Eksposisi Surat Paulus kepada Timotius yang Pertama

oleh : Pdt. Budi Asali M.Div.


I TIMOTIUS 1:14-15

Ay 14: “Malah kasih karunia Tuhan kita itu telah dikaruniakan dengan limpahnya kepadaku dengan iman dan kasih dalam Kristus Yesus”.

1)   ‘Malah kasih karunia Tuhan kita itu telah dikaruniakan dengan limpahnya kepadaku’.

Dosa Paulus yang begitu banyak menyebabkan terlihatnya kasih karunia Allah yang begitu besar pada waktu ia diselamatkan.

Barclay: “The first part is not difficult; it simply means that the grace of God rose higher than Paul’s sin” (= Bagian pertama tidak sukar; itu hanya berarti bahwa kasih karunia Allah naik lebih tinggi dari dosa Paulus) - hal 44.

Bdk. Ro 5:20 - “Tetapi hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah.

Ini bisa diterapkan untuk diri sendiri, maupun untuk orang-orang yang kita injili.

2)   ‘dengan iman dan kasih dalam Kristus Yesus’.

a)   Ada yang menganggap bahwa ‘iman dan kasih’ yang dibicarakan di sini adalah iman dan kasih dari gereja pada saat itu.

Barclay: “Verse 14 is difficult. In the RSV it runs: ‘The grace of our Lord overflowed for me with the faith and love that are in Christ Jesus.’ ... what exactly is the meaning of the phrase ‘with the faith and love that is in Christ Jesus’? E. F. Brown suggests that it is that the work of the grace of Christ in Paul’s heart was helped by the faith and the love he found in the members of the Christian Church, things like the sympathy and then understanding and the kindness he received from men like Ananias, who opened his eyes and called him brother (Acts 9:10-19), and Barnabas, who stood by him when the rest of the Church regarded him with bleak suspicion (Acts 9:26-28)” [= Ay 14 merupakan ayat yang sukar. Dalam RSV itu berbunyi: ‘Kasih karunia dari Tuhan kita berlimpah-limpah untukku dengan kasih dan iman yang ada dalam Kristus Yesus’. ... apa tepatnya arti dari ungkapan ‘dengan kasih dan iman yang ada dalam Kristus Yesus’? E. F. Brown mengusulkan bahwa itu adalah bahwa pekerjaan dari kasih karunia dari Kristus dalam hati Paulus ditolong oleh iman dan kasih yang ia temukan dalam anggota-anggota dari Gereja Kristen, hal-hal seperti simpati dan pengertian dan kebaikan yang ia terima dari orang-orang seperti Ananias, yang membuka matanya dan menyebutnya ‘saudara’ (Kis 9:10-19), dan Barnabas, yang membela dia pada waktu sisa Gereja melihat kepadanya dengan kecurigaan yang suram (Kis 9:26-28)] - hal 44.

b)   Ada yang menganggap bahwa ‘iman dan kasih’ yang dibicarakan di sini adalah iman dan kasih dari Paulus sendiri.

Calvin menganggap bahwa ‘iman dan kasih’ itu adalah iman dan kasih dari Paulus. Kata ‘iman’ dikontraskan dengan ‘di luar iman’ [ay 13b; NIV: ‘unbelief’ (= ketidak-percayaan)], dan kata ‘kasih’ dikontraskan dengan kekejaman yang ia lakukan (ay 13a). Ini menunjukkan perubahan drastis dalam diri Paulus, dan itu semua disebabkan oleh kasih karunia Allah yang diberikan kepadanya.

Saya lebih condong pada pandangan kedua.

Ay 15: “Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: ‘Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa,’ dan di antara mereka akulah yang paling berdosa”.

1)   ‘Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya.

RSV: ‘worthy of full acceptance’ (= layak mendapat penerimaan penuh).

NIV: ‘deserves full acceptance’ (= layak mendapat penerimaan penuh).

NASB: ‘deserving full acceptance’ (= layak mendapat penerimaan penuh).

KJV/Lit: ‘and worthy of all acceptation’ (= dan layak mendapat semua penerimaan).

Jamieson, Fausset & Brown: “‘All’ - all possible: to be received by all, with all the faculties of the soul, mind, and heart” (= ‘Semua’ - semua yang mungkin: untuk diterima oleh semua orang, dengan semua kemampuan dari jiwa, pikiran dan hati).

Aneh sekali bahwa bagian ini digunakan oleh Clarke untuk mengajarkan Unlimited Atonement (= Penebusan Tak Terbatas).

Adam Clarke: “it is worthy of all acceptation; as all need it, it is worthy of being received by all. It is designed for the whole human race, for all that are sinners is applicable to all, because all are sinners; and may be received by all, being put within every man’s reach, and brought to every man’s ear and bosom, either by the letter of the word, or, where that revelation is not yet come, by the power of the divine Spirit, the true light from Christ that lightens every man that cometh into the world. From this also it is evident that the death of Christ, and all its eternally saving effects, were designed for every man” (= ini layak mendapatkan semua penerimaan; karena semua orang membutuhkannya, ini layak untuk diterima oleh semua. Ini direncanakan untuk seluruh umat manusia, untuk semua yang adalah orang berdosa, dapat dipakai untuk semua, karena semua orang adalah orang berdosa; dan bisa diterima oleh semua, karena diletakkan dalam jangkauan setiap orang, dan dibawa kepada telinga dan dada dari setiap orang, oleh huruf dari firman, atau, dimana wahyu itu belum datang, oleh kuasa dari Roh ilahi, terang yang benar dari Kristus yang menerangi setiap orang yang datang ke dalam dunia. Dari sini juga jelas bahwa kematian Kristus, dan semua akibat yang menyelamatkan yang kekal, direncanakan untuk setiap orang).

Penjelasan:

a)   Yang saya beri garis bawah tunggal menunjukkan kesalahan dari pandangan / argumentasi dari Clarke. Tidak semua orang mendapat kesempatan mendengar Injil, dan mereka yang tidak mendengar Injil pasti binasa.

Saya tidak melihat dasar Kitab Suci untuk mengatakan bahwa orang-orang yang tidak pernah mendengar Injil / Firman Tuhan pasti mendengarnya dari Roh Kudus, seperti yang dikatakan oleh Clarke di atas. Memang Roh Kudus bisa melakukan hal ini, tetapi jelas bahwa Ia tidak melakukannya untuk setiap orang yang tidak mendapat kesempatan untuk mendengar Injil.

Juga perlu diingat bahwa ada banyak orang yang sudah mati, dan karena itu sudah ada ada di neraka, pada saat Kristus datang ke dunia untuk melakukan penebusan dosa. Mereka pasti adalah orang-orang untuk siapa Kristus tidak menebus dosa.

b)   Yang saya beri garis bawah ganda dikutip dari Yoh 1:9 yang salah terjemahan.

Yoh 1:9 - Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia.

Kata-kata ‘sedang datang ke dalam dunia’ menerangkan ‘Terang yang sesungguhnya’, bukan menerangkan ‘setiap orang’.

Clarke kelihatannya mengutip dari KJV yang memberikan terjemahan yang keliru karena menterjemahkan ay 9 ini sebagai berikut: That was the true light, which lighteth every man that cometh into the world (= Itu adalah terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang yang datang ke dalam dunia).

Sebetulnya, ditinjau dari sudut bahasa Yunaninya, kata-kata ‘sedang datang ke dalam dunia’ itu memang bisa menerangkan baik ‘terang yang sesungguhnya’ maupun ‘setiap orang’. Karena itu sebetulnya ditinjau dari sudut bahasa Yunaninya terjemahan KJV itu tidak salah. Tetapi istilah ‘datang ke dalam dunia’ selalu ditujukan kepada Yesus (3:19  9:39  11:27  12:46  16:28  18:37), dan istilah ini tidak cocok untuk diberikan kepada manusia biasa, karena istilah ini menunjukkan bahwa orang itu mempunyai keberadaan sebelum lahir (pre existence).

Jadi jelas bahwa Clarke memberikan argumentasinya berdasarkan ayat yang salah terjemahannya.

2)   ‘Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa,’.

a)   Datang untuk menyelamatkan.

William Hendriksen: “He did not come to help them to save themselves, nor to induce them to save themselves, nor even to enable them to save themselves. He came to save them!” (= Ia tidak datang untuk menolong mereka untuk menyelamatkan diri mereka sendiri, atau untuk membujuk mereka untuk menyelamatkan diri mereka sendiri, atau bahkan untuk memampukan mereka untuk menyelamatkan diri mereka sendiri. Ia datang untuk menyelamatkan mereka!) - hal 79.

b)   ‘orang berdosa’.

Calvin: “The word ‘sinners’ is emphatic; for they who acknowledge that it is the office of Christ to save, have difficulty in admitting this thought, that such a salvation belongs to ‘sinners’. Our mind is always impelled to look at our worthiness; and as soon as our unworthiness is seen, our confidence sinks. Accordingly, the more any one is oppressed by his sins, let him the more courageously betake himself to Christ, relying on this doctrine, that he came to bring salvation not to the righteous, but to ‘sinners.’” (= Kata ‘orang-orang berdosa’ ditekankan; karena mereka yang mengakui bahwa adalah tugas dari Kristus untuk menyelamatkan, mempunyai kesukaran untuk mengakui pemikiran ini, bahwa keselamatan seperti itu menjadi milik dari ‘orang-orang berdosa’. Pikiran kita selalu terdorong untuk melihat pada kelayakan kita; dan begitu ketidak-layakan kita terlihat, keyakinan kita tenggelam. Karena itu, makin seseorang tertekan / tertindas oleh dosa-dosanya, biarlah ia dengan makin berani membawa dirinya sendiri kepada Kristus, bersandar pada doktrin / ajaran ini, bahwa Ia datang untuk membawa keselamatan bukan bagi orang benar tetapi bagi ‘orang-orang berdosa’) - hal 39.

Bdk. Mat 9:12-13 - “(12) Yesus mendengarnya dan berkata: ‘Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. (13) Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.’”.

Wesley: Came into the world to save sinners - All sinners, without exception (= Datang ke dalam dunia untuk menyelamatkan orang-orang berdosa - Semua orang berdosa, tanpa kecuali).

Lagi-lagi penafsiran Arminian. Kata ‘all’ (= semua), dan kata-kata ‘without exception’ (tanpa kecuali) sebetulnya tidak ada.

3)   ‘dan di antara mereka akulah yang paling berdosa’.

a)   Pentingnya kesadaran / ingatan akan dosa kita sendiri.

Thomas Carlyle: “The deadliest sins were the consciousness of no sin” (= Dosa yang paling mematikan adalah ketidaksadaran akan adanya dosa)‘The Encyclopedia of Religious Quotations’, hal 605.

Martin Luther: “The recognition of sin is the beginning of salvation” (= Pengenalan akan dosa adalah permulaan / awal keselamatan)‘The Encyclopedia of Religious Quotations’, hal 607.

Barclay: “The memory of his sin was the surest way to keep him from pride” (= Ingatan tentang dosanya adalah jalan yang paling pasti untuk menjaga dia dari kesombongan) - hal 46.

Barclay: “The memory of his sin was the surest way to keep his gratitude aflame. To remember what (that?) we have been forgiven is the surest way to keep awake our love to Jesus Christ” (= Ingatan tentang dosanya merupakan jalan yang paling pasti untuk menjaga supaya rasa terima kasihnya tetap berkobar. Mengingat bahwa kita telah diampuni merupakan jalan yang paling pasti untuk menjaga supaya kasih kita kepada Yesus Kristus tetap terjaga) - hal 46.

Barclay: “The memory of his sin was the constant urge to greatest effort. It is quite true that a man can never earn the approval of God, or deserve his love; but it is also true that he can never stop trying to do something to show how much he appreciates the love and mercy which have made him what he is. Whenever we love anyone we cannot help trying always to demonstrate our love. When we remember how much God loves us and how little we deserve it, when we remember that it was for us that Jesus Christ hung and suffered on Calvary, it must compel us to effort that will tell God we realize what he has done for us and will show Jesus Christ that his sacrifice was not in vain” (= Ingatan tentang dosanya merupakan suatu dorongan terus menerus kepada usaha yang terbesar. Merupakan sesuatu yang benar bahwa seseorang tidak pernah bisa layak mendapat persetujuan / sikap baik dari Allah, atau layak mendapat kasihNya; tetapi juga benar bahwa ia tidak pernah bisa berhenti mencoba melakukan sesuatu yang menunjukkan betapa besar ia menghargai kasih dan belas kasihan yang telah membuatnya seperti sekarang ini. Pada saat kita mengasihi siapapun, kita tidak  bisa tidak selalu berusaha menunjukkan kasih kita. Pada waktu kita mengingat betapa besar Allah mengasihi kita dan betapa sedikit kita layak mendapatkannya, pada waktu kita mengingat bahwa untuk kitalah Yesus Kristus tergantung dan menderita di Kalvari, itu harus mendorong kita kepada usaha yang akan memberitahu Allah bahwa kita menyadari apa yang telah Ia lakukan untuk kita dan akan menunjukkan kepada Yesus Kristus bahwa pengorbananNya tidaklah sia-sia) - hal 47.

Barclay: “Paul’s sin was something which he refused to forget, for every time he remembered the greatness of his sin, he remembered the still greater greatness of Jesus Christ. It was not that he brooded unhealthily over his sin; it was that he remembered it to rejoice in the wonder of the grace of Jesus Christ ” (= Dosa Paulus adalah sesuatu yang ia tak mau lupakan, karena setiap kali ia mengingat besarnya dosanya, ia ingat kebesaran Yesus Kristus yang lebih besar lagi. Bukan bahwa ia memikirkan secara tidak sehat akan dosanya; tetapi ia mengingatnya untuk bersukacita dalam keajaiban dari kasih karunia Yesus Kristus) - hal 48.

b)   Dosa seseorang yang besar / hebat bukanlah penghalang untuk keselamatannya.

Martin Luther: “Be a sinner and sin mightily, but more mightily believe and rejoice in Christ” (= Jadilah orang berdosa, dan berdosalah dengan hebat, tetapi percayalah kepada Kristus dan bersukacitalah dalam Kristus dengan lebih hebat)‘The Encyclopedia of Religious Quotations’, hal 607.

Catatan: Kata-kata ini tentu tak boleh diartikan bahwa Luther menyuruh kita sengaja berbuat dosa. Kalau diartikan demikian akan bertentangan dengan Ro 6:1-2 - “(1) Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? (2) Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?”.

Maksudnya adalah: sekalipun kita adalah orang yang sangat berdosa, yang telah melakukan dosa-dosa yang hebat, iman kepada Kristus bisa mengatasi semua itu, dan karenanya kita harus tetap bersukacita.

Calvin: “He shews that it was profitable to the Church that he had been such a person as he actually was before he was called to the apostleship, because Christ, by giving him as a pledge, invited all sinners to the sure hope of obtaining pardon. For when he, who had been a fierce and savage beast, was changed into a Pastor, Christ gave a remarkable display of his grace, from which all might be led to entertain a firm belief that no sinner, how heinous and aggravated soever might have been his transgression, had the gate of salvation shut against him” (= Ia menunjukkan bahwa merupakan sesuatu yang bermanfaat untuk Gereja bahwa ia tadinya adalah seseorang seperti bagaimana adanya ia sebelum ia dipanggil pada kerasulan, karena Kristus, dengan memberi dia sebagai suatu janji, mengundang semua orang berdosa pada pengharapan yang pasti dari penerimaan pengampunan. Karena ketika ia, yang dahulunya adalah binatang yang galak dan buas, diubah menjadi seorang Pendeta / Gembala, Kristus memberikan pertunjukan yang luar biasa tentang kasih karuniaNya, dari mana semua bisa dibimbing untuk mempunyai kepercayaan yang teguh bahwa tidak ada orang berdosa, bagaimanapun mengerikan dan buruknya pelanggarannya, mendapati bahwa pintu gerbang keselamatan telah tertutup baginya) - hal 38-39.

c)   Ini merupakan kata-kata yang membingungkan dari Paulus.

Pada waktu Paulus mengatakan bahwa ia adalah yang paling berdosa di antara orang-orang berdosa, apa maksudnya?

William Hendriksen: “This final clause has caused a wider variety of interpretation than almost any other in Paul’s writings” (= Anak kalimat terakhir ini telah menyebabkan perbedaan penafsiran yang lebih lebar dari pada hampir semua hal lain dalam tulisan Paulus) - hal 79.

Ada bermacam-macam penafsiran tentang bagian ini:

1.   Paulus terlalu keras kepada dirinya sendiri; Ia menganggap dirinya adalah orang yang paling berdosa, padahal sebetulnya tidak demikian.

Tetapi pandangan ini bertentangan dengan ‘Infallibility of the Scripture’ (= Ketidakbersalahan Kitab Suci).

2.   Aku termasuk dalam grup orang yang paling berdosa.

Bdk. Kis 28:17 - “Tiga hari kemudian Paulus memanggil orang-orang terkemuka bangsa Yahudi dan setelah mereka berkumpul, Paulus berkata: ‘Saudara-saudara, meskipun aku tidak berbuat kesalahan terhadap bangsa kita atau terhadap adat istiadat nenek moyang kita, namun aku ditangkap di Yerusalem dan diserahkan kepada orang-orang Roma”.

Kata ‘terkemuka’ di sini menggunakan kata Yunani yang sama.

3.   Kata-kata Paulus di sini merupakan suatu Hyperbole, yang merupakan suatu gaya bahasa yang melebih-lebihkan.

Gaya bahasa ini memang banyak digunakan dalam Kitab Suci.

Contoh: 2Raja 17:10 - “mereka mendirikan tugu-tugu berhala dan tiang-tiang berhala di atas setiap bukit yang tinggi dan di bawah setiap pohon yang rimbun”.

Tentu tidak mungkin bahwa betul-betul di bawah setiap pohon yang rimbun ada berhala!

4.   Ini bukan penilaian yang obyektif tetapi subyektif.

Jamieson, Fausset & Brown: “‘I am’ - not merely, ‘I was’ (1 Cor. 15:9; Eph. 3:8: cf. Luke 18:13). To each believer his own sins always appear greater than those of others, which he never can know as he does his own” [= ‘Sekarang Aku adalah’ - bukan hanya ‘Aku dulunya’ (1Kor 15:9; Ef 3:8: bdk. Luk 18:13). Bagi setiap orang percaya dosa-dosanya selalu kelihatan lebih besar dari pada dosa-dosa orang-orang lain; yang tidak pernah bisa ia ketahui seperti ia mengetahui dosa-dosanya sendiri].

5.   Yang dimaksud dengan ‘orang-orang berdosa’ bukanlah seadanya orang berdosa dalam sepanjang jaman, tetapi hanya ‘orang berdosa yang termasuk orang pilihan’ atau ‘orang berdosa yang percaya kepada Kristus sampai pada saat itu’.

William Hendriksen: “he must have meant, ‘Of all sinners whom Christ Jesus came into the world to save, I am the greatest’” (= ia pasti memaksudkan: ‘Dari semua orang berdosa untuk siapa Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan, aku adalah yang terbesar) - hal 80.

Penafsiran ini sesuai dengan kata-kata ‘dan di antara mereka’ dalam ay 15b, karena kata ‘mereka’ menunjuk pada orang-orang yang diselamatkan oleh Kristus.

Bdk. Ef 3:8 - “Kepadaku, yang paling hina di antara segala orang kudus, telah dianugerahkan kasih karunia ini, untuk memberitakan kepada orang-orang bukan Yahudi kekayaan Kristus, yang tidak terduga itu”.

Adam Clarke mengatakan bahwa Paulus adalah yang paling berdosa di antara orang yang diselamatkan oleh Kristus sampai pada saat itu.

6.   Ia adalah orang yang paling berdosa hanya dalam arti tertentu.

Barnes’ Notes: “This does not mean that he had been the greatest of sinners in all respects, but that in some respects he had been so great a sinner, that on the whole there were none who had surpassed him. That to which he particularly refers was doubtless the part which he had taken in putting the saints to death” (= Ini tidak berarti bahwa ia adalah orang berdosa yang paling besar / hebat dalam semua hal, tetapi bahwa dalam hal-hal tertentu ia adalah orang berdosa yang begitu hebat, sehingga secara keseluruhan tidak ada orang yang melampaui dia. Tak diragukan bahwa hal yang ia tunjuk secara khusus adalah dimana ia telah mengambil bagian dalam membunuh orang-orang kudus).

Bdk. 1Kor 15:9 - “Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah.

Tetapi bagaimana arti-arti ini bisa sesuai dengan kata-kata Paulus dalam ay 16? Bahwa ia adalah orang yang paling berdosa dijadikan olehnya sebagai dasar bahwa semua orang bisa datang kepada Kristus dan mendapatkan belas kasihan dan pengampunan. Kalau ia bukan sungguh-sungguh paling berdosa, maka kata-kata dalam ay 16 ini kehilangann kekuatannya.

Catatan: dalam bagian ini Paulus menggunakan ‘present tense’ (bentuk sekarang; ia mengatakan ‘I am’, bukan ‘I was’). Ini tidak berarti bahwa pada saat itu, setelah menjadi rasul sekian lama, ia tetap lebih berdosa dari orang kristen yang lain. Ia menggunakan ‘present tense’ (= bentuk sekarang) karena ia meninjau seluruh kehidupannya sampai pada saat itu.

d)   Orang yang paling berdosa menjadi orang yang paling kudus.

Matthew Henry: “he that elsewhere calls himself the least of all saints (Eph. 3:8) here calls himself the chief of sinners. ... the chief of sinners may become the chief of saints; so this apostle was, for he was not a whit behind the very chief apostles (2 Cor. 11:5)” [= ia yang di tempat lain menyebut dirinya sendiri yang paling kecil / hina dari semua orang-orang kudus (Ef 3:8), di sini menyebut dirinya sendiri kepala dari orang-orang berdosa. ... kepala orang-orang berdosa bisa menjadi kepala orang-orang kudus; demikianlah dengan rasul ini, karena ia sedikitpun tidak berada di belakang kepala rasul-rasul (2Kor 11:5)].

Ef 3:8 - “Kepadaku, yang paling hina di antara segala orang kudus, telah dianugerahkan kasih karunia ini, untuk memberitakan kepada orang-orang bukan Yahudi kekayaan Kristus, yang tidak terduga itu”.

2Kor 11:5 - “Tetapi menurut pendapatku sedikitpun aku tidak kurang dari pada rasul-rasul yang tak ada taranya itu”.

Saya tak setuju dengan penggunaan 2Kor 11:5, karena ini berbicara bukan tentang rasul-rasul asli, tetapi tentang rasul-rasul palsu. Mungkin 1Kor 15:9-10 di bawah ini lebih cocok untuk digunakan.

1Kor 15:9-10 - “(9) Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah. (10) Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkanNya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku”.

 

-AMIN-


e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com