Kebaktian

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

Minggu, tgl 22 Januari 2012, pk 17.00

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

II Samuel 6:1-23(4)

2Sam 6:14-20 - “(14) Dan Daud menari-nari di hadapan TUHAN dengan sekuat tenaga; ia berbaju efod dari kain lenan. (15) Daud dan seluruh orang Israel mengangkut tabut TUHAN itu dengan diiringi sorak dan bunyi sangkakala. (16) Ketika tabut TUHAN itu masuk ke kota Daud, maka Mikhal, anak perempuan Saul, menjenguk dari jendela, lalu melihat raja Daud meloncat-loncat serta menari-nari di hadapan TUHAN. Sebab itu ia memandang rendah Daud dalam hatinya. (17) Tabut TUHAN itu dibawa masuk, lalu diletakkan di tempatnya, di dalam kemah yang dibentangkan Daud untuk itu, kemudian Daud mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan di hadapan TUHAN. (18) Setelah Daud selesai mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan, diberkatinyalah bangsa itu demi nama TUHAN semesta alam. (19) Lalu dibagikannya kepada seluruh bangsa itu, kepada seluruh khalayak ramai Israel, baik laki-laki maupun perempuan, kepada masing-masing seketul roti bundar, sekerat daging, dan sepotong kue kismis. Sesudah itu pergilah seluruh bangsa itu, masing-masing ke rumahnya. (20) Ketika Daud pulang untuk memberi salam kepada seisi rumahnya, maka keluarlah Mikhal binti Saul mendapatkan Daud, katanya: ‘Betapa raja orang Israel, yang menelanjangi dirinya pada hari ini di depan mata budak-budak perempuan para hambanya, merasa dirinya terhormat pada hari ini, seperti orang hina dengan tidak malu-malu menelanjangi dirinya!’”.

 

3)   Sikap Daud dan Israel dalam mengangkut tabut.

Ay 14-15: “(14) Dan Daud menari-nari di hadapan TUHAN dengan sekuat tenaga; ia berbaju efod dari kain lenan. (15) Daud dan seluruh orang Israel mengangkut tabut TUHAN itu dengan diiringi sorak dan bunyi sangkakala.”.

Berbeda dengan dalam ay 5, dimana kata ‘menari-nari’ hanya muncul dalam Kitab Suci Indonesia, dan tak ada dalam Kitab Suci bahasa Inggris, maka dalam ay 14 ini kata ‘menari-nari’ itu juga ada dalam semua Kitab Suci bahasa Inggris.

Ini sering dianggap sebagai dasar Alkitab dari liturgi kebaktian dalam gereja-gereja Kharismatik, dimana mereka juga menari-nari, melompat-lompat dan sebagainya. Mari kita melihat komentar dari beberapa penafsir untuk melihat apakah ayat ini memang bisa ditafsirkan seperti itu.

 

Keil & Delitzsch: Dancing, as an expression of holy enthusiasm, was a customary thing from time immemorial: we meet with it as early as at the festival of thanksgiving at the Red Sea (Exo. 15:20); but there, and also at subsequent celebrations of the different victories gained by the Israelites, none but women are described as taking part in it (Jud. 11:34; 21:19; 1Sa. 18: 6) [= Menari, sebagai suatu pernyataan dari kegembiraan yang besar, merupakan suatu kebiasaan dari jaman dulu: kita bertemu dengannya seawal seperti pada pesta / perayaan syukur di Laut Merah (Kel 15:20); tetapi di sana, dan juga pada perayaan-perayaan berikutnya dari kemenangan-kemenangan yang didapatkan oleh orang-orang Israel, tidak ada kecuali perempuan-perempuan digambarkan mengambil bagian di dalamnya (Hak 11:34; 21:19; 1Sam 18: 6)].

Kel 15:20 - “Lalu Miryam, nabiah itu, saudara perempuan Harun, mengambil rebana di tangannya, dan tampillah semua perempuan mengikutinya memukul rebana serta menari-nari.

Ini terjadi setelah Tuhan menghancurkan tentara Firaun yang mengejar Israel di Laut Teberau.

Hak 11:34 - “Ketika Yefta pulang ke Mizpa ke rumahnya, tampaklah anaknya perempuan keluar menyongsong dia dengan memukul rebana serta menari-nari. Dialah anaknya yang tunggal; selain dari dia tidak ada anaknya laki-laki atau perempuan”.

Hak 21:19-21 - “(19) Lalu kata mereka pula: ‘Setiap tahun ada perayaan bagi TUHAN di Silo yang letaknya di sebelah utara Betel, di sebelah timur jalan raya yang menuju dari Betel ke Sikhem dan di sebelah selatan Lebona.’ (20) Maka mereka berpesan kepada bani Benyamin, demikian: ‘Pergilah menghadang di kebun-kebun anggur. (21) Perhatikanlah baik-baik; maka apabila anak-anak perempuan Silo keluar untuk menari-nari, baiklah kamu keluar dari kebun-kebun anggur itu, dan masing-masing melarikan seorang dari anak-anak perempuan Silo itu menjadi isterinya dan pergi ke tanah Benyamin”.

1Sam 18:6-7 - “(6) Tetapi pada waktu mereka pulang, ketika Daud kembali sesudah mengalahkan orang Filistin itu, keluarlah orang-orang perempuan dari segala kota Israel menyongsong raja Saul sambil menyanyi dan menari-nari dengan memukul rebana, dengan bersukaria dan dengan membunyikan gerincing; (7) dan perempuan yang menari-nari itu menyanyi berbalas-balasan, katanya: ‘Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa.’”.

 

Satu hal yang sangat perlu diperhatikan adalah: Tak satupun dari ayat-ayat di atas ini, maupun 2Sam 6:14 yang sedang kita persoalkan, terjadi dalam kebaktian. Jadi, menerapkannya untuk kebaktian, merupakan suatu penafsiran yang ‘out of context’ (= keluar dari kontextnya).

 

Adam Clarke: “Dancing is a religious ceremony among the Hindus, and they consider it an act of devotion to their idols. It is evident that David considered it in the same light. What connection dancing can have with devotion I cannot tell. This I know, that unpremeditated and involuntary skipping may be the effect of sudden mental elation” (= Tarian merupakan upacara agamawi di antara orang-orang Hindu, dan mereka menganggapnya sebagai suatu tindakan pembaktian kepada berhala-berhala mereka. Adalah jelas bahwa Daud menganggapnya dalam terang yang sama. Apa hubungan tarian dengan pembaktian saya tidak tahu. Ini yang saya tahu, bahwa tindakan meloncat-loncat yang tak direncanakan dan otomatis bisa merupakan hasil / akibat dari kegembiraan mental yang tiba-tiba).

 

The Bible Exposition Commentary: Old Testament: There is no New Testament evidence that dancing as a ‘worship art form’ was used either in the Jewish synagogue or the liturgy of the early church. The Greeks introduced dancing into worship in the post-Apostolic church, but the practice led to serious moral problems and was finally banned. It was difficult for congregations to distinguish between ‘Christian dances’ and dances honoring a pagan god or goddess, so the church abandoned the practice and later church fathers condemned it (= Di sana tidak ada bukti Perjanjian Baru bahwa tarian sebagai suatu ‘bentuk tindakan kreatif dari ibadah / kebaktian’ digunakan dalam sinagog Yahudi atau liturgi dari gereja mula-mula. Orang-orang Yunani memperkenalkan tarian ke dalam ibadah / kebaktian dalam gereja setelah jaman Rasul, tetapi praktek itu membawa pada problem-problem moral yang serius, dan akhirnya dilarang. Adalah sukar bagi jemaat untuk membedakan antara ‘tarian Kristen’ dan tarian-tarian untuk menghormati dewa atau dewi kafir, maka gereja meninggalkan praktek itu dan bapa-bapa gereja belakangan mengecam / mengutuknya).

 

IV) Tabut Tuhan di Yerusalem.

 

Ay 17-19: “(17) Tabut TUHAN itu dibawa masuk, lalu diletakkan di tempatnya, di dalam kemah yang dibentangkan Daud untuk itu, kemudian Daud mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan di hadapan TUHAN. (18) Setelah Daud selesai mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan, diberkatinyalah bangsa itu demi nama TUHAN semesta alam. (19) Lalu dibagikannya kepada seluruh bangsa itu, kepada seluruh khalayak ramai Israel, baik laki-laki maupun perempuan, kepada masing-masing seketul roti bundar, sekerat daging, dan sepotong kue kismis. Sesudah itu pergilah seluruh bangsa itu, masing-masing ke rumahnya.”.

 

Wycliffe mengatakan bahwa kelihatannya pada saat itu orang yang mempersembahkan korban tak dibatasi pada imam / orang Lewi saja. Tetapi saya berpendapat itu mustahil. Saya lebih setuju dengan penafsiran dari Pulpit Commentary di bawah ini.

 

Pulpit Commentary: “When it is said that ‘David offered’ them, it means that the sacrifices were at his cost and by his command” (= Pada waktu dikatakan bahwa ‘Daud mempersembahkan korban’, itu berarti bahwa korban-korban itu dipersembahkan atas biayanya dan oleh perintahnya).

Catatan: Calvin (hal 270-271) memberikan penafsiran yang serupa dengan yang diberikan oleh Pulpit Commentary. Ia juga menambahkan cerita tentang raja Uzia yang berani mempersembahkan korban sehingga dihukum oleh Tuhan dalam 2Taw 26:16-21.

 

Mungkin sekali pemberkatan dalam ay 18 juga harus diartikan dengan cara yang sama, karena pemberkatan merupakan tugas / kewajiban dari imam besar.

Bil 6:22-27 - “(22) TUHAN berfirman kepada Musa: (23) ‘Berbicaralah kepada Harun dan anak-anaknya: Beginilah harus kamu memberkati orang Israel, katakanlah kepada mereka: (24) TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau; (25) TUHAN menyinari engkau dengan wajahNya dan memberi engkau kasih karunia; (26) TUHAN menghadapkan wajahNya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera. (27) Demikianlah harus mereka meletakkan namaKu atas orang Israel, maka Aku akan memberkati mereka.’”.

 

Tetapi tetap mungkin Daud sendiri yang memberi berkat, karena dalam pentahbisan Bait Suci dalam 1Raja 8 dinyatakan secara explicit bahwa Salomo sendiri memberikan berkat kepada bangsa Israel.

1Raja 8:14-16 - “(14) Kemudian berpalinglah raja lalu memberkati seluruh jemaah Israel, sedang segenap jemaah Israel berdiri. (15) Ia berkata: ‘Terpujilah TUHAN, Allah Israel, yang telah menyelesaikan dengan tanganNya apa yang difirmankanNya dengan mulutNya kepada Daud, ayahku, demikian: (16) Sejak Aku membawa umatKu Israel keluar dari Mesir, tidak ada kota yang Kupilih di antara segala suku Israel untuk mendirikan rumah di sana sebagai tempat kediaman namaKu, tetapi Aku telah memilih Daud untuk berkuasa atas umatKu Israel.’”.

1Raja 8:54-61 - “(54) Ketika Salomo selesai memanjatkan segala doa dan permohonan itu kepada TUHAN, bangkitlah ia dari depan mezbah TUHAN setelah berlutut dengan menadahkan tangannya ke langit. (55) Maka berdirilah ia dan memberkati segenap jemaah Israel dengan suara nyaring, katanya: (56) ‘Terpujilah TUHAN yang memberikan tempat perhentian kepada umatNya Israel tepat seperti yang difirmankanNya; dari segala yang baik, yang telah dijanjikanNya dengan perantaraan Musa, hambaNya, tidak ada satupun yang tidak dipenuhi. (57) Kiranya TUHAN, Allah kita, menyertai kita sebagaimana Ia telah menyertai nenek moyang kita, janganlah Ia meninggalkan kita dan janganlah Ia membuangkan kita, (58) tetapi hendaklah dicondongkanNya hati kita kepadaNya untuk hidup menurut segala jalan yang ditunjukkanNya, dan untuk tetap mengikuti segala perintahNya dan ketetapanNya dan peraturanNya yang telah diperintahkanNya kepada nenek moyang kita. (59) Hendaklah perkataan yang telah kupohonkan tadi di hadapan TUHAN, dekat pada TUHAN, Allah kita, siang dan malam, supaya Ia memberikan keadilan kepada hambaNya dan kepada umatNya Israel menurut yang perlu pada setiap hari, (60) supaya segala bangsa di bumi tahu, bahwa Tuhanlah Allah, dan tidak ada yang lain, (61) dan hendaklah kamu berpaut kepada TUHAN, Allah kita, dengan sepenuh hatimu dan dengan hidup menurut segala ketetapanNya dan dengan tetap mengikuti segala perintahNya seperti pada hari ini.’”.

 

Calvin menafsirkan (hal 274) bahwa ‘memberkati’ berarti ‘berdoa’. Pada waktu kita berdoa untuk seseorang itu berarti kita memberkati dia dalam nama Tuhan. Calvin juga membedakan ‘memberkati’ dalam Bil 6:24-26, yang memang merupakan tugas dari imam besar secara khusus, dan ‘memberkati’ di sini, yang merupakan suatu pemberkatan secara umum, sehingga bisa dilakukan oleh Daud dan Salomo.

 

V) Daud pulang ke rumahnya.

 

Ay 20: “Ketika Daud pulang untuk memberi salam kepada seisi rumahnya, maka keluarlah Mikhal binti Saul mendapatkan Daud, katanya: ‘Betapa raja orang Israel, yang menelanjangi dirinya pada hari ini di depan mata budak-budak perempuan para hambanya, merasa dirinya terhormat pada hari ini, seperti orang hina dengan tidak malu-malu menelanjangi dirinya!’”.

 

1)   Daud pulang dan memberkati seisi rumahnya.

Ay 20a: “Ketika Daud pulang untuk memberi salam kepada seisi rumahnya”.

Kata-kata ‘memberi salam’ salah terjemahan!

KJV/RSV/NIV/NASB/ASV/NKJV: ‘to bless’ (= memberkati).

Kata Ibrani yang digunakan adalah BARAKH, dan artinya memang ‘memberkati’.

Kata Ibrani yang digunakan sama dengan dalam ay 18, tetapi anehnya di situ Alkitab Indonesia menterjemahkan ‘memberkati’, tetapi di sini menterjemahkan ‘memberi salam’.

 

Ini merupakan sesuatu yang baik dalam diri Daud, ia mempunyai keseimbangan antara gereja dan keluarga.

 

2)   Sikap Mikhal terhadap apa yang tadi dilakukan Daud.

 

a)      Mikhal, istri Daud, melihat tindakan Daud, dan memandang rendah Daud karena apa yang dilakukan Daud tadi, dan ketika Daud sampai di rumah, ia mencela Daud.

Ay 16,20b: “(16) Ketika tabut TUHAN itu masuk ke kota Daud, maka Mikhal, anak perempuan Saul, menjenguk dari jendela, lalu melihat raja Daud meloncat-loncat serta menari-nari di hadapan TUHAN. Sebab itu ia memandang rendah Daud dalam hatinya. ... (20b) maka keluarlah Mikhal binti Saul mendapatkan Daud, katanya: ‘Betapa raja orang Israel, yang menelanjangi dirinya pada hari ini di depan mata budak-budak perempuan para hambanya, merasa dirinya terhormat pada hari ini, seperti orang hina dengan tidak malu-malu menelanjangi dirinya!’”.

 

Absennya Mikhal dari acara penting tersebut dikecam oleh Calvin (hal 276,277,279), dan memang jelas merupakan suatu kesalahan. Mengapa ia tidak mendampingi suaminya dalam acara penting itu? Dari hal itu saja terlihat bahwa ia adalah orang yang tidak relijius dan tak mempedulikan kemuliaan Tuhan! Tetapi bukan hanya itu. Ia lalu memandang rendah Daud karena apa yang dilakukannya, dan bahkan mencelanya!

 

1.      Mengapa Mikhal memandang rendah dan mencela Daud?

 

a. Kesombongan atau gengsi.

Sebagai anak raja, ia merasa diri lebih tinggi dari rakyat biasa, pegawai-pegawai dsb, dan karena itu melihat Daud bercampur baur dengan orang-orang rendahan itu, ia memandang rendah dan mencela Daud.

 

Calvin: “This showed how deeply infected her heart was with pride because of her royal blood. How often we see this in those who have some noble ancestry” (= Ini menunjukkan betapa dalamnya hatinya dijangkiti dengan kesombongan karena darah rajanya. Betapa sering kita melihat hal ini dalam diri mereka yang mempunyai nenek moyang yang mulia) - ‘Sermons on 2Samuel’, hal 280.

 

Saya yakin bahwa kata-kata Calvin ini bukan hanya perlu diperhatikan / diwaspadai oleh orang-orang dari keluarga raja / bangsawan / orang-orang yang berkedudukan tinggi, tetapi juga oleh orang-orang yang kaya raya!

 

Matthew Henry: She was not displeased at his generosity to the people, nor did she grudge the entertainment he gave them; but she thought he degraded himself too much in dancing before the ark. It was not her covetousness, but her pride, that made her fret (= Ia bukannya tidak senang pada kemurahan hatinya kepada bangsa itu, juga ia tidak iri / jengkel karena hiburan yang diberikannya kepada mereka; tetapi ia berpikir / beranggapan ia terlalu merendahkan dirinya sendiri dengan menari-nari di depan tabut. Bukan ketamakannya, tetapi kesombongannya, yang membuatnya jengkel).

 

Keil & Delitzsch: The proud daughter of Saul was offended at the fact, that the king had let himself down on this occasion to the level of the people (= Anak perempuan yang sombong dari Saul tersinggung / terganggu oleh fakta, bahwa sang raja telah merendahkan dirinya sendiri pada peristiwa ini pada tingkat dari orang-orang / rakyat).

 

b. Saul mengabaikan tabut Tuhan dan karena itu tidak mengherankan kalau Mikhal juga demikian.

 

Barnes’ Notes: In the days of Saul the ark had been neglected (1 Chronicles 13:3), and Saul had in everything shown himself to be an irreligious king. Michal seems to have been of a like spirit [= Dalam jaman Saul tabut itu telah diabaikan (1Taw 13:3), dan Saul telah menunjukkan dirinya dalam segala sesuatu sebagai seorang raja yang tidak relijius. Mikhal kelihatannya mempunyai roh / kecondongan yang serupa].

1Taw 13:3 - “Dan baiklah kita memindahkan tabut Allah kita ke tempat kita, sebab pada zaman Saul kita tidak mengindahkannya.’”.

 

Keil & Delitzsch: Michal is intentionally designated the daughter of Saul here, instead of the wife of David, because on this occasion she manifested her father’s disposition rather than her husband’s. In Saul’s time people did not trouble themselves about the ark of the covenant (1Ch. 13: 3); public worship was neglected, and the soul for vital religion had died out in the family of the king [= Mikhal secara sengaja ditunjuk sebagai anak perempuan Saul di sini, dan bukannya istri Daud, karena pada peristiwa ini ia menunjukkan watak ayahnya dan bukannya watak suaminya. Pada jaman Saul bangsa itu tidak merepotkan diri mereka sendiri tentang tabut perjanjian (1Taw 13:3); ibadah umum diabaikan, dan jiwa dari agama yang hidup telah mati dalam keluarga raja].

 

The Bible Exposition Commentary: Old Testament: Perhaps Michal didn’t like what David said about her father’s neglect of the Ark (1 Chron 13:3) [= Mungkin Mikhal tidak senang terhadap apa yang Daud katakan tentang pengabaian ayahnya terhadap tabut (1Taw 13:3)].

 

c. Melakukan sesuatu untuk Tuhan (ibadah, belajar Firman, berdoa, melayani, memberitakan Injil, memberikan persembahan dsb) bisa merupakan sesuatu yang sangat hina / bodoh di mata orang, bahkan keluarga, yang tidak percaya.

 

Matthew Henry: Note, The exercises of religion appear very mean in the eyes of those that have little or no religion themselves (= Perhatikan, Pelaksanaan kewajiban agama kelihatan sangat hina di mata dari mereka yang mempunyai sedikit atau tidak ada agama dalam diri mereka sendiri).

 

Calvin: “this carcass was there at the window, to find fault in others, and make fun of those who were faithfully employing themselves in the service of God - who desired not only that he be adored by them, but by all the people” (= bangkai ini ada di sana di jendela, untuk mencari kesalahan dalam orang-orang lain, dan mengolok-olok mereka yang dengan setia mempekerjakan diri mereka sendiri dalam pelayanan Allah - yang menginginkan bukan hanya bahwa Ia dipuja oleh mereka, tetapi oleh seluruh bangsa) - ‘Sermons on 2Samuel’, hal 277.

 

Memang hal seperti ini banyak terjadi. Orang-orang, yang dirinya sendiri tidak melakukan apa-apa untuk Tuhan, mencari kesalahan, mengkritik, mencela, orang-orang yang melayani Tuhan dengan setia dan sungguh-sungguh.

 

2.      Celaan / serangan datang dari keluarga / istri.

 

Matthew Henry: Even the palaces of princes are not exempt from domestic troubles. David had pleased all the multitude of Israel, but Michal was not pleased with his dancing before the ark. For this, when he was at a distance, she scorned him, and when he came home she scolded him (= Bahkan istana dari pangeran-pangeran / raja-raja tidak bebas dari problem rumah tangga. Daud telah menyenangkan semua orang banyak Israel, tetapi Mikhal tidak senang dengan tari-tariannya di depan tabut. Untuk ini, pada waktu ia masih jauh, ia memandangnya rendah, dan pada waktu ia pulang ia memarahi / mengomelinya).

 

The Bible Exposition Commentary: Old Testament: How sad that David’s day of happy celebration ended with this kind of insensitive and heartless reception from his own wife, but often God’s servants go quickly from the glory of the mountain to the shadows of the valley (= Betapa menyedihkan bahwa hari perayaan yang bahagia dari Daud berakhir dengan jenis penerimaan yang acuh tak acuh dan tanpa perasaan ini dari istrinya sendiri, tetapi pelayan-pelayan Allah sering berpindah secara cepat dari kemuliaan dari gunung ke bayang-bayang dari lembah).

 

The Biblical Illustrator (Old Testament): DAVID’S TROUBLE. His trouble was peculiar. It came from a quarter where he ought least to have expected it. Has it not been to many a Christian woman that her husband has been her greatest enemy in religion, and many a Christian man has found the partner of his own bosom the hardest obstacle in the road to heaven? (= Kesukaran Daud. Kesukarannya khas. Itu datang dari seseorang / suatu tempat dimana ia seharusnya paling sedikit mengharapkannya. Bukankah banyak perempuan Kristen yang suaminya telah menjadi musuh terbesarnya dalam agama, dan banyak laki-laki Kristen yang telah mendapati bahwa pasangannya merupakan halangan terhebat dalam jalan ke surga?).

Catatan: tentu saja kebalikannya juga bisa terjadi dimana perempuan Kristen mendapatkan tantangan terbesar dalam mengikut Kristus dari suaminya!

 

Penerapan: karena itu jangan heran kalau dalam hal-hal rohani, saudara mendapatkan tantangan dari suami, istri, orang tua, anak, kakak, adik, dan sebagainya. Mereka bisa kafir, ataupun Kristen (KTP atau yang rohaninya rendah).

 

3.   Celaan Mikhal.

Ay 20b: “maka keluarlah Mikhal binti Saul mendapatkan Daud, katanya: ‘Betapa raja orang Israel, yang menelanjangi dirinya pada hari ini di depan mata budak-budak perempuan para hambanya, merasa dirinya terhormat pada hari ini, seperti orang hina dengan tidak malu-malu menelanjangi dirinya!’.

 

a. Terjemahan dari bagian yang saya garis-bawahi; perhatikan khususnya yang saya beri garis bawah ganda.

 

KJV: How glorious was the king of Israel to day, who uncovered himself to day in the eyes of the handmaids of his servants, as one of the vain fellows shamelessly uncovereth himself!’ (= Betapa mulia raja Israel hari ini, yang menelanjangi dirinya sendiri hari ini di depan mata dari pelayan-pelayan perempuan, seperti salah satu dari orang-orang bodoh / tak berharga, dengan tak tahu malu menelanjangi dirinya sendiri). RSV/NIV/NASB KJV.

Jelas bahwa bagian awal dari KJV yang mengatakan ‘betapa mulia raja Israel hari ini’ diucapkan secara sinis sebagai suatu ‘irony’ (= ejekan).

 

Kata-kata ‘dengan tidak malu-malu’ ada dalam terjemahan Kitab Suci Indonesia, KJV, RSV, NASB (‘shamelessly’), tetapi kata ini seharusnya tidak ada, seperti dalam NIV.

Jamieson, Fausset & Brown: There is nothing in the original corresponding to ‘shamelessly.’” (= Tidak ada apapun dalam bahasa aslinya yang sesuai dengan ‘dengan tidak malu-malu’).

 

b. Kata ‘menelanjangi’ jelas merupakan fitnah atau suatu hyperbole, karena dalam kenyataannya Daud jelas tidak telanjang.

 

The Bible Exposition Commentary: Old Testament: There’s no evidence that David was guilty of any of the things his wife accused him of doing. He was properly attired and certainly didn’t expose himself to the people (= Tidak ada bukti bahwa Daud bersalah tentang apapun yang dituduhkan oleh istrinya. Ia mengenakan pakaian secara benar dan pasti tidak membuka / menelanjangi dirinya di depan orang-orang).

 

Bdk. 1Taw 15:27 - “Daud memakai jubah dari kain lenan halus, juga segala orang Lewi yang mengangkat tabut itu dan para penyanyi, dan Kenanya yang mengepalai pengangkutan dan para penyanyi. Daud juga memakai baju efod dari kain lenan”.

 

Jamieson, Fausset & Brown: The words ‘naked’ and ‘uncovered’ are frequently used by the sacred writers in a restricted sense” (= Kata-kata ‘telanjang’ dan ‘terbuka’ sering digunakan oleh penulis-penulis kudus dalam arti yang terbatas).

Memang dalam Alkitab, kata ‘telanjang’ kadang-kadang berarti betul-betul telanjang seperti dalam dan Kej 3:7, tetapi kadang-kadang berarti hanya memakai pakaian dalam. Dan perlu dicamkan bahwa pakaian dalam mereka sangat berbeda dengan kita. Pakaian dalam mereka memang bisa dipakai untuk pergi. Kalau mereka melepas jubah mereka, dan hanya memakai pakaian dalam, itu kadang-kadang disebut ‘telanjang’, seperti dalam Yes 20:2-3.

Kej 3:7 - “Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat”.

Yes 20:2-3 - “(2) pada waktu itu berfirmanlah TUHAN melalui Yesaya bin Amos. FirmanNya: ‘Pergilah dan bukalah kain kabung dari pinggangmu dan tanggalkanlah kasut dari kakimu,’ lalu iapun berbuat demikian, maka berjalanlah ia telanjang dan tidak berkasut. (3) Berfirmanlah TUHAN: ‘Seperti hambaKu Yesaya berjalan telanjang dan tidak berkasut tiga tahun lamanya sebagai tanda dan alamat terhadap Mesir dan terhadap Etiopia”.

 

c. “seperti orang hina.

KJV: vain (= bodoh / tak berharga).

RSV/NIV: vulgar (= orang biasa / umum).

NASB: foolish (= bodoh).

 

Pulpit Commentary: ‘Vain’ is the ‘raca’ of Matt 5:22, and means ‘empty,’ void of virtue, void of reputation, and void of worldly means. The Hebrews, when expressing the greatest possible contempt for a man, called him an ‘empty,’ and no word could be found better conveying the meaning of thorough worthlessness” [= Kata yang diterjemahkan ‘vain’ / ‘bodoh / tak berharga’ (dalam KJV) adalah RACA dari Mat 5:22, dan berarti ‘kosong’, tak ada perbuatan baik, tak ada reputasi, dan tak ada harta duniawi. Orang-orang Ibrani, pada waktu menyatakan sikap memandang rendah yang terbesar, menyebutnya ‘kosong’, dan tak ada kata yang bisa ditemukan yang dengan lebih baik menyampaikan arti dari ketidak-berhargaan secara keseluruhan].

Mat 5:22 - “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala”.

Kata ‘kafir’ ini salah terjemahan.

RSV: ‘whoever insults his brother’ (= siapapun menghina saudaranya).

KJV/NIV/NASB tidak menterjemahkan kata ini, tetapi hanya mentransliterasikan (mengganti huruf-huruf Yunaninya dengan huruf Latin) sebagai ‘Raca’.

D. Martyn Lloyd-Jones: “‘Raca’ means ‘worthless fellow’” (= ‘Raca’ berarti ‘orang yang tidak berharga’) - ‘Studies in the Sermon on the Mount’, hal 224.

John Stott mengatakan (hal 84) bahwa kata ‘Raca’ itu mungkin sama dengan kata Aram yang berarti ‘empty’ (= kosong), sedangkan Tasker (Tyndale) mengatakan bahwa kata ‘Raca’ tidak terlalu berbeda dengan MORE (yang digunakan dalam ay 22c) yang artinya ‘bodoh / tolol’ (dalam Kitab Suci Indonesia diterjemahkan ‘jahil’).

Barclay: “Raca is an almost untranslatable word, because it describes a tone of voice more than anything else. Its whole accent is the accent of contempt. To call a man Raca was to call him a brainless idiot, a silly fool, an empty-headed blunderer. It is the word of one who despises another with an arrogant contempt” (= Raca hampir tidak bisa diterjemahkan, karena kata itu lebih menggambarkan nada suara dari pada apapun yang lain. Seluruh penekanannya merupakan penekanan penghinaan / kejijikan. Menyebut seseorang sebagai Raca berarti menyebutnya sebagai seorang idiot yang tidak mempunyai otak, seorang tolol, seorang pembuat kesalahan yang kepalanya kosong) - hal 139.

 

Jelas bahwa kata-kata Mikhal ini merupakan suatu penghinaan yang sangat hebat, dan dilakukan terhadap suaminya sendiri!

 

-bersambung-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali