Kebaktian

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Jl. Dinoyo 19b, lantai 3)

 

Minggu, tgl 20 Juni 2010, pk 17.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

[email protected]

 

II SAMUEL 2:1-3:1(1)

 

2Sam 2:1-3:1 - “(1) Kemudian bertanyalah Daud kepada TUHAN, katanya: ‘Apakah aku harus pergi ke salah satu kota di Yehuda?’ Firman TUHAN kepadanya: ‘Pergilah.’ Lalu kata Daud: ‘Ke mana aku pergi?’ FirmanNya: ‘Ke Hebron.’ (2) Lalu pergilah Daud ke sana dengan kedua isterinya: Ahinoam, perempuan Yizreel, dan Abigail, bekas isteri Nabal, orang Karmel itu. (3) Juga Daud membawa serta orang-orangnya yang mengiringinya masing-masing dengan rumah tangganya, dan menetaplah mereka di kota-kota Hebron. (4) Kemudian datanglah orang-orang Yehuda, lalu mengurapi Daud di sana menjadi raja atas kaum Yehuda. Ketika kepada Daud diberitahukan bahwa orang-orang Yabesh-Gilead menguburkan Saul, (5) maka Daud mengirim orang kepada orang-orang Yabesh-Gilead dengan pesan: ‘Diberkatilah kamu oleh TUHAN, karena kamu telah menunjukkan kasihmu kepada tuanmu, Saul, dengan menguburkannya. (6) Oleh sebab itu, TUHAN kiranya menunjukkan kasih dan setiaNya kepadamu. Akupun akan berbuat kebaikan yang sama kepadamu, karena kamu telah melakukan hal yang demikian. (7) Kuatkanlah hatimu sekarang dan jadilah orang-orang yang gagah perkasa, sekalipun tuanmu Saul sudah mati; dan aku telah diurapi oleh kaum Yehuda menjadi raja atas mereka.’ (8) Abner bin Ner, panglima Saul, telah mengambil Isyboset, anak Saul, dan membawanya ke Mahanaim (9) serta menjadikannya raja atas Gilead, atas orang Asyuri, atas Yizreel, atas Efraim dan atas Benyamin, bahkan atas seluruh Israel. (10) Isyboset bin Saul berumur empat puluh tahun pada waktu ia menjadi raja atas Israel dan ia memerintah dua tahun lamanya. Hanyalah kaum Yehuda yang mengikuti Daud. (11) Dan lamanya Daud memerintah di Hebron atas kaum Yehuda adalah tujuh tahun dan enam bulan. (12) Lalu Abner bin Ner dengan anak buah Isyboset bin Saul bergerak maju dari Mahanaim ke Gibeon. (13) Juga Yoab, anak Zeruya, dan anak buah Daud bergerak maju. Mereka saling bertemu di telaga Gibeon, lalu tinggal di sana, pihak yang satu di tepi telaga sebelah sini, dan pihak yang lain di tepi telaga sebelah sana. (14) Berkatalah Abner kepada Yoab: ‘Biarlah orang-orang muda tampil dan mengadakan pertandingan di depan kita.’ Jawab Yoab: ‘Baik.’ (15) Lalu tampillah mereka dan berjalan lewat dengan dihitung: dua belas orang dari suku Benyamin, dari Isyboset, anak Saul, dan dua belas orang dari anak buah Daud. (16) Kemudian mereka masing-masing menangkap kepala lawannya, dan menikamkan pedangnya ke lambung lawannya, sehingga rebahlah mereka bersama-sama. Sebab itu tempat itu disebutkan orang Helkat-Hazurim; letaknya dekat Gibeon. (17) Pada hari itu pertempuran sangat hebat, dan Abner serta orang-orang Israel terpukul kalah oleh anak buah Daud. (18) Ketiga anak laki-laki Zeruya, yakni Yoab, Abisai dan Asael ada di sana; Asael cepat larinya seperti kijang di padang. (19) Asael mengejar Abner dan tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dalam membuntutinya. (20) Lalu Abner berpaling ke belakang dan bertanya: ‘Engkaukah itu Asael?’ Jawabnya: ‘Ya, aku.’ (21) Kemudian berkatalah Abner kepadanya: ‘Menyimpanglah ke kiri atau ke kanan, tangkaplah salah seorang dari orang-orang muda itu dan ambillah senjatanya.’ Tetapi Asael tidak mau berhenti membuntuti Abner. (22) Berkatalah sekali lagi Abner kepada Asael: ‘Berhentilah membuntuti aku. Apa aku harus memukul engkau sampai jatuh? Bagaimana aku dapat memandang muka Yoab, abangmu itu?’ (23) Tetapi Asael menolak berhenti. Lalu Abner menusuk ke belakang ke perut Asael dengan tombaknya, sehingga tombak itu menembus belakangnya; dan rebahlah ia di sana dan mati di tempat itu juga. Semua orang yang datang ke tempat Asael rebah dan mati itu, berhenti di sana. (24) Tetapi Yoab dan Abisai mengejar Abner. Ketika matahari masuk dan mereka sampai ke dekat bukit Ama, yang ada di sebelah timur Giah, ke arah padang gurun Gibeon, (25) berhimpunlah bani Benyamin di belakang Abner menjadi satu gabungan dan bersiap-siap di puncak sebuah bukit. (26) Berserulah Abner kepada Yoab: ‘Haruskah pedang makan terus-menerus? Tidak tahukah engkau, bahwa kepahitan datang pada akhirnya? Berapa lama lagi engkau tidak mau mengatakan kepada rakyat itu, supaya mereka berhenti memburu saudara-saudaranya?’ (27) Jawab Yoab: ‘Demi Allah yang hidup, sekiranya engkau berbicara tadi, maka tentulah sudah dari tadi pagi rakyat menarik diri dari memburu saudara-saudaranya.’ (28) Lalu Yoab meniup sangkakala dan seluruh rakyat berhenti; mereka tidak lagi mengejar orang Israel dan tidak berperang lagi. (29) Semalam-malaman Abner dan orang-orangnya berjalan melalui Araba-Yordan, menyeberangi sungai Yordan, berjalan terus hampir sepanjang siang, lalu sampai ke Mahanaim. (30) Ketika Yoab berhenti memburu Abner dan menghimpunkan seluruh rakyat, ternyata sembilan belas orang dari anak buah Daud hilang termasuk Asael. (31) Tetapi anak buah Daud menewaskan dari suku Benyamin, dari orang-orang Abner, tiga ratus enam puluh orang. (32) Mereka mengangkat mayat Asael dan menguburkannya di dalam kubur ayahnya yang di Betlehem. Kemudian berjalanlah Yoab dan orang-orangnya semalam-malaman itu dan sampai ke Hebron, ketika hari sudah terang. (3:1) Peperangan antara keluarga Saul dan keluarga Daud berlarut-larut; Daud kian lama kian kuat, sedang keluarga Saul kian lama kian lemah”.

 

I) Perubahan dalam kehidupan Daud.

 

1)   Daud tidak tinggal terus dalam kesedihannya.

Tadinya dalam 2Sam 1, Daud sangat sedih, khususnya karena kematian Yonatan. Tetapi ia tidak terus tinggal dalam kesedihan itu. Ia harus melanjutkan hidupnya, hidup untuk Tuhan. Kesedihan apapun yang kita alami, tidak boleh menyebabkan kita terus tinggal dalam kesedihan itu.

 

Bdk. 1Sam 16:1 - “Berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: ‘Berapa lama lagi engkau berdukacita karena Saul? Bukankah ia telah Kutolak sebagai raja atas Israel? Isilah tabung tandukmu dengan minyak dan pergilah. Aku mengutus engkau kepada Isai, orang Betlehem itu, sebab di antara anak-anaknya telah Kupilih seorang raja bagiKu.’”.

 

Bdk. 1Tes 4:13 - “Selanjutnya kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan.”.

 

2)   Kemakmuran yang membahayakan.

 

Pulpit Commentary: “The beginnings of prosperity. As the Second Book of Samuel introduces a turn of affairs in the national experience, so this second chapter introduces a turn in the personal experience of David. He passes from the bitter trials of the past, through the anguish depicted in the first chapter, into the more prosperous and easy circumstances of free public activity. ... In so far as the passage before us affords teaching on this subject, observe - ... A BEGINNING OF PROSPERITY IS A TIME OF PECULIAR DANGER. In reading the narrative of David’s trials on the one side, and of his prosperous circumstances on the other, we feel at once that in so far as his religious life is concerned there was far more hope of him under the former. The spiritual uses of adversity are very valuable, while on the other hand the spiritual dangers of prosperity are subtile and manifold. And likewise the transition from the one to the other is a time of peculiar danger. For David the occasion for dependence on God was not so obvious; and the demand for action would lay him open to mistakes and sacrifices of principle new in his experience” (= Permulaan dari kemakmuran. Sebagaimana Kitab Samuel yang kedua ini memperkenalkan suatu perubahan dari keadaan dalam pengalaman nasional, maka pasal kedua ini memperkenalkan suatu perubahan dalam pengalaman pribadi Daud. Ia berpindah dari pencobaan-pencobaan yang pahit dari masa lalu, melalui kesedihan yang digambarkan dalam pasal satu, ke dalam keadaan yang lebih makmur dan mudah dari aktivitas umum yang bebas. ... Sejauh text di depan kita memberikan pengajaran tentang pokok ini, perhatikan - ... Suatu permulaan kemakmuran adalah saat dari bahaya yang khusus. Dalam membaca cerita dari pencobaan-pencobaan Daud pada satu sisi, dan tentang keadaan-keadaan makmurnya pada sisi yang lain, kita segera merasa bahwa sejauh kehidupan agamawinya yang dipersoalkan di sana ada lebih banyak pengharapan baginya di bawah yang pertama. Kegunaan rohani dari musuh adalah sangat berharga, sementara pada sisi lain bahaya-bahaya rohani dari kemakmuran adalah halus / tak kentara dan bermacam-macam. Dan begitu juga perpindahan dari yang satu ke yang lain adalah saat dari bahaya yang khusus. Bagi Daud alasan untuk bergantung kepada Allah tidaklah begitu nyata; dan tuntutan untuk bertindak menempatkannya terbuka terhadap kesalahan-kesalahan dan pengorbanan prinsip yang baru dalam pengalamannya).

 

Pulpit Commentary: “The presence or the prospect of a more abundant supply of material comforts cannot but give vitality to whatever of latent power there may be in the lusts of the flesh. The conscious elevation which awaits us is sure to appeal to that deeply seated human pride which, when developed, looks on others with more or less of disdain, and in proportion as the human lot is now or prospectively free from care does the heart care less for the blessings of a future life. ... Churches passing from the trials of persecution into the ease of toleration cannot be sure of the old fidelity. Nations springing into prominence may contract habits of indulgence and arrogance in strange contrast with their former self-control and devotion to duty. Private Christians when emerging from the struggles of their early convictions may cease to watch and pray as heretofore, and soon lose the vigour of their former faith” (= Kehadiran atau prospek dari suplai kesenangan material yang lebih berlimpah-limpah tidak bisa tidak memberikan kekuatan / tenaga hidup kepada apapun dari kekuatan yang tersembunyi yang ada dalam nafsu-nafsu dari daging. Peninggian yang disadari yang menanti kita pasti menarik pada kesombongan manusia yang terletak di dalam yang, pada waktu berkembang, memandang kepada orang-orang lain kurang lebih dengan penghinaan / perendahan, dan nasib manusia yang sekarang bebas dari kesusahan atau bakal bebas dari kesusahan, akan mengurangi kepedulian hati manusia untuk berkat-berkat dari kehidupan di masa yang akan datang. ... Gereja-gereja yang berpindah dari pencobaan dari penganiayaan ke dalam ketenangan / ketenteraman dari toleransi tidak bisa pasti tentang kesetiaannya yang lama. Bangsa-bangsa yang melompat menjadi terkemuka bisa terkena kebiasaan memuaskan diri dan sombong dalam suatu kontras yang aneh dengan penguasaan diri dan pembaktian pada kewajiban yang lama. Pribadi-pribadi Kristen pada waktu muncul dari pergumulan-pergumulan dari keyakinan mula-mula mereka, bisa berhenti untuk berjaga-jaga dan berdoa seperti sampai pada saat ini, dan segera kehilangan kekuatan dari iman mereka yang dahulu).

 

Bandingkan dengan:

·        Maz 62:11 - “Janganlah percaya kepada pemerasan, janganlah menaruh harap yang sia-sia kepada perampasan; apabila harta makin bertambah, janganlah hatimu melekat padanya.

·        Ul 32:15 - “Lalu menjadi gemuklah Yesyurun, dan menendang ke belakang, - bertambah gemuk engkau, gendut dan tambun - dan ia meninggalkan Allah yang telah menjadikan dia, ia memandang rendah gunung batu keselamatannya.

·        Yeh 31:10-11 - “(10) Oleh sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH: Oleh karena ia tumbuh tinggi dan puncaknya menjulang sampai ke langit dan ia menjadi sombong karena ketinggiannya, (11) maka Aku telah menyerahkan dia ke dalam tangan seorang berkuasa di antara bangsa-bangsa, supaya ia memperlakukannya selaras dengan kejahatannya; Aku menghalau dia”.

 

II) Daud dan kehendak Tuhan.

 

2Sam 2:1-3 - “(1) Kemudian bertanyalah Daud kepada TUHAN, katanya: ‘Apakah aku harus pergi ke salah satu kota di Yehuda?’ Firman TUHAN kepadanya: ‘Pergilah.’ Lalu kata Daud: ‘Ke mana aku pergi?’ FirmanNya: ‘Ke Hebron.’ (2) Lalu pergilah Daud ke sana dengan kedua isterinya: Ahinoam, perempuan Yizreel, dan Abigail, bekas isteri Nabal, orang Karmel itu. (3) Juga Daud membawa serta orang-orangnya yang mengiringinya masing-masing dengan rumah tangganya, dan menetaplah mereka di kota-kota Hebron”.

 

1)   Daud menanyakan kehendak Tuhan, dan mentaatinya (ay 1-2a). Ini harus ditiru!

 

Keil & Delitzsch: “V. 1. ‘After this,’ i.e., after the facts related in ch. 1, David inquired of the Lord, namely through the Urim, whether he should go up to one of the towns of Judah, and if so, to which. ... David could have no doubt that, now that Saul was dead, he would have to give up his existing connection with the Philistines and return to his own land. But as the Philistines had taken the greater part of the Israelitish territory through their victory at Gilboa, and there was good reason to fear that the adherents of Saul, more especially the army with Abner, Saul’s cousin, at its head, would refuse to acknowledge David as king, and consequently a civil war might break out, David would not return to his own land without the express permission of the Lord” (= Ay 1. ‘Setelah ini’, yaitu, setelah fakta-fakta yang diceritakan dalam pasal 1, Daud bertanya kepada Tuhan, yaitu melalui Urim, apakah ia harus pergi ke salah satu dari kota-kota Yehuda, dan jika demikian, ke kota yang mana. ... Daud tidak bisa meragukan bahwa sekarang setelah Saul mati, ia harus menghentikan hubungannya yang ada dengan orang-orang Filistin dan kembali ke negaranya sendiri. Tetapi karena orang-orang Filistin telah mengambil bagian terbesar dari daerah Israel melalui kemenangan mereka di Gilboa, dan di sana ada alasan yang baik untuk takut bahwa pengikut-pengikut Saul, khususnya pasukannya dengan Abner, saudara sepupu Saul sebagai pimpinannya, akan menolak untuk mengakui Daud sebagai raja, dan sebagai akibatnya perang saudara bisa pecah, maka Daud tidak mau kembali ke negaranya sendiri tanpa ijin yang jelas dari Tuhan).

Ada 2 hal yang perlu saya jelaskan berkenaan dengan kutipan dari Keil & Delitzsch di atas ini:

 

a)   Ay 1 (RSV): After this David inquired of the LORD, ...’ (= Setelah ini Daud bertanya kepada TUHAN, ...).

 

b)   ‘Urim dan Tumim’ merupakan alat dari Tuhan yang kegunaannya adalah untuk menanyakan dan mengetahui kehendak Tuhan.

Bil 27:21 - “Ia harus berdiri di depan imam Eleazar, supaya Eleazar menanyakan keputusan Urim bagi dia di hadapan TUHAN; atas titahnya mereka akan keluar dan atas titahnya mereka akan masuk, ia beserta semua orang Israel, segenap umat itu.’”.

1Sam 28:6 - “Dan Saul bertanya kepada TUHAN, tetapi TUHAN tidak menjawab dia, baik dengan mimpi, baik dengan Urim, baik dengan perantaraan para nabi”.

1Sam 14:41 - “Lalu berkatalah Saul: ‘Ya, TUHAN, Allah Israel, mengapa Engkau tidak menjawab hambaMu pada hari ini? Jika kesalahan itu ada padaku atau pada anakku Yonatan, ya TUHAN, Allah Israel, tunjukkanlah kiranya Urim; tetapi jika kesalahan itu ada pada umatMu Israel, tunjukkanlah Tumim.’ Lalu didapati Yonatan dan Saul, tetapi rakyat itu terluput”.

Dalam 1Sam 14:41 ini Kitab Suci Indonesia, dan juga RSV, mengambil terjemahan LXX / Septuaginta, yang menyebutkan penggunaan Urim dan Tumim. Ini berbeda dengan NIV yang mengambil dari manuscript Ibrani, yang tidak secara explicit menyebutkan Urim dan Tumim, tetapi hanya menyebutkan penggunaan undian. Tetapi ini tetap mungkin menunjuk pada penggunaan Urim dan Tumim.

NIV: “Then Saul prayed to the LORD, the God of Israel, ‘Give me the right answer.’ And Jonathan and Saul were taken by lot, and the men were cleared” (= Lalu Saul berdoa kepada TUHAN, Allah Israel, ‘Berilah aku jawaban yang benar’. Dan Yonatan dan Saul kena undi, dan rakyat dibebaskan).

 

Easton’s Bible Dictionary (dengan topik ‘Thummim’): “What the ‘Urim and Thummim’ were cannot be determined with any certainty. All we certainly know is that they were a certain divinely-given means by which God imparted, through the high priest, direction and counsel to Israel when these were needed. The method by which this was done can be only a matter of mere conjecture. They were apparently material objects, quite distinct from the breastplate, but something added to it after all the stones had been set in it, something in addition to the breastplate and its jewels. ... They were probably lost at the destruction of the temple by Nebuchadnezzar. They were never seen after the return from captivity” (= Apa itu Urim dan Tumim tidak bisa ditentukan dengan pasti. Semua yang kita ketahui dengan pasti adalah bahwa mereka adalah cara tertentu yang diberikan oleh Allah, melalui imam besar, dengan mana Allah memberikan pengarahan dan nasehat kepada Israel pada waktu itu dibutuhkan. Metode dengan mana hal ini dilakukan hanya merupakan suatu persoalan dugaan. Mereka jelas adalah obyek materi, berbeda dengan tutup dada imam, tetapi sesuatu ditambahkan kepadanya setelah semua batu diletakkan di dalamnya, sesuatu sebagai tambahan pada tutup dada dan permata-permatanya. ... Mereka mungkin hilang pada penghancuran Bait Allah oleh Nebukadnezar. Mereka tidak pernah dilihat setelah kembali dari pembuangan).

 

Penerapan: saya berpendapat bahwa kita memang harus selalu meminta pimpinan / petunjuk Tuhan pada saat mau pindah, baik pindah rumah, pindah pekerjaan, pindah gereja, dan sebagainya.

 

2)   Tuhan menyuruh Daud ke Hebron (ay 1b).

Adam Clarke: “‘Unto Hebron.’ The metropolis of the tribe of Judah, one of the richest regions in Judea. The mountains of Hebron were famed for fruits, herbage, and honey; and many parts were well adapted for vines, olives, and different kinds of grain, abounding in springs of excellent water, as the most accurate travelers have asserted” (= ‘Ke Hebron’. Kota besar dari suku Yehuda, salah satu dari daerah terkaya di Yehuda. Gunung-gunung dari Hebron terkenal untuk buah-buahan, rumput untuk penggembalaan, dan madu; dan banyak bagian cocok untuk anggur, zaitun, dan bermacam-macam padi-padian yang berbeda-beda, berlimpah-limpah dalam sumber air yang sangat baik, seperti telah ditegaskan oleh pelancong-pelancong yang paling akurat).

 

The Bible Exposition Commentary: Old Testament: “David was from Judah, so it was logical that he go to live among his own people, but in which city should he reside? God gave him permission to return to Judah and told him to live in Hebron, which was located about twenty-five miles from Ziklag. By moving there, David was back with his own people but still under the shadow of the Philistines. Hebron was important in Jewish history, for near the city was the tomb of Abraham and Sarah, Isaac and Rebecca, and Jacob and Leah. The city was in the inheritance of Caleb, a man of stature in Jewish history (Josh 14:14). Abigail, one of David’s wives, had been married to a Calebite, and David had inherited her property near the wilderness of Maon (1 Sam 25:2). Hebron was probably the most important city in the southern part of Judah, so David moved there with his men, and they lived in the towns surrounding Hebron” [= Daud berasal dari Yehuda, jadi adalah logis / masuk akal bahwa ia pergi untuk tinggal di antara sukunya sendiri, tetapi di kota mana ia harus tinggal? Allah memberinya ijin untuk kembali ke Yehuda dan memberitahunya untuk tinggal di Hebron, yang terletak kira-kira 25 mil dari Ziklag. Dengan berpindah kesana, Daud kembali bersama sukunya sendiri tetapi tetap di bawah bayang-bayang dari orang-orang Filistin. Hebron adalah kota yang penting dalam sejarah Yahudi, karena dekat kota itu ada kuburan Abraham dan Sara, Ishak dan Ribka, dan Yakub dan Lea. Kota itu ada dalam warisan dari Kaleb, orang yang terkenal dalam sejarah Yahudi (Yos 14:14). Abigail, salah satu dari istri-istri Daud, tadinya menikah dengan seorang dari keluarga Kaleb, dan Daud telah mewarisi miliknya dekat dengan padang gurun Maon (1Sam 25:2). Hebron mungkin adalah kota yang paling penting di bagian selatan dari Yehuda; jadi Daud berpindah ke sana dengan orang-orangnya, dan mereka tinggal di kota-kota di sekitar Hebron].

 

Di sini mungkin pemilihan Hebron oleh Tuhan sesuai dengan akal manusia. Tetapi kadang-kadang tidak demikian. Misalnya pada waktu Ia menyuruh Elia tinggal / sembunyi di Sarfat yang termasuk wilayah Sidon.

1Raja 17:8-9 - “(8) Maka datanglah firman TUHAN kepada Elia: (9) ‘Bersiaplah, pergi ke Sarfat yang termasuk wilayah Sidon, dan diamlah di sana. Ketahuilah, Aku telah memerintahkan seorang janda untuk memberi engkau makan.’”.

1Raja 16:31 - “Seakan-akan belum cukup ia hidup dalam dosa-dosa Yerobeam bin Nebat, maka ia mengambil pula Izebel, anak Etbaal, raja orang Sidon, menjadi isterinya, sehingga ia pergi beribadah kepada Baal dan sujud menyembah kepadanya”.

 

Demikianpun dalam tempat pelayanan, kita harus menyesuaikan dengan kehendak Tuhan.

Kis 16:6-10 - “(6) Mereka melintasi tanah Frigia dan tanah Galatia, karena Roh Kudus mencegah mereka untuk memberitakan Injil di Asia. (7) Dan setibanya di Misia mereka mencoba masuk ke daerah Bitinia, tetapi Roh Yesus tidak mengizinkan mereka. (8) Setelah melintasi Misia, mereka sampai di Troas. (9) Pada malam harinya tampaklah oleh Paulus suatu penglihatan: ada seorang Makedonia berdiri di situ dan berseru kepadanya, katanya: ‘Menyeberanglah ke mari dan tolonglah kami!’ (10) Setelah Paulus melihat penglihatan itu, segeralah kami mencari kesempatan untuk berangkat ke Makedonia, karena dari penglihatan itu kami menarik kesimpulan, bahwa Allah telah memanggil kami untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di sana”.

 

3)   Daud membawa istri-istrinya (ay 2).

 

a)   Daud hanya membawa istri-istrinya; tidak dikatakan apapun tentang anak-anaknya, karena ia baru punya anak setelah ia ada di Hebron.

2Sam 3:2-5 - “(2) Di Hebron lahirlah bagi Daud anak-anak lelaki. Anak sulungnya ialah Amnon, dari Ahinoam, perempuan Yizreel; (3) anaknya yang kedua ialah Kileab, dari Abigail, bekas isteri Nabal, orang Karmel; yang ketiga ialah Absalom, anak dari Maakha, anak perempuan Talmai raja Gesur; (4) yang keempat ialah Adonia, anak dari Hagit; yang kelima ialah Sefaca, anak Abital; (5) dan yang keenam ialah Yitream, dari Egla, isteri Daud. Semuanya ini dilahirkan bagi Daud di Hebron.

 

b)         Daud jelas mempraktekkan polygamy.

Bahkan sebelum ia menjadi raja ia sudah mempunyai banyak istri. Setelah ia menjadi raja atas seluruh Israel, ia bahkan menambah lagi perbendaharaan istri dan gundiknya.

 

2Sam 5:11-13 - “(11) Hiram, raja negeri Tirus, mengirim utusan kepada Daud dan kayu alas, tukang-tukang kayu dan tukang-tukang batu; mereka mendirikan istana bagi Daud. (12) Lalu tahulah Daud, bahwa TUHAN telah menegakkan dia sebagai raja atas Israel dan telah mengangkat martabat pemerintahannya oleh karena Israel, umatNya. (13) Daud mengambil lagi beberapa gundik dan isteri dari Yerusalem, setelah ia datang dari Hebron dan bagi Daud masih lahir lagi anak-anak lelaki dan perempuan”.

 

Jamieson, Fausset & Brown: “Polygamy was tolerated in Hebrew society, but interdicted to the king (Deut 17:17); and David’s adoption of that practice, by the establishment of a harem, like Oriental princes, sowed the seeds of disorder and disunion in his household, which produced a rank harvest of bitter fruit in afterlife.” [= Polygamy ditoleransi dalam masyarakat Ibrani, tetapi dilarang untuk raja (Ul 17:17); dan pengadopsian praktek itu oleh Daud, dengan pembentukan suatu harem, seperti pangeran / raja-raja Timur, menabur benih kekacauan dan perpecahan dalam keluarga / rumah tangganya, yang menghasilkan suatu panen yang busuk dari buah yang pahit dalam kehidupannya belakangan].

Ul 17:17 - “Juga janganlah ia (raja) mempunyai banyak isteri, supaya hatinya jangan menyimpang; emas dan perakpun janganlah ia kumpulkan terlalu banyak”.

 

Ini memang jelas terlihat dari kasus pemerkosaan Amnon terhadap Tamar, dan pembalasan dendam Absalom dengan membunuh Amnon (2Sam 13), dan juga pemberontakan Absalom (2Sam 15-dst), yang jelas merupakan buah yang pahit dari polygamy yang dipraktekkan oleh Daud. Ini juga berlaku untuk orang-orang saleh lain dalam Perjanjian Lama, seperti Abraham, Yakub, dan sebagainya.

 

4)   Daud membawa orang-orang yang selama ini mengiringinya (ay 3).

Matthew Henry: “He took his friends and followers with him, v. 3. They had accompanied him in his wanderings, and therefore, when he gained a settlement, they settled with him. Thus, if we suffer with Christ, we shall reign with him, 2 Tim 2:12. Nay, Christ does more for his good soldiers than David could do for his; David found lodging for them - They dwelt in the cities of Hebron, and adjacent towns; but to those who continue with Christ in his temptations he appoints a kingdom, and will feast them at his own table, Luke 22:29,30” (= Ia membawa sahabat-sahabat dan pengikut-pengikutnya dengannya, ay 3. Mereka telah menemaninya dalam pengembaraannya, dan karena itu, pada waktu ia mendapatkan suatu kediaman, mereka diam bersamanya. Karena itu, jika kita menderita bersama Kristus, kita akan memerintah / bertakhta bersama Dia, 2Tim 2:12. Tidak, Kristus melakukan lebih banyak untuk tentara-tentaraNya yang baik dari pada yang Daud bisa lakukan untuk tentara-tentaranya; Daud menemukan penginapan untuk mereka - Mereka tinggal di kota-kota Hebron, dan kota-kota yang berdekatan; tetapi bagi mereka yang terus bersama Kristus dalam pencobaan-pencobaanNya Ia menetapkan suatu kerajaan, dan akan berpesta dengan mereka di mejaNya sendiri, Luk 22:29,30).

2Tim 2:12 - jika kita bertekun, kitapun akan ikut memerintah dengan Dia; jika kita menyangkal Dia, Diapun akan menyangkal kita”.

Luk 22:29-30 - “(29) Dan Aku menentukan hak-hak Kerajaan bagi kamu, sama seperti BapaKu menentukannya bagiKu, (30) bahwa kamu akan makan dan minum semeja dengan Aku di dalam KerajaanKu dan kamu akan duduk di atas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel”.

Catatan: saya tidak tahu apakah penafsiran ini bisa diterima, mengingat Daud memang merupakan type dari Kristus. Tetapi penafsiran seperti ini memang mungkin merupakan suatu perohanian yang salah.

 

 

-bersambung-

 

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali