Khotbah Eksposisi
1 PETRUS 4:12-19(4)
Pdt. Budi Asali, M.Div.
3) “Dan jika penghakiman itu dimulai pada kita, bagaimanakah kesudahannya dengan mereka yang tidak percaya pada Injil Allah?”.
a) Tadi dikatakan bahwa Tuhan memulai penghakiman dalam gereja; dan sementara itu Ia belum menghakimi orang dunia / orang non kristen.
Sementara Tuhan menghakimi gereja dan belum menghakimi dunia, maka orang dunia, sekalipun sangat berdosa, kelihatannya bisa hidup enak dan bahkan makin lama makin jaya. Kesehatan, keuangan, bisnis / pekerjaan, study, keluarga, pacaran, dsb, semua bisa saja berjalan lancar.
Ini bisa kelihatan sangat tidak adil. Orang kristen yang sekalipun berusaha taat, tetapi tetap mempunyai dosa, sehingga dihajar oleh Tuhan sehingga bisnis / ekonominya berantakan, kesehatannya memburuk, keluarganya kacau, dsb. Sedangkan orang dunia yang sama sekali tidak peduli Tuhan, dan hidup dalam dosa semaunya sendiri, justru kelihatannya hidup enak. Ini yang digambarkan dalam kedua text di bawah ini:
· Ayub 21:7-13 - “(7) Mengapa orang fasik tetap hidup, menjadi tua, bahkan menjadi bertambah-tambah kuat? (8) Keturunan mereka tetap bersama mereka, dan anak cucu diperhatikan mereka. (9) Rumah-rumah mereka aman, tak ada ketakutan, pentung Allah tidak menimpa mereka. (10) Lembu jantan mereka memacek dan tidak gagal, lembu betina mereka beranak dan tidak keguguran. (11) Kanak-kanak mereka dibiarkan keluar seperti kambing domba, anak-anak mereka melompat-lompat. (12) Mereka bernyanyi-nyanyi dengan iringan rebana dan kecapi, dan bersukaria menurut lagu seruling. (13) Mereka menghabiskan hari-hari mereka dalam kemujuran, dan dengan tenang mereka turun ke dalam dunia orang mati”.
· Maz 73:3-12 - “(3) Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik. (4) Sebab kesakitan tidak ada pada mereka, sehat dan gemuk tubuh mereka; (5) mereka tidak mengalami kesusahan manusia, dan mereka tidak kena tulah seperti orang lain. (6) Sebab itu mereka berkalungkan kecongkakan dan berpakaian kekerasan. (7) Karena kegemukan, kesalahan mereka menyolok, hati mereka meluap-luap dengan sangkaan. (8) Mereka menyindir dan mengata-ngatai dengan jahatnya, hal pemerasan dibicarakan mereka dengan tinggi hati. (9) Mereka membuka mulut melawan langit, dan lidah mereka membual di bumi. (10) Sebab itu orang-orang berbalik kepada mereka, mendapatkan mereka seperti air yang berlimpah-limpah. (11) Dan mereka berkata: ‘Bagaimana Allah tahu hal itu, adakah pengetahuan pada Yang Mahatinggi?’ (12) Sesungguhnya, itulah orang-orang fasik: mereka menambah harta benda dan senang selamanya!”.
Calvin: “he seems in a manner to spare the reprobate, and to be severe towards the elect” (= Ia kelihatannya dengan suatu cara menyayangkan orang-orang yang ditentukan untuk binasa, dan bersikap keras terhadap orang-orang pilihan) - hal 139.
Tetapi orang dunia yang hidup enak ini harus hati-hati, karena Kitab Suci mengatakan bahwa semua ini menunjukkan mereka ‘disimpan untuk hari penghakiman’.
2Pet 2:9-10a - “(9) maka nyata, bahwa Tuhan tahu menyelamatkan orang-orang saleh dari pencobaan dan tahu menyimpan orang-orang jahat untuk disiksa pada hari penghakiman, (10a) terutama mereka yang menuruti hawa nafsunya karena ingin mencemarkan diri dan yang menghina pemerintahan Allah”.
Bandingkan juga dengan:
· Maz 73:18-20 - “(18) Sesungguhnya di tempat-tempat licin Kautaruh mereka, Kaujatuhkan mereka sehingga hancur. (19) Betapa binasa mereka dalam sekejap mata, lenyap, habis oleh karena kedahsyatan! (20) Seperti mimpi pada waktu terbangun, ya Tuhan, pada waktu terjaga, rupa mereka Kaupandang hina”.
· Maz 37:1-2 - “(1) Dari Daud. Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang; (2) sebab mereka segera lisut seperti rumput dan layu seperti tumbuh-tumbuhan hijau”.
Calvin: “God so regulates his judgments in this world, that he fattens the wicked for the day of slaughter” (= Allah mengatur penghakimanNya dalam dunia ini sedemikian rupa, sehingga Ia menggemukkan orang jahat untuk hari penyembelihan) - hal 139.
Calvin: “He therefore passes by their many sins, and, as it were, connives at them. In the meantime, he restores by corrections his own children, for whom he has a care, to the right way, whenever they depart from it” (= Karena itu Ia melewati dosa-dosa mereka yang banyak, dan seakan-akan berpura-pura tak melihat dosa-dosa itu. Sementara itu, Ia memulihkan, dengan koreksi, anak-anakNya, untuk siapa Ia mempunyai kepedulian / perhatian, kepada jalan yang benar, kapanpun mereka menyimpang darinya) - hal 139.
b) Lambat atau cepat, kalau orang dunia itu tidak bertobat / datang dan percaya kepada Kristus, maka Tuhan akan menghakimi dan menghukum mereka. Pada waktu Petrus berbicara tentang penghakiman Tuhan kepada orang di luar gereja, ia memaksudkan penghakiman pada akhir jaman.
Pulpit Commentary: “But if the righteous is scarcely saved, what hope of salvation have the careless and the slothful?” (= Tetapi jika orang benar hampir-hampir tidak diselamatkan, harapan keselamatan apa yang dimiliki oleh orang yang ceroboh dan malas?) - hal 182.
Calvin: “God is the judge of the world, and that, therefore, no one can escape his hand with impunity. He hence infers, that a dreadful vengeance will soon overtake those whose condition seems now favourable. The design of what he says, ... is to shew that the children of God should not faint under the bitterness of present evils, but that they ought, on the contrary, calmly to bear their afflictions for a short time, as the issue will be salvation, while the ungodly will have to exchange a fading and fleeting prosperity for eternal perdition” (= Allah adalah hakim dari dunia ini, dan bahwa, karena itu, tak seorangpun bisa lolos dari tanganNya tanpa dihukum. Karena itu, ia menunjukkan bahwa suatu pembalasan yang menakutkan akan segera menyusul mereka yang keadaannya sekarang kelihatannya menyenangkan. Tujuan dari apa yang ia katakan, ... adalah untuk menunjukkan bahwa anak-anak Allah tidak lemah di bawah kepahitan dari kejahatan-kejahatan saat ini, tetapi sebaliknya bahwa mereka harus dengan tenang memikul penderitaan mereka untuk waktu yang singkat, karena hasilnya adalah keselamatan, sementara orang-orang jahat akan harus menukar suatu kemakmuran yang memudar dan berlalu untuk hukuman / kehancuran kekal) - hal 140.
Catatan: bandingkan bagian yang saya garis bawahi itu dengan Mat 24:12 - “Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin”.
Pada penghakiman akhir jaman, kecuali saudara mempunyai Kristus sebagai Juruselamat / Penebus dosa, maka saudara tidak ada harapan untuk selamat, dan harus membayar sendiri dosa-dosa saudara! Ingat bahwa:
· saudara adalah orang berdosa, bahkan sangat berdosa (Ro 3:10-18,23).
· Allah itu suci dan adil, sehingga Ia membenci dosa dan pasti menghukum orang berdosa.
Nahum 1:3a - “TUHAN itu panjang sabar dan besar kuasa, tetapi Ia tidak sekali-kali membebaskan dari hukuman orang yang bersalah”.
· perbuatan baik saudara tidak bisa menutupi / menebus dosa saudara.
Gal 2:16a - “Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus”.
Gal 2:21b - “... sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus”.
Cynddylan Jones: “You might as well try to cross the Atlantic in a paper boat as to get to heaven by your own good works” (= Kamu boleh mencoba menyeberangi lautan Atlantik dengan perahu kertas; itu sama seperti kalau kamu mencoba untuk masuk ke surga dengan perbuatan baikmu).
c) Pada waktu Tuhan menghakimi orang di luar gereja, maka lagi-lagi Ia berhadapan dengan 2 golongan orang dunia:
1. Orang yang tidak pernah mendengar Injil.
Ini tetap akan dihukum secara kekal (Ro 10:13-14 Ro 2:12).
2. Orang yang pernah mendengar Injil tetapi tidak mau percaya.
Ini dihukum lebih berat lagi (bdk. Luk 12:47-48).
d) Hukuman Tuhan kepada orang-orang ini sangat mengerikan.
Ini terlihat dari:
1. Kristuspun jadi takut (Mat 26:38-39 Mark 14:34-36 Luk 22:41-44).
William Hendriksen, dalam tafsirannya tentang Mark 14:33, berkata:
“Did he, perhaps, here in Gethsemane see this tidal wave of God's wrath because of our sin coming?” [= Mungkinkah Ia, di sini di Getsemani, melihat datangnya gelombang pasang / tsunami murka Allah karena dosa kita?].
Renungkan: bahwa Yesus yang tidak pernah takut itu bisa takut melihat murka Allah itu, menunjukkan secara jelas betapa hebatnya dan mengerikannya murka Allah atas dosa-dosa kita itu!
2. Orang-orang lebih ingin ditimbun gunung dari pada menghadapi murka Allah itu.
Wah 6:15-16 - “(15) Dan raja-raja di bumi dan pembesar-pembesar serta perwira-perwira, dan orang-orang kaya serta orang-orang berkuasa, dan semua budak serta orang merdeka bersembunyi ke dalam gua-gua dan celah-celah batu karang di gunung. (16) Dan mereka berkata kepada gunung-gunung dan kepada batu-batu karang itu: ‘Runtuhlah menimpa kami dan sembunyikanlah kami terhadap Dia, yang duduk di atas takhta dan terhadap murka Anak Domba itu.’”.
Bandingkan dengan:
· Luk 23:30 - “Maka orang akan mulai berkata kepada gunung-gunung: Runtuhlah menimpa kami! dan kepada bukit-bukit: Timbunilah kami!”.
· Hos 10:8 - “Bukit-bukit pengorbanan Awen, yakni dosa Israel, akan dimusnahkan. Semak duri dan rumput duri akan tumbuh di atas mezbah-mezbahnya. Dan mereka akan berkata kepada gunung-gunung: ‘Timbunilah kami!’ dan kepada bukit-bukit: ‘Runtuhlah menimpa kami!’”.
· Yes 2:12-22 - “(12) Sebab TUHAN semesta alam menetapkan suatu hari untuk menghukum semua yang congkak dan angkuh serta menghukum semua yang meninggikan diri, supaya direndahkan; (13) untuk menghukum semua pohon aras di Libanon yang tumbuh meninggi dan tetap menjulang, dan menghukum semua pohon tarbantin di Basan; (14) untuk menghukum semua gunung yang tinggi-tinggi dan semua bukit yang menjulang ke atas; (15) untuk menghukum semua menara yang tinggi-tinggi dan semua tembok yang berkubu; (16) untuk menghukum semua kapal Tarsis dan semua kapal yang paling indah. (17) Manusia yang sombong akan ditundukkan dan orang yang angkuh akan direndahkan; hanya TUHAN sajalah yang maha tinggi pada hari itu. (18) Sedang berhala-berhala akan hilang sama sekali. (19) Maka orang akan masuk ke dalam gua-gua di gunung batu dan ke dalam liang-liang di tanah terhadap kedahsyatan TUHAN dan terhadap semarak kemegahanNya, pada waktu Ia bangkit menakut-nakuti bumi. (20) Pada hari itu berhala-berhala perak dan berhala-berhala emas yang dibuat manusia untuk sujud menyembah kepadanya akan dilemparkannya kepada tikus dan kelelawar, (21) dan ia akan masuk ke dalam lekuk-lekuk di gunung batu dan ke dalam celah-celah di bukit batu terhadap kedahsyatan TUHAN dan terhadap semarak kemegahanNya, pada waktu Ia bangkit menakut-nakuti bumi. (22) Jangan berharap pada manusia, sebab ia tidak lebih dari pada embusan nafas, dan sebagai apakah ia dapat dianggap?”.
A. T. Robertson mengutip kata-kata Swete tentang Wah 6:16: “‘What sinners dread most is not death, but the revealed Presence of God’” (= Apa yang paling ditakutkan orang-orang berdosa bukanlah kematian, tetapi Kehadiran Allah yang dinyatakan).
Matthew Henry (tentang Luk 23:30): “they would wish to be buried alive: They shall begin to say to the mountains, Fall on us, and to the hills, Cover us, v. 30. ... They that would not flee to Christ for refuge, and put themselves under his protection, will in vain call to hills and mountains to shelter them from his wrath” (= mereka ingin untuk dikubur hidup-hidup: Mereka akan mulai berkata kepada gunung-gunung, ‘Rubuhilah kami’, dan kepada bukit-bukit, ‘Tutupilah kami’, ay 30. ... Mereka yang tidak mau lari kepada Kristus untuk perlindungan, dan meletakkan diri mereka sendiri di bawah perlindunganNya, akan dengan sia-sia memanggil kepada bukit-bukit dan gunung-gunung untuk melindungi mereka dari murkaNya).
Matthew Henry (tentang Wah 6:16): “though Christ be a lamb, yet he can be angry, even to wrath, and the wrath of the Lamb is exceedingly dreadful; for if the Redeemer, that appeases the wrath of God, himself be our wrathful enemy, where shall we have a friend to plead for us? Those perish without remedy who perish by the wrath of the Redeemer. ... as men have their day of opportunity, and their seasons of grace, so God has his day of righteous wrath; and, when that day shall come, the most stout-hearted sinners will not be able to stand before him: all these terrors actually fell upon the sinners in Judea and Jerusalem in the day of their destruction, and they will all, in the utmost degree, fall upon impenitent sinners, at the general judgment of the last day” (= sekalipun Kristus adalah Anak Domba, tetapi Ia bisa marah, bahkan murka, dan murka dari Anak Domba itu sangat menakutkan; karena jika sang Penebus sendiri, yang meredakan murka Allah, menjadi musuh kita yang penuh kemurkaan, dimana kita akan mendapatkan seorang sahabat yang memohon untuk kita? Mereka yang binasa oleh kemurkaan sang Penebus, binasa tanpa obat. ... sebagaimana manusia mempunyai hari kesempatan, dan musim kasih karunia mereka, demikian juga Allah mempunyai hari kemurkaanNya yang benar; dan, pada waktu hari itu tiba, orang berdosa yang paling berani tidak akan bisa berdiri di hadapanNya: semua rasa takut ini sungguh-sungguh menimpa orang-orang berdosa di Yudea dan Yerusalem pada hari penghancuran mereka, dan itu semua, dalam tingkat sepenuhnya, akan menimpa orang-orang berdosa yang tidak bertobat, pada penghakiman umum pada hari terakhir).
3. Hukuman di neraka digambarkan oleh Kitab Suci dengan kegelapan yang paling pekat, ulat bangkai, api.
Mat 22:13 - “Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi”.
Mark 9:43-48 - “(43) Dan jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung dari pada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan; (44) [di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam.] (45) Dan jika kakimu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan timpang, dari pada dengan utuh kedua kakimu dicampakkan ke dalam neraka; (46) [di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam.] (47) Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu dari pada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka, (48) di mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api tidak padam”.
Catatan: kata-kata dalam ay 44 dan ay 46 ada dalam tanda kurung tegak, menunjukkan bahwa bagian itu diragukan keasliannya. Tetapi kata-kata dalam ay 48, yang boleh dikatakan bunyinya persis sama, tidak berada dalam tanda kurung tegak.
Wah 21:8 - “Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua.’”.
4. Begitu beratnya hukuman itu sehingga Petrus tak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata, dan ia hanya memberikan pertanyaan:
a. ‘bagaimanakah kesudahannya dengan mereka yang tidak percaya pada Injil Allah?’ (ay 17b).
b. ‘apakah yang akan terjadi dengan orang fasik dan orang berdosa?’ (ay 18b).
KJV/Lit: ‘where shall the ungodly and the sinner appear?’ (= dimana orang jahat dan berdosa akan muncul?).
Barnes’ Notes: “where will they appear? I answer, (a) they will appear somewhere. They will not cease to exist when they pass away from this world. Not one of them will be annihilated; and though they vanish from the earth, and will be seen here no more, yet they will make their appearance in some other part of the universe. (b) They will appear at the judgment-seat, as all others will, to receive their sentence according to the deeds done in the body. It follows from this ... that there will be a state of future punishment, ... that the punishment of the wicked will be eternal, for it is the opposite of what is meant by ‘saved’. The time will never come when it will be said that they are ‘saved’! But if so, their punishment must be eternal!” [= ‘dimana mereka akan muncul?’ Saya menjawab, (a) mereka akan muncul di suatu tempat. Mereka tidak akan berhenti ada, pada waktu mereka meninggalkan dunia ini. Tidak seorangpun dari mereka akan dimusnahkan / dihapuskan keberadaannya; dan sekalipun mereka hilang dari dunia, dan tidak akan terlihat di sini lagi, tetapi mereka akan muncul di bagian lain dari alam semesta. (b) Mereka akan muncul di kursi-penghakiman, sama seperti orang-orang lain, untuk menerima hukuman sesuai dengan tindakan-tindakan yang dilakukan di dalam tubuh. Dari sini terlihat ... bahwa di sana akan ada suatu keadaan dari hukuman yang akan datang, ... bahwa hukuman orang jahat akan kekal, karena itu adalah lawan kata dari apa yang dimaksud dengan ‘selamat / diselamatkan’. Tidak pernah akan datang waktu dimana akan dikatakan bahwa mereka ‘selamat / diselamatkan’! Tetapi jika demikian, hukuman mereka haruslah kekal!] - hal 1433.
Catatan: Orang fasik dan orang berdosa ini mencakup semua orang yang tidak percaya kepada Kristus, bukan hanya penjahat, pemerkosa, dsb, saja.
5. Dalam 1Pet 4:17-18 itu Petrus sebetulnya melakukan perbandingan.
Kalau orang benar saja, pada waktu dihakimi oleh Allah, harus mengalami hal-hal yang sangat berat, sehingga dikatakan ‘hampir-hampir tidak diselamatkan’, bagaimana jadinya dengan orang dunia yang berdosa dan tidak mempunyai Juruselamat / Penebus dosa?
Pulpit Commentary: “What fires of discipline, and what deep waters of sorrow, they have to go through to enter the kingdom! If this is what God’s children endure, what of those who are not his? If so heavy is the hand of chastening, educating love, what will the hand of judgment and wrath be!” (= Alangkah hebatnya api pendisiplinan, dan air kesedihan yang dalam yang harus mereka lalui untuk masuk ke dalam kerajaan. Jika ini adalah apa yang harus ditanggung oleh anak-anak Allah, bagaimana dengan mereka yang bukan milikNya? Jika begitu berat tangan kasih yang menghajar dan mendidik, bagaimana wujudnya tangan penghakiman dan kemurkaan nanti?) - hal 194.
Pulpit Commentary: “‘If it begin first at us,’ says Peter, referring to himself and the persecuted to whom he wrote. It was only to begin first at them; it was not to stay with them. It was to pass on to them that obeyed not the gospel of God - and how? We may understand, with increasing severity; for the question is ominously asked, ‘What shall be the end of them that obey not the gospel of God?’ They experienced the beginnings of the storm: what would be their experience upon whom the storm, gathering volume as it proceeded, at last burst in all its fury?” (= ‘Jika itu dimulai pertama-tama pada kita’, kata Petrus, menunjuk kepada dirinya sendiri dan orang-orang yang dianiaya kepada siapa ia menulis. Itu hanya dimulai pertama-tama pada mereka; itu tidak akan tetap tinggal pada mereka. Itu akan diberikan kepada mereka yang tidak mentaati injil Allah - dan bagaimana? Kita boleh mengerti, dengan kekerasan yang bertambah / lebih hebat; karena pertanyaannya ditanyakan sebagai suatu ancaman, ‘Bagaimanakah kesudahannya dengan mereka yang tidak percaya pada Injil Allah?’. Mereka mengalami permulaan dari badai: bagaimana pengalaman mereka terhadap siapa badai itu, yang mengumpulkan kekuatan pada waktu ia berlanjut, pada akhirnya meledak dengan seluruh kemarahannya?) - hal 205.
e) Karena itu, kalau saudara bukan orang kristen, atau kalau saudara adalah orang kristen KTP, cepatlah bertobat dengan datang dan percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat saudara!
Ay 18: “Dan jika orang benar hampir-hampir tidak diselamatkan, apakah yang akan terjadi dengan orang fasik dan orang berdosa?”.
1) “Dan jika orang benar hampir-hampir tidak diselamatkan”.
Calvin: “when he says, that a ‘righteous man is scarcely saved,’ he refers to the difficulties of the present life, for our course in the world is like a dangerous sailing between many rocks, and exposed to many storms and tempests; and thus no one arrives at the port, except he has escaped from thousand deaths. It is in the meantime certain that we are guided by God’s hand, and that we are in no danger of shipwreck as long as we have him as our pilot. Absurd, then, are those interpreters who think that we shall be hardly and with difficulty saved, when we shall come before God in judgment; for it is the present and not the future time that Peter refers to; nor does he speak of God’s strictness or rigour, but shews how many and what arduous difficulties must be surmounted by the Christian before he reaches the goal” (= pada waktu ia berkata, bahwa ‘orang benar hampir tidak diselamatkan’, ia menunjuk kepada kesukaran-kesukaran dari hidup yang sekarang ini, karena jalan kita di dunia ini adalah seperti suatu pelayaran yang berbahaya di antara banyak batu-batu karang, dan terbuka terhadap banyak badai dan angin ribut; dan karena itu tak seorangpun tiba di pelabuhan, kecuali ia telah lolos dari 1000 kematian. Sementara itu, adalah pasti bahwa kita dibimbing oleh tangan Allah, dan bahwa kita tidak ada dalam bahaya kapal karam selama kita mempunyai Dia sebagai pilot kita. Karena itu, para penafsir itu menggelikan, yang berpendapat bahwa kita akan hampir tidak diselamatkan dan akan diselamatkan dengan sukar, pada waktu kita datang di hadapan Allah dalam penghakiman; karena Petrus menunjuk tentang masa sekarang dan bukannya tentang masa yang akan datang; juga ia tidak berbicara tentang keketatan dan kekerasan Allah, tetapi menunjukkan betapa banyak dan berat kesukaran-kesukaran harus diatasi oleh orang Kristen sebelum ia mencapai tujuan) - hal 141.
Barnes’ Notes: “By the question which he employs, he admits that the righteous are saved with difficulty, or that there are perils which jeopard their salvation, and which are of such a kind as to make it very near not to happen. They would indeed be saved, but it would be in such a manner as to show that the circumstances were such as to render it, to human appearances, doubtful and problematical” (= Melalui pertanyaan yang ia gunakan, ia mengakui bahwa orang benar diselamatkan dengan sukar, atau bahwa ada bahaya-bahaya yang membahayakan keselamatan mereka, dan yang adalah sedemikian rupa sehingga menyebabkannya hampir tidak terjadi. Mereka memang akan diselamatkan, tetapi itu akan terjadi dengan cara sedemikian rupa sehingga, menurut pandangan manusia, keadaan akan menjadi meragukan dan penuh problem) - hal 1432
Pulpit Commentary: “the righteous are ‘scarcely saved.’ Not that their salvation is for a moment doubtful; Christ is able to save even to the uttermost all who come to God by him. But salvation is a great and difficult work; we are bidden to work out our salvation with fear and trembling; and, work as we may, we could not work it out for ourselves, were it not that God worketh in us ‘both to will and to do of his good pleasure.’ The righteous is scarcely saved, because his enemies are so many and so strong, and he so weak and sinful; temptations swarm around him, and there are sinful lusts within his heart to which those temptations address themselves” (= orang benar ‘hampir-hampir tidak diselamatkan’. Bukan bahwa keselamatan mereka diragukan untuk saat yang pendek sekalipun; Kristus sanggup menyelamatkan sepenuhnya semua yang datang kepada Allah melalui Dia. Tetapi keselamatan adalah pekerjaan yang besar dan sukar; kita diminta untuk mengerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar / gemetar; dan sekalipun kita mengerjakannya, kita tidak pernah bisa mengerjakannya untuk diri kita sendiri, andaikata bukan Allah yang berkerja dalam diri kita ‘untuk menghendaki dan untuk melakukan menurut kerelaanNya’. Orang benar hampir tidak selamat, karena musuh-musuhnya begitu banyak dan begitu kuat, dan ia begitu lemah dan berdosa; pencobaan-pencobaan mengerumuninya, dan ada nafsu-nafsu berdosa dalam hatinya terhadap mana pencobaan-pencobaan itu ditujukan) - hal 182.
Darby: “All the power of God is requisite, directed by divine wisdom, guiding and sustaining faith, to carry the Christian safely through the wilderness, where Satan employs all the resources of his subtlety to make him perish. The power of God will accomplish it; but, from the human point of view, the difficulties are almost insurmountable” (= Seluruh kuasa Allah dibutuhkan, diarahkan oleh hikmat ilahi, membimbing dan menopang iman, untuk membawa orang Kristen dengan aman melalui padang belantara, dimana Setan menggunakan semua sumber kelicikannya untuk membuatnya binasa. Kuasa Allah akan mengerjakannya / menyelesaikannya; tetapi dari sudut pandang manusia, kesukaran-kesukaran itu hampir tidak dapat diatasi).
2) “apakah yang akan terjadi dengan orang fasik dan orang berdosa?”.
Adam Clarke: “Though the afflictions began with the Christians, yet the weight of the storm would fall upon the unbelievers” (= Sekalipun penderitaan / kesusahan mulai dengan orang-orang kristen, tetapi beban dari badai akan jatuh kepada orang-orang yang tidak percaya).
3) Kata-kata Petrus dalam ay 18 ini merupakan kutipan dari Amsal 11:31.
Amsal 11:31 - “Kalau orang benar menerima balasan di atas bumi, lebih-lebih orang fasik dan orang berdosa!”.
KJV: ‘Behold, the righteous shall be recompensed in the earth: much more the wicked and the sinner’ (= Lihatlah, orang benar akan menerima balasan di bumi, lebih-lebih orang jahat dan orang berdosa).
Tetapi mengapa kelihatannya Amsal 11:31 ini berbeda dengan ay 18 ini?
Pulpit Commentary mengatakan bahwa dalam ay 18 ini Petrus mengutip Amsal 11:31 dari LXX, yang berbeda dengan bahasa Ibraninya.
Pulpit Commentary juga mengatakan (hal 176) bahwa kata ‘recompensed’ (= dibalas) sebetulnya punya arti netral, jadi bisa diartikan ‘pahala’ atas kebaikannya, maupun ‘hukuman’ atas dosanya. Tetapi di sini jelas maksudnya adalah ‘dibalas atas dosa-dosanya’ dalam arti ‘dihajar atas dosa-dosanya’.
Ay 19: “Karena itu baiklah juga mereka yang harus menderita karena kehendak Allah, menyerahkan jiwanya, dengan selalu berbuat baik, kepada Pencipta yang setia”.
1) Terjemahan yang berbeda.
RSV: ‘Therefore let those who suffer according to God’s will do right and entrust their souls to a faithful Creator’ (= Karena itu, hendaklah mereka yang menderita sesuai dengan kehendak Allah melakukan yang baik dan mempercayakan jiwa mereka kepada Pencipta yang setia).
NIV: ‘So then, those who suffer according to God’s will should commit themselves to their faithful Creator and continue to do good’ (= Jadi, karena itu, mereka yang menderita sesuai dengan kehendak Allah harus menyerahkan diri mereka sendiri kepada Pencipta mereka yang setia dan terus melakukan yang baik).
Adanya kata ‘dan’ menunjukkan bahwa kedua terjemahan ini memisahkan ‘melakukan yang baik’ dan ‘menyerahkan diri mereka kepada Pencipta’.
KJV: ‘Wherefore let them that suffer according to the will of God commit the keeping of their souls to him in well doing, as unto a faithful Creator’ (= Karena itu hendaklah mereka yang menderita sesuai dengan kehendak Allah menyerahkan penjagaan / pemeliharaan jiwa mereka kepadaNya, dengan berbuat baik, seperti kepada Pencipta yang setia).
NASB: ‘Therefore, let those also who suffer according to the will of God entrust their souls to a faithful Creator in doing what is right’ (= Karena itu, hendaklah mereka juga yang menderita sesuai dengan kehendak Allah mempercayakan jiwa mereka kepada Pencipta yang setia dengan melakukan apa yang benar).
KJV dan NASB menterjemahkan seperti Kitab Suci Indonesia. Kata ‘dengan’ menunjukkan bahwa maksudnya adalah: ‘kita harus menyerahkan diri kita kepada Pencipta dengan cara melakukan yang baik’.
Saya lebih setuju dengan terjemahan Kitab Suci Indonesia, KJV dan NASB.
2) Berserah / percaya kepada Tuhan tidak berarti kita hanya diam saja (pasif).
Pulpit Commentary: “our committing our souls to God does not mean that we are to fold our hands in indolence, which we misname trust” (= Penyerahan jiwa kita kepada Allah tidak berarti bahwa kita harus melipat tangan kita dalam kemalasan, yang kita namakan secara salah sebagai ‘percaya’) - hal 185-186.
Pulpit Commentary: “Here is a warning against giving up work because of sorrow. Ages of persecution have seldom been ages of service. All the strength of the Church has been absorbed in simple endurance. And in our private sorrows we are too apt to fling aside our tools in order to sit down, and brood, and remember, and weep. We hold ourselves excused from the tasks which otherwise seem plain duties, because our hearts are heavy. There is no greater mistake than to give up work because of trouble. Next to God’s Spirit, it is the best comforter. We feel our own burdens less when we try to help some heavy-laden brother to carry his” (= Di sini ada suatu peringatan terhadap berhenti bekerja karena kesedihan. Jaman-jaman penganiayaan jarang merupakan jaman pelayanan. Seluruh kekuatan dari Gereja telah diserap hanya untuk bertahan. Dan dalam kesedihan pribadi kita kita cenderung untuk mengesampingkan alat-alat kita supaya bisa duduk, dan merenung, dan mengingat, dan menangis. Kita membebaskan diri kita sendiri dari tugas-tugas yang sebetulnya kelihatan sebagai tugas yang jelas, karena hati kita berat. Tidak ada kesalahan yang lebih besar dari pada menghentikan pekerjaan karena kesukaran. Disamping / setelah Roh Allah, itu adalah penghibur yang terbaik. Kita merasa beban kita berkurang pada waktu kita berusaha menolong saudara kita yang berbeban berat untuk memikul bebannya) - hal 186.
Bandingkan dengan Elia dalam 1Raja 19:1-18.
-o0o-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali