kebaktian

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)

 

Minggu, tgl 29 Oktober 2017, pk 08.00 & 17.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

reformasi 500 tahun(1)

 

Roma 1:16-17

 

Roma 1:16-17 - “(16) Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. (17) Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: ‘Orang benar akan hidup oleh iman.’.

Catatan: Bagian-bagian yang saya garis-bawahi itu salah terjemahan.

Ay 16: ‘aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil’.

KJV/RSV/NIV/NASB: ‘for I am not ashamed of the gospel’ [= karena aku tidak malu tentang injil].

Ay 17: ‘yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman’.

KJV/NASB: ‘from faith to faith’ [= dari iman kepada iman].

RSV: ‘through faith for faith’ [= melalui iman untuk iman].

NIV: that is by faith from first to last [= yaitu oleh iman dari awal sampai akhir].

 

Pendahuluan.

 

David Schaff: “In the summer of 1505 Luther entered the Augustinian convent at Erfurt and became a monk, as he thought, for his life time.” [= Pada musim panas tahun 1505 Luther memasuki biara Augustinian di Erfurt dan menjadi seorang biarawan, yang ia pikir / kira, untuk seumur hidupnya.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 112.

 

Mengapa Luther masuk biara?

 

David Schaff: “He was never an infidel, nor a wicked man, but a pious Catholic from early youth; but now he became overwhelmed with a sense of the vanity of this world and the absorbing importance of saving his soul, which, according to the prevailing notion of his age, he could best secure in the quiet retreat of a cloister.” [= Ia tidak pernah menjadi orang kafir, atau orang jahat, tetapi ia adalah orang Katolik yang saleh sejak masa kecilnya; tetapi sekarang ia diliputi oleh suatu perasaan akan kesia-siaan dari dunia ini dan kepentingan untuk menyelamatkan jiwanya, yang, menurut pemikiran umum jaman itu, bisa ia pastikan dengan cara yang terbaik dalam pengunduran diri / pengucilan diri yang tenang dalam biara / tempat pengucilan.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 113.

 

Tentang biara Augustinian itu.

 

David Schaff: “It was not without significance that the order which he joined, bore the honored name of the greatest Latin father who, next to St. Paul, was to be Luther’s chief teacher of theology and religion; but it is an error to suppose that this order represented the anti-Pelagian or evangelical views of the North African father; on the contrary it was intensely catholic in doctrine, and given to excessive worship of the Virgin Mary, and obedience to the papal see which conferred upon it many special privileges.” [= Bukan tanpa arti sehingga ordo dimana ia bergabung, menyandang nama terhormat dari bapa gereja Latin yang terbesar yang, setelah Santo Paulus, akan menjadi guru agama dan theologia yang utama dari Luther, tetapi adalah sesuatu yang salah untuk mengira bahwa ordo ini mewakili pandangan-pandangan yang anti-Pelagian atau injili dari bapa gereja dari Afrika Utara ini; sebaliknya ordo ini bersifat sangat katolik dalam doktrin / pengajaran, dan sangat memuja / menyembah Perawan Maria, dan taat pada Paus yang memberikan kepada ordo ini banyak hak istimewa.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 114.

 

David Schaff: “The Augustinian convent at Erfurt became the cradle of the Lutheran Reformation.” [= Biara Augustinian di Erfurt menjadi tempat kelahiran dari Reformasi Lutheran.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 113.

 

I) Luther berusaha selamat karena perbuatan baik.

 

1)   Usaha-usaha yang Luther lakukan untuk selamat, dan hasilnya.

 

David Schaff: “His moral conduct was unblemished; and the mouth of slander did not dare to blacken his reputation till after the theological passions were roused by the Reformation. He went regularly to mass and observed the daily devotions of a sincere Catholic. He chose for his motto: to pray well is half the study. He was a devout worshipper of the Virgin Mary.” [= Tingkah laku moralnya tak bercacat; dan mulut dari pemfitnah tidak berani untuk menghitamkan / memfitnah reputasinya sampai setelah emosi theologia yang kuat dibangkitkan oleh Reformasi. Ia pergi secara teratur ke missa dan memelihara pembaktian harian dari seorang Katolik yang sungguh-sungguh. Ia memilih sebagai motto / semboyannya: berdoa dengan baik adalah setengah pembelajaran. Ia adalah seorang penyembah yang berbakti dari sang Perawan Maria.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 111.

Catatan: orang Katolik tidak mengakui mereka menyembah Maria, tetapi David Schaff menggunakan istilah ‘worshipper’ [= penyembah] di sini!

 

David Schaff: “If there was ever a sincere, earnest, conscientious monk, it was Martin Luther. His sole motive was concern for his salvation. To this supreme object he sacrificed the fairest prospects of life. He was dead to the world and was willing to be buried out of the sight of men that he might win eternal life. His latter opponents who knew him in convent, have no charge to bring against his moral character except in certain pride and combativeness, and he himself complained of his temptations to anger and envy.” [= Jika pernah ada seorang biarawan yang tulus dan sungguh-sungguh, maka itu adalah Martin Luther. Motivasi satu-satunya adalah perhatian untuk keselamatannya. Untuk tujuan tertinggi ini ia mengorbankan harapan terbaik hidupnya. Ia mati terhadap dunia, dan rela dikubur terhadap pandangan manusia supaya ia bisa mendapatkan hidup yang kekal. Penentang-penentangnya, yang mengenalnya di biara, tidak mempunyai tuduhan terhadap karakter moralnya kecuali dalam hal kesombongan tertentu dan kesukaannya melawan, dan ia sendiri mengeluh tentang pencobaan-pencobaan yang ia alami terhadap kemarahan dan iri hati.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 113-114.

 

David Schaff: “Luther was welcomed by his brethren with hymns of joy and prayer. He was clothed with a white woollen shirt, in honor of the pure Virgin, a black cowl and frock, tied by a leathern girdle. He assumed the most menial offices to subdue his pride: he swept the floor, begged bread through the streets, and submitted without a murmur to the ascetic severities. He said twenty-five Paternosters with the Ave Maria in each of the seven appointed hours of prayer. He was devoted to the Holy Virgin and even believed, with the Augustinians and Franciscans, in her immaculate conception, or freedom from hereditary sin - a doctrine denied by the Dominicans and not made an article of faith till the year 1854. He regularly confessed his sins to the priest at least once a week. At the same time a complete copy of the Latin Bible was put into his hands for study, ... At the end of the year of probation Luther solemnly promised to live until death in poverty and chastity according to the rules of the holy father Augustin, to render obedience to Almighty God, to the Virgin Mary, and to the prior of the monastery. ... The two years which followed, he divided between pious exercises and theological studies. He read diligently the Scriptures, and the later schoolmen, ... His heart was not satisfied with brain work. His chief concern was to become a saint and to earn a place in heaven. ‘If ever,’ he said afterward, ‘a monk got to heaven by monkery, I would have gotten there.’ He observed the minutest details of discipline. No one surpassed him in prayer, fasting, night watches, self-mortification. He was already held up as a model of sanctity.” [= Luther diterima dengan baik oleh saudara-saudaranya dengan nyanyian pujian sukacita dan doa. Ia dipakaiani dengan baju wol putih, dalam kehormatan dari sang Perawan yang murni, suatu jubah dan pakaian hitam, diikat oleh sebuah sabuk kulit. Ia mengambil tugas-tugas yang paling rendah / bersifat pelayan untuk menundukkan kesombongannya: ia menyapu lantai, mengemis roti di jalan, dan tunduk tanpa sungut-sungut pada kekerasan hidup pertapaan. Ia mengucapkan 25 x doa Bapa Kami dengan Salam Maria dalam setiap dari 7 jam doa yang ditetapkan. Ia berbakti kepada Perawan yang Kudus dan bahkan percaya, bersama-sama dengan orang-orang Augustinian dan Franciscan, pada dikandungnya ia (Maria) tanpa dosa, atau kebebasan dari dosa warisan - suatu doktrin yang disangkal oleh orang-orang Dominican dan tidak dijadikan suatu pokok iman sampai tahun 1854. Ia mengaku dosa secara rutin kepada imam / pastor sedikitnya sekali seminggu. Pada saat yang sama suatu copy Alkitab Latin yang lengkap ada di tangannya untuk dipelajari, ... Pada akhir dari tahun percobaan Luther berjanji dengan khidmat / sungguh-sungguh untuk hidup sampai mati dalam kemiskinan dan kesederhanaan / kesucian menurut peraturan-peraturan bapa kudus Agustinus, taat kepada Allah yang mahakuasa, kepada Perawan Maria, dan kepada kepala biara. ... Dua tahun yang berikutnya, ia membagi antara pelaksanaan / penerapan kesalehan dan pembelajaran theologia. Ia membaca Kitab Suci dengan rajin, dan belakangan orang-orang terpelajar, ... Hatinya tidak puas dengan pekerjaan dari otak / pemikiran. Perhatiannya yang terutama adalah untuk menjadi orang suci dan mendapatkan tempat di surga. ‘Jika ada,’ katanya belakangan, ‘seorang biarawan mencapai surga melalui kebiarawanan, aku sudah sampai di sana’. Ia menjalankan disiplin dengan sangat terperinci. Tidak seorangpun melampaui dia dalam doa, puasa, jaga malam (?), mematikan diri sendiri.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 115-116.

 

David Schaff: But he was sadly disappointed in his hope to escape sin and temptation behind the walls of the cloister. He found no peace and rest in all his pious exercises. The more he seemed to advance externally, the more he felt the burden of sin within. He had to contend with temptations of anger, envy, hatred and pride. He saw sin everywhere, even in the smallest trifles. The Scriptures impressed upon him the terrors of divine justice. He could not trust in God as a reconciled Father, as a God of love and mercy but trembled before him, as a God of wrath, as a consuming fire. He could not get over the words: ‘I, the Lord thy God, am a jealous God.’ His confessor once told him: ‘Thou art a fool, God is not angry with thee, but thou art angry with God.’ He remembered this afterward as ‘a great and glorious word,’ but at that time it made no impression on him. He could not point to any particular transgression; it was sin as an all-pervading power and vitiating principle, sin as a corruption of nature, sin as a state of alienation from God and hostility to God, that weighed on his mind like an incubus and brought him at times to the brink of despair. [= Tetapi ia sangat kecewa dalam harapannya untuk lepas dari dosa dan pencobaan di balik tembok-tembok biara. Ia tidak mendapatkan damai dan ketenangan dalam semua hal-hal saleh yang ia lakukan. Makin ia kelihatan maju secara lahiriah, makin ia merasa beban dosa di dalam. Ia harus berjuang melawan pencobaan untuk marah, iri, kebencian, dan kesombongan. Ia melihat dosa dimana-mana, bahkan dalam hal-hal yang paling remeh. Kitab Suci memberikan kesan kepadanya tentang keadilan ilahi. Ia tidak bisa percaya kepada Allah sebagai Bapa yang diperdamaikan, sebagai Bapa yang kasih dan berbelas kasihan, tetapi gemetar di hadapanNya, sebagai Allah yang murka, sebagai api yang menghanguskan. Ia tidak bisa mengatasi kata-kata: ‘Aku, Tuhan Allahmu, adalah Allah yang cemburu’. Pastor kepada siapa ia mengaku dosa pernah memberitahunya: ‘Engkau bodoh, Allah bukannya marah kepadamu, tetapi engkau yang marah kepada Allah’. Ia mengingat ini belakangan sebagai ‘suatu ucapan yang agung dan mulia’, tetapi pada saat itu ucapan itu tidak membuat suatu kesan padanya. Ia tidak bisa menunjuk pada suatu pelanggaran khusus apapun; adalah dosa sebagai suatu kuasa yang menyebar dimana-mana dan kwalitet atau elemen dasar yang merusak, dosa sebagai suatu perusakan dari hakekat / sifat dasar, dosa sebagai suatu keadaan pengasingan dari Allah dan permusuhan dengan Allah, yang membebani pikirannya seperti suatu mimpi buruk / roh jahat dan kadang-kadang membawanya pada titik keputusasaan.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 116-117.

 

Catatan: saya tidak mengerti bagaimana belakangan kata-kata pastor itu bisa dianggap benar. Allah jelas memang marah / murka kepada semua orang yang belum diperdamaikan dengan Dia. Murka Allah itu hanya hilang kalau orang itu percaya kepada Kristus.

Yoh 3:36 - “Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya.’”.

Ef 2:3 - “Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang jahat. Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain.”.

 

R. C. Sproul: “He entered the confessional and stayed for hours every day. On one occasion Luther spent six hours confessing the sins he had committed in the last day!” [= Ia masuk ke dalam ruang pengakuan dosa dan berada di sana berjam-jam setiap hari. Pada suatu kali Luther menghabiskan waktu 6 jam untuk mengaku dosa-dosa yang ia lakukan pada hari terakhir!] - ‘The Holiness of God’, hal 114.

 

R. C. Sproul mengatakan pengakuan dosa Luther ini menyebabkan Staupitz menjadi marah dan berkata:

“‘Look here,’ he said, ‘if you expect Christ to forgive you, come in with something to forgive - parricide, blasphemy, adultery - instead of all these peccadilloes. ... Man, God is not angry with you. You are angry with God. Don’t you know that God commands you to hope?’” [= ‘Lihatlah,’ katanya, ‘Jika kamu berharap supaya Kristus mengampuni kamu, datanglah dengan sesuatu untuk diampuni - pembunuhan orang tua, penghujatan, perzinahan - dan bukannya semua dosa-dosa remeh ini. ... Bung, Allah tidak marah kepadamu. Kamu yang marah kepada Allah. Tidak tahukah kamu bahwa Allah memerintahkan kamu untuk berharap?’] - ‘The Holiness of God’, hal 114, dimana ia mengutip dari Roland Bainton, dalam bukunya ‘Here I Stand’.

Catatan: theologia Gereja Katolik memang membagi dosa menjadi dua: ‘mortal sin’ [= dosa besar / mematikan], yang bisa menghancurkan keselamatan, dan ‘venial sin’ [= dosa remeh], yang tidak diakuipun tidak apa-apa.

Kita (Kristen / Reformed) memang mempercayai tingkat dosa tetapi kita tidak mempercayai ada dosa yang begitu besar sehingga menghancurkan keselamatan, ataupun dosa yang begitu kecil sehingga tidak perlu diakui. Perlu diingat tentang kekudusan Allah yang begitu hebat sehingga dosa kecil bagi kita itu sangat menjijikkan bagi Allah yang maha kudus!

 

Kenneth Scott Latourette: “He sought by the means set forth by the Church and the monastic tradition to make himself acceptable to God and to earn salvation of his soul. He mortified his body. He fasted, sometimes for days on end and without a morsel of food. He gave himself to prayers and vigils beyond those required by the rule of his order. He went to confession, often daily and for hours at a time. Yet assurance of God’s favour and inward peace did not come and the periods of depression were acute.” [= Ia mencari melalui cara-cara yang dinyatakan oleh Gereja dan tradisi biara untuk membuat dirinya sendiri diterima oleh Allah dan mendapatkan keselamatan jiwanya. Ia mematikan dirinya. Ia berpuasa, kadang-kadang selama berhari-hari tanpa makanan sedikitpun. Ia menyerahkan dirinya untuk berdoa dan berjaga-jaga melebihi apa yang dituntut oleh peraturan ordonya. Ia mengaku dosa, seringkali setiap hari dan untuk berjam-jam dalam satu kali pengakuan. Tetapi keyakinan akan perkenan Allah dan damai di dalam tidak datang dan ia mengalami masa depresi yang parah.] - ‘A History of Christianity’, vol II, hal 705.

 

Dr. Albert H. Freundt Jr.: “Luther was an earnest friar, practicing the prayers and fast with great zeal. He said: "I tried as hard as I could to keep the Rule. I used to be contrite, and make a list of my sins. I confessed them again and again. I scrupulously carried out the penance which were allotted to me. And yet my conscience kept nagging me. It kept telling me: ‘You fell short there.’ ‘You were not sorry enough.’ ‘You left that sin off your list.’ I was trying to cure the doubts and scruples of the conscience with human remedies, the traditions of men. The more I tried these remedies, the more troubled and uneasy my conscience grew." His spiritual advisers became tired of his scruples and anxiety. He had an overwhelming sense of the holiness and wrath of God. He thought he might be a child of destruction or a castaway, and that he might never be redeemed. God loved everybody but him. He was in despair over the idea that God is just.” [= Luther adalah seorang anggota ordo yang sungguh-sungguh, yang mempraktekkan doa-doa dan puasa dengan semangat yang besar. Ia berkata: "Aku berusaha sekeras / sekuat aku bisa untuk memelihara / mentaati Peraturan. Aku biasa melakukan penyesalan / pengakuan dosa, dan membuat suatu daftar dari dosa-dosaku. Aku mengakui mereka berulang-ulang. Aku dengan teliti mentaati penance / hukuman yang diberikan kepadaku. Tetapi hati nuraniku tetap mengganggu / menyiksa aku. Itu terus memberitahu aku: ‘Kamu kurang di sana’. ‘Kamu tak cukup menyesal’. ‘Kamu tak memasukkan dosa itu ke dalam daftarmu’. Aku berusaha untuk menyembuhkan keragu-raguan dan perasaan tidak enak dari hati nurani dengan pengobatan-pengobatan manusia, tradisi-tradisi manusia. Makin aku mengusahakan pengobatan-pengobatan ini, makin kacau dan tidak enak hati nuraniku". Penasehat-penasehat rohaninya menjadi bosan dengan perasaan-perasaan tak enak / ragu-ragu dan kekuatirannya. Ia mempunyai suatu perasaan / pengertian yang sangat besar tentang kekudusan dan murka Allah. Ia mengira ia mungkin adalah seorang anak kebinasaan atau seorang buangan / seseorang yang ditolak, dan bahwa ia mungkin tidak pernah ditebus. Allah mengasihi semua orang kecuali dia. Ia ada dalam keputus-asaan atas gagasan bahwa Allah adalah adil.] - ‘History of Modern Christianity’, hal 26.

 

David Schaff: “He passed through that conflict between the law of God and the law of sin which is described by Paul (Rom. vii.), and which; ends with the cry: ‘O wretched man that I am! who shall deliver me out of the body of this death?’ He had not yet learned to add: ‘I thank God through Jesus Christ our Lord. There is now no condemnation to them that are in Christ Jesus. For the law of the Spirit of life in Christ Jesus made me free from the law of sin and of death.’” [= Ia melewati konflik antara hukum Allah dan hukum dosa yang digambarkan oleh Paulus (Ro 7), dan yang, berakhir dengan teriakan: ‘Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?’ Ia belum belajar untuk menambahkan: ‘Aku bersyukur kepada Allah oleh / melalui Yesus Kristus, Tuhan kita. Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. Karena hukum Roh kehidupan dalam Kristus Yesus memerdekakan aku dari hukum dosa dan maut’.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 117.

 

Ro 7:24-8:2 - “(7:24) Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? (7:25) Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. (7:26) Jadi dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa. (8:1) Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. (8:2) Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut.”.

 

2)   Theologia Luther setelah pertobatannya berkenaan dengan usahanya untuk selamat.

Di bawah ini adalah beberapa komentar Luther tentang Kej 6:5.

 

Kej 6:5 - “Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata,”.

KJV: ‘And GOD saw that the wickedness of man was great in the earth, and that every imagination of the thoughts of his heart was only evil continually.’ [= Dan ALLAH melihat bahwa kejahatan manusia besar di bumi, dan bahwa setiap imaginasi dari pikiran-pikiran dari hatinya hanyalah jahat terus menerus.].

 

Martin Luther (tentang Kej 6:5): This is the passage of which we made use against free will, about which Augustine writes that without grace or the Holy Spirit it is incapable of anything but sin. The scholastics, who are patrons of free will, are hard pressed not only by the clarity of this passage but also by the authority of Augustine, and they sweat over it. [= Ini adalah text yang kita gunakan menentang kehendak bebas, tentang mana Agustinus menulis bahwa tanpa kasih karunia atau Roh Kudus, itu (kehendak bebas) tidak mampu untuk melakukan apapun kecuali dosa. Ahli-ahli theologia / filsafat abad pertengahan, yang adalah pelindung / penyokong dari kehendak bebas, ditekan dengan keras bukan hanya oleh kejelasan dari text ini tetapi juga oleh otoritas dari Agustinus, dan mereka berkeringat berhubungan dengannya.] - ‘Luther’s Works, Vol 2, Lectures on Genesis’ (Libronix).

Catatan: jangan lupa bahwa Gereja Katolik mempercayai Alkitab + tradisi sebagai dasar ajaran, dan tulisan bapa-bapa gereja (salah satunya adalah Agustinus) termasuk dalam tradisi mereka.

 

Martin Luther (tentang Kej 6:5): But so far as this passage is concerned, they misapply it when they maintain that the text speaks only of the evil generation before the Flood, and that people are better now, at least some, who make good use of their free will. The poor fellows do not see that it is speaking of the human heart in general and that there is expressly added the little word, רַק, ‘only.’ In the third place, they are not aware of this either, that later, in the eighth chapter (v. 21), the same statement is repeated after the Flood in almost identical words. For God declares that the imagination of man’s heart is evil from his youth. There He is surely not speaking only of those who were in existence before the Flood, but of those to whom He makes the promise that after this there will never come another general destruction by water, that is, of all the descendants of Noah. These words, ‘The imagination of the human heart is evil,’ apply universally. [= Tetapi sejauh berkenaan dengan text ini, mereka menerapkannya secara salah pada waktu mereka menyatakan bahwa text ini berbicara hanya tentang angkatan yang jahat sebelum Air Bah, dan bahwa orang-orang jaman sekarang adalah lebih baik, sedikitnya sebagian, yang menggunakan kehendak bebas mereka dengan baik. Orang-orang yang perlu dikasihani ini tidak melihat bahwa text itu berbicara tentang hati manusia secara umum dan bahwa di sana secara explicit ditambahkan kata, רַק (RAQ), ‘saja’. Di tempat ketiga, mereka tidak sadar tentang hal ini juga, bahwa belakangan, dalam pasal ke delapan (ay 21), pernyataan yang sama diulang setelah Air Bah dalam kata-kata yang hampir sama. Karena Allah menyatakan bahwa imaginasi dari hati manusia adalah jahat dari masa mudanya. Di sana Ia jelas bukan berbicara hanya tentang mereka yang ada sebelum Air Bah, tetapi tentang mereka kepada siapa Ia menjanjikan bahwa setelah ini di sana tidak pernah akan ada penghancuran umum yang lain oleh air, yaitu, semua keturunan Nuh. Kata-kata ini, ‘Imaginasi dari hati manusia adalah jahat’ berlaku secara universal.] - ‘Luther’s Works, Vol 2, Lectures on Genesis’ (Libronix).

Kej 8:21 - Ketika TUHAN mencium persembahan yang harum itu, berfirmanlah TUHAN dalam hatiNya: ‘Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya, dan Aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah Kulakukan..

KJV: ‘for the imagination of man’s heart is evil from his youth;’ [= karena imaginasi dari hati manusia adalah jahat dari masa mudanya;].

NIV: ‘even though every inclination of his heart is evil from childhood.’ [= sekalipun setiap kecenderungan hatinya adalah jahat sejak masa kanak-kanak.].

 

Martin Luther (tentang Kej 6:5): Hence we draw the universal conclusion that without the Holy Spirit and without grace man can do nothing but sin and so goes on endlessly from sin to sin. But when there is also this added element that he does not uphold sound doctrine, rejects the Word of salvation, and resists the Holy Spirit, then, with the support of his free will, he also becomes an enemy of God, blasphemes the Holy Spirit, and completely follows the evil desires of his heart. Witnesses of this are the example of the Jews at the time of the prophets, of Christ, and of the apostles; the example of the first world at the time of the preacher Noah; and also the example of our adversaries today, who cannot be persuaded by any means that they are sinning, that they are in error, and that their forms of worship are wicked. [= Jadi kami menarik kesimpulan universal bahwa tanpa Roh Kudus dan tanpa kasih karunia, manusia tidak bisa melakukan apapun kecuali dosa dan dengan demikian berjalan terus tanpa akhir dari dosa kepada dosa. Tetapi pada waktu disana juga ditambahkan elemen bahwa ia tidak memelihara / menyokong ajaran yang sehat, menolak Firman keselamatan, dan menolak Roh Kudus, maka, dengan bantuan dari kehendak bebasnya, ia juga menjadi seorang musuh Allah, menghujat Roh Kudus, dan dengan sepenuhnya mengikuti keinginan-keinginan jahat dari hatinya. Saksi-saksi tentang hal ini adalah contoh-contoh dari orang-orang Yahudi pada jaman nabi-nabi, jaman dari Kristus, dan jaman dari rasul-rasul; contoh-contoh dari dunia mula-mula pada jaman dari pengkhotbah Nuh; dan juga contoh-contoh dari musuh-musuh kita sekarang, yang tidak bisa diyakinkan dengan cara apapun bahwa mereka sedang berdosa, bahwa mereka ada dalam kesalahan, dan bahwa bentuk-bentuk penyembahan mereka adalah jahat.] - ‘Luther’s Works, Vol 2, Lectures on Genesis’ (Libronix).

 

Martin Luther (tentang Kej 6:5): Other statements of Holy Scripture prove the same thing. Or is not Ps. 14:2–3 general enough when it says: ‘The Lord looks down from heaven upon the children of men, to see if there are any that act wisely, that seek after God. They have all gone astray.’ Paul repeats this in Rom. 8:10. Likewise Ps. 116:11 states in general: ‘Every human being is a liar’; and Paul (Rom. 11:32): ‘God has shut up all under sin.’ All these passages are very general and most emphatically conclude in our favor that without the Holy Spirit, whom Christ alone bestows, man can do nothing else than err and sin. For this reason Christ also declares in the Gospel (John 15:5): ‘I am the vine, you are the branches; apart from Me you can do nothing. Without Me you are like branches that are cut off, dry, dead, and ready for the fire.’ [= Pernyataan-pernyataan lain dari Kitab Suci Kudus membuktikan hal yang sama. Atau tidakkah Maz 14:2-3 cukup bersifat umum pada waktu text itu berkata: ‘Tuhan memandang ke bawah dari surga kepada anak-anak manusia, untuk melihat jika disana ada siapapun yang bertindak dengan bijaksana, yang mencari Allah. Mereka semua telah sesat’. Paulus mengulangi ini dalam Ro 8:10. Dengan cara yang sama Maz 116:11 menyatakan secara umum: ‘Setiap manusia adalah pendusta’; dan Paulus (Ro 11:32): ‘Allah telah mengurung semua manusia di bawah dosa’. Semua text-text ini adalah sangat bersifat umum dan dengan sangat menekankan menyimpulkan di pihak kita bahwa tanpa Roh Kudus, yang Kristus sendiri berikan, manusia tidak bisa berbuat lain dari pada kesalahan dan dosa. Untuk alasan ini Kristus juga menyatakan dalam Injil (Yoh 15:5): ‘Akulah pokok anggur, kamu adalah ranting-rantingnya; terpisah dari Aku kamu tidak bisa berbuat apa-apa. Tanpa Aku kamu adalah seperti ranting-ranting yang dipotong, kering, mati, dan siap untuk dibakar’.] - ‘Luther’s Works, Vol 2, Lectures on Genesis’ (Libronix).

Maz 14:1-3 - “(1) Orang bebal berkata dalam hatinya: ‘Tidak ada Allah.’ Busuk dan jijik perbuatan mereka, tidak ada yang berbuat baik. (2) TUHAN memandang ke bawah dari sorga kepada anak-anak manusia untuk melihat, apakah ada yang berakal budi dan yang mencari Allah. (3) Mereka semua telah menyeleweng, semuanya telah bejat; tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak..

Ro 8:10 - Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran..

Ro 8:10 ini rasanya salah; seharusnya Ro 3:10.

Ro 3:10-12 - “(10) seperti ada tertulis: ‘Tidak ada yang benar, seorangpun tidak. (11) Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah. (12) Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak..

Maz 116:11 - Aku ini berkata dalam kebingunganku: ‘Semua manusia pembohong.’.

Ro 11:32 - Sebab Allah telah mengurung semua orang dalam ketidaktaatan, supaya Ia dapat menunjukkan kemurahanNya atas mereka semua..

Yoh 15:5 - Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa..

 

Martin Luther (tentang Kej 6:5): Therefore we must fortify ourselves and hold firmly to this doctrine, which sets before us our sin and condemnation. This knowledge of our sin is the beginning of our salvation, that we completely despair of ourselves and give to God alone the glory for our righteousness. Otherwise why does Paul lament in Rom. 7:18 and freely confess that there is nothing good in him? ... When this fact is firmly established in our hearts, a large portion of the foundation for our salvation has been laid. Thereafter we have the clear assurance that God does not cast aside sinners, that is, those who recognize their sin and desire to come to their senses, who thirst for righteousness (Matt. 5:6) or the forgiveness of their sins through Christ. [= Karena itu kita harus membentengi diri kita sendiri dan memegang teguh pada doktrin / ajaran ini, yang meletakkan di hadapan kita dosa dan penghukuman kita. Pengetahuan tentang dosa kita ini adalah permulaan dari keselamatan kita, bahwa kita sepenuhnya putus asa tentang diri kita sendiri dan memberikan kepada Allah saja kemuliaan untuk kebenaran kita. Kalau tidak, mengapa Paulus meratap dalam Ro 7:18 dan mengakui secara bebas bahwa di sana tidak ada yang baik dalam dirinya? ... Pada waktu fakta ini ditegakkan dengan teguh dalam hati kita, suatu bagian besar dari fondasi untuk keselamatan kita telah diletakkan. Setelah itu kita mempunyai jaminan yang jelas bahwa Allah tidak membuang / menolak orang-orang berdosa, yaitu, mereka yang mengenali dosa mereka dan ingin untuk sadar, yang haus untuk kebenaran (Mat 5:6) atau pengampunan dosa-dosa mereka melalui Kristus.] - ‘Luther’s Works, Vol 2, Lectures on Genesis’ (Libronix).

Ro 7:18 - Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik..

Mat 5:6 - Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan..

 

Martin Luther (tentang Kej 6:5): We maintain, however, that man without the Holy Spirit is completely ungodly before God, even if he were adorned with all the virtues of all the heathen. In the historical accounts of the heathen there are certainly outstanding instances of self-control; of generosity; of love toward fatherland, parents, and children; of bravery; and of philanthropy. Yet we maintain that the loftiest thoughts about God, about the worship of God, and about the will of God are a darkness more than Cimmerian. [= Tetapi kami menyatakan / menegaskan bahwa manusia tanpa Roh Kudus adalah sepenuhnya jahat / berdosa di hadapan Allah, bahkan seandainya ia dihiasi dengan semua kebaikan moral dari semua orang kafir. Dalam cerita-cerita sejarah dari orang kafir di sana pasti ada contoh-contoh yang menyolok tentang penguasaan diri; tentang kemurahan hati; tentang kasih kepada tanah air, orang tua, dan anak-anak; tentang keberanian; dan tentang kasih kepada umat manusia secara umum. Tetapi kami menyatakan / menegaskan bahwa pikiran-pikiran tertinggi tentang Allah, tentang penyembahan terhadap Allah, dan tentang kehendak Allah adalah suatu kegelapan yang lebih gelap dari Cimmerian.] - ‘Luther’s Works, Vol 2, Lectures on Genesis’ (Libronix).

Catatan:

a)   Cimmerian dalam dongeng Yunani adalah orang-orang yang hidup di tanah / negara kegelapan di tepi dari dunia ini.

b)   Dengan kata-kata seperti di atas ini, bagaimana kira-kira jawaban Luther kalau kepadanya ditanyakan tentang keselamatan dari Khong Hu Cu? Apakah sama atau mirip dengan jawaban dari Pdt. Stephen Tong?

 

Martin Luther (tentang Kej 6:5): “This applies, therefore, not only to the sins before the Flood but to man’s entire nature - to his heart, his reason, and his intellect, even when man feigns righteousness and wants to be most holy. This the Anabaptists do today when they get the idea into their heads that they can live without sin, and when they are intent on attaining what appear to be outstanding virtues. The rule is: When hearts are without the Holy Spirit, they do not only have no knowledge of God but even hate Him by nature. How can something that has its origin in a lack of knowledge of God and in a hatred of God be anything else than evil?” [= Karena itu, ini relevan bukan hanya dengan dosa-dosa sebelum Air Bah tetapi dengan seluruh hakekat manusia - dengan hatinya, akalnya, dan inteleknya, bahkan pada waktu manusia mengkhayalkan kebenaran dan ingin menjadi sangat suci. Ini dilakukan oleh orang-orang Anabaptist pada jaman ini pada waktu mereka memasukkan gagasan ke dalam kepala mereka bahwa mereka bisa hidup tanpa dosa, dan pada waktu mereka bermaksud untuk mencapai apa yang kelihatannya merupakan kebaikan-kebaikan moral yang menonjol.] - ‘Luther’s Works, Vol 2, Lectures on Genesis’ (Libronix).

 

Pengalaman rohani Luther sampai titik ini kelihatannya menunjukkan bahwa Tuhan mengajar dia akan keberdosaannya sehingga menyebabkan kesedihannya yang luar biasa. Ia memenuhi Mat 5:3-4 sehingga bisa dipastikan Tuhan akan memberinya Injil utk menyelamatkan dia.

 

Bdk, Mat 5:3-4 - “(3) ‘Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. (4) Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.”.

 

 

 

-bersambung-

 

 

http:\\golgothaministry.org

Email : golgotha_ministry0@yahoo.com