Pemahaman Alkitab

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Jl. Dinoyo 19b, lantai 3)

Jum’at, tanggal 14 November 2008, pk 19.00

Pdt. Budi Asali, M. Div.

(7064-1331 / 6050-1331)

 

I TIMOTIUS 3:13-16(1)

 

1Tim 3:13-16 - “(13) Karena mereka yang melayani dengan baik beroleh kedudukan yang baik sehingga dalam iman kepada Kristus Yesus mereka dapat bersaksi dengan leluasa. (14) Semuanya itu kutuliskan kepadamu, walaupun kuharap segera dapat mengunjungi engkau. (15) Jadi jika aku terlambat, sudahlah engkau tahu bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga Allah, yakni jemaat dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran. (16) Dan sesungguhnya agunglah rahasia ibadah kita: ‘Dia, yang telah menyatakan diriNya dalam rupa manusia, dibenarkan dalam Roh; yang menampakkan diriNya kepada malaikat-malaikat, diberitakan di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah; yang dipercayai di dalam dunia, diangkat dalam kemuliaan.’”.

 

Ay 13: Karena mereka yang melayani dengan baik beroleh kedudukan yang baik sehingga dalam iman kepada Kristus Yesus mereka dapat bersaksi dengan leluasa.

 

1)            Karena mereka yang melayani dengan baik.

KJV: ‘For they that have used the office of a deacon well’ (= Karena mereka yang telah menggunakan jabatan diaken dengan baik).

RSV: ‘for those who serve well as deacons (= bagi mereka yang melayani dengan baik sebagai diaken-diaken).

NIV: Those who have served well (= Mereka yang telah melayani dengan baik).

NASB: For those who have served well as deacons (= Karena mereka yang telah melayani dengan baik sebagai diaken-diaken).

 

a)      Mengapa terjemahannya berbeda-beda?

Barnes’ Notes: ‘For they that have used the office of a deacon well.’ Margin, ‘ministered.’ The Greek word is the same as deacon, meaning ministering, or serving in this office. The sense would be well expressed by the phrase, ‘deaconizing well.’ (= ‘Karena mereka yang telah menggunakan jabatan diaken dengan baik’. Catatan tepi, ‘melayani’. Kata Yunaninya sama dengan ‘diaken’, berarti ‘melayani’, atau ‘melayani dalam jabatan / tugas ini’. Artinya dinyatakan dengan baik oleh ungkapan ‘melayani dengan baik sebagai diaken’).

 

b)   Bagian ini menunjukkan bahwa kalau seseorang diangkat ke dalam suatu jabatan tertentu dalam gereja, ia harus mempunyai kemauan untuk melayani / bekerja.

The Bible Exposition Commentary: New Testament: “A willingness to work (v. 13). He is to use the office, not just fill it” [= Suatu kemauan untuk bekerja (ay 13). Ia harus menggunakan jabatan itu, bukan sekedar mengisinya].

 

2)            beroleh kedudukan yang baik.

KJV: ‘purchase to themselves a good degree (= membeli bagi diri mereka sendiri suatu tingkat yang baik).

RSV: ‘gain a good standing for themselves’ (= mendapatkan kedudukan yang baik bagi diri mereka sendiri).

NIV: gain an excellent standing (= mendapatkan suatu kedudukan yang sangat baik).

NASB: obtain for themselves a high standing (= mendapatkan bagi diri mereka sendiri suatu kedudukan yang tinggi).

 

a)      ‘Beroleh / mendapatkan / membeli’.

Albert Barnes mengatakan bahwa kata ‘purchase’ (= membeli) dalam KJV harus diartikan sebagai ‘procure’ (= mendapatkan / memperoleh).

 

b)      ‘Kedudukan yang baik / tingkat yang baik’.

Kata Yunani yang diterjemahkan ‘degree’ (= tingkat) oleh KJV, secara hurufiah berarti ‘suatu langkah’ atau ‘suatu anak tangga’.

Rupanya ada orang-orang yang menafsirkan bahwa bagian ini berarti bahwa orang-orang yang melayani dengan baik akan ‘naik pangkat’ dan mendapatkan kedudukan / jabatan yang lebih tinggi. Tetapi banyak penafsir menentang pandangan ini. Calvin mengatakan bahwa sekalipun memang memungkinkan untuk mengangkat diaken yang telah melayani dengan baik untuk menjadi tua-tua, tetapi arti ayat / bagian ini hanyalah bahwa orang-orang yang melayani dengan baik akan makin dihormati dalam gereja.

 

Tetapi ingat:

1.   Hal ini akan terjadi hanya dalam gereja yang nggenah / bagus. Dalam gereja yang brengsek, jangan heran kalau saudara melayani dengan baik, justru saudara akan dicela, difitnah, dimaki-maki, dikucilkan, dan sebagainya.

Mat 10:24-25 - “(24) Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, atau seorang hamba dari pada tuannya. (25) Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya. Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya”.

Biarpun Yesus dimaki-maki oleh orang-orang Yahudi / tokoh-tokoh agama Yahudi yang tidak percaya, tetapi bagaimanapun mereka termasuk dalam ‘gereja’ pada saat itu.

2.      Bahkan dalam gereja yang bagus hal seperti itu bisa terjadi, karena:

a.   Selalu ada ‘lalang di antara gandum’.

b.   Selalu bisa terjadi kesalah-pahaman dan sebagainya.

 

3)            sehingga dalam iman kepada Kristus Yesus mereka dapat bersaksi dengan leluasa.

KJV: ‘and great boldness in the faith which is in Christ Jesus’ (= dan keberanian yang besar dalam iman yang ada dalam Kristus Yesus).

RSV: ‘and also great confidence in the faith which is in Christ Jesus’ (= dan juga keyakinan yang besar dalam iman yang ada dalam Kristus Yesus).

NIV: and great assurance in their faith in Christ Jesus (= dan kepastian yang besar dalam iman mereka dalam / kepada Kristus Yesus).

NASB: and great confidence in the faith that is in Christ Jesus (= dan keyakinan yang besar dalam iman yang ada dalam Kristus Yesus).

 

Dari perbandingan terjemahan-terjemahan ini terlihat bahwa kata-kata ‘mereka dapat bersaksi dengan leluasa’ dalam Kitab Suci Indonesia, tidak ada dalam Kitab Suci - Kitab Suci bahasa Inggris. Tetapi Barnes mengatakan bahwa kata yang diterjemahkan ‘boldness’ (= keberanian) oleh KJV, secara benar menunjuk pada keberanian untuk berbicara (Bdk. Kis 4:13  2Kor 3:12  Fil 1:20). Mungkin itu yang menyebabkan Kitab Suci Indonesia menterjemahkan seperti itu. Tetapi Barnes menambahkan bahwa kata itu pada umumnya digunakan untuk menunjuk pada ‘keberanian dari jenis apapun’, ‘keterbukaan’, ‘kejujuran’, ‘keyakinan’ (seperti dalam RSV/NASB), ‘kepastian’ (seperti dalam NIV). Bdk. Yoh 8:13,26  Mark 8:32  2Kor 7:4. Karena di sini kata itu dihubungkan dengan ‘faith’ (= iman), maka Barnes beranggapan bahwa di sini kata itu tidak menunjuk pada keberanian berbicara, tetapi pada pelaksanaan iman yang berani. Jadi, arti dari seluruh kalimat adalah: orang yang melayani (sebagai diaken) dengan baik, akan mendapatkan suatu karakter yang menunjukkan keteguhan dari iman.

 

Penerapan: kalau saudara sudah lama menjadi orang kristen yang sejati, dan bahkan banyak belajar Firman Tuhan, tetapi saudara merasa tidak maju-maju dalam iman, mungkin itu disebabkan karena saudara tidak melayani, atau saudara tidak melayani dengan baik.

 

Ay 14-15: “(14) Semuanya itu kutuliskan kepadamu, walaupun kuharap segera dapat mengunjungi engkau. (15) Jadi jika aku terlambat, sudahlah engkau tahu bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga Allah, yakni jemaat dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran.

 

1)      Semuanya itu kutuliskan kepadamu, walaupun kuharap segera dapat mengunjungi engkau. Jadi jika aku terlambat, ....

Dalam 1Tim 1,4,5,6 kita bisa melihat bahwa dalam gereja yang dilayani oleh Timotius ada orang-orang brengsek dan sesat. Dalam ayat ini Paulus mengatakan bahwa ia berharap untuk segera dapat mengunjungi Timotius. Calvin mengatakan bahwa tujuannya adalah untuk memberikan semangat kepada Timotius, dan juga untuk menekan kekurang-ajaran dari orang-orang brengsek dan sesat itu yang menjadi makin sombong dengan tidak adanya Paulus. Ini menunjukkan betapa pedulinya Paulus pada keadaan suatu gereja, sehingga ingin cepat-cepat ke sana untuk membereskan persoalan yang ada di sana. Tetapi bagaimanapun juga, ia tidak mau berjanji secara sembarangan, karena ia memang tidak pasti apakah ia akan bisa mengunjungi Timotius dengan segera. Karena itu, ia menulis surat ini supaya kalau kedatangannya terhambat oleh apapun, Timotius tahu apa yang harus ia lakukan.

 

2)            sudahlah engkau tahu bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga Allah.

KJV: ‘in the house of God’ (= dalam rumah Allah).

RSV/NASB: ‘in the household of God’ (= dalam rumah tangga Allah).

NIV: in God’s household (= dalam rumah tangga Allah).

Kata Yunani yang diterjemahkan ‘house’ (= rumah) atau ‘household’ (= rumah tangga / orang-orang dalam rumah) adalah OIKOS, yang menurut Bible Works 7 memang bisa berarti keduanya.

 

William Hendriksen menganggap terjemahan ‘house’ (= rumah) merupakan terjemahan yang tepat, karena orang-orang percaya memang merupakan rumah / Bait Allah (1Kor 3:16; 6:19; 2Kor 6:16), karena Allah memang tinggal di dalam diri mereka.

Barnes menekankan bahwa istilah ‘house of God’ (= rumah Allah) ini tidak menunjuk pada bangunan gereja, tetapi kepada gereja sebagai sekumpulan orang-orang percaya. Ia lalu menambahkan bahwa kata-kata ini ditambahkan oleh Paulus supaya Timotius merasa betapa pentingnya tugas yang ia lakukan!

Penerapan: kalau saudara melayani dalam gereja, selalulah sadar akan hal ini, dan jangan melayani asal melayani, tetapi layanilah dengan sungguh-sungguh dan dengan maximal.

 

The Bible Exposition Commentary: New Testament memilih terjemahan ‘household’ (= rumah tangga / orang-orang dalam rumah). Alasannya: gereja Allah merupakan suatu keluarga. Dan buku tafsiran ini lalu menambahkan kata-kata di bawah ini.

 

The Bible Exposition Commentary: New Testament: “Because the local church is a family, it must be fed; and the only diet that will nourish the people is the Word of God. It is our bread (Matt 4:4), milk and meat (1 Cor 3:1-2; Heb 5:12-14), and honey (Ps 119:103). A pastor must take time to nourish himself so that he might nourish others (1 Tim 4:6). A church does not grow by addition, but by nutrition (Eph 4:11-16). It is tragic to see the way some pastors waste their time (and their church’s time) all week long and then have nothing nourishing to give the people on the Lord’s Day” [= Karena gereja lokal adalah suatu keluarga, itu perlu diberi makan; dan satu-satunya makanan yang akan memberi orang-orang makanan yang bergizi, adalah Firman Allah. Itu adalah roti kita (Mat 4:4), susu dan makanan (1Kor 3:1-2; Ibr 5:12-14), dan madu (Maz 119:103). Seorang pendeta harus memberi waktu untuk memberi dirinya sendiri makanan bergizi, sehingga ia bisa memberi orang-orang lain makanan yang bergizi (1Tim 4:6). Suatu gereja tidak bertumbuh oleh penambahan, tetapi oleh pemberian makanan bergizi (Ef 4:11-16). Merupakan sesuatu yang tragis / menyedihkan untuk melihat cara beberapa / sebagian pendeta membuang-buang waktu mereka (dan waktu gereja) sepanjang minggu dan lalu tidak mempunyai apapun yang bergizi untuk diberikan kepada orang-orang pada hari Tuhan].

Catatan:

 

3)         yakni jemaat dari Allah yang hidup.

KJV/RSV/NIV/NASB: ‘which is the church of the living God’ (= yang adalah gereja dari Allah yang hidup).

 

The Bible Exposition Commentary: New Testament: “The assembly (v. 15b). The word ‘church’ is a translation of the Greek word ekklesia, which means ‘assembly.’ ... it is used about 100 times in the New Testament to refer to local churches, assemblies of believers. The Greek word means ‘those called out.’ ... Because it is God’s assembly, He has the right to tell us how it ought to be governed. The church has been purchased with the blood of God’s Son (Acts 20:28); therefore, we must be careful how we conduct ourselves. Church officers must not become religious dictators who abuse the people in order to achieve their own selfish ends (1 Peter 5:3-5; 3 John 9-12) [= ‘Kumpulan’ (ay 15b). Kata ‘gereja’ merupakan terjemahan dari kata Yunani EKKLESIA, yang berarti ‘kumpulan’. ... itu digunakan sekitar 100 x dalam Perjanjian Baru untuk menunjuk pada gereja-gereja lokal, perkumpulan orang-orang percaya. Kata Yunaninya berarti ‘mereka yang dipanggil keluar’. ... Karena gereja adalah kumpulan orang-orang dari Allah, Ia mempunyai hak untuk memerintah kita bagaimana gereja itu harus diperintah / dipimpin. Gereja telah dibeli dengan darah Anak Allah (Kis 20:28); dan karena itu, kita harus berhati-hati bagaimana kita bertingkah laku. Pejabat-pejabat gereja tidak boleh menjadi diktator-diktator yang religius, yang menyalah-gunakan orang-orang untuk mencapai tujuan egoisnya sendiri (1Pet 5:3-5; 3Yoh 9-12)].

 

1Pet 5:3-5 - “(3) Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu. (4) Maka kamu, apabila Gembala Agung datang, kamu akan menerima mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu. (5) Demikian jugalah kamu, hai orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang yang tua. Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: ‘Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.’”.

 

3Yoh 9-12 - “(9) Aku telah menulis sedikit kepada jemaat, tetapi Diotrefes yang ingin menjadi orang terkemuka di antara mereka, tidak mau mengakui kami. (10) Karena itu, apabila aku datang, aku akan meminta perhatian atas segala perbuatan yang telah dilakukannya, sebab ia meleter melontarkan kata-kata yang kasar terhadap kami; dan belum merasa puas dengan itu, ia sendiri bukan saja tidak mau menerima saudara-saudara yang datang, tetapi juga mencegah orang-orang, yang mau menerima mereka dan mengucilkan orang-orang itu dari jemaat. (11) Saudaraku yang kekasih, janganlah meniru yang jahat, melainkan yang baik. Barangsiapa berbuat baik, ia berasal dari Allah, tetapi barangsiapa berbuat jahat, ia tidak pernah melihat Allah. (12) Tentang Demetrius semua orang memberi kesaksian yang baik, malah kebenaran sendiri memberi kesaksian yang demikian. Dan kami juga memberi kesaksian yang baik tentang dia, dan engkau tahu, bahwa kesaksian kami adalah benar”.

 

4)         tiang penopang dan dasar kebenaran.

KJV: ‘the pillar and ground of the truth’ (= tiang penopang dan dasar kebenaran).

RSV: ‘the pillar and bulwark of the truth’ (= tiang penopang dan pertahanan / kubu kebenaran).

NIV: the pillar and foundation of the truth (= tiang penopang dan dasar kebenaran).

NASB: the pillar and support of the truth (= tiang penopang dan penopang kebenaran).

 

a)   Bagian ini dijadikan dasar oleh orang Katolik untuk mengatakan bahwa Gereja Katolik dan Paus tidak bisa salah dalam mengajar.

 

Wibisono Hartono: Sebagai Katolik saya percaya bahwa Gereja dan Paus tidak bisa salah dalam ajarannya, dengan perkataan lain mereka adalah 100% benar.  Di 1 Timotius 3:15 Paulus menulis (KJV): ‘But if I tarry long, that thou mayest know how thou oughtest to behave thyself in the house of God, which is the church of the living God, the pillar and ground of the truth’. Disini Paulus menulis bahwa gereja adalah tiang dan dasar kebenaran; apakah disini dia menganggap 100% kebenaran atau kurang dari 100%? Roh Kudus tidak akan mengilhami Paulus untuk menulis kalimat diatas jika kebenaran yang dimaksud kurang dari 100%.  Karena bapak sudah mengaku terus terang bahwa gereja bapak tidak memiliki 100% kebenaran, berarti gereja bapak bukan yang dimaksud oleh Paulus”.

Catatan: orang ini adalah orang Katolik yang pernah berdebat melalui internet sampai sangat lama dengan saya.

 

Tanggapan saya:

 

1.            Komentar para penafsir Protestan tentang pandangan Katolik ini.

 

a.      Calvin menganggap ini sebagai suatu kelancangan / kekurang-ajaran.

Calvin: “With what impudent trifling do Papists argue from the words of Paul that all their absurdities ought to be held as oracles of God, because they are ‘the pillar of truth,’ and therefore cannot err! [= Dengan hal yang dangkal / tak berarti dan lancang / kurang ajar, para pengikut Paus (orang-orang Katolik) berargumentasi dari kata-kata Paulus bahwa semua ajaran mereka yang menggelikan harus dipegang / dianggap seperti sabda Allah, karena mereka adalah ‘tiang penopang kebenaran’, dan karena itu tidak bisa salah!] - hal 90.

 

b.      Calvin mengatakan bahwa sebetulnya ‘Gereja Roma Katolik’ bukanlah Gereja.

Calvin: “granting that the Church were elevated above the third heaven, I maintain that it has nothing to do with them in any manner. Nay, I even turn the whole passage against them; for, if the Church ‘is the pillar of truth,’ it follows that the Church is not with them, when the truth not only lies buried, but is shockingly torn, and thrown down, and trampled under foot. ... Paul does not wish that any society, in which the truth of God does not hold a lofty and conspicuous place, shall be acknowledged to be a Church; now there is nothing of all this in Popery, but only ruin and desolation; and, therefore, the true mark of a Church is not found in it” (= seandainya diterima bahwa Gereja ditinggikan melebihi langit ketiga, saya berpendapat bahwa itu tidak ada hubungannya dengan mereka dengan cara apapun. Tidak, bahkan saya membalikkan seluruh text menentang mereka; karena, jika Gereja ‘adalah tiang penopang kebenaran’, maka Gereja tidak bersama mereka, pada waktu kebenaran bukan hanya dikuburkan, tetapi sangat disobek, dan dilempar ke tanah, dan diinjak-injak. ... Paulus tidak ingin bahwa perkumpulan / lembaga apapun, dalam mana kebenaran Allah tidak menduduki tempat tinggi / mulia dan menyolok, diakui sebagai suatu Gereja; dan tidak ada dari hal ini dalam ajaran / kepercayaan Gereja Roma Katolik, tetapi hanya kehancuran dan ketandusan; dan karena itu, ciri yang benar dari suatu Gereja tidak ditemukan di dalamnya) - hal 91.

 

2.            Kesalahan dari penafsiran / pandangan Katolik ini.

 

a.   1Tim 3:15 ini hanya menyatakan bahwa gereja adalah pillar dan dasar / fondasi dari kebenaran. Dari mana kok tahu-tahu bisa diartikan bahwa gereja dan Paus itu tidak bisa salah dalam mengajar? Ini merupakan penafsiran yang tidak berdasar!

 

b.   Tafsiran / pandangan Katolik ini jelas bertentangan dengan Kitab Suci maupun fakta, karena:

·         Petrus, yang diakui sebagai Paus I oleh Gereja Roma Katolik, pernah salah, baik dalam tindakan maupun kata-kata / pandangan. Dia dihardik oleh Yesus (Mat 16:23), dan juga oleh Paulus (Gal 2:11-14). Dalam kasus Kornelius, ia mula-mula salah mengerti tentang larangan makan binatang-binatang tertentu dalam Im 11 maupun tentang keselamatan dari orang-orang non Yahudi, dan lalu dibetulkan oleh Allah (Kis 10). Juga dia pernah menyangkal Yesus 3 x. Kalau ‘Paus I’ ini ternyata bisa salah, bagaimana mungkin Paus-Paus penggantinya bisa tidak bisa salah, sehingga lebih hebat dari ‘Paus I’, yang adalah seorang rasul?

·         Paus yang satu sering bertentangan dengan Paus yang lain. Demikian juga Sidang Gereja yang satu dengan Sidang Gereja yang lain. Juga Paus tertentu bertentangan dengan Sidang Gereja. Lalu yang mana yang tidak bisa salah?

·         Dulu Sidang Gereja Katolik melarang orang membaca Kitab Suci. Sekarang menganjurkan. Yang mana yang tidak bisa salah?

·         Banyak Paus maupun Sidang Gereja memberikan ajaran sesat (bahkan dianggap sesat menurut pandangan Katolik sekarang).

·         Dalam sejarah pernah terjadi ada 2 Paus, dan keduanya sama-sama tidak mau turun, dan pada waktu keduanya dipecat dan diganti Paus yang baru, keduanya tetap tidak mau turun, sehingga ada 3 Paus yang berebut takhta. Mereka pasti saling menyalahkan satu sama lain. Yang mana dari mereka, yang sama-sama gila kedudukan ini, yang tidak bisa salah?

 

Catatan: saya tidak memberikan detail-detail dari hal-hal yang saya bicarakan dalam 4 point terakhir di atas ini. Kalau saudara mau mengetahuinya, saudara bisa membaca buku saya yang berjudul ‘Roma Katolik vs Kristen Protestan’.

 

b)   Arti yang benar dari kata-kata ‘tiang penopang dan dasar kebenaran’ dalam 1Tim 3:15 ini.

 

Calvin: The reason why the Church is called the ‘pillar of truth’ is, that she defends and spreads it by her agency. ... she is called ‘the pillar of truth;’ because the office of administering doctrine, which God hath placed in her hands, is the only instrument of preserving the truth, that it may not perish from the remembrance of men. Consequently this commendation relates to the ministry of the word; for if that be removed, the truth of God will fall to the ground. Not that it is less strong, if it be not supported by the shoulders of men, as the same Papists idly talk; for it is a shocking blasphemy to say, that the word of God is uncertain, till it obtain from men what may be called a borrowed certainty. ... Accordingly in reference to men, the Church maintains the truth, because by preaching the Church proclaims it, because she keeps it pure and entire, because she transmits it to posterity” (= Alasan mengapa Gereja disebut ‘tiang penopang dari kebenaran’ adalah bahwa gereja mempertahankan / membela dan menyebarkan kebenaran itu oleh aktivitasnya. ... ia disebut ‘tiang penopang dari kebenaran’; karena tugas mengurus doktrin / ajaran, yang Allah telah tempatkan dalam tangannya, adalah satu-satunya alat untuk memelihara / melindungi / mempertahankan kebenaran, supaya kebenaran itu tidak binasa dari ingatan manusia. Karena itu, pujian / penghargaan ini berhubungan dengan pelayanan firman; karena jika itu disingkirkan, kebenaran Allah akan jatuh ke tanah. Bukan bahwa kebenaran Allah itu kurang kuat jika tidak ditopang oleh pundak manusia, seperti omongan sia-sia yang sama dari orang-orang Katolik; karena sangat merupakan suatu penghujatan untuk mengatakan, bahwa firman Allah adalah tidak pasti, sampai firman itu mendapatkan dari manusia apa yang boleh disebut ‘kepastian yang dipinjam’. ... Jadi, berkenaan dengan manusia, Gereja mempertahankan kebenaran, karena oleh pemberitaan / khotbah Gereja menyatakan kebenaran, karena gereja menjaganya tetap murni dan utuh, karena gereja meneruskan kebenaran itu pada keturunannya) - hal 90-91.

 

Jadi intinya: Calvin menganggap bahwa gereja disebut ‘pillar dan dasar dari kebenaran’ hanya berarti bahwa gerejalah yang memelihara, mempertahankan, dan memberitakan kebenaran. Jadi, ungkapan itu tidak menunjukkan bahwa gereja itu infallible / tidak bisa salah.

 

William Hendriksen memberikan penafsiran yang kurang lebih sama dengan Calvin, tetapi menurut saya penafsiran / penjelasannya lebih jelas.

 

William Hendriksen: “As the pillar supports the roof, ... as the foundation supports the entire superstructure, so the church supports the glorious truth of the gospel” (= Seperti tiang / pilar menopang atap, ... seperti fondasi menopang seluruh bangunan bagian atas, demikianlah gereja menopang kebenaran yang mulia dari injil) - hal 136.

 

Perhatikan bahwa penafsiran ini betul-betul ada logikanya. Tiang dan fondasi menopang seluruh bangunan. Jadi kalau gereja disebut ‘pilar dan fondasi / dasar dari kebenaran’, maka itu berarti gereja menopang kebenaran.

 

Lalu ia melanjutkan dengan mengatakan bahwa gereja menopang kebenaran dengan cara mendengarkan / memperhatikannya, menanganinya dengan benar, menyimpannya dalam hati, memberitakannya, mencernanya, mempertahankannya, menyebarkannya, menunjukkan kuasanya dalam kehidupan yang dikuduskan.

 

Saya ingin menambahkan beberapa komentar yang nadanya serupa di bawah ini.

 

Barnes’ Notes: “‘The pillar and ground of the truth.’ ... he reminded him that the truth of God - that revealed truth which he had given to save the world - was entrusted to the church; that it was designed to preserve it pure, to defend it, and to transmit it to future times; and that, therefore, every one to whom the administration of the affairs of the church was entrusted, should engage in this duty with a deep conviction of his responsibility. ... The word ‘pillar’ means a column, such as that by which a building is supported, and then any firm prop or support; Gal 2:9; Rev 3:12. If it refers to the church here, it means that that is the support of the truth, as a pillar is of a building. It sustains it amidst the war of elements, the natural tendency to fall, and the assaults which may be made on it, and preserves it when it would otherwise tumble into ruin. Thus it is with the church. It is entrusted with the business of maintaining the truth, of defending it from the assaults of error, and of transmitting it to future times. The truth is, in fact, upheld in the world by the church. The people of the world feel no interest in defending it, and it is to the church of Christ that it is owing that it is preserved and transmitted from age to age. The word rendered ‘ground’ - hedraiooma ‎- means, properly, a basis, or foundation. The figure here is evidently taken from architecture, as the use of the word ‘pillar’ is. The proper meaning of the one expression would be, that truth is supported by the church as an edifice is by a pillar; of the other, that the truth rests ‘on’ the church, as a house does on its foundation. It is that which makes it fixed, stable, permanent; that on which it securely stands amidst storms and tempests” (= ‘Tiang penopang dan dasar dari kebenaran’. ... ia mengingatkannya bahwa kebenaran Allah - kebenaran yang dinyatakan yang telah Ia berikan untuk menyelamatkan dunia - dipercayakan kepada gereja; bahwa gereja dirancang untuk menjaga / memeliharanya supaya tetap murni, mempertahankannya, dan meneruskannya ke masa-masa yang akan datang; dan bahwa, karena itu, setiap orang kepada siapa pelaksanaan dari urusan-urusan gereja dipercayakan, harus terlibat dalam kewajiban ini dengan suatu kesadaran tentang tanggung jawabnya. ... Kata ‘tiang penopang’ berarti kolom, dengan mana bangunan ditopang, dan lalu seadanya penyangga atau penopang; Gal 2:9; Wah 3:12. Jika itu menunjuk kepada gereja di sini, itu berarti bahwa gereja adalah penopang dari kebenaran, seperti pilar / tiang penopang adalah penopang dari bangunan. Gereja menopangnya di tengah-tengah perang prinsip, kecenderungan alamiahnya untuk jatuh, dan serangan-serangan kepadanya, dan memelihara / menjaganya pada waktu gereja akan jatuh / ambruk ke dalam kehancuran. Demikianlah halnya dengan gereja. Gereja dipercayai dengan kesibukan untuk memelihara kebenaran, untuk mempertahankannya dari serangan-serangan dari kesalahan, dan untuk meneruskannya ke masa-masa yang akan datang. Dalam faktanya, kebenaran ditegakkan / dijunjung tinggi dalam dunia oleh gereja. Orang-orang dunia tidak merasa berkepentingan dalam mempertahankan kebenaran, dan kepada gereja Kristuslah gereja berhutang sehingga gereja dipelihara / dijaga dan diteruskan dari jaman ke jaman. Kata yang diterjemahkan ‘dasar’ - HEDRAIOOMA - secara tepat berarti ‘suatu dasar’, atau ‘fondasi’. Gambaran di sini jelas diambil dari arsitektur, sama seperti penggunaan kata ‘pilar / tiang penopang’ juga diambil dari sana. Arti yang benar dari ungkapan ini adalah, bahwa kebenaran ditopang oleh gereja seperti suatu gedung ditopang oleh pilar / tiang penopang; tentang yang lain, bahwa kebenaran terletak / bersandar pada gereja, seperti suatu rumah terletak / bersandar pada fondasinya. Fondasi itulah yang membuatnya teguh, stabil, permanen; fondasi pada mana gereja dengan aman berdiri di tengah-tengah angin topan dan badai).

 

Renungkan: apakah saudara ikut membela, mempertahankan, menyebarkan kebenaran Firman Tuhan? Kalau ya, saudara termasuk dalam ‘gereja’; kalau tidak, saudara termasuk ‘orang dunia’!

 

Bible Knowledge Commentary: “‎Some people teach that the church as the ‘foundation of the truth’ is the source of God’s truth, that no one can know the truth unless he depends on the teaching of some organized church or church group. But Paul was simply affirming the crucial role of the universal church as the support and bulwark - not the source - of God’s truth. His words should not be stretched beyond this” (= Sebagian orang mengajarkan bahwa gereja sebagai ‘fondasi / dasar dari kebenaran’ merupakan sumber dari kebenaran Allah, sehingga tak seorangpun mengetahui / mengenal kebenaran kecuali ia bergantung pada pengajaran dari suatu gereja yang terorganisir atau kelompok gereja. Tetapi Paulus sekedar menegaskan peranan yang sangat penting dari gereja universal sebagai penopang dan kubu - bukan sumber - dari kebenaran Allah. Kata-katanya tidak boleh ditarik melebihi hal ini).

 

Pulpit Commentary: “The Church is the pillar of the truth. It supports it; holds it together - binds together its different parts. And it is the ground of the truth. By it the truth is made fast, firm, and fixed” (= Gereja adalah pilar / tiang penopang dari kebenaran. Gereja menopangnya, menjaga kesatuannya - mengikat menjadi satu bagian-bagiannya yang berbeda. Dan gereja merupakan dasar / fondasi dari kebenaran. Olehnya kebenaran dibuat menjadi teguh, kokoh dan tetap).

 

c)      Penerapan dari arti dari kata-kata di atas.

 

Calvin: “we ought to see why Paul adorns the Church with so magnificent a title. By holding out to pastors the greatness of the office, he undoubtedly intended to remind them with what fidelity, and industry, and reverence they ought to discharge it. How dreadful is the vengeance that awaits them, if, through their fault, that truth which is the image of the Divine glory, the light of the world, and the salvation of men, shall be allowed to fall! This consideration ought undoubtedly to lead pastors to tremble continually, not to deprive them of all energy, but to excite them to greater vigilance” (= kita harus melihat mengapa Paulus menghiasi Gereja dengan suatu gelar yang begitu bagus / megah. Dengan memberikan kepada pendeta-pendeta kebesaran dari jabatan itu, tak diragukan bahwa ia bermaksud untuk mengingatkan mereka bahwa mereka harus menunaikan jabatan / tugas itu dengan kesetiaan, kerajinan, dan rasa hormat / takut. Alangkah menakutkannya pembalasan yang menantikan mereka, jika melalui kesalahan mereka, kebenaran yang merupakan gambar dari kemuliaan ilahi, terang dunia, dan keselamatan manusia, diijinkan untuk jatuh! Tak diragukan bahwa pertimbangan ini harus membimbing pendeta-pendeta untuk terus menerus gemetar, bukan untuk membuang semua tenaga / kekuatan dari diri mereka, tetapi untuk menggairahkan mereka pada kewaspadaan yang lebih besar).

 

Calvin: “Consequently this commendation relates to the ministry of the word; for if that be removed, the truth of God will fall to the ground” (= Sebagai akibatnya, pujian / penghargaan ini berhubungan dengan pelayanan firman; karena jika itu disingkirkan, kebenaran Allah akan jatuh ke tanah).

 

Calvin: “And if the instruction of the gospel be not proclaimed, if there are no godly ministers who, by their preaching, rescue truth from darkness and forgetfulness, instantly falsehoods, errors, impostures, superstitions, and every kind of corruption, will reign. In short, silence in the Church is the banishment and crushing of the truth” (= Dan jika pengajaran injil tidak dinyatakan, jika tidak ada pendeta-pendeta yang saleh, yang oleh khotbah mereka, menyelamatkan kebenaran dari kegelapan dan pelupaan, dengan segera kepalsuan, kesalahan, penipu, takhyul, dan setiap jenis kejahatan, akan memerintah / berkuasa. Singkatnya, diamnya Gereja merupakan pembuangan dan penghancuran dari kebenaran) - hal 91.

 

Catatan: Calvin hanya menekankan pendeta-pendeta, mungkin karena Paulus menujukan kata-kata ini kepada Timotius. Tetapi jelas bahwa yang disebut dengan ‘gereja’ bukan hanya pendeta-pendeta tetapi semua orang kristen yang sejati. Dan karena itu, kewajiban memberitakan Firman Tuhan ini pasti juga berlaku untuk semua orang kristen yang sejati.

 

-bersambung-

 

author : Pdt. Budi Asali, M.Div.

E-mail : buas22@yahoo.com

e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com
Base URL  http://www.golgothaministry.org