(Rungkut
Megah Raya Blok D No 16)
Minggu,
tgl 18 Agustus 2019, pk 8.00 & pk 17.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
II
Samuel 8:1-18(5)
2Sam 8:1-18 - “(1) Sesudah itu Daud memukul kalah orang Filistin dan menundukkan mereka; lalu Daud mengambil kendali pemerintahan atas ibu kota dari tangan orang Filistin. (2) Dan ia memukul kalah orang Moab, lalu sambil menyuruh mereka berbaring di tanah ia mengukur tempat mereka dengan tali; diukurnya dua kali panjang tali itu untuk mematikan dan satu tali penuh untuk membiarkan hidup. Maka orang Moab takluk kepada Daud dan harus mempersembahkan upeti. (3) Selanjutnya Daud memukul kalah Hadadezer bin Rehob, raja Zoba, ketika ia pergi memulihkan kekuasaannya pada sungai Efrat. (4) Daud menawan dari padanya seribu tujuh ratus orang pasukan berkuda dan dua puluh ribu orang pasukan berjalan kaki, lalu Daud menyuruh memotong urat keting segala kuda kereta, tetapi dengan meninggalkan seratus ekor kuda kereta. (5) Lalu orang Aram dari Damsyik datang menolong Hadadezer, raja Zoba, tetapi dari antara orang Aram itu Daud menewaskan dua puluh dua ribu orang. (6) Kemudian Daud menempatkan pasukan-pasukan pendudukan di daerah orang Aram dari Damsyik. Orang Aram itu takluk kepada Daud dan harus mempersembahkan upeti. TUHAN memberi kemenangan kepada Daud ke manapun ia pergi berperang. (7) Sesudah itu Daud mengangkut perisai-perisai emas yang dipakai oleh anak buah Hadadezer, lalu membawanya ke Yerusalem. (8) Dan dari Betah dan dari Berotai, yaitu kota-kotanya Hadadezer, raja Daud mengangkut amat banyak tembaga. (9) Ketika didengar Tou, raja Hamat, bahwa Daud telah memukul kalah seluruh tentara Hadadezer, (10) maka Tou mengutus Yoram, anaknya, kepada raja Daud untuk menyampaikan salam dan mengucapkan selamat kepadanya, karena ia telah berperang melawan Hadadezer dan memukul dia kalah, sebab Hadadezer sering memerangi Tou. Dan Yoram membawa barang-barang perak, emas dan tembaga. (11) Juga barang-barang ini dikhususkan raja Daud bagi TUHAN, bersama-sama perak dan emas yang berasal dari segala bangsa yang ditaklukkannya, (12) yakni perak dan emas dari orang Aram, dari orang Moab, dari bani Amon, dari orang Filistin, dari orang Amalek, dan dari jarahan yang dirampas dari Hadadezer bin Rehob, raja Zoba. (13) Demikianlah Daud mendapat nama, dan ketika ia pulang, ia menewaskan delapan belas ribu orang Edom di Lembah Asin. (14) Lalu ia menempatkan pasukan-pasukan pendudukan di Edom; di seluruh Edom ditempatkannya pasukan-pasukan pendudukan, sehingga seluruh Edom diperbudak oleh Daud. TUHAN memberi kemenangan kepada Daud ke manapun ia pergi berperang. (15) Demikianlah Daud telah memerintah atas seluruh Israel, dan menegakkan keadilan dan kebenaran bagi seluruh bangsanya. (16) Yoab, anak Zeruya, menjadi panglima; Yosafat bin Ahilud menjadi bendahara negara; (17) Zadok bin Ahitub dan Ahimelekh bin Abyatar menjadi imam; Seraya menjadi panitera negara; (18) Benaya bin Yoyada menjadi panglima orang Kreti dan orang Pleti; dan anak-anak Daud menjadi imam.”.
III) Daud dan hasil kemenangannya.
1) Tuhan yang membuat Daud menang.
Ay 6b,14b: “TUHAN memberi kemenangan kepada Daud ke manapun ia pergi berperang.”.
KJV: “And the LORD preserved David whithersoever he went.” [= Dan TUHAN melindungi Daud kemanapun ia pergi.].
RSV: “And the LORD gave victory to David wherever he went.” [= Dan TUHAN memberi kemenangan kepada Daud kemanapun ia pergi.].
NIV: “The LORD gave David victory wherever he went.” [= TUHAN memberi Daud kemenangan kemanapun ia pergi.].
NASB:
“And the LORD helped David wherever he went.”
[= Dan TUHAN menolong Daud kemanapun ia pergi.].
Kata Ibrani yang dipakai sebetulnya VAYOSHA, yang berasal dari kata dasar YASHA yang berarti ‘to save’ [= menyelamatkan]. Tetapi kata VAYOSHA ada dalam bentuk hiphil, dan memang bisa berarti ‘memberi kemenangan kepada’ seperti dalam terjemahan LAI/RSV/NIV (Bible Works 8).
Pulpit Commentary: “IV. THE BLESSING OF GOD IN OUR ENDEAVOURS IS THE SPIRITUAL CONDITION OF SUCCESS. It is said twice (vers. 6, 14) that God ‘preserved David whithersoever he went.’ It is obvious that these various enterprises were full of danger to a man like David - danger to his life, his spirituality of mind, his moral conduct, his political reputation. His natural qualities of courage, thoroughness, and his laudable ambition as a monarch, might urge him on to positions of extreme peril; and the incidents of warfare are proverbially prejudicial to piety. The secret of his success lay in his being kept of God. The servant of God, doing rough, dangerous work, not for self-aggrandizement, but for God and his people, is surrounded by an unseen shield which no dart can penetrate. Here we see a truth ever being realized in private and public life - a true man of God, a man of undivided heart, setting himself to necessary but undesirable work, pressing on every day amidst dangers to life and religion, keeping the one thought of pleasing God clear before him, and ever everywhere guarded by him whom he serves. Till our work is done no ‘arrow that flieth by day’ can touch us. It is a fact which should be much insisted on, that God does preserve his saints (Ps 37:23,24,28). No outward sign was visible, yet God was with David. The absence of visible signs with us is no evidence that God is not our Shield and Helper. The chief thing for us is to see that we are his, that we do his will and not our own, and that we have a holy method in our enterprises, be they strictly spiritual or related to ordinary affairs.” [= IV. Berkat Allah dalam usaha-usaha kita adalah syarat rohani dari kesuksesan. Dikatakan dua kali (ay 6,14) bahwa Allah ‘melindungi Daud kemanapun ia pergi’ (KJV). Adalah jelas bahwa aktivitas-aktivitas yang bermacam-macam ini penuh dengan bahaya bagi seseorang seperti Daud - bahaya bagi hidup / nyawanya, kerohanian dari pikirannya, tingkah laku moralnya, reputasi politiknya. Kwalitet-kwalitet alamiahnya dari keberanian, ketelitian, dan ambisinya yang patut untuk dipuji sebagai seorang raja, mungkin / bisa mendesak dia pada posisi-posisi dari bahaya yang extrim; dan insiden-insiden dari peperangan terkenal punya kecenderungan untuk merusak kesalehan. Rahasia dari kesuksesannya adalah dalam pemeliharaan / penjagaan Allah. Pelayan Allah, melakukan pekerjaan yang kasar / sukar dan berbahaya, bukan untuk peninggian kuasa / nama sendiri, tetapi untuk Allah dan umatNya, dikelilingi oleh suatu perisai yang tidak terlihat yang tidak bisa ditembus oleh anak panah manapun. Di sini kita melihat suatu kebenaran yang direalisasikan dalam kehidupan pribadi dan umum - seorang pengikut Allah yang sejati, seorang dengan hati yang tidak terbagi, mengarahkan dirinya sendiri pada pekerjaan yang perlu tetapi tidak menyenangkan / tidak diinginkan, mendesak setiap hari di tengah-tengah bahaya-bahaya bagi kehidupan / nyawa dan agama, menjaga satu pemikiran tentang menyenangkan Allah jelas di hadapannya, dan selalu dimana-mana dijaga oleh Dia yang ia layani. Sampai pekerjaan kita selesai tak ada ‘anak panah yang terbang di siang hari’ bisa menyentuh kita. Merupakan suatu fakta yang harus ditegaskan, bahwa Allah memang melindungi / menjaga orang-orang kudusNya (Maz 37:23,24,28). Tak ada tanda lahiriah yang terlihat, tetapi Allah menyertai Daud. Absennya tanda-tanda yang terlihat menyertai kita bukanlah bukti bahwa Allah bukanlah Perisai dan Penolong kita. Hal terutama bagi kita adalah untuk memastikan bahwa kita adalah milikNya, bahwa kita melakukan kehendakNya dan bukan kehendak kita sendiri, dan bahwa kita mempunyai suatu metode / cara yang kudus dalam usaha-usaha kita, apakah usaha-usaha itu bersifat rohani secara ketat atau berhubungan dengan urusan-urusan biasa.] - ‘Homiletics’, hal 230.
Maz 37:23-24,28 - “(23) TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepadaNya; (24) apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya. ... (28) sebab TUHAN mencintai hukum, dan Ia tidak meninggalkan orang-orang yang dikasihiNya. Sampai selama-lamanya mereka akan terpelihara, tetapi anak cucu orang-orang fasik akan dilenyapkan.”.
Calvin:
“Well,
what is said of David without doubt applies to all the faithful. Hence, we must
gather from this passage that if we do not prevent God from helping us, not only
will he assist us once, but there will be such perseverance (in his help) that
when we have been brought out of one danger, he will be ready to bring us out of
another. Indeed, even when we are surrounded and assailed by an infinite number
of deaths, still we shall always escape when we are in the keeping of our God.
Although it was a singular goodness which was shown in the person of David,
still, since he was a type of our Lord Jesus Christ, what is recited of him
extends to all the members of the Church. But what is the reason that God often
withdraws his hand, so that we are tormented and trodden underfoot by our
enemies, and receive great blows with their weapons, and that often it seems we
must perish? It is because we do not give glory to his virtue. On the one hand,
it seems to us that we are able to do everything by our industry and prudence,
and on the other hand, we attempt many things which are not allowed us, and our
spirits are so flighty that we think we ought to lift ourselves above the
clouds. Hence, it is because we undertake frivolous and crooked enterprises, and
whenever we have a good cause, we go about it in a perverse way and do not call
on God, that we are not helped by him. But in following this rule, let us learn
fully to submit ourselves to his will, and yet to walk in such a careful way
that we shall always have our refuge in his goodness.” [= Apa
yang dikatakan tentang Daud tidak diragukan cocok / berlaku untuk semua orang
percaya.
Karena itu, kita harus menyimpulkan dari text ini
bahwa jika kita tidak menghalangi / mencegah Allah menolong kita, bukan hanya Ia
akan menolong kita sekali, tetapi di sana akan ada ketekunan (dalam
pertolonganNya) sedemikian rupa sehingga pada waktu kita telah diselamatkan dari
satu bahaya, Ia akan siap untuk menyelamatkan kita dari bahaya yang lain.
Memang, bahkan pada waktu kita dikelilingi dan diserang dengan ganas oleh
bilangan yang tak terhitung dari kematian, tetap kita akan selalu lolos pada
waktu kita ada dalam penjagaan / pemeliharaan Allah kita. Sekalipun
itu merupakan suatu kebaikan individuil yang ditunjukkan dalam diri Daud, tetap,
karena ia adalah TYPE dari Tuhan kita Yesus Kristus, apa yang digambarkan
tentang dia menjangkau / meluas kepada semua anggota-anggota dari Gereja.
Tetapi apa alasannya sehingga Allah sering menarik
tanganNya, sehingga kita diganggu / disiksa dan diinjak-injak oleh musuh-musuh
kita, dan menerima pukulan-pukulan besar dengan senjata-senjata mereka, dan
bahwa sering kelihatan bahwa kita
harus binasa? Itu adalah karena kita tidak memberikan kemuliaan
pada kebaikanNya.
Pada satu sisi,
kelihatan kepada kita bahwa kita mampu untuk melakukan segala sesuatu oleh
kepandaian / keahlian dan kebijaksanaan kita, dan di sisi yang lain, kita
mengusahakan banyak hal-hal yang tidak diijinkan bagi kita, dan roh /
kecondongan kita adalah begitu bodoh sehingga kita berpikir bahwa kita harus
mengangkat / meninggikan diri kita sendiri di atas awan-awan. Jadi, karena kita
melakukan usaha-usaha yang bodoh dan tidak jujur, dan kapanpun kita mempunyai
perkara / urusan yang baik, kita mengusahakannya dengan suatu cara yang salah /
jahat dan tidak berdoa kepada Allah, sehingga kita tidak ditolong olehNya. Tetapi
dalam mengikuti peraturan ini, marilah kita belajar untuk menundukkan diri kita
sendiri sepenuhnya pada kehendakNya, tetapi berjalan dengan suatu cara
berhati-hati sedemikian rupa sehingga kita akan selalu mendapatkan perlindungan
kita dalam kebaikanNya.]
- ‘Sermons on 2Samuel’, hal 415-416.
Menurut
saya, ini tidak boleh dimutlakkan, karena kalau demikian akan menjadi seperti
Theologia Kemakmuran.
2) Daud mempersembahkan semua barang berharga yang ia dapatkan untuk Tuhan.
Ay 7-12: “(7) Sesudah itu Daud mengangkut perisai-perisai emas yang dipakai oleh anak buah Hadadezer, lalu membawanya ke Yerusalem. (8) Dan dari Betah dan dari Berotai, yaitu kota-kotanya Hadadezer, raja Daud mengangkut amat banyak tembaga. (9) Ketika didengar Tou, raja Hamat, bahwa Daud telah memukul kalah seluruh tentara Hadadezer, (10) maka Tou mengutus Yoram, anaknya, kepada raja Daud untuk menyampaikan salam dan mengucapkan selamat kepadanya, karena ia telah berperang melawan Hadadezer dan memukul dia kalah, sebab Hadadezer sering memerangi Tou. Dan Yoram membawa barang-barang perak, emas dan tembaga. (11) Juga barang-barang ini dikhususkan raja Daud bagi TUHAN, bersama-sama perak dan emas yang berasal dari segala bangsa yang ditaklukkannya, (12) yakni perak dan emas dari orang Aram, dari orang Moab, dari bani Amon, dari orang Filistin, dari orang Amalek, dan dari jarahan yang dirampas dari Hadadezer bin Rehob, raja Zoba.”.
a) Di sini ada dua ayat, yang kalau dibandingkan dengan ayat-ayat paralelnya, kelihatannya bertentangan, dan karena itu harus dijelaskan lebih dulu.
1. Ay 8: “Dan dari Betah dan dari Berotai, yaitu kota-kotanya Hadadezer, raja Daud mengangkut amat banyak tembaga.”.
Bdk. 1Taw 18:8 - “Dan dari Tibhat dan dari Kun, yaitu kota-kotanya Hadadezer, Daud mengangkut amat banyak tembaga; dari padanya Salomo membuat ‘laut’ tembaga, tiang-tiang dan perlengkapan tembaga.”.
Keil
& Delitzsch:
“The name ‘Betach’ is given as
‘Tibhath’ in the Chronicles; and for ‘Berothai’ we have ‘Chun.’ As
the towns themselves are unknown, it cannot be decided with certainty which of
the forms and names are the correct and original ones.” [= Nama ‘Betah’ diberikan sebagai
‘Tibhat’ dalam kitab Tawarikh; dan untuk ‘Berotai’ kita mempunyai
‘Kun’. Karena kota-kota itu sendiri tidak dikenal / diketahui, tidak bisa
diputuskan dengan pasti mana dari bentuk-bentuk dan nama-nama itu yang adalah
bentuk dan nama yang benar dan asli / orisinil.].
Jamieson,
Fausset & Brown (tentang 1Taw 18:8): “‘From
Tibhath, and from Chun.’ These places are called Betah and Berothai, 2 Sam
8:8. Perhaps the one might be the Jewish, the other the Syrian name of these
towns. Neither their situation nor the connection between them is known. The
Arabic version makes them to be Emesa, (now Hems) and Baalbeck, both of which
agree very well with the relative position of Zobah.”
[=
‘Dari Tibhat, dan dari Kun’. Tempat-tempat ini disebut Betah dan Berotai,
2Sam 8:8. Mungkin yang satu adalah nama Yahudi, yang lain nama Syria dari
kota-kota ini. Baik situasi maupun hubungan di antara mereka tidak diketahui.
Versi Arab membuat mereka sebagai Emesa, (sekarang Hems) dan Baalbeck, keduanya
sesuai dengan sangat baik dengan posisi relatif dari Zoba.].
2. Ay 9-10: “(9) Ketika didengar Tou, raja Hamat, bahwa Daud telah memukul kalah seluruh tentara Hadadezer, (10) maka Tou mengutus Yoram, anaknya, kepada raja Daud untuk menyampaikan salam dan mengucapkan selamat kepadanya, karena ia telah berperang melawan Hadadezer dan memukul dia kalah, sebab Hadadezer sering memerangi Tou. Dan Yoram membawa barang-barang perak, emas dan tembaga.”.
1Taw
18:9-10 - “(9)
Ketika didengar Tou, raja Hamat,
bahwa Daud telah memukul kalah seluruh tentara Hadadezer, raja Zoba,
(10) maka ia mengutus Hadoram, anaknya,
kepada raja Daud untuk menyampaikan salam dan mengucapkan selamat kepadanya,
karena ia telah berperang melawan Hadadezer dan memukul dia kalah, sebab
Hadadezer sering memerangi Tou. Dan Hadoram membawa pelbagai barang-barang emas,
perak dan tembaga.”.
Ada
2 perbedaan:
a.
Ay 9: “Tou”.
Alkitab
bahasa Inggris (kecuali NIV) menuliskan ‘Toi’, dan bahasa Ibraninya memang
juga ‘Toi’.
1Taw
18:9,10 - “Tou”.
Alkitab
bahasa Inggris menuliskan ‘Tou’, dan bahasa Ibraninya memang juga ‘Tou’.
b.
Ay 10: “Yoram”.
1Taw
18:10 - “Hadoram”.
Jadi
baik nama rajanya maupun anaknya ada 2. Yang mana yang benar?
Pulpit
Commentary: “Verse
10. - Joram. In 1 Chron 18:10 he is called Hadoram, and this was apparently his
real name, Joram being merely the substitution of the nearest Hebrew word for
something foreign and therefore unintelligible.”
[= Ayat 10. - Yoram. Dalam 1Taw 18:10 ia disebut Hadoram, dan ini kelihatannya
adalah nama aslinya, ‘Yoram’ hanya merupakan pengganti dari kata Ibrani yang
terdekat untuk sesuatu yang asing dan karena itu tidak bisa dimengerti.].
Keil & Delitzsch: “The name Toi is written Tou in the Chronicles, according to a different mode of interpretation; and the name of the son is given as Hadoram in the Chronicles, instead of Joram as in the text before us. The former is evidently the true reading, and Joram an error of the pen, as the Israelitish name Joram is not one that we should expect to find among Aramaeans; whilst Hadoram occurs in 1 Chron 1:21 in the midst of Arabic names, and it cannot be shown that the Hadoram or Adoram mentioned in 2 Chron 10:18 and 1 Kings 12:18 was a man of Israelitish descent.” [= Nama Toi dituliskan Tou dalam kitab Tawarikh, menurut suatu cara penafsiran yang berbeda; dan nama dari anaknya diberikan sebagai Hadoram dalam kitab Tawarikh, alih-alih dari Yoram seperti dalam text di hadapan kita. Yang terdahulu (Hadoram) jelas adalah pembacaan yang benar, dan Yoram merupakan kesalahan penulisan, karena nama Israel Yoram bukanlah sesuatu yang kita harapkan untuk temukan di antara orang-orang Aram; sedangkan Hadoram muncul dalam 1Taw 1:21 di tengah-tengah nama-nama Arab, dan tidak bisa ditunjukkan bahwa Hadoram atau Adoram yang disebutkan dalam 2Taw 10:18 dan 1Raja 12:18 adalah seseorang dari keturunan Israel.].
1Taw 1:21 - “Hadoram”.
2Taw 10:18 - “Hadoram”.
1Raja 12:18 - “Adoram”.
Jadi, 2 penafsir yang terakhir ini menganggap nama-nama itu berbeda karena perbedaan bahasa. Memang, sekalipun nama seseorang tetap sama dalam bahasa apapun, kadang-kadang bahkan dalam Alkitab kita menemukan nama yang diterjemahkan. Contoh:
Kis 9:36a - “Di Yope ada seorang murid perempuan bernama Tabita - dalam bahasa Yunani Dorkas.”.
Wah 9:11 - “Dan raja yang memerintah mereka ialah malaikat jurang maut; namanya dalam bahasa Ibrani ialah Abadon dan dalam bahasa Yunani ialah Apolion.”.
b) Daud mendapatkan barang-barang berharga dari sahabat / teman dan dari musuh-musuh.
1. Dari sahabat / teman, atau raja yang menyerah tanpa perlawanan.
Ay 9-10: “(9) Ketika didengar Tou, raja Hamat, bahwa Daud telah memukul kalah seluruh tentara Hadadezer, (10) maka Tou mengutus Yoram, anaknya, kepada raja Daud untuk menyampaikan salam dan mengucapkan selamat kepadanya, karena ia telah berperang melawan Hadadezer dan memukul dia kalah, sebab Hadadezer sering memerangi Tou. Dan Yoram membawa barang-barang perak, emas dan tembaga.”.
Calvin:
“The
text says that ‘Toi, king of Hammath’, protector of Syria, ‘sent to David
to greet him and to congratulate him on the victory which he had won against
Hadadezer’. This, undoubtedly, is told us to show that God, in everything and
everywhere, showered his favours upon David. We know that God holds the hearts
of men in his hand and bends them as he pleases (Prov. 21:1). When this king
thus declared himself the friend of David, and even ‘gave him presents by the
hand of his son’, there is no doubt that God had arranged this to confirm
David all the more. It is true that King Toi gladly did this ‘because he was
the enemy of Hadadezer’, and rejoiced to see his enemy beaten. But still God
used this means to declare eternally and ever more fully his benediction on his
servant David. ... This is true whether he turns the courage and affection of
men to love us, or turns them bitterly against us, giving us the means to
overcome them.” [= Textnya mengatakan bahwa ‘Toi, raja Hamat’,
pelindung Syria, ‘mengirim utusan kepada Daud untuk memberi salam kepadanya
dan untuk memberikan selamat kepadanya karena kemenangan yang telah ia menangkan
terhadap Hadadezer’. Ini, tak diragukan, diceritakan kepada kita untuk
menunjukkan bahwa Allah, dalam segala sesuatu dan dimana-mana, mencurahkan
kemurahanNya kepada Daud. Kita tahu bahwa Allah menggenggam hati manusia dalam
tanganNya dan mengarahkan mereka seperti yang Ia ingini (Amsal 21:1). Pada waktu raja ini menyatakan
dirinya sendiri sebagai sahabat Daud, dan bahkan ‘memberinya
pemberian-pemberian oleh tangan anaknya’, disana tidak ada keraguan bahwa
Allah telah mengatur ini untuk makin meneguhkan Daud. Adalah benar bahwa Raja
Toi dengan gembira melakukan hal ini ‘karena ia adalah musuh dari
Hadadezer’, dan bersukacita melihat musuhnya dikalahkan. Tetapi tetap Allah
menggunakan cara ini untuk menyatakan secara kekal dan bahkan dengan lebih penuh
berkatNya kepada pelayanNya, Daud. ... Ini adalah
benar apakah Ia membalikkan keberanian dan perasaan dari manusia untuk mengasihi
kita, atau membalikkan mereka secara pahit terhadap / menentang kita, sambil
memberikan kita cara untuk mengalahkan mereka.]
- ‘Sermons on 2Samuel’, hal 417-418.
Contoh-contoh
ayat-ayat lain:
a. Kel 12:36 - “Dan
TUHAN membuat orang Mesir bermurah hati terhadap
bangsa itu, sehingga memenuhi permintaan mereka. Demikianlah mereka
merampasi orang Mesir itu.”.
b. Ezra 1:1
- “Pada
tahun pertama zaman Koresy, raja negeri Persia, TUHAN
menggerakkan hati Koresy, raja Persia itu untuk menggenapkan firman
yang diucapkan oleh Yeremia, sehingga disiarkan di seluruh kerajaan Koresh
secara lisan dan tulisan pengumuman ini:”.
c. Maz 105:25 - “diubahNya hati mereka (orang Mesir) untuk membenci umatNya, untuk memperdayakan hamba-hambaNya.”.
d. Ul 2:30
- “Tetapi
Sihon, raja Hesybon, tidak mau memberi kita berjalan melalui daerahnya, sebab TUHAN,
Allahmu, membuat dia keras kepala dan tegar hati, dengan maksud
menyerahkan dia ke dalam tanganmu, seperti yang terjadi sekarang ini.”.
e. Yos 11:20
- “Karena
TUHAN yang menyebabkan hati orang-orang itu menjadi
keras, sehingga mereka berperang melawan orang Israel, supaya mereka
ditumpas, dan jangan dikasihani, tetapi dipunahkan, seperti yang diperintahkan
TUHAN kepada Musa.”.
f. Hak 9:22-24 - “(22)
Setelah tiga tahun lamanya Abimelekh memerintah atas orang Israel, (23) maka Allah
membangkitkan semangat jahat di antara Abimelekh dan warga kota Sikhem, sehingga
warga kota Sikhem itu menjadi tidak setia kepada Abimelekh, (24)
supaya kekerasan terhadap ketujuh puluh anak Yerubaal dibalaskan dan darah
mereka ditimpakan kepada Abimelekh, saudara mereka yang telah membunuh mereka
dan kepada warga kota Sikhem yang membantu dia membunuh saudara-saudaranya
itu.”.
Bible
Knowledge Commentary (tentang ay 9-12):
“Having
witnessed David’s remarkable military successes, Tou (Heb. TOI)
king of the Aramean city-state of Hamath, decided to capitulate without struggle
and become a vassal of Israel. To symbolize this move he sent his son Joram (or
Hadoram, 1 Chron 18:10) to David laden with precious articles of silver and gold
and bronze. These David added to all the other spoils he had gained in previous
campaigns (2 Sam 8:11-12): Edom (cf. v. 14); Moab (cf. v. 2); Ammonites (cf.
chap. 10); Philistines (cf. 8:1); and Amalek (David’s conquest of Amalek is
not narrated in the OT). All these spoils he dedicated to the service of the
LORD (cf. 1 Kings 7:51).” [= Setelah menyaksikan
sukses-sukses militer yang menyolok dari Daud, Tou (Ibrani TOI) raja dari
negara-kota Hamat, memutuskan untuk menyerah di bawah syarat tertentu tanpa
perlawanan dan menjadi suatu bangsa yang tunduk kepada Israel.
Untuk menyimbolkan permohonan ini ia mengutus anaknya Yoram (atau Hadoram, 1Taw
18:10) kepada Daud dimuati dengan barang-barang berharga dari perak dan emas dan
tembaga. Barang-barang
ini Daud tambahkan pada semua jarahan-jarahan lain yang telah ia dapatkan dalam
rangkaian operasi militer sebelumnya (2Sam 8:11-12): Edom (bdk. ay 14); Moab
(bdk. ay 2); orang-orang Amon (bdk. pasal 10); Filistin (bdk. 8:1); dan Amalek
(penaklukan Amalek oleh Daud tidak diceritakan dalam PL). Semua jarahan-jarahan
ini ia khususkan / dedikasikan pada pelayanan TUHAN (bdk. 1Raja 7:51).].
1Raja
7:51 - “Maka
genaplah segala pekerjaan yang dilakukan Salomo di rumah TUHAN itu. Kemudian
Salomo memasukkan barang-barang kudus Daud, ayahnya, dan menaruh perak, emas dan
barang-barang itu dalam perbendaharaan rumah TUHAN.”.
2. Dari musuh-musuh yang ia taklukkan.
Ay 7-8,12: “(7) Sesudah itu Daud mengangkut perisai-perisai emas yang dipakai oleh anak buah Hadadezer, lalu membawanya ke Yerusalem. (8) Dan dari Betah dan dari Berotai, yaitu kota-kotanya Hadadezer, raja Daud mengangkut amat banyak tembaga. … (12) yakni perak dan emas dari orang Aram, dari orang Moab, dari bani Amon, dari orang Filistin, dari orang Amalek, dan dari jarahan yang dirampas dari Hadadezer bin Rehob, raja Zoba.”.
c) Semua hal-hal / barang-barang berharga itu Daud persembahkan kepada Tuhan.
1. Ay 7: “Sesudah itu Daud mengangkut perisai-perisai emas yang dipakai oleh anak buah Hadadezer, lalu membawanya ke Yerusalem.”.
Keil
& Delitzsch:
“his taking the shields to Jerusalem
implies, rather than precludes, the intention to devote them to the purposes of
the sanctuary.” [=
tindakannya membawa perisai-perisai ke Yerusalem secara implicit menunjukkan,
dan bukannya membuang / mengeluarkan, maksud untuk mempersembahkan mereka pada
tujuan-tujuan dari tempat kudus / Bait Allah.].
2. Ay 8: “Dan dari Betah dan dari Berotai, yaitu kota-kotanya Hadadezer, raja Daud mengangkut amat banyak tembaga.”.
Bahwa tembaga yang banyak itu nantinya digunakan untuk membangun Bait Allah terlihat dari ayat di bawah ini.
1Taw 18:8 - “Dan dari Tibhat dan dari Kun, yaitu kota-kotanya Hadadezer, Daud mengangkut amat banyak tembaga; dari padanya Salomo membuat ‘laut’ tembaga, tiang-tiang dan perlengkapan tembaga.”.
3. Ay 11-12: “(11) Juga barang-barang ini dikhususkan raja Daud bagi TUHAN, bersama-sama perak dan emas yang berasal dari segala bangsa yang ditaklukkannya, (12) yakni perak dan emas dari orang Aram, dari orang Moab, dari bani Amon, dari orang Filistin, dari orang Amalek, dan dari jarahan yang dirampas dari Hadadezer bin Rehob, raja Zoba.”.
Calvin:
“The
booty that David ‘brought to Jerusalem’ is specifically mentioned. Well, if
there were nothing but this word, one would think that he had used all of it for
his own benefit, or to enrich himself in order to triumph. But soon after, it
explains why David took the spoil of his enemies into Jerusalem. It was to
prepare material from which the temple could be built, although it was not to be
done in his time. This is explained when it says that ‘the son of Toi’, the
mortal enemy of Hadadezer, came and ‘brought great gifts to David, of gold, of
silver and of brass’. And there it says ‘David dedicated all of it to the
Lord’, which is the same thing that he had done with the spoil which had come
from the other nations, such as the Moabites, Edomites and their other
neighbours. We see, then, in sum that David made homage of his victories, not
only verbally in preaching the praises of God (and we still have the testimonies
of his preaching today), but also that he backed up his preaching with action,
that is, in gold and silver. He dedicated these things along with his most
precious treasures, and did not keep them for himself. This is very rare among
men: the greater part of them will be driven by ambition and attached to their
own profit. Well, here is David, who is filled with riches. Yet nevertheless, he
was not so given to pompousness that he ever failed to prefer God and give him
the first degree of honour. And although he did not build the temple, yet he
made the first preparations so that Solomon would find everything ready.” [= Jarahan
yang Daud ‘bawa ke Yerusalem’ disebutkan secara spesifik. Seandainya tidak
ada apapun kecuali kata ini, orang akan berpikir bahwa ia telah menggunakan
semuanya untuk keuntungannya sendiri, atau untuk memperkaya dirinya sendiri
untuk mendapatkan kehormatan. Tetapi segera
sesudahnya, dijelaskan mengapa Daud membawa jarahan dari musuh-musuhnya ke
Yerusalem. Itu adalah untuk mempersiapkan material dari mana Bait Allah bisa
dibangun, sekalipun itu tidak dilakukan pada masa hidupnya. Ini
dijelaskan pada waktu dikatakan bahwa ‘anak laki-laki dari Tou / Toi’, musuh
besar dari Hadadezer, datang dan membawa pemberian-pemberian yang besar kepada
Daud, dari emas, dari perak, dan dari kuningan’. Dan di sana dikatakan ‘Daud
mendedikasikan / mempersembahkan semuanya kepada Tuhan’, yang merupakan hal
yang sama dengan yang telah ia lakukan dengan jarahan yang datang dari
bangsa-bangsa lain, seperti Moab, Edom, dan tetangga-tetangga mereka yang lain. Jadi,
kita melihat secara ringkas bahwa Daud membuat penghormatan dari
kemenangan-kemenangannya, bukan hanya dengan kata-kata dalam memberitakan
puji-pujian kepada Allah (dan kita tetap mempunyai kesaksian-kesaksian tentang
pemberitaannya sekarang / hari ini), tetapi
juga bahwa ia mendukung pemberitaannya dengan tindakan, yaitu, dalam emas dan
perak. Ia mendedikasikan /
mempersembahkan hal-hal ini bersama-sama dengan hartanya yang paling berharga,
dan tidak mempertahankan mereka untuk dirinya sendiri. Ini sangat jarang di
antara manusia: bagian yang lebih besar dari mereka akan didorong oleh ambisi
dan menambahkan pada keuntungan mereka sendiri. Di sini adalah Daud, yang
dipenuhi dengan kekayaan. Tetapi ia tidak begitu diserahkan pada kemegahan
sehingga ia pernah gagal untuk memprioritaskan Allah dan memberiNya tingkat
pertama dari kehormatan.
Dan sekalipun ia tidak membangun Bait Allah, tetapi ia membuat
persiapan-persiapan pertama sehingga Salomo akan mendapati segala sesuatu sudah
siap.] - ‘Sermons
on 2Samuel’, hal 411-412.
Calvin:
“here
we have an example of David to follow, who cared for the temple of God more than
for his own life.”
[= di sini kita mempunyai suatu teladan dari Daud untuk diikuti, yang
mempedulikan Bait Allah lebih dari nyawa
/ hidupnya sendiri.]
- ‘Sermons on 2Samuel’, hal 413.
Pulpit Commentary (bagian ‘Homiletics’): “III. THE DEDICATION OF MATERIAL WEALTH TO THE SERVICE OF GOD IS AN EVIDENCE OF GODLY WISDOM. ... There was a strong temptation for David to enrich himself by conquest, and, reasoning as an ordinary man, he could have made out a good case for himself. But he was a man of God; he saw things, as it were, with the eyes of God, and therefore, apart from specific injunction for each case, acted in harmony with the mind of God. It was godly wisdom thus to devote to the service of God what had been acquired by his own strong arm; for very great wealth brings very great spiritual dangers (Matt 19:23,24). ... The possession of great wealth, combined with slender gifts to the cause of Christ, reveals a lack of spiritual perception and of sympathy with the heart and purpose of Christ. The devotion of wealth to Christ is the safest investment, for it brings blessings on the donor and on others through all ages.” [= III. Dedikasi kekayaan material pada pelayanan Allah merupakan suatu bukti dari hikmat yang saleh. ... Di sana ada suatu pencobaan yang kuat bagi Daud untuk memperkaya dirinya sendiri oleh penaklukan, dan dengan berpikir secara logis seperti orang biasa, ia bisa telah membuat suatu kasus yang baik untuk dirinya sendiri. Tetapi ia adalah ‘manusia Allah’ / orang kudus; ia melihat hal-hal, seakan-akan, dengan mata Allah, dan karena itu, terpisah dari perintah khusus untuk setiap kasus, bertindak secara harmonis dengan pikiran Allah. Adalah hikmat yang saleh yang membaktikan bagi pelayanan Allah apa yang telah didapatkan oleh kekuatannya sendiri; karena kekayaan yang sangat besar membawa bahaya-bahaya rohani yang sangat besar (Mat 19:23,24). ... Kepemilikan dari kekayaan yang besar, dikombinasikan dengan pemberian-pemberian yang sedikit pada perkara Kristus, menyatakan suatu kekurangan / ketidak-adaan pengertian rohani dan simpati dengan hati dan tujuan Kristus. Pembaktian kekayaan kepada Kristus adalah investasi yang paling aman, karena itu membawa berkat-berkat kepada si pemberi dan kepada orang-orang lain melalui semua jaman.] - hal 230.
Catatan: kata-kata yang saya garis-bawahi itu hanya dari sudut pandang manusia. Dalam arti sebenarnya tidak ada yang kita peroleh dengan kekuatan dan kepandaian kita sendiri.
Matthew
Henry: “He
dedicated all to the Lord, v. 11,12. This crowned all his victories, and made
them far to out-shine Alexander’s or Caesar’s, that they sought their own
glory, but he aimed at the glory of God.”
[= Ia mendedikasikan semuanya untuk Tuhan, ay 11,12. Ini
memakhkotai semua kemenangannya dan membuat mereka bersinar jauh lebih terang
dari kemenangan-kemenangan Alexander atau Caesar, bahwa mereka mencari kemuliaan
mereka sendiri, tetapi ia (Daud)
mengarah pada kemuliaan Allah.].
d)
Pembangunan Bait Allah dengan menggunakan hal-hal / barang-barang
berharga.
Calvin:
“Furthermore,
we have to note in passing that God is not served by
gold or silver, but that this was how it
was in the time of the Law. And David did not do it without thinking,
or from foolish devotion as do the idolaters, zealously blowing their fanfare.
But David knew that God had commanded by his Law
that the sanctuary be built of gold, silver and precious things, and this was
due to the crudeness of the people (Exod. 26-27).”
[= Selanjutnya, kami harus memberi suatu komentar sambil lalu bahwa Allah
tidak dilayani dengan emas atau perak, tetapi
bahwa seperti itulah adanya pada jaman hukum Taurat. Dan Daud tidak
melakukannya tanpa berpikir, atau dari pembaktian yang bodoh seperti yang
dilakukan oleh para penyembah berhala, yang dengan bersemangat melakukan pameran
mereka. Tetapi Daud tahu bahwa Allah telah
memerintahkan oleh hukum TauratNya bahwa Kemah Suci dibangun dengan emas, perak
dan benda-benda berharga, dan ini disebabkan oleh kebodohan / ketidak-matangan
dari bangsa itu (Kel 26-27).]
- ‘Sermons on 2Samuel’, hal 412.
Tetapi bagaimana dengan jaman sekarang / jaman Perjanjian Baru? Apakah kita tetap harus membangun rumah Allah / gereja-gereja secara mewah, seperti dalam jaman Perjanjian Lama? Perhatikan kata-kata Calvin di bawah ini.
Calvin:
“Today,
everything is changed, not in regard to the purpose of God, which is immutable,
but in regard to men. For we differ from the ancient people, as men who are come
of age differ from little children. We no longer have the rudiments which were
for that time, so as to want to set up a worship of God through vessels of gold
and silver and brass and similar things. That would be nothing but a silly
performance now, which would obscure the spiritual worship spoken of in the
fourth chapter of St. John. For there our Lord Jesus Christ declares to us how
we must no longer govern ourselves by the Law. ‘The time’, he says, ‘has
come, when God will no longer be worshipped either in Gerizim or in Zion, for
the faithful will worship God in spirit and in truth’ (John 4:21-23). Now it
is certain that the ancients clearly knew that God did not delight in these
external things, but yet they had them because of the infirmity of the times.
But today (as I have shown) those who would like to worship God pompously in
this manner confuse everything - so it serves, in effect, to efface the memory
of our Lord Jesus Christ. Thus, the ornaments of the papacy are just so many
veils to keep our Lord Jesus Christ from being known. These ornaments are so
many sepulchres to bury him, for the papists have so many flatteries and follies
and false coverings that they actually remove the pure knowledge of the truth,
which is how we ought to apprehend him. Yet there is no more veil in the Gospel
(2 Cor. 3:12-18), but instead we ought to contemplate God in the Gospel in the
person of our Lord Jesus Christ, face to face, in order to be transfigured into
his glory and so to profit more and more until we reach our perfection. Be that
as it may, here we have the example of David to follow, who cared for the temple
of God more than for his own life.” [= Pada
hari ini / jaman sekarang, segala sesuatu berubah, bukan berkenaan dengan
rencana Allah, yang tidak bisa berubah, tetapi berkenaan dengan manusia. Karena
kita berbeda dari orang-orang kuno, seperti orang yang telah dewasa berbeda dari
anak-anak kecil. Kita tidak lagi
mempunyai hal-hal dasar yang ada pada waktu itu, sehingga ingin mendirikan suatu
penyembahan kepada Allah melalui alat-alat / perkakas-perkakas dari emas dan
perak dan kuningan dan hal-hal / benda-benda yang serupa. Itu bukan lain dari
suatu tindakan bodoh pada jaman sekarang, yang akan mengaburkan penyembahan rohani
yang dibicarakan dalam Yohanes pasal 4.
Karena di sana Tuhan Yesus Kristus menyatakan kepada kita bagaimana kita tidak
boleh lagi memerintah diri kita sendiri oleh hukum Taurat. ‘Saatnya’, kataNya,
‘telah tiba, pada waktu Allah tidak lagi akan disembah atau di Gerizim atau di
Sion, karena orang-orang percaya / setia akan menyembah Allah dalam roh dan
dalam kebenaran’ (Yoh 4:21-23). Adalah pasti bahwa
orang-orang kuno tahu dengan jelas bahwa Allah tidak senang dalam hal-hal
lahiriah ini, tetapi mereka mempunyai hal-hal itu karena kelemahan dari jaman
itu. Tetapi sekarang (seperti telah saya
tunjukkan) mereka yang ingin menyembah Allah dengan kemegahan yang berlebihan
dengan cara ini mengacaukan segala sesuatu - sehingga itu menyebabkan, pada
dasarnya, penghapusan ingatan tentang Tuhan kita Yesus Kristus. Maka,
hiasan-hiasan dari kepausan adalah persis seperti begitu banyak
selubung-selubung yang mencegah Tuhan kita Yesus Kristus untuk dikenal.
Hiasan-hiasan ini merupakan begitu banyak kuburan-kuburan untuk mengubur Dia,
karena para pengikut Paus mempunyai begitu banyak umpakan-umpakan / puji-pujian
yang tidak tulus dan kebodohan-kebodohan dan penutup-penutup palsu sehingga
mereka sungguh-sungguh menyingkirkan pengetahuan / pengenalan yang benar tentang
kebenaran, yang adalah bagaimana kita harus mengerti Dia. Tetapi di sana
tidak ada lagi selubung dalam Injil (2Kor 3:12-18), tetapi alih-alih kita harus
merenungkan Allah dalam Injil dalam Pribadi dari Tuhan kita Yesus Kristus, muka
dengan muka, untuk diubahkan kepada kemuliaanNya dan dengan demikian makin lama
makin mendapatkan keuntungan sampai kita mencapai kesempurnaan kita. Sekalipun
demikian, di sini kita mempunyai teladan dari Daud untuk diikuti, yang mempunyai
kepedulian untuk Bait Allah lebih dari untuk hidup / jiwanya sendiri.]
- ‘Sermons on 2Samuel’, hal 412-413.
Yoh 4:21-23
- “(21)
Kata Yesus kepadanya: ‘Percayalah kepadaKu, hai perempuan, saatnya akan tiba,
bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem.
(22) Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami
kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi. (23) Tetapi
saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar
akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki
penyembah-penyembah demikian.”.
2Kor
3:12-18 - “(12)
Karena
kami mempunyai pengharapan yang demikian, maka kami bertindak dengan penuh
keberanian, (13) tidak seperti Musa, yang menyelubungi mukanya, supaya mata
orang-orang Israel jangan melihat hilangnya cahaya yang sementara itu. (14)
Tetapi pikiran mereka telah menjadi tumpul, sebab sampai pada hari ini
selubung itu masih tetap menyelubungi mereka, jika mereka membaca perjanjian
lama itu tanpa disingkapkan, karena hanya Kristus saja yang dapat
menyingkapkannya. (15) Bahkan sampai pada hari ini, setiap kali mereka membaca
kitab Musa, ada selubung yang menutupi hati mereka. (16) Tetapi apabila hati
seorang berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu diambil dari padanya. (17)
Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan.
(18) Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak
berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh,
maka kita diubah menjadi serupa dengan gambarNya, dalam kemuliaan yang semakin
besar.”.
Kita tidak perlu menyoroti Gereja Roma Katolik, karena pada jaman sekarang gereja-gereja Protestan, dan khususnya gereja-gereja Kharismatik, banyak yang dibangun secara luar biasa mewah, seakan-akan mereka membangun istana! Dan mereka bangga akan hal itu! Tetapi bagi Calvin itu semua merupakan suatu kebodohan, karena itu semua mengaburkan Kristus! Memang, semua kemewahan itu sangat mungkin juga menyebabkan pendeta gereja itu, dan bukannya Kristus, yang dimuliakan! Juga, gedung gerejanya dibuat megah, tetapi pemberitaan firman dan injil, makin lama makin tidak ada isinya, kalau bukannya makin sesat dan makin bodoh.
Matthew
Henry: “Thus
David by his conquests, (1.) Secured peace to his son, that he might have time
to build the temple. And, (2.) Procured wealth for his son, that he might have
wherewith to build it. God employs his servants variously, some in one
employment, others in another, some in the spiritual battles, others in the
spiritual buildings; and one prepares work for the other, that God may have the
glory of all.”
[= Jadi, Daud dengan penaklukan-penaklukannya, (1.) Memastikan damai bagi
anaknya, sehingga ia bisa mempunyai waktu untuk membangun Bait Allah. Dan, (2.)
Mendapatkan kekayaan bagi anaknya, sehingga ia bisa membangunnya dengan itu.
Allah menggunakan pelayan-pelayanNya dengan cara yang bermacam-macam, sebagian
dalam satu pekerjaan, yang lain dalam pekerjaan yang lain, sebagian dalam
pertempuran-pertempuran rohani, yang lain dalam pembangunan-pembangunan rohani;
dan yang satu mempersiapkan pekerjaan untuk yang lain, supaya Allah bisa
mendapatkan kemuliaan dari semua itu.].
Jadi bisa kita lihat bahwa hal terutama yang Daud pikirkan sebetulnya bukan anaknya (Salomo), tetapi Bait Allah / Tuhan sendiri. Bagaimana dengan saudara?
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali