kebaktian

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)

 

Minggu, tgl 12 November 2017, pk 08.00 & 17.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

reformasi 500 tahun(3)

 

2)   Penafsiran-penafsiran Luther setelah pertobatannya berkenaan dengan Injil dan hukum Taurat, kebenaran oleh iman atau perbuatan, dan sebagainya.

 

a)   Penafsiran Luther tentang Ro 1:16-17.

 

1.   Roma 1:16 - Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani..

Kata-kata ‘aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil’ salah terjemahan!

KJV/RSV/NIV/NASB: ‘for I am not ashamed of the gospel’ [= karena aku tidak malu tentang injil].

 

Martin Luther (tentang Ro 1:16): he who does not truly believe is even today not merely ashamed of the Gospel, but he also contradicts it, at least in his heart and in his action. The reason for this is the following. He who finds pleasure and enjoyment in the things that are of the flesh and of the world cannot have a taste or pleasure for the things that are of the Spirit of God. Therefore he is not only ashamed to proclaim the Gospel to others, but he fights against it and does not want it to be spoken to him. He hates the light and loves the darkness. For this reason he does not suffer the salutary truth to be spoken to him. [= ia yang tidak sungguh-sungguh percaya sekarang bukannya semata-mata malu tentang Injil, tetapi ia juga menentangnya, setidaknya dalam hatinya dan dalam tindakannya. Alasan untuk ini adalah sebagai berikut. Ia yang mendapati kesenangan dan penikmatan dalam hal-hal yang dari daging dan dari dunia tidak bisa mempunyai suatu selera atau kesenangan untuk hal-hal yang dari Roh Allah. Karena itu ia bukan hanya malu untuk memberitakan Injil kepada orang-orang lain, tetapi ia berperang melawannya dan tidak ingin / mau itu diucapkan kepada dia. Ia membenci terang dan mencintai kegelapan. Untuk alasan ini ia tidak membiarkan kebenaran yang sehat diucapkan kepadanya.] - ‘Luther’s Works, Vol 25, Lectures on Romans’ (Libronix).

 

Bdk. 1Kor 2:14 - Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani..

 

Apakah ia memaksudkan tentang Staupitz dalam kata-katanya di atas ini?

 

Martin Luther (tentang Ro 1:16): Moreover, to be ashamed of the Gospel is a fault of cowardice in pastors, but to contradict it and not to listen to it is a fault of stupidity in church members. This is obvious when the preacher is afraid of the power, influence, and number of his hearers and is silent concerning the essential truth and when the unresponsive hearer despises the lowliness and humble appearance of the Word. [= Lebih lagi, malu tentang Injil adalah suatu kesalahan tentang / dari kepengecutan dalam pendeta-pendeta, tetapi menentangnya dan tidak mendengarnya adalah suatu kesalahan dari kebodohan dalam diri anggota-anggota gereja. Ini adalah jelas pada waktu sang pengkhotbah takut pada kuasa, pengaruh, dan jumlah dari pendengar-pendengarnya, dan pengkhotbah itu diam berkenaan dengan kebenaran yang hakiki dan pada waktu pendengar yang tidak menanggapi (kebenaran) menghina / merendahkan kerendahan dan penampilan yang rendah dari Firman.] - ‘Luther’s Works, Vol 25, Lectures on Romans’ (Libronix).

 

Siapapun yang malu atau takut karena Injil atau diam dan tidak memberitakan Injil, harus memperhatikan ayat-ayat di bawah ini.

 

Bdk. Mark 8:38 - Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataanKu di tengah-tengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusiapun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan BapaNya, diiringi malaikat-malaikat kudus.’.

 

Dari pada ‘malu’ atau ‘takut’ pada saat kita memberitakan Injil dan ditolak, sikap yang benar diberikan dalam text di bawah ini:

Mat 10:12-15 - “(12) Apabila kamu masuk rumah orang, berilah salam kepada mereka. (13) Jika mereka layak menerimanya, salammu itu turun ke atasnya, jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. (14) Dan apabila seorang tidak menerima kamu dan tidak mendengar perkataanmu, keluarlah dan tinggalkanlah rumah atau kota itu dan kebaskanlah debunya dari kakimu. (15) Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya pada hari penghakiman tanah Sodom dan Gomora akan lebih ringan tanggungannya dari pada kota itu.’.

Catatan: ay 14b harus dikontextualisasikan (disesuaikan dengan jaman / tempat dengan tradisi yang berbeda), karena cara itu bukan merupakan tradisi di negara kita. Yang jelas kita harus menunjukkan suatu ketidak-senangan, dan memberi peringatan, bahwa penghakiman dan penghukuman dari Allah menantikan mereka yang menolak Injil!

 

Memang ‘diam’ tentang Injil, bukanlah suatu sikap yang netral, tetapi suatu sikap yang negatif.

Bdk. Mat 12:30 - Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan..

 

Dan kalau pengkhotbah itu diam, karena takut atau malu karena Injil, itu tentu lebih buruk lagi!

 

2.   Ro 1:17 - “Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: ‘Orang benar akan hidup oleh iman.’”.

Kata-kata ‘yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman’ diterjemahkan secara agak berbeda-beda dalam Kitab Suci bahasa Inggris.

KJV/NASB: ‘from faith to faith’ [= dari iman kepada iman].

RSV: ‘through faith for faith’ [= melalui iman untuk iman].

NIV: that is by faith from first to last [= yaitu oleh iman dari awal sampai akhir].

 

KJV: ‘For therein is the righteousness of God revealed from faith to faith: as it is written, The just shall live by faith.’ [= Karena di dalamnya kebenaran Allah dinyatakan dari iman kepada iman: seperti ada tertulis, Orang benar akan hidup oleh iman.].

 

Martin Luther (tentang Ro 1:17): ‘The righteousness of God is revealed.’ ... Only in the Gospel is the righteousness of God revealed (that is, who is and becomes righteous before God and how this takes place) by faith alone, by which the Word of God is believed, as it is written in the last chapter of Mark (16:16): ‘He who believes and is baptized will be saved; but he who does not believe will be condemned.’ For the righteousness of God is the cause of salvation. And here again, by the righteousness of God we must not understand the righteousness by which He is righteous in Himself but the righteousness by which we are made righteous by God. This happens through faith in the Gospel. ... The righteousness of God is so named to distinguish it from the righteousness of man, which comes from works, as Aristotle describes it very clearly in Book III of his Ethics. According to him, righteousness follows upon actions and originates in them. But according to God, righteousness precedes works, and thus works are the result of righteousness, just as no person can do the works of a bishop or priest unless he is first consecrated and has been set apart for this. Righteous works of people who are not yet righteous are like the works of a person who performs the functions of a priest and bishop without being a priest; in other words, such works are foolish and tricky and are to be compared with the antics of hucksters in the marketplace. [= ‘Kebenaran Allah dinyatakan’. ... Hanya di dalam Injil kebenaran Allah dinyatakan (yaitu, siapa yang adalah dan menjadi benar di hadapan Allah dan bagaimana ini terjadi) oleh iman saja, dengan mana Firman Allah dipercaya, seperti ada tertulis dalam pasal terakhir dari Markus (16:16): ‘Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.’ Karena kebenaran Allah adalah penyebab keselamatan. Dan lagi di sini, dengan kebenaran Allah kita tidak boleh mengertinya sebagai kebenaran dengan mana Ia adalah benar dalam diriNya sendiri tetapi kebenaran dengan mana kita dibuat jadi benar oleh Allah. Ini terjadi melalui iman dalam Injil. ... Kebenaran Allah disebut demikian untuk membedakannya dari kebenaran manusia, yang datang dari perbuatan baik, seperti Aristotle menggambarkannya dengan sangat jelas dalam Buku III dari Ethics-nya. Menurut dia, kebenaran mengikuti tindakan-tindakan dan berasal-usul di dalam tindakan-tindakan itu. Tetapi menurut Allah, kebenaran mendahului perbuatan baik, dan dengan demikian perbuatan baik adalah hasil dari kebenaran, sama seperti tak ada orang yang bisa melakukan pekerjaan dari seorang uskup atau pastor kecuali ia pertama-tama ditahbiskan dan telah dipisahkan untuk hal ini. Pekerjaan-pekerjaan kebenaran dari orang-orang yang belum benar adalah seperti pekerjaan-pekerjaan dari seorang yang melakukan aktivitas dari seorang pastor dan uskup tanpa menjadi seorang pastor; dengan kata lain, pekerjaan-pekerjaan seperti itu adalah bodoh dan bersifat menipu dan harus dibandingkan dengan tindakan bodoh dari tukang berjualan di pasar.] - ‘Luther’s Works, Vol 25, Lectures on Romans’ (Libronix).

Catatan: bagian akhir yang saya beri warna hijau ini merupakan suatu illustrasi yang bagus.

 

Martin Luther (tentang Ro 1:17): Second, we must note that what is said here, from faith to faith,’ is interpreted in different ways. Lyra wants it understood thus: ‘From unformed faith to formed faith.’ But this won’t work, because no righteous person lives from an ‘unformed faith,’ neither does the righteousness of God come from it. Yet he says both of these things in this passage. It could be that he wants to understand the ‘unformed faith’ as the faith of a beginner and the ‘formed faith’ as the faith of a perfect believer. But the ‘unformed faith’ is no faith at all but rather the object of faith. I do not believe that a person can believe with an ‘unformed faith.’ But this he can do well: He can see what must be believed and thus remain in suspense. Others interpret it in this way: ‘From the faith of the fathers of the old law to the faith of the new law.’ This exegesis may be acceptable, even though it may obviously be attacked and contradicted by the argument that the righteous person does not live by the faith of past generations, even though he says: ‘The righteous shall live by his faith.’ The fathers believed the same as we do. There is only one faith, even though it may have been less clear then; just as educated people now believe the same things as the uneducated, but more clearly. Therefore, the meaning of this passage seems to be: The righteousness of God is completely from faith, but in such a way that through its development it does not make its appearance but becomes a clearer faith according to that expression in 2 Cor. 3:18: ‘We are being changed … from one degree of glory to another,’ and also in Ps. 84:8: ‘They go from strength to strength.’ So also ‘from faith to faith,’ by growing more and more, so that ‘he that is righteous, let him be made righteous still’ (Rev. 22:11). In other words, no one should be of the opinion that he has already obtained (Phil. 3:12) and thus stops growing, that is, starts declining. Blessed Augustine says in chapter 11 of his On the Spirit and the Letter: ‘From the faith of those who confess with their mouth to the faith of those who are obedient.’ Paul of Burgos says: ‘From the faith of the synagog (as a starting point) to the faith of the church (as a goal).’ But the apostle says that righteousness comes from faith, yet the heathen had no faith from which they could have been led to another faith in order to be justified. [= Kedua, kita harus memperhatikan bahwa apa yang dikatakan di sini, ‘dari iman kepada iman’, ditafsirkan dengan cara berbeda-beda. Lyra mau mengertinya seperti ini: ‘Dari iman yang belum dibentuk kepada iman yang sudah dibentuk’. Tetapi ini tak akan berhasil, karena tak ada orang benar hidup dari ‘iman yang belum dibentuk’, juga kebenaran Allah tidak akan datang darinya. Tetapi ia mengatakan kedua hal ini dalam text ini. Bisa jadi ia mau mengerti ‘iman yang belum dibentuk’ sebagai iman dari seorang pemula dan ‘iman yang sudah dibentuk’ sebagai iman dari seorang percaya yang sempurna. Tetapi ‘iman yang belum dibentuk’ bukanlah iman sama sekali tetapi obyek dari iman. Saya tidak percaya bahwa seseorang bisa percaya dengan ‘iman yang belum dibentuk’. Tetapi ini yang bisa ia lakukan dengan baik: Ia bisa melihat apa yang harus dipercaya tetapi tetap tinggal dalam ketidak-pastian. Orang-orang lain menafsirkannya dengan cara ini: ‘Dari iman bapa-bapa dari hukum yang lama kepada iman dari hukum yang baru’. Exegesis ini mungkin bisa diterima, sekalipun itu jelas bisa diserang dan dibantah oleh argumentasi bahwa orang benar itu tidak hidup oleh iman dari generasi-generasi yang sudah lalu, sekalipun ia berkata: ‘Orang benar akan hidup oleh imannya’. Bapa-bapa percaya hal yang sama seperti kita percaya. Di sana hanya ada satu iman, sekalipun itu bisa kurang jelas pada saat itu; sama seperti orang-orang berpendidikan sekarang percaya hal-hal yang sama seperti orang-orang yang tak berpendidikan, tetapi dengan lebih jelas. Karena itu, arti dari text ini kelihatannya adalah ini: Kebenaran Allah adalah sepenuhnya dari iman, tetapi dengan suatu cara sedemikian rupa sehingga melalui perkembangannya itu tidak kelihatan tetapi menjadi suatu iman yang lebih jelas sesuai dengan ungkapan dalam 2Kor 3:18: ‘kita sedang diubah ... dari satu tingkat kemuliaan ke tingkat yang lain’, dan juga dalam Maz 84:8: ‘Mereka berjalan dari kekuatan kepada kekuatan’. Demikian juga ‘dari iman kepada iman’, dengan makin bertumbuh, sehingga ‘ia yang benar, hendaklah ia dibuat tetap benar’ (Wah 22:11). Dengan kata lain, tak seorangpun harus mempunyai pandangan bahwa ia telah mencapai (Fil 3:12) dan dengan demikian berhenti bertumbuh, artinya, mulai mundur / menurun. Agustinus yang terpuji berkata dalam pasal 11 dari bukunya ‘Tentang Roh dan Huruf’: ‘Dari iman dari mereka yang mengaku dengan mulut mereka kepada iman dari mereka yang taat’. Paul dari Burgos berkata: ‘Dari iman dari sinagog (sebagai suatu titik awal) kepada iman dari gereja (sebagai suatu tujuan)’. Tetapi sang rasul berkata bahwa kebenaran datang dari iman, tetapi orang-orang kafir tidak mempunyai iman dari mana mereka bisa telah dibimbing kepada iman yang lain supaya bisa dibenarkan.] - ‘Luther’s Works, Vol 25, Lectures on Romans’ (Libronix).

 

Jadi Luther menafsirkan kata-kata ‘from faith to faith’ dalam Ro 1:17 sejalan dengan kata-kata ‘from glory to glory’ dalam 2Kor 3:18, dan ‘from strength to strength’ dalam Maz 84:8. Yang dalam Wah 22:11 agak berbeda ungkapannya.

 

2Kor 3:18 - Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambarNya, dalam kemuliaan yang semakin besar..

KJV: are changed into the same image from glory to glory, [= diubah menjadi gambar yang sama dari kemuliaan kepada kemuliaan,].

 

Maz 84:8 - Mereka berjalan makin lama makin kuat, hendak menghadap Allah di Sion..

KJV/RSV/NIV/NASB: They go from strength to strength, [= Mereka berjalan dari kekuatan kepada kekuatan,].

 

Wah 22:11 - “Barangsiapa yang berbuat jahat, biarlah ia terus berbuat jahat; barangsiapa yang cemar, biarlah ia terus cemar; dan barangsiapa yang benar, biarlah ia terus berbuat kebenaran; barangsiapa yang kudus, biarlah ia terus menguduskan dirinya!’”.

KJV: and he that is righteous, let him be righteous still: [= dan ia yang adalah benar, hendaklah ia tetap benar:].

 

Fil 3:12 - “Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus.”.

 

b)   Penafsiran Luther tentang text lain dalam Alkitab yang menekankan tentang keselamatan karena iman saja, bukan karena perbuatan baik dsb.

 

Kej 15:6 - “Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.”.

 

Ayat ini dikutip oleh Paulus dalam Ro 4:3, untuk membuktikan doktrin ‘justification by faith alone’ [= pembenaran oleh iman saja].

 

Ro 4:1-5 - “(1) Jadi apakah akan kita katakan tentang Abraham, bapa leluhur jasmani kita? (2) Sebab jikalau Abraham dibenarkan karena perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak di hadapan Allah. (3) Sebab apakah dikatakan nas Kitab Suci? ‘Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.’ (4) Kalau ada orang yang bekerja, upahnya tidak diperhitungkan sebagai hadiah, tetapi sebagai haknya. (5) Tetapi kalau ada orang yang tidak bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang durhaka, imannya diperhitungkan menjadi kebenaran.”.

Catatan: kata ‘hadiah’ dalam ay 4, diterjemahkan dari kata Yunani KHARIS, yang oleh KJV diterjemahkan secara hurufiah sebagai ‘grace’ [= kasih karunia].

 

Martin Luther (tentang Kej 15:6): “And Paul has not only expounded this passage most carefully; he also takes great pains to commend it to the church when he adds this statement (Rom. 4:23): "But the words ‘it was reckoned to him’ were written not for his (Abraham’s) sake alone" - who later on died - but (Rom. 15:4) ‘for our instruction, that … we might have hope.’[= Dan Paulus bukan hanya telah menjelaskan dengan mendetail text ini dengan sangat hati-hati / teliti; ia juga berusaha keras untuk merekomendasikannya kepada gereja pada waktu ia menambahkan pernyataan ini (Ro 4:23): "Tetapi kata-kata ‘itu diperhitungkan kepadanya’ dituliskan bukan demi / bagi Abraham saja" - yang belakangan mati - tetapi (Ro 15:4) ‘bagi pengajaran kita, supaya ... kita bisa mempunyai pengharapan’.] - ‘Luther’s Works, Vol 3, Lectures on Genesis’ (Libronix).

 

Ro 4:23-25 - “(23) Kata-kata ini, yaitu ‘hal ini diperhitungkan kepadanya,’ tidak ditulis untuk Abraham saja, (24) tetapi ditulis juga untuk kita; sebab kepada kitapun Allah memperhitungkannya, karena kita percaya kepada Dia, yang telah membangkitkan Yesus, Tuhan kita, dari antara orang mati, (25) yaitu Yesus, yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita..

 

Ro 15:4 - Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci..

 

Martin Luther (tentang Kej 15:6): At this point there arises an important debate concerning the Law and faith: whether the Law justifies, whether faith does away with the Law, etc. [= Pada titik ini muncul suatu perdebatan yang penting berkenaan dengan hukum Taurat dan iman: apakah hukum Taurat membenarkan, apakah iman menyingkirkan hukum Taurat, dsb.] - ‘Luther’s Works, Vol 3, Lectures on Genesis’ (Libronix).

 

Martin Luther (tentang Kej 15:6): In this connection Paul learnedly stresses the matter of time: that in this chapter Moses is speaking about righteousness and a righteous or justified Abraham prior to the Law, prior to the works of the Law, yes, prior to the people of the Law and before Moses, the lawgiver, was born. Accordingly, he says that righteousness is not only not from the Law but is prior to the Law, and that neither the Law nor the works of the Law contribute anything toward it. [= Dalam hubungan ini Paulus secara terpelajar menekankan persoalan waktu: bahwa dalam pasal ini Musa sedang berbicara tentang kebenaran dan seorang Abraham yang benar atau yang dibenarkan sebelum hukum Taurat, sebelum pekerjaan-pekerjaan dari hukum Taurat, ya, sebelum bangsa / orang-orang dari hukum Taurat dan sebelum Musa, sang pemberi hukum Taurat, dilahirkan. Karena itu, ia berkata bahwa kebenaran bukan saja bukan dari hukum Taurat tetapi sebelum hukum Taurat, dan bahwa baik hukum Taurat ataupun pekerjaan-pekerjaan dari hukum Taurat tidak memberi sumbangsih apapun terhadapnya.] - ‘Luther’s Works, Vol 3, Lectures on Genesis’ (Libronix).

 

Martin Luther (tentang Kej 15:6): Then what? Is the Law useless for righteousness? Yes, certainly. But does faith alone, without works, justify? Yes, certainly. Otherwise you must repudiate Moses, who declares that Abraham is righteous prior to the Law and prior to the works of the Law, not because he sacrificed his son, who had not yet been born, and not because he did this or that work, but because he believed God who gave a promise. [= Lalu bagaimana? Apakah hukum Taurat tak berguna untuk kebenaran? Ya, tentu. Tetapi apakah iman saja, tanpa pekerjaan-pekerjaan / perbuatan-perbuatan baik, membenarkan? Ya, tentu. Kalau tidak, kamu harus menolak otoritas Musa, yang menyatakan bahwa Abraham adalah benar sebelum hukum Taurat dan sebelum pekerjaan-pekerjaan dari hukum Taurat, bukan karena ia mengorbankan anaknya, yang belum dilahirkan, dan bukan karena ia melakukan pekerjaan / perbuatan baik ini atau itu, tetapi karena ia percaya kepada Allah yang memberi suatu janji.] - ‘Luther’s Works, Vol 3, Lectures on Genesis’ (Libronix).

 

Martin Luther (tentang Kej 15:6): In this passage no mention is made of any preparation for grace, of any faith formed through works, or of any preceding disposition. This, however, is mentioned: that at that time Abraham was in the midst of sins, doubts, and fears, and was exceedingly troubled in spirit. [= Dalam text ini tak disebutkan apapun tentang persiapan apapun untuk kasih karunia, tentang iman apapun yang dibentuk melalui pekerjaan-pekerjaan / perbuatan-perbuatan baik, atau tentang kecenderungan apapun yang mendahuluinya. Tetapi ini disebutkan: bahwa pada saat itu Abraham ada di tengah-tengah dosa, keragu-raguan, dan rasa takut, dan sangat bingung / kacau dalam roh (bdk. Kej 15:1-2).] - ‘Luther’s Works, Vol 3, Lectures on Genesis’ (Libronix).

 

Catatan: ada catatan kaki yang berbunyi: “Here Luther is contending against the scholastic definition of faith as fides (charitate) formata, ‘faith formed by love,’ and therefore not true faith until and unless love is present.” [= Di sini Luther sedang mendebat / berargumentasi terhadap definisi Gereja Katolik dari iman sebagai FIDES (CHARITATE) FORMATA, ‘iman yang dibentuk oleh kasih’, dan karena itu bukanlah iman yang benar / sungguh-sungguh sampai dan kecuali kasih itu hadir / ada.].

 

Bdk. Kej 15:1-3 - “(1) Kemudian datanglah firman TUHAN kepada Abram dalam suatu penglihatan: ‘Janganlah takut, Abram, Akulah perisaimu; upahmu akan sangat besar.’ (2) Abram menjawab: ‘Ya Tuhan ALLAH, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik itu.’ (3) Lagi kata Abram: ‘Engkau tidak memberikan kepadaku keturunan, sehingga seorang hambaku nanti menjadi ahli warisku.’.

 

Apakah Kej 15:2-3 yang menunjukkan bahwa Abraham takut dan ragu-ragu bertentangan dengan Ro 4:18-19?

 

Ro 4:18-19 - “(18) Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: ‘Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.’ (19) Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup..

 

Calvin (tentang Ro 4:19): He indeed shows now more fully what might have hindered, yea, and wholly turned Abraham aside from receiving the promise. A seed from Sarah was promised to him at a time when he was not by nature fit for generating, nor Sarah for conceiving. Whatever he could see as to himself was opposed to the accomplishment of the promise. Hence, that he might yield to the truth of God, he withdrew his mind from those things which presented themselves to his own view, and as it were forgot himself. You are not however to think, that he had no regard whatever to his own body, now dead, since Scripture testifies to the contrary; for he reasoned thus with himself, ‘Shall a child be born to a man an hundred years old? and shall Sarah, who is ninety, bear a son?’ But as he laid aside the consideration of all this, and resigned his own judgment to the Lord, the Apostle says, that he ‘considered not,’ etc.; and truly it was a greater effort to withdraw his thoughts from what of itself met his eyes, than if such a thing came into his mind. [= ].

 

Martin Luther (tentang Kej 15:6): How, then, did he obtain righteousness? In this way: God speaks, and Abraham believes what God is saying. Moreover, the Holy Spirit comes as a trustworthy witness and declares that this very believing or this very faith is righteousness or is imputed by God Himself as righteousness and is regarded by Him as such. But because the words which the Lord is speaking relate especially to Christ, the spiritual Seed, Paul unfolds this mystery and declares clearly that righteousness comes through faith in Christ (Gal. 2:16). Let us, then, accept this statement and not allow ourselves to be dislodged from it by the ragings of Satan and the popes. [= Lalu, bagaimana ia mendapatkan kebenaran? Dengan cara ini: Allah berbicara, dan Abraham percaya apa yang Allah katakan. Lebih lagi / selanjutnya, Roh Kudus datang sebagai saksi yang layak dipercaya dan menyatakan bahwa kepercayaan atau iman ini adalah kebenaran atau diperhitungkan oleh Allah sendiri sebagai kebenaran dan dianggap olehNya seperti itu. Tetapi karena kata-kata yang Tuhan katakan itu berhubungan secara khusus dengan Kristus, Benih / Keturunan rohani itu, Paulus menyingkapkan misteri ini dan menyatakan bahwa kebenaran datang melalui iman kepada Kristus (Gal 2:16). Maka, hendaklah kita menerima pernyataan ini dan tidak mengijinkan diri kita sendiri dikeluarkan / disingkirkan darinya oleh kemarahan / kekejaman dari Iblis dan para Paus.] - ‘Luther’s Works, Vol 3, Lectures on Genesis’ (Libronix).

Catatan: bagian yang saya garis-bawahi itu menunjuk pada Kej 12:1-3, dan memang Kej 15:4-5 merupakan pengulangan dari Kej 12:1-3.

Kej 15:4-5 - “(4) Tetapi datanglah firman TUHAN kepadanya, demikian: ‘Orang ini tidak akan menjadi ahli warismu, melainkan anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu.’ (5) Lalu TUHAN membawa Abram ke luar serta berfirman: ‘Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya.’ Maka firmanNya kepadanya: ‘Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.’.

Kej 12:2-3 - “(2) Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. (3) Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.’.

Catatan: bagian yang saya garis-bawahi itu tidak bisa tidak menunjuk kepada Kristus!

 

Gal 2:16 - Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: ‘tidak ada seorangpun yang dibenarkan’ oleh karena melakukan hukum Taurat..

 

Sebetulnya bisa ditekankan lagi, bahwa janji berkat kepada semua kaum di muka bumi itu, bukan hanya berhubungan dengan Kristus, tetapi juga dengan PENEBUSAN Kristus!

Bdk. Ro 3:25a - Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darahNya..

 

Martin Luther (tentang Kej 15:6): This is the source from which Paul has drawn his discussions in Romans and Galatians, where he ascribes righteousness to faith, not to works or the Law. [= Ini adalah sumber dari mana Paulus telah mengambil diskusinya dalam Roma dan Galatia, dimana ia menganggap kebenaran berasal dari iman, bukan dari pekerjaan-pekerjaan / perbuatan-perbuatan baik, atau dari hukum Taurat.] - ‘Luther’s Works, Vol 3, Lectures on Genesis’ (Libronix).

 

Martin Luther (tentang Kej 15:6): Here the testimony of Scripture is clear and beyond doubt. Righteousness is imputed to faith, that is, Abraham is reckoned as righteous by God because he believes God. Scripture makes no such statement about works. [= Di sini kesaksian Kitab Suci adalah jelas dan tanpa keraguan. Kebenaran diperhitungkan pada / bagi iman, artinya, Abraham dianggap sebagai benar oleh Allah karena ia percaya Allah. Kitab Suci tidak membuat pernyataan tentang pekerjaan-pekerjaan / perbuatan-perbuatan baik.] - ‘Luther’s Works, Vol 3, Lectures on Genesis’ (Libronix).

 

Martin Luther (tentang Kej 15:6): Moreover, we must give heed to Holy Scripture, which proves abundantly that nobody can satisfy the Law. The Law demands that you love God with all your heart and your neighbor as yourself (Lev. 19:18). But who, I ask, is there who does this? Even the love of the saints is imperfect and is often troubled by fear, often by lack of trust, and often by impatience in misfortune. At such times what becomes of faith produced by love? If God will not consider you just unless you have loved Him with all your heart and have fulfilled the Law, you will never be justified. [= Lebih lagi / selanjutnya, kita harus memperhatikan Kitab Suci Kudus, yang membuktikan dengan berlimpah-limpah bahwa tak seorangpun bisa memuaskan hukum Taurat. Hukum Taurat menuntut bahwa kamu mengasihi Allah dengan segenap hatimu dan sesamamu seperti dirimu sendiri (Im 19:18). Tetapi siapa, saya bertanya, yang melakukan ini? Bahkan kasih dari santo-santo tidak sempurna dan sering diganggu oleh rasa takut, sering oleh kurangnya kepercayaan, dan sering oleh ketidak-sabaran dalam nasib buruk / bencana. Pada saat-saat seperti itu apa yang terjadi dengan iman yang dihasilkan oleh kasih? Jika Allah tak mau menganggap kamu benar kecuali kamu telah mengasihi Dia dengan segenap hatimu dan telah menggenapi hukum Taurat, kamu tidak akan pernah dibenarkan.] - ‘Luther’s Works, Vol 3, Lectures on Genesis’ (Libronix).

 

Martin Luther (tentang Kej 15:6): Learn, therefore, not to attribute righteousness to your love or to your works and merits; for they are always unclean, imperfect, and polluted. Consequently, they call for a confession of our unworthiness and for humbling ourselves with a prayer for forgiveness. But attribute your righteousness to mercy alone, to the promise concerning Christ alone, the promise which faith accepts and by means of which it protects and defends itself against conscience when God sits in judgment. [= Karena itu belajarlah, untuk tidak menganggap kebenaran muncul dari kasihmu atau pekerjaan-pekerjaan / perbuatan-perbuatan baik dan jasa-jasamu; karena semua itu selalu najis, tak sempurna, dan tercemar. Karena itu, mereka menuntut suatu pengakuan tentang ketidak-layakan kita dan perendahan diri kita dengan suatu doa untuk pengampunan. Tetapi anggaplah kebenaranmu muncul dari belas kasihan saja, dari janji berkenaan dengan Kristus saja, janji yang iman terima dan dengan cara mana itu melindungi dan mempertahankan dirinya sendiri terhadap hati nurani pada waktu Allah duduk dalam penghakiman.] - ‘Luther’s Works, Vol 3, Lectures on Genesis’ (Libronix).

 

Martin Luther (tentang Kej 15:6): This is the sound and true doctrine. On the other hand, the scholastic doctrine concerning an unformed and a formed faith is of the devil; it destroys the doctrine of faith ... Therefore let us reject it as a hellish pest. [= Ini adalah doktrin yang sehat dan benar. Di sisi lain, doktrin Gereja Katolik berkenaan dengan iman yang belum dibentuk dan iman yang sudah dibentuk adalah dari setan; itu menghancurkan doktrin tentang iman ... Karena itu hendaklah kita menolaknya sebagai suatu wabah dari neraka.] - ‘Luther’s Works, Vol 3, Lectures on Genesis’ (Libronix).

Catatan: kalau saya dianggap banyak orang sebagai pengkhotbah yang keras / kasar, coba bandingkan dengan kata-kata Luther di sini!

 

Martin Luther (tentang Kej 15:6): Furthermore, every promise of God includes Christ; for if it is separated from this Mediator, God is not dealing with us at all. [= Selanjutnya, setiap janji Allah mencakup Kristus; karena jika itu dipisahkan dari Pengantara ini, Allah tidak berurusan dengan kita sama sekali.] - ‘Luther’s Works, Vol 3, Lectures on Genesis’ (Libronix).

 

Martin Luther (tentang Kej 15:6): Therefore the only difference between Abraham’s faith and ours is this: Abraham believed in the Christ who was to be manifested, but we believe in the Christ who has already been manifested; and by that faith we are all saved. [= Karena itu satu-satunya perbedaan antara iman Abraham dan iman kita adalah ini: Abraham percaya kepada Kristus yang akan dimanifestasikan, tetapi kita percaya kepada Kristus yang sudah dimanifestasikan; dan oleh iman itu kita semua diselamatkan.] - ‘Luther’s Works, Vol 3, Lectures on Genesis’ (Libronix).

 

Jadi, iman orang-orang jaman Perjanjian Lama dan iman kita adalah sama. Perbedaannya hanyalah mereka percaya kepada Kristus yang akan datang, sedangkan kita percaya kepada Kristus yang sudah datang! Kita mempunyai terang yang lebih banyak, sehingga kita mempunyai tanggung jawab yang lebih besar, untuk percaya kepada Kristus!

 

 

-bersambung-

 

http:\\golgothaministry.org

Email : golgotha_ministry0@yahoo.com