Kebaktian

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

 

Minggu, tgl 18 Mei 2014, pk 17.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

[email protected]

 

II Samuel 7:1-29(5)

 

2Sam 7:12-17 - “(12) Apabila umurmu sudah genap dan engkau telah mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangmu, maka Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian, anak kandungmu, dan Aku akan mengokohkan kerajaannya. (13) Dialah yang akan mendirikan rumah bagi namaKu dan Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya untuk selama-lamanya. (14) Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anakKu. Apabila ia melakukan kesalahan, maka Aku akan menghukum dia dengan rotan yang dipakai orang dan dengan pukulan yang diberikan anak-anak manusia. (15) Tetapi kasih setiaKu tidak akan hilang dari padanya, seperti yang Kuhilangkan dari pada Saul, yang telah Kujauhkan dari hadapanmu. (16) Keluarga dan kerajaanmu akan kokoh untuk selama-lamanya di hadapanKu, takhtamu akan kokoh untuk selama-lamanya.’ (17) Tepat seperti perkataan ini dan tepat seperti penglihatan ini Natan berbicara kepada Daud.”.

 

5.   Ay 15: “Tetapi kasih setiaKu tidak akan hilang dari padanya, seperti yang Kuhilangkan dari pada Saul, yang telah Kujauhkan dari hadapanmu.”.

Kata-kata ‘kasih setiaKu’ diterjemahkan berbeda-beda:

KJV: ‘my mercy’ (= belas kasihanKu).

RSV: ‘my steadfast love’ (= kasih setiaKu).

NIV: ‘my love’ (= kasihKu).

NASB: ‘My lovingkindness’ (= kebaikan dari kasihKu).

 

Dalam tafsirannya tentang bagian ini Adam Clarke berkata: “he shall have affliction, but his government shall not be utterly subverted. But this has a higher meaning. ... His house shall be a lasting house, and he shall die in the throne of Israel, his children succeeding him; and the spiritual seed, Christ, possessing and ruling in that throne to the end of time. The family of Saul became totally extinct; the family of David remained till the incarnation” (= ia akan mendapatkan penderitaan, tetapi pemerintahannya tidak akan ditumbangkan sepenuhnya. Tetapi bagian ini mempunyai arti yang lebih tinggi. ... Keluarganya akan ada selama-lamanya, dan ia akan mati di takhta Israel, keturunannya menggantikannya; dan benih / keturunan rohani, Kristus, memiliki dan memerintah di takhta itu sampai akhir jaman. Keluarga Saul punah secara total; keluarga Daud tetap ada sampai inkarnasi) - hal 325.

 

Adam Clarke menambahkan lagi: “Many have applied these verses and their parallels to support the doctrine of unconditional final perseverance; but with it the text has nothing to do; and were we to press it, because of the antitype, Solomon, the doctrine would most evidently be ruined, for there is neither proof nor evidence of Solomon’s salvation” (= Banyak orang yang menerapkan ayat-ayat ini dan ayat-ayat paralelnya untuk mendukung doktrin dari ketekunan akhir yang tak bersyarat; tetapi text itu tidak mempunyai hubungan dengan doktrin itu; dan seandainya kita mau memaksakannya, karena anti typenya, Salomo, doktrin ini justru akan hancur, karena tidak ada bukti dari keselamatan Salomo) - hal  325.

Catatan:

·         saya tak mengerti mengapa Salomo disebut sebagai anti-Type.

·         Adam Clarke memang menganggap Salomo murtad total dan binasa, tetapi saya tak setuju dengan dia. Adalah aneh untuk mengatakan bahwa Tuhan tidak menjauhkan kasih / kasih setiaNya dari Salomo, tetapi Salomo masuk neraka.

 

Keil & Delitzsch: “It is very obvious, from all the separate details of this promise, that it related primarily to Solomon, and had a certain fulfilment in him and his reign. ... But in his old age Solomon sinned against the Lord by falling into idolatry; and as a punishment for this, after his death his kingdom was rent from his son, not indeed entirely, as one portion was still preserved to the family for David’s sake (1Kings 11:9 sqq.). Thus the Lord punished him with rods of men, but did not withdraw from him His grace [= Adalah sangat jelas, dari semua detail-detail yang terpisah dari janji ini, bahwa itu pertama-tama berhubungan dengan Salomo, dan mempunyai penggenapan tertentu dalam dia dan pemerintahannya. ... Tetapi pada masa tuanya Salomo berdosa terhadap Tuhan dengan jatuh ke dalam penyembahan berhala; dan sebagai hukuman untuk ini, setelah kematiannya kerajaannya disobek dari anaknya, memang tidak seluruhnya, karena satu bagian masih ada pada keluarga tersebut demi Daud (1Raja 11:9-dst). Demikianlah Tuhan menghukumnya dengan rotan dari manusia, tetapi tidak menarik kasih karuniaNya darinya] - hal 346.

 

Kelihatannya Keil & Delitzsch ini menganggap bahwa kata-kata ‘kasih setiaKu tidak akan hilang dari padanya’ hanya menunjuk pada fakta bahwa Salomo tetap menjadi raja sampai mati, dan demikian juga dengan keturunannya sampai jaman Yesus berinkarnasi. Tetapi saya berpendapat bahwa kata-kata itu tidak mungkin hanya mempunyai arti jasmani / duniawi saja.

 

Bdk. 1Taw 17:11-15 - “(11) Apabila umurmu sudah genap untuk pergi mengikuti nenek moyangmu, maka Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian, salah seorang anakmu sendiri, dan Aku akan mengokohkan kerajaannya. (12) Dialah yang akan mendirikan rumah bagiKu dan Aku akan mengokohkan takhtanya untuk selama-lamanya. (13) Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anakKu. Tetapi kasih setiaKu tidak akan Kuhilangkan dari padanya seperti yang Kuhilangkan dari pada orang yang mendahului engkau. (14) Dan Aku akan menegakkan dia dalam rumahKu dan dalam kerajaanKu untuk selama-lamanya dan takhtanya akan kokoh untuk selama-lamanya.’ (15) Tepat seperti perkataan ini dan tepat seperti penglihatan ini Natan berbicara kepada Daud.”.

 

Jamieson, Fausset & Brown (tentang 1Taw 17:13): “‘I will not take my mercy away from him, as I took it.’ My procedure in dealing with him will be different from my disposal of Saul. Should his misconduct call for personal chastisement, I shall spare his family. If I see it necessary to withdraw my favour and help for a time, it will be a corrective discipline, only to reform and restore, not to destroy. On this passage some have founded an argument for Solomon’s repentance and return to God (= ‘Aku tidak akan mengambil belas kasihanKu dari dia, seperti Aku mengambilnya ...’. CaraKu dalam menanganinya akan berbeda dengan pembuanganKu terhadap Saul. Jika perbuatan jahatnya memerlukan hajaran pribadi, Aku akan menyelamatkan keluarganya. Jika Aku menganggap perlu untuk menarik kebaikan dan pertolonganKu untuk sementara waktu, itu akan merupakan suatu disiplin yang bersifat memperbaiki, hanya untuk mereformasi dan memulihkan, bukan untuk menghancurkan. Berdasarkan text ini beberapa orang telah menemukan suatu argumentasi untuk pertobatan dan kembalinya Salomo kepada Allah).

 

Matthew Henry (tentang 2Sam 7:15): “The revolt of the ten tribes from the house of David was their correction for iniquity, but the constant adherence of the other two to that family, which was a competent support of the royal dignity, perpetuated the mercy of God to the seed of David, according to this promise; though that family was cut short, yet it was not cut off, as the house of Saul was. Never any other family swayed the sceptre of Judah than that of David. This is that covenant of royalty celebrated (Ps 89:3, &c.) as typical of the covenant of redemption and grace [= Pemberontakan dari 10 suku dari keluarga Daud merupakan koreksi untuk kesalahan mereka, tetapi kesetiaan yang konstan dari 2 suku yang lain pada keluarga itu, yang merupakan dukungan yang cukup dari kewibawaan kerajaan, mengabadikan belas kasihan Allah kepada benih / keturunan Daud, sesuai dengan janji ini; sekalipun keluarga itu dipotong pendek tetapi tidak dipunahkan seperti keluarga Saul. Tidak ada keluarga lain memegang tongkat kerajaan Yehuda selain keluarga Daud. Ini adalah perjanjian kerajaan yang dirayakan / diproklamirkan (Maz 89:4-dst) sebagai suatu type dari perjanjian penebusan dan kasih karunia].

 

Komentar Matthew Henry dan Calvin di bawah ini sudah ada dalam pelajaran yang lalu, tetapi saya ulang di sini.

 

Matthew Henry (tentang 2Sam 7:15): “The supposition of committing iniquity cannot indeed be applied to the Messiah himself, but it is applicable (and very comfortable) to his spiritual seed. True believers have their infirmities, for which they may expect to be corrected, but they shall not be cast off. Every transgression in the covenant will not throw us out of covenant [= Pengandaian tentang melakukan kesalahan memang tidak bisa diterapkan kepada sang Mesias sendiri, tetapi itu bisa diterapkan (dan sangat memuaskan / tak diragukan) bagi benih / keturunan rohaninya. Orang-orang percaya yang sejati mempunyai kelemahan-kelemahan mereka, untuk mana mereka bisa berharap untuk dikoreksi, tetapi mereka tidak akan dibuang. Setiap pelanggaran dalam perjanjian tidak akan melemparkan kita keluar dari perjanjian].

 

Calvin: “even after God has claimed us as his children, still we do not fail to be subject to many vices, so that we offend him every day; and hence the covenant which God made with us would be broken from moring to evening, and every minute, unless we rested on his goodness. Therefore, God certainly had to add this grace that ‘he would not remove his mercy’ from us, although we are poor sinners.” (= bahkan setelah Allah telah mengclaim kita sebagai anak-anakNya, tetap kita tidak gagal untuk tunduk pada banyak kejahatan, sehingga kita menyakiti Dia setiap hari; dan karena itu perjanjian yang Allah buat dengan kita akan dihancurkan dari pagi sampai malam, dan setiap menit, kecuali kita bersandar pada kebaikanNya. Karena itu, Allah pasti harus menambahkan kasih karunia ini sehingga ‘Ia tidak akan menyingkirkan belas kasihanNya’ dari kita, sekalipun kita adalah orang-orang berdosa yang malang.) - ‘Sermons on 2 Samuel’, hal 334.

 

Calvin: “For even if he has adopted us a hundred times, still we deserve being cut off and banished from his house and totally disowned by him. Hence, without the remission of our sins, all that the Scripture says will be useless to us. Thus, the perseverance and firmness of the adoption by which he has received us consists in his upholding us so that our sins do not come into account before him.” (= Karena sekalipun Ia telah mengadopsi kita seratus kali, tetap kita layak untuk dipotong dan dibuang dari rumahNya dan secara total tidak diakui olehNya. Karena itu, tanpa pengampunan dari dosa-dosa kita, semua yang Kitab Suci katakan akan menjadi tak berguna / sia-sia bagi kita. Jadi, ketekunan dan keteguhan dari dari pengadopsian dengan mana Ia telah menerima kita terdiri dari topanganNya terhadap kita sehingga dosa-dosa kita tidak diperhitungkan di hadapanNya.) - ‘Sermons on 2 Samuel’, hal 334.

 

Calvin: “Well, that is not to say that when God pardons our sins, he does not chastise us to keep us always in line. ... Hence, we must have these two sentences joined together; that is, that God will never fail to be gracious to us while we are poor sinners, and yet that he will chastise us with stripes.” (= Itu tidak berarti bahwa pada waktu Allah mengampuni dosa-dosa kita, Ia tidak menghajar kita untuk menjaga kita selalu dalam garis yang lurus. ... Jadi, kita harus menjaga suapay kedua kalimat ini digabungkan bersama-sama; yaitu, bahwa Allah tidak akan pernah gagal untuk bermurah hati kepada kita sementara kita adalah orang-orang berdosa yang malang, tetapi bahwa Ia akan menghajar kita dengan pukulan-pukulan.) - ‘Sermons on 2 Samuel’, hal 334.

 

Bdk. Ibr 12:5-11 - “(5) Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: ‘Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkanNya; (6) karena Tuhan menghajar orang yang dikasihiNya, dan Ia menyesah orang yang diakuiNya sebagai anak.’ (7) Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? (8) Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang (tidak sah). (9) Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup? (10) Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusanNya. (11) Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.”.

 

Beberapa hal penting tentang hajaran:

a.   Orang yang tidak percaya bisa dihukum, dan kelihatannya tak berbeda dengan orang percaya yang dihajar. Tetapi sebetulnya sikap / tujuan Allah kepada kedua kelompok ini sangat berbeda.

b.   Orang-orang yang berdosa, apalagi secara sengaja dan dengan sikap tegar tengkuk, tetapi tidak mendapatkan hajaran, mungkin sekali adalah orang-orang yang tidak percaya / bukan anak-anak Allah!

 

6.   Ay 16: “Keluarga dan kerajaanmu akan kokoh untuk selama-lamanya di hadapanKu, takhtamu akan kokoh untuk selama-lamanya.’”.

 

Kelihatannya ada pro kontra tentang siapa janji / nubuat ini berlaku. Ada yang mengatakan hanya tentang Kristus, dan ada yang mengatakan tentang Salomo (sebagian) dan tentang Kristus (sepenuhnya).

 

Jamieson, Fausset & Brown: That it included David’s descendants, who by ordinary generation were to succeed him on the throne of Israel, is evident from David’s application of it to his son Solomon, in whom the temporal part of it had a partial accomplishment (1 Chron 22:6-11; 28:5-8). The Lord himself also applies it to Solomon, when He appeared in vision (2 Chron 8:7-18). [= Bahwa itu mencakup keturunan Daud, yang oleh keturunan biasa akan menggantikan dia di takhta Israel, adalah jelas dari penerapan Daud tentangnya kepada anaknya Salomo, dalam siapa bagian sementara darinya mempunyai suatu penggenapan sebagian (1Taw 22:6-11; 28:5-8). Tuhan sendiri juga menerapkannya kepada Salomo, pada waktu Ia menampakkan diri dalam penglihatan (2Taw 8:7-18).].

1Taw 22:6-11 - “(6) Kemudian dipanggilnya Salomo, anaknya, dan diberinya perintah kepadanya untuk mendirikan rumah bagi TUHAN, Allah Israel, (7) kata Daud kepada Salomo: ‘Anakku, aku sendiri bermaksud hendak mendirikan rumah bagi nama TUHAN, Allahku, (8) tetapi firman TUHAN datang kepadaku, demikian: Telah kautumpahkan sangat banyak darah dan telah kaulakukan peperangan yang besar; engkau tidak akan mendirikan rumah bagi namaKu, sebab sudah banyak darah kautumpahkan ke tanah di hadapanKu. (9) Sesungguhnya, seorang anak laki-laki akan lahir bagimu; ia akan menjadi seorang yang dikaruniai keamanan. Aku akan mengaruniakan keamanan kepadanya dari segala musuhnya di sekeliling. Ia akan bernama Salomo; sejahtera dan sentosa akan Kuberikan atas Israel pada zamannya. (10) Dialah yang akan mendirikan rumah bagi namaKu dan dialah yang akan menjadi anakKu dan Aku akan menjadi Bapanya; Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya atas Israel sampai selama-lamanya. (11) Maka sekarang, hai anakku, TUHAN kiranya menyertai engkau, sehingga engkau berhasil mendirikan rumah TUHAN, Allahmu, seperti yang difirmankanNya mengenai engkau.”.

1Taw 28:5-8 - “(5) Dan dari antara anak-anakku sekalian - sebab banyak anak telah dikaruniakan TUHAN kepadaku - Ia telah memilih anakku Salomo untuk duduk di atas takhta pemerintahan TUHAN atas Israel. (6) Ia telah berfirman kepadaku: Salomo, anakmu, dialah yang akan mendirikan rumahKu dan pelataranKu sebab Aku telah memilih dia menjadi anakKu dan Aku akan menjadi bapanya. (7) Dan Aku akan mengokohkan kerajaannya sampai selama-lamanya, jika ia bertekun melakukan segala perintah dan peraturanKu seperti sekarang ini. (8) Maka sekarang, di depan mata seluruh Israel, jemaah TUHAN, dan dengan didengar Allah kita, aku berkata kepadamu: Peliharalah dan tuntutlah segala perintah TUHAN, Allahmu, supaya kamu tetap menduduki negeri yang baik ini dan mewariskannya sampai selama-lamanya kepada anak-anakmu yang kemudian.”.

Catatan: 2Taw 8:7-18 sama sekali tidak cocok, mungkin yang dimaksudkan oleh Jamieson, Fausset & Brown adalah 2Taw 7:7-18.

2Taw 7:7-18 - “(7) Lalu Salomo menguduskan pertengahan pelataran yang di depan rumah TUHAN, sebab di situlah diolahnya segala korban bakaran dan lemak korban keselamatan, sebab mezbah tembaga yang dibuat Salomo tidak dapat memuat korban bakaran dan korban sajian dan segala lemak korban. (8) Dan pada waktu itu juga Salomo mengadakan perayaan Pondok Daun selama tujuh hari, bersama-sama dengan seluruh Israel, suatu jemaah yang amat besar, dari jalan masuk ke Hamat sampai ke sungai Mesir. (9) Pada hari yang kedelapan mereka mengadakan perkumpulan raya, karena mereka telah merayakan pentahbisan mezbah selama tujuh hari, dan perayaan Pondok Daun selama tujuh hari. (10) Pada hari yang kedua puluh tiga, bulan ketujuh, disuruhnya bangsa itu pulang ke kemah-kemah mereka sambil bersukacita dan bergembira atas kebaikan yang telah dilakukan TUHAN kepada Daud, kepada Salomo, dan kepada orang Israel, umatNya. (11) Demikianlah Salomo menyelesaikan rumah TUHAN dan istana raja, dan berhasil melaksanakan dalam rumah TUHAN dan dalam istananya segala sesuatu yang timbul dalam hatinya. (12) Kemudian TUHAN menampakkan diri kepada Salomo pada malam hari dan berfirman kepadanya: ‘Telah Kudengar doamu dan telah Kupilih tempat ini bagiKu sebagai rumah persembahan. (13) Bilamana Aku menutup langit, sehingga tidak ada hujan, dan bilamana Aku menyuruh belalang memakan habis hasil bumi, dan bilamana Aku melepaskan penyakit sampar di antara umatKu, (14) dan umatKu, yang atasnya namaKu disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajahKu, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka. (15) Sekarang mataKu terbuka dan telingaKu menaruh perhatian kepada doa dari tempat ini. (16) Sekarang telah Kupilih dan Kukuduskan rumah ini, supaya namaKu tinggal di situ untuk selama-lamanya, maka mataKu dan hatiKu akan ada di situ sepanjang masa. (17) Mengenai engkau, jika engkau hidup di hadapanKu sama seperti Daud, ayahmu, dan berbuat sesuai dengan segala yang Kuperintahkan kepadamu, dan jika engkau tetap mengikuti segala ketetapan dan peraturanKu, (18) maka Aku akan meneguhkan takhta kerajaanmu sesuai dengan perjanjian yang telah Kuikat dengan Daud, ayahmu, dengan berkata: Takkan terputus keturunanmu yang memerintah atas Israel. (19) Tetapi jika kamu ini berbalik dan meninggalkan segala ketetapan dan perintahKu yang telah Kuberikan kepadamu, dan pergi beribadah kepada allah lain dan sujud menyembah kepadanya, (20) maka Aku akan mencabut kamu dari tanahKu yang telah Kuberikan kepadamu, dan rumah ini yang telah Kukuduskan bagi namaKu, akan Kubuang dari hadapanKu, dan akan Kujadikan kiasan dan sindiran di antara segala bangsa.”.

 

Jamieson, Fausset & Brown: But how, then, was the promise made good, that David’s seed should sit on his throne for ever? The spiritual and eternal part of the promise pointed to the Messiah, who was to come of the seed of David according to the flesh, and to be raised up from the dead to sit for ever on His heavenly throne. The promise as it respected the Messiah was absolute, and in Him had its full accomplishment (= Tetapi lalu bagaimana janji ini tercapai bahwa keturunan Daud duduk di takhtanya selama-lamanya? Bagian rohani dan kekal dari janji ini menunjuk kepada sang Mesias, yang akan datang dari keturunan Daud menurut daging, dan akan dibangkitkan dari orang mati untuk duduk selama-lamanya di takhta surgawiNya. Janji ini berkenaan dengan sang Mesias adalah mutlak, dan dalam Dia mendapatkan penggenapan sepenuhnya).

 

Bible Knowledge Commentary: These verses, then, are a good example of an Old Testament passage in which some elements find fulfillment in the immediate future (Solomon and other strictly human descendants of David), while other elements will be realized only in the more distant future (Jesus Christ, the Son of David; cf. Luke 1:31-33). [= Jadi, ayat-ayat ini adalah suatu contoh yang baik ttg suatu text Perjanjian Lama dalam mana beberapa elemen mendapatkan penggenapan dalam masa depan yang dekat (Salomo dan keturunan manusia secara ketat dari Daud), sedangkan elemen-elemen yang lain akan direalisasikan hanya dalam masa depan yang lebih jauh (Yesus Kristus, Anak Daud; bdk. Luk 1:31-33).].

 

Matthew Henry: Others of them relate to Christ, who is often called David and the Son of David, that Son of David to whom these promises pointed and in whom they had their full accomplishment. He was of the seed of David, Acts 13:23. To him God gave the throne of his father David (Luke 1:32), all power both in heaven and earth, and authority to execute judgment. He was to build the gospel temple, a house for God’s name, Zech 6:12,13. That promise, I will be his Father, and he shall be my Son, is expressly applied to Christ by the apostle, Heb 1:5. But the establishing of his house, and his throne, and his kingdom, for ever (v. 13, and again, and a third time v. 16. for ever), can be applied to no other than Christ and his kingdom. David’s house and kingdom have long since come to an end; it is only the Messiah’s kingdom that is everlasting, and of the increase of his government and peace there shall be no end. [= Bagian-bagian lain dari janji itu berhubungan dengan Kristus, yang sering disebut Daud dan Anak Daud, Anak Daud itu kepada siapa janji-janji ini menunjuk dan dalam siapa janji-janji ini mendapatkan penggenapan mereka sepenuhnya. Ia adalah dari keturunan Daud, Kis 13:23. KepadaNya Allah memberikan takhta dari bapa / nenek moyangNya Daud (Luk 1:32), semua kuasa di surga dan di bumi, dan otoritas untuk melaksanakan penghakiman. Ia akan membangun Bait injil, suatu rumah bagi nama Allah, Zakh 6:12,13. Janji itu, Aku akan menjadi BapaNya, dan Ia akan menjadi AnakKu, secara explicit / jelas diterapkan kepada Kristus oleh sang rasul, Ibr 1:5. Tetapi penegakan dari keluarganya, dan takhtanya, dan kerajaannya, untuk selama-lamanya (ay 13, dan lagi, dan ketiga-kalinya ay 16 untuk selama-lamanya), tidak bisa diterapkan kepada siapapun yang lain selain Kristus dan kerajaanNya. Keluarga dan kerajaan Daud telah lama berakhir; hanyalah kerajaan sang Mesias yang kekal, dan tentang pertambahan dari pemerintahan dan damaiNya di sana tidak akan ada akhirnya.].

 

Calvin: “this passage cannot be understood of Solomon, nor of all those who succeeded David as far as the temporal kingdom is concerned. ... And that is why this king, who was given as a type of our Lord Jesus Christ, had to be ruined, so that he finally fell away very shamefully, so that indeed not a trace would remain of him. That (I say) was necessary. ... Since men cannot aspire to the heavenly kingdom of God, it was necessary for the type of the kingdom of our Lord Jesus Christ to be removed, in order to draw upwards those whose hearts are here below.” [= text ini tidak bisa dimengerti tentang Salomo, ataupun tentang semua yang menggantikan Daud sejauh kerajaan sementara yang dipersoalkan. ... Dan itu sebabnya mengapa raja ini, yang diberikan sebagai type dari Tuhan kita Yesus Kristus, harus dihancurkan, sehingga akhirnya ia murtad / jatuh dengan sangat memalukan, sehingga tak ada suatu jejakpun tertinggal darinya. Itu (saya katakan) adalah perlu. ... Karena manusia tak bisa melihat / naik kepada kerajaan surgawi dari Allah, adalah perlu bagi type dari kerajaan dari Tuhan kita Yesus Kristus untuk disingkirkan, untuk menarik ke atas mereka yang hatinya ada di sini di bawah.] - ‘Sermons on 2 Samuel’, hal 339-340.

 

IV) Natan menyampaikan Firman Tuhan itu kepada Daud dengan tepat.

 

Ay 17: “Tepat seperti perkataan ini dan tepat seperti penglihatan ini Natan berbicara kepada Daud.”.

 

Matthew Henry: This message Nathan faithfully delivered to David (v. 17); though, in forbidding him to build the temple, he contradicted his own words, yet he was not backward to do it when he was better informed concerning the mind of God [= Pesan ini Natan sampaikan dengan setia kepada Daud (ay 17); sekalipun, dalam melarangnya membangun Bait Allah, ia menentang kata-katanya sendiri, tetapi ia tidak ragu-ragu melakukannya pada waktu ia diberi informasi yang lebih baik berkenaan dengan pikiran Allah].

Penerapan: seorang pengajar firman, kalau tahu bahwa ia telah melakukan pemberitaan yang salah, harus cukup punya kerendahan hati untuk meralatnya. Kalau seorang pemberita firman tahu ia salah dan tak mau meralatnya, berarti ia secara sengaja memberitakan ketidakbenaran!

 

 

 

 

 

-bersambung-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali