kebaktian

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)

 

Minggu, tgl 19 November 2017, pk 08.00 & 17.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

reformasi 500 tahun(4)

 

IV) Luther di Roma.

 

Cerita tentang pertobatan Luther agak simpang siur, dan sukar dipastikan kapan persisnya ia sungguh-sungguh bertobat dan diselamatkan. Pengertiannya dan kepercayaannya akan keselamatan / pembenaran karena iman yang diajarkan oleh Ro 1:17 itupun melalui pergumulan hebat dan cukup lama. Karena itu, pada tahun 1510, sekalipun ia sudah tahu tentang pembenaran karena iman, tetapi karena ia belum betul-betul mantap dalam hal itu, maka ia masih melakukan ziarah / perjalanan agama (pilgrimage) ke Roma. Ia berharap untuk bisa mendapatkan penghiburan untuk jiwanya dengan melakukan perjalanan ini.

Catatan: kalau menurur Dr. Albert Freundt Jr. dalam kutipan dalam pelajaran yang sudah lalu, ia bertobat pada sekitar tahun 1512-1513. Kalau demikian, maka pada saat ia pergi ke Roma ini, ia memang belum betul-betul bertobat, dan masih dalam tahap pergumulan.

 

David Schaff: An interesting episode in the history of Luther’s training for the Reformation was his visit to Rome. ... In the autumn of the year 1510, after his removal to Wittenberg, but before his graduation as doctor of divinity, Luther was sent to Rome ... When Luther came in sight of the eternal city he fell upon the earth, raised his hands and exclaimed, ‘Hail to thee, holy, Rome! Thrice holy for the blood of martyrs shed here.’ ... he ran, ‘like a crazy saint,’ through all the churches and crypts and catacombs with an unquestioning faith in the legendary traditions about the relics and miracles of martyrs. He wished that his parents were dead that he might help them out of purgatory by reading mass in the most holy place, according to the saying: ‘Blessed is the mother whose son celebrates mass on Saturday in St. John of the Lateran.’ He ascended on bended knees the twenty-eight steps of the famous Scala Santa (said to have been transported from the Judgment Hall of Pontius Pilate in Jerusalem), that he might secure the indulgence attached to this ascetic performance since the days of Pope Leo IV. in 850, but at every step the word of the Scripture sounded as a significant protest in his ear: ‘The just shall live by faith’ (Rom. 1:17). Thus at the very height of his mediaeval devotion he doubted its efficacy in giving peace to the troubled conscience. [= Suatu episode / kejadian yang menarik dalam sejarah dari pelatihan Luther untuk Reformasi adalah kunjungannya ke Roma. ... Pada musim rontok pada tahun 1510, setelah perpindahannya ke Wittenberg, tetapi sebelum kelulusannya sebagai Doctor of Divinity, Luther diutus ke Roma ... Pada waktu Luther melihat kota kekal itu ia berlutut, mengangkat tangannya dan berteriak dengan emosionil, ‘Salam kepadamu, Roma kudus! Tiga kali kudus untuk darah dari para martir yang dicurahkan di sini’. ... ia lari, ‘seperti orang kudus yang gila’, melalui semua gereja-gereja dan ruangan-ruangan bawah tanah dan kuburan-kuburan bawah tanah dengan suatu iman tanpa keraguan kepada tradisi-tradisi yang didasarkan pada dongeng tentang relics dan mujijat-mujijat dari para martir. Ia berharap orang tuanya sudah mati supaya ia bisa menolong mereka keluar dari api penyucian dengan membacakan missa di tempat maha kudus, menurut kata-kata: ‘Diberkatilah ibu yang anaknya merayakan missa pada hari Sabtu di Santo Yohanes dari Lateran (sebuah istana di Roma). Dengan menggunakan lututnya ia menaiki 28 anak tangga dari Scala Santa yang terkenal (dikatakan bahwa Scala Santa itu telah dipindahkan dari Ruang Pengadilan Pontius Pilatus di Yerusalem), supaya ia bisa memastikan pengampunan dosa yang dilekatkan pada pelaksanaan pendisiplinan dirinya sejak jaman Paus Leo IV pada tahun 850, tetapi pada setiap langkah kata-kata Kitab Suci terngiang di telinganya sebagai suatu protes: ‘Orang benar akan hidup oleh iman’ (Ro 1:17). Jadi, pada puncak dari kebaktian keagamaannya ia meragukan kemujarabannya dalam memberikan damai pada hati nurani yang kacau.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 126-129.

 

Renungkan: kira-kira apa dasar Alkitabnya yang mengatakan orang naik tangga bisa diampuni dosa-dosanya????

 

Sedikit pembahasan tentang Scala Sancta.

 

Wikipedia (tentang Scala Sancta): The Scala Sancta (English: Holy Stairs, Italian: Scala Santa) ... According to Roman Catholic tradition, the Holy Stairs are the steps leading up to the praetorium of Pontius Pilate in Jerusalem on which Jesus Christ stepped on his way to trial during his Passion. The Stairs reputedly were brought to Rome by St. Helena in the fourth century. For centuries, the Scala Sancta has attracted Christian pilgrims who wish to honor the Passion of Jesus Christ. ... In the Roman Catholic Church, a plenary indulgence has been conceded for climbing the stairs on the knees. Pope Pius VII on 2 September 1817 granted those who ascend the Stairs in the prescribed manner an indulgence of nine years for every step. Finally, Pope St. Pius X, on 26 February 1908, conceded a plenary indulgence as often as the Stairs are devoutly ascended after Confession and Holy Communion. ... Martin Luther climbed these steps on his knees in 1510. As he did so, he repeated the Our Father on each step. It was said, by doing this work one could ‘redeem a soul from purgatory.’ But when Luther arrived at the top he could not suppress his doubt, ‘Who knows whether this is true?’ [= The Scala Sancta (Inggris: Holy Stairs / Tangga Kudus, Italia: Scala Santa) ... Menurut tradisi Roma Katolik, Tangga Kudus adalah anak-anak tangga yang mengarah pada praetorium / ruang pengadilan Pontius Pilatus di Yerusalem pada mana Yesus Kristus melangkah pada jalanNya pada pengadilan selama penderitaanNya. Tangga itu pada umumnya dianggap telah dibawa ke Roma oleh Santa Helena pada abad keempat. Selama berabad-abad, Tangga Kudus itu telah menarik peziarah-peziarah Kristen yang ingin menghormati Penderitaan Yesus Kristus. ... Dalam Gereja Roma Katolik, suatu pengampunan dosa yang lengkap / sempurna telah diberikan untuk menaiki tangga itu dengan menggunakan lutut. Paus Pius VII pada tanggal 2 September 1817 memberikan mereka yang menaiki Tangga itu dengan cara yang sudah ditetapkan suatu pengampunan dosa dari 9 tahun untuk setiap langkah. Akhirnya, Paus Santo Pius X, pada tanggal 26 Februari 1908, memberikan suatu pengampunan dosa yang lengkap / sempurna sesering Tangga itu dinaiki dengan sungguh-sungguh percaya setelah Sakramen Pengakuan dosa dan Perjamuan Kudus. ... Martin Luther menaiki anak-anak tangga dengan menggunakan lututnya pada tahun 1510. Pada saat ia melakukan hal itu, ia mengulang Doa Bapa Kami pada setiap langkah. Dikatakan, dengan melakukan pekerjaan ini seseorang bisa ‘menebus satu jiwa dari api penyucian’. Tetapi pada waktu Luther sampai pada puncak ia tidak bisa menekan keragu-raguannya, ‘Siapa tahu apakah ini benar?’] - https://en.wikipedia.org/wiki/Scala_Sancta

 

Dari sumber Katolik sendiri dikatakan sebagai berikut: Scala Sancta (Holy Stairs) ... Consisting of twenty-eight white marble steps, at Rome, near the Lateran; according to tradition the staircase leading once to the prætorium of Pilate at Jerusalem, hence sanctified by the footsteps of Our Lord during his Passion. ... In its new site the Scala Sancta is flanked by four other stairs, two on each side, for common use, since the Holy Stairs may only be ascended on the knees, a devotion much in favour with pilgrims and the Roman faithful, especially on Fridays and in Lent. Not a few popes are recorded to have performed this pious exercise; ... Pius VII on 2 Sept., 1817 granted those who ascend the stairs in the prescribed manner an indulgence of nine years for every step. Finally Pius X, on 26 Feb., 1908, granted a plenary indulgence to be gained as often as the stairs are devoutly ascended after confession and communion.” [= Scala Sancta (Tangga Kudus) ... Terdiri dari 28 anak-anak tangga marmer putih, di Roma, dekat Lateran; menurut tradisi tangga yang pernah membimbing menuju Praetorium / gedung pengadilan Pilatus di Yerusalam (bdk. Mark 15:16), dan karena itu dikuduskan oleh langkah-langkah dari Tuhan kita selama masa penderitaanNya. ... Di tempatnya yang baru Scala Sancta itu diletakkan dekat dengan 4 tangga yang lain, 2 pada masing-masing sisi, untuk penggunaan biasa, karena Tangga Kudus itu hanya boleh dinaiki dengan menggunakan lutut, suatu pembaktian yang banyak diterima / dihormati oleh peziarah-peziarah dan orang-orang setia / percaya Roma, khususnya pada hari Jumat dan pada masa Lent. Tak sedikit Paus dicatat telah melaksanakan tindakan saleh ini; ... Paus Pius VII pada tanggal 2 September 1817 memberikan kepada mereka yang menaiki tangga ini dengan cara yang ditetapkan suatu pengampunan dosa dari 9 tahun untuk setiap langkah. Akhirnya Paus Pius X, pada tanggal 26 Februari 1908, memberikan suatu pengampunan dosa lengkap / penuh untuk didapatkan sesering tangga itu dinaiki secara berbakti setelah pengakuan dosa dan komuni.] - http://www.newadvent.org/cathen/13505a.htm

Catatan:

1.   Lateran adalah nama beberapa bangunan di Roma.

Lengkapnya bisa dilihat di link ini: https://en.wikipedia.org/wiki/Lateran

 2.  Mark 15:16 - Kemudian serdadu-serdadu membawa Yesus ke dalam istana, yaitu gedung pengadilan, dan memanggil seluruh pasukan berkumpul..

KJV: ‘praetorium’.

RSV/NIV/NASB: ‘the praetorium’.

3.   Lent adalah masa 40 hari yang dimulai pada Rabu Abu, selama sekitar 6 minggu, sampai menjelang Paskah.

Dikatakan bahwa “The purpose of Lent is the preparation of the believer through prayer, doing penance, mortifying the flesh, repentance of sins, almsgiving, and self-denial. This event is observed in the Anglican, Eastern Orthodox, Lutheran, Methodist, and Roman Catholic Churches. Some Anabaptist and evangelical churches also observe the Lenten season.” [= Tujuan dari Lent adalah persiapan dari orang percaya melalui doa, melakukan pengakuan dosa, mematikan daging, pertobatan dari dosa-dosa, memberi sedekah, dan penyangkalan diri. Peristiwa ini dirayakan / diperingati dalam Gereja-gereja Anglikan, Ortodox Timur, Lutheran, Metodist, dan Roma Katolik. Sebagian gereja-gereja Anabaptist dan injili juga merayakan / memperingati masa Lent.] - https://en.wikipedia.org/wiki/Lent

Saya sendiri tidak gubris sama sekali hal ini.

4.   Langkah-langkah Yesus menguduskan tangga? Adakah dasar Alkitabnya?

5.   Dua Paus dalam urusan indulgence itu memberikan keputusan yang berbeda. Yang pertama pengurangan 9 tahun dalam setiap langkah dengan lutut, yang kedua pengampunan penuh. Yang mana yang benar???

 

David Schaff: This doubt was strengthened by what he saw around him. He was ... shocked by the unbelief, levity and immorality of the clergy. Money and luxurious living seemed to have replaced apostolic poverty and self-denial. He saw nothing but worldly splendor at the court of Pope Julius II., ... He heard of the fearful crimes of Pope Alexander VI. and his family, which were hardly known and believed in Germany, but freely spoken of as undoubted facts in the fresh remembrance of all Romans. While he was reading one mass, a Roman priest would finish seven. ... He heard priests, when consecrating the elements, repeat in Latin the words: ‘Bread thou art, and bread thou shalt remain; wine thou art, and wine thou shalt remain.’ ... He was told that ‘if there was a hell, Rome was built on it,’ and that this state of things must soon end in a collapse. [= Keraguan ini diperkuat oleh apa yang ia lihat di sekitarnya. Ia ... terkejut oleh ketidak-percayaan, ketidak-seriusan yang tidak pada tempatnya, dan ketidak-bermoralan dari para pemimpin rohani. Uang dan kehidupan yang mewah kelihatannya telah menggantikan kemiskinan dan penyangkalan diri rasuli. Ia tak melihat apapun kecuali kemegahan duniawi di istana dari Paus Julius II, ... Ia mendengar kejahatan-kejahatan yang menakutkan dari Paus Alexander VI dan keluarganya, yang hampir tak diketahui dan dipercayai di Jerman, tetapi dibicarakan secara bebas sebagai fakta-fakta yang tak diragukan dalam ingatan yang segar dari semua orang Roma. Pada waktu ia membacakan satu missa, seorang pastor Roma telah menyelesaikan tujuh missa. ... Ia mendengar pastor-pastor, pada waktu menguduskan elemen-elemen, mengulang dalam bahasa Latin kata-kata: ‘Engkau adalah roti, dan engkau tetap adalah roti; engkau adalah anggur, dan engkau tetap adalah anggur’. ... Ia diberitahu bahwa ‘jika di sana ada neraka, Roma dibangun di atasnya’, dan bahwa keadaan dari hal-hal ini pasti segera berakhir dalam keambrukan.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 129-130.

 

V) Luther di Wittenberg & ‘persiapan’ untuk Reformasi.

 

1)   Keadaan kota Wittenberg.

David Schaff: “Wittenberg was a poor and badly built town of about three thousand inhabitants in a dull, sandy, sterile plain on the banks of the Elbe, and owes its fame entirely to the fact that it became the nursery of the Reformation theology. Luther says that it lay at the extreme boundary of civilization, a few steps from barbarism, and speaks of its citizens as wanting in culture, courtesy and kindness. He felt at times strongly tempted to leave it. Melanchthon who came from the fertile Palatinate, complained that he could get nothing fit to eat at Wittenberg. Myconius, Luther’s friend, describes the houses as ‘small, old, ugly, low, wooden.’ Even the electoral castle is a very unsightly structure. The Elector laughed when Dr. Pollich first proposed the town as the seat of the new university. But Wittenberg was one of his two residences (the other being Torgau), had a new castle-church with considerable endowments and provision for ten thousand masses per annum and an Augustinian convent which could furnish a part of the teaching force, and thus cheapen the expenses of the institution.” [= Wittenberg adalah suatu kota miskin dan dibangun dengan buruk dengan sekitar 3000 penghuni di suatu dataran yang tidak menarik / tidak aktif, berpasir, tidak subur di tepi Sungai Elbe, dan berhutang kemasyhurannya sepenuhnya pada fakta bahwa itu menjadi tempat pertumbuhan / perkembangan dari theologia Reformasi. Luther berkata bahwa kota itu terletak di perbatasan yang extrim dari kebudayaan, beberapa langkah dari barbarisme / kebiadaban, dan berbicara tentang warganya sebagai kekurangan kebudayaan, kesopanan dan kebaikan. Kadang-kadang ia mempunyai perasaan yang kuat untuk meninggalkannya. Melanchthon yang datang dari kota Palatinate yang subur, mengeluh bahwa ia tidak bisa mendapatkan apapun yang cocok untuk dimakan di Wittenberg. Myconius, sahabat Luther, menggambarkan rumah-rumah sebagai ‘kecil, tua, jelek, rendah, dari kayu’. Bahkan benteng pemilihan / pemerintahan adalah suatu struktur yang sangat tidak menarik / tidak menyenangkan. Sang Pangeran tertawa ketika Dr. Pollich pertama-tama mengusulkan kota itu sebagai tempat dari Universitas yang baru. Tetapi Wittenberg adalah salah satu dari dua tempat (yang lain adalah Torgau), yang mempunyai suatu gereja-benteng yang baru dengan banyak dana dan penyuplaian untuk 10.000 missa per tahun dan suatu biara Augustinian yang bisa menyediakan sebagian tenaga pengajar, dan dengan demikian mempermurah pengeluaran dari institusi itu.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 134.

 

2)   Universitas Wittenberg.

David Schaff: “The university was opened October 18, 1502. The organization was intrusted to Dr. Pollich, the first rector, who on account of his extensive learning was called ‘lux mundi,’ and who had accompanied the Elector on a pilgrimage to Jerusalem (1493), and to Staupitz, the first Dean of the theological faculty, who fixed his eye at once upon his friend Luther as a suitable professor of theology.” [= Universitas itu dibuka pada tanggal 18 Oktober tahun 1502. Pengorganisasiannya dipercayakan pada Dr. Pollich, rektor yang pertama, yang karena pembelajarannya yang luas / banyak disebut ‘lux mundi’, dan yang telah menemani Sang Pangeran dalam perjalanan ziarah ke Yerusalem (1493), dan pada Staupitz, dekan yang pertama dari fakultas theologia, yang segera mengarahkan matanya pada sahabatnya, Luther, sebagai seorang yang cocok untuk menjadi profesor theologia.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 134.

Catatan: ‘lux mundi’ = ‘light of the world’ / terang dunia.

 

3)   Wittenberg dan kota-kota saingannya.

David Schaff: “Wittenberg had powerful rivals in the neighboring, older and better endowed Universities of Erfurt and Leipzig, but soon overshadowed them by the new theology. The principal professors were members of the Augustinian order, most of them from Tuebingen and Erfurt. The number of students was four hundred and sixteen in the first semester, then declined to fifty-five in 1505, partly in consequence of the pestilence, began to rise again in 1507, and when Luther and Melanchthon stood on the summit of their fame, they attracted thousands of pupils from all countries of Europe. Melanchthon heard at times eleven languages spoken at his hospitable table.” [= Wittenberg mempunyai saingan-saingan yang kuat di sekitarnya, Universitas-universitas Erfurt dan Leipzig yang lebih tua dan diperlengkapi dengan lebih baik, tetapi segera membuat mereka kurang penting oleh theologia yang baru itu. Profesor-profesor utama adalah anggota-anggota dari ordo Augustinian, kebanyakan dari mereka berasal dari Tuebingen dan Erfurt. Jumlah mahasiswa adalah 416 orang pada semester pertama, lalu menurun menjadi 55 pada tahun 1505, sebagian karena wabah, lalu mulai naik lagi pada tahun 1507, dan pada waktu Luther dan Melanchthon berdiri pada puncak kejayaan mereka, mereka menarik ribuan murid dari semua negara Eropah. Melanchthon kadang-kadang mendengar 11 bahasa digunakan di meja tamu / penerimaannya.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 134-135.

 

4)   Luther dipanggil ke Wittenberg.

David Schaff: “Luther was suddenly called by Staupitz from the Augustinian Convent of Erfurt to that of Wittenberg with the expectation of becoming at the same time a lecturer in the university. He arrived there in October, 1508, was called back to Erfurt in autumn, 1509, was sent to Rome in behalf of his order, 1510, returned to Wittenberg, 1511, and continued there till a few days before his death, 1546.” [= Luther mendadak dipanggil oleh Staupitz dari biara Augustinian di Erfurt ke biara Wittenberg dengan pengharapan pada saat yang sama menjadi seorang pengajar di Universitas. Ia sampai di sana dalam bulan Oktober tahun 1508, dipanggil kembali ke Erfurt pada musim rontok tahun 1509, diutus ke Roma demi kepentingan ordonya pada tahun 1510, kembali ke Wittenberg pada tahun 1511, dan terus di sana sampai beberapa hari sebelum kematiannya pada tahun 1546.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 135.

 

David Schaff: “He lived in the convent, even after his marriage. ... The lowliness of his work-shop forms a sublime contrast to the grandeur of his work. From their humble dwellings Luther and Melanchthon exerted a mightier influence than the contemporary popes and kings from their gorgeous palaces.” [= Ia tinggal di biara, bahkan setelah pernikahannya. ... Kerendahan dari tempat kerjanya membentuk suatu kontras yang mengesankan dengan kemegahan dari pekerjaannya. Dari tempat tinggalnya yang rendah, Luther dan Melanchthon menghasilkan suatu pengaruh yang lebih hebat dari pada paus-paus dan raja-raja yang sejaman dari istana-istana indah mereka.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 135-136.

Catatan: pendeta memang perlu perlengkapan, tetapi yang terpenting adalah orangnya adalah orang yang bagaimana. Banyak pendeta, yang sekalipun diberi perlengkapan yang terbaik, dan buku-buku sebanyak satu perpustakaan, tetap tidak belajar, dan tetap tidak menghasilkan apa-apa.

 

5)   Pelayanan Luther di Wittenberg.

David Schaff: “With the year 1512 his academic teaching began in earnest and continued till 1546, at first in outward harmony with the Roman church, but afterward in open opposition to it.” [= Pada tahun 1512 pengajaran akademisnya mulai serius dan berlanjut sampai tahun 1546, mula-mula dalam keharmonisan lahiriah dengan Gereja Roma, tetapi belakangan dalam pertentangan terbuka dengannya.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 137.

 

David Schaff: Although a doctor of divinity, he relied for several years almost exclusively on the Latin version of the Scriptures. Very few professors knew Greek, and still less, Hebrew. Luther had acquired a superficial idea of Hebrew at Erfurt from Reuchlin’s Rudimenta Hebraica. The Greek he learned at Wittenberg, we do not know exactly when, mostly from books and from his colleagues, Johann Lange and Melanchthon. As late as Feb. 18th, 1518, he asked Lange, ‘the Greek,’ a question about the difference between ἀνάθημα and ἀνάθεμα, and confessed that he could not draw the Greek letters. His herculean labor in translating the Bible forced him into a closer familiarity with the original languages, though he never attained to mastery. As a scholar he remained inferior to Reuchlin or Erasmus or Melanchthon, but as a genius he was their superior, and as a master of his native German he had no equal in all Germany. Moreover, he turned his knowledge to the best advantage, and always seized the strong point in controversy. He studied with all his might and often neglected eating and sleeping.” [= Sekalipun ia adalah seorang Doctor of Divinity, ia bersandar untuk beberapa tahun hampir secara exclusive / sepenuhnya pada versi Latin dari Kitab Suci. Sangat sedikit profesor mengerti bahasa Yunani, dan lebih sedikit lagi, bahasa Ibrani. Luther telah mendapatkan suatu pengertian yang dangkal tentang bahasa Ibrani di Erfurt dari Reuchlin’s Rudimenta Hebraica. Bahasa Yunani ia pelajari di Wittenberg, kami tidak tahu kapan persisnya, mayoritas dari buku-buku dan dari rekan-rekannya, Johann Lange dan Melanchthon. Sampai sangat belakangan, pada tanggal 18 Februari 1518, ia bertanya kepada Lange, ‘bahasa Yunani’, suatu pertanyaan tentang perbedaan antara ἀνάθημα dan ἀνάθεμα, dan mengakui bahwa ia tidak bisa menggambar / menulis huruf-huruf Yunani. Jerih payahnya yang sangat besar dalam menterjemahkan Alkitab memaksanya ke dalam keakraban yang lebih dekat dengan bahasa-bahasa asli, sekalipun ia tidak pernah mencapai penguasaan / keahlian yang baik. Sebagai seorang sarjana / seorang yang terpelajar ia tetap menjadi seorang yang lebih rendah dibanding dengan Reuchlin atau Erasmus atau Melanchthon, tetapi sebagai seorang genius ia lebih tinggi dari mereka, dan sebagai seorang penguasa dari bahasa kelahirannya Jerman tak ada yang setara dengan dia di seluruh Jerman. Lebih lagi, ia menggunakan pengetahuannya pada manfaat yang terbaik, dan selalu memfokuskan perhatian pada titik kuat dalam kontroversi / perdebatan. Ia belajar dengan sepenuh kekuatannya dan sering mengabaikan makan dan tidur.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 138.

Catatan:

a)   ἀνάθημα (ANATHEEMA) artinya ‘votive gift, offering’ [= pemberian sebagai penggenapan nazar, korban / persembahan].

b)   ἀνάθεμα (ANATHEMA) artinya ‘cursed, under a curse of God’ [= terkutuk, di bawah suatu kutuk dari Allah].

 

David Schaff: “Luther opened his theological teaching with David and Paul, who became the pillars of his theology. The Psalms and the Epistles to the Romans and Galatians remained his favorite books. His academic labors as a commentator extended over thirty-three years, from 1513 to 1546, his labors as a reformer embraced only twenty-nine years, from 1517 to 1546. Beginning with the Psalms, 1513, he ended with Genesis, November 17th, 1545, three months before his death.” [= Luther membuka / memulai pengajaran theologianya dengan Daud dan Paulus, yang menjadi tiang-tiang utama dalam theologianya. Mazmur dan Surat-surat Roma dan Galatia tetap merupakan kitab-kitab favoritnya. Jerih payah akademisnya sebagai seorang penafsir mencapai lebih dari 33 tahun, dari tahun 1513 sampai 1546, jerih payahnya sebagai seorang Tokoh Reformasi mencakup hanya 29 tahun, dari tahun 1517 sampai 1546. Mulai dengan kitab Mazmur, pada tahun 1513, ia mengakhiri dengan kitab Kejadian, tanggal 17 Nopember 1545, 3 bulan sebelum kematiannya.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 138.

Renungkan: tanpa banyak belajar, tidak mungkin Luther bisa menjadi seorang tokoh yang luar biasa seperti itu. Ini perlu diperhatikan, dan ditiru oleh pendeta, yang hanya belajar sedikit atau nol, dan banyak ‘cari duit’!

 

David Schaff: “These exegetical lectures made a deep impression. They were thoroughly evangelical, without being anti-catholic.” [= Pelajaran-pelajaran exegesis ini membuat kesan yang dalam. Mereka sepenuhnya injili, tanpa menjadi anti Katolik.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 141.

Catatan: kata-kata ini sebetulnya tidak masuk akal. Mungkin maksudnya ‘tak menyerang Katolik’. Saya berpendapat ini memang harus dilakukan, bukan karena takut, tetapi supaya injil bisa diberitakan. Pada waktu melayani gereja yang kacau balau dalam theologia, kita bisa memberitakan Injil saja, tanpa menyerang kebrengsekan gereja itu. Tetapi memang hal seperti ini tak bisa berlangsung selamanya.

 

David Schaff: “Luther and Mysticism. ... There are various types of mysticism, orthodox and heretical, speculative and practical. Luther came in contact with the practical and catholic type through Staupitz and the writings of St. Augustin, St. Bernard, and Tauler. It deepened and spiritualized his piety and left permanent traces on his theology. ... But mysticism alone could not satisfy him, especially after the Reformation began in earnest. It was too passive and sentimental and shrunk from conflict. It was a theology of feeling rather than of action. Luther was a born fighter, and waxed stronger and stronger in battle. His theology is biblical, with such mystic elements as the Bible itself contains.” [= Luther dan Mysticisme. ... Ada bermacam-macam jenis dari Mysticisme, ortodox dan bersifat bidat, bersifat spekulasi dan praktis. Luther mendapatkan kontak dengan jenis yang bersifat praktis dan Katolik melalui Staupitz dan tulisan-tulisan dari Santo Agustinus, Santo Bernard, dan Tauler. Itu memperdalam dan merohanikan kesalehannya dan meninggalkan jejak-jejak permanen pada theologianya. ... Tetapi hanya Mysticisme tidak bisa memuaskan dia, khususnya setelah Reformasi mulai menjadi serius. Itu terlalu pasif dan sentimentil / bersifat perasaan dan mengkerut dari konflik. Itu lebih merupakan suatu theologia dari perasaan dari pada dari tindakan. Luther adalah seorang yang dilahirkan sebagai pejuang, dan bertambah kuat dalam pertempuran. Theologianya Alkitabiah, dengan elemen-elemen mistik seperti yang ada dalam Alkitab sendiri.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 141,142.

Catatan: kata ‘mysticism’ diterjemahkan ‘kebatinan’ dalam bahasa Indonesia.

Dalam Free Dictionary diterjemahkan: Belief in direct experience of transcendent reality or God, especially by means of contemplation and asceticism instead of rational thought.” [= Kepercayaan dalam pengalaman langsung tentang kenyataan transenden atau Allah, khususnya dengan cara perenungan dan pertapaan dan bukannya dengan pemikiran rasionil.].

Yang ingin mempelajari lebih lanjut tentang ‘mysticism’ ini bisa membacanya dalam link ini: https://en.wikipedia.org/wiki/Christian_mysticism

 

6)   ‘Persiapan’ untuk Reformasi.

David Schaff: “Luther was now approaching the prime of manhood. He was the shining light of the young university, and his fame began to spread through Germany. But he stood not alone. He had valuable friends and co-workers such as Dr. Wenzeslaus Link, the prior of the convent, and John Lange, who had a rare knowledge of Greek. Carlstadt also, his senior colleague, was at that time in full sympathy with him. Nicolaus von Amsdorf, of the same age with Luther, was one of his most faithful adherents, but more influential in the pulpit than in the chair. Christoph Scheurl, Professor of jurisprudence, was likewise intimate with Luther. Nor must we forget Georg Spalatin, who did not belong to the university, but had great influence upon it as chaplain and secretary of the Elector Frederick, and acted as friendly mediator between him and Luther. The most effective aid the Reformer received, in 1518, in the person of Melanchthon.” [= Sekarang Luther mendekati masa puncak dari kematangan / kedewasaan. Ia adalah terang yang bersinar dari Universitas muda itu, dan kemasyhurannya mulai tersebar di seluruh Jerman. Tetapi ia tidak berdiri sendirian. Ia mempunyai teman-teman yang berharga dan rekan-rekan sekerja seperti Dr. Wenzeslaus Link, pendahulunya dari biara, dan John Lange, yang mempunyai pengetahuan yang jarang tentang bahasa Yunani. Juga Carlstadt, rekan seniornya, pada saat itu bersimpati secara penuh dengan dia. Nicolaus von Amsdorf, berusia sama dengan Luther, adalah salah satu dari pendukung-pendukungnya yang paling setia, tetapi lebih berpengaruh di mimbar dari pada di kursi. Christoph Scheurl, Professor filsafat / ilmu hukum, juga akrab dengan Luther. Dan kita tidak boleh melupakan Georg Spalatin, yang tidak termasuk dalam Universitas, tetapi mempunyai pengaruh yang besar padanya sebagai anggota pimpinan rohani dan sekretaris dari Pangeran Frederick, dan bertindak sebagai pengantara yang bersahabat antara dia dengan Luther. Penolong yang paling efektif diterima oleh sang Reformator, pada tahun 1518, dalam diri dari Melanchthon.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 143-144.

 

Dari kutipan di atas ini bisa kita pelajari bahwa dalam terjadinya suatu gerakan rohani yang besar seperti ini, tokoh seperti Luther membutuhkan orang-orang, yang pada umumnya di belakang layar, yang membantu dia. Dan pada jaman sekarang atau jaman kapanpun juga sama. Tuhan sering menggunakan satu orang yang ditonjolkan, dan banyak orang di belakang layar, untuk membantu orang itu. Kalau orang-orang di belakang layar itu tak mau bekerja, semua itu tak akan terjadi.

 

David Schaff: “The working forces of the Reformation were thus fully prepared and ready for action. The scholastic philosophy and theology were undermined, and a biblical, evangelical theology ruled in Wittenberg. It was a significant coincidence, that the first edition of the Greek Testament was published by Erasmus in 1516, just a year before the Reformation.” [= Jadi kekuatan bekerja dari Reformasi dipersiapkan secara penuh dan siap untuk beraksi. Filsafat dan theologia scholastic (Katolik) dilemahkan secara bertahap, dan suatu theologia yang Alkitabiah dan injili memerintah / menguasai di Wittenberg. Merupakan suatu kebetulan yang berarti, bahwa edisi pertama dari Perjanjian Baru bahasa Yunani dipublikasikan oleh Erasmus pada tahun 1516, hanya satu tahun sebelum Reformasi.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 144.

 

David Schaff: Luther had as yet no idea of reforming the Catholic church, and still less of separating from it. All the roots of his life and piety were in the historic church, and he considered himself a good Catholic even in 1517, and was so in fact. He still devoutly prayed to the Virgin Mary from the pulpit; he did not doubt the intercession of saints in heaven for the sinners on earth; he celebrated mass with full belief in the repetition of the sacrifice on the cross and the miracle of transubstantiation; he regarded the Hussites as ‘sinful heretics’ for breaking away from the unity of the church and the papacy which offered a bulwark against sectarian division. [= Luther belum / tidak mempunyai pemikiran tentang mereformasi gereja Katolik, dan lebih-lebih memisahkan diri darinya. Semua akar dari kehidupan dan kesalehannya ada dalam gereja yang dikenal, dan ia menganggap dirinya sendiri seorang Katolik yang baik bahkan pada tahun 1517, dan dalam faktanya memang demikian. Ia tetap secara berbakti berdoa kepada Perawan Maria dari mimbar; ia tidak meragukan pengantaraan dari santo-santo (atau santa-santa)  di surga untuk orang-orang berdosa di bumi; ia melaksanakan missa dengan kepercayaan penuh dalam pengulangan pengorbanan di salib dan mujijat transubstantiation; ia menganggap para pengikut John Huss sebagai ‘bidat-bidat / orang-orang sesat berdosa’ karena memisahkan diri dari kesatuan gereja dan kepausan yang menawarkan suatu benteng terhadap perpecahan yang bersifat sekte.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 144.

Catatan: doktrin Perjamuan Kudus dalam Gereja Katolik disebut ‘transubstantiation’ [= a change of substance {= perubahan zat}] karena mereka percaya bahwa dalam Perjamuan Kudus itu, roti dan anggur betul-betul berubah menjadi tubuh dan darah Kristus, tetapi penampilannya / kelihatannya, baunya, rasanya tetap seperti roti dan anggur. Ini dianggap sebagai mujijat. Saya tidak mempercayai doktrin ini sama sekali.

 

David Schaff: “But by the leading of Providence he became innocently and reluctantly a Reformer. A series of events carried him irresistibly from step to step, and forced him far beyond his original intentions. Had he foreseen the separation, he would have shrunk from it in horror. ... This is the case with all men of Providence: they are led by a divine hand while they are leading their fellow-men.” [= Tetapi oleh bimbingan dari Providensia ia menjadi seorang tokoh Reformasi dengan tak bersalah dan dengan segan. Suatu seri peristiwa membawa dia secara tak bisa ditahan dari langkah ke langkah, dan memaksa dia jauh melebihi maksud-maksud orisinilnya. Andaikata ia melihat lebih dulu perpisahan /. perpecahan itu, ia akan sudah mengkerut darinya dalam ketakutan. ... Ini adalah kasus dari semua orang dari Providensia: mereka dibimbing oleh suatu tangan Ilahi pada waktu mereka memimpin sesama manusia mereka.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 144-145.

Catatan: ini mirip seperti kasus dari Pdt. Esra Alfred Soru dari Kupang, pada waktu keluar dari GMIT dan akhirnya mendirikan GKIN Revival. Ia tidak ingin, dan dengan segan, melakukan hal itu.

 

VI) Penjualan surat pengampunan dosa.

 

1)   Asal usul penjualan surat pengampunan dosa.

 

David Schaff: “In the legal language of Rome, indulgentia is a term for amnesty or remission of punishment. In ecclesiastical Latin, an indulgence means the remission of the temporal (not the eternal) punishment of sin (not of sin itself), on condition of penitence and the payment of money to the church or to some charitable object. It may be granted by a bishop or archbishop within his diocese, while the Pope has the power to grant it to all Catholics. The practice of indulgences grew out of a custom of the Northern and Western barbarians to substitute pecuniary compensation for punishment of an offense. The church favored this custom in order to avoid bloodshed, but did wrong in applying it to religious offenses. Who touches money touches dirt; and the less religion has to do with it, the better. The first instances of such pecuniary compensations occurred in England under Archbishop Theodore of Canterbury (d. 690). The practice rapidly spread on the Continent, and was used by the Popes during and after the crusades as a means of increasing their power. It was justified and reduced to a theory by the schoolmen, especially by Thomas Aquinas, in close connection with the doctrine of the sacrament of penance and priestly absolution.” [= Dalam bahasa hukum dari Roma (Katolik), INDULGENTIA adalah suatu istilah untuk pengampunan atau pengurangan hukuman. Dalam gereja Latin, suatu INDULGENCE berarti pengurangan dari hukuman sementara (bukan hukuman kekal) dari dosa (bukan dari dosa itu sendiri), dengan syarat pertobatan dan pembayaran uang kepada gereja atau suatu tujuan / obyek kasih. Itu bisa diberikan oleh seorang uskup atau uskup agung di dalam keuskupannya, sedangkan Paus mempunyai kuasa untuk memberikannya kepada semua orang Katolik. Praktek indulgence / pengampunan dosa muncul dari suatu tradisi / kebiasaan dari bangsa barbar di Utara dan Barat untuk menggantikan kompensasi pembayaran uang untuk hukuman dari suatu pelanggaran. Gereja menyetujui tradisi / kebiasaan ini untuk menghindari pertumpahan darah, tetapi melakukan hal yang salah dalam menerapkannya pada pelanggaran-pelanggaran agamawi. Siapa menyentuh uang menyentuh kotoran; dan makin sedikit agama berurusan dengannya, makin baik. Contoh pertama dari kompensasi pembayaran uang seperti itu terjadi di Inggris di bawah Uskup Agung Theodore dari Canterbury (mati tahun 690). Praktek ini menyebar dengan cepat di Benua, dan digunakan oleh Paus-Paus selama dan setelah perang salib sebagai suatu cara meningkatkan kuasa mereka. Itu dibenarkan dan disederhanakan / diatur secara sistimatis oleh sarjana-sarjana, khususnya oleh Thomas Aquinas, dalam hubungan yang dekat dengan doktrin dari sakramen pengakuan dosa dan pengampunan dari imam / pastor.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 147.

 

David Schaff: “The sacrament of penance includes three elements, - contrition of the heart, confession by the mouth (to the priest), and satisfaction by good works, such as prayer, fasting, almsgiving, pilgrimages, all of which are supposed to have an atoning efficacy. God forgives only the eternal punishment of sin, and he alone can do that; but the sinner has to bear the temporal punishments, either in this life or in purgatory; and these punishments are under the control of the church or the priesthood, especially the Pope as its legitimate head. There are also works of supererogation, performed by Christ and by the saints, with corresponding extra-merits and extra-rewards; and these constitute a rich treasury from which the Pope, as the treasurer, can dispense indulgences for money. This papal power of dispensation extends even to the departed souls in purgatory, whose sufferings may thereby be abridged. This is the scholastic doctrine.” [= Sakramen pengakuan dosa mencakup 3 elemen, - penyesalan / pertobatan dari hati, pengakuan dengan mulut (kepada imam / pastor), dan kompensasi / perbaikan oleh perbuatan-perbuatan baik, seperti doa, puasa, pemberian sedekah, perjalanan ziarah, semua ini dianggap mempunyai kemujaraban penebusan. Allah hanya mengampuni hukuman kekal dari dosa, dan hanya Dia bisa melakukan itu; tetapi orang berdosa itu harus menanggung hukuman sementara, atau dalam hidup ini atau dalam api penyucian; dan hukuman-hukuman ini ada di bawah kontrol dari gereja atau keimaman / imamat, khususnya Paus sebagai kepalanya yang sah. Di sana juga ada perbuatan-perbuatan baik yang melebihi ketentuan / tuntutan, dilakukan oleh Kristus dan oleh orang-orang kudus (santo-santo), dengan jasa extra dan upah / pahala extra yang sesuai; dan ini membentuk suatu simpanan / dana yang kaya, dari mana Paus, sebagai bendahara / orang yang berwenang atas simpanan / dana tersebut, bisa memberikan pengampunan dosa untuk uang. Kuasa kepausan untuk memberikan pengampunan dari dana ini meluas bahkan pada jiwa-jiwa yang telah mati dalam api penyucian, yang penderitaannya bisa dengan itu dipersingkat. Ini adalah doktrin scholastic (Katolik).] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 147-148.

 

Ini harus menjadi peringatan bagi kita. Adanya suatu doktrin yang salah / sesat bisa menyebabkan dibangunnya doktrin lain yang lebih salah lagi di atasnya. Dengan demikian sebuah gereja bisa makin lama makin salah / sesat. Karena itu semua gereja / pendeta harus waspada terhadap setiap ajaran yang salah / sesat.

 

2)   Pembangunan gereja / katedral di Roma.

 

David Schaff: “St. Peter’s Dome is at once the glory and the shame of papal Rome. It was built over the bones of the Galilaean fisherman, with the proceeds from the sale of indulgences which broke up the unity of Western Christendom. The magnificent structure was begun in 1506 under Pope Julius II., and completed in 1626 at a cost of forty-six millions scudi, and is kept up at an annual expense of thirty thousand scudi (dollars).” [= Kathedral Santo Petrus sekaligus merupakan kemuliaan / kemegahan dan sesuatu yang memalukan dari kepausan Roma. Itu dibangun di atas tulang-tulang dari nelayan-nelayan Galilea, dengan banyak uang dari penjualan surat pengampunan dosa yang memecah kesatuan kekristenan Barat. Bangunan yang megah itu mulai dibangun pada tahun 1506 di bawah Paus Julius II, dan diselesaikan pada tahun 1526 dengan biaya 46 juta scudi, dan dipelihara dengan biaya tahunan 30 ribu scudi (dollar).] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 146.

Catatan:

a)   Saya tidak terlalu mengerti apa yang Schaff maksudkan dengan ‘nelayan-nelayan Galilea’. Orang-orang miskin?

b)   Kalau dilihat dalam kamus di internet, scudi (bentuk jamak dari scudo) bukan dollar, tetapi mata uang di Italia pada saat itu.

 

Penerapan: berhati-hatilah dalam membangun gereja yang megah, karena membutuhkan banyak uang untuk membangunnya maupun untuk memeliharanya, dan ini bisa mendorong gereja itu untuk melakukan praktek-praktek yang salah untuk mendapatkan uang yang dibutuhkan itu. Bisa dengan secara memalukan ‘mengemis’ tiap Minggu dari mimbar, atau ‘menodong’ jemaat-jemaat yang kaya untuk memberi persembahan, atau mengadakan acara-acara dengan tiket yang harganya selangit, menjual buku-buku dan DVD dengan harga yang mencekik, dan sebagainya. Bagi saya, gereja yang sederhana, tanpa praktek-praktek terkutuk seperti itu, jauh lebih baik.

 

David Schaff: “The rebuilding of St. Peter’s Church in Rome furnished an occasion for the periodical exercise of the papal power of granting indulgences. Julius II. and Leo X., two of the most worldly, avaricious, and extravagant Popes, had no scruple to raise funds for that object, and incidentally for their own aggrandizement, from the traffic in indulgences. Both issued several bulls to that effect. Spain, England, and France ignored or resisted these bulls for financial reasons, refusing to be taxed for the benefit of Rome. But Germany, under the weak rule of Maximilian, yielded to the papal domination.” [= Pembangunan ulang / renovasi dari Gereja Santo Petrus di Roma menyediakan suatu peristiwa untuk pelaksanaan secara periodik dari kuasa kepausan tentang pemberian pengampunan dosa. Julius II dan Leo X, dua dari Paus-Paus yang paling duniawi, tamak, dan boros, tidak mempunyai keberatan untuk menggalang dana untuk tujuan itu, dan terpisah dari tujuan utama, untuk peningkatan kekayaan mereka sendiri, dari perdagangan pengampunan dosa. Keduanya mengeluarkan beberapa dokumen resmi yang menghasilkan hal itu. Spanyol, Inggris, dan Perancis mengabaikan atau menentang dokumen-dokumen resmi itu dengan alasan keuangan, menolak untuk dipajak untuk keuntungan Roma. Tetapi Jerman, di bawah pemerintahan yang lemah dari Maximilian, menyerah pada dominasi kepausan.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 149-150.

 

3)   Ajaran yang sebenarnya dan ajaran yang dimengerti oleh orang-orang pada umumnya tentang surat pengampunan dosa.

 

Dr. Albert H. Freundt Jr.: “Indulgences had been granted by papal dispensation to crusaders, to pilgrims, and finally to any who contributed to some such cause as building a church. Indulgences were very lucrative. The revenue which they brought was greatly increased in the fifteenth century by the popular belief that an indulgence could not only assure divine forgiveness of sins with a minimum of contrition, but also release the souls of the dead from purgatory. The best teaching of the church insisted on the necessity of full contrition and was very cautious about asserting the Pope’s power over purgatory. But extravagant claims were made by some. Now subtle theologians could make a distinction between selling indulgences and making a contribution toward the penalty for sin and securing the forgiveness of sins. In practice, however, ignorant people could not help thinking that they were buying forgiveness for themselves or for their loved ones in the hereafter, or at least that by their generosity they were doing a good work which the Pope declared to be effective toward forgiveness in the hereafter. ” [= Pengampunan dosa telah diberikan oleh sistim kepausan kepada tentara pada perang salib / para penentang, kepada peziarah-peziarah, dan akhirnya kepada siapapun yang memberi sumbangsih pada perkara seperti pembangunan sebuah gereja. Pengampunan dosa adalah sangat menguntungkan / menghasilkan uang. Pemasukan yang mereka bawa sangat meningkat pada abad ke 15 oleh kepercayaan populer bahwa suatu pengampunan dosa bukan hanya memastikan pengampunan ilahi tentang dosa-dosa dengan pertobatan yang minimum, tetapi juga melepaskan jiwa-jiwa orang mati dari api penyucian. Pengajaran terbaik dari gereja berkeras pada perlunya pertobatan penuh dan sangat berhati-hati tentang menyatakan / meneguhkan kuasa Paus atas api penyucian. Tetapi claim-claim yang melampaui batasan dibuat oleh beberapa orang. Para ahli theologia yang pandai (pada saat itu) bisa membuat suatu perbedaan antara penjualan pengampunan dosa dan membuat suatu kontribusi berhubungan dengan hukuman dosa dan memastikan pengampunan dosa. Tetapi dalam prakteknya, orang-orang yang tidak mempunyai pengertian tidak bisa terhindar dari pemikiran bahwa mereka sedang membeli pengampunan untuk diri mereka sendiri atau untuk orang-orang yang mereka cintai di alam baka, atau setidaknya bahwa oleh kemurahan hati mereka mereka sudah melakukan suatu perbuatan baik yang Paus nyatakan sebagai efektif berhubungan dengan pengampunan di alam baka.] - ‘History of Modern Christianity’, hal 28.

 

Perbedaan antara ajaran yang sebenarnya dengan apa yang ditangkap / dimengerti oleh jemaat awam, lebih-lebih kalau ada orang-orang kurang ajar yang mengextrimkan ajaran yang sebenarnya itu, merupakan sesuatu yang sangat sering terjadi. Karena itu, semua pendeta / pengkhotbah / pengajar harus berhati-hati dalam mengajar, dan menekankan hal-hal tertentu, supaya jangan muncul hal-hal seperti ini. Ini secara khusus harus diperhatikan dan diwaspadai pada waktu mengajarkan doktrin-doktrin yang memang mudah diselewengkan / disalah-gunakan, seperti doktrin Predestinasi, Providensia Allah, bahkan doktrin keselamatan / pembenaran oleh iman saja!

 

4)   Reaksi terhadap penjualan surat pengampunan dosa.

David Schaff: “The granting of indulgences degenerated, after the time of the crusades, into a regular traffic, and became a source of ecclesiastical and monastic wealth. A good portion of the profits went into the papal treasury. ... The idea of selling and buying by money the remission of punishment and release from purgatory was acceptable to ignorant and superstitious people, but revolting to sound moral feeling. It roused, long before Luther, the indignant protest of earnest minds, such as Wiclif in England, Hus in Bohemia, John von Wesel in Germany, John Wessel in Holland, Thomas Wyttenbach in Switzerland, but without much effect.” [= Pemberian pengampunan dosa memburuk secara moral, setelah jaman / masa dari penentang-penentang, menjadi suatu perdagangan, dan menjadi suatu sumber kekayaan gereja dan biara. Suatu bagian yang besar dari keuntungan masuk ke dalam dana kepausan. ... Gagasan tentang penjualan dan pembelian pengurangan hukuman dan pembebasan dari api penyucian dengan uang bisa diterima oleh orang-orang yang tak mempunyai pengertian dan percaya takhyul, tetapi menjijikkan bagi perasaan moral yang sehat. Itu membangkitkan, jauh sebelum Luther, protes kemarahan dari pikiran-pikiran yang sungguh-sungguh / tulus, seperti Wycliffe di Inggris, Hus di Bohemia, John von Wesel di Jerman, John Wessel di Belanda, Thomas Wyttenbach di Swiss, tetapi tanpa banyak hasil.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 148.

 

 

-bersambung-

 

 

http:\\golgothaministry.org

Email : golgotha_ministry0@yahoo.com