Tanggapan khotbah

Pdt. Sutjipto Subeno.

 

Oleh

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

 

Khotbah Pdt. Sutjipto Subeno dari:

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2013/20130203.htm

 

Ringkasan Khotbah : 3 Februari 2013

Signifikansi Sidang Yerusalem

Nats:  Galatia 2:7-10

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Galatia 2:7-10 berada dalam konteks konsili pertama dari seluruh sejarah gereja. Konsili merupakan pertemuan akbar, dan ketika itu para rasul masih hidup dan merasa perlu untuk mengadakan rapat bersama semua pemimpin kekristenan pada saat itu. Mereka membahas tentang topik yang sangat krusial pada waktu itu, akibat dari perbedaan theologis, agar nantinya pekerjaan Tuhan tidak menjadi terhambat. Pada waktu itu Paulus mengajak Barnabas dan Titus menghadiri konsili tersebut di atas. Dalam Kisah Rasul 15 konsili ini disebut sebagai sidang Yerusalem, yang terjadi pada tahun 50.

Konsili ini dimasukkan ke dalam Alkitab untuk menjadi contoh bagaimana cara menyelesaikan perbedaan theologis dan bagaimana menyikapi prinsip-prinsip penting di dalam perbedaan theologis yang ada.

Galatia 2:1-10 menceritakan tentang konsili, sedangkan ayat-ayat selanjutnya menceritakan tentang latar belakang/ sejarah dan implikasi dari konsili tersebut. 

3 masalah yang dibicarakan dalam konsili itu adalah:

 

1)         Injil diperuntukkan bagi siapa.

Agama seringkali dibangun untuk memuaskan egoisitas manusia. Dari sejak kejatuhan manusia ke dalam dosa, agama menjadi alat manipulasi untuk mencapai kepuasan diri. Problema yang paling sulit terjadi ketika manusia mulai membutuhkan aktualisasi diri, seperti: hidup mau ke mana dan menjadi apa, maka manusia mencari jawabannya di dalam agama. Manusia mengalami konflik dalam pikirannya karena Allah seharusnya berada di atas manusia dan tidak bisa diperintah oleh manusia, sedangkan manusia menginginkan Allah yang menuruti kemauan dirinya, maka dibentuklah allah palsu yang bisa memenuhi kemauan manusia.

Manusia seharusnya tunduk kepada Allah yang sejati karena Allah itu berdaulat.

Hal ini tidaklah disukai oleh manusia. Penganut agama tidaklah menyukai hal ini, termasuk orang Israel. Orang Israel merasa dirinya mendapatkan hak istimewa sebagai umat Tuhan sehingga juga mendapatkan bagian di dalam Kerajaan Surga, sedangkan orang di luar bangsa Israel memang layak binasa. Muncullah semangat eksklusif dalam diri bangsa Israel, orang yang di luar bangsa mereka dikatakan sebagai orang yang tak bersunat/ orang kafir yang berarti tidak berhak menerima keselamatan/ masuk Surga. Konsep ini sangatlah sulit untuk didobrak bahkan sampai zaman PB.

Tuhan Yesus berusaha untuk mendobrak kesalahan konsep ini dengan berkali-kali berinteraksi dengan orang-orang non-Yahudi, seperti: menyembuhkan anak perwira Romawi, berbicara dengan orang Samaria, bahkan sebelum Dia naik ke Surga Dia memberikan perintah/ amanat agung yaitu: Pergilah dan jadikanlah semua bangsa murid-Ku. Hal ini tetaplah tidak mengubah konsep orang Yahudi, bahkan ketika Petrus diperintah Tuhan untuk mengabarkan Injil kepada Kornelius, dia enggan melakukannya. Maka Tuhan memberikan penglihatan kepada Petrus selembar kain besar yang berisi binatang-binatang haram dan menyuruh Petrus memakannya. Petrus menolaknya, tetapi Tuhan terus memerintah dia untuk memakannya, dan Tuhan berkata: Apa yang dinyatakan halal oleh Allah tidaklah boleh dinyatakan haram oleh manusia.

Manusia memang memiliki jiwa untuk terus menerus membangun eksklusivitas.

Tuhan menekankan bahwa Injil haruslah mengerti kedaulatan Allah dan pikiran Tuhan mengatasi semua egoisitas manusia. Semua kemapanan, kenyamanan, status quo yang diinginkan manusia haruslah didobrak. Konsep iman Kristen didasarkan pada kedaulatan Allah yang dinyatakan kepada manusia dengan predestinasi, yaitu Tuhan memilih umat-Nya satu demi satu. Tuhan menghadirkan Adam dan Hawa, menunjukkan bahwa Tuhanlah pencipta dan pemilik alam semesta ini, maka semua ciptaan haruslah taat kepada Tuhan. Kedaulatan Allah pertama kali dinyatakan kepada Adam dan Hawa, mereka adalah milik Tuhan, maka mereka harus taat kepada Tuhan; kalau mereka tidak taat maka mereka akan dibuang dari Taman Eden dan akan binasa. Sayangnya manusia memilih untuk tidak taat sehingga manusia dibuang oleh Tuhan, dan sejak saat itu manusia cenderung mengikuti jalannya sendiri dan menuju kebinasaan. Di dalam kedaulatan-Nya, Allah memilih Abram disertai dengan perintah: Pergi, keluar dari tanah kelahiranmu, jadilah hamba-Ku dan membawa kebenaran Tuhan, bangun Kerajaan Surga.

Inilah perintah pertama sebelum perintah dalam Matius 28:19-20. Abram tidak bertanya mau pergi ke mana, tetapi Tuhan yang memimpin dan memelihara sepenuhnya.

Prinsip di atas juga berlaku pada zaman PB. Tuhan memerintahkan kepada bangsa Israel untuk pergi memberitakan Injil kepada bangsa lain juga. Tuhan memotong ranting yang asli dan kemudian mencangkokkan ranting yang lain karena bangsa Israel tidak menjalankan misi-Nya, maka bangsa Israel tidak lagi menjadi satu-satunya umat pilihan-Nya.

Tuhan memilih gereja Tuhan untuk menjalankan tugas misi-Nya. Dengan berkaca pada kejadian di atas, sebagai umat pilihan Tuhan kita pun harus berhati-hati untuk tidak cenderung bersifat eksklusif. Setiap bangunan eksklusif adalah bangunan yang berbahaya dan tidak disukai oleh Tuhan. Theologi yang beres seharusnya membawa kita untuk menjalankan panggilan kita dengan sungguh-sungguh. Yang celaka adalah jika para theolog hanya ribut berdebat tapi tidak menjalankan panggilan Tuhan atas diri mereka di tengah dunia ini. Untuk mengabarkan Injil diperlukan kerelaan hati membuka diri, mencintai orang lain, melepaskan kenyamanan dan berkorban.

Kita mungkin bisa berempati kepada orang lain, tetapi seberapa kita bisa merasakan kesedihan Tuhan dan seberapa kita mau taat menjalankan panggilan Tuhan? Seorang Kristen sejati akan memiliki relasi yang dekat dengan Tuhan, hidup bergaul dengan Tuhan, mengerti isi hati Tuhan, dan mau taat menjalankan panggilan Tuhan.

 

2)         Kalau Injil diperuntukkan bagi semua orang, maka orang yang bukan Yahudi apakah harus disunat ataukah tidak.

Isu sunat menjadi sebuah isu yang sangat pelik pada waktu itu karena sangat menentukan identitas/ keberadaan dari agama Yahudi. Orang-orang yang beragama Yahudi ketika menjadi Kristen masih mau memakai latar belakang keyahudian mereka, sehingga terjadi sebuah kondisi yang sinkretistik (bercampurnya agama dengan tradisi). Sebagai akibatnya, orang Yahudi menuntut orang yang bukan Yahudi ketika menjadi Kristen juga harus disunat seperti mereka. Paulus tidak setuju akan hal ini karena berarti mereka mempermainkan Kristus dengan PL.

Uniknya, 2 kubu tersebut tidaklah mengutamakan pendapat mereka sendiri, tetapi mereka mau berunding dan mencari kehendak Tuhan, sehingga akhirnya diputuskan bahwa orang bukan Yahudi yang menjadi Kristen tidaklah perlu disunat. Hal ini sangatlah menentukan yaitu: orang Kristen TIDAK BOLEH disunat. Kalau orang Kristen disunat, berarti menyalahi Firman Tuhan dan berdosa. Kalau seandainya hal ini boleh dilakukan dan boleh tidak dilakukan maka masalah sunat tidaklah perlu dibawa sampai pada sidang Yerusalem. Urusan ini sangatlah penting karena menentukan hidup iman dan sejarah kekristenan sepanjang sejarah zaman.

Bagi orang yang sudah terlanjur disunat sebelum keputusan sidang Yerusalem diambil tidaklah dipermasalahkan, tetapi keturunan mereka sesudah sidang Yerusalem tidaklah boleh disunat. Hal ini sangat penting karena kondisi di dalam Kristus merupakan kondisi satu-satunya yaitu hanya di dalam Kristus melalui iman, hanya dengan penebusan darah Kristus dan tidak boleh dilakukan dengan cara lain. Sunat merupakan gambaran dari penebusan darah oleh Kristus di zaman PL, jadi ketika Kristus sudah datang di zaman PB maka sunat ditiadakan. Kalau sunat tetap dilakukan, berarti merupakan pelecehan terhadap Kristus.

Dunia memaksakan pelaksanaan sunat dengan memakai alasan kesehatan. Hal ini merupakan penipuan karena mayoritas penduduk dunia adalah tidak bersunat dan tidak mengalami gangguan kesehatan akibat tidak bersunat. Lalu ada apakah dibalik pemaksaan pelaksanaan sunat? 1) upaya setan untuk mengencerkan Theologi Kristen. Dengan seperti itu orang Kristen akan menjadi ambigu identitasnya dan akan berbaur tanpa disadari; keeksklusifan posisi Kristen menjadi diencerkan. Hal ini sangat berkaitan dengan iman kita dan panggilan kita. 2) merupakan strategi dari golongan bersunat. Untuk menarik orang dari golongan tidak bersunat menjadi golongan bersunat salah satu kendalanya adalah masalah sunat, maka mereka berusaha membuat anak-anak disunat terlebih dahulu sehingga ketika mereka besar sudah tidak menjadi masalah lagi.

Perlu untuk kita ingat bahwa janganlah kita merelatifkan hal yang absolut, dan janganlah kita mengabsolutkan hal yang relatif; janganlah mempermainkan hal-hal yang penting yang menyangkut iman/ keselamatan kita dan janganlah menganggap penting hal-hal yang tidak penting.

 

3)         Pelayanan secara holistik.

Di akhir perdebatan theologis yang begitu ketat, Alkitab mencatat sebuah pesan untuk tidak melupakan orang miskin. Pesan ini mengingatkan kita akan bahaya di tengah dunia ini dimana manusia memiliki kecenderungan jatuh dari satu ekstrim ke ekstrim yang lain. Ketika sibuk berbicara hal-hal yang bersifat doktrinal, yang menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan, hal-hal yang bersifat rohani, manusia cenderung melupakan aspek sosial. Harus diingat bahwa manusia mempunyai natur rohani sekaligus natur jasmani, dan tidak boleh ada yang diabaikan.

Orang miskin seringkali muncul karena kegagalan theologis. Orang miskin seringkali muncul karena kemalasan lalu mempersalahkan lingkungan, diri sendiri, semua orang, tetapi mereka tidak mau berjuang seperti bijaksana yang dituntut oleh Tuhan. Sangatlah diperlukan upaya membangun kebutuhan jasmani di dalam pengertian theologis yang sejati. Theologi yang sejati haruslah membangun seluruh totalitas kemanusiaan secara holistik/ totalitas. Bangunlah jasmani dengan pemikiran rohani/ theologis yang benar, bangunlah rohani dengan dukungan jasmani yang baik. Kedua hal ini tidak boleh dilepaskan satu sama lain. Di dalam seluruh pelayanan kita, haruslah kita jaga keseimbangan antara 2 hal ini, bagaimana keduanya bisa bertumbuh mempermuliakan Tuhan.

Ketiga hal yang dibahas dalam sidang Yerusalem ini kalau kita jalankan di abad ini, maka akan menjadikan pelayanan kekristenan menjadi kokoh, dan iman Kristen bertumbuh secara total.

(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

 

Sekarang seluruh khotbah saya tuliskan lagi secara lengkap, tetapi di sela-sela khotbah itu saya beri tanggapan saya.

 

Tanggapan saya, saya letakkan dalam kotak. Sekalipun penekanan saya adalah tentang larangan sunat yang diberikan oleh Pdt. Sutjipto Subeno, tetapi saya juga mengomentari seluruh khotbah!

 

Ringkasan Khotbah : 3 Februari 2013

Signifikansi Sidang Yerusalem

Nats:  Galatia 2:7-10

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

Gal 2:7-10 - “(7) Tetapi sebaliknya, setelah mereka melihat bahwa kepadaku telah dipercayakan pemberitaan Injil untuk orang-orang tak bersunat, sama seperti kepada Petrus untuk orang-orang bersunat (8) - karena Ia yang telah memberikan kekuatan kepada Petrus untuk menjadi rasul bagi orang-orang bersunat, Ia juga yang telah memberikan kekuatan kepadaku untuk orang-orang yang tidak bersunat. (9) Dan setelah melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, maka Yakobus, Kefas dan Yohanes, yang dipandang sebagai sokoguru jemaat, berjabat tangan dengan aku dan dengan Barnabas sebagai tanda persekutuan, supaya kami pergi kepada orang-orang yang tidak bersunat dan mereka kepada orang-orang yang bersunat; (10) hanya kami harus tetap mengingat orang-orang miskin dan memang itulah yang sungguh-sungguh kuusahakan melakukannya.”

 

Galatia 2:7-10 berada dalam konteks konsili pertama dari seluruh sejarah gereja. Konsili merupakan pertemuan akbar, dan ketika itu para rasul masih hidup dan merasa perlu untuk mengadakan rapat bersama semua pemimpin kekristenan pada saat itu. Mereka membahas tentang topik yang sangat krusial pada waktu itu, akibat dari perbedaan theologis, agar nantinya pekerjaan Tuhan tidak menjadi terhambat. Pada waktu itu Paulus mengajak Barnabas dan Titus menghadiri konsili tersebut di atas. Dalam Kisah Rasul 15 konsili ini disebut sebagai sidang Yerusalem, yang terjadi pada tahun 50.

Konsili ini dimasukkan ke dalam Alkitab untuk menjadi contoh bagaimana cara menyelesaikan perbedaan theologis dan bagaimana menyikapi prinsip-prinsip penting di dalam perbedaan theologis yang ada.

 

Tanggapan Budi Asali:

1.   Dari mana tahu-tahu Pdt. Sutjipto Subeno mengatakan bahwa ‘Paulus mengajak Barnabas dan Titus menghadiri konsili tersebut di atas’? Titus muncul dalam Perjanjian Baru paling awal dalam 2Kor 2:13. Dan sama sekali tak ada penyebutan tentang Titus dalam Kis 15! Dari mana Pdt. Sutjipto Subeno mendapat ini? Mungkin ia mendapatkan hal itu dari Gal 2:1 - “Kemudian setelah lewat empat belas tahun, aku pergi pula ke Yerusalem dengan Barnabas dan Tituspun kubawa juga.”. Tetapi kalau kita membaca buku-buku tafsiran tentang ayat ini, ada pro kontra yang sangat besar, apakah ayat ini menunjuk pada Kis 15 atau tidak.

2.   Bagian yang saya beri garis bawah ganda dan warna biru itu merupakan teori yang tak cocok dengan prakteknya. Pdt. Sutjipto Subeno sendiri tak bakal mau ketemu saya untuk menyelesaikan masalah antara dia dan saya.

 

Galatia 2:1-10 menceritakan tentang konsili, sedangkan ayat-ayat selanjutnya menceritakan tentang latar belakang/ sejarah dan implikasi dari konsili tersebut. 

 

3 masalah yang dibicarakan dalam konsili itu adalah:

 

1)         Injil diperuntukkan bagi siapa.

 

Tanggapan Budi Asali:

Saya sedikitpun tidak bisa melihat bahwa Sidang Gereja Yerusalem mempersoalkan ‘Injil diperuntukkan bagi siapa’! Hal ini sudah beres dalam Kis 10,11 (baca sendiri ke 2 pasal itu)! Yang dipersoalkan sekarang adalah: apakah orang-orang non Yahudi diselamatkan ‘oleh iman saja’ atau oleh ‘iman + sunat + ketaatan pada hukum Taurat’.

Kis 15:1-2,5-6 - “(1) Beberapa orang datang dari Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan kepada saudara-saudara di situ: ‘Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan.’ (2) Tetapi Paulus dan Barnabas dengan keras melawan dan membantah pendapat mereka itu. Akhirnya ditetapkan, supaya Paulus dan Barnabas serta beberapa orang lain dari jemaat itu pergi kepada rasul-rasul dan penatua-penatua di Yerusalem untuk membicarakan soal itu. ... (5) Tetapi beberapa orang dari golongan Farisi, yang telah menjadi percaya, datang dan berkata: ‘Orang-orang bukan Yahudi harus disunat dan diwajibkan untuk menuruti hukum Musa.’ (6) Maka bersidanglah rasul-rasul dan penatua-penatua untuk membicarakan soal itu.”.

 

Agama seringkali dibangun untuk memuaskan egoisitas manusia. Dari sejak kejatuhan manusia ke dalam dosa, agama menjadi alat manipulasi untuk mencapai kepuasan diri. Problema yang paling sulit terjadi ketika manusia mulai membutuhkan aktualisasi diri, seperti: hidup mau ke mana dan menjadi apa, maka manusia mencari jawabannya di dalam agama. Manusia mengalami konflik dalam pikirannya karena Allah seharusnya berada di atas manusia dan tidak bisa diperintah oleh manusia, sedangkan manusia menginginkan Allah yang menuruti kemauan dirinya, maka dibentuklah allah palsu yang bisa memenuhi kemauan manusia.

 

Tanggapan Budi Asali:

Tanpa dasar Alkitab, menuduh semua manusia tanpa bukti apapun sudah menjadi ciri khas dari Pdt. Sutjipto Subeno!

 

Manusia seharusnya tunduk kepada Allah yang sejati karena Allah itu berdaulat.

 

Tanggapan Budi Asali:

Berdaulat yang bagaimana? Kalau Allah tidak menentukan dan mengatur segala sesuatu dalam arti kata yang mutlak, itu bukan berdaulat!

 

R. C. Sproul: “That God in some sense foreordains whatever comes to pass is a necessary result of his sovereignty. ... everything that happens must at least happen by his permission. If he permits something, then he must decide to allow it. If He decides to allow something, then is a sense he is foreordaining it. ... To say that God foreordains all that comes to pass is simply to say that God is sovereign over his entire creation. If something could come to pass apart from his sovereign permission, then that which came to pass would frustrate his sovereignty. If God refused to permit something to happen and it happened anyway, then whatever caused it to happen would have more authority and power than God himself. If there is any part of creation outside of God’s sovereignty, then God is simply not sovereign. If God is not sovereign, then God is not God. ... Without sovereignty God cannot be God. If we reject divine sovereignty then we must embrace atheism” (= Bahwa Allah dalam arti tertentu menentukan apapun yang akan terjadi merupakan akibat yang harus ada dari kedaulatanNya. ... segala sesuatu yang terjadi setidaknya harus terjadi karena ijinNya. Jika Ia mengijinkan sesuatu, maka Ia pasti memutuskan untuk mengijinkannya. Jika Ia memutuskan untuk mengijinkan sesuatu, maka dalam arti tertentu Ia menentukannya. ... Mengatakan bahwa Allah menentukan segala sesuatu yang akan terjadi adalah sama dengan mengatakan bahwa Allah itu berdaulat atas segala ciptaanNya. Jika ada sesuatu yang bisa terjadi di luar ijinNya yang berdaulat, maka apa yang terjadi itu menghalangi kedaulatanNya. Jika Allah menolak untuk mengijinkan sesuatu dan hal itu tetap terjadi, maka apapun yang menyebabkan hal itu terjadi mempunyai otoritas dan kuasa yang lebih besar dari Allah sendiri. Jika ada bagian dari ciptaan berada di luar kedaulatan Allah, maka Allah itu tidak berdaulat. Jika Allah tidak berdaulat, maka Allah itu bukanlah Allah. ... Tanpa kedaulatan Allah tidak bisa menjadi / adalah Allah. Jika kita menolak kedaulatan ilahi, maka kita harus mempercayai atheisme) - ‘Chosen By God’, hal 26-27.

 

Hal ini tidaklah disukai oleh manusia. Penganut agama tidaklah menyukai hal ini, termasuk orang Israel. Orang Israel merasa dirinya mendapatkan hak istimewa sebagai umat Tuhan sehingga juga mendapatkan bagian di dalam Kerajaan Surga, sedangkan orang di luar bangsa Israel memang layak binasa. Muncullah semangat eksklusif dalam diri bangsa Israel, orang yang di luar bangsa mereka dikatakan sebagai orang yang tak bersunat/ orang kafir yang berarti tidak berhak menerima keselamatan/ masuk Surga. Konsep ini sangatlah sulit untuk didobrak bahkan sampai zaman PB.

Tuhan Yesus berusaha untuk mendobrak kesalahan konsep ini dengan berkali-kali berinteraksi dengan orang-orang non-Yahudi, seperti: menyembuhkan anak perwira Romawi, berbicara dengan orang Samaria, bahkan sebelum Dia naik ke Surga Dia memberikan perintah/ amanat agung yaitu: Pergilah dan jadikanlah semua bangsa murid-Ku. Hal ini tetaplah tidak mengubah konsep orang Yahudi, bahkan ketika Petrus diperintah Tuhan untuk mengabarkan Injil kepada Kornelius, dia enggan melakukannya. Maka Tuhan memberikan penglihatan kepada Petrus selembar kain besar yang berisi binatang-binatang haram dan menyuruh Petrus memakannya. Petrus menolaknya, tetapi Tuhan terus memerintah dia untuk memakannya, dan Tuhan berkata: Apa yang dinyatakan halal oleh Allah tidaklah boleh dinyatakan haram oleh manusia.

Manusia memang memiliki jiwa untuk terus menerus membangun eksklusivitas.

 

Tanggapan Budi Asali:

Ini yang saya maksdkan di atas. Dalam Kis 10-11 yang menceritakan peritiwa tentang Kornelius, keselamatan orang-orang non Yahudi sudah beres. Yang sekarang dipersoalkan bukanlah apakah orang-orang non Yahudi bisa selamat atau tidak, tetapi CARA keselamatan mereka bagaimana? Apakah hanya iman saja, atau iman + sunat + ketaatan pada hukum Taurat.

 

Tuhan menekankan bahwa Injil haruslah mengerti kedaulatan Allah dan pikiran Tuhan mengatasi semua egoisitas manusia.

 

Tanggapan Budi Asali:

Ini kalimat apa???? Betul-betul nggak karuan!

 

Semua kemapanan, kenyamanan, status quo yang diinginkan manusia haruslah didobrak. Konsep iman Kristen didasarkan pada kedaulatan Allah yang dinyatakan kepada manusia dengan predestinasi, yaitu Tuhan memilih umat-Nya satu demi satu. Tuhan menghadirkan Adam dan Hawa, menunjukkan bahwa Tuhanlah pencipta dan pemilik alam semesta ini, maka semua ciptaan haruslah taat kepada Tuhan. Kedaulatan Allah pertama kali dinyatakan kepada Adam dan Hawa, mereka adalah milik Tuhan, maka mereka harus taat kepada Tuhan; kalau mereka tidak taat maka mereka akan dibuang dari Taman Eden dan akan binasa. Sayangnya manusia memilih untuk tidak taat sehingga manusia dibuang oleh Tuhan, dan sejak saat itu manusia cenderung mengikuti jalannya sendiri dan menuju kebinasaan. Di dalam kedaulatan-Nya, Allah memilih Abram disertai dengan perintah: Pergi, keluar dari tanah kelahiranmu, jadilah hamba-Ku dan membawa kebenaran Tuhan, bangun Kerajaan Surga.

 

Tanggapan Budi Asali:

Orang ini nggak hafal ayatnya, mengucapkannya di luar kepala, dan beda jauh dari ayat yang seharusnya. Kata-kata dia yang saya garis-bawahi dan beri warna biru itu muncul dari Alkitab bagian mana? Bandingkan dengan text yang seharusnya di bawah ini.

Kej 12:1-3 - “(1) Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: ‘Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; (2) Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. (3) Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.’”.

 

Inikah ajaran, yang oleh para penyembah Pdt. Sutjipto Subeno disebut Alkitabiah?

 

Inilah perintah pertama sebelum perintah dalam Matius 28:19-20. Abram tidak bertanya mau pergi ke mana, tetapi Tuhan yang memimpin dan memelihara sepenuhnya.

 

Tanggapan Budi Asali:

‘Perintah pertama’ dalam hal apa?

 

Prinsip di atas juga berlaku pada zaman PB. Tuhan memerintahkan kepada bangsa Israel untuk pergi memberitakan Injil kepada bangsa lain juga. Tuhan memotong ranting yang asli dan kemudian mencangkokkan ranting yang lain karena bangsa Israel tidak menjalankan misi-Nya, maka bangsa Israel tidak lagi menjadi satu-satunya umat pilihan-Nya.

 

Tanggapan Budi Asali:

Khotbah ngawur saja! Pemotongan ranting asli dan pencangkokan ranting yang lain itu bukan disebabkan karena Israel tidak menjalankan misi untuk memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa lain, tetapi karena Israel sendiri tidak percaya kepada Yesus!

 

Ro 11:17-20 - “(17) Karena itu apabila beberapa cabang telah dipatahkan dan kamu sebagai tunas liar telah dicangkokkan di antaranya dan turut mendapat bagian dalam akar pohon zaitun yang penuh getah, (18) janganlah kamu bermegah terhadap cabang-cabang itu! Jikalau kamu bermegah, ingatlah, bahwa bukan kamu yang menopang akar itu, melainkan akar itu yang menopang kamu. (19) Mungkin kamu akan berkata: ada cabang-cabang yang dipatahkan, supaya aku dicangkokkan di antaranya sebagai tunas. (20) Baiklah! Mereka dipatahkan karena ketidakpercayaan mereka, dan kamu tegak tercacak karena iman. Janganlah kamu sombong, tetapi takutlah!”.

 

Khotbah yang seperti ini Alkitabiah?

 

Tuhan memilih gereja Tuhan untuk menjalankan tugas misi-Nya. Dengan berkaca pada kejadian di atas, sebagai umat pilihan Tuhan kita pun harus berhati-hati untuk tidak cenderung bersifat eksklusif. Setiap bangunan eksklusif adalah bangunan yang berbahaya dan tidak disukai oleh Tuhan. Theologi yang beres seharusnya membawa kita untuk menjalankan panggilan kita dengan sungguh-sungguh. Yang celaka adalah jika para theolog hanya ribut berdebat tapi tidak menjalankan panggilan Tuhan atas diri mereka di tengah dunia ini. Untuk mengabarkan Injil diperlukan kerelaan hati membuka diri, mencintai orang lain, melepaskan kenyamanan dan berkorban.

 

Tanggapan Budi Asali:

‘Theologia yang beres’? Theologia Pdt. Sutjipto Subeno sendiri sangat tidak beres!

Kelihatannya Pdt. Sutjipto Subeno anti debat, dan kalau orang ‘ribut berdebat’ maka orang itu ‘tidak menjalankan panggilan Tuhan atas diri mereka di tengah dunia ini’. Hmmm, bagus sekali! Dan ia menyatakan hal ini dalam kontext dari Kis 15 dimana Paulus dan Barnabas berdebat dengan orang-orang Yahudi Kristen, sampai menimbulkan Sidang Gereja Yerusalem!

Saya tanya: apakah tidak mungkin berdebat / sibuk berdebat dan sekaligus menjalankan panggilan Tuhan atas diri mereka? Mengingat banyak orang Kristen / hamba Tuhan di Indonesia juga anti debat, saya akan menunjukkan dari Alkitab bahwa debat dilakukan oleh rasul-rasul dan hamba-hamba Tuhan yang hebat bukan main seringnya, dan itu dilakukan untuk menjalankan panggilan Tuhan terhadap mereka!

 

Paulus sering berdebat.

Kis 9:22,29 - “(22) Akan tetapi Saulus semakin besar pengaruhnya dan ia membingungkan orang-orang Yahudi yang tinggal di Damsyik, karena ia membuktikan, bahwa Yesus adalah Mesias. ... (29) Ia juga berbicara dan bersoal jawab dengan orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani, tetapi mereka itu berusaha membunuh dia”.

Kis 15:2 - “Tetapi Paulus dan Barnabas dengan keras melawan dan membantah pendapat mereka itu. Akhirnya ditetapkan, supaya Paulus dan Barnabas serta beberapa orang lain dari jemaat itu pergi kepada rasul-rasul dan penatua-penatua di Yerusalem untuk membicarakan soal itu”.

Kis 17:17-18 - “(17) Karena itu di rumah ibadat ia bertukar pikiran dengan orang-orang Yahudi dan orang-orang yang takut akan Allah, dan di pasar setiap hari dengan orang-orang yang dijumpainya di situ. (18) Dan juga beberapa ahli pikir dari golongan Epikuros dan Stoa bersoal jawab dengan dia dan ada yang berkata: ‘Apakah yang hendak dikatakan si peleter ini?’ Tetapi yang lain berkata: ‘Rupa-rupanya ia adalah pemberita ajaran dewa-dewa asing.’ Sebab ia memberitakan Injil tentang Yesus dan tentang kebangkitanNya”.

Kis 18:4 - “Dan setiap hari Sabat Paulus berbicara dalam rumah ibadat dan berusaha meyakinkan orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani”.

Kis 19:8-9 - “(8) Selama tiga bulan Paulus mengunjungi rumah ibadat di situ dan mengajar dengan berani. Oleh pemberitaannya ia berusaha meyakinkan mereka tentang Kerajaan Allah. (9) Tetapi ada beberapa orang yang tegar hatinya. Mereka tidak mau diyakinkan, malahan mengumpat Jalan Tuhan di depan orang banyak. Karena itu Paulus meninggalkan mereka dan memisahkan murid-muridnya dari mereka, dan setiap hari berbicara di ruang kuliah Tiranus”.

Kis 28:23 - “Lalu mereka menentukan suatu hari untuk Paulus. Pada hari yang ditentukan itu datanglah mereka dalam jumlah besar ke tempat tumpangannya. Ia menerangkan dan memberi kesaksian kepada mereka tentang Kerajaan Allah; dan berdasarkan hukum Musa dan kitab para nabi ia berusaha meyakinkan mereka tentang Yesus. Hal itu berlangsung dari pagi sampai sore”.

 

Stefanus juga berdebat dalam Kis 6:9-10 - “(9) Tetapi tampillah beberapa orang dari jemaat Yahudi yang disebut jemaat orang Libertini - anggota-anggota jemaat itu adalah orang-orang dari Kirene dan dari Aleksandria - bersama dengan beberapa orang Yahudi dari Kilikia dan dari Asia. Orang-orang itu bersoal jawab dengan Stefanus, (10) tetapi mereka tidak sanggup melawan hikmatnya dan Roh yang mendorong dia berbicara.

 

Perhatikan bahwa Stefanus berdebat di bawah dorongan / pimpinan Roh Kudus! Siapa yang berani menyalahkan dia karena berdebat?

 

Apolos berdebat dalam Kis 18:27-28 - “(27) Karena Apolos ingin menyeberang ke Akhaya, saudara-saudara di Efesus mengirim surat kepada murid-murid di situ, supaya mereka menyambut dia. Setibanya di Akhaya maka ia, oleh kasih karunia Allah, menjadi seorang yang sangat berguna bagi orang-orang yang percaya. (28) Sebab dengan tak jemu-jemunya ia membantah orang-orang Yahudi di muka umum dan membuktikan dari Kitab Suci bahwa Yesus adalah Mesias.”.

 

Apolos dikatakan menjadi seorang yang sangat berguna bagi orang-orang percaya (ay 27). Lalu ay 28 memberikan alasannya (terlihat dari kata ‘sebab’ pada awal ay 28) ‘sebab dengan tak jemu-jemunya ia membantah ... dst’.

 

Justru para pengecut yang tak berani debat itu yang tidak menjalankan panggilan Tuhan!!!

Bdk. 1Pet 3:15 - “Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat,”.

Kata ‘pertanggungan jawab’ yang pertama berasal dari kata Yunani APOLOGIA, dari mana diturunkan kata bahasa Inggris ‘apologetics’. Jadi ayat ini mewajibkan setiap orang Kristen (apalagi hamba Tuhan) untuk belajar dan mempraktekkan debat untuk mempertanggung-jawabkan imannya!

 

Kita mungkin bisa berempati kepada orang lain, tetapi seberapa kita bisa merasakan kesedihan Tuhan dan seberapa kita mau taat menjalankan panggilan Tuhan? Seorang Kristen sejati akan memiliki relasi yang dekat dengan Tuhan, hidup bergaul dengan Tuhan, mengerti isi hati Tuhan, dan mau taat menjalankan panggilan Tuhan.

 

2)         Kalau Injil diperuntukkan bagi semua orang, maka orang yang bukan Yahudi apakah harus disunat ataukah tidak.

Isu sunat menjadi sebuah isu yang sangat pelik pada waktu itu karena sangat menentukan identitas/ keberadaan dari agama Yahudi. Orang-orang yang beragama Yahudi ketika menjadi Kristen masih mau memakai latar belakang keyahudian mereka, sehingga terjadi sebuah kondisi yang sinkretistik (bercampurnya agama dengan tradisi). Sebagai akibatnya, orang Yahudi menuntut orang yang bukan Yahudi ketika menjadi Kristen juga harus disunat seperti mereka. Paulus tidak setuju akan hal ini karena berarti mereka mempermainkan Kristus dengan PL.

Uniknya, 2 kubu tersebut tidaklah mengutamakan pendapat mereka sendiri, tetapi mereka mau berunding dan mencari kehendak Tuhan, sehingga akhirnya diputuskan bahwa orang bukan Yahudi yang menjadi Kristen tidaklah perlu disunat. Hal ini sangatlah menentukan yaitu: orang Kristen TIDAK BOLEH disunat. Kalau orang Kristen disunat, berarti menyalahi Firman Tuhan dan berdosa. Kalau seandainya hal ini boleh dilakukan dan boleh tidak dilakukan maka masalah sunat tidaklah perlu dibawa sampai pada sidang Yerusalem. Urusan ini sangatlah penting karena menentukan hidup iman dan sejarah kekristenan sepanjang sejarah zaman.

 

Tanggapan Budi Asali:

Hmmm, ini jadinya kalau khotbah tanpa pernah membacakan text Alkitabnya; kelihatannya Pdt. Sutjipto Subeno meniru cara Pak Tong yang kalau khotbah hampir tidak pernah bacakan ayat Alkitab dan kalaupun membacakan, seringkali dibaca luar kepala dan salah (karena ingatannya salah)!

Pdt. Sutjipto Subeno mengatakan bahwa Sidang Gereja Yerusalem mengatakan orang Kristen ‘tidak boleh’ disunat! Nanti dalam khotbahnya tanggal 24 Februari 2013, Pdt. Sutjipto Subeno menekankan lagi secara sama dimana ia berkata: “Sidang Yerusalem merupakan konsili akbar gereja yang dihadiri oleh semua pimpinan gereja pada waktu itu termasuk para rasul. Sidang tersebut mengambil keputusan yang sangat penting berkaitan dengan keselamatan orang yang tak bersunat (non-Yahudi). Sidang Yerusalem mengambil keputusan bahwa orang percaya TIDAK BOLEH disunat. Keputusan ini diterima oleh semuanya termasuk Petrus/ Kefas.”. Saya ingin tanya: mana ayatnya yang mengatakan bahwa Sidang Gereja itu memutuskan bahwa orang-orang non Yahudi ‘tidak boleh’ disunat? Bagi para pembaca tulisan / sanggahan saya ini silahkan baca seluruh Kis 15 yang saya berikan di bawah ini, dan siapapun bisa melihat bahwa tidak ada ayat yang berbunyi seperti itu. Kis 15 menceritakan pertentangan Paulus dan Barnabas vs orang-orang Yahudi Kristen, yang mengharuskan sunat dan ketaatan pada hukum Taurat sebagai tambahan syarat keselamatan (selain iman kepada Kristus). Paulus dan Barnabas bukan menentang sunatnya, tetapi menentang pandangan bahwa sunat berhubungan dengan keselamatan (ay 1-2,5)! Dan dalam Sidang Gereja Yerusalem itu jelas Paulus dan Barnabas yang dibenarkan, dan karena itu sunat tidak diharuskan untuk keselamatan (ay 10-11,19-21,28-29), tetapi juga tidak ada larangan sunat, selama tak berurusan dengan kepercayaan bahwa hal itu punya andil dalam menyelamatkan seseorang. Hanya ada beberapa larangan, yaitu makan daging persembahan kepada berhala, darah, daging binatang yang mati tercekik (karena ini berarti darahnya ada di dalam dagingnya), dan percabulan (ay 20,29). Tak ada larangan sunat, selama itu tak berurusan dengan keselamatan!

 

Kis 15:1-41 - “(1) Beberapa orang datang dari Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan kepada saudara-saudara di situ: ‘Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan.’ (2) Tetapi Paulus dan Barnabas dengan keras melawan dan membantah pendapat mereka itu. Akhirnya ditetapkan, supaya Paulus dan Barnabas serta beberapa orang lain dari jemaat itu pergi kepada rasul-rasul dan penatua-penatua di Yerusalem untuk membicarakan soal itu. (3) Mereka diantarkan oleh jemaat sampai ke luar kota, lalu mereka berjalan melalui Fenisia dan Samaria, dan di tempat-tempat itu mereka menceriterakan tentang pertobatan orang-orang yang tidak mengenal Allah. Hal itu sangat menggembirakan hati saudara-saudara di situ. (4) Setibanya di Yerusalem mereka disambut oleh jemaat dan oleh rasul-rasul dan penatua-penatua, lalu mereka menceriterakan segala sesuatu yang Allah lakukan dengan perantaraan mereka. (5) Tetapi beberapa orang dari golongan Farisi, yang telah menjadi percaya, datang dan berkata: ‘Orang-orang bukan Yahudi harus disunat dan diwajibkan untuk menuruti hukum Musa.’ (6) Maka bersidanglah rasul-rasul dan penatua-penatua untuk membicarakan soal itu. (7) Sesudah beberapa waktu lamanya berlangsung pertukaran pikiran mengenai soal itu, berdirilah Petrus dan berkata kepada mereka: ‘Hai saudara-saudara, kamu tahu, bahwa telah sejak semula Allah memilih aku dari antara kamu, supaya dengan perantaraan mulutku bangsa-bangsa lain mendengar berita Injil dan menjadi percaya. (8) Dan Allah, yang mengenal hati manusia, telah menyatakan kehendakNya untuk menerima mereka, sebab Ia mengaruniakan Roh Kudus juga kepada mereka sama seperti kepada kita, (9) dan Ia sama sekali tidak mengadakan perbedaan antara kita dengan mereka, sesudah Ia menyucikan hati mereka oleh iman. (10) Kalau demikian, mengapa kamu mau mencobai Allah dengan meletakkan pada tengkuk murid-murid itu suatu kuk, yang tidak dapat dipikul, baik oleh nenek moyang kita maupun oleh kita sendiri? (11) Sebaliknya, kita percaya, bahwa oleh kasih karunia Tuhan Yesus Kristus kita akan beroleh keselamatan sama seperti mereka juga.’ (12) Maka diamlah seluruh umat itu, lalu mereka mendengarkan Paulus dan Barnabas menceriterakan segala tanda dan mujizat yang dilakukan Allah dengan perantaraan mereka di tengah-tengah bangsa-bangsa lain. (13) Setelah Paulus dan Barnabas selesai berbicara, berkatalah Yakobus: ‘Hai saudara-saudara, dengarkanlah aku: (14) Simon telah menceriterakan, bahwa sejak semula Allah menunjukkan rahmatNya kepada bangsa-bangsa lain, yaitu dengan memilih suatu umat dari antara mereka bagi namaNya. (15) Hal itu sesuai dengan ucapan-ucapan para nabi seperti yang tertulis: (16) Kemudian Aku akan kembali dan membangunkan kembali pondok Daud yang telah roboh, dan reruntuhannya akan Kubangun kembali dan akan Kuteguhkan, (17) supaya semua orang lain mencari Tuhan dan segala bangsa yang tidak mengenal Allah, yang Kusebut milikKu demikianlah firman Tuhan yang melakukan semuanya ini, (18) yang telah diketahui dari sejak semula. (19) Sebab itu aku berpendapat, bahwa kita tidak boleh menimbulkan kesulitan bagi mereka dari bangsa-bangsa lain yang berbalik kepada Allah, (20) tetapi kita harus menulis surat kepada mereka, supaya mereka menjauhkan diri dari makanan yang telah dicemarkan berhala-berhala, dari percabulan, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari darah. (21) Sebab sejak zaman dahulu hukum Musa diberitakan di tiap-tiap kota, dan sampai sekarang hukum itu dibacakan tiap-tiap hari Sabat di rumah-rumah ibadat.’ (22) Maka rasul-rasul dan penatua-penatua beserta seluruh jemaat itu mengambil keputusan untuk memilih dari antara mereka beberapa orang yang akan diutus ke Antiokhia bersama-sama dengan Paulus dan Barnabas, yaitu Yudas yang disebut Barsabas dan Silas. Keduanya adalah orang terpandang di antara saudara-saudara itu. (23) Kepada mereka diserahkan surat yang bunyinya: ‘Salam dari rasul-rasul dan penatua-penatua, dari saudara-saudaramu kepada saudara-saudara di Antiokhia, Siria dan Kilikia yang berasal dari bangsa-bangsa lain. (24) Kami telah mendengar, bahwa ada beberapa orang di antara kami, yang tiada mendapat pesan dari kami, telah menggelisahkan dan menggoyangkan hatimu dengan ajaran mereka. (25) Sebab itu dengan bulat hati kami telah memutuskan untuk memilih dan mengutus beberapa orang kepada kamu bersama-sama dengan Barnabas dan Paulus yang kami kasihi, (26) yaitu dua orang yang telah mempertaruhkan nyawanya karena nama Tuhan kita Yesus Kristus. (27) Maka kami telah mengutus Yudas dan Silas, yang dengan lisan akan menyampaikan pesan yang tertulis ini juga kepada kamu. (28) Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami, supaya kepada kamu jangan ditanggungkan lebih banyak beban dari pada yang perlu ini: (29) kamu harus menjauhkan diri dari makanan yang dipersembahkan kepada berhala, dari darah, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari percabulan. Jikalau kamu memelihara diri dari hal-hal ini, kamu berbuat baik. Sekianlah, selamat.’ (30) Setelah berpamitan, Yudas dan Silas berangkat ke Antiokhia. Di situ mereka memanggil seluruh jemaat berkumpul, lalu menyerahkan surat itu kepada mereka. (31) Setelah membaca surat itu, jemaat bersukacita karena isinya yang menghiburkan. (32) Yudas dan Silas, yang adalah juga nabi, lama menasihati saudara-saudara itu dan menguatkan hati mereka. (33) Dan sesudah beberapa waktu keduanya tinggal di situ, saudara-saudara itu melepas mereka dalam damai untuk kembali kepada mereka yang mengutusnya. (34) (Tetapi Silas memutuskan untuk tinggal di situ.) (35) Paulus dan Barnabas tinggal beberapa lama di Antiokhia. Mereka bersama-sama dengan banyak orang lain mengajar dan memberitakan firman Tuhan. (36) Tetapi beberapa waktu kemudian berkatalah Paulus kepada Barnabas: ‘Baiklah kita kembali kepada saudara-saudara kita di setiap kota, di mana kita telah memberitakan firman Tuhan, untuk melihat, bagaimana keadaan mereka.’ (37) Barnabas ingin membawa juga Yohanes yang disebut Markus; (38) tetapi Paulus dengan tegas berkata, bahwa tidak baik membawa serta orang yang telah meninggalkan mereka di Pamfilia dan tidak mau turut bekerja bersama-sama dengan mereka. (39) Hal itu menimbulkan perselisihan yang tajam, sehingga mereka berpisah dan Barnabas membawa Markus juga sertanya berlayar ke Siprus. (40) Tetapi Paulus memilih Silas, dan sesudah diserahkan oleh saudara-saudara itu kepada kasih karunia Tuhan (41) berangkatlah ia mengelilingi Siria dan Kilikia sambil meneguhkan jemaat-jemaat di situ.”.

 

Bagi orang yang sudah terlanjur disunat sebelum keputusan sidang Yerusalem diambil tidaklah dipermasalahkan, tetapi keturunan mereka sesudah sidang Yerusalem tidaklah boleh disunat. Hal ini sangat penting karena kondisi di dalam Kristus merupakan kondisi satu-satunya yaitu hanya di dalam Kristus melalui iman, hanya dengan penebusan darah Kristus dan tidak boleh dilakukan dengan cara lain. Sunat merupakan gambaran dari penebusan darah oleh Kristus di zaman PL, jadi ketika Kristus sudah datang di zaman PB maka sunat ditiadakan. Kalau sunat tetap dilakukan, berarti merupakan pelecehan terhadap Kristus.

 

Tanggapan Budi Asali:

Lagi-lagi tanpa ayat dasar apapun! Dimana dikatakan bahwa keturunan mereka tak boleh disunat?

Dan apakah benar bahwa sunat adalah ‘gambaran dari penebusan darah oleh Kristus di zaman PL’? Mana dasarnya? Coba kita baca dalam Kej 17, dimana Allah pertama kalinya mengharuskan sunat dalam Perjanjian Lama.

 

Kej 17:9-11,14 - “(9) Lagi firman Allah kepada Abraham: ‘Dari pihakmu, engkau harus memegang perjanjianKu, engkau dan keturunanmu turun-temurun. (10) Inilah perjanjianKu, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat; (11) haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dan kamu. ... (14) Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjianKu.’”.

 

Calvin (tentang Kej 17:9): “For circumcision was as a solemn memorial of that adoption, by which the family of Abraham had been elected to be the peculiar people of God.” (= Karena sunat adalah suatu peringatan khidmat tentang adopsi itu, dengan mana keluarga Abraham telah dipilih untuk menjadi umat khusus dari Allah.).

 

Calvin (tentang Kej 17:10): “the Lord commanded circumcision for two reasons; first, to show that whatever is born of man is polluted; then, that salvation would proceed from the blessed seed of Abraham. In the first place, therefore, whatever men have peculiar to themselves, by generation, God has condemned, in the appointment of circumcision; in order that the corruption of nature being manifest, he might induce them to mortify their flesh. Whence also it follows, that circumcision was a sign of repentance.” (= Tuhan memerintahkan sunat untuk dua alasan; pertama, untuk menunjukkan bahwa apapun yang dilahirkan dari manusia adalah kotor; lalu, bahwa keselamatan akan keluar dari benih / keturunan yang diberkati dari Abraham. Karena itu, di tempat pertama, apapun yang manusia punyai khusus bagi diri mereka sendiri, oleh tindakan memperanakkan, telah Allah kecam, dalam penetapan dari sunat; supaya kejahatan dari alam terlihat / dinyatakan, Ia bisa menyebabkan mereka untuk mematikan daging mereka. Karena itu akibat logisnya adalah bahwa sunat adalah tanda dari pertobatan.).

 

Louis Berkhof: in Rom. 4:11 he speaks of the circumcision of Abraham as a seal of the righteousness of faith; (= dalam Roma 4:11 ia berbicara tentang sunatnya Abraham sebagai suatu meterai dari kebenaran dari iman;) - ‘Systematic Theology’, hal 619.

 

Pdt. Sutjipto Subeno mengatakan: Ketika Kristus datang di zaman PB maka sunat ditiadakan. Ini memang benar, sunat ditiadakan sebagai suatu sakramen.

 

Lalu Pdt. Sutjipto Subeno mengatakan ‘kalau sunat tetap dilakukan, berarti merupakan pelecehan terhadap Kristus’. Alangkah ‘brilian’nya pemikiran ini! Genius! Saya akan memberikan 2 hal sebagai tanggapan berkenaan dengan hal ini:

 

Pertama: Kalau setelah kedatangan dan kematian Kristus di kayu salib sunat ditiadakan sebagai sakramen, dan karena itu Pdt. Sutjipto Subeno lalu melarang sunat tak peduli dengan alasan apapun sunat itu dilakukan, maka larangan itu mempunyai konsekwensi logis. Apa konsekwensi logisnya? Dalam jaman Perjanjian Lama, ada sakramen kedua, yaitu Perjamuan Paskah.

Kel 12:3,8,14 - “(3) Katakanlah kepada segenap jemaah Israel: Pada tanggal sepuluh bulan ini diambillah oleh masing-masing seekor anak domba, menurut kaum keluarga, seekor anak domba untuk tiap-tiap rumah tangga. ... (8) Dagingnya harus dimakan mereka pada malam itu juga; yang dipanggang mereka harus makan dengan roti yang tidak beragi beserta sayur pahit. ... (14) Hari ini akan menjadi hari peringatan bagimu. Kamu harus merayakannya sebagai hari raya bagi TUHAN turun-temurun. Kamu harus merayakannya sebagai ketetapan untuk selamanya.”.

Dengan kedatangan dan kematian Kristus maka sakramen kedua dari Perjanjian Lama ini juga ditiadakan. Ini terlihat dari 1Kor 5:7b - “Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus.”. Juga ini terlihat dari fakta bahwa pada waktu Yesus melakukan Perjamuan Paskah yang terakhir, pada malam sebelum Ia disalibkan, Ia tahu-tahu melanjutkan dengan melakukan Perjamuan Kudus, yang jelas menunjukkan bahwa sejak saat itu, Perjamuan Paskah diganti dengan sakarmen kedua dalam Perjanjian Baru, yaitu Perjamuan Kudus.

Sekarang, kalau sunat dihapuskan dan diganti dengan baptisan, dan Pdt. Sutjipto Subeno lalu mengajarkan (tanpa dasar Alkitab) bahwa sekarang sunat dilarang bagi orang-orang non Yahudi, apapun alasannya, maka konsekwensi logisnya adalah: karena Perjamuan Paskah juga telah ditiadakan dengan kedatangan dan kematian Kristus, maka orang tidak boleh lagi makan roti tak beragi, sayur pahit, dan domba, APAPUN ALASANNYA!

 

Sekarang, kita kembali pada larangan sunat oleh Pdt. Sutjipto Subeno, yang menambahkan bahwa kalau itu dilakukan pada jaman Perjanjian Baru, maka itu merupakan pelecehan terhadap Kristus! Lalu bagaimana dengan Paulus yang menyunatkan Timotius dalam Kis 16:3? Dia (dan juga Timotius) melecehkan Kristus? Jelas bahwa Pdt. Sutjipto Subenolah yang melecehkan Firman Tuhan dan Paulus!

Kis 16:1-3 - “(1) Paulus datang juga ke Derbe dan ke Listra. Di situ ada seorang murid bernama Timotius; ibunya adalah seorang Yahudi dan telah menjadi percaya, sedangkan ayahnya seorang Yunani. (2) Timotius ini dikenal baik oleh saudara-saudara di Listra dan di Ikonium, (3) dan Paulus mau, supaya dia menyertainya dalam perjalanan. Paulus menyuruh menyunatkan dia karena orang-orang Yahudi di daerah itu, sebab setiap orang tahu bahwa bapanya adalah orang Yunani.”.

 

Calvin (tentang Kis 16:3): “Luke doth plainly express that Timothy was not circumcised, because it was necessary it should be so, or because the religion of that sign did continue as yet, but that Paul might avoid an offense. Therefore there was respect had of men, whereas the matter was free before God. Wherefore, the circumcising of Timothy was no sacrament, as was that which was given to Abraham and his posterity, (Genesis 17:13;) but an indifferent ceremony which served only for nourishing of love, and not for any exercise of godliness.” [= Lukas dengan jelas menyatakan bahwa Timotius disunat bukan karena adalah perlu / harus demikian, atau karena agama dari tanda itu masih berlaku terus, tetapi supaya Paulus bisa menghindari suatu batu sandungan. Karena itu di sana ada rasa hormat terhadap manusia, sedangkan persoalan itu adalah bebas di hadapan Allah. Karena itu penyunatan Timotius bukanlah sakramen, seperti yang diberikan kepada Abraham dan keturunannya, (Kej 17:13); tetapi suatu upacara yang biasa / tak penting (bukannya baik ataupun buruk) yang berguna hanya untuk memelihara kasih, dan bukan untuk pelaksanaan kesalehan apapun.].

 

Dalam tulisan Paulus kepada jemaat Galatia, ada ayat-ayat yang kelihatannya melarang sunat secara keras, seperti Gal 5:2-3 - “(2) Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu. (3) Sekali lagi aku katakan kepada setiap orang yang menyunatkan dirinya, bahwa ia wajib melakukan seluruh hukum Taurat.”.

Ayat-ayat seperti ini hanya berlaku untuk orang-orang yang sunat dengan alasan rohani, atau menghubungkannya dengan keselamatan.

 

Tetapi ada juga ayat-ayat yang Paulus katakan, yang jelas tidak melarang sunat, seperti:

1Kor 7:19 - “Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak penting. Yang penting ialah mentaati hukum-hukum Allah.”.

Gal 5:6 - “Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih.”.

Gal 6:15 - “Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya.”.

Ayat-ayat ini berlaku untuk orang-orang yang sunat, bukan karena alasan rohani. Kalau sunat memang dilarang secara mutlak, seperti yang dikatakan oleh Pdt. Sutjipto Subeno, bisakah Paulus mengatakan ‘bersunat atau tidak bersunat tidak penting / tidak ada artinya’?

 

Jadi, jelas bahwa khotbah Pdt. Sutjipto Subeno ini bertentangan frontal dengan Alkitab. Bagaimana khotbah yang bertentangan frontal dengan Alkitab seperti ini bisa disebut sebagai Alkitabiah? Mendatangkan berkat? Membangun kerohanian / iman? Bagus sekali!

 

Dunia memaksakan pelaksanaan sunat dengan memakai alasan kesehatan. Hal ini merupakan penipuan karena mayoritas penduduk dunia adalah tidak bersunat dan tidak mengalami gangguan kesehatan akibat tidak bersunat. Lalu ada apakah dibalik pemaksaan pelaksanaan sunat? 1) upaya setan untuk mengencerkan Theologi Kristen. Dengan seperti itu orang Kristen akan menjadi ambigu identitasnya dan akan berbaur tanpa disadari; keeksklusifan posisi Kristen menjadi diencerkan. Hal ini sangat berkaitan dengan iman kita dan panggilan kita. 2) merupakan strategi dari golongan bersunat. Untuk menarik orang dari golongan tidak bersunat menjadi golongan bersunat salah satu kendalanya adalah masalah sunat, maka mereka berusaha membuat anak-anak disunat terlebih dahulu sehingga ketika mereka besar sudah tidak menjadi masalah lagi.

 

Tanggapan Budi Asali:

Lagi-lagi suatu pemikiran yang ‘brilian’! Sudah jelas ia sendiri mengatakan ‘alasan kesehatan’. Dan ia lalu mengatakan ini sebagai suatu ‘penipuan’!!! Alasannya yang ‘brilian’? Karena orang tak bersunat tidak mengalami gangguan kesehatan! Dokterkah dia? Lulusan dari mana? Orang bodohpun tahu bahwa sunat ‘lebih bersih’ dari pada tidak sunat. Dan semua orang Amerika sunat (yang kulit putih khususnya), mungkin sekali karena alasan ini!

 

Saya mencari di google tentang manfaat dari sunat, dan saya mendapatkan dari:

http://www.nhs.uk/Conditions/Circumcision/Pages/Advantages-and-disadvantages.aspx

yang mengatakan sebagai berikut:

Keuntungan dari sunat: 1. Mengurangi kemungkinan infeksi. 2. Mengurangi kemungkinan terkena HIV / AIDS. 3. Mengurangi resiko terkena kanker penis.

Sedangkan kerugian dari sunat: 1. Kepekaan penis berkurang sehingga mengurangi kenikmatan hubungan sex. 2. Kemungkinan terjadi pendarahan paska operasi penyunatan tersebut.

 

Lalu saya juga mendapatkan dari:

http://online.wsj.com/article/SB10001424127887324798904578531063301112102.html

yang akan saya kutip sedikit di sini:

“newer studies indicate the health benefits of circumcision do outweigh the risks and that parents should be told of its protective effects” (= pembelajaran-pembelajaran yang lebih baru menunjukkan keuntungan-keuntungan kesehatan dari sunat lebih banyak dari pada resiko-resikonya, dan bahwa orang tua harus diberitahu tentang pengaruh-pengaruh perlindungannya).

 

Saya tak akan berpanjang-panjang / berlama-lama dalam persoalan ini karena ini bukan diskusi tentang kedokteran, tetapi secara singkat telah saya tunjukkan bahwa sunat memang mempunyai manfaat dalam kesehatan. Tetapi apa yang dikatakan oleh Pdt. Sutjipto Subeno? Saya kutip kata-katanya di sini: “Dunia memaksakan pelaksanaan sunat dengan memakai alasan kesehatan. Hal ini merupakan penipuan karena mayoritas penduduk dunia adalah tidak bersunat dan tidak mengalami gangguan kesehatan akibat tidak bersunat”.

Ini adalah tuduhan kurang ajar yang sama sekali tak berdasar! Apakah kalau ada orang tak sunat dan lalu mengalami problem, ia lalu lapor kepada Pdt. Sutjipto Subeno sehingga Pdt. Sutjipto Subeno bisa tahu hal itu?

 

Lalu ada kata ‘pemaksaan’ yang saya garis-bawahi! Dari mana gerangan muncul kata itu? Betul-betul tolol!

 

Lalu ini adalah tipu muslihat setan untuk mengencerkan theologia kekristenan? Dan juga strategi golongan bersunat, ‘untuk menarik orang dari golongan yang tak bersunat menjadi golongan bersunat’? Hehehe, lagi-lagi sesuatu yang sangat ‘brilian’!

 

Lalu ia juga mengatakan Dengan seperti itu orang Kristen akan menjadi ambigu identitasnya dan akan berbaur tanpa disadari; keeksklusifan posisi Kristen menjadi diencerkan. Hal ini sangat berkaitan dengan iman kita dan panggilan kita..

 

Orang ini bicara berlagak pintar, tetapi coba pikir, apakah ini ada logikanya ataupun dasar Alkitabnya? Sama sekali tidak ada. Apa hubungannya kalau orang Kristen sunat lalu identitasnya kok bisa ambigu (kabur / tak jelas)? Ingat bahwa orang dunia juga banyak yang tidak sunat. Agama Buddha, Hindu, Khong Hu Cu, setahu saya tak mengharuskan sunat. Jadi kalau orang Kristen tidak sunat apakah nggak sama saja? Kalau orang Kristen sunat identitas orang Kristen jadi ambigu berhubungan dengan orang dunia yang sunat, tetapi kalau orang Kristen tak sunat, bisa juga dikatakan identitas orang Kristen jadi ambigu berhubungan dengan orang dunia yang tak sunat.

 

Lalu ‘berbaur tanpa disadari’? Lucu sekali, memangnya kita bisa melihat orang lain sunat atau tidak? Dan orang lain bisa melihat kita sunat atau tidak? Dan apa salahnya berbaur? Pdt. Sutjipto Subeno mau membentuk kelompok Kristen yang terpisah total dari dunia? Kata-kata Pdt. Sutjipto Subeno ini justru bertentangan dengan kata-kata Paulus di bawah ini:

 

1Kor 9:20-23 - “(20) Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat. (21) Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat. (22) Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka. (23) Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya.”.

 

Paulus menyesuaikan diri dengan orang-orang yang ia injili, selama penyesuaian diri itu tidak bertentangan dengan firman Tuhan! Dan saya yakin itu juga alasannya mengapa Paulus menyuruh Timotius untuk sunat dalam Kis 16:3 yang telah saya berikan di atas.

 

Saya betul-betul tak mengerti dari mana hal-hal ‘brilian’ seperti ini bisa muncul dalam otak Pdt. Sutjipto Subeno! Tetapi otak normal memang tidak bisa mengerti otak yang idiot, lebih-lebih otak idiot yang sok pintar!

 

Satu hal lain lagi adalah: ada orang-orang yang karena bentuk fisik dari penisnya, memang harus disunat. Anak saya termasuk yang seperti itu! Pasti dokter Sutjipto Subeno tak mengerti hal ini, karena waktu kuliah dulu dia membolos pada saat pelajaran ini diberikan!

 

Perlu untuk kita ingat bahwa janganlah kita merelatifkan hal yang absolut, dan janganlah kita mengabsolutkan hal yang relatif; janganlah mempermainkan hal-hal yang penting yang menyangkut iman/ keselamatan kita dan janganlah menganggap penting hal-hal yang tidak penting.

 

Tanggapan Budi Asali:

Justru Pdt. Sutjipto Subenolah yang memutlakkan sesuatu relatif! Sunat jelas tak dilarang secara mutlak. Sunat hanya dilarang pada saat ada kepercayaan rohani tertentu di balik pelaksanaan sunat itu. Apakah mereka percaya bahwa sunat penting untuk bisa masuk surga, atau sunat penting untuk bisa lebih kudus, atau sunat penting supaya bisa lebih diberkati oleh Tuhan, maka dalam hal-hal seperti ini sunat dilarang.

Tetapi sunat dengan alasan yang murni bersifat jasmani / sekuler, sama sekali tidak dilarang!

 

Pdt. Sutjipto Subeno sendiri mengatakan ‘janganlah mempermainkan hal-hal yang penting yang menyangkut iman/ keselamatan kita’! Kalau sunatnya tidak berurusan dengan keselamatan, tidak apa-apa, bukan?

 

Pdt. Sutjipto Subeno juga mengatakan “janganlah menganggap penting hal-hal yang tidak penting”. Kata-kata Paulus yang sudah saya kutip di atas saya ulang di sini:

1Kor 7:19 - “Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak penting. Yang penting ialah mentaati hukum-hukum Allah.”.

Gal 5:6 - “Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih.”.

Gal 6:15 - “Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya.”.

Saya ingatkan, 3 ayat ini hanya berlaku kalau sunat dilakukan tanpa alasan rohani apapun! Dan dalam hal seperti itu, Paulus mengatakan sunat atau tidak sunat itu ‘tidak penting’, ‘tidak mempunyai sesuatu arti’, dan ‘tidak ada artinya’.

Tetapi Pdt. Sutjipto Subeno mengatakan “janganlah menganggap penting hal-hal yang tidak penting”.

Bukankah dia sendiri yang menganggap penting hal yang oleh Paulus dianggap tidak penting?

 

3)         Pelayanan secara holistik.

Di akhir perdebatan theologis yang begitu ketat, Alkitab mencatat sebuah pesan untuk tidak melupakan orang miskin.

 

Tanggapan Budi Asali:

Lagi-lagi mengajar tanpa menyebutkan ayatnya. Bagaimana orang tak jadi bingung? Hanya dengan menunjukkan Gal 2:10 maka semua jadi jelas.

Gal 2:10 - “hanya kami harus tetap mengingat orang-orang miskin dan memang itulah yang sungguh-sungguh kuusahakan melakukannya.”.

 

Pesan ini mengingatkan kita akan bahaya di tengah dunia ini dimana manusia memiliki kecenderungan jatuh dari satu ekstrim ke ekstrim yang lain. Ketika sibuk berbicara hal-hal yang bersifat doktrinal, yang menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan, hal-hal yang bersifat rohani, manusia cenderung melupakan aspek sosial. Harus diingat bahwa manusia mempunyai natur rohani sekaligus natur jasmani, dan tidak boleh ada yang diabaikan.

Orang miskin seringkali muncul karena kegagalan theologis. Orang miskin seringkali muncul karena kemalasan lalu mempersalahkan lingkungan, diri sendiri, semua orang, tetapi mereka tidak mau berjuang seperti bijaksana yang dituntut oleh Tuhan. Sangatlah diperlukan upaya membangun kebutuhan jasmani di dalam pengertian theologis yang sejati. Theologi yang sejati haruslah membangun seluruh totalitas kemanusiaan secara holistik/ totalitas. Bangunlah jasmani dengan pemikiran rohani/ theologis yang benar, bangunlah rohani dengan dukungan jasmani yang baik. Kedua hal ini tidak boleh dilepaskan satu sama lain. Di dalam seluruh pelayanan kita, haruslah kita jaga keseimbangan antara 2 hal ini, bagaimana keduanya bisa bertumbuh mempermuliakan Tuhan.

Ketiga hal yang dibahas dalam sidang Yerusalem ini kalau kita jalankan di abad ini, maka akan menjadikan pelayanan kekristenan menjadi kokoh, dan iman Kristen bertumbuh secara total.

(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

 

Tanggapan Budi Asali:

Memasukkan ringkasan khotbah ke internet, tetapi belum diperiksa oleh pengkhotbah! Jadi, bukan dia yang menulis, dan dia tidak / belum memeriksanya, tetapi sudah dimasukkan ke internet. Ini tindakan tak bertanggung jawab, karena kalau tahu-tahu ada kesalahan, itu bisa tersebar luas. Dan saya kira, ini dituliskan juga untuk menghindari tanggung jawab. Jadi, kalau khotbah ini disalahkan, ia bisa berkelit dengan mengatakan, ‘Itu belum saya periksa kok, jadi yang nulis yang salah’! Ini lagi-lagi merupakan suatu kekurang-ajaran!

Sangat berbeda dengan tulisan-tulisan saya, yang kami masukkan ke internet / web. Semua tulisan itu saya buat sendiri!

 

Penutup:

 

Pdt. Sutjipto Subeno jelas tak sunat, itu tak saya masalahkan, karena memang tak harus sunat. Tetapi bahwa ia melarang sunat, di tengah-tengah banyaknya ayat Alkitab yang tak mempermasalahkan hal itu selama tak dihubungkan dengan keselamatan / kerohanian, maka saya simpulkan bahwa Pdt. Sutjipto Subeno bukan hanya tidak disunat secara jasmani, tetapi terutama tidak disunat hati, telinga dan pikirannya! Bandingkan dengan kata Stefanus dalam sidang Mahkamah Agama Yahudi di bawah ini:

Kis 7:51 - “Hai orang-orang yang keras kepala dan yang tidak bersunat hati dan telinga, kamu selalu menentang Roh Kudus, sama seperti nenek moyangmu, demikian juga kamu.”.

 

-o0o-

 


 

 

http://golgothaministry.org

e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com