Kebaktian

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Jl. Dinoyo 19b, lantai 3)

 

Minggu, tgl 18 Juli 2010, pk 17.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

[email protected]

 

II SAMUEL 2:1-3:1(4)

 

2Sam 2:1-3:1 - “(1) Kemudian bertanyalah Daud kepada TUHAN, katanya: ‘Apakah aku harus pergi ke salah satu kota di Yehuda?’ Firman TUHAN kepadanya: ‘Pergilah.’ Lalu kata Daud: ‘Ke mana aku pergi?’ FirmanNya: ‘Ke Hebron.’ (2) Lalu pergilah Daud ke sana dengan kedua isterinya: Ahinoam, perempuan Yizreel, dan Abigail, bekas isteri Nabal, orang Karmel itu. (3) Juga Daud membawa serta orang-orangnya yang mengiringinya masing-masing dengan rumah tangganya, dan menetaplah mereka di kota-kota Hebron. (4) Kemudian datanglah orang-orang Yehuda, lalu mengurapi Daud di sana menjadi raja atas kaum Yehuda. Ketika kepada Daud diberitahukan bahwa orang-orang Yabesh-Gilead menguburkan Saul, (5) maka Daud mengirim orang kepada orang-orang Yabesh-Gilead dengan pesan: ‘Diberkatilah kamu oleh TUHAN, karena kamu telah menunjukkan kasihmu kepada tuanmu, Saul, dengan menguburkannya. (6) Oleh sebab itu, TUHAN kiranya menunjukkan kasih dan setiaNya kepadamu. Akupun akan berbuat kebaikan yang sama kepadamu, karena kamu telah melakukan hal yang demikian. (7) Kuatkanlah hatimu sekarang dan jadilah orang-orang yang gagah perkasa, sekalipun tuanmu Saul sudah mati; dan aku telah diurapi oleh kaum Yehuda menjadi raja atas mereka.’ (8) Abner bin Ner, panglima Saul, telah mengambil Isyboset, anak Saul, dan membawanya ke Mahanaim (9) serta menjadikannya raja atas Gilead, atas orang Asyuri, atas Yizreel, atas Efraim dan atas Benyamin, bahkan atas seluruh Israel. (10) Isyboset bin Saul berumur empat puluh tahun pada waktu ia menjadi raja atas Israel dan ia memerintah dua tahun lamanya. Hanyalah kaum Yehuda yang mengikuti Daud. (11) Dan lamanya Daud memerintah di Hebron atas kaum Yehuda adalah tujuh tahun dan enam bulan. (12) Lalu Abner bin Ner dengan anak buah Isyboset bin Saul bergerak maju dari Mahanaim ke Gibeon. (13) Juga Yoab, anak Zeruya, dan anak buah Daud bergerak maju. Mereka saling bertemu di telaga Gibeon, lalu tinggal di sana, pihak yang satu di tepi telaga sebelah sini, dan pihak yang lain di tepi telaga sebelah sana. (14) Berkatalah Abner kepada Yoab: ‘Biarlah orang-orang muda tampil dan mengadakan pertandingan di depan kita.’ Jawab Yoab: ‘Baik.’ (15) Lalu tampillah mereka dan berjalan lewat dengan dihitung: dua belas orang dari suku Benyamin, dari Isyboset, anak Saul, dan dua belas orang dari anak buah Daud. (16) Kemudian mereka masing-masing menangkap kepala lawannya, dan menikamkan pedangnya ke lambung lawannya, sehingga rebahlah mereka bersama-sama. Sebab itu tempat itu disebutkan orang Helkat-Hazurim; letaknya dekat Gibeon. (17) Pada hari itu pertempuran sangat hebat, dan Abner serta orang-orang Israel terpukul kalah oleh anak buah Daud. (18) Ketiga anak laki-laki Zeruya, yakni Yoab, Abisai dan Asael ada di sana; Asael cepat larinya seperti kijang di padang. (19) Asael mengejar Abner dan tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dalam membuntutinya. (20) Lalu Abner berpaling ke belakang dan bertanya: ‘Engkaukah itu Asael?’ Jawabnya: ‘Ya, aku.’ (21) Kemudian berkatalah Abner kepadanya: ‘Menyimpanglah ke kiri atau ke kanan, tangkaplah salah seorang dari orang-orang muda itu dan ambillah senjatanya.’ Tetapi Asael tidak mau berhenti membuntuti Abner. (22) Berkatalah sekali lagi Abner kepada Asael: ‘Berhentilah membuntuti aku. Apa aku harus memukul engkau sampai jatuh? Bagaimana aku dapat memandang muka Yoab, abangmu itu?’ (23) Tetapi Asael menolak berhenti. Lalu Abner menusuk ke belakang ke perut Asael dengan tombaknya, sehingga tombak itu menembus belakangnya; dan rebahlah ia di sana dan mati di tempat itu juga. Semua orang yang datang ke tempat Asael rebah dan mati itu, berhenti di sana. (24) Tetapi Yoab dan Abisai mengejar Abner. Ketika matahari masuk dan mereka sampai ke dekat bukit Ama, yang ada di sebelah timur Giah, ke arah padang gurun Gibeon, (25) berhimpunlah bani Benyamin di belakang Abner menjadi satu gabungan dan bersiap-siap di puncak sebuah bukit. (26) Berserulah Abner kepada Yoab: ‘Haruskah pedang makan terus-menerus? Tidak tahukah engkau, bahwa kepahitan datang pada akhirnya? Berapa lama lagi engkau tidak mau mengatakan kepada rakyat itu, supaya mereka berhenti memburu saudara-saudaranya?’ (27) Jawab Yoab: ‘Demi Allah yang hidup, sekiranya engkau berbicara tadi, maka tentulah sudah dari tadi pagi rakyat menarik diri dari memburu saudara-saudaranya.’ (28) Lalu Yoab meniup sangkakala dan seluruh rakyat berhenti; mereka tidak lagi mengejar orang Israel dan tidak berperang lagi. (29) Semalam-malaman Abner dan orang-orangnya berjalan melalui Araba-Yordan, menyeberangi sungai Yordan, berjalan terus hampir sepanjang siang, lalu sampai ke Mahanaim. (30) Ketika Yoab berhenti memburu Abner dan menghimpunkan seluruh rakyat, ternyata sembilan belas orang dari anak buah Daud hilang termasuk Asael. (31) Tetapi anak buah Daud menewaskan dari suku Benyamin, dari orang-orang Abner, tiga ratus enam puluh orang. (32) Mereka mengangkat mayat Asael dan menguburkannya di dalam kubur ayahnya yang di Betlehem. Kemudian berjalanlah Yoab dan orang-orangnya semalam-malaman itu dan sampai ke Hebron, ketika hari sudah terang. (3:1) Peperangan antara keluarga Saul dan keluarga Daud berlarut-larut; Daud kian lama kian kuat, sedang keluarga Saul kian lama kian lemah”.

 

d)         Kematian Asael (ay 18-23).

 

1.   Asael termasuk salah satu dari 30 pahlawan.

2Sam 23:22-24 - “(22) Itulah yang diperbuat Benaya bin Yoyada; ia mendapat nama di antara ketiga puluh pahlawan itu. (23) Di antara ketiga puluh orang itu ia paling dihormati, tetapi ia tidak dapat menyamai triwira. Dan Daud mengangkat dia mengepalai pengawalnya. (24) Asael, saudara Yoab, ada di antara ketiga puluh orang itu; selanjutnya Elhanan bin Dodo, dari Betlehem”.

 

2.   Kematian dan penguburan Asael.

Asael nekad dan cepat larinya, tetapi kemampuan berkelahinya kalau dibandingkan dengan Abner, sehingga ia justru mati dibunuh Abner dalam perkelahian itu.

 

a.         Mungkin Asael mempunyai motivasi yang salah dalam mengejar Abner.

Pulpit Commentary: “Actuated by an unwise ambition. ‘And Asahel pursued after Abner,’ etc. (ver. 19). He sought to take him prisoner or put him to death, and so end the conflict; and doubtless, also, to display his own superior speed and strength, and obtain the glory of the achievement. He was on the right side, and, considering the circumstances of the case, there was something laudable in his attempt. But it is possible, even in connection with the kingdom of God, to entertain an improper desire of worldly honour and power (Matt 20:20-23). Those who do so generally set an inordinate value upon the object at which they aim, exhibit an undue confidence in their own abilities, depreciate the difficulties of its attainment, and expose themselves to great risk and peril” [= Digerakkan oleh ambisi yang tidak bijaksana. ‘Dan Asael mengejar Abner’, dsb. (ay 19). Ia berusaha untuk menangkap dia atau membunuhnya, dan dengan demikian mengakhiri pertempuran itu; dan juga tak diragukan, untuk menunjukkan kelebihannya dalam kecepatan dan kekuatan, dan untuk mendapatkan kemuliaan dari pencapaian. Ia ada di pihak yang benar, dan mempertimbangkan keadaan dari kasus itu, ada sesuatu yang patut dipuji dalam usahanya. Tetapi adalah mungkin, bahkan berhubungan dengan kerajaan Allah, untuk mempunyai suatu keinginan yang tidak benar tentang kehormatan dan kekuasaan duniawi (Mat 20:20-23). Mereka yang melakukan hal itu biasanya menetapkan suatu nilai yang berlebihan pada tujuan yang mereka tuju, menunjukkan suatu keyakinan yang tidak pantas dalam kemampuan-kemampuan mereka sendiri, meremehkan kesukaran-kesukaran tentang pencapaian hal itu, dan membuka diri mereka sendiri terhadap resiko dan bahaya yang besar].

 

Mat 20:20-23 - “(20) Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapanNya untuk meminta sesuatu kepadaNya. (21) Kata Yesus: ‘Apa yang kaukehendaki?’ Jawabnya: ‘Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam KerajaanMu, yang seorang di sebelah kananMu dan yang seorang lagi di sebelah kiriMu.’ (22) Tetapi Yesus menjawab, kataNya: ‘Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?’ Kata mereka kepadaNya: ‘Kami dapat.’ (23) Yesus berkata kepada mereka: ‘CawanKu memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kananKu atau di sebelah kiriKu, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa BapaKu telah menyediakannya.’”.

 

b.         Abner membunuh Asael dengan bagian belakang tombaknya.

Jamieson, Fausset & Brown: “Asahel pursued after Abner. To gain the general’s armour was deemed the grandest trophy. Asahel, ambitious of securing Abner’s, had outstripped all other pursuers, and was fast making on the retreating commander, who, conscious of possessing more physical power, and unwilling that there should be ‘blood’ between himself and Joab, Asahel’s brother, twice urged him to desist. The impetuous young soldier being deaf to the generous remonstrance, the veteran raised the pointed butt of his lance, as the modern Arabs do when pursued, and with a sudden back-thrust transfixed him on the spot, so that he fell, and lay weltering in his blood” (= Asael mengejar Abner. Mendapatkan senjata dari sang jendral dianggap sebagai piala yang paling hebat. Asael, berambisi untuk mendapatkan senjata Abner, telah melampaui semua pengejar yang lain, dan dengan cepat mengejar / menyusul sang komandan yang mundur, yang menyadari bahwa ia memiliki kekuatan fisik yang lebih besar, dan tidak mau bahwa di sana ada ‘darah’ di antara ia sendiri dan Yoab, saudara dari Asael, dua kali mendesaknya untuk berhenti. Karena tentara muda yang sembrono itu tuli terhadap protes / keluhan yang murah hati, orang veteran / yang berpengalaman itu menusukkan pangkal lembingnya yang tajam, seperti yang dilakukan oleh orang-orang Arab modern pada waktu dikejar, dan dengan suatu tusukan ke belakang yang mendadak menombak di tempat, sehingga ia jatuh, dan tergeletak bermandikan darahnya).

 

Catatan: dalam ay 23 sebetulnya memang dikatakan bahwa Abner ‘menusuk’ Asael dengan gagang / bagian belakang tombaknya! Hal ini tidak terlihat dalam Kitab Suci Indonesia, tetapi terlihat dalam Kitab Suci bahasa Inggris.

Ay 23: “Tetapi Asael menolak berhenti. Lalu Abner menusuk ke belakang ke perut Asael dengan tombaknya, sehingga tombak itu menembus belakangnya; dan rebahlah ia di sana dan mati di tempat itu juga. Semua orang yang datang ke tempat Asael rebah dan mati itu, berhenti di sana”.

KJV: ‘Abner with the hinder end of the spear smote him’ (= Abner, dengan ujung belakang tombak, memukul dia).

RSV: ‘Abner smote him ... with the butt of his spear (= Abner memukul dia ... dengan ujung / pantat dari tombaknya).

NIV: ‘Abner thrust the butt of his spear (= Abner menusukkan ujung / pantat dari tombaknya).

NASB: ‘Abner struck him ... with the butt end of the spear (= Abner menyerang / memukul dia ... dengan ujung / pantat dari tombak).

 

Barnes’ Notes: “‘With the hinder end ...’ i.e. the wooden end, which was more or less pointed to enable the owner to stick it in the ground (1 Sam 26:7)” [= ‘Dengan bagian belakang ...’ yaitu ujung yang dari kayu, yang kurang lebih ditajamkan untuk memampukan pemiliknya untuk menancapkannya di tanah (1Sam 26:7)].

1Sam 26:7 - “Datanglah Daud dengan Abisai kepada rakyat itu pada waktu malam, dan tampaklah di sana Saul berbaring tidur di tengah-tengah perkemahan, dengan tombaknya terpancung di tanah pada sebelah kepalanya, sedang Abner dan rakyat itu berbaring sekelilingnya”.

 

c.         Ini merupakan kematian yang tak terduga.

Matthew Henry: “See here, 1. How death often comes upon us by ways that we least suspect. Who would fear the hand of a flying enemy or the butt-end of a spear? yet from these Asahel receives his death’s wound. 2. How we are often betrayed by the accomplishments we are proud of. Asahel’s swiftness, which he presumed so much upon, did him no kindness, but forwarded his fate, and with it he ran upon his death, instead of running from it” (= Lihatlah di sini, 1. Bagaimana kematian sering datang kepada kita dengan cara-cara yang paling tidak kita sangka. Siapa yang akan takut pada tangan dari seorang musuh yang sedang lari atau pada bagian belakang dari sebuah tombak? tetapi dari hal-hal ini Asael menerima luka yang mematikan. 2. Bagaimana kita sering dikhianati / ditipu oleh pencapaian-pencapaian yang kita banggakan. Kecepatan Asael, yang begitu ia andalkan, tidak melakukan / memberikan kebaikan kepadanya, tetapi menyampaikan nasibnya, dan dengan kecepatannya ia lari menuju kematiannya, dan bukannya lari darinya).

 

d.         Penguburan Asael.

Ay 32a: “Mereka mengangkat mayat Asael dan menguburkannya di dalam kubur ayahnya yang di Betlehem”.

Matthew Henry: “Asahel’s funeral is here mentioned; the rest they buried in the field of battle, but he was carried to Bethlehem, and buried in the sepulchre of his father, v. 32. Thus are distinctions made between the dust of some and that of others; but in the resurrection no other difference will be made but that between godly and ungodly, which will remain for ever (= Penguburan Asael disebutkan di sini; sisanya mereka kuburkan di medan pertempuran, tetapi ia dibawa ke Betlehem, dan dikuburkan dalam kuburan ayahnya, ay 32. Jadi ada perbedaan yang dibuat antara abu dari beberapa orang dan abu dari orang-orang lain; tetapi dalam kebangkitan tidak akan dibuat perbedaan, kecuali antara orang saleh dan orang jahat, yang akan tetap selama-lamanya).

 

3.   Penerapan untuk kita.

Dalam pelayanan, biarpun kita memang harus bersemangat, tetapi kita juga harus tahu diri dalam mengetahui dan membedakan tentang apa yang bisa kita lakukan, dan apa yang tidak bisa kita lakukan.

Ro 12:3-8 - “(3) Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing. (4) Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama, (5) demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain. (6) Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita. (7) Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar; (8) jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita”.

 

Banyak sekali orang yang mau berkhotbah / mengajar tetapi sama sekali tidak mempunyai karunia dalam hal itu. Ini lebih membuat kekacauan dalam gereja dari pada membangun jemaat! Demikian juga ada orang-orang Kristen yang berani melakukan debat terbuka / di depan umum menghadapi orang sesat atau orang yang beragama lain, tetapi tidak mempunyai karunia berdebat ataupun pengetahuan yang memadai. Ini malah membuat malu kekristenan pada saat mereka dikalahkan dalam debat itu!

 

Pulpit Commentary: “Judgment in the use of small gifts will often achieve better results than can be secured by an indiscreet use of greater gifts. ... No conviction of being on the side of God is a justification for rashness” (= Penilaian dalam penggunaan dari karunia-karunia yang kecil akan sering mencapai hasil-hasil yang lebih baik dari pada yang bisa didapatkan oleh suatu penggunaan yang tidak bijaksana dari karunia-karunia yang lebih besar. ... Keyakinan bahwa kita ada di pihak Allah bukanlah suatu pembenaran untuk kesembronoan).

 

Tetapi bagaimana dengan ayat di bawah ini?

Bdk. 1Tim 3:1 - “Benarlah perkataan ini: ‘Orang yang menghendaki jabatan penilik jemaat menginginkan pekerjaan yang indah.’”.

Ingat bahwa ayat ini dilanjutkan dengan syarat-syarat penatua / penilik jemaat (1Tim 3:2-7)! Dan di antara syarat-syarat itu ada syarat ‘cakap mengajar orang’ (1Tim 3:2). Karena itu saya tidak percaya bahwa hamba Tuhan yang tidak bisa berkhotbah maupun mengajar, betul-betul dipanggil Tuhan untuk menjadi hamba Tuhan. Bahwa dia menjadi hamba Tuhan menurut saya merupakan suatu kecerobohan yang mirip dengan yang dilakukan oleh Asael di sini.

 

4.   Mengapa berbeda dengan Daud pada waktu melawan Goliat?

Bagaimana kalau dibandingkan dengan Daud pada waktu melawan Goliat? Bukankah Daud juga sebetulnya tidak sebanding dengan lawannya? Tetapi Daud menang karena Tuhan menolongnya. Mengapa Tuhan tidak menolong Asael dalam melawan Abner? Kelihatannya karena alasan mereka berkelahi berbeda. Daud betul-betul yakin Tuhan menyuruhnya, dan memang melakukan untuk kemuliaan Tuhan, sedangkan Asael melakukannya karena dorongan diri sendiri dan ambisi pribadi, dan untuk kemuliaan dirinya sendiri.

Karena itu, dalam pelayanan / perang bagi Tuhan, kita harus mempunyai motivasi yang benar, dan kemampuan yang memadai, tetapi bagaimanapun juga, yang pertama dan terutama, kita harus yakin bahwa Tuhan memang menghendaki kita melakukan hal itu. Tuhan bisa memakai orang-orang yang bodoh / lemah / tak berarti untuk kemuliaanNya.

1Kor 1:27-29 - “(27) Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, (28) dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, (29) supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah”.

Catatan: ini tidak berarti bahwa orang yang bodoh boleh membiarkan diri untuk terus bodoh. Ia harus berusaha memajukan diri dengan belajar.

 

e)         Perang berhenti (ay 24-29).

 

1.   Abner yang menyadari pasukannya kalah dalam pertempuran itu, minta penghentian pertempuran.

Ay 26: “Berserulah Abner kepada Yoab: ‘Haruskah pedang makan terus-menerus? Tidak tahukah engkau, bahwa kepahitan datang pada akhirnya? Berapa lama lagi engkau tidak mau mengatakan kepada rakyat itu, supaya mereka berhenti memburu saudara-saudaranya?’.

Ini merupakan kata-kata tak tahu diri yang kurang ajar. Dia yang memulai perang itu, dan sekarang mau menyalahkan Yoab atas hal itu.

Penerapan: kita harus mempunyai kerendahan hati, untuk mau mengakui kesalahan (kalau kita memang salah), dan tidak melemparkannya kepada orang lain.

 

2.   Yoab menyetujui permintaan Abner.

Ay 27: “Jawab Yoab: ‘Demi Allah yang hidup, sekiranya engkau berbicara tadi, maka tentulah sudah dari tadi pagi rakyat menarik diri dari memburu saudara-saudaranya.’”.

Ini salah terjemahan.

KJV: ‘unless thou hadst spoken’ (= kecuali engkau telah berbicara).

RSV/NIV/NASB: ‘if you had not spoken’ (= jika / seandainya engkau tidak berbicara).

Matthew Henry menafsirkan bahwa ‘berbicara’ ini maksudnya memerintahkan tentaranya memulai peperangan. Jadi, dengan kata-kata ini Yoab menyalahkan Abner atas terjadinya pertempuran yang menelan banyak jiwa itu.

Pulpit Commentary mengatakan bahwa sekalipun Yoab bukanlah orang yang berhati lembut, tetapi ia mempunyai kebijaksanaan dan kewarasan, dan sepenuhnya sadar bahwa pembantaian terhadap Abner dan pasukannya hanya akan merugikan Daud dan pemerintahannya dalam pemikiran orang-orang Israel. Karena itu, ia menyetujui penghentian perang / pertempuran tersebut.

 

Bdk. Ro 12:18 - “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!”.

 

f)          Korban dikedua pihak.

Ay 30-31: “(30) Ketika Yoab berhenti memburu Abner dan menghimpunkan seluruh rakyat, ternyata sembilan belas orang dari anak buah Daud hilang termasuk Asael. (31) Tetapi anak buah Daud menewaskan dari suku Benyamin, dari orang-orang Abner, tiga ratus enam puluh orang.

 

Kematian di pihak Daud jauh lebih sedikit, tetapi secara keseluruhan kematian yang terjadi memang sangat sedikit, dibandingkan dengan peperangan yang lain. Bandingkan dengan ayat-ayat di bawah ini.

Hak 12:6b - “Pada waktu itu tewaslah dari suku Efraim empat puluh dua ribu orang.

Hak 20:44 - “Dari bani Benyamin ada tewas delapan belas ribu orang, semuanya orang-orang gagah perkasa”.

 

Matthew Henry mengatakan bahwa kematian di pihak Abner yang juga relatif sedikit, mungkin disebabkan karena Daud tidak mengijinkan pasukannya berperang terlalu serius sehingga membunuh banyak saudara-saudara mereka sendiri. Kalau ini benar, maka ini menunjukkan sesuatu yang sangat indah dalam diri Daud.

 

g)         Daud makin kuat dan Isyboset makin lemah (3:1).

2Sam 3:1 - “Peperangan antara keluarga Saul dan keluarga Daud berlarut-larut; Daud kian lama kian kuat, sedang keluarga Saul kian lama kian lemah”.

 

Keil & Delitzsch mengatakan bahwa yang dimaksudkan dengan kata ‘perang’ bukanlah bahwa mereka betul-betul terus berperang, tetapi tidak ada perdamaian di antara mereka, dan bahkan ada suatu permusuhan yang berkepanjangan.

 

Matthew Henry: “Saul’s house, though beheaded and diminished, would not fall tamely. ... though truth and equity will triumph at last, God made for wise and holy ends prolonged the conflict. The length of this war tried the faith and patience of David, and made his establishment at last the more welcome to him” (= Keluarga Saul, sekalipun dipenggal dan berkurang / makin lemah, tidak mau jatuh dengan jinak. ... sekalipun kebenaran dan keadilan akan menang pada akhirnya, Allah membuat konflik ini berkepanjangan untuk tujuan yang bijaksana dan kudus. Lamanya perang ini menguji iman dan kesabaran Daud, dan membuat penegakannya pada akhirnya lebih ia sambut dengan baik / lebih menggembirakan baginya).

Bandingkan dengan pepatah ‘Easy come, easy go’ (= Mudah didapat, mudah dibuang).

 

Bdk. Amsal 4:18 - “Tetapi jalan orang benar itu seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari”.

 

-AMIN-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali