Pdt. Budi Asali, M. Div.
(HP:
7064-1331 / 6050-1331)
http://www.golgothaministry.org
xxxxxxxxx
BAG. 02
II)
John Calvin.
Catatan:
Pelajaran tentang sejarah Calvin ini banyak yang saya ambil dari buku sejarah
karangan Philip Schaff yang berjudul ‘History
of the Christian Church’, vol VIII. Perlu diketahui bahwa Philip
Schaff bukanlah seorang Calvinist! Ini terlihat dari komentarnya
tentang pertentangan Calvinisme dengan Arminianisme, yang berbunyi sebagai
berikut:
“Calvinism
emphasizes divine sovereignty and free grace; Arminianism emphasizes human
responsibility. The one restricts the saving grace to the elect: the other
extends it to all men on the condition of faith. Both
are right in what they assert; both are wrong in what they deny. ... The Bible
gives us a theology which is more human than Calvinism, and more divine than
Arminianism, and more Christian than either of them” (= Calvinisme menekankan kedaulatan ilahi dan kasih
karunia yang cuma-cuma; Arminianisme menekankan tanggung jawab manusia. Yang
satu membatasi kasih karunia yang menyelamatkan kepada orang pilihan: yang lain
memperluasnya kepada semua manusia dengan syarat iman. Keduanya
benar dalam apa yang mereka tegaskan; keduanya salah dalam apa yang mereka
sangkal. ... Alkitab memberi kita suatu theologia yang lebih manusiawi dari pada
Calvinisme, dan lebih ilahi dari pada Arminianisme, dan lebih kristiani dari
yang manapun dari mereka)
- Philip Schaff, ‘History of the
Christian Church’, vol VIII, hal 816.
A)
Kelahiran, masa muda, dan pendidikan Calvin.
Calvin
dilahirkan pada tanggal 10 Juli tahun 1509, di kota Noyon, kira-kira 58 mil di
sebelah Timur Laut Paris, Perancis.
Pada
bulan Agustus 1523, pada usia 14 tahun, ia masuk the College de la Marche,
dimana ia belajar bahasa dan rhetoric dari seorang guru yang terkenal yang
bernama Marthurin Cordier (Cordatus). Dari orang ini Calvin belajar untuk
berpikir dan menulis dalam bahasa Latin - Philip
Schaff, ‘History of the Christian
Church’, vol VIII, hal 302.
Setelah
itu Calvin pindah ke College de Montague, dimana ia belajar filsafat dan
theologia. Ia menerima gelar Master dalam theologia pada
usia 18 tahun.
Komentar
Philip Schaff tentang kehidupan Calvin pada saat ini: “Calvin showed during this early
period already the prominent traits of his character: he was conscientious,
studious, silent, retired, animated by a strict sense of duty, and exceedingly
religious” [= Pada masa mudanya Calvin sudah menunjukkan ciri pembawaan
yang menonjol: ia adalah orang yang teliti, rajin, pendiam, penyendiri, sangat
bertanggung jawab, dan sangat religius] - Philip Schaff, ‘History
of the Christian Church’, vol VIII, hal 302.
Setelah
itu, atas dorongan ayahnya, ia belajar hukum di Universitas Orleans.
Theodore of Beza:
“The
design of making him a priest was interrupted by a change in the views both of
father and son - in the former, because he saw that the Law was a surer road to
wealth and honor and in the latter, because, having been made acquainted with
the reformed faith, by a relation named Peter Robert Olivet (the person to whom
the churches of France owe that translation of the Old Testament, from the
Hebrew, which was printed at Neufchatel,) he had begun to devote himself to the
study of the Holy Scriptures, and from an abhorrence at all kinds of
superstition, to discontinue his attendance on the public services of the Church”
(= belum
diterjemahkan
)
- ‘The Life of Calvin’, hal 4,5.
Di
Orleans ia bertemu dengan seorang guru Jerman yang bersimpati kepada Martin
Luther. Orang ini mendorong Calvin untuk belajar literatur Yunani.
Setelah ayahnya mati pada tahun 1531, ia tetap meneruskan sekolah hukumnya, dan
ia mendapat gelar doktor dalam bidang hukum pada tahun 1532 (pada usia 23
tahun). Ia kembali ke Perancis, dan lalu belajar literatur, khususnya Ibrani
dan Yunani.
Philip
Schaff:
“By
his excessive industry he stored his memory with valuable information, but
undermined his health, and became a victim to headache, dyspepsia, and insomnia,
of which he suffered more or less during his subsequent life” (= Oleh kerajinannya
yang berlebih-lebihan ia mengisi ingatannya dengan informasi berharga,
tetapi merusak kesehatannya, dan menjadi korban dari sakit kepala, pencernaan
yang terganggu, dan insomnia / sulit tidur, yang dideritanya sedikit atau banyak
dalam sepanjang hidupnya setelah ini) - ‘History
of the Christian Church’, vol VIII, hal 304.
Sesuatu
yang juga perlu diketahui tentang Calvin ialah bahwa ia bukan hanya seorang yang
rajin belajar tetapi ia juga adalah orang yang mempunyai ingatan yang luar
biasa.
Dr.
W. F. Dankbaar berkata tentang Calvin sebagai berikut: “Keras sekali ia bekerja, ia belajar sehari suntuk dan setengah malam
terus-menerus. Pagi-pagi sudah bangun lagi dan diulangilah apa yang
dipelajarinya sehari lampau. Tetapi itupun akan melekat
dan diketahuilah buat selamanya. Calvin mempunyai ingatan yang tiada bandingnya.
Pada tahun-tahun yang berikut, sewaktu perdebatan-perdebatan, kawan dan lawan
akan kagum melihat, betapa mudah ia mengutip bapa-bapa gerejani dari luar
kepala. Tidak pernah ia berkhotbah atau memberi kuliah dari persiapan tertulis,
cukuplah ayat Alkitab itu saja di hadapannya. Memang selalu ia
mempersiapkan diri dengan amat baiknya lebih dahulu dan seterusnya yakinlah ia,
bahwa ingatannya tidak akan meleset sejenakpun” - ‘Calvin, Jalan Hidup
dan Karyanya’, hal 11-12.
Catatan: Buku ini kuno dan ditulis dalam bahasa
Indonesia ejaan lama. Tetapi untuk mempermudah, saya mengubahnya menjadi ejaan
baru.
Dr.
W. F. Dankbaar juga menceritakan suatu peristiwa yang terjadi pada waktu Calvin
baru mulai pelayanan di Geneva untuk pertama kalinya. Dalam suatu pertemuan, ada
orang Jesuit yang menyerang orang Protestan dengan mengatakan bahwa ajaran
Protestan itu tidak sesuai dengan ajaran bapa-bapa gereja. Dr. W. F. Dankbaar
lalu berkata:
“Calvinpun tiba-tiba berdiri. Ia menerangkan, bahwa
orang yang tidak cukup mengenal bapa-bapa gerejani, lebih baik jangan
menyebut-nyebutnya. ... Mulailah ia menunjukkan
kutipan-kutipan dari bapa-bapa gerejani, begitu saja dari luar kepala, yang
membuktikan kebenaran dari apa yang dipelajari oleh pengikut-pengikut reformasi.
Sebagian dari khotbah Chrysostomus, ‘yang ke sebelas, kira-kira di tengah’;
kutipan dari Agustinus, ‘dari surat ke 23, menjelang penghabisannya’; dari
risalah karangan bapa gerejani itu juga, ‘yang ke delapan atau ke sembilan
kalau tidak salah’. Dan begitulah terus: Calvin menunjuk bab demi bab dan
semuanya dari luar kepala. Para hadirin tercengang-cengang, belum pernah
mereka dengar serupa itu. Semua orang kagum dan terpesona oleh uraian itu”
- ‘Calvin, Jalan Hidup dan Karyanya’, hal 43.
Theodore
Beza:
“...
and had such astonishing memory, that any person whom
he had once seen he instantly recognised at the distance of years, and when,
in the course of dictating, he happened to be interrupted for several hours, as
often happened, as soon as he returned he commenced at once to dictate where he
had left off” (= ... dan mempunyai ingatan yang mengherankan,
sehingga orang manapun yang pernah ia lihat sekali ia
segera mengenalinya dalam jarak beberapa tahun, dan pada
waktu, dalam mendikte, ia kebetulan diinterupsi selama beberapa jam, seperti
yang sering terjadi, begitu ia kembali ia segera memulai untuk mendikte di
bagian yang telah ia tinggalkan) - ‘Calvin’s
Selected Works’, vol I, hal xcvii-xcviii.
B)
Pertobatan Calvin.
Tidak
banyak yang diketahui tentang pertobatan Calvin.
Philip
Schaff mengatakan beberapa hal sehubungan dengan pertobatan Calvin di bawah ini:
·
“Calvin was not an unbeliever, nor an immoral
youth; on the contrary, he was a devout Catholic of unblemished character. His
conversion, therefore, was a change from Romanism to Protestantism, from papal
superstition to evangelical faith, from scholastic traditionalism to biblical
simplicity. He mentions no human agency, not even Volmar or Olivetan or Lefevre.
‘God himself,’ he says, ‘produced the change. He instantly subdued my
heart to obedience’”
(= Calvin bukanlah seorang yang tidak percaya, juga
bukan seorang pemuda yang tidak bermoral; sebaliknya, ia adalah seorang Katolik
yang taat / saleh dengan karakter yang tak bercacat. Karena itu, pertobatannya
adalah perubahan dari Roma Katolik ke Protestan, dari tahyul kepausan pada iman
yang injili, dari tradisi abad pertengahan pada kesederhanaan yang alkitabiah.
Ia tidak menyebut agen manusia, bahkan tidak Volmar atau Olivetan atau Lefevre.
‘Allah sendiri,’ katanya, ‘membuat perubahan ini. Ia secara langsung /
mendadak menundukkan hatiku pada ketaatan’) - ‘History
of the Christian Church’, vol VIII, hal 310.
·
“‘Only one haven of salvation,’ he says, ‘is
left open for our souls, and that is the mercy of God in Christ. We are saved by
grace - not by our merits, not by our works’” (= ‘Hanya satu tempat keselamatan,’ katanya,
‘yang terbuka untuk jiwa kita, dan itu adalah belas
kasihan Allah dalam Kristus. Kita diselamatkan
oleh kasih karunia - bukan oleh jasa kita, bukan oleh pekerjaan / perbuatan baik
kita’) - ‘History of the Christian
Church’, vol VIII, hal 311.
·
“The precise time and place and circumstances of
this great change are not accurately known. He was very reticent about
himself” (= Saat dan tempat dan keadaan yang tepat dari
perubahan besar ini tidak diketahui secara akurat. Ia adalah orang yang sangat
pendiam tentang dirinya sendiri) - ‘History
of the Christian Church’, vol VIII, hal 311.
Setelah pertobatannya Calvin tidak langsung
meninggalkan / memusuhi gereja Roma Katolik.
Philip
Schaff:
¨
“Reverence for the Church
kept him back for some time till he learned to distinguish the true,
invisible, divine essence of the Church from its outward, human form and
organization. Then the knowledge of the truth, like a
bright light from heaven, burst upon his mind with such a force, that
there was nothing left for him but to obey the voice from heaven. He consulted
not with flesh and blood, and burned the bridge behind him” (= Rasa hormat kepada Gereja
menahannya untuk sementara waktu sampai ia belajar membedakan hakekat
ilahi dari Gereja yang benar, tak kelihatan, dari Gereja yang lahiriah, bentuk
manusia dan organisasinya. Lalu pengetahuan tentang
kebenaran, seperti sebuah cahaya dari surga, meledak dalam pikirannya
dengan kekuatan sedemikian rupa, sehingga tidak ada yang tertinggal baginya
selain mentaati suara dari surga. Ia tidak berkonsultasi dengan daging dan
darah, tetapi membakar jembatan di belakangnya)
- ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 311.
¨
“He remained for the present in the Catholic
Church. His aim was to reform it from within rather than from without, until
circumstances compelled him to leave”
(= Untuk saat itu ia tetap tinggal dalam Gereja Katolik. Tujuannya
adalah mereformasi dari dalam dan bukannya dari luar, sampai keadaan
memaksanya untuk keluar / meninggalkan gereja itu)
- ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 312.
C)
Penulisan buku ‘Institutes of the
Christian Religion’.
Pada
tahun 1534 ada penganiayaan terhadap orang kristen di Paris. Ini disebabkan
karena adanya seorang Kristen yang kelewat semangat yang bernama Feret, yang
menempelkan traktat anti Katolik / Paus di seluruh Paris, bahkan di pintu kamar
kerajaan di Fontaineblue, dimana raja tinggal, pada malam 18 Oktober 1534 -
Philip Schaff, ‘History of the Christian
Church’, vol VIII, hal 319.
Ini
membuat raja menjadi marah dan menangkapi orang-orang yang dicurigai.
Orang-orang kristen bukan hanya ditangkapi tetapi juga dianiaya, dan bahkan
disiksa sampai mati.
Philip
Schaff:
“All
moderate Protestants deplored this untimely outburst of radicalism. It retarded
and almost ruined the prospects of the Reformation in France. The best cause may
be undone by being overdone” (= Semua orang Protestan yang lunak
menyesalkan ledakan radikalisme yang tidak pada waktunya
itu. Hal itu memperlambat dan hampir menghancurkan harapan dari Reformasi di
Perancis. Gerakan yang terbaik bisa dirusak dengan cara
dilakukan secara berlebihan) - ‘History
of the Christian Church’, vol VIII, hal 320.
Philip
Schaff:
“This
persecution was the immediate occasion of Calvin’s Institutes, and the
forerunner of a series of persecutions which culminated under the reign of Louis
XIV, and have made the Reformed Church of France a Church of martyrs” (=
Penganiayaan ini adalah alasan langsung dari Calvin’s Institutes, dan
merupakan pendahulu dari suatu seri penganiayaan yang mencapai puncaknya di
bawah pemerintahan Louis XIV, dan menjadikan Gereja Reformed di Perancis sebagai
Gereja martir) - ‘History of the
Christian Church’, vol VIII, hal 322.
Catatan:
Apakah penganiayaan di Paris ini memang merupakan alasan langsung yang
menyebabkan Calvin menulis buku itu, agak perlu diragukan. Sebab pada bagian
awal dari Kata Pengantar dalam buku itu, Calvin berkata kepada raja bahwa pada
mulanya ia menulis buku itu bukan untuk ditujukan kepada raja. Tetapi adanya
penganiayaan di Paris itu menyebabkan ia akhirnya mempersembahkan buku ini
kepada raja.
Philip
Schaff:
“The
Institutio was dedicated to King Francis I of France (1494-1547), who at that
time cruelly persecuted his Protestant subjects. ... Calvin appealed to the
French monarch in defence of his Protestant countrymen, then a small sect, as
much despised, calumniated, and persecuted, and as moral and innocent as the
Christians in the old Roman empire, with a manly dignity, frankness, and pathos
never surpassed before or since” [= Institutes dipersembahkan kepada Raja
Francis I dari Perancis (1494-1547), yang pada waktu itu menganiaya warganegara
Protestannya dengan kejam. ... Calvin memohon / naik banding kepada raja
Perancis dalam pembelaannya terhadap orang-orang Protestan sebangsanya, yang
pada waktu itu adalah suatu sekte yang kecil, yang sama dihina, difitnah, dan
dianiayanya, dan sama bermoral dan tak bersalahnya seperti orang-orang Kristen
pada kekaisaran Romawi kuno, dengan kewibawaan yang berani, kejujuran, dan rasa
sedih yang tak pernah dilampaui sebelumnya atau sesudahnya] - ‘History
of the Christian Church’, vol VIII, hal 332.
Kata
pengantar yang ditujukan kepada raja Perancis itu bagian terakhirnya berbunyi
sebagai berikut: “... for though you are now averse and alienated from us, and even
inflamed against us, we despair not of regaining your
favor, if you will only once read with calmness and composure this our
confession, which we intend as our defence before your Majesty. But, on
the contrary, if your ears are so preoccupied with the whispers of the
malevolent, as to leave no opportunity for the accused to speak for themselves,
and if those outrageous furies, with your connivance, continue to persecute with
imprisonments, scourges, tortures, confiscations, and flames, we shall indeed,
like sheep destined to the slaughter, be reduced to the greatest extremities. Yet
shall we in patience possess our souls, and wait for the mighty hand of the
Lord, which undoubtedly will in time appear, and show itself armed for the
deliverance of the poor from their affliction, and for the punishment of their
despisers, who now exult in such perfect security” (= ... karena
sekalipun engkau sekarang menolak / menentang kami dan jauh dari kami, dan
bahkan marah terhadap kami, kami tidak putus asa untuk
mendapatkan kembali perkenanmu, asal saja engkau mau membaca satu kali dengan
ketenangan dan kesabaran pengakuan kami ini, yang kami maksudkan sebagai
pembelaan kami terhadap yang Mulia. Tetapi, sebaliknya, kalau telingamu
begitu dipenuhi dengan bisikan-bisikan dari orang-orang pendengki, sehingga
tidak memberi kesempatan kepada orang-orang yang dituduh untuk berbicara bagi
diri mereka sendiri, dan jika kemurkaan yang melampaui batas itu, dengan kerja
samamu secara diam-diam, terus menganiaya dengan pemenjaraan, pencambukan /
penyesahan, penyiksaan, penyitaan, dan nyala api, kami memang akan seperti domba
yang ditetapkan untuk dibantai, dikurangi / dimusnahkan sampai tingkat terendah.
Tetapi kami akan hidup dengan sabar, dan menunggu tangan
yang kuat / hebat dari Tuhan, yang tanpa diragukan akan muncul pada saatnya, dan
menunjukkan dirinya dengan bersenjata untuk pembebasan orang-orang miskin dari
penderitaannya, dan untuk penghukuman para penghinanya, yang sekarang bersukaria
dalam keamanan yang begitu sempurna) - Philip Schaff, ‘History
of the Christian Church’, vol VIII, hal 334.
Calvin
menyelesaikan buku ‘Institutes of the Christian Religion’ ini pada tahun 1536 pada
waktu Calvin baru berusia 26-27 tahun! - Philip
Schaff, ‘History of the Christian
Church’, vol VIII, hal 328.
Buku
ini direvisi berulang-ulang oleh Calvin. Edisi pertama hanya 6 bab, edisi kedua
17 bab, edisi ketiga 21 bab, dan dalam edisi keempat / terakhir (tahun 1559),
buku ini berkembang menjadi 4-5 x lipat dari semula, dibagi menjadi 4 buku, dan
setiap buku dibagi dalam bab-bab, dan setiap bab dibagi dalam bagian-bagian -
Philip Schaff, ‘History of the Christian
Church’, vol VIII, hal 334.
Beberapa
minggu setelah buku ini diterbitkan, Bucer menulis surat kepada Calvin: “It
is evident that the Lord has elected you as his organ for the bestowment of the
richest fulness of blessing to his Church” (= Adalah jelas bahwa Tuhan
telah memilih engkau sebagai alatNya untuk memberikan kepenuhan berkat yang
terkaya kepada GerejaNya) - Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 329.
Dan
Dr. Hase menyebut buku itu sebagai: “the
grandest scientific justification of Augustinianism, full of religious depth
with inexorable consistency of thought” (= pembenaran ilmiah yang paling
agung / hebat dari Augustinianisme, penuh dengan hal-hal rohani yang mendalam
dengan kekonsistenan pemikiran yang tidak dapat ditawar) - Philip Schaff, ‘History
of the Christian Church’, vol VIII, hal 329-330.
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali