Kebaktian
(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)
Minggu, tgl 30 Januari 2011, pk 17.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
III) Situasi / perkembangan dalam kalangan Isyboset / Abner.
Ay 6-11: “(6) Selama ada peperangan antara keluarga Saul dan keluarga Daud, maka Abner makin mendapat pengaruh di antara keluarga Saul. (7) Saul mempunyai gundik yang bernama Rizpa; dia anak perempuan Aya. Berkatalah Isyboset kepada Abner: ‘Mengapa kauhampiri gundik ayahku?’ (8) Lalu sangat marahlah Abner karena perkataan Isyboset itu, katanya: ‘Kepala anjing dari Yehudakah aku? Sampai sekarang aku masih menunjukkan kesetiaanku kepada keluarga Saul, ayahmu, kepada saudara-saudaranya dan kepada sahabat-sahabatnya, dan aku tidak membiarkan engkau jatuh ke tangan Daud, tetapi sekarang engkau menuduh aku berlaku salah dengan seorang perempuan? (9) Kiranya Allah menghukum Abner, bahkan lebih lagi dari pada itu, jika tidak kulakukan kepada Daud seperti yang dijanjikan TUHAN dengan bersumpah kepadanya, (10) yakni memindahkan kerajaan dari keluarga Saul dan mendirikan takhta kerajaan Daud atas Israel dan atas Yehuda, dari Dan sampai Bersyeba.’ (11) Dan Isyboset tidak dapat lagi menjawab sepatah katapun kepada Abner, karena takutnya kepadanya.”.
1) Abner memperkuat dirinya sendiri dalam keluarga Saul.
Ay 6: “Selama ada peperangan antara keluarga Saul dan keluarga Daud, maka Abner makin mendapat pengaruh di antara keluarga Saul”.
Bagian yang saya garis-bawahi itu salah terjemahan.
KJV: ‘Abner made himself strong for the house of Saul’ (= Abner membuat dirinya sendiri kuat bagi keluarga Saul). Terjemahan ini rasanya bukan hanya salah tetapi juga tidak masuk akal.
RSV: ‘Abner was making himself strong in the house of Saul’ (= Abner membuat dirinya sendiri kuat dalam keluarga Saul).
NIV/NASB ≈ RSV.
Seorang jendral, yang dalam suatu kerajaan memperkuat dirinya sendiri dan bukannya memperkuat rajanya, jelas sudah merupakan seorang pengkhianat! Hal seperti ini bisa terjadi dalam suatu negara, suatu perusahaan, dan ... suatu gereja!
2) Isyboset menuduh Abner menghampiri / berhubungan sex dengan gundik ayahnya (Saul), dan ini menyebabkan Abner sangat marah.
Ay 7: “Saul mempunyai gundik yang bernama Rizpa; dia anak perempuan Aya. Berkatalah Isyboset kepada Abner: ‘Mengapa kauhampiri gundik ayahku?’”.
a) Sebetulnya tidak jelas apakah tuduhan ini benar atau tidak, dan textnya juga tidak mengatakan apa-apa tentang dasar / alasan yang menyebabkan Isyboset menuduh seperti itu.
Jamieson, Fausset & Brown: “It is not clear whether the accusation against Abner was well founded or ill founded; but he resented the charge as an indignity” (= Tidak jelas apakah tuduhan terhadap Abner mempunyai dasar yang bagus atau buruk; tetapi ia menganggap tuduhan itu sebagai suatu penghinaan).
Catatan: Calvin menganggap tuduhan itu benar.
b) Kalau tuduhan itu benar, itu bisa merupakan bukti bahwa Abner memang berniat merampas makhkota.
Jamieson, Fausset & Brown: “In the East the wives and concubines of a king are the property of his successor to this extent, that for a private person to aspire to marry one of them would be considered a virtual advance of pretensions to the crown” (= Di Timur istri-istri dan gundik-gundik dari seorang raja adalah milik dari penggantinya sampai pada tingkat ini, bahwa bagi seorang pribadi yang menginginkan untuk menikahi salah seorang dari mereka akan dianggap sebagai kemajuan sesungguhnya dari keinginan pada makhkota).
Adam Clarke: “‘Abner made himself strong.’ This strengthening of himself, and going in to the late king’s concubine, were most evident proofs that he wished to seize the government. See 1 Kings 2:21-22; 12:8; 16:21” (= ‘Abner membuat dirinya sendiri kuat’. Penguatan diri sendiri ini, dan masuknya ia kepada gundik dari almarhum sang raja, merupakan bukti-bukti yang paling jelas bahwa ia ingin merampas pemerintahan. Lihat 1Raja 2:21-22; 12:8; 16:21).
Catatan: 12:8 dan 16:21 maksudnya dari kitab 2Samuel, bukan dari 1Raja-raja.
1Raja 2:13-22 - “(13) Pada suatu hari Adonia, anak Hagit, masuk menghadap Batsyeba, ibu Salomo, lalu perempuan itu berkata: ‘Apakah engkau datang dengan maksud damai?’ Jawabnya: ‘Ya, damai!’ (14) Kemudian katanya: ‘Ada sesuatu yang hendak kukatakan kepadamu.’ Jawab perempuan itu: ‘Katakanlah!’ (15) Lalu katanya: ‘Engkau sendiri tahu bahwa akulah yang berhak atas kedudukan raja, dan bahwa seluruh Israel mengharapkan, supaya aku menjadi raja; tetapi sebaliknya kedudukan raja jatuh kepada adikku, sebab dari Tuhanlah ia mendapatnya. (16) Dan sekarang, satu permintaan saja kusampaikan kepadamu; janganlah tolak permintaanku.’ Jawab perempuan itu kepadanya: ‘Katakanlah!’ (17) Maka katanya: ‘Bicarakanlah kiranya dengan raja Salomo, sebab ia tidak akan menolak permintaanmu, supaya Abisag, gadis Sunem itu, diberikannya kepadaku menjadi isteriku.’ (18) Jawab Batsyeba: ‘Baik, aku akan membicarakan hal itu untuk engkau dengan raja.’ (19) Batsyeba masuk menghadap raja Salomo untuk membicarakan hal itu untuk Adonia, lalu bangkitlah raja mendapatkannya serta tunduk menyembah kepadanya; kemudian duduklah ia di atas takhtanya dan ia menyuruh meletakkan kursi untuk bunda raja, lalu perempuan itu duduk di sebelah kanannya. (20) Berkatalah perempuan itu: ‘Suatu permintaan kecil saja yang kusampaikan kepadamu, janganlah tolak permintaanku.’ Jawab raja kepadanya: ‘Mintalah, ya ibu, sebab aku tidak akan menolak permintaanmu.’ (21) Kata perempuan itu: ‘Biarlah Abisag, gadis Sunem itu, diberikan kepada kakakmu Adonia menjadi isterinya.’ (22) Tetapi raja Salomo menjawab ibunya: ‘Mengapa engkau meminta hanya Abisag, gadis Sunem itu, untuk Adonia? Minta jugalah untuknya kedudukan raja! Bukankah dia saudaraku yang lebih tua, dan di pihaknya ada imam Abyatar dan Yoab, anak Zeruya?’ (23) Lalu bersumpahlah raja Salomo demi TUHAN: ‘Beginilah kiranya Allah menghukum aku, bahkan lebih dari pada itu, jika Adonia tidak membayarkan nyawanya dengan permintaan ini! (24) Oleh sebab itu, demi TUHAN yang hidup, yang menegakkan aku dan mendudukkan aku di atas takhta Daud, ayahku, dan yang membuat bagiku suatu keluarga seperti yang dijanjikanNya: pada hari ini juga Adonia harus dibunuh.’ (25) Lalu raja Salomo menyerahkan hal itu kepada Benaya bin Yoyada; orang ini memancung dia sehingga mati”.
Siapakah Abisag itu? Bdk. 1Raja 1:1-4 - “(1) Raja Daud telah tua dan lanjut umurnya, dan biarpun ia diselimuti, badannya tetap dingin. (2) Lalu para pegawainya berkata kepadanya: ‘Hendaklah dicari bagi tuanku raja seorang perawan yang muda, untuk melayani dan merawat raja; biarlah ia berbaring di pangkuanmu, sehingga badan tuanku raja menjadi panas.’ (3) Maka di seluruh daerah Israel dicarilah seorang gadis yang cantik, dan didapatlah Abisag, gadis Sunem, lalu dibawa kepada raja. (4) Gadis itu amat cantik, dan ia menjadi perawat raja dan melayani dia, tetapi raja tidak bersetubuh dengan dia”.
Jamieson, Fausset & Brown (tentang 1Raja 1:1): “it is evident that Abishag was made a concubine or secondary wife to David” (= adalah jelas bahwa Abisag dijadikan seorang selir / gundik atau istri sekunder bagi Daud).
2Sam 12:8 - “Telah Kuberikan isi rumah tuanmu kepadamu, dan isteri-isteri tuanmu ke dalam pangkuanmu. Aku telah memberikan kepadamu kaum Israel dan Yehuda; dan seandainya itu belum cukup, tentu Kutambah lagi ini dan itu kepadamu”.
2Sam 16:21-22 - “(21) Lalu jawab Ahitofel kepada Absalom: ‘Hampirilah gundik-gundik ayahmu yang ditinggalkannya untuk menunggui istana. Apabila seluruh Israel mendengar, bahwa engkau telah membuat dirimu dibenci oleh ayahmu, maka segala orang yang menyertai engkau, akan dikuatkan hatinya.’ (22) Maka dibentangkanlah kemah bagi Absalom di atas sotoh, lalu Absalom menghampiri gundik-gundik ayahnya di depan mata seluruh Israel”.
3) Abner menjadi begitu marah sehingga ia menyatakan untuk berpindah ke pihak Daud.
Ay 8-10: “(8) Lalu sangat marahlah Abner karena perkataan Isyboset itu, katanya: ‘Kepala anjing dari Yehudakah aku? Sampai sekarang aku masih menunjukkan kesetiaanku kepada keluarga Saul, ayahmu, kepada saudara-saudaranya dan kepada sahabat-sahabatnya, dan aku tidak membiarkan engkau jatuh ke tangan Daud, tetapi sekarang engkau menuduh aku berlaku salah dengan seorang perempuan? (9) Kiranya Allah menghukum Abner, bahkan lebih lagi dari pada itu, jika tidak kulakukan kepada Daud seperti yang dijanjikan TUHAN dengan bersumpah kepadanya, (10) yakni memindahkan kerajaan dari keluarga Saul dan mendirikan takhta kerajaan Daud atas Israel dan atas Yehuda, dari Dan sampai Bersyeba.’”.
Ada beberapa komentar / penafsiran tentang kemarahan dan ‘kemurtadan’ Abner ini.
a) Keil & Delitzsch mengatakan bahwa mula-mula mungkin sekali Abner berusaha untuk mempertahankan / mendapatkan takhta Israel, tetapi makin lama ia makin melihat bahwa keluarga Saul tidak mungkin mempertahankan pemerintahan dalam oposisi terhadap Daud. Ini telah membimbing dia pada ketetapan hatinya untuk membujuk seluruh Israel untuk mengakui Daud, dan ini memastikan dirinya untuk mendapat kedudukan dalam pemerintahan Daud tersebut. Kelihatannya inilah yang menyebabkan Abner begitu mudah untuk murtad dari Isyboset dan pindah ke pihak Daud.
b) Apakah Abner memang bersalah, atau Isyboset yang menegur secara ngawur dan bodoh, kita tidak bisa memastikan. Tetapi ada satu yang pasti, yaitu bahwa Allah bisa menggunakan dosa ataupun kebodohan manusia untuk melaksanakan rencanaNya, yaitu menjadikan Daud raja atas seluruh Israel.
Matthew Henry: “Abner breaks with Ish-bosheth, and deserts his interest, upon a little provocation which Ish-bosheth unadvisedly gave him. God can serve his own purposes by the sins and follies of men” (= Abner memutuskan hubungan dengan Isyboset, dan meninggalkan kepentingannya, karena suatu provokasi kecil yang diberikan Isyboset kepadanya tanpa dipikir lebih dulu. Allah bisa menjalankan rencanaNya sendiri oleh dosa-dosa dan kebodohan-kebodohan dari manusia).
c) Matthew Henry menduga bahwa Abner memang salah. Tetapi lalu mengapa Ia marah seperti itu pada waktu ditegur?
Matthew Henry: “Abner resented the charge very strongly. Whether he was guilty of the fault concerning this woman or no he does not say (v. 8), but we suspect he was guilty, for he does not expressly deny it; and, though he was, he lets Ish-bosheth know, (1.) That he scorned to be reproached with it by him, and would not take reproof at his hands. ... Proud men will not bear to be reproved, especially by those whom they think they have obliged. (2.) That he would certainly be revenged on him, v. 9,10. With the utmost degree of arrogance and insolence he lets him know that, as he had raised him up, so he could pull him down again and would do it” [= Abner marah / merasa sangat tersinggung karena tuduhan itu. Apakah ia bersalah tentang kesalahan berkenaan dengan perempuan ini ia tidak mengatakan (ay 8), tetapi kami mencurigai ia bersalah, karena ia tidak menyangkalnya secara explicit; dan, sekalipun ia bersalah, ia membuat Isyboset tahu, 1. Bahwa ia menolak untuk dicela tentang hal itu olehnya, dan tidak mau menerima teguran / celaan darinya. ... Orang-orang sombong tidak tahan untuk ditegur / dicela, khususnya oleh mereka yang mereka anggap telah mereka bantu. 2. Bahwa ia pasti akan dibalas olehnya, ay 9-10. Dengan tingkat kesombongan dan kekurang-ajaran tertinggi ia membuatnya tahu bahwa sebagaimana ia telah meninggikannya, demikian juga ia bisa menurunkannya lagi, dan ia akan melakukannya].
Penerapan: jangan jadi orang yang tidak mau ditegur.
Amsal 12:1 - “Siapa mencintai didikan, mencintai pengetahuan; tetapi siapa membenci teguran, adalah dungu”.
Amsal 15:5 - “Orang bodoh menolak didikan ayahnya, tetapi siapa mengindahkan teguran adalah bijak”.
Amsal 15:10 - “Didikan yang keras adalah bagi orang yang meninggalkan jalan yang benar, dan siapa benci kepada teguran akan mati”.
Amsal 15:12 - “Si pencemooh tidak suka ditegur orang; ia tidak mau pergi kepada orang bijak”.
Amsal 1:24-28 - “(24) Oleh karena kamu menolak ketika aku memanggil, dan tidak ada orang yang menghiraukan ketika aku mengulurkan tanganku, (25) bahkan, kamu mengabaikan nasihatku, dan tidak mau menerima teguranku, (26) maka aku juga akan menertawakan celakamu; aku akan berolok-olok, apabila kedahsyatan datang ke atasmu, (27) apabila kedahsyatan datang ke atasmu seperti badai, dan celaka melanda kamu seperti angin puyuh, apabila kesukaran dan kecemasan datang menimpa kamu. (28) Pada waktu itu mereka akan berseru kepadaku, tetapi tidak akan kujawab, mereka akan bertekun mencari aku, tetapi tidak akan menemukan aku”.
d) Pindahnya Abner ke pihak Daud.
Ay 9-10: “(9) Kiranya Allah menghukum Abner, bahkan lebih lagi dari pada itu, jika tidak kulakukan kepada Daud seperti yang dijanjikan TUHAN dengan bersumpah kepadanya, (10) yakni memindahkan kerajaan dari keluarga Saul dan mendirikan takhta kerajaan Daud atas Israel dan atas Yehuda, dari Dan sampai Bersyeba.’”.
Ada 2 hal yang terlihat jelas dalam kata-kata Abner ini. Pertama adalah kesombongannya, yang menganggap dirinya mampu memindahkan takhta dari keluarga Saul kepada Daud, dan kedua adalah ‘pertobatan’nya yang memuakkan!
1. Kesombongannya.
Berbeda dengan apa yang nyatakan secara sombong, sebetulnya Abner sama sekali tidak mempunyai kuasa untuk memindahkan kerajaan dari keluarga Saul kepada Daud. Hanya Tuhan yang mempunyai kuasa seperti itu!
Maz 75:5-8 - “(5) Aku berkata kepada pembual-pembual: ‘Jangan membual.’ Dan kepada orang-orang fasik: ‘Jangan meninggikan tanduk! (6) Jangan mengangkat tandukmu tinggi-tinggi, jangan berbicara dengan bertegang leher!’ (7) Sebab bukan dari timur atau dari barat dan bukan dari padang gurun datangnya peninggian itu, (8) tetapi Allah adalah Hakim: direndahkanNya yang satu dan ditinggikanNya yang lain”.
Calvin (tentang Maz 75:7): “he teaches us that promotion or advancement proceeds not from the earth but from God alone. ... it is God alone who has the power to exalt and to abase. ... although many attain to exalted stations either by unlawful arts, or by the aid of worldly instrumentality, yet that does not happen by chance; such persons being advanced to their elevated position by the secret purpose of God, that forthwith he may scatter them like refuse or chaff. ... The prophet does not simply attribute judgment to God. He also defines what kind of judgment it is, affirming it to consist in this, that, casting down one man and elevating another to dignity, he orders the affairs of the human race as seemeth good in his sight. I have stated that the consideration of this is the means by which haughty spirits are most effectually humbled; for the reason why worldly men have the daring to attempt whatever comes into their minds is, because they conceive of God as shut up in heaven, and think not that they are kept under restraint by his secret providence” (= ia mengajar kita bahwa kenaikan pangkat atau kemajuan keluar bukan dari bumi tetapi dari Allah saja. ... adalah Allah saja yang mempunyai kuasa untuk meninggikan dan untuk merendahkan. ... sekalipun banyak orang mencapai posisi yang tinggi / mulia atau dengan keahlian / trik yang tidak sah, atau bantuan dari alat duniawi, tetapi itu tidak terjadi secara kebetulan; orang-orang seperti itu dimajukan ke posisi tinggi / mulia mereka oleh rencana rahasia dari Allah, supaya dengan segera Ia bisa menyebarkan mereka seperti sampah atau sekam. ... Sang nabi tidak hanya menghubungkan penghakiman kepada Allah. Ia juga mendefinisikan jenis penghakiman apa itu, dengan menegaskan bahwa itu terdiri dari hal ini, bahwa, dengan menurunkan seseorang dan meninggikan yang lain pada martabat, Ia mengatur urusan dari umat manusia sebagaimana yang baik dalam pandanganNya. Saya telah menyatakan bahwa pertimbangan tentang ini adalah cara dengan mana roh-roh yang sombong direndahkan secara efektif; karena alasan mengapa orang-orang duniawi mempunyai keberanian untuk mengusahakan apapun yang datang pada pikiran mereka adalah, karena mereka mengkhayalkan Allah sebagai terkurung di surga, dan tidak berpikir bahwa mereka dijaga di bawah kekang oleh Providensia rahasiaNya).
Ini berlaku juga dalam sebuah gereja. Hanya Allah yang bisa menumbuhkan gereja, baik dalam kwalitas maupun kwantitas.
1Kor 3:6 - “Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan”.
Yoh 3:26-27 - “(26) Lalu mereka datang kepada Yohanes dan berkata kepadanya: ‘Rabi, orang yang bersama dengan engkau di seberang sungai Yordan dan yang tentang Dia engkau telah memberi kesaksian, Dia membaptis juga dan semua orang pergi kepadaNya.’ (27) Jawab Yohanes: ‘Tidak ada seorangpun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari sorga”.
2. ‘Pertobatan’nya.
Abner ‘bertobat’, dalam arti berpindah pihak dari Isyboset kepada Daud, dengan motivasi yang sama sekali salah, yaitu untuk membalas dendam kepada Isyboset, yang telah menegurnya! Sekarang, secara mendadak, ia kelihatan sebagai orang yang rohani, karena ia bicara tentang janji / sumpah Tuhan kepada Daud dan sebagainya!
Ay 9-10: “(9) Kiranya Allah menghukum Abner, bahkan lebih lagi dari pada itu, jika tidak kulakukan kepada Daud seperti yang dijanjikan TUHAN dengan bersumpah kepadanya, (10) yakni memindahkan kerajaan dari keluarga Saul dan mendirikan takhta kerajaan Daud atas Israel dan atas Yehuda, dari Dan sampai Bersyeba.’”.
Adam Clarke: “‘Except, as the Lord hath sworn to David.’ And why did he not do this before, when he knew that God had given the kingdom to David?” (= ‘Kecuali, karena Tuhan telah bersumpah kepada Daud’. Dan mengapa ia tidak melakukan ini sebelumnya, pada waktu ia tahu bahwa Allah telah memberikan kerajaan itu kepada Daud?).
Catatan: potongan ay 9 diambil dari KJV.
Pulpit Commentary: “His altered purposes. The change, although right and good in itself, was due to a passionate impulse and probably the desire of personal advantage; and, in its announcement, Abner betrayed his previous ungodliness and present hypocrisy. ‘Alas! how eloquently can hypocrites employ the Name of God, and take the sanction of religion, when by such means they think to advance their present interests!’ (Lindsay)” [= Ia mengubah rencana / tujuan. Perubahan itu, sekalipun benar dan baik dalam dirinya sendiri, disebabkan oleh dorongan hati yang bernafsu dan mungkin dari keuntungan pribadi; dan, dalam pengumumannya, Abner menyingkapkan kejahatan pada masa lalunya dan kemunafikannya pada saat ini. ‘Ah, betapa dengan fasihnya orang-orang munafik bisa menggunakan Nama Allah, dan mengambil dukungan agama, pada waktu dengan cara seperti itu mereka berpikir untuk memajukan kepentingan mereka saat ini’ (Lindsay)].
Pulpit Commentary: “His worldly ambition and carnal selfishness. This was probably the main, if not the only, motive of his opposition to the Divine purpose; and to it Ishbesheth evidently attributed the conduct with which he charged him, regarding his act as an assertion of royal rights (ver. 7). His pride and self-esteem are also apparent in his haughty answer (ver. 8). ‘Ambition’s like a circle on the water, Which never ceases to enlarge itself, Till by broad spreading it disperse to nought.’” [= Ambisi duniawinya dan keegoisan dagingnya. Ini mungkin adalah motivasi utama, kalau bukannya satu-satunya motivasi, dari oposisinya terhadap rencana Ilahi; dan jelas Isyboset menghubungkan dengan ambisi itu tingkah laku dengan mana ia menuduhnya, berkenaan dengan tindakannya sebagai suatu tuntutan dari hak-hak kerajaan (ay 7). Kesombongannya dan penghargaan yang tinggi terhadap dirinya sendiri jelas juga terlihat dari jawabannya yang sombong (ay 8). ‘Ambisi adalah seperti suatu lingkaran di air, Yang tidak pernah berhenti untuk memperbesar dirinya sendiri, Sampai oleh penyebarannya yang melebar ia bubar menjadi nol’.].
Pulpit Commentary: “and then took an oath to avenge the insult by translating the kingdom to David, ‘as the Lord had sworn’ to him (vers. 9, 10). ‘This was Abner’s arrogancy to boast such great things of himself, as if he had carried a king in his pocket, ... ‘No man ever heard Abner godly till now; neither had he been so at this time if he had not intended a revengeful departure from Ishbosheth. Nothing is more odious than to make religion a stalking horse to policy’ (Hall)” [= dan lalu bersumpah untuk membalas dengan memindahkan kerajaan kepada Daud, ‘seperti Tuhan telah bersumpah’ kepadanya (ay 9,10). ‘Ini merupakan kesombongan Abner untuk membanggakan hal-hal yang begitu besar tentang dirinya sendiri, seakan-akan ia telah membawa seorang raja dalam kantongnya, ... “Tak ada orang pernah mendengar ‘kesalehan’ Abner sampai sekarang; ia tidak akan seperti itu saat ini seandainya ia tidak bermaksud untuk meninggalkan Isyboset sebagai tindakan balas dendam. Tidak ada yang lebih menjijikkan dari pada membuat agama sebagai suatu kepura-puraan / penyamaran pada politik” (Hall)].
Matthew Henry: “He knew that God had sworn to David to give him the kingdom, and yet opposed it with all his might from a principle of ambition; but now he complies with it from a principle of revenge, under colour of some regard to the will of God, which was but a pretence. Those that are slaves to their lusts have many masters, which drive, some one way and some another, ... Abner’s ambition made him zealous for Ish-bosheth, and now his revenge made him as zealous for David. If he had sincerely regarded God’s promise to David, and acted with an eye to that, he would have been steady and uniform in his counsels, and acted in consistency with himself. But, while Abner serves his own lusts, God by him serves his own purposes, makes even his wrath and revenge to praise him, and ordains strength to David by it” (= Ia tahu bahwa Allah telah bersumpah kepada Daud untuk memberikan kerajaan itu kepadanya, tetapi ia menentangnya dengan sekuat tenaganya dengan dasar ambisi; tetapi sekarang ia menurutinya dengan dasar balas dendam, di bawah warna / kepura-puraan dari penghormatan kepada kehendak Allah, yang hanyalah merupakan suatu kepura-puraan. Mereka yang adalah budak dari nafsu-nafsu mereka sendiri mempunyai banyak tuan, yang menggerakkan / mendorong, sebagian ke jalan yang satu dan sebagian ke jalan yang lain, ... Ambisi Abner membuatnya bersemangat untuk Isyboset, dan sekarang dendamnya membuatnya bersemangat untuk Daud. Seandainya ia dengan tulus / sungguh-sungguh telah menghormati janji Allah kepada Daud, dan bertindak dengan hanya memandang pada hal itu, ia akan tetap dan sama dalam rencananya, dan bertindak dalam kekonsistenan dengan dirinya sendiri. Tetapi, sementara Abner melayani / melaksanakan nafsunya sendiri, Allah olehnya melaksanakan rencanaNya sendiri, membuat bahkan kemurkaan dan dendamnya untuk memuji Dia, dan menentukan kekuatan bagi Daud olehnya).
4) Isyboset tak berani menjawab saking takutnya kepada Abner.
Ay 11: “Dan Isyboset tidak dapat lagi menjawab sepatah katapun kepada Abner, karena takutnya kepadanya”.
Adam Clarke: “‘He could not answer Abner a word.’ Miserable is the lot of a king who is governed by the general of his army, who may strip him of his power and dignity whenever he pleases!” (= ‘Ia tidak bisa menjawab satu katapun kepada Abner’. Menyedihkan nasib seorang raja yang diperintah / dikuasai oleh jendral dari pasukannya, yang bisa melucutinya dari kuasanya dan kewibawaannya kapanpun ia inginkan!).
Penerapan: ada pendeta yang sharing kepada saya kalau dia tidak berani pada waktu menghadapi ‘atasan’ di gereja, dan selalu tunduk kepada atasan sekalipun ia yang benar. Saya berkata kepada dia: barang siapa mau menyelamatkan nyawanya akan kehilangan nyawanya!
Orang yang takut kepada manusia tidak takut kepada Allah, dan orang yang takut kepada Allah tidak takut kepada manusia.
Bdk. Mat 10:28 - “Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka”.
Bdk. Yes 51:12-13 - “(12) Akulah, Akulah yang menghibur kamu. Siapakah engkau maka engkau takut terhadap manusia yang memang akan mati, terhadap anak manusia yang dibuang seperti rumput, (13) sehingga engkau melupakan TUHAN yang menjadikan engkau, yang membentangkan langit dan meletakkan dasar bumi, sehingga engkau terus gentar sepanjang hari terhadap kepanasan amarah orang penganiaya, apabila ia bersiap-siap memusnahkan? Di manakah gerangan kepanasan amarah orang penganiaya itu?”.
Matthew Henry (tentang Yes 51:12): “The absurdity of those fears. It is a disparagement to us to give way to them: ‘Who art thou, that thou shouldst be afraid?’ In the original, the pronoun is feminine, ‘Who art thou, O woman’! unworthy the name of a man? Such a weak and womanish thing it is to give way to perplexing fears” (= Menggelikannya rasa takut itu. Merupakan suatu penghinaan / peremehan bagi kita untuk menyerah kepada rasa takut itu: ‘Siapakah engkau, maka engkau takut?’. Dalam bahasa aslinya, kata ganti orangnya ada dalam bentuk perempuan / feminine, ‘Siapa engkau, hai perempuan’? tak layak untuk sebutan dari seorang laki-laki? Merupakan suatu hal yang lemah dan kewanitaan untuk menyerah pada rasa takut yang membingungkan).
Barnes’ Notes (tentang Yes 51:12): “The word ‘I’ is repeated here to give emphasis to the passage, and to impress deeply upon them the fact that their consolation came alone from God. The argument is, that since God was their protector and friend, they had no occasion to fear anything that man could do” (= Kata ‘Aku’ diulang di sini untuk memberikan penekanan bagi text ini, dan untuk memberikan kesan yang mendalam kepada mereka fakta bahwa penghiburan mereka datang hanya dari Allah. Argumentasinya adalah, bahwa karena Allah adalah pelindung dan sahabat mereka, mereka tidak mempunyai alasan untuk takut pada apapun yang manusia bisa lakukan).
Kesimpulan: bertentangan dengan sikon dalam kalangan Daud, yang sekalipun ada dosa tetapi tetap ada ketenteraman, maka dalam kalangan Isyboset betul-betul ada kekacauan yang luar biasa dan bahkan perpecahan.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali