Pdt. Budi Asali, M. Div.
(HP:
7064-1331 / 6050-1331)
http://www.golgothaministry.org
Sejarah singkat
Agustinus, John Calvin,
Dan Pertentangan
Calvinisme vs Arminianisme
Dalam
membahas sejarah singkat ini saya mengutip sangat banyak dari buku-buku sejarah,
untuk menunjukkan bahwa semua ini bukan semata-mata pandangan saya sendiri,
tetapi memang betul-betul merupakan fakta sejarah.
I)
Aurelius Augustinus / Augustine of Hippo.
A) Komentar
tentang Agustinus.
Dr.
Albert H. Freundt, Jr.: “Augustine was perhaps the most influential figure in the early
church, second only to the Apostle Paul. While his influence in the East was
very slight, he was to become the greatest Father of the Western Church.”
(= Mungkin Agustinus adalah orang yang paling berpengaruh dalam gereja
mula-mula, nomer dua hanya di bawah rasul Paulus. Sekalipun pengaruhnya di Timur
adalah sangat kecil, tetapi ia menjadi Bapa Gereja Barat yang terbesar) - ‘History
of Early Christianity’, hal 55.
B)
Masa kecil dan pertobatan.
Agustinus
dilahirkan pada tanggal 13 Nopember 354 M, di Afrika Utara. Dari kecil ia
mempunyai rasa haus yang tidak terpuaskan tentang pengetahuan. Ia mendapatkan
pendidikan yang hebat, dan menjadi seorang profesor rhetoric (= kepandaian berbicara / berpidato). Ayahnya seorang kafir
yang baru menjadi kristen pada akhir hidupnya, tetapi ibunya adalah seorang
kristen yang sungguh-sungguh, yang menginginkan supaya anaknya juga menjadi
orang kristen. Untuk waktu yang lama keinginannya tidak terjadi. Ibunya
tidak membaptiskan Agustinus pada waktu bayi, karena ia mempunyai kepercayaan
bahwa baptisan menghapus dosa yang terjadi sebelum baptisan itu dilakukan, dan
karena itu ia ingin menunda baptisan itu sampai Agustinus sudah melewati masa
remaja yang panas.
Sejak
kecil Agustinus punya masalah dengan keinginan sexnya yang tidak terkendali. Ia
mempunyai seorang selir yang melahirkan seorang anak laki-laki baginya, padahal
saat itu Agustinus belum berusia 18 tahun. Agustinus memang mencari kebenaran,
tetapi ia beranggapan bahwa kekristenan tidak bisa dipertahankan secara
intelektual. Karena itu ia memilih Manichaeism,
yaitu suatu ajaran sesat yang beranggapan bahwa baik dan jahat adalah 2
kekuatan kekal yang berperang satu dengan yang lainnya. Tetapi ia lalu
meninggalkan Manichaeism, karena ia beranggapan bahwa Manichaeism tidak bisa
memuaskan pertanyaan-pertanyaan intelektualnya, dan ia lalu menjadi seorang skeptic
(orang yang meragukan segala sesuatu). Dan ia juga
meninggalkan selirnya yang setia, dan lalu bertunangan dengan seorang gadis
muda, dan selain itu ia juga mempunyai hubungan gelap dengan seorang gadis lain.
Saat itu, kehidupan moralnya mencapai titik terendah. Ia lalu pindah ke Neoplatonism,
yaitu suatu aliran filsafat yang menggabungkan ajaran Plato dan tokoh-tokoh
filsafat Yunani yang lain dengan Yudaisme, kekristenan dan Mysticism (= ajaran
yang menekankan mistik, semedi, dsb) dari Near East (= Timur Dekat), tetapi ia
tetap tidak bisa mengatasi nafsu sexnya. Ia lalu mengajar di Milan. Suatu hari
ia pergi ke kathedral untuk mendengar seorang yang bernama Ambrose, dan ia
mendapatkan jawaban terhadap beberapa problem intelektualnya. Ia mendapatkan
gambaran tentang kehidupan pertapa-pertapa kristen di Mesir. Sesuatu yang
menyedihkan baginya melihat bahwa biarawan-biarawan yang tidak terpelajar itu
bisa menaklukkan pencobaan terhadap daging mereka, sementara ia dengan seluruh
pengetahuannya tidak bisa menaklukkan dagingnya. Pada waktu sendirian di dalam
taman, ia mendengar suara, mungkin dari anak tetangga, yang berkata: “Tolle,
lege” [= take up, read (=
ambillah, bacalah)] - Dr. Albert H. Freundt, Jr., ‘History of Early Christianity’, hal 56. Di situ ada sebuah copy
Kitab Suci dan ia mengambilnya dan membukanya pada Roma 13:13-14, yang
berbunyi sebagai berikut: “(13) Marilah
kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan
kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan
iri hati. (14) Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus
sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk
memuaskan keinginannya”.
Ini
menyebabkan ia bertobat pada tahun 385 / 386 M, dan akhirnya ia dan anaknya lalu
dibaptis oleh Ambrose pada Minggu Paskah tahun 387 M.
C)
Kehidupan, pelayanan, dan karyanya.
Setelah
pertobatannya, ia lalu meninggalkan pekerjaannya dan mulai belajar Kitab Suci
dengan serius, dan lalu kembali ke Afrika Utara, dimana ia diangkat menjadi
tua-tua (tahun 391 M), dan lalu bishop
/ uskup di Hippo (tahun 395 M). Di tempat itu, selama sekitar 38 tahun Agustinus
melayani Tuhan sampai akhir hidupnya. Agustinus hidup di biara secara sangat
sederhana, berpakaian serba hitam, dan makan makanan yang sederhana.
Philip
Schaff berkata: “He lived almost entirely on vegetables” (= Ia hidup
hampir-hampir hanya dengan sayuran) - ‘History
of the Christian Church’, vol III, hal 994.
Ia
hidup bersama dengan seorang rekan pendeta / pastor dalam satu rumah, dimana
perempuan dilarang masuk. Sekalipun problem sexnya bisa teratasi, tetapi
Agustinus mengakui bahwa ia masih mempunyai problem dengan kesombongan.
Tetapi
Philip Schaff mengatakan: “Augustine, ... is a philosophical and theological genius ...
a heart full of Christian love and humility”
(= Agustinus, ... adalah seorang genius dalam filsafat dan theologia ... suatu
hati yang penuh dengan kasih kristen dan kerendahan
hati) - ‘History of the Christian Church’, vol III, hal 997.
Saya
berpendapat bahwa kata-kata Phillip Schaff ini bukan kontradiksi dengan
pengakuan Agustinus bahwa ia mempunyai problem dengan kesombongan, karena orang
yang rendah hati biasanya justru tidak merasa dirinya rendah hati.
Ia
juga mengadakan / memimpin sebuah sekolah dan melakukan pembelaan intelektual
bagi kekristenan menghadapi ajaran-ajaran sesat pada jamannya. Agustinus
berkonfrontasi dengan 3 ajaran sesat, yaitu: Manichaeism,
Donatism, dan Pelagianism.
Tentang
pelayanan khotbahnya, Philip Schaff, mengatakan: “He
often preached five days in succession, sometimes twice a day, and set it as the
object of his preaching, that all might live with him, and he with all, in
Christ” (= Ia sering berkhotbah 5 hari berturut-turut, kadang-kadang 2 x
sehari, dan tujuan khotbahnya adalah supaya semua bisa hidup bersama dia, dan ia
bersama semua, dalam Kristus) - ‘History
of the Christian Church’, vol III, hal 994.
Ia
banyak menulis buku, dan 2 di antaranya yang sangat terkenal adalah:
1)
Confessions.
Buku
ini ditulis pada tahun 400 M, dimana ia menuliskan pengalaman rohaninya secara
mendetail. Kata kuncinya ada di
paragraf pertama, dan merupakan kata-kata yang sangat terkenal dari Agustinus,
yang berbunyi: “You have made us for yourself, O Lord, and
our heart is restless until it rests in you”
(= Engkau telah membuat kami untukMu sendiri, ya Tuhan, dan hati kami gelisah
sampai beristirahat dalam Engkau) - Dr. Albert H. Freundt, Jr., ‘History
of Early Christianity’, p 56.
Memang kata-kata ini benar, karena kalau seseorang
belum menemukan Tuhan melalui Yesus Kristus, hatinya tidak akan pernah bisa
merasakan damai / ketenangan yang sejati! Karena itu, kalau saudara adalah
orang yang tidak mempunyai damai / ketenangan, datanglah dan percayalah kepada
Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat saudara!
Bandingkan
ini dengan:
·
Mat 11:28-30 - “(28)
Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku
akan memberi kelegaan kepadamu. (29) Pikullah kuk yang Kupasang dan
belajarlah kepadaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu
akan mendapat ketenangan. (30) Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan
bebanKupun ringan”.
·
Yoh 14:27 - “Damai
sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahteraKu
Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak
seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu”.
·
Gal 5:22-23 - “(22) Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita,
damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, (23)
kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu”.
2)
The City of God.
Buku
ini ditulis pada tahun 412 M.
Kenneth
Scott Latourette mengatakan: “He
was a prolific author. Although troubled with insomnia and often ill, he
accomplished a prodigious amount of work” (= Ia adalah seorang pengarang
yang banyak hasilnya. Sekalipun diganggu oleh penyakit sukar tidur dan
seringkali sakit, ia mencapai jumlah pekerjaan yang sangat banyak) -
‘A History of Christianity’, Revised Edition, vol I, hal 175.
Buku-buku
Agustinus masih banyak dipakai pada jaman ini. Jadi buku-bukunya sudah
bertahan selama hampir 16 abad! Tidak
banyak buku yang bisa bertahan sampai 16 abad, dan bahwa buku-buku Agustinus
bisa bertahan selama itu menunjukkan kwalitet yang luar biasa dari tulisan
Agustinus tersebut! Orang-orang Arminian, seperti Pdt. dr. Jusuf B. S. dan Guy
Duty, seharusnya memperhatikan fakta ini, sebelum mereka merendahkan /
menghina orang seperti Agustinus! Buku mereka sendiri belum tentu bisa
bertahan selama 16 tahun!
D)
Akhir hidup dan kematian Agustinus.
Tentang
akhir hidupnya, Philip Schaff, ‘History
of the Christian Church’, vol III, hal 995-996, menceritakan sebagai
berikut:
“The
evening of his life was troubled by increasing infirmities of body and by the
unspeakable wretchedness which the barbarian Vandals spread over his country in
their victorious invasion, destroying cities, villages, and churches, without
mercy, and even besieging the fortified city of Hippo. Yet he faithfully
persevered in his work. The last ten days of his life he spent in close
retirement, in prayers and tears and repeated reading of the penitential Psalms,
which he had caused to be written on the wall over his bed, that he might have
them always before his eyes. Thus with an act of penance he closed his life. ...
In the third month of the siege of Hippo, on the 28th of August, 430, in the
seventy-sixth year of his age, in full possession of his faculties, and in the
presence of many friends and pupils, he passed gently and happily into that
eternity to which he had so long aspired”
(= Akhir hidupnya diganggu oleh kelemahan-kelemahan tubuh yang meningkat dan
oleh keadaan buruk yang tidak terkatakan yang disebarkan oleh orang barbar
Vandals di seluruh negara Agustinus dalam penyerbuan yang berkemenangan,
penghancuran kota-kota, desa-desa dan gereja-gereja, tanpa belas kasihan, dan
bahkan pengepungan kota Hippo yang berbenteng. Tetapi ia dengan setia bertekun
dalam pekerjaannya. 10 hari terakhir dalam hidupnya dilaluinya dalam pengucilan
diri, dalam doa dan air mata dan pembacaan berulang-ulang dari Mazmur-mazmur
pertobatan / penyesalan, yang ia suruh tuliskan di dinding di atas ranjangnya,
supaya semua itu selalu ada di depan matanya. Jadi, dengan tindakan pengakuan
dosa ia menutup hidupnya. ... Dalam bulan yang ketiga dari pengepungan Hippo,
pada tanggal 28 Agustus, tahun 430 M, pada usia 76 tahun, dengan memiliki
kemampuan berpikir yang baik, dan di hadapan banyak teman dan murid, ia berlalu
dengan lembut / tenang dan gembira kepada kekekalan yang sudah begitu lama ia
inginkan).
E)
Konfrontasi Agustinus versus Pelagius.
Pelagius
adalah seorang biarawan Inggris, yang datang ke Roma sekitar tahun 400 M,
dan tinggal di Roma selama beberapa tahun. Ia sangat terkejut melihat moral yang
begitu rendah di sana, dan ia mulai berusaha untuk mendesak Roma supaya
memperbaiki diri mereka. Ia menekankan tanggung jawab dan kemampuan manusia. Ia
menolak doktrin tentang dosa asal dan akibatnya pada manusia. Ia berpendapat
bahwa semua manusia ada dalam kondisi seperti Adam yang mempunyai kebebasan
untuk berbuat dosa atau tidak berbuat dosa. Ia percaya bahwa Allah tidak memilih
(Predestinasi), kuasa memilih ada dalam diri manusia. Allah mengirimkan Yesus
untuk menunjukkan jalan, dan semua manusia diberi Allah kekuatan sehingga
mempunyai kekuatan untuk mengikuti. Pelagius ‘memenangkan jiwa’ seorang yang
bernama Caelestius, yang pada tahun 412 M dikecam
sebagai bidat dan dikucilkan oleh Synod setempat, karena pandangan sesatnya yang
menyatakan bahwa:
1)
Adam akan mati sekalipun tidak berdosa.
2)
Dosa Adam hanya berakibat negatif pada dirinya sendiri dan tidak pada
seluruh umat manusia.
3)
Bayi yang baru lahir ada dalam keadaan seperti Adam sebelum jatuh ke
dalam dosa.
4)
Bukan karena dosa atau oleh Adam maka seluruh umat manusia mati, dan
bukan oleh kebangkitan (Yesus) maka semua dibangkitkan.
5)
Taurat maupun Injil membawa manusia pada Kerajaan Allah. Seseorang bisa
masuk surga dengan mentaati hukum Taurat.
6)
Bahkan sebelum Kristus, ada orang yang hidup suci / tanpa dosa.
(Dr.
Albert H. Freundt, Jr., ‘History of
Early Christianity’, hal 57).
Ini
jelas bertentangan dengan pandangan Agustinus,
yang berpendapat bahwa:
1.
Pada waktu Adam yang suci itu jatuh ke dalam dosa, semua manusia yang
diturunkannya dengan cara biasa, jatuh ke dalam dosa dengan dia.
2.
Karena kejatuhan Adam dan adanya dosa asal itu, sekarang manusia mati
secara rohani, dan terpisah dari Allah, dan layak untuk dihukum.
3.
Tetapi, Allah menetapkan sebagian untuk diselamatkan, dan sisanya untuk
dibinasakan.
4.
Jumlah orang pilihan ini sudah ditetapkan dan tidak bisa berubah.
5.
Orang pilihan diselamatkan oleh kasih karunia yang tidak bisa ditolak
dan mereka akan terus bertekun sampai akhir.
Suatu
Synod di Yerusalem, kepada siapa persoalan ini disampaikan, tidak berbuat
apa-apa kecuali menyerahkan persoalan ini ke Roma, dan pada tahun 415 M,
suatu Synod di Diospolis (Lydda) di Palestina membebaskan Pelagius dari tuduhan.
Tetapi pada tahun 416 M, Synod-Synod di Carthage dan Roma mengambil
tindakan sebaliknya, dan bishop Roma mendukung mereka. Bishop Roma yang baru,
yaitu Zosimus, mula-mula berpihak kepada Pelagius dan Caelestius, tetapi setelah
pada tahun 418 M kaisar Honorius mengucilkan kedua orang ini, dan juga
setelah mendapat desakan Agustinus, maka ia juga ikut mengecam mereka.
Pandangan
Pelagius ini dikecam oleh Council of Carthage pada tahun 418 M. Tetapi
Caelestius lalu pergi ke Timur dan ia lalu mendapatkan dukungan dari Nestorius
(ini adalah bishop Constantinople, seorang pengajar sesat dalam Kristologi, yang
mengajarkan Nestorianisme, yang mempercayai bahwa Yesus Kristus mempunyai 2
pribadi). Dan pada tahun 431 M, Council of Ephesus, yang mengecam
Nestorius, juga mengecam Pelagius, Caelestius, dan semua pendukungnya.
Sekalipun
pandangan Pelagius ini telah dikecam oleh otoritas gereja pada saat itu, tetapi
ini tidak berarti bahwa semua orang kristen / katolik lalu menerima pandangan
Agustinus. Di Perancis Selatan, ada grup Semi-Pelagians,
yang pandangannya ditolak oleh suatu Council Barat, yaitu the Synod of Arles,
pada tahun 473 M. Melalui beberapa abad, secara perlahan-lahan berkembang
suatu pandangan kompromi, yang disebut Moderate
Augustinianism / Semi-Augustinianism, yang didukung oleh Synod of Orange
pada tahun 529 M.
Synod
of Orange ini:
a)
Mengecam mereka yang mengatakan bahwa:
1.
Kehendak manusia bisa mendahului tindakan Allah dalam menyelamatkan kita.
2.
Iman dan keinginan untuk beriman bisa datang tanpa pemberian kasih
karunia dari Allah.
3.
Kita dapat memilih yang baik terpisah dari kasih karunia Allah.
b)
Tidak berbicara apa-apa tentang Irresistible
grace (= kasih karunia yang tidak bisa ditolak).
c)
Mengecam ajaran yang berkata bahwa sebagian manusia ditetapkan untuk
binasa.
d)
Sangat menekankan pentingnya baptisan.
Perlu
diketahui bahwa Agustinuspun mempunyai pandangan yang salah tentang sakramen,
karena ia mengajarkan bahwa:
1.
Baptisan bayi membuang dosa asal.
2.
Baptisan dan perjamuan kudus penting (necessary)
untuk keselamatan.
(Kenneth
Scott Latourette, ‘A History of
Christianity’, Revised Edition, vol I, hal 179).
Tetapi
Synod of Orange ini lebih lagi menekankan baptisan dibandingkan dengan
Agustinus.
Synod
of Orange ini berkata: “We also believe this to be according to the Catholic faith, that
grace having been received in baptism, all who have been baptized, can and
ought, by the aid and support of Christ, to perform those things which belong to
the salvation of the soul, if they labour faithfully” (= Kami juga percaya
ini sesuai dengan iman Katolik, bahwa kasih karunia telah diterima dalam
baptisan, semua yang telah dibaptis, bisa dan seharusnya, oleh pertolongan dan
bantuan Kristus, melakukan hal-hal yang termasuk dalam keselamatan jiwa, jika
mereka bekerja dengan setia) - Dr. Albert H. Freundt, Jr., ‘History of Early Christianity’, hal 58.
Jadi
mereka beranggapan bahwa bukan hanya orang pilihan, tetapi semua orang bisa
mendapatkan kasih karunia Allah melalui baptisan.
Dr.
Freundt mengomentari hal ini dengan berkata: “This
opened the way to a doctrine of salvation by works, and it was in this direction
that medieval Catholic was to move” (= Ini membuka jalan pada doktrin
keselamatan karena perbuatan baik / ketaatan, dan ke arah inilah Katolik pada
abad pertengahan bergerak) - Dr. Albert H. Freundt, Jr., ‘History
of Early Christianity’, hal 58.
Schema
Augustinianisme, Pelagianisme, dan pandangan-pandangan kompromi di antaranya.
Pandangan |
Ringkasan |
|
Augustinianism.
|
Manusia
mati dalam dosa; keselamatan diberikan secara total oleh kasih karunia
Allah, yang hanya diberikan kepada orang pilihan. |
|
Pelagianism |
Manusia
dilahirkan dalam keadaan baik dan bisa melakukan apa yang perlu untuk
keselamatan. |
|
Semi-pelagianism. |
Kasih
karunia Allah dan kehendak manusia bekerja sama dalam keselamatan, dan
manusia harus berinisiatif / mengambil langkah pertama. |
|
Semi-Augustinianism. |
Kasih
karunia Allah diberikan kepada semua orang, memampukan seseorang untuk
memilih dan melakukan apa yang perlu untuk keselamatan. |
|
|
Manusia |
Pemilihan |
Kasih Karunia |
|
Augustinianism. |
Kebejatan
total (ketidakmampuan sepenuhnya / total dalam hal moral). |
Tidak
bersyarat (tidak didasarkan atas pengetahuan lebih dulu dari Allah). |
Tidak
bisa ditolak. |
|
Pelagianism. |
Kemampuan
moral sepenuhnya. |
Tidak
ada. |
Tidak
ada, kecuali Allah telah menyatakan kehendakNya dalam Kristus. |
|
Semi-Pelagianism. |
Kemampuan
moral sebagian (manusia bisa layak mendapat kasih karunia). |
Bersyarat
(berdasarkan pengetahuan lebih dulu dari Allah). |
Perlu
(manusia bergerak; Allah menolong). |
|
Semi-Augustinianism
(Synod of Orange). |
Ketidakmampuan
moral (tetapi manusia bisa menerima atau menolak kasih karunia ilahi). |
Tidak
ada penentuan binasa (Allah tidak menentukan siapapun untuk terhilang
secara kekal). |
Mendahului
(iman manusia adalah tanggapan terhadap Allah yang lebih dulu mendekati
dia). |
Catatan: Pandangan-pandangan kompromi di antara
Augustinianisme dan Pelagianisme inilah yang nantinya menjadi pandangan
Arminianisme!
Loraine
Boettner:
“Arminianism
in its radical and more fully developed forms is essentially a recrudescence of
Pelagianism, a type of self-salvation. ... Arminianism at its best is a somewhat
vague and indefinite attempt at reconciliation, hovering midway between the
sharply marked systems of Pelagius and Augustine, taking off the edges of each,
and inclining now to the one, now to the other. Dr. A.A. Hodge refers to it as a
‘manifold and elastic system of compromise’” (= Arminianisme dalam
bentuknya yang radikal dan berkembang penuh pada dasarnya adalah bangkit
kembalinya Pelagianisme, suatu type keselamatan oleh diri sendiri. ... Arminianisme
dalam keadaan paling baik adalah usaha memperdamaikan yang agak samar-samar dan
tidak pasti, melayang di tengah-tengah antara sistim yang ditandai dengan jelas
dari Pelagius dan Agustinus, mengurangi kekuatan / ketajaman dari masing-masing
pihak, dan kadang-kadang condong kepada yang satu, kadang-kadang kepada yang
lain. Dr. A. A. Hodge menunjuk kepadanya sebagai suatu ‘sistim kompromi
yang bermacam-macam dan bersifat elastis’) - ‘The
Reformed Doctrine of Predestination’, hal 48.
Perlu diketahui bahwa dalam sejarah pada
waktu terjadi pertentangan antara pandangan yang benar dan sesat, memang
sering lalu muncul pandangan kompromi yang tidak mau melepaskan kesesatan
secara tuntas.
Contoh:
1)
Dalam persoalan keselamatan karena iman saja.
Orang
Yahudi / Yudaisme mengajarkan keselamatan karena perbuatan baik / ketaatan /
usaha manusia. Tetapi Yesus dan rasul-rasul mengajarkan keselamatan hanya karena
iman (Yoh 3:16 Ro 3:27-28
Gal 2:16,21 Ef 2:8-9). Lalu muncul orang Yahudi kristen, dengan
pandangan komprominya, yang sekalipun beriman kepada Yesus sebagai Juruselamat,
tetapi tetap menekankan sunat dan adat istiadat Yahudi (Kis 15:1-2
bdk. seluruh surat Galatia).
2)
Dalam persoalan Allah Tritunggal.
Seorang
yang bernama Arius (pendiri dari Arianisme, yang akhirnya mendasari Saksi
Yehovah), mengatakan bahwa Anak berbeda hakekat (bahasa Yunaninya: HETERO-OUSION)
dengan Bapa. Gereja lalu mengadakan sidang, yaitu The
Council of Nicea, pada tahun 325 M, dan menimbulkan Pengakuan Iman
Nicea, yang menyatakan bahwa Anak mempunyai hakekat yang sama / satu
dengan Bapa (bahasa Yunaninya: HOMO-OUSION).
Tetapi lalu muncul pandangan Semi-Arianism, yaitu pandangan kompromi, yang
menggunakan istilah bahasa Yunani HOMOI-OUSION
(= of the similar substance / dari zat yang serupa / mirip).
3)
Dalam persoalan Kristologi.
Seorang
yang bernama Eutyches mengajarkan ajaran sesatnya yang mengatakan bahwa setelah
inkarnasi, Kristus hanya mempunyai satu hakekat saja, yaitu hakekat ilahi
(karena hakekat manusianya diserap oleh hakekat ilahinya).
Ini
menyebabkan terjadinya Sidang gereja di kota Chalcedon, pada tahun 451 M,
yang menimbulkan Pengakuan Iman Chalcedon, yang menyatakan bahwa Kristus setelah
inkarnasi tetap mempunyai 2 hakekat yaitu hakekat ilahi dan hakekat manusia,
yang masing-masing mempertahankan sifat-sifatnya sendiri-sendiri.
Lalu
muncul pandangan kompromi yang disebut Monophysitism,
yang mengatakan bahwa Kristus mempunyai hanya satu hakekat, yaitu hakekat ilahi,
tetapi disertai dengan sifat-sifat manusia tertentu.
Juga
muncul pandangan kompromi yang lain yang disebut Monothelitism,
yang mengatakan bahwa Kristus memang mempunyai 2 hakekat, yaitu ilahi dan
manusia, tetapi hanya mempunyai 1 kehendak.
Kesimpulan: Sekalipun Arminianism tidak sesesat
Pelagianism, tetapi Arminianism adalah pandangan kompromi yang tidak mau
meninggalkan kesesatan / kesalahan secara tuntas! Kalau Augustinianism adalah
pandangan yang waras dan Pelagianism adalah pandangan yang gila, maka
Arminianism adalah pandangan yang setengah gila.
Mungkin
saudara bertanya: apa tujuan setan memberi pandangan kompromi yang setengah gila
tersebut? Ada 2 kemungkinan alasan dari setan:
1)
Setan mungkin bertujuan supaya pandangan yang gila (Pelagianism)
kelihatan sebagai extrim kiri, pandangan yang waras (Augustinianism) sebagai
extrim kanan, dan pandangan yang setengah gila (Arminianism) sebagai pandangan
yang benar!
Kalau
saudara tergoda untuk berpikir begitu, maka pikirkan hal ini: itu berarti bahwa
pada abad ke 5 itu terjadi pertentangan antara 2 pandangan extrim, extrim kanan
(Augustinianism) dan extrim kiri (Pelagianism). Sebagai hasil dari pertentangan
2 pandangan yang extrim itu, justru lalu muncul pandangan yang benar / waras
(Arminianism). Masuk akalkah itu? Masuk akalkah bahwa ada 2 ajaran sesat, yang
sama-sama berasal dari setan, bertempur, lalu sebagai akibatnya muncul ajaran
yang benar / dari Tuhan? Apakah tidak lebih masuk akal kalau pada abad ke 5 itu
terjadi pertentangan antara ajaran benar (Augustinianism) dan ajaran sesat
(Pelagianism), dan sebagai hasilnya muncul ajaran kompromi yang setengah sesat
(Arminianism)?
2)
Setan tahu bahwa ajaran yang setengah sesat lebih mudah diterima manusia
dari pada ajaran yang sesat secara total.
Sama
saja kalau saudara mau meracuni seseorang, jauh lebih mudah memberi dia makan
yang dicampur racun dari pada memberi dia racun 100 %. Dalam
faktanya memang jaman sekarang boleh dikatakan tidak ada gereja yang menganut
Pelagianism, tetapi ada banyak gereja yang menganut Arminianism.
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali