan ajarannya), terlihat dalam bukunya yang berjudul ‘Keselamatan,
bersyarat atau tanpa syarat?’ dimana ia berkata:
a) “Barangkali Agustinus dan Calvin tidak sepenuhnya
bermaksud seperti apa yang dituduhkan oleh lawan-lawan mereka dalam hal
predestinasi ini, tetapi pengajaran-pengajaran mereka
sedemikian kabur dan saling bertentangan satu sama lain, sehingga mungkin tidak
seorangpun yang dapat disalahkan jika ia bingung akan apa yang diartikan oleh
mereka” (hal 21).
b) “Kelihatannya aneh bahwa Calvin, seorang pelajar
dalam bidang hukum, tidak dapat melihat ‘banyaknya
kecenderungan yang tidak konsisten dan saling bertentangan’ dalam
theologi Agustinus, yang diangkatnya”
(hal 22).
c) “(Calvin) mempunyai kebiasaan memberi alasan-alasan
untuk mengganti setiap bagian Alkitab yang tidak sesuai dengan fahamnya”
- ini dikutip oleh Guy Duty dari seseorang yang bernama Farrar, yang disebutnya
sebagai ’seorang sejarawan yang ramah
terhadapnya (Calvin)’ (hal 22).
d) “Bahkan para editor Agustinus dari ordo Benedictus
mengakui bahwa ia mempunyai kemampuan yang jelek untuk
pekerjaan penafsiran. Agustinus meletakkan hukum-hukum penafsiran bagi
lawan-lawannya dari doktrin-doktrin lainnya, tetapi ia
secara konsisten melanggar hukum-hukumnya sendiri dalam penafsirannya tentang
ayat-ayat predestinasi” (hal 201).
e) “Calvin, seperti Agustinus, meletakkan hukum-hukum
penafsiran yang adil bagi lawan-lawan dari doktrin-doktrin lain, tetapi ia
sendiri secara konsisten melanggar hukum-hukumnya sendiri dalam
tafsiran-tafsirannya tentang ayat-ayat predestinasi. Adalah
suatu persyaratan yang wajar bahwa seorang penafsir harus konsisten terhadap
dirinya sendiri, tetapi Agustinus dan Calvin, tidak”
(hal 203).
f) “Orang-orang Calvinis dan Advent (Seventh-day
Adventist) memakai hukum-hukum ini hanya sejauh kalau
itu menguntungkan mereka” (hal 228).
Catatan:
yang ia maksudkan dengan ‘hukum-hukum ini’ adalah hukum-hukum penafsiran
yang ia jelaskan mulai hal 227-238.
g) “Agustinus dan Calvin juga akan
ditertawakan sampai malu meninggalkan sidang tentang predestinasi”
(hal 230).
Mengapa
James Arminius bisa bersikap menghormat kepada Calvin dan ajarannya, sedangkan
para pengikutnya (seperti Pdt. dr. Jusuf B. S. dan Guy Duty) bersikap begitu
menghina dan merendahkan? Saya berpendapat hal itu
disebabkan karena Arminius memang mengenal Calvin dan ajarannya, sedangkan para
pengikutnya, khususnya Pdt. dr. Jusuf B. S. dan Guy Duty tidak tahu apa-apa
tentang Calvin, baik hidupnya, pelayanannya, maupun ajarannya! Karena itu
untuk mereka berdua saya anjurkan untuk masuk Sekolah Theologia dahulu dan
mempelajari sejarah Calvin dengan benar, dan juga sebaiknya mereka mengikuti
anjuran dari James Arminius di atas, dengan mempelajari / membaca buku-buku
Calvin, supaya mereka bisa mempunyai sikap yang benar terhadap Calvin dan
ajarannya!
Philip
Schaff berkata: “He (Calvin) improves upon acquaintance. Those who know him best
esteem him most” [= Ia (Calvin) bertambah baik karena pengenalan. Mereka
yang mengenalnya paling baik menghargainya paling tinggi] - Philip Schaff, ‘History
of the Christian Church’, vol VIII, hal 271.
Catatan:
Guy Duty menyatakan bahwa ia membaca buku-buku Calvin, tetapi tetap tidak bisa
menerima ajaran Calvin dan menganggapnya sebagai suatu kekacauan. Ada 3
kemungkinan yang menyebabkan hal ini:
1. Ia terlalu bodoh
untuk menjangkau ajaran-ajaran Calvin yang sukar dan mendalam itu.
2. Ia membaca
buku-buku Calvin dengan hati yang dipenuhi oleh prasangka yang anti-Calvin.
3. Ia tidak membaca
semua buku-buku itu tetapi hanya mencari-cari bagian-bagian yang bisa ia pakai
untuk menyerang Calvin / Calvinisme.
III)
Kesimpulan dari sejarah Agustinus & Calvin.
Setelah
melihat sejarah kehidupan dan pelayanan dari Agustinus dan John Calvin, maka
bisalah kita menarik suatu kesimpulan bahwa sekalipun mereka berdua mempercayai
doktrin Predestinasi dan Keselamatan tidak bisa hilang, tetapi mereka:
1)
Bukanlah orang yang meremehkan dosa, atau sengaja berbuat dosa.
Sebaliknya mereka betul-betul berjuang untuk menghancurkan dosa dalam hidup
mereka, dan berusaha untuk hidup sesuci mungkin.
2)
Bukanlah orang yang bermalas-malasan dalam melayani Tuhan. Sebaliknya
mereka adalah orang yang berjuang mati-matian dalam pelayanan.
3)
Bukanlah orang yang tidak mau memikul salib. Sebaliknya mereka mau
menderita dan bahkan mati demi Kristus.
Fakta
ini bertentangan sekali dengan kata-kata Pdt. dr. Jusuf B. S. dalam bukunya
‘Keselamatan tidak bisa hilang?’ yang saya kutip di bawah ini:
a) “Mereka menganggap kita salah, kita menganggap
mereka salah. Apa bedanya? Perbedaannya, pelajaran ini
membuat orang mudah lalai dan tetap memberi peluang untuk berani bermain-main di
dalam dosa” (hal 27).
b) “Menurut ‘teori’ Calvin ini: Sekali selamat
tetap selamat. Keselamatan tidak dapat hilang, sekalipun seseorang berbuat dosa,
hanya pahalanya yang hilang. ... Teori ini membuat orang
berani memilih dan main-main dalam dosa, toh selamat. ... Jadi baik yang
ditentukan selamat atau binasa, keduanya kalau hidup
dalam dosa tidak apa-apa, sebab rencana Allah tidak pernah batal” (hal 29).
c) “Memang mereka tidak
mengajar orang untuk berdosa, tetapi jelas sekali
bahwa ‘teori’ ini memberi peluang untuk berdosa. Seolah-olah
dosa bukan penghalang untuk masuk Kerajaan Surga” (hal 30).
d) “Teori Calvin: dapat
memberi kesimpulan: Tidak perlu pikul salib, tetap
selamat! ... Kalau berbuat dosa tidak apa-apa, tetap selamat, hanya
pahalanya hilang (menurut teori Calvin, bukan menurut Firman Tuhan!) dengan
mudah salib ditinggalkan. Buat apa pikul salib? Sebab itu orang-orang
Calvinis ini akan lebih mudah memilih melazatkan daging, nikmat untuk daging
...” (hal
32).
e) “Bagi orang Kristen yang cinta daging dan dunia,
teori Calvin dapat menenangkan perasaan hati, bahkan dapat menghanguskannya, sehingga
walau berdosa berlapis-lapis senang juga hatinya (Ams 14:16) sebab toh akan
selamat”
(hal 33-34).
f) “Hilang semangat pelayanan.
Tidak perlu menginjil, toh Tuhan berkuasa dan berdaulat. Yang sudah
ditentukan selamat, akan selamat juga akhirnya. Dilayani atau tidak dilayani,
kalau mereka sudah ditentukan selamat, akhirnya toh tetap selamat, sebab Tuhan
berdaulat penuh. Mengapa perlu bertekun, mati-matian
dalam pelayanan? Untuk apa bersaksi? Kalau jiwa-jiwa itu sudah ditakdirkan
selamat, pasti satu kali tetap selamat! Seringkali di mulut mereka
berkata harus bekerja bagi Tuhan, tetapi dalam hatinya iblis telah berhasil
mengukir kata-kata: ‘Dengan atau tanpa engkau... yang selamat tetap selamat, maka
lenyaplah semangat yang murni! (1Kor 9:16)”
(hal 35).
Mungkin
saudara berkata bahwa Agustinus dan Calvinnya memang tidak seperti yang
dikatakan oleh Pdt. dr. Jusuf B. S., tetapi banyak orang-orang Calvinist yang
seperti itu. Maka sebagai jawaban saya mengutip kata-kata John Murray, seorang
ahli theologia Reformed, yang berkata:
“But
perversion does not refute the truth of the doctrine perverted” (= Tetapi penyimpangan tidak menyangkal /
membuktikan salah kebenaran dari doktrin yang disimpangkan itu)
- ‘Collected Writings of John Murray’,
vol II, hal 87.
Jadi,
kalau ada orang Calvinist yang menanggapi ajaran Agustinus / Calvin dengan cara
seperti yang dikatakan oleh Pdt. dr. Jusuf B. S., maka itu tidak membuktikan
bahwa ajaran Agustinus / Calvin itu salah. Itu adalah
kesalahan oknum itu sendiri, bukan kesalahan ajarannya! Apakah
mereka berani berkata bahwa dalam kalangan Arminian tidak ada oknum brengsek
seperti itu?
Perlu
diingat bahwa Injil, yang mengatakan bahwa
Kristus telah mati untuk semua dosa kita, juga sering
ditanggapi secara salah, yaitu dengan lalu terus berbuat dosa karena toh telah
ditebus (bdk. Ro 5:20-6:1). Tanggapan salah
ini tidak menyebabkan Injilnya jadi salah dan tidak boleh diberitakan!
Perlu
juga saudara ingat dan sadari bahwa ajaran baik apapun
selalu bisa menimbulkan tanggapan yang salah! Tetapi itu
tidak membuat ajaran baik itu menjadi salah dan tidak boleh diberitakan.
Orang yang bijaksana harus bisa
membedakan antara kesalahan oknum dan kesalahan ajarannya. Orang bodoh
mencampur-baurkan keduanya!
-o0o-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali