kebaktian

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)

 

Minggu, tgl 5 November 2017, pk 08.00 & 17.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

reformasi 500 tahun(2)

 

II) Titik terang dalam kehidupan rohani Luther.

 

David Schaff: “In this state of mental and moral agony, Luther was comforted by an old monk of the convent (the teacher of the novices) who reminded him of the article on the forgiveness of sins in the Apostles’ Creed, of Paul’s word that the sinner is justified by grace through faith,” [= Dalam keadaan penderitaan mental dan moral ini, Luther dihibur oleh seorang biarawan tua dari biara (guru / pengajar dari para pemula) yang mengingatkan dia tentang pokok tertentu tentang pengampunan dosa-dosa dalam 12 Pengakuan Iman Rasuli, tentang kata-kata Paulus bahwa orang berdosa dibenarkan oleh kasih karunia melalui iman,] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 118.

 

David Schaff: “His best friend and wisest counsellor was Johann von Staupitz, ... He cared more for the inner spiritual life than outward forms and observances, and trusted in the merits of Christ rather than in good works of his own, as the solid ground of comfort and peace. The love of God and the imitation of Christ were the ruling ideas of his theology and piety.” [= Sahabat terbaiknya dan penasehatnya yang paling bijaksana adalah Johann von Staupitz, ... Ia lebih memperhatikan kehidupan rohani di dalam dari pada bentuk-bentuk dan ketaatan-ketaatan lahiriah, dan mempercayai jasa-jasa Kristus dari pada perbuatan-perbuatan baiknya sendiri, sebagai dasar yang kokoh dari penghiburan dan damai. Kasih Allah dan peneladanan Kristus adalah gagasan-gagasan yang utama dari theologia dan kesalehannya.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 118.

 

David Schaff: “‘The law,’ he says in substance, ‘makes known the disease, but cannot heal. But the spirit is hid beneath the letter; the old law is pregnant with Christ who gives us grace to love God above all things. ... The knowledge of the Christian faith and the love to God are gifts of pure grace beyond our art and ability, and beyond our works and merits.’” [= ‘Hukum Taurat’, ia (Staupitz) berkata secara hakiki, ‘memberi tahu penyakitnya, tetapi tidak bisa menyembuhkan. Tetapi roh tersembunyi di bawah huruf; hukum yang lama penuh dengan Kristus yang memberi kita kasih karunia untuk mengasihi Allah di atas segala sesuatu. ... Pengetahuan tentang iman Kristen dan kasih kepada Allah adalah karunia-karunia dari kasih karunia yang murni melampaui keahlian dan kemampuan kita, dan melampaui perbuatan-perbuatan baik dan jasa-jasa kita’.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 119.

Bdk. Ro 3:20 - “Sebab tidak seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa.”.

 

David Schaff: “Staupitz was Luther’s spiritual father, and ‘first caused the light of the gospel to shine in the darkness of his heart.’ He directed him from his sins to the merits of Christ, from the law to the cross, from works to faith, from scholasticism to the study of the Scriptures, of St. Augustin, and Tauler. He taught him that true repentance consists not in self-imposed penances and punishments, but in a change of heart and must proceed from the contemplation of Christ’s sacrifice, in which the secret of God’s eternal will was revealed.” [= Staupitz adalah bapa rohani Luther, dan ‘yang pertama-tama menyebabkan terang injil bersinar dalam kegelapan hatinya’. Ia mengarahkannya dari dosa-dosanya kepada jasa-jasa Kristus, dari hukum Taurat kepada salib, dari pekerjaan / perbuatan baik kepada iman, dari theologia / filsafat abad pertengahan pada pembelajaran Kitab Suci dari Santo Agustinus dan Tauler. Ia mengajarnya bahwa pertobatan yang sejati terdiri bukan dalam penance dan hukuman yang ditetapkan sendiri, tetapi dalam suatu perubahan hati dan harus keluar dari perenungan tentang pengorbanan Kristus, dalam mana rahasia dari kehendak kekal dari Allah dinyatakan.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 119.

 

Catatan: Tauler adalah seorang ahli theologia dari Gereja Roma Katolik yang hidup pada abad ke 14 (https://en.wikipedia.org/wiki/Johannes_Tauler).

 

Dari link di atas, menurut saya, satu-satunya hal baik dalam ajarannya, adalah ini:

Tauler worked with the Friends of God, and it was with them that he taught his belief that the state of the soul was affected more by a personal relationship with God than by external practices.” [= Tauler bekerja sama dengan Sahabat-sahabat Allah, dan adalah bersama dengan mereka ia mengajarkan kepercayaannya bahwa keadaan dari jiwa dipengaruhi lebih oleh suatu hubungan pribadi dengan Allah dari pada oleh praktek-praktek lahiriah.].

 

Catatan: kalau saya melihat dari kata-kata David Schaff tentang apa yang Staupitz ajarkan / katakan, maka saya menyimpulkan bahwa sekalipun ada injil dalam ajaran / kata-katanya, tetapi ada hal-hal lain yang mengaburkan injil itu. Ia tak sepenuhnya injili.

 

Sedikit lanjutan tentang Staupitz.

 

David Schaff: “He encouraged Luther to enter the priesthood (1507), and brought him to Wittenberg; he induced him to take the degree of Doctor of Divinity, and to preach. He stirred him up against popery,” [= Ia mendorong Luther untuk memasuki keimaman / kepastoran (1507), dan membawanya ke Wittenberg; ia membimbingnya untuk mengambil gelar Doctor of Divinity, dan untuk berkhotbah. Ia menggerakkan / menghasutnya terhadap / menentang kepausan,] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 120.

 

David Schaff: “But when Luther broke with Rome, and Rome with Luther, the friendship cooled down. Staupitz held fast to the unity of the Catholic Church and was intimidated and repelled by the excesses of the Reformation.” [= Tetapi pada waktu Luther berpisah dengan Roma, dan Roma dengan Luther, persahabatan itu menjadi dingin. Staupitz berpegang teguh pada kesatuan dari Gereja Katolik dan dibuat jadi takut dan dijadikan tak senang oleh hal-hal yang berlebih-lebihan dari Reformasi.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 120.

Catatan: saya tak mengerti apa yang dimaksud oleh Schaff dengan ‘hal-hal yang berlebih-lebihan dari Reformasi’. Apakah ini berlebihan dalam pandangan Staupitz?

 

David Schaff: “In a letter of April 1, 1524, he begs Luther’s pardon for his long silence and significantly says in conclusion: ‘May Christ help us to live according to his gospel which now resounds in our ears and which many carry on their lips; for I see that countless persons abuse the gospel for the freedom of the flesh. Having been the precursor of the holy evangelical doctrine, I trust that my entreaties may have some effect upon thee.’ The sermons which he preached at Salzburg since 1522 breathe the same spirit and urge Catholic orthodoxy and obedience. His last book, published after his death (1525) under the title, ‘Of the holy true Christian Faith,’ is a virtual protest against Luther’s doctrine of justification by faith alone and a plea for a practical Christianity which shows itself in good works. He contrasts the two doctrines in these words: ‘The fools say, he who believes in Christ., needs no works; the Truth says, whosoever will be my disciple, let him follow Me; and whosoever will follow Me, let him deny himself and carry my cross day by day; and whosoever loves Me, keeps my commandments .... The evil spirit suggests to carnal Christians the doctrine that man is justified without works, and appeals to Paul. But Paul only excluded works of the law which proceed from fear and selfishness, while in all his epistles he commends as necessary to salvation such works as are done in obedience to God’s commandments, in faith and love. Christ fulfilled the law, the fools would abolish the law; Paul praises the law as holy and good, the fools scold and abuse it as evil because they walk according to the flesh and have not the mind of the Spirit.’ [= Dalam sebuah surat tertanggal 1 April, 1524, ia memohon pengampunan Luther untuk ke-diam-annya yang lama dan akhirnya berkata dengan penuh arti: ‘Kiranya Kristus menolong kita untuk hidup sesuai dengan injilNya yang sekarang bergema di telinga kita dan yang dibawa banyak orang di bibir mereka; karena aku melihat bahwa tak terhitung orang-orang yang menyalah-gunakan injil untuk kebebasan dari daging. Setelah menjadi pendahulu dari doktrin injili yang kudus, aku percaya bahwa permohonan-permohonanku bisa mendapatkan suatu hasil / kegunaan padamu’. Khotbah-khotbah yang ia khotbahkan di Salzburg sejak tahun 1522 menghembuskan roh yang sama dan mendesak keortodoxan dan ketaatan Katolik. Bukunya yang terakhir, diterbitkan setelah kematiannya (1525) dengan judul, ‘Tentang Iman Kristen sejati yang kudus’, merupakan suatu protes yang terselubung terhadap / menentang doktrin pembenaran oleh iman saja dan suatu permohonan untuk suatu kekristenan praktis yang menunjukkan dirinya sendiri dalam perbuatan-perbuatan baik. Ia mengkontraskan kedua doktrin dengan kata-kata ini: ‘Orang bodoh berkata, ia yang percaya kepada Kristus, tidak membutuhkan perbuatan baik; Sang Kebenaran berkata, barangsiapa mau menjadi muridKu, hendaklah ia mengikut Aku; dan barangsiapa mau mengikut Aku, hendaklah ia menyangkal dirinya sendiri dan memikul salibKu hari demi hari; dan barangsiapa mengasihiKu, mentaati perintah-perintahKu ... Roh jahat mengusulkan kepada orang-orang Kristen yang bersifat daging doktrin bahwa manusia dibenarkan tanpa perbuatan, dan naik banding kepada Paulus. Tetapi Paulus hanya mengeluarkan perbuatan dari hukum Taurat yang keluar dari rasa takut dan keegoisan, sedangkan dalam semua surat-suratnya ia menghargai / memuji sebagai perlu bagi keselamatan perbuatan-perbuatan yang dilakukan dalam ketaatan pada perintah-perintah / hukum-hukum Allah, dalam iman dan kasih. Kristus menggenapi hukum Taurat, orang bodoh menghapuskan hukum Taurat; Paulus memuji hukum Taurat sebagai kudus dan baik, orang bodoh mencaci maki dan menyalah-gunakannya sebagai jahat karena mereka berjalan / hidup sesuai dengan daging dan tidak mempunyai pikiran dari Roh’.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 120-121.

 

Bagaimana Staupitz yang tadinya menjadi guru yang injili bagi Luther bisa kembali pada doktrin keselamatan karena perbuatan baik? Apakah rasa takut dan kecintaan pada gereja, tak peduli sesesat apapun gereja itu, bisa membuat orang berbalik seperti itu? Rasanya tidak mungkin. Bandingkan dengan Nikodemus dan Yusuf dari Arimatea (Yoh 3:1-2  Yoh 19:38-40)! Dari ikut Yesus dengan takut dan sembunyi-sembunyi, mereka berubah jadi berani dan terang-terangan pada saat Yesus mati. Jadi saya lebih percaya Staupitz adalah orang yang hanya inteleknya yang injili (itupun tak sepenuhnya, seperti sudah saya katakan di atas), tetapi ia tidak pernah menjadi orang Kristen yang sejati! Hanya orang kristen KTP yang bisa murtad (1Yoh 2:19)!

 

Setidaknya ini merupakan suatu peringatan bagi orang-orang yang begitu cinta pada gerejanya tak peduli sesesat apa gerejanya itu!

 

Orang Kristen harus setia kepada Kristus dan Alkitab, bukan kepada gereja manapun!

 

David Schaff: “Staupitz withdrew from the conflict, resigned his position, 1520, left his order by papal dispensation, became abbot of the Benedictine Convent of St. Peter in Salzburg and died Dec. 28, 1524) in the bosom of the Catholic church which he never intended to leave. He was evangelical, without being a Protestant. He cared little for Romanism, less for Lutheranism, all for practical Christianity. His relation to the Reformation resembles that of Erasmus with this difference, that he helped to prepare the way for it in the sphere of discipline and piety, Erasmus in the sphere of scholarship and illumination. Both were men of mediation and transition; they beheld from afar the land of promise, but did not enter it.” [= Staupitz mundur dari konflik, berhenti dari posisinya, 1520, meninggalkan ordonya oleh pembebasan / pengecualian Paus, menjadi pimpinan biara dari Biara Benedictine dari Santo Petrus di Salzburg dan mati pada tanggal 8 Des 1524 dalam dada dari gereja Katolik, yang ia tak pernah bermaksud untuk tinggalkan. Ia adalah seorang injili, tanpa menjadi seorang Protestant. Ia tak terlalu peduli pada ajaran Roma, lebih-lebih pada ajaran Lutheran, semua kepeduliannya adalah untuk kekristenan yang praktis. Hubungannya dengan Reformasi menyerupai hubungan dari Erasmus dengan perbedaan ini, bahwa ia membantu untuk mempersiapkan jalan baginya dalam ruang lingkup disiplin dan kesalehan, Erasmus dalam ruang lingkup kesarjanaan dan pencerahan. Keduanya adalah orang-orang pengantara dan transisi; mereka melihat tanah perjanjian dari jauh, tetapi tidak memasukinya.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 121-122.

Catatan: saya tak bisa mengerti bagaimana Staupitz masih dianggap sebagai orang injili.

 

Bandingkan Staupitz dengan Luther dalam kutipan di bawah ini.

 

David Schaff: “The secret of Luther’s power and influence lies in his heroic faith. It delivered him from the chaos and torment of ascetic self-mortification and self-condemnation, gave him rest and peace, and made him a lordly freeman in Christ, and yet an obedient servant of Christ. This faith breathes through all his writings, dominated his acts, sustained him in his conflicts and remained his shield and anchor till the hour of death. This faith was born in the convent at Erfurt, called into public action at Wittenberg, and made him a Reformer of the Church.” [= Rahasia dari kekuatan dan pengaruh Luther terletak dalam imannya yang berani / bersifat pahlawan. Itu membebaskan dia dari kekacauan dan siksaan dari pematian diri sendiri yang bersifat pertapaan dan pengecaman / penghukuman diri sendiri, memberi dia istirahat / ketenangan dan damai, dan membuat dia seorang bebas yang mulia dalam Kristus, tetapi juga seorang pelayan Kristus yang taat. Iman ini bernafas / menghembus melalui semua tulisan-tulisannya, mendominasi tindakan-tindakannya, menyokongnya dalam konflik-konfliknya dan tetap menjadi perisai dan jangkarnya sampai saat kematiannya. Iman ini dilahirkan di biara dari Erfurt, dipanggil menjadi tindakan umum di Wittenberg, dan membuatnya seorang tokoh Reformasi dari Gereja.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 122.

 

III) Pertobatan Luther.

 

1)   Sejarah pertobatan Luther.

 

David Schaff: “By the aid of Staupitz and the old monk, but especially by the continued study of Paul’s Epistles, he was gradually brought to the conviction that the sinner is justified by faith alone, without works of law. He experienced this truth in his heart long before he understood it in all its bearings. He found in it that peace of conscience which he had sought in vain by his monkish exercises. He pondered day and night over the meaning of ‘the righteousness of God’ (Rom. 1:17), and thought that it is the righteous punishment of sinners; but toward the close of his convent life he came to the conclusion that it is the righteousness which God freely gives in Christ to those who believe in him. Righteousness is not to be acquired by man through his own exertions and merits; it is complete and perfect in Christ, and all the sinner has to do is to accept it from Him as a free gift.” [= Oleh pertolongan dari Staupitz dan sang biarawan tua, tetapi khususnya oleh pembelajaran terus menerus tentang surat-surat Paulus, ia secara bertahap dibawa pada keyakinan bahwa orang berdosa dibenarkan oleh iman saja, tanpa pekerjaan-pekerjaan hukum Taurat. Ia mengalami kebenaran ini dalam hatinya jauh sebelum ia mengertinya dalam semua hubungan-hubungannya. Ia merenungkan siang dan malam tentang arti dari ‘kebenaran Allah’ (Ro 1:17), dan mengira bahwa itu adalah hukuman yang benar terhadap orang-orang berdosa; tetapi menjelang akhir dari kehidupan biaranya, ia sampai pada kesimpulan bahwa itu adalah kebenaran yang Allah berikan dengan cuma-cuma dalam Kristus kepada mereka yang percaya kepadaNya. Kebenaran tidak didapatkan oleh manusia melalui usaha dan kebaikan / jasanya sendiri; kebenaran itu lengkap dan sempurna dalam Kristus, dan semua yang harus dilakukan oleh orang berdosa adalah menerimanya dari Dia sebagai suatu pemberian cuma-cuma.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 122.

 

Bdk. Ef 2:8-9 - “(8) Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, (9) itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.”.

 

Dr. Albert H. Freundt Jr.: “As he recalled it many years later (1545), it all happened suddenly in 1512 or 1513 in the tower room of the Augustinian monastery at Wittenberg where he lived, perhaps while he was preparing his lectures on the Psalms. He was trying to make sense out of Romans 1:17. He said: "After I had pondered the problems for days and nights, God took pity on me and I saw the inner connection between the two phrases, ‘The justice of God is revealed in the Gospel’ and ‘The just shall live by faith.’ I began to understand that this ‘justice of God’ is the righteousness by which the just man lives through the free gift of God, that is to say ‘by faith.’ ... Thereupon I felt as if I had been born again and had entered Paradise through wide-open gates. Immediately the whole of Scripture took on a new meaning for me. I raced through the Scriptures, so far as my memory went, and found analogies in other expressions." Luther felt he had rediscovered the meaning of Paul’s conviction that a Christian is saved not by moral or ceremonial ‘works,’ but by faith in Jesus Christ. This was just what was needed to meet his soul’s quest. The monk must not trust in his perseverance or penances, but in the righteousness of Christ. Christ’s righteousness was given to all who believed or trusted in him. Faith was the channel through which the grace of God brings forgiveness and peace. They do not come to the poor little efforts of the weary Christian, but upon his participation in a righteousness beyond his own. Forgiveness is a gift; it cannot be won.” [= Pada waktu ia mengingatnya kembali banyak tahun sesudahnya (1545), itu semua terjadi secara mendadak di tahun 1512 atau 1513 di ruangan di menara dari biara Augustinian di Wittenberg dimana ia tinggal, mungkin pada waktu ia sedang mempersiapkan pelajaran-pelajarannya tentang Kitab Mazmur. Ia sedang berusaha untuk mengerti tentang Ro 1:17. Ia berkata: "Setelah aku memikirkan / merenungkan problem itu untuk berhari-hari, Allah berbelas kasihan kepadaku dan aku melihat hubungan di dalam antara kedua ungkapan, ‘Kebenaran Allah dinyatakan dalam Injil’ dan ‘Orang benar akan hidup oleh iman’. Aku mulai mengerti bahwa ‘kebenaran Allah’ ini adalah kebenaran dengan mana orang benar hidup melalui karunia cuma-cuma dari Allah, artinya ‘oleh iman’. ... Sebagai akibatnya aku merasa seakan-akan aku telah dilahirkan kembali dan telah memasuki Firdaus melalui pintu-pintu gerbang yang terbuka lebar. Segera seluruh Kitab Suci menunjukkan suatu arti yang baru untuk aku. Aku melewati Kitab Suci dengan cepat, sejauh ingatanku berjalan, dan menemukan analogi-analogi dalam ungkapan-ungkapan yang lain". Luther merasakan bahwa ia telah menemukan kembali arti dari keyakinan Paulus bahwa seorang Kristen diselamatkan bukan oleh ‘perbuatan baik’ yang bersifat moral atau upacara, tetapi oleh iman kepada Yesus Kristus. Ini persis merupakan apa yang dibutuhkan untuk memuaskan pencarian jiwanya. Biarawan tidak boleh percaya kepada ketekunannya atau penance-nya, tetapi kepada kebenaran dari Kristus. Kebenaran Kristus diberikan kepada semua orang yang percaya atau mempercayakan diri kepadaNya. Iman adalah saluran melalui mana kasih karunia Allah membawa pengampunan dan damai. Mereka tidak datang kepada usaha-usaha kecil yang menyedihkan dari orang Kristen yang lelah, tetapi pada partisipasinya dalam suatu kebenaran yang melampaui kebenarannya sendiri. Pengampunan adalah suatu karunia; itu tidak bisa dimenangkan.] - ‘History of Modern Christianity’, hal 26-27.

 

Dr. Albert H. Freundt Jr.: “Luther’s understanding of Paul was growing through these years and he preached it with more and more precision and clarity. Before he ever heard of Tetzel and his sale of indulgences, Luther was teaching a Pauline theology of grace. His message was being received in Wittenberg. In May of 1517 he wrote to a friend: ‘My theology - which is St. Augustine’s - is getting on, and is dominant in the university. God has done it. ... Nobody will go to hear a lecture unless the lecturer is teaching my theology - which is the theologians of the Church. I am quite sure that the Church will never be reformed unless we get rid of canon law, scholastic theology, philosophy and logic as they are studied today, and put something else in their place.’” [= Pengertian Luther tentang Paulus bertumbuh melalui tahun-tahun ini dan ia mengkhotbahkannya dengan makin lama makin tepat dan jelas. Sebelum ia pernah mendengar tentang Tetzel dan penjualan surat pengampunan dosanya, Luther sudah mengajarkan theologia kasih karunia dari Paulus. Beritanya diterima di Wittenberg. Pada bulan Mei tahun 1517 ia menulis kepada seorang sahabat: ‘Theologiaku - yang adalah milik Santo Agustinus - sedang maju, dan dominan di Universitas. Allah telah melakukannya. ... Tak seorangpun akan pergi untuk mendengar suatu pelajaran kecuali pengajarnya mengajarkan theologiaku - yang adalah theologia dari Gereja. Aku cukup yakin bahwa Gereja tidak akan pernah direformasi kecuali kita membuang kumpulan hukum dan peraturan Gereja, theologia, filsafat dan logika abad pertengahan, sebagaimana mereka dipelajari saat ini, dan memberikan sesuatu yang lain sebagai gantinya’.] - ‘History of Modern Christianity’, hal 27.

 

Ada 3 hal yang perlu diperhatikan dari kutipan di atas ini:

1.   Begitu mendapatkan kebenaran yang sesungguhnya, Luther tak takut ataupun malu untuk mengubah ajaran lamanya dengan ajarannya yang baru.

2.   Ajaran barunya dengan cepat diterima di Wittenberg, yang menunjukkan dengan jelas pekerjaan Allah. Mengapa? Karena perubahan theologia seperti itu pada umumnya sangat sukar untuk diterima. Kalau bisa diterima dengan begitu cepat, itu hanya bisa terjadi karena pekerjaan Allah.

3.   Reformasi memang harus dilakukan dengan membuang ajaran lama yang salah, dan menggantinya dengan ajaran baru yang benar. Gereja / orang yang tidak mau melakukan ini tidak akan pernah direformasi! Gereja-gereja / orang-orang yang mendengar ‘suatu ajaran baru’ yang menentang ajaran lama mereka, dan yang tidak bisa mereka bantah dengan argumentasi apapun, harus menerima ‘ajaran baru’ itu, atau mereka tidak akan pernah bisa direformasi!

 

David Schaff: “The Pauline doctrine of justification as set forth in the Epistles to the Romans and Galatians, had never before been clearly and fully understood, not even by Augustin and Bernard, who confound justification with sanctification. Herein lies the difference between the Catholic and the Protestant conception. In the Catholic system justification (δικαίωσις) is a gradual process conditioned by faith and good works; in the Protestant system it is a single act of God, followed by sanctification. It is based upon the merits of Christ, conditioned by faith, and manifested by good works.” [= Doktrin pembenaran Paulus sebagaimana diberikan dalam Surat-surat kepada gereja Roma dan Galatia, sebelumnya tidak pernah dimengerti dengan jelas dan dengan sepenuhnya, bahkan tidak oleh Agustinus dan Bernard, yang mengacaukan pembenaran dan pengudusan. Di sini terletak perbedaan antara pengertian Katolik dan Protestan. Dalam sistim Katolik pembenaran (δικαίωσις / DIKAIOSIS) merupakan suatu proses perlahan-lahan / bertahap yang disyaratkan oleh iman dan perbuatan baik; dalam sistim Protestan itu merupakan satu tindakan dari Allah, diikuti oleh pengudusan. Itu didasarkan pada jasa-jasa Kristus, disyaratkan oleh iman, dan dinyatakan oleh perbuatan baik.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 123.

 

David Schaff: “This experience acted like a new revelation on Luther. It shed light upon the whole Bible and made it to him a book of life and comfort. He felt relieved of the terrible load of guilt by an act of free grace. He was led out of the dark prison house of self-inflicted penance into the daylight and fresh air of God’s redeeming love. Justification broke the fetters of legalistic slavery, and filled him with the joy and peace of the state of adoption; it opened to him the very gates of heaven.” [= Pengalaman ini bertindak seperti suatu wahyu yang baru kepada Luther. Itu memberi terang pada seluruh Alkitab dan membuatnya baginya suatu kitab kehidupan dan penghiburan. Ia merasa dibebaskan dari beban kesalahan yang hebat / menakutkan oleh suatu tindakan kasih karunia yang cuma-cuma. Ia dibimbing keluar dari rumah penjara yang gelap dari penance / hukuman yang dijatuhkan sendiri kepada terang siang hari dan udara segar dari kasih Allah yang menebus. Pembenaran menghancurkan belenggu dari perbudakan legalistik, dan mengisi dia dengan sukacita dan damai dari keadaan adopsi; itu membuka baginya pintu-pintu gerbang surga.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 123-124.

 

David Schaff: “Henceforth the doctrine of justification by faith alone was for him to the end of life the sum and substance of the gospel, the heart of theology, the central truth of Christianity, the article of the standing or falling church. By this standard he measured every other doctrine and the value of every book of the Bible. Hence his enthusiasm for Paul, and his dislike of James, whom he could not reconcile with his favorite apostle. He gave disproportion to solifidianism and presented it sometimes in most unguarded language, which seemed to justify antinomian conclusions; but he corrected himself, he expressly condemned antinomianism, and insisted on good works and a holy life as a necessary manifestation of faith.” [= Sejak saat ini doktrin pembenaran oleh iman saja bagi dia, sampai akhir hidupnya, merupakan seluruh dan hakekat dari injil, pusat / inti dari theologia, kebenaran hakiki dari kekristenan, pokok tentang berdiri atau jatuhnya gereja. Oleh standard ini ia mengukur setiap doktrin yang lain dan nilai dari setiap kitab dalam Alkitab. Ini menyebabkan antusiasnya untuk Paulus, dan ketidak-senangannya kepada Yakobus, yang ia tidak bisa perdamaikan dengan rasul favoritnya. Ia memberikan ketidak-seimbangan pada doktrin keselamatan oleh iman saja, dan kadang-kadang menggambarkannya dalam bahasa / kata-kata yang sangat tak dijaga / mudah diserang, yang kelihatannya membenarkan kesimpulan-kesimpulan antinomian (anti hukum); tetapi ia membetulkan dirinya sendiri, ia secara explicit mengecam aninomianisme, dan berkeras pada perbuatan-perbuatan baik dan suatu kehidupan kudus sebagai suatu manifestasi / perwujudan yang perlu dari iman.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 124.

Catatan: yang warna biru itu merupakan sikap Luther yang salah. Alkitab yang harus menghakimi kita, dan bukan sebaliknya.

 

Apakah Luther memang menolak surat Yakobus sebagai bagian dari Alkitab? Ada pro dan kontra tentang hal ini. Mari kita melihat pandangan Luther tentang Alkitab di bawah ini (sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Luther%27s_canon):

 

“Luther did not include the deuterocanonical books in his Old Testament, terming them ‘Apocrypha, that are books which are not considered equal to the Holy Scriptures, but are useful and good to read.’ He also argued unsuccessfully for the relocation of the Book of Esther from the canon to the Apocrypha, because without the deuterocanonical additions to the Book of Esther, the text of Esther never mentions God. As a result, Protestants and Catholics continue to use different canons, which differ both in respect to the Old Testament and in the concept of the Antilegomena of the New Testament. ... Luther made an attempt to remove the books of Hebrews, James, Jude and Revelation from the canon (notably, he perceived them to go against certain Protestant doctrines such as sola gratia and sola fide), but this was not generally accepted among his followers. However, these books are ordered last in the German-language Luther Bible to this day. ‘If Luther's negative view of these books were based only upon the fact that their canonicity was disputed in early times, 2 Peter might have been included among them, because this epistle was doubted more than any other in ancient times.’ However, the prefaces that Luther affixed to these four books makes it evident ‘that his low view of them was more due to his theological reservations than with any historical investigation of the canon.’ In his book Basic Theology, Charles Caldwell Ryrie countered the claim that Luther rejected the Book of James as being canonical. In his preface to the New Testament, Luther ascribed to several books of the New Testament different degrees of doctrinal value: ‘St. John’s Gospel and his first Epistle, St. Paul’s Epistles, especially those to the Romans, Galatians, Ephesians, and St. Peter's Epistle - these are the books which show to thee Christ, and teach everything that is necessary and blessed for thee to know, even if you were never to see or hear any other book of doctrine. Therefore, St. James’ Epistle is a perfect straw-epistle compared with them, for it has in it nothing of an evangelic kind.’ Thus Luther was comparing (in his opinion) doctrinal value, not canonical validity. However, Ryrie’s theory is countered by other biblical scholars, including William Barclay, who note that Luther stated plainly, if not bluntly: ‘I think highly of the epistle of James, and regard it as valuable although it was rejected in early days. It does not expound human doctrines, but lays much emphasis on God’s law. … I do not hold it to be of apostolic authorship.’ ... It is well known that Luther deemed it impossible to harmonize the two apostles in this article, and characterized the Epistle of James as an ‘epistle of straw,’ because it had no evangelical character (‘keine evangelische Art’). Martin Luther’s description of the Epistle of James changes. In some cases, Luther argues that it was not written by an apostle; but in other cases, he describes James as the work of an apostle. He even cites it as authoritative teaching from God and describes James as ‘a good book, because it sets up no doctrines of men but vigorously promulgates the law of God.’ Lutherans hold that the Epistle is rightly part of the New Testament, citing its authority in the Book of Concord, however it remains part of the Lutheran antilegomena.” [= ].

Catatan: ‘antilegomena’ = kitab-kitab Perjanjian Baru yang dianggap tak termasuk kanon Alkitab oleh gereja mula-mula.

Saya tidak menterjemahkan kutipan ini, karena menyimpang dari pokok yang menjadi tujuan dari seri khotbah ini. Tetapi dari kutipan di atas ini jelas bahwa tak ada kemutlakan kalau Luther menolak surat Yakobus sebagai salah satu kitab / surat dalam Alkitab.

 

David Schaff: “Thus the monastic and ascetic life of Luther was a preparatory school for his evangelical faith. It served the office of the Mosaic law which, by bringing the knowledge of sin and guilt, leads as a tutor to Christ (Rom. 3:20; Gal. 3:24). The law convicted, condemned, and killed him; the gospel comforted, justified, and made him alive. The law enslaved him, the gospel set him free. He had trembled like a slave; now he rejoiced as a son in his father’s house. Through the discipline of the law he died to the law, that he might live unto God (Gal. 2:19).” [= Jadi kehidupan biara dan bersifat pertapaan dari Luther merupakan suatu sekolah persiapan untuk iman injilinya. Itu melakukan tugas dari hukum Taurat Musa yang, dengan membawa pengetahuan tentang dosa dan kesalahan, membimbing seperti seorang guru / instruktur kepada Kristus (Ro 3:20; Gal 3:24). Hukum Taurat menunjukkan kesalahan, mengecam / menghukum, dan membunuhnya; injil menghibur, membenarkan, dan menghidupkannya. Hukum Taurat memperbudaknya, injil membebaskannya. Ia telah gemetar seperti seorang budak; sekarang ia bersukacita sebagai seorang anak dalam rumah bapanya. Melalui disiplin dari hukum Taurat ia mati bagi hukum Taurat, supaya ia bisa hidup bagi Allah (Gal 2:19).] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 124.

Ro 3:20 - “Sebab tidak seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa.”.

Gal 3:24 - “Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman.”.

NASB/ASV: ‘tutor’ [= guru / instruktur].

Gal 2:19a - “Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah.”.

 

David Schaff: “In one word, Luther passed through the experience of Paul. He understood him better than any mediaeval schoolman or ancient father. His commentary on the Epistle to the Galatians is still one of the best, for its sympathetic grasp of the contrast between law and gospel, between spiritual slavery and spiritual freedom. [= Singkatnya, Luther melewati pengalaman Paulus. Ia mengertinya dengan lebih baik dari orang-orang terpelajar abad pertengahan atau bapa-bapa gereja kuno. Tafsirannya tentang Surat Galatia tetap adalah salah satu yang terbaik, untuk cengkeramannya yang simpatik tentang kontras antara hukum Taurat dan injil, antara perbudakan rohani dan kebebasan rohani.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 125.

 

David Schaff: “Luther held this conviction without dreaming that it conflicted with the traditional creed and piety of the church. He was brought to it step by step. The old views and practices ran along side with it, and for several years he continued to be a sincere and devout Catholic. It was only the war with Tetzel and its consequences that forced him into the position of a Reformer and emancipated him from his old connections.” [= Luther memegang keyakinan ini tanpa bermimpi bahwa itu bertentangan dengan credo tradisionil dan kesalehan dari gereja. Ia dibawa kepadanya langkah demi langkah. Pandangan-pandangan dan praktek-praktek lama berjalan berdampingan dengannya, dan untuk beberapa tahun ia terus menjadi seorang Katolik yang sungguh-sungguh / tulus dan berbakti. Hanyalah perang dengan Tetzel dan konsekwensi-konsekwensinya yang memaksa dia ke dalam posisi dari seorang tokoh Reformasi dan membebaskannya dari hubungan-hubungan lamanya.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 125.

 

 

 

 

-bersambung-

 

http:\\golgothaministry.org

Email : golgotha_ministry0@yahoo.com

 


 

128 "Per quem primum coepit Evangelii lux de tenebris splendescere in cordibus nostris." So Luther says in his letter to Staupitz, Sept. 17, 1518 (DeWette II., 408 sq.), where he addresses him as "reverendus in Christo pater," and signs himself "filius tuus Martinus Lutherus."