Pemahaman Alkitab

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Jl. Dinoyo 19b, lantai 3)

Jum’at, tgl 31 Oktober 2008, pk 19.0 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

(HP: 7064-1331 / 6050-1331)

 

Sida-sida Etiopia(2)

 

Kis 8:26-40 - “(26) Kemudian berkatalah seorang malaikat Tuhan kepada Filipus, katanya: ‘Bangunlah dan berangkatlah ke sebelah selatan, menurut jalan yang turun dari Yerusalem ke Gaza.’ Jalan itu jalan yang sunyi. (27) Lalu berangkatlah Filipus. Adalah seorang Etiopia, seorang sida-sida, pembesar dan kepala perbendaharaan Sri Kandake, ratu negeri Etiopia, yang pergi ke Yerusalem untuk beribadah. (28) Sekarang orang itu sedang dalam perjalanan pulang dan duduk dalam keretanya sambil membaca kitab nabi Yesaya. (29) Lalu kata Roh kepada Filipus: ‘Pergilah ke situ dan dekatilah kereta itu!’ (30) Filipus segera ke situ dan mendengar sida-sida itu sedang membaca kitab nabi Yesaya. Kata Filipus: ‘Mengertikah tuan apa yang tuan baca itu?’ (31) Jawabnya: ‘Bagaimanakah aku dapat mengerti, kalau tidak ada yang membimbing aku?’ Lalu ia meminta Filipus naik dan duduk di sampingnya. (32) Nas yang dibacanya itu berbunyi seperti berikut: Seperti seekor domba Ia dibawa ke pembantaian; dan seperti anak domba yang kelu di depan orang yang menggunting bulunya, demikianlah Ia tidak membuka mulutNya. (33) Dalam kehinaanNya berlangsunglah hukumanNya; siapakah yang akan menceriterakan asal-usulNya? Sebab nyawaNya diambil dari bumi. (34) Maka kata sida-sida itu kepada Filipus: ‘Aku bertanya kepadamu, tentang siapakah nabi berkata demikian? Tentang dirinya sendiri atau tentang orang lain?’ (35) Maka mulailah Filipus berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan Injil Yesus kepadanya. (36) Mereka melanjutkan perjalanan mereka, dan tiba di suatu tempat yang ada air. Lalu kata sida-sida itu: ‘Lihat, di situ ada air; apakah halangannya, jika aku dibaptis?’ (37) [Sahut Filipus: ‘Jika tuan percaya dengan segenap hati, boleh.’ Jawabnya: ‘Aku percaya, bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah.’] (38) Lalu orang Etiopia itu menyuruh menghentikan kereta itu, dan keduanya turun ke dalam air, baik Filipus maupun sida-sida itu, dan Filipus membaptis dia. (39) Dan setelah mereka keluar dari air, Roh Tuhan tiba-tiba melarikan Filipus dan sida-sida itu tidak melihatnya lagi. Ia meneruskan perjalanannya dengan sukacita. (40) Tetapi ternyata Filipus ada di Asdod. Ia berjalan melalui daerah itu dan memberitakan Injil di semua kota sampai ia tiba di Kaisarea”.

 

Ay 32-33: (32) Nas yang dibacanya itu berbunyi seperti berikut: Seperti seekor domba Ia dibawa ke pembantaian; dan seperti anak domba yang kelu di depan orang yang menggunting bulunya, demikianlah Ia tidak membuka mulutNya. (33) Dalam kehinaanNya berlangsunglah hukumanNya; siapakah yang akan menceriterakan asal-usulNya? Sebab nyawaNya diambil dari bumi..

KJV: ‘(32) The place of the scripture which he read was this, He was led as a sheep to the slaughter; and like a lamb dumb before his shearer, so opened he not his mouth: (33) In his humiliation his judgment was taken away: and who shall declare his generation? for his life is taken from the earth’.

 

Bdk. Yes 53:7-8 - “(7) Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya. (8) Sesudah penahanan dan penghukuman ia terambil, dan tentang nasibnya siapakah yang memikirkannya? Sungguh, ia terputus dari negeri orang-orang hidup, dan karena pemberontakan umatKu ia kena tulah”.

KJV: ‘(7) He was oppressed, and he was afflicted, yet he opened not his mouth: he is brought as a lamb to the slaughter, and as a sheep before her shearers is dumb, so he openeth not his mouth. (8) He was taken from prison and from judgment: and who shall declare his generation? for he was cut off out of the land of the living: for the transgression of my people was he stricken’.

 

1)   Kata-kata dari Yesaya dalam ay 32-33 ini diambil dari LXX / Septuaginta, dan agak berbeda dengan kata-kata dalam bahasa Ibraninya.

 

Barnes’ Notes: In his humiliation’ This varies from the Hebrew, but is copied exactly from the Septuagint, showing that he was reading the Septuagint. ... . The expression used in the Acts was taken from the Septuagint, and means substantially the same as the Hebrew” (= ‘Dalam perendahanNya’. Ini berbeda dengan bahasa Ibraninya, tetapi disalin dengan persis dari Septuaginta, menunjukkan bahwa ia sedang membaca Septuaginta. ... Ungkapan yang digunakan dalam Kisah Rasul diambil dari Septuaginta, dan pada pokoknya mempunyai arti yang sama seperti dalam bahasa Ibraninya).

 

Barnes’ Notes: The Hebrew text is: ‘He was taken from prison and from judgment.’ The word rendered ‘prison’ denotes any kind of ‘detention,’ or even ‘oppression.’ It does not mean, as with us, to be confined ‘in’ a prison or jail, but may mean ‘custody,’ and be applied to the detention or custody of the Saviour when his hands were bound, and he was led to be tried. ... It is not known why the Septuagint thus translated the expression ‘he was taken from prison,’ etc., by ‘in his humiliation,’ etc. The word ‘from prison’ may mean, as has been remarked, however, from ‘oppression,’ and this does not differ materially from ‘humiliation’; and in this sense the Septuagint understood it” (= Text bahasa Ibraninya adalah: ‘Ia diambil dari penjara dan dari penghakiman’. Kata yang diterjemahkan ‘penjara’ menunjuk pada seadanya jenis ‘penahanan / penawanan’, atau bahkan ‘penindasan’. Itu tidak berarti, seperti bagi kita, untuk dibatasi ‘dalam’ suatu penjara, tetapi bisa berarti ‘tahanan’, dan diterapkan pada penahanan terhadap sang Juruselamat pada waktu tanganNya dibelenggu, dan Ia dibawa untuk diadili. ... Tidak diketahui mengapa Septuaginta menterjemahkan ungkapan ‘ia diambil dari penjara’ dst, dengan ‘dalam perendahanNya’ dst. Tetapi kata ‘dari penjara’ bisa berarti, seperti yang telah dikatakan, dari ‘penindasan’, dan ini pada pokoknya tidak berbeda dari ‘perendahan’; dan dalam arti ini Septuaginta mengertinya).

 

Barnes’ Notes: The meaning of the expression in the Septuagint and the Acts is clear. It denotes that in his state of oppression and calamity; when he was destitute of protectors and friends; when at the lowest state of humiliation, and therefore most the object of pity, that ‘in addition to that,’ justice was denied him; his judgment - a just sentence - was taken away, or withheld, and he was delivered to be put to death. His deep humiliation and friendless state was ‘followed’ by an unjust and cruel condemnation, when no one would stand forth to plead his cause. Every circumstance thus goes to deepen the view of his sufferings (= Arti dari ungkapan dalam Septuaginta dan Kisah Rasul adalah jelas. Itu menunjukkan bahwa dalam keadaan penindasan dan bencana; pada waktu Ia tidak mempunyai pelindung atau sahabat; pada waktu ada dalam keadaan yang paling rendah dari perendahanNya, dan karena itu menjadi obyek yang paling hebat dari belas kasihan, bahwa ‘sebagai tambahan terhadap hal itu’, keadilan tidak Ia dapatkan; penghakimanNya - hukuman yang adil - diambil, atau ditahan, dan Ia diserahkan untuk dibunuh. PerendahanNya yang dalam dan keadaanNya yang tidak mempunyai sahabat diikuti oleh penghukuman yang tidak adil dan kejam, pada saat tak seorangpun berdiri untuk membela perkaraNya. Jadi, setiap peristiwa memperdalam pendangan tentang penderitaanNya).

 

Barnes’ Notes: ‘His judgment’ Justice, a just sentence, was denied him, and he was cruelly condemned. ... ‘For his life ...’ The Hebrew is, ‘For he was cut off from the land of the living’; that is he was put to death (= ‘PenghakimanNya’. Keadilan, hukuman yang adil, tidak Ia dapatkan, dan Ia dihukum dengan kejam. ... ‘karena hidupNya ...’, Bahasa Ibraninya adalah, ‘Karena ia dipotong dari negeri orang hidup’; artinya, ‘ia dibunuh’).

 

2)   Calvin menganggap bahwa bukan kebetulan sida-sida ini membuka dan membaca bagian dari kitab nabi Yesaya itu, tetapi ada pengaturan dari Providensia Allah sehingga ia membuka dan membaca bagian itu. Dengan demikian Filipus bisa menggunakannya untuk menjelaskan inti sari dari kekristenan kepada sida-sida itu.

Jadi, mula-mula ada pimpinan dari Roh Kudus, dan setelah itu juga ada pelayanan dari manusia.

 

Ay 34: “Maka kata sida-sida itu kepada Filipus: ‘Aku bertanya kepadamu, tentang siapakah nabi berkata demikian? Tentang dirinya sendiri atau tentang orang lain?’”.

 

1)   Calvin menggunakan ayat ini untuk menunjukkan bahwa sida-sida itu mempunyai keinginan yang sungguh-sungguh untuk belajar / mengerti. Dan bagi orang seperti ini Tuhan selalu mau memberikan pengertian.

Tetapi sekalipun kita mempunyai kerinduan untuk belajar / mengerti Firman Tuhan, mengapa kita kadang-kadang tetap ‘macet’ dalam pengertian, menjumpai bagian-bagian yang sukar yang tidak bisa kita mengerti?

Ada beberapa jawaban yang diberikan oleh Calvin terhadap pertanyaan ini:

a)   Untuk menguji ketekunan / iman kita.

b)   Untuk mengajar kita kerendahan hati.

c)   Untuk mendorong kita untuk berdoa dengan lebih bersungguh-sungguh.

d)   Untuk menyadarkan kita tentang hebatnya hikmat surgawi.

 

2)   Text dari Yes 53 itu jelas sekali berbicara tentang Mesias, bukan tentang diri Yesaya sendiri. Dan beberapa, atau bahkan banyak, penafsir mengatakan bahwa orang-orang Yahudi kuno (pada jaman Perjanjian Lama) menafsirkan bahwa text ini memang menunjuk kepada Mesias, tetapi orang-orang Yahudi modern (pada jaman Yesus) tidak mau menafsirkan seperti itu.

Albert Barnes mengatakan perlu diingat bahwa sida-sida itu baru saja dari Yerusalem. Mungkin sekali pada saat itu ada pertentangan di Yerusalem antara orang-orang kristen yang pro Yesus dan orang-orang Yahudi dan tokoh-tokoh agama Yahudi yang anti Yesus. Yang pro Yesus menggunakan text dari Yes 53 ini sebagai dasar bahwa Yesus adalah Mesias, dan orang-orang Yahudi / tokoh-tokoh agama Yahudi berusaha menghindari tekanan dari argumentasi itu dengan mengatakan bahwa dalam text ini Yesaya berbicara tentang dirinya sendiri atau nabi yang lain, tetapi bukan tentang Mesias.

Kalau ini benar, maka jelas bahwa tokoh-tokoh agama Yahudi itu telah bertindak sangat kurang ajar, dan secara sengaja menyimpangkan arti dari Kitab Suci, dan dengan demikian secara sengaja melakukan penyesatan.

Tetapi perlu diingat bahwa pada jaman sekarangpun ada banyak orang, yang demi kepentingan pribadi / golongan, secara sengaja menyimpangkan arti dari Kitab Suci, dan secara sengaja melakukan penyesatan.

Ini adalah sesuatu, yang dalam keadaan apapun tidak boleh kita tiru! Kita harus menjunjung tinggi / menghormati kebenaran di atas segala-galanya, termasuk di atas kepentingan pribadi, golongan, uang dan sebagainya.

Untuk orang-orang yang secara sengaja melakukan penyesatan, ayat di bawah ini harus mereka renungkan.

 

Mat 18:7 - “Celakalah dunia dengan segala penyesatannya: memang penyesatan harus ada, tetapi celakalah orang yang mengadakannya”.

 

Ay 35: “Maka mulailah Filipus berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan Injil Yesus kepadanya”.

 

Dalam memberitakan Injil, kita harus memberitakan tentang Yesus! Di sini Filipus tak perlu susah-susah untuk mencari jalan / cara bagaimana ia bisa memberitakan Injil kepada sida-sida itu, karena text yang ditanyakan memang sudah berurusan langsung dengan injil. Tetapi seringkali, kalau seseorang bertanya tentang sesuatu yang tidak terlalu berurusan dengan injil, kita harus mencari jalan / cara, bagaimana kita bisa membelokkan pembicaraan kepada injil. Kalau orang yang bertanya itu adalah orang yang belum percaya, maka tak ada gunanya membahas hal-hal lain selain injil. Jangan menjawab menurut keinginannya, tetapi menurut kebutuhannya.

 

Ay 36: “Mereka melanjutkan perjalanan mereka, dan tiba di suatu tempat yang ada air. Lalu kata sida-sida itu: ‘Lihat, di situ ada air; apakah halangannya, jika aku dibaptis?’”.

 

Kalau ada orang yang menganggap bahwa baptisan yang dilakukan oleh Filipus terhadap sida-sida itu adalah baptisan selam, maka perlu mereka ketahui bahwa ini adalah padang pasir, dimana tidak mungkin bisa menemukan air yang cukup untuk melakukan baptisan selam. Yang mereka temukan pada saat itu hanyalah ‘sedikit air’, yang sama sekali tidak memungkinkan baptisan selam.

 

Lenski: “No trace of a stream or a lake is found in this region, nor of a record of such water. The problem is not where to find enough water for immersion but where to find water at all” (= Tak ada jejak dari suatu sungai atau danau di daerah ini, ataupun catatan tentang adanya air seperti itu. Problemnya bukanlah dimana bisa menemukan air yang cukup untuk baptisan selam, tetapi dimana menemukan air sedikit saja) - hal 345,346.

 

Charles Hodge: “He was travelling through a desert part of the country towards Gaza, when Philip joined him, ‘And as they went on their way they came unto a certain water (EPI TI HUDOR, to some water)’.There is no known stream in that region of sufficient depth to allow of the immersion of a man” [= Ia sedang bepergian melalui bagian padang pasir dari negara itu menuju Gaza, ketika Filipus bergabung dengannya, ‘Dan ketika mereka melanjutkan perjalanan mereka mereka sampai pada air tertentu (EPI TI HUDOR, kepada sedikit air)’. Di daerah itu tidak diketahui adanya sungai dengan kedalaman yang cukup untuk memungkinkan penyelaman seorang manusia] - ‘Systematic Theology’, vol III, hal 535.

 

Ay 37: [Sahut Filipus: ‘Jika tuan percaya dengan segenap hati, boleh.’ Jawabnya: ‘Aku percaya, bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah.’].

 

1)   Perhatikan bahwa dalam terjemahan Kitab Suci Indonesia ayat ini diletakkan dalam tanda kurung tegak, yang menunjukkan bahwa ayat ini diragukan keasliannya. Mengapa? Karena ayat ini hanya ditemukan dalam manuscript-manuscript yang kurang baik, dan itupun dalam bentuk berbeda-beda.

 

2)         Kalau kita tetap mau membahas ayat ini, maka ada 2 hal yang bisa dibahas:

 

a)   Filipus memberikan persyaratan ‘percaya’ untuk baptisan.

Matthew Henry mengatakan bahwa Filipus baru saja ‘ditipu’ oleh Simon tukang sihir, yang mengaku percaya dan lalu dibaptis oleh Filipus, padahal sebetulnya ia belum percaya (Kis 8:5-24). Tetapi hal itu tidak menyebabkan Filipus mempersukar / mempersempit jalan masuk ke dalam gereja dari pada yang seharusnya. Ia tetap hanya memberikan syarat ‘percaya’ dan tidak lebih dari itu!

 

Matthew Henry: Observe, Though Philip had very lately been deceived in Simon Magus, and had admitted him to baptism, though he afterwards appeared to be no true convert, yet he did not therefore scruple to baptize the eunuch upon his profession of faith immediately, without putting him upon a longer trial than usual. If some hypocrites crowd into the church, who afterwards prove a grief and scandal to us, yet we must not therefore make the door of admission any straiter than Christ has made it; they shall answer for their apostasy, and not we (= Perhatikan, sekalipun Filipus akhir-akhir ini telah ditipu oleh Simon tukang sihir, dan telah menerima dia pada baptisan, sekalipun belakangan ia terlihat bukan sebagai petobat yang sejati, tetapi hal itu tidak menyebabkan ia segan untuk membaptis sida-sida itu segera setelah pengakuan imannya, tanpa menempatkannya pada ujian yang lebih lama dari biasanya. Jika seorang munafik mendesak masuk ke dalam gereja, yang belakangan terbukti menjadi suatu kesedihan dan skandal bagi kita, hal itu tidak boleh menyebabkan kita membuat pintu masuk lebih sempit dari pada Kristus telah membuatnya; mereka, dan bukan kita, akan bertanggung jawab untuk kemurtadan mereka).

 

Penerapan: tidak salah menyuruh seseorang ikut katekisasi sebelum baptisan, selama itu tidak dimutlakkan. Tetapi katekisasinya harus betul-betul merupakan pelajaran dasar, dan ini tidak boleh dijadikan syarat mutlak. Kalau kita yakin orang itu betul-betul sudah percaya, boleh saja langsung membaptisnya tanpa melalui katekisasi, dan menyuruh orang itu ikut katekisasi setelah baptisan.

 

b)   Dari ‘percaya’ menjadi ‘percaya’.

Tadinya jelas bahwa sida-sida itu sudah ‘percaya’, tetapi boleh dikatakan ia ‘percaya’ dengan iman Perjanjian Lama, kepada Kristus / Mesias yang akan datang.

Sekarang setelah diinjili oleh Filipus, ia ‘percaya’ dengan pengetahuan dan iman yang lebih sempurna.

 

Calvin (tentang Kis 8:36): “The eunuch knew before that there was one God, who had made the covenant with Abraham, who gave the law by the hand of Moses, which separated one people from the other nations, who promised Christ, through whom he would be merciful to the world. Now he confesseth that Jesus Christ is that Redeemer of the world, and the Son of God; under which title he comprehendeth briefly all those things which the Scripture attributeth to Christ” (= Sida-sida itu tahu sebelumnya bahwa di sana ada satu Allah, yang telah membuat perjanjian dengan Abraham, yang memberikan hukum Taurat melalui Musa, yang memisahkan satu bangsa dari bangsa-bangsa lain, yang menjanjikan Kristus, melalui siapa Ia akan bersikap penuh belas kasihan kepada dunia. Sekarang ia mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Penebus dunia itu, dan Anak Allah; dalam gelar mana ia mengerti secara ringkas semua hal-hal yang Kitab Suci hubungkan dengan Kristus).

 

Matthew Henry: He was before a worshipper of the true God, so that all he had to do now was to receive Christ Jesus the Lord. (1.) He believes that Jesus is the Christ, the true Messiah promised, the anointed One. (2.) That Christ is Jesus - a Saviour, the only Saviour of his people from their sins. And, (3.) That this Jesus Christ is the Son of God, that he has a divine nature, as the Son is of the same nature with the Father; and that, being the Son of God, he is the heir of all things. This is the principal peculiar doctrine of Christianity, and whosoever believe this with all their hearts, and confess it, they and their seed are to be baptized [= Sebelumnya ia adalah seorang penyambah dari Allah yang benar, sehingga semua yang harus ia lakukan sekarang adalah menerima Kristus Yesus sebagai Tuhan. (1) Ia percaya bahwa Yesus adalah Kristus, Mesias yang sejati / benar yang dijanjikan, Orang yang diurapi. (2) Bahwa Kristus adalah Yesus - seorang Juruselamat, satu-satunya Juruselamat umatnya dari dosa-dosa mereka. Dan, (3) Bahwa Yesus Kristus ini adalah Anak Allah, bahwa Ia mempunyai hakekat ilahi, seperti Sang Anak adalah dari hakekat yang sama dengan Sang Bapa; dan bahwa sebagai Anak Allah, Ia adalah ahli waris dari segala sesuatu. Ini merupakan doktrin khas dan utama dari kekristenan, dan siapapun mempercayai ini dengan segenap hati mereka, dan mengakuinya, mereka dan anak-anak mereka harus dibaptiskan].

 

Ay 38-39a: (38) Lalu orang Etiopia itu menyuruh menghentikan kereta itu, dan keduanya turun ke dalam air, baik Filipus maupun sida-sida itu, dan Filipus membaptis dia. (39a) Dan setelah mereka keluar dari air, ...”.

 

Ayat ini menyebabkan terjadinya pertentangan tentang apakah di sini dilakukan baptisan selam atau bukan. Untuk itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

 

1)   Lenski mengatakan bahwa di sini tak diceritakan tentang pelepasan jubah / pakaian, yang tentu harus terjadi kalau baptisan dilakukan dengan selam.

 

Lenski: “Neither here nor elsewhere do we read that a robe or garment was laid aside before baptism” (= Baik di sini maupun di tempat lain kita tidak membaca bahwa jubah atau pakaian dikesampingkan sebelum baptisan) - hal 346.

Catatan: saya berpendapat bahwa hal ini hanya bisa dijadikan argumentasi tambahan, bukan yang utama, dari baptisan non selam, karena Kitab Suci memang sering tak menceritakan detail-detail seperti itu.

 

2)         Terjemahan dari kata-kata Yunani EIS dan EK.

 

a)   Tentang kata Yunani EIS, yang diterjemahkan ‘into’ (= ke dalam).

Barnes mengatakan bahwa kata Yunani EIS tidak harus diterjemahkan ‘into’ (= ke dalam), tetapi bisa diterjemahkan ‘to / unto’ (= ke / pada / kepada), atau ‘near’ (= dekat).

Ia memberikan beberapa contoh:

1.   Yoh 11:38a - “Maka masygullah pula hati Yesus, lalu Ia pergi ke (Yunani: EIS) kubur itu”.

2.   Luk 11:49 - “Sebab itu hikmat Allah berkata: Aku akan mengutus kepada (Yunani: EIS) mereka nabi-nabi dan rasul-rasul ...”.

3.   Yoh 4:5 - “Maka sampailah Ia ke (Yunani: EIS) sebuah kota di Samaria”.

4.   Yoh 21:4 - “Ketika hari mulai siang, Yesus berdiri di (Yunani: EIS) pantai; akan tetapi murid-murid itu tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus”.

 

Dan kalaupun diterjemahkan ‘into’ (= ke dalam), tetap memungkinkan untuk ditafsirkan bahwa mereka hanya berdiri di dalam air, tanpa terendam seluruhnya, dan baptisan lalu dilakukan dengan percik atau tuang.

 

b)   Tentang kata Yunani EK, Barnes mengatakan bahwa kata depan ini kontras dengan kata depan EIS di atas. Bisa di artikan ‘out of’ (= keluar dari), dan bisa juga diartikan ‘from’ (= dari).

 

3)   Lukas, sebagai penulis kitab Kisah Rasul, secara menekankan, menggabungkan Filipus dan sida-sida sebagai subyek, dan menggunakan hanya satu kata kerja untuk subyek gabungan itu. Mari kita perhatikan textnya sekali lagi.

 

Ay 38-39a: (38) Lalu orang Etiopia itu menyuruh menghentikan kereta itu, dan keduanya turun ke dalam air, baik Filipus maupun sida-sida itu, dan Filipus membaptis dia. (39a) Dan setelah mereka keluar dari air, ...”.

 

Keterangan:

a)   Untuk kata kerja ‘turun’ subyeknya digabungkan, yaitu ‘keduanya’. Lalu ditekankan lagi dengan kata-kata ‘baik Filipus maupun sida-sida itu’.

b)   Untuk kata kerja ‘keluar’, subyeknya digabungkan lagi, yaitu ‘mereka’.

 

Karena itu, kalau kata-kata ‘turun ke dalam air’ diartikan sebagai ‘terendam di bawah permukaan air’ untuk sida-sida (yang menunjukkan baptisan selam), maka itu juga harus berlaku untuk Filipus.

Dan kalau kata-kata ‘keluar dari air’ diartikan ‘keluar dari bawah permukaan air’ untuk sida-sida (yang menunjukkan baptisan selam), maka lagi-lagi itu juga harus berlaku untuk Filipus.

Dan ini jelas tidak mungkin! Bagaimana mungkin yang dibaptis direndam di bawah air bersama-sama dengan yang membaptis?

 

Lenski: “Those who make the words ‘they both went down EIS, into, the water’ a part of the baptismal act in order to obtain immersion by means of EIS To HUDOR, ‘into the water,’ prove too much: Philip went down under the water as well as the eunuch” (= Mereka yang membuat kata-kata ‘keduanya turun ke dalam EIS, ke dalam, air’ sebagian dari tindakan baptisan untuk mendapatkan baptisan selam dengan cara EIS TO HUDOR, ‘ke dalam air’, membuktikan terlalu banyak: Filipus maupun sida-sida turun ke bawah air / permukaan air) - hal 347.

 

Lenski: “The difficulty lies in AMPHOTEROI, ‘both,’ Luke even adding: ‘both Philip and the eunuch.’ To be sure, EIS and EK are correlatives; as far as the one takes ‘into,’ so far the other takes ‘out of.’ But these prepositions apply to ‘both Philip and the eunuch.’ Take your choice: ‘to’ the water, ‘from’ the water; or stepping ‘into’ and again stepping ‘out of’ the water; or ‘down under’ the water and again ‘up from under’ the water. Total immersion if you prefer, but for ‘both.’ Not we but Luke combine them” (= Kesukarannya terletak dalam AMPHOTEROI, ‘keduanya’, dan Lukas bahkan menambahkan ‘baik Filipus maupun sida-sida itu’. Memang EIS dan EK berhubungan; kalau yang satu diartikan ‘ke dalam’ maka yang lain diartikan ‘keluar dari’. Tetapi kata-kata depan ini berlaku untuk Filipus maupun sida-sida. Tentukan pilihanmu: ‘ke’ air, ‘dari’ air; atau melangkah ‘ke dalam’ dan lalu melangkah ‘keluar dari’ air; atau ‘turun ke bawah’ air dan lalu ‘naik dari bawah’ air. Engkau boleh memilih perendaman total, tetapi untuk ‘keduanya’. Bukan kami, tetapi Lukas, menggabungkan mereka) - hal 347.

 

Ay 39b-40: “(39b) Roh Tuhan tiba-tiba melarikan Filipus dan sida-sida itu tidak melihatnya lagi. Ia meneruskan perjalanannya dengan sukacita. (40) Tetapi ternyata Filipus ada di Asdod. Ia berjalan melalui daerah itu dan memberitakan Injil di semua kota sampai ia tiba di Kaisarea”.

 

1)         Mungkin ini merupakan suatu mujijat.

 

2)         Kita harus meniru Filipus, yang betul-betul terus menerus memberitakan Injil!

 

 

 

-o0o-

-AMIN-


e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com