Kebaktian

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Jl. Dinoyo 19b, lantai 3)

 

Minggu, tgl 30 Mei 2010, pk 17.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

[email protected]

II SAMUEL 1:17-27(1)

 

2Sam 1:17-27 - “(17) Daud menyanyikan nyanyian ratapan ini karena Saul dan Yonatan, anaknya, (18) dan ia memberi perintah untuk mengajarkan nyanyian ini kepada bani Yehuda; itu ada tertulis dalam Kitab Orang Jujur. (19) Kepermaianmu, hai Israel, mati terbunuh di bukit-bukitmu! Betapa gugur para pahlawan! (20) Janganlah kabarkan itu di Gat, janganlah beritakan itu di lorong-lorong Askelon, supaya jangan bersukacita anak-anak perempuan orang Filistin, supaya jangan beria-ria anak-anak perempuan orang-orang yang tidak bersunat! (21) Hai gunung-gunung di Gilboa! jangan ada embun, jangan ada hujan di atas kamu, hai padang-padang pembawa kematian! Sebab di sanalah perisai para pahlawan dilumuri, perisai Saul yang tidak diurapi dengan minyak. (22) Tanpa darah orang-orang yang mati terbunuh dan tanpa lemak para pahlawan panah Yonatan tidak pernah berpaling pulang, dan pedang Saul tidak kembali dengan hampa. (23) Saul dan Yonatan, orang-orang yang dicintai dan yang ramah, dalam hidup dan matinya tidak terpisah. Mereka lebih cepat dari burung rajawali, mereka lebih kuat dari singa. (24) Hai anak-anak perempuan Israel, menangislah karena Saul, yang mendandani kamu dengan pakaian mewah dari kain kirmizi, yang menyematkan perhiasan emas pada pakaianmu. (25) Betapa gugur para pahlawan di tengah-tengah pertempuran! Yonatan mati terbunuh di bukit-bukitmu. (26) Merasa susah aku karena engkau, saudaraku Yonatan, engkau sangat ramah kepadaku; bagiku cintamu lebih ajaib dari pada cinta perempuan. (27) Betapa gugur para pahlawan dan musnah senjata-senjata perang!”.

 

I) Nyanyian ratapan Daud.

 

Ay 17-18:(17) Daud menyanyikan nyanyian ratapan ini karena Saul dan Yonatan, anaknya, (18) dan ia memberi perintah untuk mengajarkan nyanyian ini kepada bani Yehuda; itu ada tertulis dalam Kitab Orang Jujur.

 

1)   Terjemahan.

KJV: ‘(17) And David lamented with this lamentation over Saul and over Jonathan his son: (18) Also he bade them teach the children of Judah (the use of) the bow: behold, it is written in the book of Jasher.’ [= (17) Dan Daud meratap dengan ratapan ini atas Saul dan atas Yonatan, anaknya: (18) Juga ia meminta mereka mengajar anak-anak Yehuda (penggunaan dari) busur: lihat, itu tertulis dalam kitab Yashar / orang jujur].

 

a)   Sebenarnya kata-kata ‘the use of’ (= penggunaan dari) dalam KJV tidak ada, dan kebanyakan penafsir menganggap kata-kata itu harus dibuang, tetapi ada penafsir yang menganggap bahwa penyisipan / penyuplaian kata-kata itu perlu supaya kalimatnya jadi mempunyai arti.

 

NIV maupun NASB juga memberikan penyisipan (bagian yang saya garis-bawahi), yang seharusnya juga tidak ada.

NIV: ‘(17) David took up this lament concerning Saul and his son Jonathan, (18) and ordered that the men of Judah be taught this lament of the bow (it is written in the Book of Jashar):’.

NASB: ‘(17) Then David chanted with this lament over Saul and Jonathan his son, (18) and he told them to teach the sons of Judah the song of the bow; behold, it is written in the book of Jashar’.

 

b)   Kata ‘bow’ (= busur) seharusnya memang ada, tetapi entah mengapa, kata itu dihapuskan dalam terjemahan Kitab Suci Indonesia.

 

2)   Arti dari ‘bow’ (= busur).

Ada yang mengatakan bahwa ‘bow’ (= busur) merupakan nama alat musik. Tetapi pada umumnya para penafsir beranggapan bahwa kata ‘bow’ (= busur) ini merupakan judul dari nyanyian ratapan ini. Tetapi mengapa nyanyian ratapan ini diberi nama seperti itu?

 

a)   Ada yang menganggap bahwa ini menunjuk pada keahlian orang-orang Filistin dalam menggunakan busur dan panah, sehingga berhasil membunuh Saul.

1Sam 31:3 - “Kemudian makin beratlah pertempuran itu bagi Saul; para pemanah menjumpainya, dan melukainya dengan parah”.

 

Penafsir dari The Biblical Illustrator menerima pandangan ini dan menerima juga penambahan kata-kata ‘the use of’ (= penggunaan dari) dalam KJV. Ia lalu menganggap bahwa Daud menyuruh sukunya (suku Yehuda) belajar menggunakan busur / panah, karena kekalahan Israel yang baru terjadi, disebabkan karena keahlian musuh / orang Filistin dalam menggunakan panah, dan kekurang-ahlian orang-orang Israel dalam menggunakan panah. Jadi, ini merupakan suatu perintah / anjuran untuk belajar dari kekalahan, dan belajar hal-hal yang baik dari musuh.

 

The Biblical Illustrator: Old Testament: “Learn the way to victory. David judged that if they were defeated by the bow they might yet win by the bow. It is right to learn from our adversaries. There is something to be learnt from Satan. If he goes about, let us be diligent; if he seeks whom he may devour, let us seek whom we may save; and if he watches carefully to find out our weak points, let us watch those whom we would bless to find out how we may best reach their hearts” (= Pelajarilah jalan menuju kemenangan. Daud menilai bahwa jika mereka dikalahkan oleh busur / panah, mereka juga bisa menang oleh busur / panah. Merupakan hal yang benar untuk belajar dari musuh-musuh kita. Ada sesuatu untuk dipelajari dari Iblis. Jika ia berkeliaran, hendaklah kita rajin; jika ia mencari siapa yang bisa ditelannya, hendaklah kita mencari siapa yang bisa kita selamatkan; dan jika ia memperhatikan dengan teliti untuk mengetahui kelemahan kita, hendaklah kita memperhatikan siapa yang akan kita berkati untuk mengetahui bagaimana kita bisa menjangkau hati mereka dengan cara yang terbaik).

 

Penerapan: misalnya belajar dari Saksi-Saksi Yehuwa, dalam kerajinan belajar ‘Firman Tuhan’, kerajinan dan semangat melayani dan memberitakan ‘Injil’, kerelaan mereka untuk berkorban untuk gerakan mereka, kedisiplinan mereka, dan dalam mendidik anak-anak untuk tenang dalam kebaktian!

Amsal 13:24 - “Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya”.

Amsal 29:15 - “Tongkat dan teguran mendatangkan hikmat, tetapi anak yang dibiarkan mempermalukan ibunya”.

Amsal 23:13-14 - “(13) Jangan menolak didikan dari anakmu ia tidak akan mati kalau engkau memukulnya dengan rotan. (14) Engkau memukulnya dengan rotan, tetapi engkau menyelamatkan nyawanya dari dunia orang mati”.

 

b)   Ada yang menganggap bahwa kata ‘bow’ (= busur) ini menunjuk pada busur dari Yonatan.

Pulpit Commentary mengatakan bahwa kata ‘bow’ (= busur) ini tidak mungkin menunjuk pada keahlian menggunakan panah dari orang-orang Filistin, dan bahwa orang-orang Israel harus belajar dari mereka. Alasan yang diberikan adalah bahwa orang-orang Israel sendiri ahli dalam menggunakan panah.

1Taw 12:2 - “Mereka bersenjatakan panah, dan sanggup melontarkan batu dan menembakkan anak-anak panah dari busur dengan tangan kanan atau tangan kiri. Mereka itu dari saudara-saudara sesuku Saul, dari orang Benyamin”.

 

Karena itu, kata bow / busur itu harus menunjuk pada busur dari Yonatan. Bdk. ay 22 yang membicarakan panah (Inggris: ‘bow’) dari Yonatan.

Ay 22: Tanpa darah orang-orang yang mati terbunuh dan tanpa lemak para pahlawan panah Yonatan tidak pernah berpaling pulang, dan pedang Saul tidak kembali dengan hampa.

 

Ada 2 peristiwa di masa lalu yang mengingatkan Daud tentang panah / busur dari Yonatan, yaitu peristiwa dalam 1Sam 18:4 dan 1Sam 20:1-43.

1Sam 18:4 - “Yonatan menanggalkan jubah yang dipakainya, dan memberikannya kepada Daud, juga baju perangnya, sampai pedangnya, panahnya dan ikat pinggangnya”.

1Sam 20:18-22 - “(18) Kemudian berkatalah Yonatan kepadanya: ‘Besok bulan baru; maka engkau nanti akan ditanyakan, sebab tempat dudukmu akan tinggal kosong. (19) Tetapi lusa engkau pasti akan dicari; engkau harus datang ke tempat engkau bersembunyi pada hari peristiwa itu, dan duduklah dekat bukit batu. (20) Maka aku akan memanahkan tiga anak panah ke samping batu itu, seolah-olah aku membidik suatu sasaran. (21) Dan ketahuilah, aku akan menyuruh bujangku: Pergilah mencari anak-anak panah itu. Jika tegas kukatakan kepada bujang itu: Lihat anak-anak panah itu lebih ke mari, ambillah! - maka datanglah, sebab, demi TUHAN yang hidup, engkau selamat dan tidak ada bahaya apa-apa. (22) Tetapi jika begini kukatakan kepada orang muda itu: Lihat anak-anak panah itu lebih ke sana! - maka pergilah, sebab TUHAN menyuruh engkau pergi”.

 

Adam Clarke: “It was the time when that covenant was made, and that affection expressed between them ‘which was greater than the love of women.’” (= Itu adalah saat dimana perjanjian itu dibuat, dan kasih dinyatakan di antara mereka ‘yang lebih besar dari pada cinta perempuan-perempuan’).

 

3)   Ratapan Daud tentang Saul dan Yonatan.

Kalau Daud meratapi Yonatan, maka itu bukanlah sesuatu yang aneh, karena Yonatan adalah orang beriman, saleh, dan saling mengasihi dengan Daud. Tetapi bahwa Daud juga meratapi Saul merupakan sesuatu yang luar biasa.

 

a)         Saul adalah orang jahat.

Bdk. Amsal 11:10 - “Bila orang benar mujur, beria-rialah kota, dan bila orang fasik binasa, gemuruhlah sorak-sorai.

Tetapi Daud bukannya bersorak-sorai atas kematian Saul, melainkan meratapinya.

 

b)   Saul bersikap jahat terhadap Daud, dan sangat menyengsarakan kehidupan Daud untuk waktu yang sangat lama. Ini seharusnya menimbulkan kebencian dalam diri Daud kepada Saul, tetapi yang terjadi adalah: Daud meratapi kematian Saul.

 

Lalu mengapa Daud meratapi kematian Saul?

 

1.   Mungkin ia meratapi kematian Saul karena ia melihat bahwa dalam diri Saul ada hal-hal yang hebat, yang seharusnya bisa berguna untuk kemuliaan Tuhan, tetapi ternyata semua itu disia-siakan.

Pulpit Commentary: “He had known Saul as the chosen of God; equipped for high enterprise in the kingdom of God, and in a position to prepare the pathway for the coming of a mightier king. Splendid opportunities arose; strong influences were brought to bear; but all in vain. Life’s mission failed. The noble work was not done. Fine abilities were wasted. Dishonoured, abandoned by God, covered with shame - the shame of an abortive life - he passed away. Simple death would have been glory and blessing as compared with this. What was true of Saul may be true of others and, unhappily, is too often the fact. God has a purpose in the life of every human being, and our business in this world is to comprehend the nature of that purpose and realize it in our experience. It is an unutterable disaster if, knowing why we are here, and possessing all the appliances and means of carrying out God’s will, we nevertheless pass away as unprofitable servants (Matt. 25:26-30). There are instances of frequent occurrence in which splendid abilities, robust health, excellent social position, fine openings for usefulness, are all wasted by the dominance of unholy passions, and men have to witness the sad spectacle of early promise issuing in a dishonoured name and premature grave” [= Ia telah mengenal Saul sebagai orang yang dipilih oleh Allah; diperlengkapi untuk kegiatan yang tinggi dalam kerajaan Allah, dan dalam suatu posisi untuk mempersiapkan jalan bagi datangnya raja yang lebih kuat / hebat. Kesempatan yang sangat bagus muncul; pengaruh yang kuat dibawa untuk dipikul / diemban; tetapi semua sia-sia. Missi dari kehidupan gagal. Pekerjaan yang mulia tidak dilakukan. Kemampuan-kemampuan yang bagus terbuang. Terhina, ditinggalkan oleh Allah, dipenuhi dengan rasa malu - rasa malu dari kehidupan yang gagal - ia mati. Kematian yang biasa akan merupakan kemuliaan dan berkat dibandingkan dengan kematiannya ini. Apa yang benar untuk Saul bisa benar tentang orang-orang lain, dan menyedihkannya, ini sering merupakan fakta. Allah mempunyai tujuan / rencana dalam kehidupan dari setiap orang, dan urusan kita dalam dunia ini adalah untuk mengerti sifat dari tujuan / rencana itu dan mewujudkannya dalam pengalaman kita. Merupakan suatu bencana yang tak terkatakan jika, tahu mengapa kita ada di sini, dan memiliki semua alat-alat dan cara-cara untuk melaksanakan kehendak Allah, tetapi kita mati sebagai pelayan-pelayan yang tak berguna (Mat 25:26-30). Ada contoh-contoh dari kejadian yang sering terjadi dalam mana kemampuan-kemampuan yang sangat bagus, kesehatan yang sehat, posisi sosial yang sangat bagus, pembukaan yang baik untuk kebergunaan, semuanya terbuang oleh penguasaan dari nafsu-nafsu yang tidak kudus, dan orang-orang harus menyaksikan pemandangan yang menyedihkan tentang pengharapan awal yang menghasilkan suatu nama yang hina dan kubur yang terlalu dini] - hal 13.

 

2.   Mungkin ia tidak melihat Saul sebagai musuh pribadi, tetapi sebagai raja yang berani, yang mati karena membela negara / bangsanya.

Pulpit Commentary: “We observe also the nobleness of David’s nature in his total silence concerning himself, and his generous eulogy, not of Jonathan only, but also of Saul. The mean envy and the implacable jealousy of the latter are no more remembered, and he sees in him, not the personal foe, but the brave king who has fallen in his country’s cause” (= Kita memperhatikan juga kemuliaan dari sifat Daud dalam diam totalnya ia berkenaan dengan dirinya sendiri, dan kata-kata pujiannya yang murah hati untuk orang mati, bukan hanya tentang Yonatan, tetapi juga tentang Saul. Iri hati yang jahat dan kecemburuan yang keras kepala dari Saul tidak lagi diingat, dan ia melihat dalam dia, bukan seorang musuh pribadi, tetapi raja yang berani yang telah jatuh / mati karena perkara dari negaranya).

 

Ini menunjukkan bahwa Daud memandang Saul secara positif, bukan secara negatif. Ia hanya memperhatikan hal-hal yang baik dalam diri Saul, tetapi melupakan hal-hal buruk dalam diri Saul. Menurut saya, sebenarnya kalau hal seperti ini dilakukan secara extrim, juga bukan merupakan sesuatu yang baik, karena akan menyebabkan kita terus membiarkan kesalahan-kesalahan dalam diri seseorang. Tetapi perlu diingat bahwa Daud melakukan hal ini terhadap Saul, yang sudah mati.

Penerapan: bagaimana cara saudara menilai seseorang? Ada orang-orang yang terlalu kritis, yang selalu hanya menyoroti kejelekan seseorang. Orang seperti ini sebetulnya merugikan dirinya sendiri, karena akan kecewa / marah terhadap semua orang.

 

3.         Allah mengatur ratapan Daud sebagai suatu TYPE.

The Biblical Illustrator: Old Testament: “David weeping over Saul is a type of Christ weeping over Jerusalem which rejected Him” (= Tangisan Daud atas Saul merupakan TYPE dari tangisan Kristus atas Yerusalem yang menolakNya).

Tentang ratapan Yesus atas Yerusalem, lihat Mat 23:37-39 - “(37) ‘Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau. (38) Lihatlah rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi. (39) Dan Aku berkata kepadamu: Mulai sekarang kamu tidak akan melihat Aku lagi, hingga kamu berkata: Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!’”.

 

The Biblical Illustrator: Old Testament: “DAVID’S LAMENT OVER SAUL. ... I see in this the spirit of forgiveness. There was enough in Saul’s dealings with David to have dulled the poignancy of grief, and even to have called up resentment. David’s conduct seems an anticipation of the Christian precept, not only to forgive, but to love your enemies” (= Ratapan Daud atas Saul. ... Saya melihat dalam ratapan ini roh pengampunan. Ada cukup banyak hal dalam penanganan Saul terhadap Daud untuk memudarkan kepedihan dari kesedihan, dan bahkan untuk menimbulkan kebencian. Tingkah laku Daud kelihatannya merupakan suatu antisipasi dari ajaran Kristen, bukan hanya untuk mengampuni, tetapi mengasihi musuh).

 

4)   Kitab orang jujur.

KJV/NKJV: ‘the book of Jasher’ (= kitab Yasher).

RSV/NIV/NASB: ‘the book of Jashar’ (= kitab Yashar).

Kitab Suci bahasa Inggris mentransliterasikan kata Yashar dari kata bahasa Ibraninya. Artinya memang ‘orang jujur / orang lurus’. Istilah itu hanya muncul di sini dan dalam Yos 10:13.

Yos 10:13 - “Maka berhentilah matahari dan bulanpun tidak bergerak, sampai bangsa itu membalaskan dendamnya kepada musuhnya. Bukankah hal itu telah tertulis dalam Kitab Orang Jujur? Matahari tidak bergerak di tengah langit dan lambat-lambat terbenam kira-kira sehari penuh”.

 

Matthew Henry: “It is written in the book of Jasher, there it was kept upon record, and thence transcribed into this history. ... Even songs would be forgotten and lost if they were not committed to writing, that best conservatory of knowledge” (= Itu tertulis dalam kitab Yashar, di sana itu dicatat, dan kemudian dituliskan ke dalam sejarah ini. ... Bahkan lagu-lagu akan dilupakan dan hilang jika mereka tidak dituliskan, yang merupakan pengawetan dari pengetahuan).

 

Catatan: ada bermacam-macam pandangan tentang kitab orang jujur ini, tetapi saya anggap tidak penting. Saya berikan kutipannya di bawah ini, tanpa terjemahan.

 

The Biblical Illustrator: Old Testament: “The book of Jasher: - There is great diversity of opinion as to ‘the book of Jasher,’ or, as it is given in the margin, ‘the book of the upright.’ It is mentioned only here and in Josh 10:13. Here are some of the opinions concerning it which seem to us more or less probable: 1. That it was a book of upright or authentic records or chronicles, probably those of the high priest, and from which much of the Old Testament history was compiled. 2. That Yashar ‘is better taken as a collective term for Israelites, like y’sharim in Num 23:10; Ps 111:1; and so translated Book of the Israelites, i.e. national book’ (Fuerst). The same theory is put thus by Mr. Aldis Wright: ‘The book of Jasher... so called because it contained the relation of the deeds of the people of Israel, who are elsewhere spoken of under the symbolical name Jeshurun. 3. That it was a collection of state poems, written by some one named Jasher, and probably a continuation of ‘the book of the wars of Jehovah’ (Num 21:14). 4. Others assert that it was a collection of national songs, and in proof of this allege that Yashar is equivalent to Hashshir, the song or poem. 5. That the book of Jasher contained the deeds of national heroes of all ages ‘celebrated in verse, and included Joshua’s victory over the five kings of the Amorites (Josh 10.), and David’s lament over Saul and Jonathan. 6. That it was a choice collection of ancient songs, and was called ‘the book of the just or upright,’ because it celebrated the praise of upright men. We may fairly conclude that it was written in verse ‘from the only specimens extant, which exhibit unmistakable signs of metrical rhythm’; but with regard to the contents nothing can be confidently affirmed” (= ).

Bil 21:14 - “Itulah sebabnya dikatakan dalam kitab peperangan TUHAN: ‘Waheb di Sufa dan lembah-lembah ke sungai Arnon”.

 

IVP Bible Background Commentary: Old Testament: “Book of Jashar. It is inferred that the Book of Jashar contained ancient poetic accounts of heroic deeds (the only other reference to it is in Josh 10:13). It has not been preserved. The title ‎Jashar ‎could be the adjective ‘upright’ or a form of the Hebrew verb ‘sing.’” (= ).

 

Sekarang, jelas bahwa kitab orang jujur / the book of Yashar ini sudah tidak ada. Ini jelas bukan termasuk dalam Alkitab. Lalu mengapa penulis kitab Samuel mengutip dari kitab ini? Hal-hal seperti ini digunakan oleh Yakub Tri untuk membenarkan dirinya pada waktu mengatakan Yudas mengutip dari kitab Henokh. Saya menjawab: tak ada salahnya penulis Alkitab mengutip kata-kata orang lain dari suatu kitab, selama ia melakukan pengutipan itu dibawah pimpinan Roh Kudus, tetapi itu sangat berbeda dengan kalau penulis Alkitab mengutip dari suatu kitab yang palsu (memalsu nama Henokh, yang jelas bukan penulis kitab itu) dan sesat. Saya tidak percaya Roh Kudus mau memimpin penulis Alkitab untuk mengutip dari suatu kitab yang palsu dan sesat!

 

II) Isi dari nyanyian ratapan Daud.

 

1)   Ay 19:Kepermaianmu, hai Israel, mati terbunuh di bukit-bukitmu! Betapa gugur para pahlawan!”.

KJV: ‘The beauty of Israel is slain upon thy high places: how are the mighty fallen!’ (= Keindahan dari Israel terbunuh di bukit-bukitmu: betapa jatuh / gugur orang-orang perkasa).

 

Kata ‘the beauty’ (= keindahan) dalam bahasa Ibrani ada dalam bentuk tunggal, dan kata ‘the mighty’ (= orang perkasa) dalam bahasa Ibrani ada dalam bentuk jamak. Karena itu ada yang menafsirkan bahwa kata pertama menunjuk kepada Yonatan saja, dan kata kedua menunjuk kepada Saul dan Yonatan. Tetapi ada juga yang menganggap bahwa keduanya menunjuk kepada Saul dan Yonatan.

 

The Biblical Illustrator: Old Testament: “How is the mighty fallen! - fallen under the superior power of death! - Death, the king of terrors, the conqueror of conquerors; whom riches cannot bribe, nor power resist; whom goodness cannot soften, nor dignity and loyalty deter, or awe to a reverential distance. Death intrudes into palaces as well as cottages; and arrests the monarch as well as the slave. ... Death sweeps off thousands of our fellow-subjects every year. Our neighbours, like leaves in autumn, drop into the grave, in a thick succession; and our attendance upon funerals is almost as frequent and formal as our visits of friendship or complaisance. Yet how few realise the thought that they must die! Pilgrims and strangers imagine themselves everlasting residents; and make this transitory life their all, as if earth was to be their eternal home; as if eternity was but a fairy land, and heaven and hell but majestic chimeras” [= Betapa gugur orang-orang perkasa! - gugur di bawah kuasa yang lebih besar dari kematian! - Kematian, raja dari rasa takut / ngeri, penakluk dari penakluk-penakluk; yang tidak bisa disuap oleh kekayaan, ataupun ditahan / ditolak oleh kekuasaan; yang tidak bisa dilembutkan oleh kebaikan, ataupun dihalangi oleh martabat dan kesetiaan, atau dihormati / ditakuti pada suatu jarak yang terhormat (?). Kematian masuk ke dalam istana-istana maupun gubuk-gubuk; dan menawan / menangkap raja maupun budak. ... Kematian menyapu ribuan dari rekan warga negara kita setiap tahun. Tetangga / sesama kita, seperti daun-daun di musim gugur, jatuh ke dalam kuburan, dalam rangkaian / iring-iringan yang tebal; dan kehadiran kita di penguburan hampir sama sering dan teraturnya seperti kunjungan persahabatan atau kesopanan. Tetapi betapa sedikit yang menyadari pemikiran bahwa mereka harus mati! Peziarah-peziarah dan orang-orang asing mengkhayalkan tempat tinggal yang kekal; dan membuat kehidupan yang fana ini sebagai segala sesuatu, seakan-akan bumi akan menjadi rumah kekal mereka; seakan-akan kekekalan hanyalah merupakan tanah / negeri bohong, dan surga dan neraka hanyalah gagasan tak masuk akal yang megah].

Bdk. Ibr 9:27 - “Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi”.

Maz 90:9-10,12 - “(9) Sungguh, segala hari kami berlalu karena gemasMu, kami menghabiskan tahun-tahun kami seperti keluh. (10) Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap. ... (12) Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana”.

Maz 39:5-7 - “(5) ‘Ya TUHAN, beritahukanlah kepadaku ajalku, dan apa batas umurku, supaya aku mengetahui betapa fananya aku! (6) Sungguh, hanya beberapa telempap saja Kautentukan umurku; bagiMu hidupku seperti sesuatu yang hampa. Ya, setiap manusia hanyalah kesia-siaan! Sela (7) Ia hanyalah bayangan yang berlalu! Ia hanya mempeributkan yang sia-sia dan menimbun, tetapi tidak tahu, siapa yang meraupnya nanti”.

 

2)   Ay 20:Janganlah kabarkan itu di Gat, janganlah beritakan itu di lorong-lorong Askelon, supaya jangan bersukacita anak-anak perempuan orang Filistin, supaya jangan beria-ria anak-anak perempuan orang-orang yang tidak bersunat!”.

 

a)         Tidak bersunat.

IVP Bible Background Commentary: Old Testament: “Circumcision was practiced by many different peoples in the ancient Near East ... but not by the Philistines. The comment here has little to do with physical attributes or sociological practices, but is an ethnic designation that for the Israelites is a sign of the covenant (= Sunat dipraktekkan oleh banyak bangsa yang berbeda di Timur Dekat kuno ... tetapi tidak oleh orang-orang Filistin. Komentar di sini hanya mempunyai sedikit hubungan dengan sifat-sifat fisik atau praktek-praktek kemasyarakatan, tetapi merupakan suatu penandaan etnis yang bagi orang-orang Israel merupakan tanda dari perjanjian).

 

b)         Gat dan Askelon.

 

IVP Bible Background Commentary: Old Testament: “Gath and Ashkelon were two of the five principal cities of the Philistines” (= Gat dan Askelon adalah dua dari lima kota utama dari orang-orang Filistin).

 

Barnes’ Notes: “Gath, the royal city of Achish ... Askelon, the chief seat of worship” (= Gat, kota kerajaan dari Akhis ... Askelon, kedudukan utama dari penyembahan / ibadah).

 

The Bible Exposition Commentary: Old Testament: “Gath was the capital city of the Philistines where the leaders would rejoice at their victory, and Ashkelon was the chief religious center, where the people would give thanks to their idols for helping their army defeat Israel” (= Gat adalah ibu kota dari Filistin dimana para pemimpin akan bersukaria atas kemenangan mereka, dan Askelon adalah pusat agamawi yang terutama, dimana bangsa itu akan bersyukur kepada berhala-berhala mereka untuk menolong tentara mereka mengalahkan Israel).

 

c)   Jangan memberitakan berita yang menyedihkan dalam kalangan kita ke kalangan musuh.

Sebetulnya kata-kata Daud di sini merupakan sesuatu yang aneh. Bukankah orang-orang Filistin pasti tahu kalau Saul dan Yonatan mati? Tetapi bagaimanapun pointnya adalah: jangan memberitakan apapun kepada musuh yang akan membuat mereka makin bersukacita dan makin bersemangat.

 

Keil & Delitzsch: “The tidings of this mourning were not to be carried out among the enemies of Israel, lest they should rejoice thereat. Such rejoicing would only increase the pain of Israel at the loss it had sustained” (= Kabar dari perkabungan ini tidak boleh dibawa ke antara musuh-musuh Israel, supaya jangan mereka bersukacita karenanya. Sukacita seperti itu hanya akan meningkatkan rasa sakit dari Israel karena kehilangan yang telah dideritanya).

 

Pulpit Commentary: “The sins of professors are to be the subject of silent sorrow, and, when possible, of Church discipline; not to be paraded before the world, as though such free publicity were a due chastisement for their unfaithfulness. The spirit that can readily go and ‘tell it in Gath’ is not the spirit of Christ” (= Dosa-dosa dari orang-orang percaya harus menjadi subyek / pokok dari kesedihan yang diam, dan pada waktu dimungkinkan, dari disiplin gereja; bukan untuk dipamerkan di hadapan dunia, seakan-akan publisitas bebas seperti itu merupakan hajaran yang pantas untuk ketidak-setiaan mereka. Roh / semangat yang bisa dengan mudah / cepat pergi dan ‘memberitakannya di Gat’ bukanlah roh / semangat Kristus) - hal 15.

 

The Biblical Illustrator : Old Testament: “Death is not the only fall. Men fall morally. The mighty men of the church fall like stars from heaven. The great preacher becomes a debauchee. The trusted professor is caught in fraud. The feet of the strong are tripped up. And there are men who delight in telling these things in Gath and Askelon!” (= Kematian bukanlah satu-satunya kejatuhan. Manusia jatuh secara moral. Orang-orang perkasa dari gereja jatuh seperti bintang-bintang dari surga / langit. Pengkhotbah yang besar menjadi seorang yang bejad. Orang percaya yang dipercayai ditangkap dalam penipuan / penggelapan. Kaki dari orang-orang kuat tersandung. Dan ada orang-orang yang senang dalam menceritakan hal-hal ini di Gat dan Askelon!).

 

3)   Ay 21: Hai gunung-gunung di Gilboa! jangan ada embun, jangan ada hujan di atas kamu, hai padang-padang pembawa kematian! Sebab di sanalah perisai para pahlawan dilumuri, perisai Saul yang tidak diurapi dengan minyak.

 

a)   Ay 3b menunjukkan bahwa perisai Saul dilumuri dengan darah (darah Saul sendiri), dan tidak diminyaki. Perisai biasanya diminyaki kalau mau digunakan untuk perang (bdk Yes 21:5) karena bisa membuatnya lebih kuat dan sukar ditembus (Jamieson, Fausset & Brown).

Yes 21:5 - “Orang sibuk menyajikan hidangan, mengatur tempat-tempat duduk, makan, minum ........ Tiba-tiba kedengaran: ‘Hai para panglima! Siaplah tempur, minyakilah perisai!’”.

 

b)         Ay 3a merupakan kutukan pada gunung-gunung di Gilboa.

Keil & Delitzsch mengatakan bahkan alampun harus bergabung dalam perkabungan karena kematian Saul dan Yonatan ini. Karena itu hendaklah Allah menahan berkatNya dari gunung-gunung dimana para pahlawan itu gugur.

 

4)   Ay 22: Tanpa darah orang-orang yang mati terbunuh dan tanpa lemak para pahlawan panah Yonatan tidak pernah berpaling pulang, dan pedang Saul tidak kembali dengan hampa”.

 

Matthew Henry: “His sword returned not empty, but satiated with blood and spoil, v. 22. His disgrace and fall at last must not make his former successes and services to be forgotten. Though his sun set under a cloud, time was when it shone brightly” (= Pedangnya tidak kembali dengan hampa, tetapi dikenyangkan dengan darah dan barang rampasan, ay 22. Hal yang memalukan dan kejatuhannya pada akhirnya tidak boleh membuat kesuksesan dan pelayanannya yang terdahulu dilupakan. Sekalipun mataharinya terbenam di bawah awan, ada saat dimana ia bersinar dengan terang).

 

-bersambung-

 

 

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali