Pemahaman Alkitab

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)

Kamis, tanggal 20 Januari 2011, pk 19.00

Pdt. Budi Asali, M. Div.

(7064-1331 / 6050-1331)

[email protected]

 

II Petrus 2:1-22(5)

 

Ay 4-9: (4) Sebab jikalau Allah tidak menyayangkan malaikat-malaikat yang berbuat dosa tetapi melemparkan mereka ke dalam neraka dan dengan demikian menyerahkannya ke dalam gua-gua yang gelap untuk menyimpan mereka sampai hari penghakiman; (5) dan jikalau Allah tidak menyayangkan dunia purba, tetapi hanya menyelamatkan Nuh, pemberita kebenaran itu, dengan tujuh orang lain, ketika Ia mendatangkan air bah atas dunia orang-orang yang fasik; (6) dan jikalau Allah membinasakan kota Sodom dan Gomora dengan api, dan dengan demikian memusnahkannya dan menjadikannya suatu peringatan untuk mereka yang hidup fasik di masa-masa kemudian, (7) tetapi Ia menyelamatkan Lot, orang yang benar, yang terus-menerus menderita oleh cara hidup orang-orang yang tak mengenal hukum dan yang hanya mengikuti hawa nafsu mereka saja, - (8) sebab orang benar ini tinggal di tengah-tengah mereka dan setiap hari melihat dan mendengar perbuatan-perbuatan mereka yang jahat itu, sehingga jiwanya yang benar itu tersiksa - (9) maka nyata, bahwa Tuhan tahu menyelamatkan orang-orang saleh dari pencobaan dan tahu menyimpan orang-orang jahat untuk disiksa pada hari penghakiman.

 

1)   Sebab jikalau Allah tidak menyayangkan malaikat-malaikat yang berbuat dosa tetapi melemparkan mereka ke dalam neraka dan dengan demikian menyerahkannya ke dalam gua-gua yang gelap untuk menyimpan mereka sampai hari penghakiman; (ay 4).

 

a)   Sebab jikalau Allah tidak menyayangkan malaikat-malaikat yang berbuat dosa.

Kalau malaikat yang begitu tinggi dan mulia tidak disayangkan pada saat mereka berbuat dosa, apalagi manusia / kita, tak peduli apakah orang-orang itu adalah nabi-nabi / hamba-hamba Tuhan. Tingginya kedudukan seseorang tidak membuat ia kebal terhadap hukuman Tuhan.

 

Calvin: “The argument is from the greater to the less; for they were far more excellent than we are, and yet their dignity did not preserve them from the hand of God; much less then can mortal men escape, when they follow them in their impiety” (= Argumentasinya adalah dari yang lebih besar ke yang lebih kecil; karena mereka jauh lebih baik / unggul dari pada kita, tetapi kewibawaan mereka tidak melindungi mereka dari tangan Allah; maka lebih-lebih manusia yang bisa mati tidak akan bisa lolos, pada waktu mereka mengikuti mereka dalam kejahatan mereka).

 

Kita hanya mengetahui sedikit tentang kejatuhan malaikat / setan, karena Alkitab memang hanya memberikan informasi sedikit tentang hal itu, dan kita harus puas dengan hal itu. Kita tidak diberitahu kapan saat kejatuhan itu, atau bagaimana mereka bisa jatuh, maupun apa persisnya dosa yang mereka lakukan yang membuat mereka jatuh. Petrus mengatakan bahwa malaikat-malaikat itu ‘berbuat dosa’ (2Pet 2:4), dan Yudas mengatakan bahwa mereka ‘tidak taat pada batas-batas kekuasaan mereka’.

Yudas 6 - “Dan bahwa Ia menahan malaikat-malaikat yang tidak taat pada batas-batas kekuasaan mereka, tetapi yang meninggalkan tempat kediaman mereka, dengan belenggu abadi di dalam dunia kekelaman sampai penghakiman pada hari besar”.

Kata-kata Yudas ini, menurut Clarke, mungkin menunjukkan bahwa mereka tidak puas dengan bagian / kedudukan mereka, dan menginginkan kehormatan yang lebih tinggi, atau mungkin ingin menguasai surga.

Tetapi berkenaan dengan hal ini ada sangat banyak teori-teori yang hanya merupakan spekulasi belaka, karena Alkitab sebenarnya tidak menjelaskan hal itu kepada kita, dan karena itu semua keingin-tahuan dan dugaan berkenaan dengan hal ini merupakan sesuatu yang sia-sia.

 

Calvin: “as Peter mentions here but briefly the fall of angels, and as he has not named the time and the manner and other circumstances, it behoves us soberly to speak on the subject. Most men are curious and make no end of inquiries on these things; but since God in Scripture has only sparingly touched on them, and as it were by the way, he thus reminds us that we ought to be satisfied with this small knowledge. And indeed they who curiously inquire, do not regard edification, but seek to feed their souls with vain speculations. What is useful to us, God has made known, that is, that the devils were at first created, that they might serve and obey God, but that through their own fault they apostatized, because they would not submit to the authority of God; and that thus the wickedness found in them was accidental, and not from nature, so that it could not be ascribed to God. All this Peter declares very clearly, when he says that angels fell, though superior to men; and Jude is still more express when he writes, that they kept not their first estate, or their pre-eminence. Let those who are not satisfied with these testimonies have recourse to the Sorbonian theology, which will teach them respecting angels to satiety, so as to precipitate them to hell together with the devils”.

Adam Clarke: “‘For if God spared not the angels.’ The angels were originally placed in a state of probation; some having fallen and some having stood proves this. How long that probation was to last to them, and what was the particular test of their fidelity, we know not; nor indeed do we know what was their sin; nor when nor how they fell. Jude says they kept not their first estate, but left their own habitation; which seems to indicate that they got discontented with their lot, and aspired to higher honours, or perhaps to celestial domination. The tradition of their fall is in all countries and in all religions, but the accounts given are various and contradictory; and no wonder, for we have no direct revelation on the subject. They kept not their first estate, and they sinned, is the sum of what we know on the subject; and here curiosity and conjecture are useless”.

Catatan: kedua kutipan ini tidak saya terjemahkan karena ringkasannya sudah saya berikan di atas.

 

b)   tetapi melemparkan mereka ke dalam neraka.

Matthew Henry: “The last degree of torment is not till the day of judgment. The sinning angels, though in hell already, are yet reserved to the judgment of the great day” (= Tingkat terakhir dari siksaan belum terjadi sampai hari penghakiman. Malaikat-malaikat yang berbuat dosa, sekalipun sudah di neraka, tetapi disimpan bagi penghakiman dari hari yang besar itu).

 

Saya berpendapat bahwa Matthew Henry salah dalam hal ini. Untuk menafsirkan ayat ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:

1.   Kata ‘neraka’ di sini diterjemahkan dari kata bahasa Yunani TARTARUS yang hanya dipergunakan satu kali ini saja dalam Kitab Suci. Karena itu sukar diketahui artinya secara pasti.

2.   Bagian ini tidak boleh ditafsirkan seakan-akan setan sudah masuk neraka, karena ini akan bertentangan dengan Mat 8:29  Mat 25:41  Wah 20:10 yang menunjukkan secara jelas bahwa saat ini setan belum waktunya masuk neraka. Itu baru akan terjadi pada kedatangan Yesus yang kedua-kalinya.

Mat 8:29 - “Dan mereka itupun berteriak, katanya: ‘Apa urusanMu dengan kami, hai Anak Allah? Adakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?’”.

Mat 25:41 - “Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiriNya: Enyahlah dari hadapanKu, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya”.

Wah 20:10 - “dan Iblis, yang menyesatkan mereka, dilemparkan ke dalam lautan api dan belerang, yaitu tempat binatang dan nabi palsu itu, dan mereka disiksa siang malam sampai selama-lamanya”.

3.   Disamping itu, kalau ditafsirkan bahwa setan sudah masuk ke neraka, maka itu akan bertentangan dengan 2Pet 2:4 itu sendiri, yang pada bagian akhirnya berbunyi: ‘dan dengan demikian menyerahkannya ke dalam gua-gua yang gelap untuk menyimpan mereka sampai hari penghakiman’.

 

Jadi, harus ditafsirkan bagaimana? Ada bermacam-macam penafsiran:

 

a.         Ada yang menafsirkan apa adanya, dan menganggap TARTARUS sebagai neraka.

Lalu bagaimana dengan ayat-ayat di atas yang bertentangan dengan penafsiran ini?

Lenski: “‘Hades’ and ‘Gehenna’ are hell, the place of all the damned, which is ‘TARATRUS,’ a term which any Greek would understand in this sense. ... Inquisitive mind may ask how the evil angels, after being cast into hell, are able to deceive men on earth. The Scriptures do not say. They leave many questions about hell and the devils unanswered because we are bound for heaven and have no personal interest in hell and its occupants” (= ‘Hades’ dan ‘Gehenna’ adalah neraka, tempat dari semua orang terkutuk / dihukum secara kekal, yang adalah ‘TARTARUS’, suatu istilah yang orang Yunani manapun akan mengertinya dalam arti ini. ... Pikiran yang ingin tahu / suka bertanya bisa bertanya bagaimana malaikat-malaikat yang jahat, setelah dilemparkan ke neraka, bisa menipu / menyesatkan manusia di bumi. Kitab Suci tidak mengatakan. Kitab Suci membiarkan banyak pertanyaan tentang neraka dan setan-setan tak terjawab, karena kita ditentukan untuk surga dan tidak mempunyai kepentingan pribadi tentang neraka dan penghuni-penghuninya) - hal 310,311.

 

Tanggapan saya:

·         Kata ‘inquisitive’ bisa berarti ‘cenderung menanyakan banyak pertanyaan’, ‘suka belajar’, ‘menanyakan lebih banyak pertanyaan dari yang perlu / benar’, ‘ingin tahu secara tidak perlu’ (Webster). Saya tidak tahu arti mana yang ia maksudkan. Kalau dalam arti pertama dan kedua masih masuk akal, tetapi kalau dalam arti ketiga dan keempat, maka ini merupakan ‘serangan’ yang sangat tidak masuk akal. Menanyakan sesuatu yang memang terlihat sebagai hal yang kontradiksi merupakan hal yang bukan hanya wajar, tetapi harus ada dalam diri orang Kristen yang meninggikan kebenaran!

·         Ini memang merupakan penafsiran yang kontradiktif, dan pertanyaan tentang hal-hal yang kontradiksi itu bukan dijawab, tetapi dihindari. Karena itu, saya sama sekali tidak bisa menerima pandangan Lenski ini.

 

b.   Tartarus hanyalah semacam penjara dimana setan disimpan / ditahan sampai hari penghakiman.

 

Pulpit Commentary: “‘But cast them down to hell.’ The Greek word, which is found nowhere else in the Greek Scriptures, is tartarw/sa$ (TARTAROOSAS), ‘having cast into Tartarus.’ ... Apparently, St. Peter regards Tartarus not as equivalent to Gehenna, for the sinful angels are ‘reserved unto judgment,’ but as a place of preliminary detention. ... But in the case of a mystery of which so little has been revealed, we are scarcely justified in assuming the identity of the angels cast into Tartarus with the evil spirits who tempt and harass us on earth [= ‘Tetapi melemparkan mereka ke dalam neraka’. Kata Yunaninya, yang tidak ditemukan di tempat lain manapun dalam Kitab Suci Yunani, adalah tartarw/sa$ (TARTAROOSAS), ‘telah melemparkan ke dalam TARTARUS’. ... Jelas bahwa Santo Petrus menganggap TARTARUS bukan sebagai sama dengan GEHENNA, karena malaikat-malaikat yang berdosa itu ‘disimpan untuk hari penghakiman’, tetapi sebagai suatu tempat penahanan pendahuluan / permulaan].

 

W. E. Vine: “The verb tartaroo, translated ‘cast down to hell’ in 2 Peter 2:4, signifies to consign to Tartarus, which is neither Sheol nor hades nor hell, but the place where those angels whose special sin is referred to in that passage are confined ‘to be reserved unto judgment’; the region is described as ‘pits of darkness.’ RV” (= Kata kerja TARTAROO, diterjemahkan ‘dilemparkan ke neraka’ dalam 2Petrus 2:4, berarti menyerahkan / membuang ke TARTARUS, yang bukanlah SHEOL ataupun HADES atau neraka, tetapi tempat dimana malaikat-malaikat itu yang dosa khususnya ditunjukkan dalam text itu ditahan / dikurung ‘untuk disimpan bagi hari penghakiman’; daerah yang digambarkan sebagai ‘lubang kegelapan’. RV) - ‘An Expository Dictionary of New Testament Words’, hal 543.

Catatan: dari bagian akhir kutipan ini kelihatannya Vine menyamakan TARTARUS dengan ‘gua-gua yang gelap’ pada akhir dari ay 4 ini.

 

Bible Knowledge Commentary: “He plunged the angels into hell, literally, ‘tartarus’ apparently a prison of custody (gloomy dungeons) between the time of the judgment and their ultimate consignment to the eternal lake of fire. There will be no future trial for their doom is already sealed” [= Ia melemparkan malaikat-malaikat ke dalam neraka, secara hurufiah, ‘TARTARUS’, kelihatannya merupakan sebuah penjara dari tahanan (penjara di bawah tanah yang suram / gelap) di antara saat dari penghakiman dan pembuangan terakhir mereka kepada danau / lautan api yang kekal. Tidak akan ada sidang pengadilan yang akan datang, karena nasib mereka sudah dimeteraikan / ditentukan].

 

Saya sangat meragukan penafsiran dari Bible Knowledge Commentary ini, karena:

 

·         Wah 20:7-10 - “(7) Dan setelah masa seribu tahun itu berakhir, Iblis akan dilepaskan dari penjaranya, (8) dan ia akan pergi menyesatkan bangsa-bangsa pada keempat penjuru bumi, yaitu Gog dan Magog, dan mengumpulkan mereka untuk berperang dan jumlah mereka sama dengan banyaknya pasir di laut. (9) Maka naiklah mereka ke seluruh dataran bumi, lalu mengepung perkemahan tentara orang-orang kudus dan kota yang dikasihi itu. Tetapi dari langit turunlah api menghanguskan mereka, (10) dan Iblis, yang menyesatkan mereka, dilemparkan ke dalam lautan api dan belerang, yaitu tempat binatang dan nabi palsu itu, dan mereka disiksa siang malam sampai selama-lamanya.

 

Jadi, text di atas ini menunjukkan bahwa setelah masa 1000 tahun (Kerajaan 1000 tahun), Iblis akan dilepaskan. Ini tak cocok dengan penafsiran di atas, yang sama sekali tidak membicarakan tentang pelepasan Iblis itu.

Catatan: tentang diikatnya iblis selama 1000 tahun dalam Wah 20:1-3, saya menafsirkannya hanya sebagai ‘dibatasi’, bukan betul-betul ‘dikurung’.

Wah 20:1-3 - “(1) Lalu aku melihat seorang malaikat turun dari sorga memegang anak kunci jurang maut dan suatu rantai besar di tangannya; (2) ia menangkap naga, si ular tua itu, yaitu Iblis dan Satan. Dan ia mengikatnya seribu tahun lamanya, (3) lalu melemparkannya ke dalam jurang maut, dan menutup jurang maut itu dan memeteraikannya di atasnya, supaya ia jangan lagi menyesatkan bangsa-bangsa, sebelum berakhir masa seribu tahun itu; kemudian dari pada itu ia akan dilepaskan untuk sedikit waktu lamanya”.

 

·         1Kor 6:2-3 - “(2) Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang kudus akan menghakimi dunia? Dan jika penghakiman dunia berada dalam tangan kamu, tidakkah kamu sanggup untuk mengurus perkara-perkara yang tidak berarti? (3) Tidak tahukah kamu, bahwa kita akan menghakimi malaikat-malaikat? Jadi apalagi perkara-perkara biasa dalam hidup kita sehari-hari”.

 

Text di atas ini jelas menunjukkan bahwa malaikat-malaikat (yang jatuh) akan dihakimi. Ini tak sesuai dengan kata-kata Bible Knowledge Commentary yang mengatakan ‘Tidak akan ada sidang pengadilan yang akan datang, karena nasib mereka sudah dimeteraikan / ditentukan’. Sejahat-jahatnya setan / iblis, merupakan sesuatu yang tidak masuk akal dan tidak adil, kalau ia / mereka dimasukkan ke neraka tanpa diadili.

 

Sebetulnya bukan tujuan saya untuk membahas arti dari 1Kor 6:2-3 secara mendetail, tetapi karena saya menggunakan text itu di sini, dan text ini biasanya menimbulkan pertanyaan tentang artinya, maka saya memberikan sedikit penjelasan tentangnya di sini.

 

Calvin (tentang 1Kor 6:2): What is said here as to judging the world ought to be viewed as referring to that declaration of Christ: ‘When the Son of Man shall come, ye shall sit, etc. (Matthew 19:28.) For all power of judgment has been committed to the Son, (John 5:22,) in such a manner that he will receive his saints into a participation with him in this honor, as assessors [= Apa yang dikatakan di sini berkenaan dengan penghakiman dunia harus dipandang sebagai menunjuk pada pernyataan Kristus: ‘Apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaanNya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk, dst. (Matius 19:28). Karena semua kuasa penghakiman telah diserahkan kepada Anak, (Yoh 5:22), dengan cara sedemikian rupa sehingga Ia akan menerima orang-orang kudusNya ke dalam suatu partisipasi dengan Dia dalam kehormatan ini, sebagai asisten-asisten hakim].

Mat 19:28 - “Kata Yesus kepada mereka: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaanNya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel”.

Yoh 5:22-23 - “(22) Bapa tidak menghakimi siapapun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak, (23) supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa, yang mengutus Dia”.

 

Calvin (tentang 1Kor 6:3): Paul speaks here in the future tense, as referring to the last day, and as his words convey the idea of an actual judgment, ... it were preferable, in my opinion, to understand him as speaking of apostate angels [= Di sini Paulus berbicara dalam tensa yang akan datang, sebagai menunjuk pada hari terakhir, dan karena kata-katanya menyampaikan gagasan dari suatu penghakiman yang sungguh-sungguh, ... adalah lebih baik, dalam pandangan saya, untuk mengerti dia sebagai berbicara tentang malaikat-malaikat yang murtad].

 

Charles Hodge (tentang 1Kor 6:2): The context and Spirit of the passage require that it should be understood of the future and final judgment. Saints are said to sit in judgment on that great day for two reasons; first, because Christ, who is to be the judge, is the head and representative of his people, in whom they reign and judge. The exaltation and dominion of Christ are their exaltation and dominion. ... Secondly, because his people are to be associated with Christ in his dominion (= Kontext dan arti dari text ini menuntut bahwa itu harus dimengerti tentang penghakiman yang akan datang dan terakhir. Orang-orang kudus dikatakan akan duduk dalam penghakiman pada hari yang besar itu untuk dua alasan; pertama, karena Kristus, yang akan menjadi hakim, adalah kepala dan wakil dari umatNya, di dalam siapa mereka memerintah dan menghakimi. Pemuliaan dan kuasa-untuk-memerintah dari Kristus adalah pemuliaan dan kuasa-untuk-memerintah mereka. ... Kedua, karena umatNya akan dipersatukan dengan Kristus dalam kuasa-untuk-memerintahNya).

 

Charles Hodge (tentang 1Kor 6:3): As, according to Scripture, only the fallen angels are to be judged in the last day, most commentators suppose the word must here be restricted to that class (= Karena, menurut Kitab Suci, hanya malaikat-malaikat yang jatuh yang akan dihakimi pada hari terakhir, kebanyakan penafsir menganggap kata itu di sini harus dibatasi pada golongan itu).

 

Sekarang kita kembali pada penafsiran dari kelompok kedua. Saya menolak penafsiran tentang penahanan setan-setan ini, karena kalaupun setan-setan itu tidak dimasukkan ke neraka tetapi betul-betul dikurung, lalu bagaimana mereka bisa menyesatkan manusia?

 

c.   Ada yang menganggap hanya setan-setan tertentu saja yang dimasukkan ke TARTARUS, yang dianggap sebagai bagian khusus dari neraka, dimana setan-setan itu dirantai untuk menunggu penghakiman terakhir.

 

The Bible Exposition Commentary: New Testament: “Where are these fallen angels now? We know that Satan is free and at work in the world (1 Peter 5:8), and that he has an army of demonic powers assisting him (Eph 6:10-12), who are probably some of the fallen angels. But Peter said that some of the angels were confined to ‎Tartarus ‎(‘hell’), which is a Greek word for the underworld. Tartarus may be a special section of hell where these angels are chained in pits of darkness, awaiting the final judgment” [= Dimana malaikat-malaikat yang jatuh itu sekarang? Kita tahu bahwa Iblis itu bebas dan sedang bekerja dalam dunia (1Petrus 5:8), dan bahwa ia mempunyai suatu pasukan dari kuasa-kuasa jahat yang membantunya (Ef 6:10-12), yang mungkin adalah sebagian / beberapa dari malaikat-malaikat yang jatuh. Tetapi Petrus berkata bahwa sebagian / beberapa dari malaikat-malaikat itu ditahan di TARTARUS (‘neraka’), yang merupakan suatu kata Yunani untuk dunia orang mati. TARTARUS bisa / mungkin adalah suatu bagian khusus dari neraka dimana malaikat-malaikat ini dirantai dalam lubang-lubang kegelapan, menunggu penghakiman terakhir].

1Pet 5:8 - “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya”.

Ef 6:10-12 - “(10) Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasaNya. (11) Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; (12) karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara”.

 

Saya tidak bisa menerima pandangan ini karena saya tidak melihat alasan apapun untuk membagi setan-setan ke dalam 2 kelompok seperti ini (yang satu sudah ditahan dan yang lain masih bebas berkeliaran).

 

d.         Mungkin bagian ini hanya menunjukkan kepastian bahwa setan akan masuk neraka.

Kata Yunani TARTAROSAS yang digunakan ada dalam bentuk aorist participle. Aorist sama dengan past tense; partciple adalah kata kerja + ing (seperti working, walking, preaching dsb).

Merupakan sesuatu yang sering terjadi untuk menggambarkan sesuatu yang akan datang menggunakan bentuk lampau, untuk menunjukkan kepastian terjadinya hal itu.

 

e.         Sekalipun mereka bebas, tetapi mereka merasakan neraka di dalam diri mereka.

Alexander Nisbet: “Although the devils, when they are permitted, can appear visibly as if they were at their own liberty, and can seem jovial as if they were free of torment, ... yet, go where they will, their hell is always with them, they live in constant feeling of the wrath of the Almighty, ... in their dreadful expectation of a more high measure of wrath which they shall get at the day of judgment when they together with all that serve them and follow their counsel shall have nothing else to do but endure torment, and shall torment one another for ever” (= Sekalipun setan-setan, pada waktu mereka diijinkan, bisa memperlihatkan diri seakan-akan mereka bebas, dan bisa kelihatan gembira seakan-akan mereka bebas dari siksaan, ... tetapi kemanapun mereka pergi, neraka mereka selalu bersama mereka, mereka hidup dalam perasaan terus menerus tentang murka yang akan mereka dapatkan pada hari penghakiman pada waktu mereka bersama-sama dengan semua yang melayani mereka dan mengikuti nasehat mereka akan tidak mempunyai apapun untuk dilakukan selain menahan siksaan, dan akan saling menyiksa satu sama lain untuk selama-lamanya) - hal 250.

Catatan: kelihatannya Alexander Nisbet menggabungkan komentarnya berkenaan dengan ‘neraka’ dan ‘gua-gua yang gelap’ dalam anak kalimat selanjutnya.

 

Sukar untuk memastikan arti yang benar dari bagian yang sukar ini, tetapi saya condong pada pandangan terakhir.

 

c)   dan dengan demikian menyerahkannya ke dalam gua-gua yang gelap untuk menyimpan mereka sampai hari penghakiman.

KJV: ‘chains of darkness’ (= rantai kegelapan).

RSV: ‘pits of nether gloom’ (= lubang-lubang gelap).

NIV: ‘gloomy dungeons’ (= penjara bawah tanah yang gelap).

NASB: ‘pits of darkness’ (= lubang-lubang kegelapan).

Catatan: saya tak tahu bagaimana harus menterjemahkan kata-kata dari RSV. Kata ‘nether’ berarti ‘di bawah’ / ‘di bawah permukaan bumi’. Kata ‘gloom’ berarti ‘kegelapan’ / ‘kesuraman’. Mungkin artinya kurang lebih sama dengan yang diberikan oleh NIV.

 

KJV lain sendiri dengan memberikan kata ‘chains’ (= rantai), karena KJV menterjemahkan dari manuscript yang berbeda. Ada pro kontra yang hebat, yang sukar dipastikan, tentang mana manuscript yang benar. Kelompok manuscript yang satu menuliskan SEIROI, yang berarti ‘pits’ (= lubang-lubang), sedangkan kelompok manuscript yang kedua menuliskan SEIRAI, yang berarti ‘chains’ (= rantai).

 

Calvin: “‘Chains of darkness.’ This metaphor intimates that they are held bound in darkness until the last day. And the comparison is taken from malefactors, who, after having been condemned, suffer half of their punishment by the severity of the prison, until they are drawn forth to their final doom (= ‘Rantai kegelapan’. Kiasan ini menunjukkan bahwa mereka ditahan dalam kegelapan sampai hari terakhir. Dan perbandingan ini diambil dari penjahat-penjahat, yang, setelah divonis / dijatuhi hukuman, mengalami setengah dari hukuman mereka oleh kekerasan dari penjara, sampai mereka diseret kepada nasib / ajal terakhir mereka).

Catatan: Calvin tidak menjelaskan dengan jelas dalam arti apa ia menggunakan kata ‘ditahan’. Kalau diartikan betul-betul dikurung, maka ini bertentangan dengan kebebasan yang masih ada dalam diri setan untuk menyesatkan manusia. Tetapi kalau diartikan seperti penafsiran yang saya ambil tentang ‘pengikatan setan’ selama 1000 tahun dalam Wah 20:1-3, maka itu bisa saya terima.

 

d)   Sekalipun ay 4 ini, pada bagian-bagian tertentu, sukar dipastikan artinya, tetapi pesan utamanya dari seluruh ayat ini adalah sangat jelas, yaitu, kalau malaikat-malaikat yang kedudukannya begitu tinggi saja tetap dihukum pada waktu mereka berdosa, apalagi manusia!

 

The Bible Exposition Commentary: New Testament: “It is not necessary to debate the hidden mysteries of this verse in order to get the main message: God judges rebellion and will not spare those who reject His win. If God judged the angels, who in many respects are higher than men, then certainly He will judge rebellious men” (= Tidak perlu untuk memperdebatkan misteri-misteri yang tersembunyi tentang ayat ini untuk mendapatkan berita / pesan utamanya: Allah menghakimi pemberontakan dan tidak akan menyayangkan mereka yang menolak kemenanganNya. Jika Allah menghakimi malaikat-malaikat, yang dalam banyak hal lebih tinggi dari pada manusia, maka pastilah Ia akan menghakimi orang-orang yang memberontak).

 

Manusia biasanya cepat dan tegas dalam mengadili dan menghukum orang kecil, tetapi segan dalam mengadili dan menghukum ‘orang gede’. Ini merupakan ketidak-adilan, yang seharusnya tidak pernah boleh ada dalam diri orang Kristen, baik di gereja maupun dalam kehidupannya di luar (dalam pekerjaan, sekolah, pengadilan, dsb). Tetapi kalau itu ada, dan memang seringkali itu ada, maka itu merupakan sesuatu yang sangat memalukan. Di Indonesia memang sering terjadi dimana ‘teri’ ditangkap dan dihukum, tetapi ‘kakap’nya dibiarkan. Kita sering jijik akan hal itu, sementara sebetulnya kita sendiri sering melakukannya! Puji Tuhan, bahwa ini tidak pernah ada, dan tidak pernah akan ada, dalam diri Allah! Ia maha adil, dan pada waktuNya, Ia akan mengadili dan menghukum secara sama / adil, baik orang kecil maupun ‘orang gede’, orang miskin maupun orang kaya, orang berkedudukan rendah maupun orang berkedudukan tinggi, orang bodoh maupun orang pandai, jemaat / anak Sekolah Minggu maupun pendeta / majelis / sinode!

 

2)   dan jikalau Allah tidak menyayangkan dunia purba, tetapi hanya menyelamatkan Nuh, pemberita kebenaran itu, dengan tujuh orang lain, ketika Ia mendatangkan air bah atas dunia orang-orang yang fasik (ay 5).

 

a)   Nuh adalah pemberita kebenaran.

Calvin: “he is called the preacher of righteousness, because he labored to restore a degenerated world to a sound mind, and this not only by his teaching and godly exhortations, but also by his anxious toil in building the ark for the term of a hundred and twenty years” (= ia disebut pengkhotbah dari kebenaran, karena ia bekerja untuk memulihkan suatu dunia yang rusak kepada suatu pikiran yang sehat, dan ini bukan hanya oleh ajaran dan desakan / nasehat salehnya, tetapi juga oleh jerih payahnya dalam membangun bahtera selama 120 tahun).

 

Michael Green: “The Old Testament does not say that Noah was a preacher of righteousness; ... But if he was indeed a ‘just man and perfect’ who ‘walked with God’ (Gn. 6:9) then he must have been a herald of righteousness. His very life would have been so different from the wicked men around him, that it would speak volumes; and how could any good man keep quiet when he saw others going to ruin? Any man of God is at least as concerned for the rescue of others as he is in preserving his own relationship with God” [= Perjanjian Lama tidak mengatakan bahwa Nuh adalah pengkhotbah dari kebenaran; ... Tetapi jika ia memang adalah ‘orang benar dan sempurna’ yang berjalan dengan Allah (Kej 6:9) maka ia pasti telah menjadi seorang yang mengumumkan / memproklamirkan kebenaran. Kehidupannya begitu berbeda dari orang-orang jahat di sekitarnya, sehingga itu akan berbicara sangat banyak; dan bagaimana orang baik manapun bisa berdiam diri pada waktu ia melihat orang-orang lain berjalan menuju kehancuran? Manusia manapun dari Allah / pengikut manapun dari Allah sedikitnya akan peduli pada penyelamatan orang-orang lain seperti ia peduli pada penjagaan / pemeliharaan dari hubungannya dengan Allah].

 

Jamieson, Fausset & Brown: “‘Preacher’ - not only ‘righteous’ himself ..., but also ‘a preacher of righteousness:’ adduced against the licentiousness of the false teachers (2 Peter 2:2), who have no prospect but destruction, even as it overtook the ungodly in Noah’s days” [= ‘Pengkhotbah’ - bukan hanya dirinya sendiri ‘benar’ ..., tetapi juga ‘seorang pengkhotbah dari kebenaran’; mengemukakan hal-hal yang menentang ketidak-bermoralan dari guru-guru palsu (2Petrus 2:2), yang tidak mempunyai harapan kecuali kehancuran, sama seperti hal itu menyusul orang-orang jahat pada jaman Nuh].

 

Penerapan: jelas bahwa kalau kita sebagai orang Kristen hanya berdiam diri saja melihat hal-hal yang jahat / tidak beres, sesungguhnya kita bukan orang benar! Menentang hal-hal yang tidak beres / ketidak-benaran memang boleh dipastikan akan mengundang problem (serangan, ejekan, bahkan penganiayaan) bagi kita, tetapi itu tetap harus kita lakukan! Kata-kata ‘silence is golden’ (= diam itu emas), bukan hanya tidak berlaku dalam hal seperti ini, tetapi jelas-jelas merupakan kata-kata yang salah! Bandingkan dengan beberapa ayat di bawah ini:

1.   Yes 62:1,6 - “(1) Oleh karena Sion aku tidak dapat berdiam diri, dan oleh karena Yerusalem aku tidak akan tinggal tenang, sampai kebenarannya bersinar seperti cahaya dan keselamatannya menyala seperti suluh. ... (6) Di atas tembok-tembokmu, hai Yerusalem, telah Kutempatkan pengintai-pengintai. Sepanjang hari dan sepanjang malam, mereka tidak akan pernah berdiam diri. Hai kamu yang harus mengingatkan TUHAN kepada Sion, janganlah kamu tinggal tenang.

Dalam ayat di atas ini ‘berbicara’ dimaksudkan dalam arti positif, yaitu memberikan penghiburan dan kekuatan untuk Sion / Israel.

2.   Yer 4:19 - “Aduh, dadaku, dadaku! Aku menggeliat sakit! Aduh, dinding jantungku! Jantungku berdebar-debar, aku tidak dapat berdiam diri, sebab aku mendengar bunyi sangkakala, pekik perang”.

3.   Yer 20:9 - “Tetapi apabila aku berpikir: ‘Aku tidak mau mengingat Dia dan tidak mau mengucapkan firman lagi demi namaNya’, maka dalam hatiku ada sesuatu yang seperti api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangku; aku berlelah-lelah untuk menahannya, tetapi aku tidak sanggup”.

4.   Amos 5:13 - “Sebab itu orang yang berakal budi akan berdiam diri pada waktu itu, karena waktu itu adalah waktu yang jahat”.

Dalam kasus ayat ini, orang-orang yang berakal budi itu berdiam diri, karena mereka tidak diijinkan untuk berbicara. Para penguasa yang jahat menekan orang-orang saleh ini untuk berdiam diri. Karena itu, waktu itu disebut sebagai ‘waktu yang jahat’ (Calvin).

5.   Kis 4:20 - “Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar.’”.

 

b)   Hanya 8 orang diselamatkan dari air bah pada jaman Nuh.

 

1.         Sekalipun Nuh adalah hamba Tuhan yang saleh, ia tidak ‘sukses’!

The Biblical Illustrator (New Testament): “He had not such happy success of his preaching as his own soul desired, and he might in reason have expected. A man may be lawfully called by God and His Church, and yet not turn many souls” (= Ia tidak mendapatkan sukses yang menyenangkan dari khotbahnya seperti yang diinginkan oleh jiwanya, dan yang bisa secara masuk akal ia harapkan. Seseorang bisa secara sah dipanggil oleh Allah dan GerejaNya, tetapi tidak membalikkan / mempertobatkan banyak jiwa).

 

2.         Hanya sedikit yang selamat.

Pulpit Commentary: “Mark the close parallelism with 1 Peter 3:20, where, as here, the apostle impresses upon his readers the fewness of the saved” (= Perhatikan paralelisme yang dekat dengan 1Pet 3:20, dimana, seperti di sini, sang rasul mencamkan kepada para pembacanya ke-sedikit-an dari yang diselamatkan).

1Pet 3:20 - “yaitu kepada roh-roh mereka yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat kepada Allah, ketika Allah tetap menanti dengan sabar waktu Nuh sedang mempersiapkan bahteranya, di mana hanya sedikit, yaitu delapan orang, yang diselamatkan oleh air bah itu.

 

Karena itu, jangan terlalu cepat untuk berpihak pada yang berjumlah besar / mayoritas!

 

3.         Semua binasa pada jaman Nuh, kecuali hanya 8 orang saja!

Calvin: “by saying that eight only were saved, he intimates that a multitude would not be a shield against God to protect the wicked; but that as many as sin shall be punished, be they few or many in number” (= dengan mengatakan bahwa hanya delapan orang yang diselamatkan, ia mengisyaratkan bahwa banyak orang tidak akan menjadi sebuah perisai terhadap Allah untuk melindungi orang-orang jahat; tetapi bahwa sebanyak yang berbuat dosa mereka akan dihukum, apakah jumlah mereka sedikit atau banyak).

 

Matthew Henry: “The number of offenders signifies no more to procure any favour than the quality. If the sin be universal, the punishment shall likewise extend to all” (= Jumlah dari pelanggar-pelanggar tidak berarti akan lebih mendapatkan kebaikan apapun dari pada kwalitet. Jika dosa itu bersifat universal, hukuman juga akan meluas kepada semua orang).

 

Jadi contoh ini (ay 5), sekalipun arahnya sama dengan contoh pertama di atas (ay 4 - tentang malaikat-malaikat yang berdosa), tetapi mempunyai penekanan yang berbeda. Kalau contoh pertama menekankan bagaimanapun tinggi / mulianya kedudukan seseorang, maka contoh ini menekankan betapapun banyaknya orang yang berbuat dosa, itu tidak menyebabkan mereka kebal terhadap hukuman Allah.

   

-bersambung-

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali