Khotbah Eksposisi
1 PETRUS 4:7-11(2)
Pdt. Budi Asali, M.Div.
Ay 8: “Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa”.
1) “Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain”.
a) ‘seorang akan yang lain’.
KJV: ‘among yourselves’ (= di antara kamu sendiri).
Jadi, yang ditekankan di sini, adalah kasih di antara saudara-saudara seiman.
Sekalipun kita memang harus mengasihi semua orang, yang kafir sekalipun, tetapi kasih di antara saudara seiman harus lebih ditekankan. Bandingkan dengan ayat-ayat di bawah ini:
· Ibr 13:1 - “Peliharalah kasih persaudaraan!”.
· Gal 6:10 - “Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman”.
· Kol 3:12-14 - “(12) Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihiNya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. (13) Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. (14) Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan”.
b) ‘Tetapi yang terutama’.
KJV: ‘Above all things’ (= Di atas segala-galanya).
Jamieson, Fausset & Brown: “‘Above all things.’ - not that ‘charity’ is above ‘prayer,’ but love is the animating spirit, without which other duties are dead” (= ‘Di atas segala-galanya’. - bukan karena ‘kasih’ itu ada di atas ‘doa’ / lebih penting dari ‘doa’, tetapi kasih adalah roh yang menghidupkan / menjiwai, tanpa mana kewajiban-kewajiban yang lain adalah mati).
Penerapan: Memang, segala sesuatu seperti pelayanan, persembahan, ibadah, doa, ketaatan, menjadi hal-hal yang mati kalau tidak ada kasih.
Bdk. 1Kor 13:1-3 - “(1) Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. (2) Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. (3) Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku”.
c) Pulpit Commentary (hal 192) menguraikan bagaimana kita bisa mempunyai kasih yang sungguh-sungguh, yaitu:
1. Pengusahaan dari apa yang akan membantu perkembangan dari kasih terhadap saudara-saudara seiman. Kasih kepada saudara-saudara seiman muncul dari kasih kepada Allah / Bapa. Jadi, kenallah Allah, tinggallah dalam Allah, kasihilah Allah, dan kasih terhadap saudara-saudara seiman akan muncul / bertumbuh.
Penerapan: saat teduh, doa pribadi, belajar Firman Tuhan, ketaatan / membuang dosa, dsb, merupakan hal-hal yang harus dilakukan untuk ini.
2. Sikap waspada / berjaga-jaga terhadap apa yang akan menghalangi / merusak kasih kepada saudara-saudara seiman, seperti:
a. Sikap cenderung bertengkar. Ada orang-orang yang tak pernah setuju dengan apapun; selalu ada hal-hal tentang mana ia memberikan kritikan yang bersifat bermusuhan. Hal seperti ini menular, dan membunuh kasih.
b. Iri hati / kecemburuan.
Pulpit Commentary: “half the troubles of Church-life are due to jealousy, which often has no ground but that of suspicion” (= setengah dari kesukaran-kesukaran dari kehidupan Gereja disebabkan karena kecemburuan, yang sering tak mempunyai dasar kecuali kecurigaan) - hal 192.
c. Kecenderungan untuk menyebarkan gossip.
Pulpit Commentary: “If you see a man or woman going from ear to ear with some mischief-making story, some gossip which tends to wound or discredit another, suspect that person’s own character, regard him as an emissary of Satan” (= Jika kamu melihat seseorang pergi dari telinga ke telinga dengan cerita yang bersifat mengacau, gossip yang cenderung untuk melukai atau mendiskreditkan / menurunkan gengsi orang lain, curigailah karakter dari orang itu sendiri, anggaplah dia sebagai utusan / wakil dari Setan) - hal 192.
d. Sikap tak mempedulikan pandangan orang lain.
2) “sebab kasih menutupi banyak sekali dosa”.
Yang dipersoalkan / diperdebatkan dalam penafsiran ayat ini adalah: dosa siapa yang ditutupi itu?
a) Penafsiran yang salah / sesat tentang bagian ini: dengan melakukan tindakan kasih, kita bisa menyebabkan dosa kita sendiri diampuni / ditutupi oleh Tuhan.
1. Tafsiran sesat seperti ini sudah ada pada beberapa bapa gereja.
Alan M. Stibbs (Tyndale): “By later Christian writers (e.g. Tertullian and Origen) the words are interpreted as indicating that by showing love to others a man covers his own sins” [= Oleh penulis-penulis Kristen belakangan (contoh, Tertullian dan Origen) kata-kata itu ditafsirkan sebagai menunjukkan bahwa dengan menunjukkan kasih kepada orang-orang lain seseorang bisa menutupi dosa-dosanya sendiri] - hal 154-155.
2. Calvin dan beberapa penafsir lain mengatakan bahwa Gereja Roma Katolik juga menafsirkan bahwa yang ditutupi adalah dosa dari orang yang mengasihi. Ini menunjukkan keselamatan karena perbuatan baik, dan karena itu jelas bertentangan dengan Kitab Suci (bdk. Ef 2:8-9).
Adam Clarke: “It does not mean that our love to others will induce God to pardon our offences” (= Itu tidak berarti bahwa kasih kita kepada orang-orang lain akan menyebabkan Allah mengampuni pelanggaran-pelanggaran kita).
Barnes’ Notes: “The language used here does not mean, as the Romanists maintain, that ‘charity shall procure us pardon for a multitude of sins;’ for, besides that such a doctrine is contrary to the uniform teachings of the Scriptures elsewhere, it is a departure from the obvious meaning of the passage. The subject on which the apostle is treating is the advantage of love in our conduct toward others, and this he enforces by saying that it will make us kind to their imperfections, and lead us to overlook their faults. It is nowhere taught in the Scriptures that our ‘charity’ to others will be an atonement or expiation for our own offences. If it could be so, the atonement made by Christ would have been unnecessary” [= Kata-kata yang digunakan di sini tidak berarti, seperti dipercaya oleh orang-orang Roma (Katolik), bahwa ‘kasih akan mendapatkan bagi kita pengampunan untuk banyak dosa’; karena, selain bahwa ajaran seperti itu bertentangan dengan ajaran yang seragam dari Kitab Suci di tempat lain, itu merupakan penyimpangan dari arti yang nyata dari text itu. Subyek yang ditangani oleh sang rasul adalah manfaat dari kasih dalam tingkah laku kita terhadap orang-orang lain, dan ini ia jalankan dengan mengatakan bahwa kasih itu akan membuat kita baik terhadap ketidaksempurnaan mereka, dan membimbing kita untuk mengabaikan kesalahan-kesalahan mereka. Tak ada tempat lain dalam Kitab Suci yang mengajar kita bahwa ‘kasih’ kita kepada orang-orang lain akan menjadi penebusan untuk pelanggaran-pelanggaran kita sendiri. Seandainya bisa demikian, penebusan yang dibuat oleh Kristus akan menjadi tidak perlu].
Bdk. Gal 2:16,21b - “(16) Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: ‘tidak ada seorangpun yang dibenarkan’ oleh karena melakukan hukum Taurat. ... (21b) Sebab sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus”.
3. Orang-orang jaman sekarang, bahkan dalam kalangan Protestan, juga ada yang membuka peluang bagi penafsiran sesat ini.
Barclay: “It may mean that, if we love others, God will overlook a multitude sins in us. ... He will forgive much to the man who loves his fellow-men” (= Itu bisa berarti bahwa, jika kita mengasihi orang-orang lain, Allah akan memaafkan / mengabaikan banyak dosa dalam diri kita. ... Ia akan mengampuni banyak kepada orang yang mengasihi sesamanya manusia) - hal 253.
Biarpun ini cuma suatu kemungkinan penafsiran dari Barclay, yang terlihat dari kata ‘may’ (= bisa) yang ia gunakan, dan juga dari adanya kemungkinan penafsiran-penafsiran yang lain yang ia berikan, tetapi membuka kemungkinan seperti ini sudah menunjukkan kesesatan Barclay!
b) Penafsiran yang benar: kalau kita mengasihi seseorang, maka kita akan mengabaikan dan menutupi (tak menyebarkan) kesalahan dari orang tersebut.
Matthew Henry: “it is the property of true charity to cover a multitude of sins. It inclines people to forgive and forget offences against themselves, to cover and conceal the sins of others, rather than aggravate them and spread them abroad” (= merupakan sifat dari kasih yang sungguh-sungguh untuk menutupi banyak dosa. Itu cenderung untuk mengampuni dan melupakan pelanggaran-pelanggaran terhadap diri mereka sendiri, untuk menutupi dan menyembunyikan dosa-dosa dari orang-orang lain, dan bukannya memperburuk mereka dan menyebar-luaskan mereka).
1. Bahwa ini merupakan penafsiran yang benar terlihat dari dukungan ayat-ayat lain dalam Kitab Suci.
· 1Kor 13:7 - “Ia (kasih) menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu”.
· Amsal 17:9 - “Siapa menutupi pelanggaran, mengejar kasih, tetapi siapa membangkit-bangkit perkara, menceraikan sahabat yang karib”.
· Amsal 10:12 - “Kebencian menimbulkan pertengkaran, tetapi kasih menutupi segala pelanggaran”.
Calvin menterjemahkan ayat ini sebagai berikut: “Hatred discovers reproaches, but love covers a multitude of sins” (= Kebencian membukakan / menyingkapkan hal-hal yang memalukan, tetapi kasih menutupi banyak dosa) - hal 129.
Calvin: “What Solomon meant is sufficiently clear, for the two clauses contain things which are set in contrast the one with the other. As then he says in the first clause that hatred is the cause why men traduce and defame one another, and spread whatever is reproachful and dishonorable; so it follows that a contrary effect is ascribed to love, that is, that men who love one another, kindly and courteously forgive one another; hence it comes that, willingly burying each other’s vices, one seeks to preserve the honour of another” (= Apa yang dimaksudkan oleh Salomo cukup jelas, karena kedua anak kalimat mengandung hal-hal yang dikontraskan satu sama lain. Sebagai mana Ia berkata dalam anak kalimat yang pertama bahwa kebencian merupakan penyebab mengapa manusia saling mempertontonkan / memalukan dan mencemarkan nama baik, dan menyebarkan apapun yang memalukan dan merupakan aib; sesuai dengan itu, maka suatu hasil yang bertentangan diberikan kepada kasih, yaitu bahwa manusia yang saling mengasihi, dengan baik dan dengan sopan saling mengampuni; karena itu, hasilnya adalah bahwa, dengan sukarela mengubur kejahatan satu sama lain, seseorang berusaha untuk menjaga kehormatan dari yang lain) - hal 129.
Calvin: “This singular benefit love brings to us when it exists among us, so that innumerable evils are covered in oblivion. On the other hand, where loose reins are given to hatred, men by mutual biting and tearing must necessarily consume one another, as Paul says (Gal 5:15)” [= Manfaat yang luar biasa inilah yang dibawa kasih kepada kita pada waktu kasih itu ada di antara kita, sehingga tak terhitung banyaknya kejahatan yang ditutupi dalam pelupaan. Di sisi yang lain, dimana kebencian dilepaskan kekangnya, manusia dengan saling menggigit dan menyobek pasti memakan satu sama lain, seperti dikatakan Paulus (Gal 5:15)] - hal 129.
Gal 5:14-15 - “(14) Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: ‘Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!’ (15) Tetapi jikalau kamu saling menggigit dan saling menelan, awaslah, supaya jangan kamu saling membinasakan”.
2. Ada saat dimana kasih bukannya harus menutupi pelanggaran seseorang, tetapi sebaliknya harus menyingkapkannya.
a. Kita tak boleh menyembunyikan kesalahan seseorang, sehingga melindas kebenaran.
Adam Clarke: “A loving disposition leads us to pass by the faults of others, to forgive offences against ourselves, and to excuse and lessen, as far as is consistent with truth, the transgressions of men” (= Watak / kecondongan yang kasih memimpin kita untuk mengabaikan kesalahan-kesalahan dari orang-orang lain, mengampuni pelanggaran-pelanggaran terhadap diri kita sendiri, dan memaafkan dan mengurangi, sejauh itu konsisten dengan kebenaran, pelanggaran-pelanggaran manusia).
Jadi, kita tidak boleh menutupi kesalahan sedemikian rupa sehingga kita berdusta. Misalnya pada waktu menjadi saksi di pengadilan, dan kita ditanya tentang kesalahan orang yang memang kita ketahui, maka kita tidak boleh menyembunyikannya, dengan berdusta.
b. Kita tidak boleh menyembunyikan kesalahan seseorang, pada waktu kasih menuntut sebaliknya.
Jamieson, Fausset & Brown: “‘Covereth,’ so as not harshly to condemn or expose; but to bear the other’s burdens, forgiving and forgetting offences. ... Compare the conduct of Shem and Japheth (Gen. 9:23), in contrast to Ham’s exposure of his father’s shame. We ought to cover others’ sins only where love itself does not require the contrary” [= ‘Menutupi’, sehingga tidak dengan keras mengecam atau menyingkapkan; tetapi memikul / menahan beban orang lain, mengampuni dan melupakan pelanggaran-pelanggaran. ... Bandingkan dengan tingkah laku Sem dan Yafet (Kej 9:23), yang kontras dengan penyingkapan Ham terhadap hal yang memalukan ayahnya. Kita harus menutupi dosa-dosa orang-orang lain hanya pada waktu kasih itu sendiri tidak mengharuskan sebaliknya].
Bdk. Kej 9:21-23 - “(21) Setelah ia minum anggur, mabuklah ia dan ia telanjang dalam kemahnya. (22) Maka Ham, bapa Kanaan itu, melihat aurat ayahnya, lalu diceritakannya kepada kedua saudaranya di luar. (23) Sesudah itu Sem dan Yafet mengambil sehelai kain dan membentangkannya pada bahu mereka berdua, lalu mereka berjalan mundur; mereka menutupi aurat ayahnya sambil berpaling muka, sehingga mereka tidak melihat aurat ayahnya”.
Perhatikan bagian-bagian yang saya garis-bawahi dalam kata-kata Jamieson, Fausset & Brown di atas ini. Jelas bahwa kasih tidak secara mutlak harus menutupi kesalahan-kesalahan dari orang-orang lain. Ada saat dimana kasih menuntut sebaliknya.
Misalnya:
· pada waktu ada gereja / pengkhotbah yang mengajarkan ajaran sesat. Dalam hal ini kita tidak boleh hanya memperhitungkan gereja / pengkhotbah sesat tersebut; tetapi kita harus lebih memperhitungkan para pendengar yang bisa disesatkan oleh ajaran tersebut. Karena itu, dalam kasus seperti ini kasih justru harus menyingkapkan kesalahan / kesesatan dari ajaran-ajaran tersebut. Itu yang saya lakukan pada waktu saya berkhotbah / menulis tentang kesesatan-kesesatan dari orang-orang / gereja-gereja tertentu. Hal seperti ini juga dilakukan oleh Yesus dan rasul-rasulNya (Mat 23 Gal 1:6-9 1Tim 1:20 2Tim 2:17 dsb).
· ada orang yang suka berhutang tetapi tidak mau membayar. Kalau saya melihat dia mendekati seseorang lain, maka kasih saya kepada orang lain itu mengharuskan saya, bukan untuk menutupi kesalahan dari orang pertama tadi, tetapi sebaliknya, menyingkapkannya, supaya jangan orang lain itu dirugikan.
Ay 9: “Berilah tumpangan seorang akan yang lain dengan tidak bersungut-sungut”.
1) Tindakan memberi tumpangan (hospitality) ini sebetulnya merupakan perwujudan dari kasih, dan hal ini ditekankan dalam banyak bagian Kitab Suci seperti:
2) Hospitality ini penting pada saat itu karena:
a) Para misionaris membutuhkannya.
Kis 10:6 - “Ia menumpang di rumah seorang penyamak kulit yang bernama Simon, yang tinggal di tepi laut.’”.
Kis 21:16 - “Bersama-sama dengan kami turut juga beberapa murid dari Kaisarea. Mereka membawa kami ke rumah seorang yang bernama Manason. Ia dari Siprus dan sudah lama menjadi murid. Kami akan menumpang di rumahnya”.
b) Gereja membutuhkannya.
Barclay: “For two hundred years there was no such thing as a church building. Without those who were prepared to open their homes, the early church could not have met for worship at all” (= Selama 200 tahun tidak ada apa yang disebut dengan bangunan gereja. Tanpa mereka yang siap untuk membuka rumah-rumah mereka, gereja mula-mula tidak bisa mengadakan pertemuan ibadah sama sekali) - hal 254.
Bandingkan dengan:
· Ro 16:5 - “Salam juga kepada jemaat di rumah mereka. Salam kepada Epenetus, saudara yang kukasihi, yang adalah buah pertama dari daerah Asia untuk Kristus”.
· 1Kor 16:19 - “Salam kepadamu dari Jemaat-jemaat di Asia Kecil. Akwila, Priskila dan Jemaat di rumah mereka menyampaikan berlimpah-limpah salam kepadamu”.
· Filemon 2 - “dan kepada Apfia saudara perempuan kita dan kepada Arkhipus, teman seperjuangan kita dan kepada jemaat di rumahmu”.
Catatan: dalam Kitab Suci bahasa Inggris semua kata ‘jemaat’ di sini diterjemahkan ‘gereja’.
c) Orang Kristen biasapun membutuhkannya.
Alan M. Stibbs (Tyndale): “By becoming Christians many ceased to enjoy the welcome and help of former potential friends. They stood, therefore, in urgent need of compensating Christian friendship at the hands of those who were now their brethren in Christ” (= Dengan menjadi orang-orang Kristen, banyak orang berhenti menikmati penyambutan / penerimaan dan pertolongan dari teman-teman yang berpotensi dulu. Karena itu, mereka butuh secara mendesak persahabatan Kristen yang menggantikannya pada tangan-tangan dari mereka yang sekarang adalah saudara-saudara mereka dalam Kristus) - hal 155.
Ini bukan hanya bisa terjadi pada abad-abad awal dari kekristenan, tetapi bahkan pada jaman ini.
Catatan: pada saat yang sama, waspadailah penipu-penipu yang berpura-pura menjadi orang Kristen yang diusir oleh keluarganya, dsb, supaya bisa mendapatkan makanan, dan uang dari saudara. Jangan biarkan keramahan menerima tamu dimanfaatkan oleh seadanya penipu!
3) Melakukan hal ini secara berlebihan, bisa menjadikan ini sebagai tindakan yang justru berdosa.
Pulpit Commentary: “It is not costly display and sumptuous entertainments that St. Peter recommends; these things are often sinful waste; men spend their money in selfish ostentation instead of holy and religious works” (= Bukan suatu pameran / pertunjukan yang mahal dan hiburan yang mewah yang direkomendasikan oleh Santo Petrus; hal-hal ini seringkali merupakan pemborosan yang bersifat dosa; orang-orang menghabiskan uang mereka dalam pameran yang egois dan bukannya pekerjaan yang kudus dan bersifat agama) - hal 179.
Saya kira kata-kata ini bagus sekali dan sangat perlu diwaspadai. Kalau saudara menerima seseorang / memberi tumpangan kepada seseorang, khususnya kalau ia adalah seorang hamba Tuhan, dan saudara menjamu dia, apakah saudara menjamunya secara mewah, dengan motivasi untuk memamerkan / mendemonstrasikan kebaikan saudara? Kalau ya, motivasi seperti ini sebetulnya bersifat egois, dan ini justru bertentangan dengan kasih!
Bdk. Mat 10:40,42 - “(40) Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku. ... (42) Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia muridKu, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya.’”.
Text ini menunjukkan bahwa hospitality yang mengeluarkan uang sedikitpun dihargai oleh Tuhan. Tetapi juga jangan terlalu extrim menafsirkan ayat ini, sehingga saudara selalu hanya mau memberikan secangkir air sejuk. Perlu diingat bahwa di Palestina, air sejuk tidak dengan mudah didapatkan. Dan dalam cuaca panas, itu bisa lebih berarti dari apapun yang lain.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali