(Jl. Dinoyo 19b, lantai 3)
Minggu, tgl 7 Februari 2010, pk 17.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
2Sam 1:1-16 - “(1) Setelah Saul mati, dan ketika Daud kembali sesudah memukul kalah orang Amalek dan tinggal dua hari di Ziklag, (2) maka datanglah pada hari ketiga seorang dari tentara, dari pihak Saul, dengan pakaian terkoyak-koyak dan tanah di atas kepala. Ketika ia sampai kepada Daud, sujudlah ia ke tanah dan menyembah. (3) Bertanyalah Daud kepadanya: ‘Dari manakah engkau?’ Jawabnya kepadanya: ‘Aku lolos dari tentara Israel.’ (4) Bertanyalah pula Daud kepadanya: ‘Apakah yang terjadi? Coba ceriterakan kepadaku.’ Jawabnya: ‘Rakyat telah melarikan diri dari pertempuran; bukan saja banyak dari rakyat yang gugur dan mati, tetapi Saul dan Yonatan, anaknya, juga sudah mati.’ (5) Lalu Daud berkata kepada orang muda yang membawa kabar kepadanya itu: ‘Bagaimana kauketahui, bahwa Saul dan Yonatan, anaknya, sudah mati?’ (6) Orang muda yang membawa kabar kepadanya itu berkata: ‘Kebetulan aku ada di pegunungan Gilboa; maka tampaklah Saul bertelekan pada tombaknya, sedang kereta-kereta dan orang-orang berkuda mengejarnya. (7) Ketika menoleh ke belakang, ia melihat aku, lalu memanggil aku; dan aku berkata: Ya tuanku. (8) Ia bertanya kepadaku: Siapakah engkau? Jawabku kepadanya: Aku seorang Amalek. (9) Lalu katanya kepadaku: Datanglah ke mari dan bunuhlah aku, sebab kekejangan telah menyerang aku, tetapi aku masih bernyawa. (10) Aku datang ke dekatnya dan membunuh dia, sebab aku tahu, ia tidak dapat hidup terus setelah jatuh. Aku mengambil jejamang yang ada di kepalanya, dan gelang yang ada pada lengannya, dan inilah dia kubawa kepada tuanku.’ (11) Lalu Daud memegang pakaiannya dan mengoyakkannya; dan semua orang yang bersama-sama dengan dia berbuat demikian juga. (12) Dan mereka meratap, menangis dan berpuasa sampai matahari terbenam karena Saul, karena Yonatan, anaknya, karena umat TUHAN dan karena kaum Israel, sebab mereka telah gugur oleh pedang. (13) Kemudian bertanyalah Daud kepada orang muda yang membawa kabar itu kepadanya: ‘Asalmu dari mana?’ Jawabnya: ‘Aku ini anak perantau, orang Amalek.’ (14) Kemudian berkatalah Daud kepadanya: ‘Bagaimana? Tidakkah engkau segan mengangkat tanganmu memusnahkan orang yang diurapi TUHAN?’ (15) Lalu Daud memanggil salah seorang dari anak buahnya dan berkata: ‘Ke mari, paranglah dia.’ Orang itu memarangnya, sehingga mati. (16) Dan Daud berkata kepadanya: ‘Kautanggung sendiri darahmu, sebab mulutmulah yang menjadi saksi menentang engkau, karena berkata: Aku telah membunuh orang yang diurapi TUHAN.’”.
Perhatikan komentar Barnes tentang 2Sam 1:1 di bawah ini.
Barnes’ Notes: “There is no break whatever between the two books of Samuel, the division being purely artificial” (= Tidak ada pemutusan apapaun di antara kedua kitab Samuel, pembagiannya semata-mata hanya merupakan sesuatu yang dibuat-buat).
I) Daud tinggal 2 hari di Ziklag (ay 1).
Ay 1: “Setelah Saul mati, dan ketika Daud kembali sesudah memukul kalah orang Amalek dan tinggal dua hari di Ziklag”.
Pulpit Commentary (hal 7) mengatakan bahwa Daud tinggal 2 hari di Ziklag untuk menunggu Providensia Allah bekerja.
Pulpit Commentary: “his persistent resolve not to take a single step of his own devising that would seem to force on the removal of Saul from the throne, in order to secure thereby his own elevation. ... he felt that he could do nothing but maintain a resolute inactivity leaving the issue of impending events to Providence” (= ketetapan hati / keputusannya yang gigih untuk tidak melakukan satu langkahpun dari pikiran / rencananya sendiri yang terlihat memaksakan penyingkiran Saul dari takhta, supaya dengan itu memastikan pengangkatan / peninggiannya sendiri. ... ia merasa bahwa ia tidak bisa berbuat apapun kecuali mempertahankan suatu ketidak-aktifan yang tegas dan menyerahkan hasil dari peristiwa-peristiwa yang mendatang pada Providensia) - hal 7.
Pulpit Commentary: “Most probably David’s followers, knowing as they did that Saul stood between him and the throne, often marvelled at his patient inactivity. But by a keener spiritual vision than they possessed, he recognized the perfect control of the God he served, and had amazing faith in the sure though slow unfolding of his purposes. Hence he could wait and be still. ... So likewise we in secular and spiritual affairs may be said to wait on Providence when, in spite of difficulties that almost crush out our life, we, being conscious of oneness with Christ, stagger not in our belief in the all-controlling wisdom and power, and rest in the certainty of an order of things which is being directed towards the realization of the Divine purposes with which our entire life is identified” [= Sangat memungkinkan pengikut-pengikut Daud, yang mengetahui bahwa Saul berada di antara dia dan takhta, sering heran akan ketidak-aktifannya yang sabar. Tetapi dengan suatu visi rohani yang lebih tajam dari pada yang mereka miliki, ia mengenali kontrol yang sempurna dari Allah yang ia layani, dan mempunyai iman yang mengherankan dalam pembukaan / pelaksanaan dari rencanaNya, yang sekalipun lambat tetapi pasti. Karena itu ia bisa menunggu dan tetap diam. ... Demikian juga kita dalam urusan-urusan sekuler dan rohani bisa dikatakan menunggu pada Providensia, pada waktu, sekalipun ada kesukaran-kesukaran yang hampir menghancurkan kehidupan kita, kita, dengan menyadari akan kesatuan dengan Kristus, tidak terhuyung-huyung dalam kepercayaan kita pada hikmat dan kuasa yang mengontrol segala sesuatu, dan beristirahat dalam kepastian dari urut-urutan dari hal-hal yang diarahkan pada realisasi / pelaksanaan dari rencana Ilahi dengan mana seluruh hidup kita dikenali].
Matthew Henry: “It was strange that he did not leave some spies about the camp, to bring him early notice of the issue of the engagement, a sign that he desired not Saul’s woeful day, nor was impatient to come to the throne, but willing to wait till those tidings were brought to him ... He that believes does not make haste, takes good news when it comes and is not uneasy while it is in the coming” (= Adalah aneh bahwa ia tidak meninggalkan beberapa mata-mata di sekitar perkemahan, untuk membawa kepadanya pemberitahuan yang awal tentang hasil dari pertempuran itu, suatu tanda bahwa ia tidak menginginkan hari celaka Saul, ataupun tidak sabar untuk datang pada takhta, tetapi mau untuk menunggu sampai kabar baik itu dibawa kepadanya ... Ia yang percaya tidak terburu-buru, menerima kabar baik itu pada saat kabar itu datang, dan tidak gelisah sementara kabar itu masih dalam perjalanan).
Tetapi ketiga kutipan di atas tidak berarti bahwa kita harus selalu pasif dan hanya menunggu Providensia Allah / pekerjaan Allah dalam melaksanakan rencanaNya. Kepasifan total seperti itu, hanya dilakukan dalam hal-hal tertentu dimana memang tidak ada apapun yang bisa kita lakukan. Dalam hal-hal lain, kepasifan seperti itu, merupakan suatu fatalisme, atau sikap hyper-Calvinist, dan jelas merupakan sesuatu yang salah.
Pulpit Commentary: “there are seasons in human life when, perhaps, all we can do is to wait on Providence. There is, however, a false, even wicked, waiting, which is but another name for idleness or fatalism, or vague looking for some lucky chance” (= ada saat-saat dalam kehidupan manusia pada waktu, mungkin apa yang bisa kita lakukan hanyalah menunggu pada Providensia. Tetapi ada juga suatu sikap menunggu yang palsu, bahkan jahat, yang hanyalah merupakan sebutan lain untuk kemalasan atau fatalisme, atau pencarian yang tidak jelas untuk suatu kesempatan yang mujur) - hal 7.
II) Laporan tentang kematian Saul dan Yonatan.
Ay 2-10: “(2) maka datanglah pada hari ketiga seorang dari tentara, dari pihak Saul, dengan pakaian terkoyak-koyak dan tanah di atas kepala. Ketika ia sampai kepada Daud, sujudlah ia ke tanah dan menyembah. (3) Bertanyalah Daud kepadanya: ‘Dari manakah engkau?’ Jawabnya kepadanya: ‘Aku lolos dari tentara Israel.’ (4) Bertanyalah pula Daud kepadanya: ‘Apakah yang terjadi? Coba ceriterakan kepadaku.’ Jawabnya: ‘Rakyat telah melarikan diri dari pertempuran; bukan saja banyak dari rakyat yang gugur dan mati, tetapi Saul dan Yonatan, anaknya, juga sudah mati.’ (5) Lalu Daud berkata kepada orang muda yang membawa kabar kepadanya itu: ‘Bagaimana kauketahui, bahwa Saul dan Yonatan, anaknya, sudah mati?’ (6) Orang muda yang membawa kabar kepadanya itu berkata: ‘Kebetulan aku ada di pegunungan Gilboa; maka tampaklah Saul bertelekan pada tombaknya, sedang kereta-kereta dan orang-orang berkuda mengejarnya. (7) Ketika menoleh ke belakang, ia melihat aku, lalu memanggil aku; dan aku berkata: Ya tuanku. (8) Ia bertanya kepadaku: Siapakah engkau? Jawabku kepadanya: Aku seorang Amalek. (9) Lalu katanya kepadaku: Datanglah ke mari dan bunuhlah aku, sebab kekejangan telah menyerang aku, tetapi aku masih bernyawa. (10) Aku datang ke dekatnya dan membunuh dia, sebab aku tahu, ia tidak dapat hidup terus setelah jatuh. Aku mengambil jejamang yang ada di kepalanya, dan gelang yang ada pada lengannya, dan inilah dia kubawa kepada tuanku.’”.
1) Sukacita dan problem / kesedihan.
Calvin: “The text says, ‘On the third day, having returned from the destruction of the Amalekites’, news was brought to David of the death of Saul (2Sam 1:1-4). The victory that he had won was intended to cause him to give thanks and praise to God. ... But suddenly, here was a message which turned his joy into sorrow. With these things in mind, let us contemplate how easily our life can change. Any time God blesses us, let us be prepared also to accept the reverse, that is, all the afflictions with which he wants to test us” [= Textnya mengatakan, ‘Pada hari ketiga, setelah kembali dari penghancuran orang-orang Amalek’, suatu kabar dibawa kepada Daud tentang kematian dari Saul (2Sam 1:1-4). Kemenangan yang telah ia menangkan dimaksudkan untuk menyebabkan ia bersyukur dan memuji Allah. ... Tetapi tiba-tiba, di sini ada suatu berita yang membalikkan sukacitanya menjadi kesedihan. Dengan hal-hal ini dalam pikiran kita, marilah kita merenungkan betapa dengan mudahnya kehidupan kita bisa berubah. Setiap saat Allah memberkati kita, hendaklah kita juga siap untuk menerima kebalikannya, yaitu semua penderitaan dengan mana ia mau menguji kita] - ‘Sermons on Second Samuel’, hal 2.
Calvin: “a man should never fail to remember that a hundred different situations with a thousand sorts of annoyances and distresses can happen to us. That is how our joys are often tempered, as if we were pouring water in our wine. We see, for instance, that those who drink too much come to grief, even though God gave them what they wanted. They enjoy themselves to the point of getting drunk, like a man who has found good wine, and does not drink it moderately nor merely for his health, but over-indulges to such an extent that he is out of his senses. It is the same with people who enjoy themselves too much when they are prospering. That is the reason God chastises them, and why he sends them afflictions when they abuse his grace in this way” [= seorang manusia tidak pernah boleh gagal untuk mengingat bahwa seratus keadaan yang berbeda dengan seribu jenis gangguan dan keadaan-keadaan yang berbahaya / sukar bisa terjadi pada kita. Itulah bagaimana sukacita kita sering dicampuri supaya tidak berlebihan, seakan-akan kita mencurahkan air ke dalam anggur kita. Sebagai contoh, kita melihat bahwa mereka yang minum terlalu banyak sampai pada kesedihan, sekalipun Allah memberi mereka apa yang mereka inginkan. Mereka menikmati diri mereka sendiri sampai pada titik dimana mereka menjadi mabuk, seperti seseorang yang telah menemukan anggur yang baik, dan tidak meminumnya secara moderat ataupun semata-mata untuk kesehatannya, tetapi memuaskan secara berlebihan sampai pada suatu titik dimana ia kehilangan kewarasannya. Hal yang sama terjadi dengan orang-orang yang menikmati diri mereka sendiri secara kelewat batas pada waktu mereka makmur. Itulah alasannya mengapa Allah menghajar mereka, dan mengapa Ia mengirimkan penderitaan kepada mereka pada waktu mereka menyalah-gunakan kasih karuniaNya dengan cara ini] - ‘Sermons on Second Samuel’, hal 2-3.
Calvin: “Thus, when God has given us cause to rejoice - whether for a day or a month - let us learn to accept any trial which he chooses to test us. And let us carefully note the example that we have of Job, who said, ‘If we receive good from the hand of the Lord, then why should we not also receive evil from him?’ (Job 2:10). By saying this Job teaches us not to think that because God blesses us and treats us kindly at one time, he is therefore always obliged to do so. Instead, let us realise that God moves us from one side to the other so that we cannot relax and fall asleep in our dullness and stupidity. For we need to be continually tried, because our senses are too attached to this world; and we wish to make our own paradise on earth as though there were no blessedness greater than that!” [= Maka, pada waktu Allah telah memberikan kita alasan untuk bersukacita - apakah untuk satu hari atau satu bulan - hendaklah kita belajar untuk menerima ujian apapun yang Ia pilih untuk menguji kita. Dan hendaklah kita dengan hati-hati memperhatikan teladan yang kita miliki tentang Ayub, yang berkata: ‘Jika kita menerima yang baik dari tangan Tuhan, maka mengapa kita tidak harus juga menerima bencana / yang buruk dari Dia?’ (Ayub 2:10). Dengan mengatakan ini Ayub mengajar kita untuk tidak menganggap bahwa karena Ia memberkati kita dan memperlakukan kita dengan baik pada suatu waktu, karena itu Ia wajib untuk selalu melakukan hal itu. Sebaliknya, hendaklah kita menyadari bahwa Allah menggerakkan kita dari satu pihak ke pihak yang lain sehingga kita tidak bisa bersantai dan jatuh tertidur dalam ketumpulan dan ketololan kita. Karena kita perlu untuk terus menerus diuji, karena perasaan / pikiran kita terlalu melekat pada dunia ini; dan kita ingin untuk membuat surga kita sendiri di bumi seakan-akan tidak ada berkat yang lebih besar dari itu!] - ‘Sermons on Second Samuel’, hal 3.
Ayub 2:10 -
“Tetapi jawab Ayub
kepadanya: ‘Engkau berbicara seperti perempuan gila (bodoh / tolol)!
Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang
buruk?’ Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya”.
2) Sandiwara dari orang muda Amalek.
Kata-kata ‘pakaian terkoyak-koyak dan tanah di atas kepala’ (ay 2) merupakan tindakan / upacara umum yang menyertai perkabungan, kesedihan, atau pertobatan. Bdk. 2Sam 13:19 Ester 4:1-3 Ayub 1:20 Ayub 2:8,12 Yunus 3:6.
Ini hanya merupakan tradisi mereka untuk menyatakan kesedihan, pertobatan dsb, dan tentu sama sekali tidak perlu kita tiru.
Apa yang dilakukan oleh orang Amalek ini, mulai dari pakaian yang koyak-koyak yang dikenakannya, peletakan tanah di kepalanya, penyembahannya kepada Daud, dan penceritaan cerita dustanya, jelas merupakan suatu kepura-puraan / sandiwara! Ini merupakan suatu tindakan dusta dan munafik, dengan maksud menyenangkan Daud dan mendapatkan sesuatu yang menguntungkan dari Daud.
Calvin: “Hence, this young man was doing what he had seen, but there was more pretence on his part, because he was a foreigner without fear of God and without religion. He thus went through the motions of repentance without having a single drop of it. We see this pretence still carried on by the papacy on ‘Ash Wednesday’, as they call it, when they put ashes on their foreheads in order to show that they are nothing but dust. They want to appear to carry out their duty faithfully in this matter, but in fact they are pitting themselves against God and despising him. Thus, they do the very opposite of what the sign portrays, which is how it was with this young Amalekite” [= Karena itu, orang muda ini melakukan apa yang telah ia lihat, tetapi ada banyak kepura-puraan dalam dirinya, karena ia adalah seorang asing tanpa rasa takut kepada Allah dan tanpa agama. Demikianlah ia melakukan gerakan-gerakan pertobatan tanpa mempunyai setetespun pertobatan. Kita melihat kepura-puraan ini tetap dilakukan oleh kepausan pada ‘Rabu Abu’, sebagaimana mereka menyebutnya, pada waktu mereka meletakkan abu pada kening mereka untuk menunjukkan bahwa mereka hanyalah abu. Mereka ingin terlihat melaksanakan kewajiban mereka dengan setia dalam persoalan ini, tetapi dalam faktanya mereka meletakkan diri mereka sendiri menentang Allah dan meremehkan Dia. Jadi, mereka melakukan hal yang persis sebaliknya dengan apa yang digambarkan oleh tanda itu, yang adalah apa yang dilakukan oleh orang Amalek muda ini] - ‘Sermons on Second Samuel’, hal 5.
Merupakan sesuatu yang menarik bahwa kata ‘orang munafik’, yang dalam bahasa Inggrisnya adalah ‘hypocrite’, berasal dari kata Yunani HUPOKRITES, yang artinya adalah aktor / pemain sandiwara. Aktor / pemain sandiwara bisa tertawa pada saat mereka sebetulnya sedih, dan sebaliknya bisa kelihatan sedih pada saat mereka senang, dan sebagainya. Dan orang yang dalam hidupnya bersikap seperti itu, adalah seorang pemain sandiwara, atau ‘orang munafik’!
Yesus jelas sangat membenci kemunafikan, dan itu terlihat dari serangan-serangan / kecaman-kecamanNya yang begitu keras terhadap ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, yang memang merupakan orang-orang yang sangat munafik.
Juga dalam Kitab Suci ada penceritaan tentang orang-orang munafik / kemunafikan, dan penceritaannya secara implicit mengecam kemunafikan. Misalnya:
a) Absalom.
2Sam 15:1-6 - “(1) Sesudah itu Absalom menyediakan baginya sebuah kereta serta kuda dan lima puluh orang yang berlari di depannya. (2) Maka setiap pagi berdirilah Absalom di tepi jalan yang menuju pintu gerbang. Setiap orang yang mempunyai perkara dan yang mau masuk menghadap raja untuk diadili perkaranya, orang itu dipanggil Absalom dan ditanyai: ‘Dari kota manakah engkau?’ Apabila ia menjawab: ‘Hambamu ini datang dari suku Israel anu,’ (3) maka berkatalah Absalom kepadanya: ‘Lihat, perkaramu itu baik dan benar, tetapi dari pihak raja tidak ada seorangpun yang mau mendengarkan engkau.’ (4) Lagi kata Absalom: ‘Sekiranya aku diangkat menjadi hakim di negeri ini! Maka setiap orang yang mempunyai perkara atau pertikaian hukum boleh datang kepadaku, dan aku akan menyelesaikan perkaranya dengan adil.’ (5) Apabila seseorang datang mendekat untuk sujud menyembah kepadanya, maka diulurkannyalah tangannya, dipegangnya orang itu dan diciumnya. (6) Cara yang demikianlah diperbuat Absalom kepada semua orang Israel yang mau masuk menghadap untuk diadili perkaranya oleh raja, dan demikianlah Absalom mencuri hati orang-orang Israel”.
b) Yudas Iskariot.
Yoh 12:4-6 - “(4) Tetapi Yudas Iskariot, seorang dari murid-murid Yesus, yang akan segera menyerahkan Dia, berkata: (5) ‘Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?’ (6) Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya”.
Mat 26:24-25 - “(24) Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan.’ (25) Yudas, yang hendak menyerahkan Dia itu menjawab, katanya: ‘Bukan aku, ya Rabi?’ Kata Yesus kepadanya: ‘Engkau telah mengatakannya.’”.
Luk 22:47-48 - “(47) Waktu Yesus masih berbicara datanglah serombongan orang, sedang muridNya yang bernama Yudas, seorang dari kedua belas murid itu, berjalan di depan mereka. Yudas mendekati Yesus untuk menciumNya. (48) Maka kata Yesus kepadanya: ‘Hai Yudas, engkau menyerahkan Anak Manusia dengan ciuman?’”.
c) Tokoh-tokoh agama Yahudi.
Mat 6:1-2,5,16 - “(1) ‘Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga. (2) Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. ... (5) ‘Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. ... (16) ‘Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya”.
Mat 7:3-5 - “(3) Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? (4) Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. (5) Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.’”.
Mat 15:7-9 - “(7) Hai orang-orang munafik! Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu: (8) Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari padaKu. (9) Percuma mereka beribadah kepadaKu, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.’”.
Mat 22:17-18 - “(17) Katakanlah kepada kami pendapatMu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?’ (18) Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata: ‘Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik?”.
Mat 23:23-28 - “(23) Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. (24) Hai kamu pemimpin-pemimpin buta, nyamuk kamu tapiskan dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan. (25) Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan. (26) Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih. (27) Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran. (28) Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan”.
d) Petrus, Barnabas, dan orang-orang Kristen Yahudi yang lain.
Gal 2:11-14 - “(11) Tetapi waktu Kefas datang ke Antiokhia, aku berterang-terang menentangnya, sebab ia salah. (12) Karena sebelum beberapa orang dari kalangan Yakobus datang, ia makan sehidangan dengan saudara-saudara yang tidak bersunat, tetapi setelah mereka datang, ia mengundurkan diri dan menjauhi mereka karena takut akan saudara-saudara yang bersunat. (13) Dan orang-orang Yahudi yang lainpun turut berlaku munafik dengan dia, sehingga Barnabas sendiri turut terseret oleh kemunafikan mereka. (14) Tetapi waktu kulihat, bahwa kelakuan mereka itu tidak sesuai dengan kebenaran Injil, aku berkata kepada Kefas di hadapan mereka semua: ‘Jika engkau, seorang Yahudi, hidup secara kafir dan bukan secara Yahudi, bagaimanakah engkau dapat memaksa saudara-saudara yang tidak bersunat untuk hidup secara Yahudi?’”.
Ini menunjukkan bahwa bahkan orang-orang Kristen sejatipun tak kebal terhadap dosa munafik ini!
Beberapa ayat lain tentang kemunafikan:
· Amsal 23:7 - “Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia. ‘Silakan makan dan minum,’ katanya kepadamu, tetapi ia tidak tulus hati terhadapmu”.
· Amsal 25:27 - “Tidaklah baik makan banyak madu; sebab itu biarlah jarang kata-kata pujianmu”.
· Amsal 26:23-26 - “(23) Seperti pecahan periuk bersalutkan perak, demikianlah bibir manis dengan hati jahat. (24) Si pembenci berpura-pura dengan bibirnya, tetapi dalam hati dikandungnya tipu daya. (25) Kalau ia ramah, janganlah percaya padanya, karena tujuh kekejian ada dalam hatinya. (26) Walaupun kebenciannya diselubungi tipu daya, kejahatannya akan nyata dalam jemaah”.
· Ro 12:9 - “Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik”.
· Ro 16:18 - “Sebab orang-orang demikian tidak melayani Kristus, Tuhan kita, tetapi melayani perut mereka sendiri. Dan dengan kata-kata mereka yang muluk-muluk dan bahasa mereka yang manis mereka menipu orang-orang yang tulus hatinya”.
· 2Kor 6:4-6 - “(4) Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu: dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran, (5) dalam menanggung dera, dalam penjara dan kerusuhan, dalam berjerih payah, dalam berjaga-jaga dan berpuasa; (6) dalam kemurnian hati, pengetahuan, kesabaran, dan kemurahan hati; dalam Roh Kudus dan kasih yang tidak munafik”.
· Gal 4:17-18 - “(17) Mereka dengan giat berusaha untuk menarik kamu, tetapi tidak dengan tulus hati, karena mereka mau mengucilkan kamu, supaya kamu dengan giat mengikuti mereka. (18) Memang baik kalau orang dengan giat berusaha menarik orang lain dalam perkara-perkara yang baik, asal pada setiap waktu dan bukan hanya bila aku ada di antaramu”.
· 1Tes 2:3-6 - “(3) Sebab nasihat kami tidak lahir dari kesesatan atau dari maksud yang tidak murni dan juga tidak disertai tipu daya. (4) Sebaliknya, karena Allah telah menganggap kami layak untuk mempercayakan Injil kepada kami, karena itulah kami berbicara, bukan untuk menyukakan manusia, melainkan untuk menyukakan Allah yang menguji hati kita. (5) Karena kami tidak pernah bermulut manis - hal itu kamu ketahui - dan tidak pernah mempunyai maksud loba yang tersembunyi - Allah adalah saksi - (6) juga tidak pernah kami mencari pujian dari manusia, baik dari kamu, maupun dari orang-orang lain, sekalipun kami dapat berbuat demikian sebagai rasul-rasul Kristus”.
· Yak 3:17 - “Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik”.
· Mat 24:51 - “dan akan membunuh dia dan membuat dia senasib dengan orang-orang munafik. Di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi.’”.
Ayat ini menunjukkan nasib akhir orang munafik, yaitu masuk neraka! Hanya iman kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat yang bisa membebaskan orang munafik (dan juga semua orang berdosa yang lain) dari hukuman kekal.
Kitab Suci bukan hanya melarang kita untuk menjadi orang munafik / ‘pemain sandiwara’, penjilat, dsb, dan mengharuskan kita untuk menjadi orang yang tulus, tetapi juga mengharuskan kita untuk tidak menyenangi ataupun bergaul dengan orang yang munafik / menjilat!
Maz 26:4 - “Aku tidak duduk dengan penipu, dan dengan orang munafik aku tidak bergaul”.
Dan bahwa Yesus menyenangi ‘ketulusan’, yang merupakan kebalikan dari ‘kemunafikan’ terlihat dari ayat di bawah ini.
Yoh 1:47 - “Kata Filipus kepadanya: ‘Mari dan lihatlah!’ Yesus melihat Natanael datang kepadaNya, lalu berkata tentang dia: ‘Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!’”.
Kata ‘kepalsuan’ di sini dalam bahasa Yunaninya adalah DOLOS yang sebetulnya berarti ‘umpan untuk memancing’, ‘tipu daya’, ‘kebohongan’, ‘suatu jerat’, dan sebagainya.
Bdk. Kej 27:35 yang dalam LXX / Septuaginta menggunakan kata DOLOS untuk ‘tipu daya’.
Kej 27:35 - “Jawab ayahnya: ‘Adikmu telah datang dengan tipu daya dan telah merampas berkat yang untukmu itu.’”.
Ini menunjukkan bahwa Yesus senang dengan orang yang tulus / tidak munafik! Apakah saudara adalah orang seperti itu?
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali