(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)
Minggu, tgl 8 Januari 2012, pk 17.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
II Samuel 6:1-23(2)
2Sam 6:1-7 - “(1) Daud
mengumpulkan pula semua orang pilihan di antara orang Israel, tiga puluh ribu
orang banyaknya. (2) Kemudian bersiaplah Daud, lalu berjalan dari Baale-Yehuda
dengan seluruh rakyat yang menyertainya, untuk mengangkut dari sana tabut
Allah, yang disebut dengan nama TUHAN semesta alam yang bertakhta di atas
kerubim. (3) Mereka menaikkan tabut Allah itu ke dalam kereta yang baru
setelah mengangkatnya dari rumah Abinadab yang di atas bukit. Lalu Uza dan
Ahyo, anak-anak Abinadab, mengantarkan kereta itu. (4) Uza berjalan di samping
tabut Allah itu, sedang Ahyo berjalan di depan tabut itu. (5) Daud dan seluruh
kaum Israel menari-nari di hadapan TUHAN dengan sekuat tenaga, diiringi
nyanyian, kecapi, gambus, rebana, kelentung dan ceracap. (6) Ketika mereka
sampai ke tempat pengirikan Nakhon, maka Uza mengulurkan tangannya kepada
tabut Allah itu, lalu memegangnya, karena lembu-lembu itu tergelincir. (7)
Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap Uza, lalu Allah membunuh dia di sana
karena keteledorannya itu; ia mati di sana dekat tabut Allah itu”.
d) Satu pertanyaan yang perlu direnungkan:
Mengapa pada waktu Daud mau melakukan hal yang salah ini Tuhan tidak menegurnya
/ memperingatinya? Mengapa dalam 2Sam 7 pada waktu ia mau melakukan tindakan
yang salah (dari sudut pandang Tuhan), yaitu membangun Bait Allah, Allah
memberitahu kalau ia salah? Menurut saya ada 2 kemungkinan:
1. Mungkin karena pada waktu mau membangun Bait Allah, Daud
setidaknya membicarakan hal itu dengan nabi Natan. Di sini ia hanya
berunding dengan bawahan-bawahannya.
2. Dalam persoalan membangun Bait Allah tak ada tertulis
dalam hukum Taurat siapa yang harus membangunnya, tetapi dalam persoalan membawa
tabut sudah tertulis secara jelas hukum tentang cara membawa tabut.
e)
Perjalanan membawa tabut Tuhan ini disertai musik dan nyanyian.
Ay
5:
“Daud dan seluruh kaum Israel menari-nari di hadapan TUHAN dengan sekuat
tenaga, diiringi nyanyian, kecapi, gambus, rebana, kelentung dan ceracap.”.
KJV:
‘And David and all the house of Israel played
before the LORD on all manner of instruments made of fir wood, even on
harps, and on psalteries, and on timbrels, and on cornets, and on cymbals’
(= Dan Daud dan seluruh kaum Israel bersenang-senang di hadapan TUHAN dengan
semua jenis alat-alat yang dibuat dari kayu pohon cemara, bahkan harpa, dan
kecapi, dan tamborin, dan terompet, dan canang).
RSV:
‘And David and all the house of Israel were
making merry before the LORD with all their might, with songs and
lyres and harps and tambourines and castanets and cymbals’ (= Dan Daud dan
seluruh kaum Israel bersukaria di hadapan TUHAN dengan seluruh tenaga
mereka, dengan nyanyian-nyanyian dan alat bersenar dan harpa dan tamborin
dan kastenyet dan canang).
NIV/NASB
mirip seperti RSV, hanya untuk kata-kata ‘were
making merry’ (= bersukaria), NIV/NASB menterjemahkan ‘were
celebrating’ (= merayakan).
1.
Jelas bahwa terjemahan KJV lain dengan RSV/NIV/NASB. Mengapa bisa ada dua
macam terjemahan? Adam Clarke mengatakan bahwa terjemahan KJV ini seharusnya
dibetulkan / dikoreksi dengan menggunakan ayat paralelnya, yaitu 1Taw 13:8 - “Daud
dan seluruh orang Israel menari-nari di hadapan Allah dengan sekuat tenaga,
diiringi nyanyian, kecapi, gambus, rebana, ceracap dan nafiri”. Dan
menurut Clarke ini lebih masuk akal dari pada terjemahan KJV. Juga ia
menambahkan bahwa dalam 2Sam 6:5 ini LXX / Septuaginta menterjemahkan ‘with
might’ (= dengan tenaga). Jadi kelihatannya, terjemahan dari Kitab Suci
Indonesia, RSV, NIV, NASB diambil dari LXX / Septuaginta.
Adam
Clarke: “‘On
all manner of instruments made of fir wood.’ This place should be corrected
from the parallel place, 1 Chron 13:8: ‘All Israel played before God,
with all their might and with singing, and
with harps, and with psalteries,’ etc. Instead of bkol ±tseey,
‘with all woods’ or ‘trees;’ the parallel place is bkol ±oz, ‘with all their strength.’ This makes a good sense;
the first makes none. In this place the Septuagint has the same reading:
en
ischui,
‘with
might.’”
(= ).
2.
Kata ‘menari-nari’
sebetulnya tidak ada dalam ay 5 ini (tidak ada dalam semua terjemahan
bahasa Inggris), dan demikian juga dalam 1Taw 13:8, kata itu hanya muncul dalam
terjemahan Kitab Suci Indonesia. Nanti dalam ay 14 kata itu memang ada, baik
dalam Kitab Suci Indonesia maupun dalam terjemahan-terjemahan bahasa Inggris.
Tetapi ada penafsir yang menganggap bahwa kata ‘played’
(= bersenang-senang) dalam KJV mencakup ‘menari-nari’ (Keil & Delitzsch,
Albert Barnes). Saya akan membahas tentang kata ‘menari-nari’ ini dalam
pembahasan ay 14 nanti.
6)
Terjadinya musibah.
Ay
6-7:
“(6) Ketika mereka sampai ke tempat pengirikan Nakhon, maka Uza mengulurkan
tangannya kepada tabut Allah itu, lalu memegangnya, karena lembu-lembu itu
tergelincir. (7) Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap Uza, lalu Allah membunuh
dia di sana karena keteledorannya itu; ia mati di sana dekat tabut Allah
itu.”.
KJV/ASV/NKJV:
‘his error’ (= kesalahannya).
RSV:
‘he put forth his hand to the ark’
(= ia mengulurkan tangannya kepada tabut).
NIV:
‘his irreverent act’
(= tindakan tidak hormatnya).
NASB:
‘his irreverence’ (= ketidak-hormatannya).
Catatan:
Kata bahasa Ibraninya tak diketahui artinya dengan pasti.
Ada
beberapa hal yang ingin saya bahas di sini:
a)
Kesalahan Uza / bangsa Israel.
The
Biblical Illustrator (Old Testament):
“Uzzah
was a Levite, and he knew or ought to have known the commands of God with
respect to the ark. In Num 4:15, it is written that those who had to bear the
ark were ‘not to touch any holy thing, lest they die,’ Not only so, but the
ark was to be covered, and so kept from the gaze of the irreverent. This had
been neglected. Again, that which was to be borne only on men’s shoulders was
put on a cart. This was a gross piece of neglect”
(= Uza adalah seorang Lewi, dan ia tahu atau seharusnya telah mengetahui
hukum-hukum / perintah-perintah Allah berkenaan dengan tabut. Dalam Bil 4:15,
dituliskan bahwa mereka yang harus memikul tabut ‘tidak boleh menyentuh
hal-hal / benda-benda kudus apapun, supaya mereka jangan mati’. Bukan hanya
demikian, tetapi tabut harus ditutupi, dan dengan demikian menjaga / melindungi
dari pandangan yang tidak hormat / tanpa rasa takut).
Bil 4:15
- “Setelah Harun dan anak-anaknya
selesai menudungi barang-barang kudus dan segala perkakas tempat kudus,
pada waktu perkemahan akan berangkat, barulah orang
Kehat boleh masuk ke dalam untuk mengangkat barang-barang itu; tetapi janganlah
mereka kena kepada barang-barang kudus itu, nanti mereka mati. Jadi itulah
barang-barang di Kemah Pertemuan yang harus diangkat bani
Kehat”.
Bdk.
Bil 4:4-6 - “(4) Pekerjaan jabatan orang Kehat
di Kemah Pertemuan ialah mengurus barang-barang yang maha kudus. (5) Kalau
perkemahan akan berangkat, haruslah Harun dan anak-anaknya masuk ke dalam untuk
menurunkan tabir penudung, dan menudungkannya kepada tabut hukum. (6) Di
atasnya mereka harus meletakkan tutup dari kulit lumba-lumba, dan di atasnya
lagi mereka harus membentangkan sehelai kain yang seluruhnya ungu tua, kemudian
mereka harus memasang kayu-kayu pengusung tabut itu”.
Kata-kata
‘kulit lumba-lumba’ dalam Bil 4:6
diterjemahkan sangat beraneka ragam; rupanya arti kata itu tak diketahui dengan
pasti.
KJV:
‘badgers’ skins’ (= kulit
badger).
RSV:
‘goatskin’ (= kulit kambing).
NIV:
‘hides of sea cows’ (= kulit dari
sapi laut).
NASB:
‘porpoise
skin’
(= kulit lumba-lumba).
ASV:
‘sealskin’ (= kulit anjing laut).
NKJV:
‘badger
skins’
(= kulit badger).
Catatan:
Badger adalah binatang semacam luwak.
Calvin:
“Indeed, only a specified part of the tribe of Levi was commissioned to
carry the ark” (= Bahkan, hanya suatu bagian yang ditetapkan dari suku
Lewi diperintahkan untuk membawa / mengangkut tabut) - ‘Sermons
on 2Samuel’, hal 248.
Catatan:
‘orang / bani Kehat’ hanyalah
sebagian tertentu dari suku Lewi, karena Lewi memang mempunyai 3 orang anak, dan
salah satunya namanya adalah Kehat.
Kej
46:11 - “Anak-anak Lewi ialah Gerson, Kehat
dan Merari”.
The
Biblical
Illustrator (Old Testament): “Uzzah sinned with his eyes open. He knew the
commands. He sinned with the warning of Beth-shemesh before him. He
sinned publicly, and has perished suddenly and miserably. It was a sudden and
severe judgment, but that was a stern age, and the people could only be
influenced by such means” (= Uza berdosa dengan mata terbuka. Ia tahu perintah / hukum itu. Ia
berdosa dengan peringatan Bet-Semes di hadapannya. Ia berdosa di depan
umum, dan telah binasa dengan tiba-tiba dan dengan menyedihkan. Itu merupakan
suatu penghakiman yang mendadak dan keras, tetapi itu adalah suatu jaman yang
keras, dan bangsa itu hanya bisa dipengaruhi dengan cara itu).
Catatan:
yang dimaksudkan dengan ‘peringatan Bet-Semes’ pasti adalah peristiwa yang terjadi dalam
1Sam 6:19 - “Dan Ia membunuh
beberapa orang Bet-Semes, karena mereka melihat ke dalam tabut TUHAN; Ia
membunuh tujuh puluh orang dari rakyat itu. Rakyat itu berkabung, karena
TUHAN telah menghajar mereka dengan dahsyatnya”.
Sebetulnya
merupakan sesuatu yang perlu diragukan bahwa Uza mengetahui peristiwa ini,
mengingat peristiwa ini terjadi 70 tahun sebelum saat ini, dimana ia pasti belum
lahir. Tetapi ia memang bisa mengetahuinya dari cerita dari orang tuanya atau
orang-orang lain.
b)
Keberatan terhadap hukuman mati ini.
Bukankah
ini merupakan dosa remeh? Mengapa dihukum dengan begitu berat? Dan bukankah Uza
bermaksud baik, yaitu mencegah jatuhnya tabut itu ke tanah? Mengapa ia justru
dihukum, dan lebih-lebih mengapa dihukum dengan begitu berat?
1.
Di atas segala-galanya, kalau ada orang berani menyalahkan Allah karena
dianggap menghukum terlalu keras, perlu ditekankan bahwa Allah tidak mungkin
salah!
Maz 51:6b
- “supaya ternyata Engkau adil dalam
putusanMu, bersih dalam penghukumanMu”.
Karena
itu, sekalipun bingung / tidak mengerti mengapa Allah menghukum Uza, dan juga
Ananias dan Safira, dengan hukuman mati, tetaplah percaya bahwa Allah tidak
mungkin salah dalam hal itu.
2.
Maksud yang baik tidak membenarkan tindakan yang salah.
The
Biblical Illustrator (Old Testament):
“It
may be objected that the punishment was needlessly severe, in that Uzzah’s
intentions were good. This is very plausible; but good intentions do not
always justify wrong-doing. Many have been led astray by this sophistry”
(= Bisa diajukan keberatan bahwa hukuman itu tidak perlu begitu hebat / keras,
karena maksud Uza adalah baik. Ini memungkinkan; tetapi maksud baik tidak
selalu membenarkan tindakan yang salah. Banyak orang telah disesatkan oleh
cara berpikir yang menyesatkan ini).
Catatan:
saya menganggap kata-kata ‘tidak selalu’ kurang kuat; seharusnya adalah ‘tidak pernah’!
Calvin:
“you might consider this hastiness to be commendable zeal, but in the
eyes of God it was inconsiderate zeal, and merited punishment” (=
engkau mungkin / bisa menganggap ketergesa-gesaannya sebagai semangat yang bisa
/ patut dipuji, tetapi di mata Allah itu adalah semangat yang tanpa dipikir,
dan layak mendapatkan hukuman) - ‘Sermons
on 2Samuel’, hal 249.
Bdk.
Amsal 19:2 - “Tanpa pengetahuan kerajinanpun
tidak baik; orang yang tergesa-gesa akan salah langkah”.
KJV:
‘Also, that the soul be without knowledge, it is not good; and
he that hasteth with his feet sinneth’ (= Juga, bahwa jiwa tanpa
pengetahuan, itu tidaklah baik; dan ia yang tergesa-gesa dengan kakinya berbuat
dosa).
RSV:
‘It is not good for a man to be without knowledge, and he who
makes haste with his feet misses his way’ (= Adalah tidak baik bagi seseorang
untuk tidak mempunyai pengetahuan, dan ia yang tergesa-gesa dengan kakinya luput
/ kehilangan jalannya).
NIV:
‘It is not good to have zeal without knowledge, nor to be hasty
and miss the way’ (= Adalah tidak baik untuk mempunyai semangat
tanpa pengetahuan, ataupun untuk tergesa-gesa dan luput / kehilangan jalannya).
NASB:
‘Also it is not good for a person to be without knowledge, And
he who hurries his footsteps errs’ (= Juga adalah tidak baik bagi seseorang
untuk tidak mempunyai pengetahuan, Dan ia yang mempercepat langkah-langkah
kakinya akan salah).
KJV
menterjemahkan secara paling hurufiah, karena dalam bahasa Ibrani memang
digunakan kata NEPHESH, yang artinya ‘soul’
(= jiwa). Tetapi jelas bahwa yang dimaksudkan memang adalah ‘orang’, dan
karena itu RSV menterjemahkan ‘a man’
(= seseorang), dan NASB menterjemahkan ‘a
person’ (= seseorang). NIV menterjemahkan ‘to
have zeal’ (= mempunyai semangat), mungkin karena menghubungkan dengan
kata ‘hasty’ (= tergesa-gesa) pada
anak kalimat berikutnya.
Ayat
ini jelas mengecam orang yang cepat-cepat melakukan sesuatu, tetapi salah
langkah, karena ia tidak mempunyai pengetahuan.
3.
Ada orang yang mengatakan: Tuhan kadang-kadang menghukum dosa kecil /
ringan dengan hukuman yang berat / hukuman mati, supaya orang tahu bahwa sebetulnya
itulah hukuman dari dosa kecil / ringan.
4.
Tindakan Uza ini belum tentu merupakan dosa yang ringan.
Calvin
mengatakan (hal 250) bahwa bisa saja Uza memang mempunyai sikap ambisius, karena
ia ingin memuliakan dirinya sendiri, mengingat rumahnya telah menjadi tempat
bagi tabut itu selama ini, dan sekarang ia ingin dianggap berjasa karena telah
menyelamatkan tabut itu dari kejatuhan.
Yang
jelas, kita tidak tahu semua fakta tentang tindakan Uza ini, karena Alkitab
memang tidak menceritakan segala sesuatu secara mendetail.
Karena itu, jangan terlalu cepat menilai bahwa ini adalah dosa ringan, atau ini
adalah tindakan yang motivasinya baik, dan sebagainya.
5.
Tuhan menghukum seperti itu sebagai peringatan bagi orang-orang lain pada
setiap jaman.
Calvin:
“Yet he did it so that it might serve as a perpetual memorial to others,
who might in turn give more serious thought to the appropriate way to worship
God” (= Tetapi Ia melakukannya supaya itu bisa bermanfaat sebagai suatu
peringatan kekal bagi orang-orang lain, yang pada saatnya memberikan pikiran
yang lebih serius pada cara yang tepat untuk menyembah Allah) - ‘Sermons
on 2Samuel’, hal 251.
Calvin:
“Even today, when we have this marvelous privilege of approaching God,
we must remember still that our approach is in the name of our Lord Jesus
Christ, ... who enables us to find grace before him” (= Bahkan pada saat
ini, pada waktu kita mempunyai hak yang sangat bagus untuk mendekat kepada
Allah, kita harus tetap ingat bahwa pendekatan kita adalah dalam nama Tuhan kita
Yesus Kristus, ... yang memampukan kita untuk menemukan kasih karunia di
hadapanNya) - ‘Sermons on 2Samuel’,
hal 251.
Bdk.
Ibr 4:15-16 - “(15) Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak
dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia
telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. (16) Sebab itu marilah kita dengan
penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat
dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya”.
c)
Mengapa hanya Uza yang dihukum?
Dalam
proses pengangkatan tabut ke kereta pasti ada banyak tangan menyentuh tabut, dan
seluruh proses disetujui oleh Daud. Bukankah dengan demikian Daud juga bersalah?
Lalu mengapa hanya Uza yang dihukum? Ada beberapa kemungkinan:
1.
Tuhan melihat bahwa Uza mempunyai sikap hati yang tidak hormat /
memandang rendah / remeh pada tabut itu.
The
Biblical Illustrator (Old Testament):
“It
should be remembered that many hands must have touched the ark that day in the
process of lifting it on to the cart; that none of these helpers were smitten,
and that therefore it was not the fact of touching, but the spirit in which he
touched, that made Uzzah guilty. We shall probably be right if we ascribe to him
rash irreverence, entire ignoring of the sanctity of the ark, a regarding of it
as ‘an unholy (that is, a common) thing.’”
[= Harus diingat bahwa banyak tangan pasti telah menyentuh tabut itu pada hari
itu dalam proses pengangkatannya ke kereta; dan tidak ada satupun dari
penolong-penolong ini yang dipukul (dengan
hukuman), dan bahwa karena itu bukanlah
fakta menyentuh tabut, tetapi roh / sikap hati dalam mana tabut itu disentuh,
itulah yang membuat Uza bersalah. Kita mungkin benar jika kita menganggapnya
mempunyai ketidak-hormatan yang gegabah, dengan sepenuhnya mengabaikan kekudusan
/ kesucian dari tabut itu, suatu anggapan tentang tabut itu sebagai suatu barang
yang biasa / bukan barang yang kudus].
Catatan:
Sekalipun apa yang dikatakan di sini bisa benar, tetapi menurut saya, belum
tentu benar. Fakta menyentuh tabut, tak peduli apapun sikap hatinya, tetap
merupakan suatu dosa. Motivasi yang benar tidak membenarkan tindakan yang salah.
2.
Bisa juga karena orang-orang yang lain tidak mempunyai pengetahuan
tentang hal itu, sehingga dosa mereka dianggap ringan / lebih ringan, sedangkan
Uzza, sebagai seorang Lewi, mempunyai pengetahuan lebih, sehingga dosanya
dianggap lebih berat.
Bdk.
Luk 12:47-48 - “(47) Adapun hamba yang tahu akan kehendak tuannya, tetapi yang tidak
mengadakan persiapan atau tidak melakukan apa yang dikehendaki tuannya, ia akan
menerima banyak pukulan. (48) Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak
tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima
sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan
banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan
lebih banyak lagi dituntut.’”.
3.
Mungkin Uza yang paling dulu mengusulkan cara pengangkatan yang salah
ini.
Matthew
Henry: “David
afterwards owned that Uzzah died for an error they were all guilty of, which was
carrying the ark in a cart. Because it was not carried on the Levites’
shoulders, ‘the Lord made that breach upon us,’ 1 Chron 15:13. But Uzzah was
singled out to be made an example, perhaps because he had been most forward in
advising that way of conveyance; however he had fallen into another error, which
was occasioned by that” (= Belakangan Daud mengakui bahwa Uza mati untuk suatu kesalahan
terhadap mana mereka semua bersalah, yaitu mengangkut tabut itu dalam suatu
kereta. Karena tabut itu tidak diangkat pada bahu orang-orang Lewi, ‘Tuhan
telah menyambar kita’, 1Taw 15:13. Tetapi Uza dikhususkan untuk menjadi suatu
contoh, mungkin karena ia telah menjadi yang paling depan / lancang dalam
menasehatkan cara pengangkutan itu; tetapi ia telah terjatuh ke dalam kesalahan
yang lain, yang disebabkan oleh cara pengangkutan itu).
1Taw 15:11-15
- “(11) Lalu Daud memanggil Zadok dan Abyatar, imam-imam itu, dan
orang-orang Lewi, yakni Uriel, Asaya, Yoel, Semaya, Eliel dan Aminadab, (12) dan
berkata kepada mereka: ‘Hai kamu ini, para kepala puak dari orang Lewi,
kuduskanlah dirimu, kamu ini dan saudara-saudara sepuakmu, supaya kamu
mengangkut tabut TUHAN, Allah Israel, ke tempat yang telah kusiapkan untuk itu.
(13) Sebab oleh karena pada pertama kali kamu tidak hadir, maka TUHAN, Allah
kita, telah menyambar di tengah-tengah kita, sebab kita tidak meminta
petunjukNya seperti seharusnya.’ (14) Jadi para imam dan orang-orang Lewi
menguduskan dirinya untuk mengangkut tabut TUHAN, Allah Israel. (15) Kemudian
bani Lewi mengangkat tabut Allah itu dengan gandar pengusung di atas bahu
mereka, seperti yang diperintahkan Musa, sesuai dengan firman TUHAN”.
d)
Hukuman yang mengerikan ini merupakan suatu peringatan bagi semua orang
dalam setiap jaman.
The
Biblical Illustrator (Old Testament):
“Uzzah
died by the side of the ark of God. How terrible! Yet what a warning for the
ages! Being engaged in religious services or connected with sacred things cannot
ensure salvation. We should, therefore, watch any tendency to levity or
lightness in Divine worship, or in treatment of sacred subjects”
(= Uza mati di sisi tabut Allah. Alangkah mengerikannya! Tetapi ini betul-betul
merupakan suatu peringatan untuk semua jaman! Terlibat dalam pelayanan / ibadah
agamawi atau berhubungan dengan benda-benda / hal-hal yang keramat tidak bisa
menjamin keselamatan. Karena itu, kita harus, berjaga-jaga terhadap setiap
kecenderungan pada sikap sembrono atau mengentengkan dalam ibadah Ilahi, atau
dalam penanganan dari benda-benda keramat).
Keil & Delitzsch:
“‘Uzzah
was therefore a type of all who with good intentions, humanly speaking, yet with
unsanctified minds, interfere in the affairs of the kingdom of God, from the
notion that they are in danger, and with the hope of saving them’ (O. v.
Gerlach)”
[= ‘Karena itu Uza merupakan suatu type dari semua orang yang dengan maksud
baik, berbicara secara manusia, tetapi dengan pikiran yang tidak dikuduskan,
ikut campur dalam urusan-urusan dari kerajaan Allah, dari pikiran bahwa mereka
ada dalam bahaya, dan dengan pengharapan untuk menyelamatkan mereka’ (O. v.
Gerlach)].
Calvin:
“we must gather from it that none of our devotions will be accepted by
God unless they are conformed to his will. This rule ruins all the man-made
inventions in the papacy so-called worshipped of God, which has so much pomp and
foolishness. All of that is nothing but sheer trash before God, and is in fact
an abomination to him. Hence, let us hold this unmistakable rule, that if we
want to worship God in accordance with our own ideas, it will simply be abuse
and corruption” (= kita harus menyimpulkan darinya bahwa tidak ada dari
pembaktian kita yang akan diterima oleh Allah kecuali pembaktian itu sesuai
dengan kehendakNya. Peraturan ini menghancurkan semua penemuan-penemuan buatan
manusia dalam apa yang disebut penyembahan Allah dalam kepausan, yang mempunyai
begitu banyak kemegahan dan kebodohan. Semua itu bukan lain hanyalah sampah di
hadapan Allah, dan dalam faktanya adalah sesuatu yang dibenci bagiNya. Karena
itu, hendaklah kita memegang ini sebagai suatu peraturan yang tidak bisa salah,
bahwa jika kita mau menyembah Allah sesuai dengan gagasan-gagasan kita sendiri,
itu akan sekedar merupakan suatu penyalah-gunaan dan kejahatan / kerusakan)
- ‘Sermons on 2Samuel’, hal 246.
Calvin:
“we must remember that when we worship God, we ought to be touched with
such a deep affection that it would serve to separate us from all the pollution
of the world. ... we must tremble before his majesty. Let us not come to him
like hypocrites, who only twist their mouths and make fun of God and make sport
of him. Let us not do that, but instead, let us be nothing in ourselves, and let
us realise how great his grandeur is - not in order to be utterly overawed by
it, but rather to be beneficially instructed by the present story” (= kita
harus mengingat bahwa pada waktu kita menyembah / berbakti kepada Allah, kita
harus disentuh dengan suatu perasaan yang dalam sedemikian rupa sehingga itu
akan bermanfaat untuk memisahkan kita dari semua polusi dari dunia. ... kita
harus gemetar di hadapan keagunganNya. Hendaklah kita tidak datang kepadaNya
seperti orang-orang munafik, yang hanya memutar-balikkan mulut mereka dan
mengolok-olok dan mempermainkan Dia. Hendaklah kita tidak melakukan hal itu,
tetapi sebaliknya, hendaklah kita menjadi nihil / tidak ada dalam diri kita
sendiri, dan hendaklah kita menyadari betapa besar kemuliaanNya - bukan supaya
kita sepenuhnya dipesonakan olehnya, tetapi supaya kita diajar secara bermanfaat
oleh cerita ini) - ‘Sermons on
2Samuel’, hal 248-249.
e)
Bahaya dari keakraban terhadap benda-benda / hal-hal keramat: ‘Familiarity breeds contempt’ (= Keakraban membiakkan kejijikan
/ sikap memandang rendah).
The
Biblical Illustrator (Old Testament):
“Uzzah;
or the danger of familiarity with sacred things: ...
Now God intended by this terrible visitation to teach a lesson of great
importance. It is one that needs to be uttered even at this day with emphasis,
viz., the need that exists for the deepest reverence in all things connected
with the Divine service, and the danger that arises from over-familiarity with
sacred things” (= Uza; atau bahaya dari keakraban dengan hal-hal / benda-benda yang
keramat: ... Oleh kunjungan yang mengerikan ini Allah bermaksud untuk
mengajarkan suatu pelajaran yang sangat penting. Itu adalah suatu pelajaran yang
perlu untuk diucapkan bahkan pada hari / jaman ini dengan penekanan, yaitu,
kebutuhan yang ada untuk rasa takut / hormat yang terdalam dalam semua hal-hal
yang berhubungan dengan pelayanan / ibadah Ilahi, dan bahaya yang muncul dari
keakraban yang berlebihan dengan hal-hal / benda-benda keramat).
The
Biblical Illustrator (Old Testament):
“Then
it is probable that the offence of Uzzah was aggravated by the fact that he had
not sufficient reverence for the Divine command. The ark had been for seventy
years under the care of his father and family. Eleazar, who had been set apart
to take care of it, was probably dead. It may be that neither Uzzah nor Ahio his
brother had ever thought that it was important that they should be consecrated
to the work. They, presuming on their Levitical descent, may have taken upon
themselves informally the position of attendants. Constant familiarity with
it may have led them to think of it with even somewhat of contempt. It was
like a piece of useless furniture. They may have forgotten how interwoven that
ark was with religious and national life. ... Others regarded it with expectancy
and reverence, but to them it was only so much wood and gold. ... Doubtless
Uzzah had touched the ark in an over-familiar way before, and it may have been
passed over; now he does it publicly, and as evil would result from his
example, judgment follows”
(= Maka adalah mungkin bahwa pelanggaran Uza diperhebat oleh fakta bahwa ia
tidak mempunyai cukup rasa hormat / takut untuk hukum / perintah Ilahi. Tabut
itu telah untuk 70 tahun berada dibawah pemeliharaan ayah dan keluarganya.
Eleazar, yang telah mereka pisahkan untuk memelihara / memperhatikannya, mungkin
sudah mati. Adalah mungkin bahwa baik Uza maupun Ahyo saudaranya tidak pernah
memikirkan bahwa adalah penting bahwa mereka harus dikuduskan untuk pekerjaan
ini. Mereka, menganggap bahwa karena mereka adalah keturunan Lewi, boleh
mengambil bagi diri mereka sendiri dengan cara biasa posisi / kedudukan sebagai
pelayan-pelayan. Keakraban yang terus menerus dengannya bisa telah membimbing
mereka untuk berpikir tentangnya bahkan dengan agak memandang rendah. Itu
adalah seperti sepotong perabot yang tak berguna. Mereka bisa telah melupakan
betapa menyatunya tabut itu dengan kehidupan agama dan nasional. ... Orang-orang
lain memandangnya dengan pengharapan dan rasa takut / hormat, tetapi bagi mereka
itu hanyalah kayu dan emas saja. ... Tak
diragukan Uza telah menyentuh tabut dalam suatu cara yang kelewat akrab
sebelumnya, dan itu mungkin telah dibiarkan; sekarang ia melakukannya di
depan umum, dan karena kejahatan bisa dihasilkan dari teladan ini, penghakiman
menyusul).
Catatan:
1.
Bagian yang saya beri garis bawah ganda hanya merupakan suatu dugaan yang
tak berdasar.
2.
Eleazar yang dimaksudkan di sini, bukanlah anak Harun (yang namanya sama
- Kel 6:22), tetapi anak Abinadab (1Sam 7:1).
1Sam
7:1 - “Lalu orang-orang Kiryat-Yearim
datang, mereka mengangkut tabut TUHAN itu dan membawanya ke dalam rumah Abinadab
yang di atas bukit. Dan Eleazar, anaknya, mereka kuduskan untuk menjaga
tabut TUHAN itu”.
3.
Kata-kata dari kutipan di atas ini
memang sangat penting untuk diperhatikan, karena memang sangat sering terjadi.
Misalnya:
a. Karena seringnya menaikkan doa
makan, kita melakukannya dengan sembarangan, bahkan tanpa konsentrasi kepada
Tuhan.
b. Karena seringnya mengikuti
Perjamuan Kudus, lalu mengikutinya dengan sembarangan (bdk. 1Kor 11:27-31
- “(27) Jadi barangsiapa dengan cara
yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh
dan darah Tuhan. (28) Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya
sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu. (29) Karena
barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman
atas dirinya. (30) Sebab itu banyak di antara kamu yang lemah dan sakit, dan
tidak sedikit yang meninggal. (31) Kalau kita menguji diri kita sendiri, hukuman
tidak menimpa kita”).
c.
Karena seringnya mengucapkan 12 Pengakuan Iman Rasuli ataupun menaikkan
Doa Bapa Kami dalam kebaktian, lalu melakukannya dengan asal-asalan / tanpa
dijiwai!
d.
Karena seringnya mengikuti kebaktian atau acara rohani (Pemahaman
Alkitab, KKR dsb), maka kita mengikutinya dengan tidak ada rasa hormat / takut
maupun kesadaran akan hadirnya Allah sendiri dalam acara itu! Ini bisa
diwujudkan dengan bermacam-macam tindakan seperti:
·
datang terlambat.
·
ribut, berbicara, membiarkan pikiran ngelantur / ngelamun, membiarkan
anak ribut, dsb, dalam acara rohani itu.
·
menggunakan HP (baik untuk bicara atau sms) dalam acara rohani itu. Ini
dilakukan bukan hanya oleh jemaat biasa, tetapi juga oleh hamba-hamba Tuhan!
Saudara hanya boleh menggunakan HP hanya kalau HP saudara berisikan Alkitab dan
saudara menggunakan Alkitab itu dalam acara rohani itu. Untuk tidak mencobai
diri sendiri dalam penggunaan HP dalam acara rohani, atau matikanlah atau silent-kan
secara total HP saudara, dalam setiap acara rohani!
4.
Dalam acara rohani yang sifatnya insidentil, seperti KKR, Camp, dsb,
seringkali yang justru tidak tertib adalah panitianya! Mungkin karena posisi /
kedudukan sebagai panitia itu menyebabkan mereka merasa berhak untuk melakukan
apapun dalam acara rohani. Secara sama, dalam kebaktian, seringkali yang tidak
tertib adalah pendeta / majelis! Ini salah! Justru panitia / pendeta / majelis
harus memberikan teladan untuk tertib dan disiplin dalam acara rohani!
f)
Keselamatan jiwa Uza.
Adam
Clarke: “as
to Uzzah, no man can doubt of his eternal safety. He committed a sin unto death,
but doubtless the mercy of God was extended to his soul”
(= berkenaan dengan Uza, tak seorangpun bisa meragukan keselamatan kekalnya. Ia
melakukan suatu dosa pada kematian / yang membawa kematian, tetapi tak diragukan
belas kasihan Allah diperluas pada jiwanya).
Catatan:
Ini merupakan suatu tafsiran yang sama sekali tidak punya dasar Alkitab apapun!
Dan saling kontradiksi!
Anehnya,
Calvinpun (hal 250) mempunyai penafsiran yang mirip dengan penafsiran Clarke.
Hanya saja, Calvin tidak memastikan keselamatan Uza, seperti yang dilakukan
Clarke.
Bagi
saya, Allah tidak mungkin menghukum anakNya dengan hukuman mati, apalagi secara
mendadak sehingga tak memungkinkan pertobatan apapun. Kalau untuk anakNya, Ia
mengkoreksi / memperbaiki dengan memberikan hajaran.
Ibr
12:5-11 - “(5) Dan sudah lupakah kamu
akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: ‘Hai anakku,
janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau
diperingatkanNya; (6) karena Tuhan menghajar orang yang dikasihiNya, dan Ia
menyesah orang yang diakuiNya sebagai anak.’ (7) Jika kamu harus menanggung
ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang
tidak dihajar oleh ayahnya? (8) Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang
harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang.
(9) Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan
mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa
segala roh, supaya kita boleh hidup? (10) Sebab mereka mendidik kita dalam waktu
yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar
kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusanNya.
(11) Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan
sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran
yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya”.
Tetapi
dengan memberikan hukuman mati, apalagi secara mendadak, perbaikan apa yang bisa
dihasilkan dalam diri orang yang dihukum / dihajar itu?
Kasus
hukuman mati terhadap Eli (1Sam 2:27-36; 4:16-18), menurut saya merupakan
sesuatu yang berbeda, karena hukuman mati itu tidak diberikan dengan mendadak,
tetapi ada pemberitahuan sebelumnya, sehingga memungkinkan ia untuk bertobat.
Jadi,
berbeda dengan Calvin dan Clarke, saya berpendapat bahwa hukuman mati yang
mendadak terhadap Uza menunjukkan bahwa ia bukan anak Tuhan, dan itu menunjukkan
bahwa ia tidak selamat.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali