kebaktian online

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

 (Rungkut Megah Raya, blok D no 16)

 

Minggu, tanggal 11 Agustus 2024, pk 09.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

II Samuel 11:1-27

 

daud dan batsyeba(4)

 

2Sam 11:1-27 - “(1) Pada pergantian tahun, pada waktu raja-raja biasanya maju berperang, maka Daud menyuruh Yoab maju beserta orang-orangnya dan seluruh orang Israel. Mereka memusnahkan bani Amon dan mengepung kota Raba, sedang Daud sendiri tinggal di Yerusalem. (2) Sekali peristiwa pada waktu petang, ketika Daud bangun dari tempat pembaringannya, lalu berjalan-jalan di atas sotoh istana, tampak kepadanya dari atas sotoh itu seorang perempuan sedang mandi; perempuan itu sangat elok rupanya. (3) Lalu Daud menyuruh orang bertanya tentang perempuan itu dan orang berkata: ‘Itu adalah Batsyeba binti Eliam, isteri Uria orang Het itu.’ (4) Sesudah itu Daud menyuruh orang mengambil dia. Perempuan itu datang kepadanya, lalu Daud tidur dengan dia. Perempuan itu baru selesai membersihkan diri dari kenajisannya. Kemudian pulanglah perempuan itu ke rumahnya. (5) Lalu mengandunglah perempuan itu dan disuruhnya orang memberitahukan kepada Daud, demikian: ‘Aku mengandung.’ (6) Lalu Daud menyuruh orang kepada Yoab mengatakan: ‘Suruhlah Uria, orang Het itu, datang kepadaku.’ Maka Yoab menyuruh Uria menghadap Daud. (7) Ketika Uria masuk menghadap dia, bertanyalah Daud tentang keadaan Yoab dan tentara dan keadaan perang. (8) Kemudian berkatalah Daud kepada Uria: ‘Pergilah ke rumahmu dan basuhlah kakimu.’ Ketika Uria keluar dari istana, maka orang menyusul dia dengan membawa hadiah raja. (9) Tetapi Uria membaringkan diri di depan pintu istana bersama-sama hamba tuannya dan tidak pergi ke rumahnya. (10) Diberitahukan kepada Daud, demikian: ‘Uria tidak pergi ke rumahnya.’ Lalu berkatalah Daud kepada Uria: ‘Bukankah engkau baru pulang dari perjalanan? Mengapa engkau tidak pergi ke rumahmu?’ (11) Tetapi Uria berkata kepada Daud: ‘Tabut serta orang Israel dan orang Yehuda diam dalam pondok, juga tuanku Yoab dan hamba-hamba tuanku sendiri berkemah di padang; masakan aku pulang ke rumahku untuk makan minum dan tidur dengan isteriku? Demi hidupmu dan demi nyawamu, aku takkan melakukan hal itu!’ (12) Kata Daud kepada Uria: ‘Tinggallah hari ini di sini. Besok aku akan melepas engkau pergi.’ Jadi Uria tinggal di Yerusalem pada hari itu. (13) Keesokan harinya Daud memanggil dia untuk makan dan minum dengan dia, dan Daud membuatnya mabuk. Pada waktu malam keluarlah Uria untuk berbaring tidur di tempat tidurnya, bersama-sama hamba-hamba tuannya. Ia tidak pergi ke rumahnya. (14) Paginya Daud menulis surat kepada Yoab dan mengirimkannya dengan perantaraan Uria. (15) Ditulisnya dalam surat itu, demikian: ‘Tempatkanlah Uria di barisan depan dalam pertempuran yang paling hebat, kemudian kamu mengundurkan diri dari padanya, supaya ia terbunuh mati.’ (16) Pada waktu Yoab mengepung kota Raba, ia menyuruh Uria pergi ke tempat yang diketahuinya ada lawan yang gagah perkasa. (17) Ketika orang-orang kota itu keluar menyerang dan berperang melawan Yoab, maka gugurlah beberapa orang dari tentara, dari anak buah Daud; juga Uria, orang Het itu, mati. (18) Kemudian Yoab menyuruh orang memberitahukan kepada Daud jalannya pertempuran itu. (19) Ia memerintahkan kepada suruhan itu, demikian: ‘Jika engkau sudah selesai mengabarkan jalannya pertempuran itu kepada raja, (20) dan jikalau raja menjadi geram dan berkata kepadamu: Mengapa kamu demikian dekat ke kota itu untuk berperang? Tidakkah kamu tahu, bahwa orang akan memanah dari atas tembok? (21) Siapakah yang menewaskan Abimelekh bin Yerubeset? Bukankah seorang perempuan menimpakan batu kilangan kepadanya dari atas tembok, sehingga ia mati di Tebes? Mengapa kamu demikian dekat ke tembok itu? - maka haruslah engkau berkata: Juga hambamu Uria, orang Het itu, sudah mati.’ (22) Lalu pergilah suruhan itu dan sesampainya ia memberitahukan kepada Daud segala yang diperintahkan Yoab kepadanya. (23) Suruhan itu berkata kepada Daud: ‘Orang-orang itu lebih kuat dari pada kami dan keluar menyerang kami di padang. Tetapi kami mendesak mereka kembali sampai ke lobang pintu gerbang. (24) Pada waktu itu pemanah-pemanah menembak kepada hamba-hambamu dari atas tembok, sehingga beberapa dari hamba raja mati; juga hambamu Uria, orang Het itu, sudah mati.’ (25) Kemudian berkatalah Daud kepada suruhan itu: ‘Beginilah kaukatakan kepada Yoab: Janganlah sebal hatimu karena perkara ini, sebab sudah biasa pedang makan orang ini atau orang itu. Sebab itu perhebatlah seranganmu terhadap kota itu dan runtuhkanlah itu. Demikianlah kau harus kuatkan hatinya!’ (26) Ketika didengar isteri Uria, bahwa Uria, suaminya, sudah mati, maka merataplah ia karena kematian suaminya itu. (27) Setelah lewat waktu berkabung, maka Daud menyuruh membawa perempuan itu ke rumahnya. Perempuan itu menjadi isterinya dan melahirkan seorang anak laki-laki baginya. Tetapi hal yang telah dilakukan Daud itu adalah jahat di mata TUHAN.”.

 

VII) Ketaatan Yoab dan kematian Uria.

 

1) Ketaatan Yoab terhadap perintah Daud.

Ay 16-17:(16) Pada waktu Yoab mengepung kota Raba, ia menyuruh Uria pergi ke tempat yang diketahuinya ada lawan yang gagah perkasa. (17) Ketika orang-orang kota itu keluar menyerang dan berperang melawan Yoab, maka gugurlah beberapa orang dari tentara, dari anak buah Daud; juga Uria, orang Het itu, mati.”.

 

Mengapa Yoab menuruti saja perintah untuk membunuh Uria?

 

a) Mungkin ia mengira bahwa Uria telah berbuat salah kepada Daud, sehingga harus dihukum mati.

 

b) Ia menganggap ia harus tunduk kepada rajanya dalam segala hal. Kalau itu memang alasannya, ia tentu salah.

 

Pulpit Commentary: “No authority of men can justify the violation of the Law of God. How often have men imagined that the command or sanction of one in authority has been a sufficient warrant for doing what their own conscience condemned, and laid the blame of their conduct on the instigator thereof rather than on themselves!” [= Tidak ada otoritas manusia yang dapat membenarkan pelanggaran terhadap Hukum Tuhan. Betapa seringnya manusia membayangkan bahwa perintah atau pengesahan dari seseorang yang berkuasa telah menjadi alasan yang cukup untuk melakukan sesuatu yang dikecam oleh hati nurani mereka sendiri, dan meletakkan kesalahan perilaku mereka pada pemicu perintah tersebut dari pada pada diri mereka sendiri!] - hal 282.

 

Bdk. Kis 5:29 - “Tetapi Petrus dan rasul-rasul itu menjawab, katanya: ‘Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia.”.

 

Tetapi alasan ini rasanya juga tidak mungkin, karena dalam kasus-kasus lain Yoab berani menasehati / menegur Daud.

 

2Sam 19:4-7 - “(4) Raja menyelubungi mukanya, dan dengan suara nyaring merataplah raja: ‘Anakku Absalom, Absalom, anakku, anakku!’ (5) Lalu masuklah Yoab menghadap raja di kediamannya serta berkata: ‘Pada hari ini engkau mempermalukan semua hambamu, yang telah menyelamatkan nyawamu pada hari ini dan nyawa anak-anakmu laki-laki dan perempuan dan nyawa isteri-isterimu dan nyawa gundik-gundikmu, (6) dengan mencintai orang-orang yang benci kepadamu, dan dengan membenci orang-orang yang cinta kepadamu! Karena pada hari ini engkau menunjukkan bahwa panglima-panglima dan anak buah tidak berarti apa-apa bagimu. Bahkan aku mengerti pada hari ini, bahwa seandainya Absalom masih hidup dan kami semua mati pada hari ini, maka hal itu kaupandang baik. (7) Oleh sebab itu, bangunlah, pergilah ke luar dan berbicaralah menenangkan hati orang-orangmu. Sebab aku bersumpah demi TUHAN, apabila engkau tidak keluar, maka seorangpun tidak akan ada yang tinggal bersama-sama dengan engkau pada malam ini; dan hal ini berarti celaka bagimu melebihi segala celaka yang telah kaualami sejak kecilmu sampai sekarang.’.

 

2Sam 24:2-4 - “(2) Lalu berkatalah raja kepada Yoab dan para panglima tentara yang bersama-sama dengan dia: ‘Jelajahilah segenap suku Israel dari Dan sampai Bersyeba; adakanlah pendaftaran di antara rakyat, supaya aku tahu jumlah mereka.’ (3) Lalu berkatalah Yoab kepada raja: ‘Kiranya TUHAN, Allahmu, menambahi rakyat seratus kali lipat dari pada yang ada sekarang, dan semoga mata tuanku raja sendiri melihatnya. Tetapi mengapa tuanku raja menghendaki hal ini?’ (4) Namun titah raja itu terpaksa diikuti oleh Yoab dan oleh para panglima tentara. Maka pergilah Yoab dan panglima-panglima tentara itu atas perintah raja untuk mengadakan pendaftaran di antara bangsa Israel..

 

c)  Supaya dengan demikian ia bisa mempunyai kuasa atas raja, dan Daud menjadi takut kepada dia.

 

The Bible Exposition Commentary: “Shrewd Joab may have read between the lines of David’s letter and deduced that the only thing Uriah had that David could want would be Uriah’s beautiful wife, so he cooperated with the plan. After all, knowing David’s scheme would be another weapon Joab could use for his own protection someday.” [= Yoab yang cerdik mungkin telah membaca di antara baris-baris surat Daud dan menyimpulkan bahwa satu-satunya hal yang dimiliki Uria yang diinginkan Daud adalah istri Uria yang cantik, sehingga dia bekerja sama dengan rencana tersebut. Lagipula, mengetahui skema Daud akan menjadi senjata tambahan yang bisa digunakan Yoab untuk perlindungan dirinya sendiri di masa depan.].

 

Matthew Henry: Joab had been guilty of blood, and we may suppose it pleased him very well to see David himself falling into the same guilt, and he was willing enough to serve him in it, that he might continue to be favourable to him.[= Joab telah bersalah menumpahkan darah (darah Abner - 2Sam 3), dan kita dapat menganggap bahwa dia sangat senang melihat Daud sendiri jatuh ke dalam kesalahan yang sama, dan dia cukup bersedia untuk melayaninya dalam hal ini, agar Daud tetap bersikap baik terhadapnya.].

 

Saya paling condong pada pandangan terakhir ini.

 

2) Perintah Daud akhirnya berhasil membunuh Uria, tetapi juga ditambah dengan kematian beberapa tentara Daud (ay 17). Ini tentu saja memperberat dosa Daud.

 

Ay 17: “Ketika orang-orang kota itu keluar menyerang dan berperang melawan Yoab, maka gugurlah beberapa orang dari tentara, dari anak buah Daud; juga Uria, orang Het itu, mati.”.

 

Calvin: “one might find it strange that God permitted Uriah to die like this, given that he was innocent. ... Why, then, did God not help him in time of need? ... the faithful have no stopping place in this world as their final goal. ... since gospel permitted Uriah to be killed in such a way, let us recognise that the wages of the good and faithful are not received in this world. ... Hence, when we read these promises, that God never forgets us, that our life will be hidden under the shadow of his wing, that we are dear to him as the apple of his eye, that we will never be stripped of his help, let us recognise that this does not exempt us from having to suffer many terrible things, and finally death - when the right moment for us arrives; that is to say, when God wills it. Nevertheless, let us be content to know that even death will be our entrance into a better life, so that this consideration will serve to strengthen our patience and make us even more certain that God will never forget us.” [= Seseorang mungkin merasa aneh bahwa Tuhan mengizinkan Uria mati seperti ini, padahal dia tidak bersalah. ... Mengapa Tuhan tidak membantunya pada saat-saat kebutuhan? ... Orang-orang yang setia tidak memiliki tempat berhenti di dunia ini sebagai tujuan akhir mereka. ... Karena Injil mengizinkan Uria dibunuh dengan cara seperti itu, marilah kita menyadari bahwa upah dari orang baik dan setia tidak diterima di dunia ini. ... Karena itu, ketika kita membaca janji-janji ini, bahwa Tuhan tidak pernah melupakan kita, bahwa hidup kita akan tersembunyi di bawah naungan sayapNya, bahwa kita adalah kesayanganNya seperti biji mataNya, bahwa kita tidak akan pernah dilucuti dari pertolonganNya, marilah kita menyadari bahwa ini tidak mengecualikan kita dari mengalami banyak hal yang mengerikan, dan akhirnya kematian - ketika waktu yang tepat untuk kita tiba; yaitu, ketika Tuhan menghendakinya. Namun demikian, marilah kita puas untuk mengetahui bahwa bahkan kematian akan menjadi pintu masuk kita ke kehidupan yang lebih baik, sehingga pertimbangan ini akan berfungsi untuk memperkuat kesabaran kita dan membuat kita semakin yakin bahwa Tuhan tidak akan pernah melupakan kita.] - ‘Sermons on 2Samuel’, hal 507,508.

 

Penerapan: kalau ada suatu ketidak-adilan yang membuat kita, yang adalah orang-orang percaya, mati, jangan anggap itu sebagai hal yang buruk. Mati hidup kita ada di tangan Tuhan, dan Ia berhak menentukan dengan cara apa / bagaimana kita mati. Yang penting adalah pada saat kita mati, kita masuk ke surga.

 

The Biblical Illustrator: “In reviewing this history, we are naturally led to ask, Why did Providence permit this shameful fall in David? or, to extend the question, Why does God allow sin to remain, and sometimes to break out forcibly in his regenerate children? This question cannot easily be answered. It is not for want of power to prevent it; for He could perfectly sanctify them. It is not for want of hatred to their sin; it appears as odious, more odious in them than in others. It is not for want of love to them; he regards them as his friends and his children. Why, then, does he not render them immaculately holy? The following are, perhaps, some of the reasons of this dispensation. These do not at all justify the offender, though they vindicate the providence of God, and show its omnipotence in educing good from evil itself. (1) By them, the grace of God, in justification, is illustriously, and will be eternally magnified. (2) They are thus taught the depth of that iniquity which is in them, and rendered humble and dependent. (3) Thus they are taught to value more dearly the advocacy and intercession of the Lord Jesus. (4) The remembrance of the anguish of soul which they endured before God restored unto them the joy of His salvation; the recollection of ‘the wormwood and the gall’ inspires them with additional fear of sin, and makes them more studious to mortify it. They tremble at the disease they have already felt, and walk in holy fear. (5) They are thus, by the wonderful providence of God, fitted for service. ‘When thou art converted,’ says Christ to Peter, after predicting his fall, ‘strengthen thy brethren.’ By the bitter experience of the power of sin they can admonish others against it. (6) The sins of believers make them long for heaven. They are made ready to drop this body of flesh if with it they may drop the body of sin and death. ‘They groan, being burdened,’ and sigh for that land of perfect holiness, where they shall no longer offend their God.” [= Dalam meninjau sejarah ini, kita secara alami akan bertanya, Mengapa Providence mengizinkan kejatuhan yang memalukan ini kepada Daud? Atau, untuk memperluas pertanyaan, Mengapa Allah membiarkan dosa tetap ada, dan kadang-kadang meledak secara paksa pada anak-anakNya yang telah diperbarui? Pertanyaan ini tidak mudah dijawab. Bukan karena kekurangan kekuatan untuk mencegahnya; karena Dia bisa menyucikannya dengan sempurna. Bukan karena kurangnya kebencian terhadap dosa mereka; dosa itu tampak lebih menjijikkan, lebih menjijikkan pada mereka dibandingkan pada orang lain. Bukan karena kurangnya kasih kepada mereka; Dia memandang mereka sebagai teman dan anak-anakNya. Lalu, mengapa Dia tidak membuat mereka suci tanpa dosa? Berikut adalah beberapa alasan dari pengaturan ini. Hal-hal ini sama sekali tidak membenarkan pelanggar, meskipun mereka membenarkan providensia Allah dan menunjukkan ke-Mahakuasaan-Nya dalam menghasilkan kebaikan dari kejahatan itu sendiri. (1) Melalui hal-hal ini, kasih karunia Allah, dalam pembenaran, secara cemerlang dan akan secara kekal dimuliakan. (2) Mereka diajar tentang kedalaman kejahatan yang ada dalam diri mereka, dan dibuat rendah hati serta bergantung. (3) Mereka diajar untuk menghargai lebih tinggi pembelaan dan perantaraan / syafaat Tuhan Yesus. (4) Kenangan akan kesedihan jiwa yang mereka alami sebelum Allah mengembalikan sukacita keselamatanNya kepada mereka; ingatan tentang ‘daun rasam dan empedu’ menginspirasi mereka dengan ketakutan tambahan terhadap dosa, dan membuat mereka lebih tekun / bersemangat untuk mematikannya. Mereka gemetar / takut pada penyakit yang telah mereka rasakan, dan berjalan dalam rasa takut yang kudus. (5) Dengan demikian, oleh providensia Allah yang ajaib, mereka disesuaikan untuk pelayanan. ‘Ketika engkau sudah bertobat,’ kata Kristus kepada Petrus, setelah meramalkan kejatuhannya, ‘kuatkanlah saudara-saudaramu.’ Dengan pengalaman pahit dari kuasa dosa, mereka dapat memperingatkan orang lain terhadapnya. (6) Dosa-dosa orang percaya membuat mereka merindukan surga. Mereka siap untuk melepaskan tubuh daging ini jika dengan itu mereka dapat melepaskan tubuh dosa dan kematian. ‘Mereka mengeluh, terbeban,’ dan mendambakan negeri dari kesucian yang sempurna, di mana mereka tidak akan lagi menyinggung Allah mereka.].

 

Jadi jelas bahwa bahkan dosa diatur Allah untuk mendatangkan kebaikan bagi anak-anakNya!

 

Bdk. Ro 8:28 - Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah..

 

3) Yoab menyuruh seorang utusan kepada Daud untuk memberitahukan kematian Uria (ay 18-21).

 

Ay 18-21: “(18) Kemudian Yoab menyuruh orang memberitahukan kepada Daud jalannya pertempuran itu. (19) Ia memerintahkan kepada suruhan itu, demikian: ‘Jika engkau sudah selesai mengabarkan jalannya pertempuran itu kepada raja, (20) dan jikalau raja menjadi geram dan berkata kepadamu: Mengapa kamu demikian dekat ke kota itu untuk berperang? Tidakkah kamu tahu, bahwa orang akan memanah dari atas tembok? (21) Siapakah yang menewaskan Abimelekh bin Yerubeset? Bukankah seorang perempuan menimpakan batu kilangan kepadanya dari atas tembok, sehingga ia mati di Tebes? Mengapa kamu demikian dekat ke tembok itu? - maka haruslah engkau berkata: Juga hambamu Uria, orang Het itu, sudah mati.’”.

 

Bdk. ay 21a dengan Hak 9:50-54.

 

Hak 9:50-54 - “(50) Selanjutnya Abimelekh pergi ke Tebes; ia mengepung Tebes, lalu merebutnya. (51) Tetapi ada sebuah menara yang kuat di tengah-tengah kota, dan semua laki-laki dan perempuan, seluruh warga kota itu, melarikan diri ke situ; mereka menutup pintu di belakangnya dan naik ke atas sotoh menara itu. (52) Lalu sampailah Abimelekh ke menara itu, menyerangnya, dan dapat menerobos sampai ke pintu menara itu untuk membakarnya. (53) Tetapi seorang perempuan menimpakan sebuah batu kilangan kepada kepala Abimelekh dan memecahkan batu kepalanya. (54) Dengan segera dipanggilnya bujang pembawa senjatanya dan berkata kepadanya: ‘Hunuslah pedangmu dan bunuhlah aku, supaya jangan orang berkata tentang aku: Seorang perempuan membunuh dia.’ Lalu bujangnya itu menikam dia, sehingga mati.”.

 

Pulpit Commentary: “Joab quoted God’s Word, but was not careful to keep it” [= Yoab mengutip Firman Allah, tetapi tidak berhati-hati untuk mentaatinya.] - hal 282.

 

Mengapa Yoab melibatkan cerita tentang kematian Abimelekh dalam laporannya kepada Daud?

 

a)      Karena sejarah harus menjadi pelajaran bagi kita.

 

Ro 15:4 - Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci.”.

 

1Kor 10:1-11 - “(1) Aku mau, supaya kamu mengetahui, saudara-saudara, bahwa nenek moyang kita semua berada di bawah perlindungan awan dan bahwa mereka semua telah melintasi laut. (2) Untuk menjadi pengikut Musa mereka semua telah dibaptis dalam awan dan dalam laut. (3) Mereka semua makan makanan rohani yang sama (4) dan mereka semua minum minuman rohani yang sama, sebab mereka minum dari batu karang rohani yang mengikuti mereka, dan batu karang itu ialah Kristus. (5) Tetapi sungguhpun demikian Allah tidak berkenan kepada bagian yang terbesar dari mereka, karena mereka ditewaskan di padang gurun. (6) Semuanya ini telah terjadi sebagai contoh bagi kita untuk memperingatkan kita, supaya jangan kita menginginkan hal-hal yang jahat seperti yang telah mereka perbuat, (7) dan supaya jangan kita menjadi penyembah-penyembah berhala, sama seperti beberapa orang dari mereka, seperti ada tertulis: ‘Maka duduklah bangsa itu untuk makan dan minum; kemudian bangunlah mereka dan bersukaria.’ (8) Janganlah kita melakukan percabulan, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga pada satu hari telah tewas dua puluh tiga ribu orang. (9) Dan janganlah kita mencobai Tuhan, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka mati dipagut ular. (10) Dan janganlah bersungut-sungut, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka dibinasakan oleh malaikat maut. (11) Semuanya ini telah menimpa mereka sebagai contoh dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada waktu, di mana zaman akhir telah tiba.”.

 

b) Mungkin sekali Yoab telah melakukan kecerobohan / kesalahan dalam peperangan itu, dengan tidak belajar dari kematian Abimelekh, sehingga mengalami kekalahan, dan ia lalu mengaitkan hal itu dengan kematian Uria, yang ia tahu pasti akan menyenangkan Daud.

 

Adam Clarke: “‘If so be that the king’s wrath arise.’ It is likely that Joab had by some indiscretion suffered loss about this time; and he contrived to get rid of the odium by connecting the transaction with the death of Uriah, which he knew would be so pleasing to the king.[= ‘Tetapi jika amarah raja bangkit.’ Adalah mungkin bahwa Yoab telah mengalami kekalahan akibat suatu kecerobohan pada waktu itu; dan dia merencanakan untuk menghindari celaan dengan mengaitkan kejadian tersebut dengan kematian Uria, yang dia tahu akan sangat menyenangkan raja.].

 

4) Utusan Yoab sampai kepada Daud, dan memberitahukan kematian Uria (ay 22-24).

 

Ay 22-24: “(22) Lalu pergilah suruhan itu dan sesampainya ia memberitahukan kepada Daud segala yang diperintahkan Yoab kepadanya. (23) Suruhan itu berkata kepada Daud: ‘Orang-orang itu lebih kuat dari pada kami dan keluar menyerang kami di padang. Tetapi kami mendesak mereka kembali sampai ke lobang pintu gerbang. (24) Pada waktu itu pemanah-pemanah menembak kepada hamba-hambamu dari atas tembok, sehingga beberapa dari hamba raja mati; juga hambamu Uria, orang Het itu, sudah mati.’”.

 

5) Jawaban Daud (ay 25).

 

Ay 25: “Kemudian berkatalah Daud kepada suruhan itu: ‘Beginilah kaukatakan kepada Yoab: Janganlah sebal hatimu karena perkara ini, sebab sudah biasa pedang makan orang ini atau orang itu. Sebab itu perhebatlah seranganmu terhadap kota itu dan runtuhkanlah itu. Demikianlah kau harus kuatkan hatinya!’”.

 

Calvin: “This happened, and then David was content - so stripped of his senses that he was not even sorry for the others who were dead (2Sam 11:18-25). He was guilty before God as if he were actually carried away by the devil. We see that, for a time, he was totally corrupted, indeed to the point of being like a man who was reprobate and utterly incorrigible.” [= Ini terjadi, dan kemudian Daud merasa puas - begitu kehilangan kewarasannya sehingga dia bahkan tidak merasa sedih / menyesal untuk orang-orang lain yang sudah mati (2Sam 11:18-25). Dia bersalah di hadapan Tuhan seakan-akan dia benar-benar digerakkan oleh iblis. Kita melihat bahwa, untuk sementara waktu, dia benar-benar bejat / tak bermoral, bahkan sampai ke titik seperti seorang yang ditentukan untuk binasa dan sepenuhnya tidak bisa diperbaiki.] - ‘Sermons on 2Samuel’, hal 509.

 

VII) Perkabungan Batsyeba dan pernikahannya dengan Daud.

 

1) ‘Perkabungan’ Batsyeba (ay 26-27a).

Ay 26-27a: “(26) Ketika didengar isteri Uria, bahwa Uria, suaminya, sudah mati, maka merataplah ia karena kematian suaminya itu. (27a) Setelah lewat waktu berkabung, ...”.

 

Adam Clarke: “‘She mourned for her husband.’ The whole of her conduct indicates that she observed the form without feeling the power of sorrow. She lost a captain and got a king for her spouse; ... ‘She shed reluctant tears and forced out groans from a joyful heart.’” [= ‘Dia berkabung untuk suaminya.’ Seluruh perilakunya menunjukkan bahwa dia hanya menjalankan formalitas tanpa merasakan kesedihan. Dia kehilangan seorang kapten dan mendapatkan seorang raja sebagai suaminya; ... ‘Dia meneteskan air mata dengan enggan dan mengeluarkan keluhan dari hati yang penuh sukacita.’].

 

2) Batsyeba menjadi istri Daud dan melahirkan seorang anak laki-laki (ay 27a).

 

Ay 27a: “Setelah lewat waktu berkabung, maka Daud menyuruh membawa perempuan itu ke rumahnya. Perempuan itu menjadi isterinya dan melahirkan seorang anak laki-laki baginya.”.

 

Keil & Delitzsch: When Uriah’s wife heard of her husband’s death, she mourned for her husband. When her mourning was over, David took her home as his wife, after which she bore him a son (the one begotten in adultery). The ordinary mourning of the Israelites lasted seven days (Gen 50:10; 1 Sam 31:13). Whether widows mourned any longer we do not know. In the case before us Bathsheba would hardly prolong her mourning beyond the ordinary period, and David would certainly not delay taking her as his wife, in order that she might be married to the king as long as possible before the time of childbirth.[= Ketika istri Uria mendengar tentang kematian suaminya, dia meratapi kematiannya. Setelah masa berkabungnya berakhir, Daud membawanya pulang sebagai istrinya, setelah itu dia melahirkan seorang anak laki-laki (anak yang diperoleh dari perzinahan). Masa berkabung biasa bagi orang Israel berlangsung selama tujuh hari (Kej 50:10; 1Sam 31:13). Apakah para janda berkabung lebih lama, kita tidak tahu. Dalam kasus ini, Batsyeba pasti tidak akan memperpanjang masa berkabungnya melebihi periode biasa, dan Daud tentu saja tidak akan menunda mengambilnya sebagai istri, agar dia bisa menikah dengan raja selama mungkin sebelum waktu melahirkan tiba.].

 

Kej 50:10 - Setelah mereka sampai ke Goren-Haatad, yang di seberang sungai Yordan, maka mereka mengadakan di situ ratapan yang sangat sedih dan riuh; dan Yusuf mengadakan perkabungan tujuh hari lamanya karena ayahnya itu..

 

1Sam 31:11-13 - “(11) Ketika penduduk Yabesh-Gilead mendengar tentang apa yang telah dilakukan orang Filistin kepada Saul, (12) maka bersiaplah segenap orang gagah perkasa, mereka berjalan terus semalam-malaman, lalu mengambil mayat Saul dan mayat anak-anaknya dari tembok kota Bet-Sean. Kemudian pulanglah mereka ke Yabesh dan membakar mayat-mayat itu di sana. (13) Mereka mengambil tulang-tulangnya lalu menguburkannya di bawah pohon tamariska di Yabesh. Sesudah itu berpuasalah mereka tujuh hari lamanya..

 

Adam Clarke: “‘She became his wife.’ This hurried marriage was no doubt intended to cover the pregnancy on both sides” [= ‘Dia menjadi istrinya.’ Pernikahan yang terburu-buru ini jelas dimaksudkan untuk menutupi kehamilan dari / pada kedua belah pihak.].

 

Matthew Henry: “He marries the widow in a little time. She submitted to the ceremony of mourning for her husband as short a time as custom would admit (v. 26), and then David took her to his house as his wife, and she bore him a son. Uriah’s revenge was prevented by his death, but the birth of the child so soon after the marriage published the crime. Sin will have shame.” [= Dia menikahi janda itu dalam waktu singkat. Dia menjalani upacara berkabung untuk suaminya selama waktu yang sesingkat mungkin sesuai kebiasaan (ay 26), dan kemudian Daud membawanya ke rumahnya sebagai istrinya, dan dia melahirkan seorang anak laki-laki untuk Daud. Balas dendam Uria dicegah oleh kematiannya, tetapi kelahiran anak itu segera setelah pernikahan mengungkapkan kejahatan tersebut. Dosa akan membawa rasa malu.].

 

VIII) Sikap Tuhan terhadap seluruh hal ini (ay 27b).

 

1) Tuhan menganggap seluruh hal ini sebagai sesuatu yang jahat (ay 27b).

Ay 27b: “Tetapi hal yang telah dilakukan Daud itu adalah jahat di mata TUHAN.”.

KJV: But the thing that David had done displeased the LORD. [= Tetapi hal yang telah Daud lakukan tidak menyenangkan TUHAN.].

 

Rasa malu karena dosa bukanlah hal yang terburuk. Ada yang lebih buruk dari itu, yaitu ketidak-senangan Tuhan.

 

Matthew Henry: “Yet that was not the worst of it: The thing that David had done displeased the Lord. The whole matter of Uriah (as it is called, 1 Kin. 15:5), the adultery, falsehood, murder, and this marriage at last, it was all displeasing to the Lord. He had pleased himself, but displeased God. Note, God sees and hates sin in his own people. Nay, the nearer any are to God in profession the more displeasing to him their sins are; for in them there is more ingratitude, treachery, and reproach, than in the sins of others. Let none therefore encourage themselves in sin by the example of David; for those that sin as he did will fall under the displeasure of God as he did” [= Namun itu bukan yang terburuk: Perbuatan yang dilakukan Daud membuat Tuhan tidak senang. Seluruh urusan Uria (seperti yang disebutkan, 1Raja 15:5), perzinahan, kebohongan, pembunuhan, dan pernikahan ini pada akhirnya, semuanya tidak menyenangkan bagi Tuhan. Daud telah menyenangkan dirinya sendiri, tetapi tidak menyenangkan Tuhan. Perhatikan, Tuhan melihat dan membenci dosa pada umatNya sendiri. Bahkan, semakin dekat orang-orang dengan Tuhan dalam pengakuan, semakin tidak menyenangkan dosa mereka bagiNya; karena dalam diri mereka terdapat lebih banyak rasa tidak tahu terima kasih, pengkhianatan, dan cemoohan, dari pada dalam dosa orang-orang lain. Oleh karena itu, janganlah ada yang mendorong diri mereka dalam dosa dengan contoh Daud; karena mereka yang berdosa seperti yang dilakukannya akan jatuh di bawah ketidaksenangan Tuhan seperti halnya dia.].

 

Adam Clarke: “‘But the thing that David had done displeased the Lord.’ It was necessary to add this, lest the splendour of David’s former virtues should induce any to suppose his crimes were passed over, or looked on with an indulgent eye, by the God of purity and justice. He sinned severely, and he suffered for it severely; he sowed one grain of sweet, and reaped a long harvest of calamity and woe.” [= ‘Namun perbuatan yang dilakukan Daud tidak menyenangkan Tuhan.’ Perlu ditambahkan ini, agar kemegahan dari kebajikan-kebajikan Daud yang dulu tidak membuat orang berpikir bahwa kejahatannya diabaikan atau dipandang dengan mata yang penuh pengertian oleh Tuhan yang suci dan adil. Dia berdosa dengan parah, dan dia menderita akibatnya dengan parah; dia menabur satu biji manis, dan menuai panen panjang dari bencana dan kesengsaraan.].

 

Ini menunjukkan bahwa seluruh perbuatan-perbuatan baik Daud tidak bisa menutup dosa-dosanya dalam pasal ini. Sekiranya tidak ada penebusan Kristus, Daud dan Batsyeba pasti sudah berada di neraka.

 

Pulpit Commentary: “Still, a sin it was, great and grievous and offensive to that God to whom the blood of Uriah cried from the ground” [= Namun, itu adalah dosa, besar dan berat, dan menyinggung Allah yang kepadaNya darah Uria berteriak dari tanah] - hal 281.

 

Kej 4:8-10 - “(8) Kata Kain kepada Habel, adiknya: ‘Marilah kita pergi ke padang.’ Ketika mereka ada di padang, tiba-tiba Kain memukul Habel, adiknya itu, lalu membunuh dia. (9) Firman TUHAN kepada Kain: ‘Di mana Habel, adikmu itu?’ Jawabnya: ‘Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?’ (10) FirmanNya: ‘Apakah yang telah kauperbuat ini? Darah adikmu itu berteriak kepadaKu dari tanah..

 

Ayub 34:21-22 - “(21) Karena mataNya mengawasi jalan manusia, dan Ia melihat segala langkahnya; (22) tidak ada kegelapan ataupun kelam kabut, di mana orang-orang yang melakukan kejahatan dapat bersembunyi.”.

 

2) Adanya cerita ini dalam Alkitab membuktikan kebenaran Alkitab.

Adam Clarke: “On a review of the whole, I hesitate not to say that the preceding chapter is an illustrious proof of the truth of the sacred writings. Who that intended to deceive, by trumping up a religion which he designed to father on the purity of God, would have inserted such an account of one of its most zealous advocates, and once its brightest ornament? God alone, whose character is impartiality, has done it, to show that his religion, librata ponderibus suis, will ever stand independently of the conduct of its professors. Dr. Delaney, Dr. Chandler, and others, have taken great pains to excuse and varnish this conduct of David; and while I admire their ingenuity, I abhor the tendency of their doctrine, being fully convinced that he who writes on this subject should write like the inspired penman, who tells the TRUTH, the WHOLE TRUTH, and NOTHING BUT THE TRUTH.” [= Dalam meninjau keseluruhan, saya tidak ragu untuk mengatakan bahwa bab sebelumnya adalah bukti yang cemerlang tentang kebenaran tulisan-tulisan suci (Alkitab). Siapa yang berniat menipu, dengan membuat agama yang dia rancang untuk dipertanggung-jawabkan pada kesucian Allah, akan memasukkan cerita seperti itu tentang salah satu pendukungnya yang paling bersemangat, dan dulunya merupakan perhiasannya yang paling terang? Hanya Allah, yang karakterNya adalah ketidakberpihakan, yang telah melakukannya, untuk menunjukkan bahwa agamaNya, seimbang dengan beratnya sendiri, akan selalu berdiri secara independen dari perilaku para penganutnya. Dr. Delaney, Dr. Chandler, dan lainnya telah berusaha keras untuk membenarkan dan menyempurnakan perilaku Daud ini; dan sementara saya mengagumi kecerdikan mereka, saya membenci kecenderungan ajaran mereka, karena saya sepenuhnya yakin bahwa orang yang menulis tentang topik ini harus menulis seperti penulis yang diilhami, yang mengatakan KEBENARAN, SELURUH KEBENARAN, dan TIDAK ADA YANG lain KECUALI KEBENARAN.].

 

Catatan: kalau Alkitab itu memang di‘edit’, sebagaimana difitnahkan oleh banyak orang, maka cerita yang memalukan ini pasti akan dihapuskan!

 

3) Ay 27b ini mempersiapkan jalan untuk pasal berikutnya, yaitu 2Sam 12.

Keil & Delitzsch: ‎The account of these two grievous sins on the part of David is then closed with the assurance that ‘the thing that David had done displeased the Lord,’ which prepares the way for the following chapter.[= Cerita tentang dua dosa besar yang dilakukan oleh Daud ini kemudian ditutup dengan kepastian bahwa ‘hal yang dilakukan Daud itu tidak berkenan kepada Tuhan,’ yang mempersiapkan jalan untuk pasal berikutnya (2Sam 12).].

 

-AMIN-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali