(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)
Minggu, tgl 6 Oktober 2019, pk 08.00 & 17.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
II Samuel 9:1-13(2)
2Sam 9:1-13 - “(1) Berkatalah Daud: ‘Masih adakah orang yang tinggal dari keluarga Saul? Maka aku akan menunjukkan kasihku kepadanya oleh karena Yonatan.’ (2) Adapun keluarga Saul mempunyai seorang hamba, yang bernama Ziba. Ia dipanggil menghadap Daud, lalu raja bertanya kepadanya: ‘Engkaukah Ziba?’ Jawabnya: ‘Hamba tuanku.’ (3) Kemudian berkatalah raja: ‘Tidak adakah lagi orang yang tinggal dari keluarga Saul? Aku hendak menunjukkan kepadanya kasih yang dari Allah.’ Lalu berkatalah Ziba kepada raja: ‘Masih ada seorang anak laki-laki Yonatan, yang cacat kakinya.’ (4) Tanya raja kepadanya: ‘Di manakah ia?’ Jawab Ziba kepada raja: ‘Dia ada di rumah Makhir bin Amiel, di Lodebar.’ (5) Sesudah itu raja Daud menyuruh mengambil dia dari rumah Makhir bin Amiel, dari Lodebar. (6) Dan Mefiboset bin Yonatan bin Saul masuk menghadap Daud, ia sujud dan menyembah. Kata Daud: ‘Mefiboset!’ Jawabnya: ‘Inilah hamba tuanku.’ (7) Kemudian berkatalah Daud kepadanya: ‘Janganlah takut, sebab aku pasti akan menunjukkan kasihku kepadamu oleh karena Yonatan, ayahmu; aku akan mengembalikan kepadamu segala ladang Saul, nenekmu, dan engkau akan tetap makan sehidangan dengan aku.’ (8) Lalu sujudlah Mefiboset dan berkata: ‘Apakah hambamu ini, sehingga engkau menghiraukan anjing mati seperti aku?’ (9) Lalu raja memanggil Ziba, hamba Saul itu, dan berkata kepadanya: ‘Segala sesuatu yang adalah milik Saul dan milik seluruh keluarganya kuberikan kepada cucu tuanmu itu. (10) Engkau harus mengerjakan tanah baginya, engkau, anak-anakmu dan hamba-hambamu, dan harus membawa masuk tuaiannya, supaya cucu tuanmu itu ada makanannya. Mefiboset, cucu tuanmu itu, akan tetap makan sehidangan dengan aku.’ Ziba mempunyai lima belas orang anak laki-laki dan dua puluh orang hamba. (11) Berkatalah Ziba kepada raja: ‘Hambamu ini akan melakukan tepat seperti yang diperintahkan tuanku raja kepadanya.’ Dan Mefiboset makan sehidangan dengan Daud sebagai salah seorang anak raja. (12) Mefiboset mempunyai seorang anak laki-laki yang kecil, yang bernama Mikha. Semua orang yang diam di rumah Ziba adalah hamba-hamba Mefiboset. (13) Demikianlah Mefiboset diam di Yerusalem, sebab ia tetap makan sehidangan dengan raja. Adapun kedua kakinya timpang.”.
III) Pelaksanaan keinginan Daud terhadap keturunan Saul / Yonatan.
Ay 5-13: “(5) Sesudah itu raja Daud menyuruh mengambil dia dari rumah Makhir bin Amiel, dari Lodebar. (6) Dan Mefiboset bin Yonatan bin Saul masuk menghadap Daud, ia sujud dan menyembah. Kata Daud: ‘Mefiboset!’ Jawabnya: ‘Inilah hamba tuanku.’ (7) Kemudian berkatalah Daud kepadanya: ‘Janganlah takut, sebab aku pasti akan menunjukkan kasihku kepadamu oleh karena Yonatan, ayahmu; aku akan mengembalikan kepadamu segala ladang Saul, nenekmu, dan engkau akan tetap makan sehidangan dengan aku.’ (8) Lalu sujudlah Mefiboset dan berkata: ‘Apakah hambamu ini, sehingga engkau menghiraukan anjing mati seperti aku?’ (9) Lalu raja memanggil Ziba, hamba Saul itu, dan berkata kepadanya: ‘Segala sesuatu yang adalah milik Saul dan milik seluruh keluarganya kuberikan kepada cucu tuanmu itu. (10) Engkau harus mengerjakan tanah baginya, engkau, anak-anakmu dan hamba-hambamu, dan harus membawa masuk tuaiannya, supaya cucu tuanmu itu ada makanannya. Mefiboset, cucu tuanmu itu, akan tetap makan sehidangan dengan aku.’ Ziba mempunyai lima belas orang anak laki-laki dan dua puluh orang hamba. (11) Berkatalah Ziba kepada raja: ‘Hambamu ini akan melakukan tepat seperti yang diperintahkan tuanku raja kepadanya.’ Dan Mefiboset makan sehidangan dengan Daud sebagai salah seorang anak raja. (12) Mefiboset mempunyai seorang anak laki-laki yang kecil, yang bernama Mikha. Semua orang yang diam di rumah Ziba adalah hamba-hamba Mefiboset. (13) Demikianlah Mefiboset diam di Yerusalem, sebab ia tetap makan sehidangan dengan raja. Adapun kedua kakinya timpang.”.
1) Pembetulan / penjelasan terjemahan.
a) Ay 10: “Engkau harus mengerjakan tanah baginya, engkau, anak-anakmu dan hamba-hambamu, dan harus membawa masuk tuaiannya, supaya cucu tuanmu itu ada makanannya. Mefiboset, cucu tuanmu itu, akan tetap makan sehidangan dengan aku.’ Ziba mempunyai lima belas orang anak laki-laki dan dua puluh orang hamba.”.
KJV: ‘thy master’s son ... thy master’s son’ [= anak tuanmu ... anak tuanmu].
Adam Clarke: “‘I have given unto thy master’s son.’ Unless Ziba had been servant of Jonathan, this seems to refer to Micha, son of Mephibosheth, and so some understand it; but it is more likely that Mephibosheth is meant, who is called son of Saul instead of grandson. Yet it is evident enough that the produce of the land went to the support of Micha, (see 2 Sam 9:10,) for the father was provided for at the table of David; but all the patrimony belonged to Mephibosheth.” [= ‘Aku telah memberikan kepada anak tuanmu’. Kecuali Ziba dulunya menjadi pelayan dari Yonatan, ini kelihatannya menunjuk kepada Mikha, anak dari Mefiboset, dan demikianlah beberapa orang mengertinya; tetapi adalah lebih memungkinkan bahwa Mefiboset yang dimaksudkan, yang disebut anak dari Saul dan bukannya cucu. Tetapi adalah cukup jelas bahwa hasil dari tanah digunakan untuk menyokong Mikha, (lihat 2Sam 9:10), karena sang ayah dipelihara di meja Daud; tetapi semua warisan adalah milik dari Mefiboset.].
Ay 10: “Engkau harus mengerjakan tanah baginya, engkau, anak-anakmu dan hamba-hambamu, dan harus membawa masuk tuaiannya, supaya cucu tuanmu itu ada makanannya. Mefiboset, cucu tuanmu itu, akan tetap makan sehidangan dengan aku.’ Ziba mempunyai lima belas orang anak laki-laki dan dua puluh orang hamba.”.
Catatan: saya tidak mengerti dari mana ini bisa diterapkan kepada Mikha dan bukannya kepada Mefiboset.
Pulpit Commentary: “Instead of ‘son,’ Hebrew ben, some commentators prefer the reading of a few Greek versions, namely, ‘house,’ Hebrew, beth. But the difficulty which they seek to avoid arises only from extreme literalness of interpretation. Though Mephibosheth ate at the king’s table, he would have a household to maintain - for he had a wife and son - and other expenses; and his having ‘food to eat’ includes everything necessary, as does our prayer for ‘daily bread.’” [= Alih-alih dari ‘anak’, Ibrani BEN, beberapa penafsir lebih memilih pembacaan dari sedikit versi Yunani, yaitu ‘rumah / keluarga’, Ibrani, BETH. Tetapi kesukaran yang mereka usahakan untuk hindari muncul hanya dari kehurufiahan penafsiran yang extrim. Sekalipun Mefiboset makan di meja raja, ia mempunyai suatu keluarga (dan hamba-hamba / pelayan-pelayan) untuk dipelihara - karena ia mempunyai seorang istri dan seorang anak - dan pengeluaran lain-lain; dan ‘supaya ada makanannya’ mencakup segala sesuatu yang dibutuhkan, sama seperti doa kita untuk ‘roti harian’.].
Mat 6:11 - “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya”.
KJV: “Give us this day our daily bread.” [= Berilah kami hari ini roti harian kami].
Pulpit Commentary: “Strictly Mephibosheth was Saul’s grandson, but words of relationship are used in a very general way in Hebrew.” [= Secara ketat Mefiboset adalah cucu Saul, tetapi kata-kata dari hubungan keluarga digunakan dengan suatu cara yang sangat umum dalam bahasa Ibrani.].
Catatan: memang dalam Alkitab, kata ‘anak’ bisa berarti keturunan, dan kata ‘ayah / bapa’ bisa berarti nenek moyang. Misalnya Yesus disebut ‘anak Daud’.
b) Ay 11: “Berkatalah Ziba kepada raja: ‘Hambamu ini akan melakukan tepat seperti yang diperintahkan tuanku raja kepadanya.’ Dan Mefiboset makan sehidangan dengan Daud sebagai salah seorang anak raja.”.
Sebetulnya di sini tidak ada masalah dengan terjemahan LAI, tetapi ada masalah dalam terjemahan KJV.
KJV: ‘Then said Ziba unto the king, According to all that my lord the king hath commanded his servant, so shall thy servant do. As for Mephibosheth, said the king, he shall eat at my table, as one of the king’s sons.’ [= Lalu kata Ziba kepada raja, Sesuai dengan semua yang tuanku raja telah perintahkan kepada hambamu, demikianlah akan hambamu lakukan. Tentang Mefiboset, kata raja, ia akan makan di mejaku, sebagai / seperti salah seorang dari anak-anak raja.].
Jadi, dalam KJV ada tambahan ‘said the king’ [= kata raja], dan tambahan ini tidak ada dalam terjemahan LAI/RSV/NIV/NASB, dan ada dalam KJV/ASV/NKJV. Dan dalam KJV kata-kata ‘said the king’ dicetak dengan huruf miring, yang menunjukkan bahwa bagian itu memang tidak ada dalam bahasa aslinya.
Barnes’ Notes: “‘Said the king.’ There is nothing in the Hebrew to warrant the insertion of these words.” [= ‘Kata raja’. Disana tak ada apapun dalam bahasa Ibrani untuk memberikan otoritas untuk penyelipan kata-kata ini.].
2) Mefiboset.
Mefiboset atau Meribaal?
Dalam 2Sam 9 ini ia disebut dengan nama Mefiboset, tetapi dalam 1Taw 8:34, ia disebut dengan nama Meribaal.
1Taw 8:34 - “Anak Yonatan ialah Meribaal dan Meribaal memperanakkan Mikha.”.
Pulpit Commentary: “It is evident from this that David was not certain that Jonathan had left behind him a son; but not because of the change of name from Meribbaal (1 Chron. 8:34); for ‘Baal’ retained its innocent meaning of ‘lord’ until the time of Jezebel. It then became the title of the Phœnician sun-god; and Jezebel’s shameless worship of this deity, and her cruelty to Jehovah’s prophets, made the people henceforth change the name ‘Baal’ into ‘Bosheth,’ ‘the shameful thing’ (see note on ch. 2:8). Mephibosheth had not changed his name, but had lived in obscurity in the wild region beyond Mahanaim.” [= Adalah jelas dari sini bahwa Daud tidak pasti / yakin bahwa Yonatan telah meninggalkan di belakangnya seorang anak laki-laki; tetapi bukan karena perubahan nama dari Meribaal (1Taw 8:34); karena ‘Baal’ mempertahankan arti yang tak bersalah ‘tuhan’ sampai jaman Izebel. Itu lalu menjadi gelar dari dewa matahari bangsa Fenisia; dan penyembahan Izebel yang tak tahu malu kepada allah / dewa ini, dan kekejamannya terhadap nabi-nabi Yehovah, menyebabkan bangsa itu sejak saat ini mengubah nama ‘Baal’ menjadi ‘Boset’, ‘hal yang memalukan’ (lihat catatan tentang 2:8). Mefiboset tidak / belum mengubah namanya, tetapi telah hidup dalam keadaan tidak dikenal dalam suatu daerah liar di luar Mahanaim.].
2Sam 2:8 - “Abner bin Ner, panglima Saul, telah mengambil Isyboset, anak Saul, dan membawanya ke Mahanaim”.
Pulpit Commentary (tentang 2Sam 2:8): “Ishbosheth. This name signifies ‘man of shame,’ that is, ‘man of the shameful thing,’ the idol. Originally he was named Eshbaal (1 Chron. 8:33; 9:39), that is, ‘man of Baal,’ the word esh being merely a dialectic variation for ish, equivalent to ‘man.’ At this early date ‘Baal’ was not the specific name of any idol, but simply meant ‘lord,’ ‘master,’ ‘husband.’ In the earlier books of the Bible we find the word used of many local deities, who were lords of this or that, but had nothing in common with the Phœnician Baal, whose worship Ahab attempted to introduce into Israel. From that time ‘Baal’ became a term of reproach, and ‘Bosheth,’ ‘the shame,’ was substituted for it in the old names of which it had formed part. Thus Gideon is still called ‘Jerubbaal’ in 1 Sam. 12:11, but the title is transformed into ‘Jerubbesheth,’ or more correctly, ‘Jerubbosheth,’ ‘let the shame plead,’ in ch. 11:21. Originally, therefore, the name ‘Ishbaal’ had no discreditable meaning, but signified, ‘man of the Lord,’ or, as Ewald supposes, ‘lordly man.’ It was not till long afterwards, when Israel had been horrified by Jezebel’s doings, that ‘Baal,’ except in the sense of ‘husband,’ became an ill-omened word. ‘Jonathan,’ whose own name, ‘Jehovah’s gift,’ in Greek Theodore, is proof sufficient that Saul’s family were worshippers of the true God, called his son’s name ‘Meribbaal,’ ‘the Lord’s strife’ (1 Chron. 8:34). In some strange way this was altered into ‘Mephibosheth,’ that is, ‘from the face of the shameful thing’ (ch. 4:4. etc.). Possibly it is a corruption of ‘Meribbosheth,’ but it is remarkable that a son of Saul by his concubine Rizpah also bore the name (ch. 21:8). Among the ancestors of Saul, the simple name ‘Baal,’ ‘Lord,’ occurs (1 Chron. 8:30).” [= Isyboset. Nama ini berarti ‘orang dari rasa malu’, artinya, ‘orang dari hal yang memalukan’, berhala. Mula-mula ia dinamakan Esybaal (1Taw 8:33; 9:39), artinya, ‘orang dari Baal’, kata ESH semata-mata merupakan suatu variasi yang bersifat dialek untuk ISH, yang artinya sama dengan ‘manusia’. Pada saat yang awal ini ‘Baal’ bukanlah nama spesifik dari berhala manapun, tetapi sekedar berarti ‘tuan’, ‘pemilik / guru’, ‘suami’. Dalam kitab-kitab yang lebih awal dari Alkitab kita mendapati kata itu digunakan tentang banyak allah-allah lokal, yang adalah tuhan-tuhan dari ini atau itu, tetapi tidak mempunyai persamaan dengan Baal Fenesia, yang penyembahannya Ahab usahakan untuk diperkenalkan ke dalam Israel. Sejak saat itu ‘Baal’ menjadi suatu istilah celaan, dan ‘Boset’, ‘rasa malu’, digunakan untuk menggantikannya dalam nama-nama kuno dimana kata itu merupakan bagiannya. Jadi Gideon tetap disebut ‘Yerubaal’ dalam 1Sam 12:11, tetapi gelar itu diubah menjadi ‘Yerubeset’, atau lebih tepat, ‘Yeruboset’, ‘biarlah rasa malu memohon’, dalam psl 11:21. Karena itu, mula-mula nama ‘Isybaal’ tidak mempunyai arti yang memalukan, tetapi berarti, ‘orang dari Tuhan’, atau, seperti diduga oleh Ewald, ‘orang dari Tuhan / orang yang mulia’. Baru sampai lama setelahnya, pada waktu Israel telah dikejutkan oleh perbuatan-perbuatan Izebel, maka ‘Baal’, kecuali dalam arti ‘suami’, menjadi suatu kata yang berarti buruk. ‘Yonatan’, yang namanya sendiri, ‘pemberian Yehovah’, dalam bahasa Yunani THEODORE, adalah bukti yang cukup bahwa keluarga Saul adalah penyembah-penyembah dari Allah yang benar, menyebut nama anak laki-lakinya ‘Meribaal’, ‘konflik / pertengkaran Tuhan’ (1Taw 8:34). Dengan cara yang aneh ini diubah menjadi ‘Mefiboset’, artinya, ‘dari wajah dari hal yang memalukan’ (psl. 4:4. dsb.). Mungkin ini merupakan suatu perusakan dari ‘Meriboset’, tetapi merupakan sesuatu yang menyolok bahwa seorang anak laki-laki dari Saul oleh gundiknya, Rizpah, juga mempunyai nama itu (psl. 21:8). Di antara nenek moyang Saul, nama ‘Baal’ saja, ‘Tuhan’, muncul (1Taw 8:30).].
1Taw 8:33 - “Ner memperanakkan Kish; Kish memperanakkan Saul; Saul memperanakkan Yonatan, Malkisua, Abinadab dan Esybaal.”.
1Taw 9:39 - “Ner memperanakkan Kish; Kish memperanakkan Saul; Saul memperanakkan Yonatan, Malkisua, Abinadab dan Esybaal.”.
1Sam 12:11 - “Sesudah itu TUHAN mengutus Yerubaal, Barak, Yefta dan Samuel, dan melepaskan kamu dari tangan musuh di sekelilingmu, sehingga kamu diam dengan tenteram.”.
2Sam 11:21 - “Siapakah yang menewaskan Abimelekh bin Yerubeset? Bukankah seorang perempuan menimpakan batu kilangan kepadanya dari atas tembok, sehingga ia mati di Tebes? Mengapa kamu demikian dekat ke tembok itu? - maka haruslah engkau berkata: Juga hambamu Uria, orang Het itu, sudah mati.’”.
1Taw 8:34 - “Anak Yonatan ialah Meribaal dan Meribaal memperanakkan Mikha.”.
2Sam 21:8 - “Lalu raja mengambil kedua anak laki-laki Rizpa binti Aya, yang dilahirkannya bagi Saul, yakni Armoni dan Mefiboset, dan kelima anak laki-laki Merab binti Saul, yang dilahirkannya bagi Adriel bin Barzilai, orang Mehola itu,”.
1Taw 8:30 - “Anak sulungnya ialah Abdon, lalu Zur, Kish, Baal, Nadab,”.
Barnes’ Notes: “‘Mephibosheth.’ Also called Merib-baal (and Meri-baal, probably by a clerical error, 1 Chron 9:40). The two names seem to have the same meaning: Bosheth, shame, being the equivalent for Baal, and Mephi (scattering or destroying, being equivalent to Merib (contending with). Compare Ish-bosheth and Esh-baal, Jerub-baal and Jerub-besheth.” [= ‘Mefiboset’. Juga disebut Merib-baal (dan Meri-baal, mungkin oleh suatu kesalahan pencatat, 1Taw 9:40). Kedua nama kelihatannya mempunyai arti yang sama: Boset, ‘rasa malu’, merupakan kata yang sama untuk Baal, dan Mefi (menyebarkan atau menghancurkan), merupakan kata yang sama dengan Merib (berjuang dengan). Bandingkan Isyboset dan Esybaal, Yerubaal dan Yerubeset.].
1Taw 9:40 - “Anak Yonatan ialah Meribaal, dan Meribaal memperanakkan Mikha.”.
KJV/RSV: “Meribbaal”.
NIV/NASB: “Merib-baal”.
3) Mefiboset menyembah Daud (ay 6,8).
Calvin mengatakan (hal 438) bahwa Mefiboset yang merupakan keturunan raja sekarang menyembah Daud.
Calvin: “Hence, seeing such examples, let us bear it patiently if it pleases God to put us in a low condition, and let us not seek to be in a high position, since the falls are all the greater when God causes those who are lifted up high to be thrown down.” [= Maka, melihat contoh-contoh seperti itu, hendaklah kita menanggungnya dengan sabar jika itu memperkenan Allah untuk meletakkan kita di suatu keadaan yang rendah, dan hendaklah kita tidak mencari / mengusahakan untuk berada di suatu keadaan tinggi, karena kejatuhannya jauh lebih besar pada waktu Allah menyebabkan mereka yang ditinggikan untuk dijatuhkan.] - ‘Sermons on 2Samuel’, hal 438.
Juga saya sendiri berpikir, mengingat bahwa Allah bisa meninggikan yang rendah (Daud), dan merendahkan yang tinggi (Mefiboset), maka itu harus menjaga yang tinggi supaya tetap rendah hati.
Calvin mengutip ayat ini:
Maz 113:7-8 - “(7) Ia menegakkan orang yang hina dari dalam debu dan mengangkat orang yang miskin dari lumpur, (8) untuk mendudukkan dia bersama-sama dengan para bangsawan, bersama-sama dengan para bangsawan bangsanya.”.
4) Kebaikan Daud terhadap Mefiboset: Daud memberikan segala milik Saul kepada Mefiboset, memerintahkan Ziba untuk mengerjakan tanah itu, dan meninggikan Mefiboset sehingga selalu makan bersama dengannya (ay 7-13).
a) Pemberian tanah / milik Saul kepada Mefiboset.
Pulpit Commentary: “David probably restored to Mephibosheth not only the lands at Gibeah, which Ziba had managed to hold, but Saul’s estates generally. There seems, nevertheless, to have been on Ziba’s part a grudge against Mephibosheth for thus getting back from the king what he had hoped to keep as his own.” [= Mungkin Daud mengembalikan kepada Mefiboset bukan hanya tanah-tanah di Gibea, yang telah diatur oleh Ziba untuk pertahankan, tetapi milik Saul secara umum. Tetapi kelihatannya di sana ada suatu kejengkelan di pihak Ziba terhadap Mefiboset karena pengembalian dari raja apa yang ia telah harapkan untuk mempertahankannya sebagai miliknya sendiri.].
b) Ziba menyanggupi perintah Daud.
Ay 9-11a: “(9) Lalu raja memanggil Ziba, hamba Saul itu, dan berkata kepadanya: ‘Segala sesuatu yang adalah milik Saul dan milik seluruh keluarganya kuberikan kepada cucu tuanmu itu. (10) Engkau harus mengerjakan tanah baginya, engkau, anak-anakmu dan hamba-hambamu, dan harus membawa masuk tuaiannya, supaya cucu tuanmu itu ada makanannya. Mefiboset, cucu tuanmu itu, akan tetap makan sehidangan dengan aku.’ Ziba mempunyai lima belas orang anak laki-laki dan dua puluh orang hamba. (11a) Berkatalah Ziba kepada raja: ‘Hambamu ini akan melakukan tepat seperti yang diperintahkan tuanku raja kepadanya.’”.
Adam Clarke: “‘So shall thy servant do.’ The promises of Ziba were fair and specious, but he was a traitor in his heart, as we shall see in the rebellion of Absalom, and David’s indulgence to this man is a blot on his character; at this time however he suspected no evil, circumstances alone can develop the human character. The internal villain can be known only when circumstances occur which can call his propensities into action; until then he may have the reputation of an honest man.” [= ‘Demikianlah akan dilakukan hambamu’. Janji-janji Ziba bagus / kelihatannya menyenangkan dan kelihatannya bagus, tetapi ia adalah seorang pengkhianat dalam hatinya, seperti akan kita lihat dalam pemberontakan Absalom, dan penanganan yang toleran dari Daud terhadap orang ini merupakan suatu cacat pada karakternya; tetapi pada saat ini ia tidak mencurigai kejahatan, keadaan-keadaan saja bisa menyingkapkan karakter manusia. Bajingan di dalam hati hanya bisa diketahui pada waktu keadaan-keadaan terjadi yang bisa menggoda kecenderungan-kecenderungannya menjadi tindakan; sampai saat itu ia bisa mempunyai reputasi sebagai seorang yang jujur.].
Catatan: tentang pengkhianatan Ziba terhadap Mefiboset, baca 2Sam 16,19.
‘Terlalu mudah percaya’ dan ‘terlalu mudah curiga tanpa alasan’ merupakan dua extrim yang sama-sama salah.
c) Peninggian terhadap Mefiboset untuk makan bersama Daud.
Pulpit Commentary: “The privilege of being the king’s friend, and eating at his table, was an honour that would be more highly prized than even the possession of the estates.” [= Hak untuk menjadi sahabat raja, dan makan di mejanya, merupakan suatu kehormatan yang dihargai lebih bahkan dari kepemilikan tanah-tanah / milik-milik.].
Pulpit Commentary: “Ver. 13. - Eating at the king’s table. David, out of regard to the memory of his dear friend Jonathan, and mindful of his oath to him, not only restores to his son Mephibosheth the forfeited property of Saul, and arranges for its cultivation by Ziba and his sons, but exalts Mephibosheth to the position of a constant guest at his own table, ‘as one of the king’s sons.’” [= Ay 13. - Makan di meja raja. Daud, dari penghormatan terhadap ingatan tentang sahabatnya yang terkasih Yonatan, dan perhatian pada sumpahnya kepadanya, bukan hanya mengembalikan kepada anaknya, Mefiboset, milik yang terhilang dari Saul, dan mengatur pengolahannya oleh Ziba dan anak-anaknya, tetapi meninggikan Mefiboset pada posisi suatu tamu tetap pada mejanya sendiri, ‘sebagai salah satu anak-anak raja’.].
5) Kebaikan Daud terhadap Mefiboset menunjukkan bahwa ia tidak mendendam karena kejahatan Saul kepadanya.
Calvin mengatakan (hal 439-440) bahwa kita sering tidak bisa mengampuni orang yang bersalah kepada kita, padahal penderitaan yang Saul akibatkan terhadap Daud 100 x lipat lebih besar dari penderitaan kita yang disebabkan orang itu.
Calvin: “When David saw that poor disfigured creature, ... he had reason to think: ‘Alas, what a change has occured’ - and even apply that lesson to himself, and learn to walk in the fear of God, realising that there is nothing secure in this world and that even the strongest kingdoms would always be in turmoil if they were not upheld by God through his providence.” [= Pada waktu Daud melihat makhluk malang yang cacat, ... ia mempunyai alasan untuk berpikir: ‘Astaga, betul-betul suatu perubahan telah terjadi’ - dan bahkan menerapkan pelajaran itu kepada dirinya sendiri, dan belajar untuk berjalan / hidup dalam takut kepada Allah, karena menyadari bahwa di sana tidak ada apapun yang aman / pasti di dunia ini dan bahwa bahkan kerajaan-kerajaan yang terkuat akan selalu ada dalam kekacauan yang besar seandainya mereka tidak ditopang oleh Allah melalui ProvidensiaNya.] - ‘Sermons on 2Samuel’, hal 442.
-bersambung-
(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)
Minggu, tgl 23 Januari 2011, pk 17.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
2Sam 3:1-39 - “(1) Peperangan antara keluarga Saul dan keluarga Daud berlarut-larut; Daud kian lama kian kuat, sedang keluarga Saul kian lama kian lemah. (2) Di Hebron lahirlah bagi Daud anak-anak lelaki. Anak sulungnya ialah Amnon, dari Ahinoam, perempuan Yizreel; (3) anaknya yang kedua ialah Kileab, dari Abigail, bekas isteri Nabal, orang Karmel; yang ketiga ialah Absalom, anak dari Maakha, anak perempuan Talmai raja Gesur; (4) yang keempat ialah Adonia, anak dari Hagit; yang kelima ialah Sefaca, anak Abital; (5) dan yang keenam ialah Yitream, dari Egla, isteri Daud. Semuanya ini dilahirkan bagi Daud di Hebron. (6) Selama ada peperangan antara keluarga Saul dan keluarga Daud, maka Abner makin mendapat pengaruh di antara keluarga Saul. (7) Saul mempunyai gundik yang bernama Rizpa; dia anak perempuan Aya. Berkatalah Isyboset kepada Abner: ‘Mengapa kauhampiri gundik ayahku?’ (8) Lalu sangat marahlah Abner karena perkataan Isyboset itu, katanya: ‘Kepala anjing dari Yehudakah aku? Sampai sekarang aku masih menunjukkan kesetiaanku kepada keluarga Saul, ayahmu, kepada saudara-saudaranya dan kepada sahabat-sahabatnya, dan aku tidak membiarkan engkau jatuh ke tangan Daud, tetapi sekarang engkau menuduh aku berlaku salah dengan seorang perempuan? (9) Kiranya Allah menghukum Abner, bahkan lebih lagi dari pada itu, jika tidak kulakukan kepada Daud seperti yang dijanjikan TUHAN dengan bersumpah kepadanya, (10) yakni memindahkan kerajaan dari keluarga Saul dan mendirikan takhta kerajaan Daud atas Israel dan atas Yehuda, dari Dan sampai Bersyeba.’ (11) Dan Isyboset tidak dapat lagi menjawab sepatah katapun kepada Abner, karena takutnya kepadanya. (12) Lalu Abner mengirim utusan kepada Daud dengan pesan: ‘Milik siapakah negeri ini? Adakanlah perjanjian dengan aku, maka sesungguhnya aku akan membantu engkau untuk membawa seluruh orang Israel memihak kepadamu.’ (13) Jawab Daud: ‘Baik, aku akan mengadakan perjanjian dengan engkau, hanya satu hal kuminta dari padamu, yakni engkau tidak akan menghadap aku, kecuali jika engkau membawa lebih dahulu Mikhal, anak perempuan Saul, apabila engkau datang menghadap aku.’ (14) Daud mengirim utusan juga kepada Isyboset, anak Saul, dengan pesan: ‘Berikanlah isteriku Mikhal, yang telah kuperoleh dengan seratus kulit khatan orang Filistin.’ (15) Lalu Isyboset menyuruh mengambil perempuan itu dari pada suaminya, yakni Paltiel bin Lais. (16) Dan suaminya berjalan bersama-sama dengan dia, sambil mengikuti dia dengan menangis sampai ke Bahurim. Lalu berkatalah Abner kepadanya: ‘Ayo, pulanglah.’ Maka pulanglah ia. (17) Sementara itu berundinglah Abner dengan para tua-tua orang Israel, katanya: ‘Telah lama kamu menghendaki Daud menjadi raja atas kamu. (18) Maka sekarang bertindaklah, sebab TUHAN sudah berfirman tentang Daud, demikian: Dengan perantaraan hambaKu Daud Aku akan menyelamatkan umatKu Israel dari tangan orang Filistin dan dari tangan semua musuhnya.’ (19) Abner berbicara dengan orang Benyamin; pula Abner pergi membicarakan dengan Daud di Hebron segala yang sudah dipandang baik oleh orang Israel dan oleh seluruh kaum Benyamin. (20) Ketika Abner datang kepada Daud di Hebron bersama-sama dua puluh orang, maka Daud mengadakan perjamuan bagi Abner dan orang-orang yang menyertainya. (21) Berkatalah Abner kepada Daud: ‘Baiklah aku bersiap untuk pergi mengumpulkan seluruh orang Israel kepada tuanku raja, supaya mereka mengadakan perjanjian dengan tuanku dan tuanku menjadi raja atas segala yang dikehendaki hatimu.’ Lalu Daud membiarkan Abner pergi dan berjalanlah ia dengan selamat. (22) Anak buah Daud dan Yoab baru saja pulang setelah mengadakan penggerebekan dan mereka membawa pulang jarahan yang banyak. Tetapi Abner tidak lagi bersama-sama Daud di Hebron, sebab ia telah dilepasnya pergi dengan selamat. (23) Ketika Yoab bersama dengan segenap tentaranya sudah pulang, diberitahukan kepada Yoab, demikian: ‘Abner bin Ner telah datang kepada raja dan ia sudah dibiarkannya pergi dengan selamat.’ (24) Kemudian pergilah Yoab kepada raja, katanya: ‘Apakah yang telah kauperbuat? Abner telah datang kepadamu; mengapa engkau membiarkannya begitu saja? (25) Apakah engkau tidak kenal Abner bin Ner itu. Ia datang untuk memperdaya engkau dan untuk mengetahui gerak-gerikmu dan untuk mengetahui segala yang hendak kaulakukan.’ (26) Sesudah itu keluarlah Yoab meninggalkan Daud dan menyuruh orang menyusul Abner, lalu mereka membawanya kembali dari perigi Sira tanpa diketahui Daud. (27) Ketika Abner kembali ke Hebron, maka Yoab membawanya sebentar ke samping di tengah-tengah pintu gerbang itu, seakan-akan hendak berbicara dengan dia dengan diam-diam; kemudian ditikamnyalah dia di sana pada perutnya, sehingga mati, membalas darah Asael, adiknya. (28) Ketika hal itu didengar Daud kemudian, berkatalah ia: ‘Aku dan kerajaanku tidak bersalah di hadapan TUHAN sampai selama-lamanya terhadap darah Abner bin Ner itu. (29) Biarlah itu ditanggung oleh Yoab sendiri dan seluruh kaum keluarganya. Biarlah dalam keturunan Yoab tidak putus-putusnya ada orang yang mengeluarkan lelehan, yang sakit kusta, yang bertongkat, yang tewas oleh pedang atau yang kekurangan makanan.’ (30) Demikianlah Yoab dan Abisai, adiknya, membunuh Abner, karena ia telah membunuh Asael, adik mereka, di Gibeon dalam pertempuran. (31) Dan berkatalah Daud kepada Yoab dan kepada segala rakyat yang bersama-sama dengan dia: ‘Koyakkanlah pakaianmu dan lilitkanlah pada tubuhmu kain kabung dan merataplah di depan mayat Abner.’ Raja Daud sendiripun berjalan di belakang usungan mayat. (32) Ketika orang menguburkan Abner di Hebron, maka menangislah raja dengan suara nyaring pada kubur Abner dan seluruh rakyatpun menangis. (33) Karena Abner raja mengucapkan nyanyian ratapan ini: ‘Apakah Abner harus mati seperti orang bebal? (34) Tanganmu tidak terikat dan kakimu tidak dirantai. Engkau gugur seperti orang gugur oleh orang-orang durjana.’ Dan seluruh rakyat itu makin menangis karena dia. (35) Seluruh rakyat datang menawarkan kepada Daud untuk makan roti selagi hari siang, tetapi Daud bersumpah, katanya: ‘Kiranya Allah menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jika sebelum matahari terbenam aku mengecap roti atau apapun.’ (36) Ketika seluruh rakyat melihat hal itu, mereka menganggap hal itu baik, seperti segala sesuatu yang dilakukan raja dianggap baik oleh seluruh rakyat. (37) Maka tahulah seluruh rakyat dan seluruh Israel pada hari itu, bahwa pembunuhan Abner bin Ner bukanlah rancangan raja. (38) Kemudian berkatalah raja kepada para pegawainya: ‘Tidak tahukah kamu, bahwa pada hari ini gugur seorang pemimpin, seorang besar, di Israel? (39) Tetapi aku ini sekarang masih lemah, sekalipun sudah diurapi menjadi raja, sedang orang-orang itu, yakni anak-anak Zeruya, melebihi aku dalam kekerasan. Kiranya TUHAN membalas kepada orang yang berbuat jahat setimpal dengan kejahatannya.’”.
I) Perang yang berlarut-larut antara pihak Daud dan pihak Isyboset.
Ay 1: “Peperangan antara keluarga Saul dan keluarga Daud berlarut-larut; Daud kian lama kian kuat, sedang keluarga Saul kian lama kian lemah”.
Pulpit Commentary: “‘David waxed stronger and stronger.’ Of course he did. It could not but be so, for he was a chosen servant, not seeking or doing his own will, but simply placing his life in the hands of God, to work out for his people and for future ages, purposes the precise nature of which he could not understand. No weapon formed against him could prosper. He who contended against him fought against God. The forces of nature were on his side. Never did mortal more vainly contend against fate than did Ishbosheth contend against David. ... ‘Stronger and stronger’ may be affirmed of the kingdom of righteousness on earth. For even the seeming failures and delays only become, in the hands of Providence, the means of acquiring the hardier and more enduring virtues by which at last the final victory shall be won. The same is true of any conflicts in which character is at stake. Our ‘righteousness shall be brought forth as the light,’ and our ‘judgment as the noonday.’ The parallel may be seen also in the conflict of the ‘old’ and the ‘new man.’ The one is on the way to perish; the other is ‘renewed day by day.’” (= ‘Daud menjadi lebih kuat dan lebih kuat’. Tentu saja ia menjadi lebih kuat. Tidak bisa tidak demikian, karena ia adalah seorang pelayan pilihan, yang tidak mencari atau melakukan kehendaknya sendiri, tetapi hanya meletakkan hidupnya dalam tangan Allah, untuk mengerjakan bagi umatNya dan untuk jaman-jaman yang akan datang, tujuan-tujuan / rencana-rencana yang sifat persisnya tidak bisa ia mengerti. Tak ada senjata yang dibentuk terhadapnya bisa berhasil. Ia yang melawan / menentang dia berperang melawan Allah. Kekuatan-kekuatan dari alam ada di pihaknya. Tidak pernah ada orang yang dengan lebih sia-sia melawan / menentang nasib dari pada Isyboset pada waktu melawan / menentang Daud. ... ‘Lebih kuat dan lebih kuat’ bisa ditegaskan tentang kerajaan kebenaran di bumi. Karena bahkan apa yang terlihat sebagai kegagalan dan penundaan, dalam tangan Providensia, hanya menjadi cara untuk mendapatkan kebaikan-kebaikan yang lebih tahan dan abadi dengan mana pada akhirnya kemenangan akhir akan dimenangkan. Hal yang sama adalah benar tentang konflik apapun dimana karakter dipertaruhkan. ‘Kebenaran kita akan diterbitkan / terbit seperti terang’, dan ‘penghakiman kita seperti tengah hari’. Hal yang paralel bisa juga terlihat dalam konflik dari ‘manusia lama’ dan ‘manusia baru’. Yang satu ada dalam jalan menuju kebinasaan; yang lain diperbaharui dari hari ke sehari).
Maz 37:6 - “Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang”.
KJV: ‘thy judgment’ (= penghakimanmu).
RSV: ‘your right’ (= hakmu).
NIV: ‘the justice of your cause’ (= keadilan dalam perkaramu).
NASB: ‘your judgment’ (= penghakimanmu).
ASV: ‘thy justice’ (= keadilanmu).
NKJV: ‘your justice’ (= keadilanmu).
Bdk. Amsal 4:18 - “Tetapi jalan orang benar itu seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari”.
2Kor 4:16 - “Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari”.
Catatan: saya tidak terlalu yakin apakah penerapan terakhir yang diberikan Pulpit Commentary di atas bisa dibenarkan. Rasanya itu merupakan suatu perohanian / pengalegorian yang salah. Tetapi banyak penafsir lain juga menafsirkan seperti itu.
II) Situasi / perkembangan dalam kalangan Daud.
Ay 2-5: “(2) Di Hebron lahirlah bagi Daud anak-anak lelaki. Anak sulungnya ialah Amnon, dari Ahinoam, perempuan Yizreel; (3) anaknya yang kedua ialah Kileab, dari Abigail, bekas isteri Nabal, orang Karmel; yang ketiga ialah Absalom, anak dari Maakha, anak perempuan Talmai raja Gesur; (4) yang keempat ialah Adonia, anak dari Hagit; yang kelima ialah Sefaca, anak Abital; (5) dan yang keenam ialah Yitream, dari Egla, isteri Daud. Semuanya ini dilahirkan bagi Daud di Hebron.”.
1) Daud mempraktekkan polygamy.
The Biblical Illustrator (Old Testament): “Before the remarkable change of policy on the part of Abner that led to the termination of the war is recorded, a glimpse is given us of the domestic life of King David (2 Sam 3:2-5); ... Though polygamy was not allowed to David, it certainly was winked at; it was not imputed to him as guilt; it was not treated as an act of rebellion against God’s law. But, on the other hand, this toleration of polygamy did not and could not prevent the evils to which, from its very nature, it gives rise” [= Sebelum perubahan politik yang luar biasa pada pihak Abner yang membimbing pada akhir dari peperangan dicatat, diberikan kepada kita sekilas dari kehidupan rumah tangga dari Raja Daud (2Sam 3:2-5); ... Sekalipun polygamy tidak diijinkan bagi Daud, itu jelas pura-pura tidak dilihat; itu tidak diperhitungkan sebagai kesalahan kepadanya; itu tidak diperlakukan / dibicarakan sebagai suatu tindakan pemberontakan terhadap hukum Allah. Tetapi di sisi lain, toleransi terhadap polygamy ini tidak dan tidak bisa mencegah bencana-bencana yang muncul dari sifat dasarnya].
Catatan: saya tidak setuju dengan kata-kata yang saya garis-bawahi. Saya yakin Tuhan tetap menganggap salah dosa polygamy itu. Dan bencana-bencana yang muncul belakangan, bukan muncul hanya sebagai suatu akibat alamiah, tetapi juga sebagai hukuman / hajaran Tuhan. Tetapi memang pada jaman dimana suatu dosa merajalela, biasanya Tuhan lebih mentoleransinya. Dalam jaman Alkitab, ada dua dosa seperti itu, yaitu polygamy dan perbudakan. Dalam jaman sekarang, di Indonesia, mungkin dosa yang merajalela adalah urusan sogok menyogok.
Matthew Henry: “It was David’s fault thus to multiply wives, contrary to the law (Deut 17:17), and it was a bad example to his successors” [= Merupakan kesalahan Daud untuk menambah istri seperti itu, bertentangan dengan hukum Taurat (Ul 17:17), dan itu merupakan suatu teladan buruk bagi pengganti-penggantinya].
Ul 17:14,17 - “(14) ‘Apabila engkau telah masuk ke negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, dan telah mendudukinya dan diam di sana, kemudian engkau berkata: Aku mau mengangkat raja atasku, seperti segala bangsa yang di sekelilingku, ... (17) Juga janganlah ia mempunyai banyak isteri, supaya hatinya jangan menyimpang; emas dan perakpun janganlah ia kumpulkan terlalu banyak”.
2) Kalau polygamy yang Daud lakukan itu salah, mengapa ada text Kitab Suci seperti 2Sam 12:8?
2Sam 12:7-9 - “(7) Kemudian berkatalah Natan kepada Daud: ‘Engkaulah orang itu! Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Akulah yang mengurapi engkau menjadi raja atas Israel dan Akulah yang melepaskan engkau dari tangan Saul. (8) Telah Kuberikan isi rumah tuanmu kepadamu, dan isteri-isteri tuanmu ke dalam pangkuanmu. Aku telah memberikan kepadamu kaum Israel dan Yehuda; dan seandainya itu belum cukup, tentu Kutambah lagi ini dan itu kepadamu. (9) Mengapa engkau menghina TUHAN dengan melakukan apa yang jahat di mataNya? Uria, orang Het itu, kaubiarkan ditewaskan dengan pedang; isterinya kauambil menjadi isterimu, dan dia sendiri telah kaubiarkan dibunuh oleh pedang bani Amon”.
Penjelasan: 2Sam 12:8 tidak bisa diartikan bahwa Tuhan memang memberikan istri-istri Saul kepada Daud, dan seandainya itu masih kurang, Ia pasti akan menambahinya. Penafsiran ini bertentangan dengan semua ayat yang menyatakan secara jelas bahwa Tuhan melarang polygamy. Jadi, arti text itu hanyalah bahwa dalam Providensia Allah, Ia telah memberikan segala sesuatu yang tadinya miliik Saul kepada Daud. Dan memang menurut tradisi Timur pada saat itu, istri-istri dan gundik-gundik dari raja yang mati menjadi milik dari penggantinya. Tetapi perlu diperhatikan bahwa Saul hanya mempunyai satu istri (1Sam 14:50) dan satu gundik (2Sam 3:7), dan tidak ada satupun dari mereka yang menjadi istri Daud setelah kematian Saul.
1Sam 14:50 - “Isteri Saul bernama Ahinoam, anak Ahimaas. Panglima tentaranya bernama Abner, anak Ner, paman Saul”.
2Sam 3:7 - “Saul mempunyai gundik yang bernama Rizpa; dia anak perempuan Aya. Berkatalah Isyboset kepada Abner: ‘Mengapa kauhampiri gundik ayahku?’”.
Jadi, kata-kata ‘dan seandainya itu belum cukup, tentu Kutambah lagi ini dan itu kepadamu’ tidak menunjuk kepada istri-istri tetapi hanya pada harta benda dan sebagainya.
3) Istri-istri dan anak-anak Daud.
a) Dari daftar anak-anak Daud di sini tak ada anak yang menjadi termasyhur / terkenal; sebaliknya tiga di antaranya menjadi terkenal karena keburukan mereka.
Matthew Henry: “We read not that any of these sons came to be famous (three of them were infamous, Amnon, Absalom, and Adonijah); we have therefore reason to rejoice with trembling in the building up of our families” [= Kita tidak membaca bahwa yang manapun dari anak-anak laki-laki ini menjadi termasyhur (tiga dari mereka mempunyai nama buruk, Amnon, Absalom, dan Adonia); karena itu kita mempunyai alasan untuk bersukacita dengan gemetar dalam membangun keluarga kita].
b) Kileab, anak dari Abigail.
Ay 3a: “anaknya yang kedua ialah Kileab, dari Abigail, bekas isteri Nabal, orang Karmel”.
Bdk. 1Taw 3:1 - “Inilah anak-anak Daud yang lahir bagi dia di Hebron; anak sulung ialah Amnon, dari Ahinoam, perempuan Yizreel; anak yang kedua ialah Daniel, dari Abigail, perempuan Karmel”.
Matthew Henry: “His son by Abigail is called Chileab (v. 3), whereas (1 Chron 3:1) he is called Daniel. Bishop Patrick mentions the reason which the Hebrew doctors give for these names, that his first name was Daniel - God has judged me (namely, against Nabal), but David’s enemies reproached him, and said, ‘It is Nabal’s son, and not David’s,’ to confute which calumny Providence so ordered it that, as he grew up, he became, in his countenance and features, extremely like David, and resembled him more than any of his children, upon which he gave him the name of Chileab, which signifies, like his father, or the father’s picture” [= Anak laki-lakinya dari Abigail disebut Kileab (ay 3), sedangkan dalam 1Taw 3:1 ia disebut Daniel. Uskup Patrick menyebutkan alasan yang diberikan oleh doktor-doktor Ibrani untuk nama-nama ini, bahwa nama pertamanya adalah Daniel - ‘Allah telah menghakimi aku’ (yaitu, terhadap Nabal), tetapi musuh-musuh Daud mengejeknya, dan berkata, ‘Itu adalah anak laki-laki dari Nabal, bukan dari Daud’, dan untuk membantah fitnahan itu Providensia mengaturnya sedemikian rupa sehingga, pada waktu anak itu bertumbuh menjadi dewasa, ia menjadi, dalam wajah dan bentuk, sangat mirip dengan Daud, dan menyerupainya lebih dari anak-anaknya yang manapun, kepada siapa ia memberinya nama Kileab, yang berarti, ‘seperti ayahnya’, atau ‘gambar ayahnya’].
Catatan:
· Menurut Barnes, nama ‘Daniel’ berarti ‘God is my judge’ (= Allah adalah hakimku).
· Ini merupakan cerita yang menarik, tetapi kita tidak bisa tahu dengan pasti kebenarannya.
c) Absalom, anak dari Maakha, anak perempuan dari Talmai, raja Gesur.
Ay 3b: “yang ketiga ialah Absalom, anak dari Maakha, anak perempuan Talmai raja Gesur”.
Barnes’ Notes: “Talmai was the name of one of the sons of Anak at Hebron (Num 13:22); this Talmai was perhaps of the same race” [= Talmai adalah nama dari salah satu dari anak-anak laki-laki dari Enak di Hebron (Bil 13:22); Talmai ini mungkin adalah dari bangsa yang sama].
Bil 13:22 - “Mereka berjalan melalui Tanah Negeb, lalu sampai ke Hebron; di sana ada Ahiman, Sesai dan Talmai, keturunan Enak. Hebron didirikan tujuh tahun lebih dahulu dari Soan di Mesir”.
Kelihatannya orang Enak ini termasuk orang Kanaan yang seharusnya dibasmi, dan dilarang untuk dinikahi. Bahwa keturunan Enak ini tinggal di Kanaan terlihat dari Bil 13:28.
Bil 13:27-29 - “(27) Mereka menceritakan kepadanya: ‘Kami sudah masuk ke negeri, ke mana kausuruh kami, dan memang negeri itu berlimpah-limpah susu dan madunya, dan inilah hasilnya. (28) Hanya, bangsa yang diam di negeri itu kuat-kuat dan kota-kotanya berkubu dan sangat besar, juga keturunan Enak telah kami lihat di sana. (29) Orang Amalek diam di Tanah Negeb, orang Het, orang Yebus dan orang Amori diam di pegunungan, orang Kanaan diam sepanjang laut dan sepanjang tepi sungai Yordan.’”.
Memang kalau dilihat dari larangan Tuhan, maka dari 7 bangsa dengan siapa orang Israel dilarang kawin campur, tidak ada keturunan Enak.
Ul 7:1-5 - “(1) ‘Apabila TUHAN, Allahmu, telah membawa engkau ke dalam negeri, ke mana engkau masuk untuk mendudukinya, dan Ia telah menghalau banyak bangsa dari depanmu, yakni orang Het, orang Girgasi, orang Amori, orang Kanaan, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus, tujuh bangsa, yang lebih banyak dan lebih kuat dari padamu, (2) dan TUHAN, Allahmu, telah menyerahkan mereka kepadamu, sehingga engkau memukul mereka kalah, maka haruslah kamu menumpas mereka sama sekali. Janganlah engkau mengadakan perjanjian dengan mereka dan janganlah engkau mengasihani mereka. (3) Janganlah juga engkau kawin-mengawin dengan mereka: anakmu perempuan janganlah kauberikan kepada anak laki-laki mereka, ataupun anak perempuan mereka jangan kauambil bagi anakmu laki-laki; (4) sebab mereka akan membuat anakmu laki-laki menyimpang dari padaKu, sehingga mereka beribadah kepada allah lain. Maka murka TUHAN akan bangkit terhadap kamu dan Ia akan memunahkan engkau dengan segera. (5) Tetapi beginilah kamu lakukan terhadap mereka: mezbah-mezbah mereka haruslah kamu robohkan, tugu-tugu berhala mereka kamu remukkan, tiang-tiang berhala mereka kamu hancurkan dan patung-patung mereka kamu bakar habis”.
Tetapi yang penting bukan huruf dari Ul 7:1-5 ini, melainkan arti sebenarnya. Tuhan melarang pernikahan campuran bukan karena alasan kebangsaan, tetapi karena alasan agama. Bangsa apapun, kalau mereka beragama lain (menyembah berhala), tetap harus dimasukkan dalam kelompok dengan siapa orang Israel dilarang menikah.
Matthew Henry: “Absalom’s mother is said to be the daughter of Talmai king of Geshur, a heathen prince. Perhaps David thereby hoped to strengthen his interest, but the issue of the marriage was one that proved his grief and shame” (= Ibu Absalom dikatakan adalah anak perempuan dari Talmai, raja Gesur, seorang pangeran / raja kafir. Mungkin dengan itu Daud berharap untuk memperkuat pengaruh sosial politiknya, tetapi hasil dari pernikahan itu adalah sesuatu yang membuktikan rasa sedih dan malunya).
Jamieson, Fausset & Brown: “Maacah, the daughter of Talmai, king of Geshur - a region in Syria, north of Israel. This marriage seems to have been a political match, made by David with a view to strengthen himself against Ish-bosheth’s party, by the aid of a powerful friend and ally in the north. Piety was made to yield to policy, and the bitter fruit of this alliance with a pagan prince he reaped in the life of the turbulent Absalom. Absalom denotes ‘father of peace,’ or ‘father’s peace.’ The name was a complete misnomer; because the bearer became the disturber of David's happiness and a rebel to his government” (= Maakha, anak perempuan dari Talmai, raja Gesur - suatu daerah di Syria, di utara Israel. Pernikahan ini kelihatannya merupakan suatu persatuan politik, dibuat oleh Daud dengan suatu maksud untuk memperkuat dirinya sendiri terhadap pihak Isyboset, oleh pertolongan dari seorang sahabat dan sekutu yang kuat di utara. Kesalehan ditundukkan pada politik, dan buah yang pahit dari persekutuan dengan raja / pangeran kafir ini ia tuai dalam kehidupan dari Absalom yang bergolak / seperti badai. Absalom berarti ‘bapa dari damai’, atau ‘bapanya damai’. Nama itu sama sekali tidak cocok; karena si pembawa nama menjadi pengganggu dari kebahagiaan Daud dan seorang pemberontak dari pemerintahannya).
d) Yitream, anak dari Egla, istri Daud.
Ay 5a: “dan yang keenam ialah Yitream, dari Egla, isteri Daud”.
Matthew Henry: “The last is called David’s wife, which therefore, some think, was Michal, his first and most rightful wife, called here by another name; and, though she had no child after she mocked David, she might have had before” (= Yang terakhir disebut istri Daud, yang karena itu, sebagian orang beranggapan, adalah Mikhal, istrinya yang pertama dan yang paling berhak / sah, di sini disebutkan dengan nama yang lain; dan, sekalipun ia tidak mempunyai anak setelah ia mengejek Daud, ia bisa telah mempunyai anak sebelumnya).
Bdk. 2Sam 6:20-23 - “(20) Ketika Daud pulang untuk memberi salam kepada seisi rumahnya, maka keluarlah Mikhal binti Saul mendapatkan Daud, katanya: ‘Betapa raja orang Israel, yang menelanjangi dirinya pada hari ini di depan mata budak-budak perempuan para hambanya, merasa dirinya terhormat pada hari ini, seperti orang hina dengan tidak malu-malu menelanjangi dirinya!’ (21) Tetapi berkatalah Daud kepada Mikhal: ‘Di hadapan TUHAN, yang telah memilih aku dengan menyisihkan ayahmu dan segenap keluarganya untuk menunjuk aku menjadi raja atas umat TUHAN, yakni atas Israel, - di hadapan TUHAN aku menari-nari, (22) bahkan aku akan menghinakan diriku lebih dari pada itu; engkau akan memandang aku rendah, tetapi bersama-sama budak-budak perempuan yang kaukatakan itu, bersama-sama merekalah aku mau dihormati.’ (23) Mikhal binti Saul tidak mendapat anak sampai hari matinya”.
Jamieson, Fausset & Brown mempunyai pandangan yang sama dengan Matthew Henry.
Pulpit Commentary: “As Eglah is especially called David’s wife, the Jewish interpreters hold that she was the highest in rank in his household, and therefore identical with Michal, who was restored to David while at Hebron. But she was childless; and more probably the words are to be taken as simply closing the narrative, and as belonging, therefore, equally to each of the six” (= Karena Egla secara khusus disebut istri Daud, para penafsir Yahudi percaya bahwa ia adalah yang tertinggi dalam tingkatan di rumah tangganya, dan karena itu identik dengan Mikhal, yang dikembalikan kepada Daud ketika di Hebron. Tetapi ia tidak mempunyai anak; dan lebih mungkin kata-kata itu dianggap sekedar sebagai penutup cerita, dan karena itu berlaku secara sama kepada masing-masing dari 6 istri itu).
Keberatan: kata ‘wife’ (= istri) dalam ay 5a itu ada dalam bentuk tunggal.
Kesimpulan: sekalipun dalam kalangan Daud / diri Daud ada hal-hal yang berdosa, tetapi secara keseluruhan ia tetap adalah seorang yang setia kepada Tuhan. Fakta bahwa ia bisa menikah berulang-ulang, dan menghasilkan banyak anak, menunjukkan bahwa ia mulai merasakan ketenteraman. Jadi, inilah yang ada dalam kalangan Daud.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali