Golgotha School of Ministry

 

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

 

Rabu, tgl 13 Desember 2017, pk 19.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

Providence of God (7)

 

9) Maz 135:6-7 - “(6) TUHAN melakukan apa yang dikehendakiNya, di langit dan di bumi, di laut dan di segenap samudera raya; (7) Ia menaikkan kabut dari ujung bumi, Ia membuat kilat mengikuti hujan, Ia mengeluarkan angin dari dalam perbendaharaanNya.”.

 

Ayat ini menunjukkan bahwa semua yang terjadi di langit, di bumi, di laut / samudera raya, baik kabut, kilat, angin, hujan, dsb merupakan pekerjaan Allah.

 

Bdk. Yer 14:22 - Adakah yang dapat menurunkan hujan di antara dewa kesia-siaan bangsa-bangsa itu? Atau dapatkah langit sendiri memberi hujan lebat? Bukankah hanya Engkau saja, ya TUHAN Allah kami, Pengharapan kami, yang membuat semuanya itu?.

 

Calvin (tentang Maz 135:6): This is that immeasurable greatness of the divine being, of which he had just spoken. He not only founded heaven and earth at first, but governs all things according to his power. To own that God made the world, but maintain that he sits idle in heaven, and takes no concern in the management of it, is to cast an impious aspersion upon his power; and yet the idea, absurd as it is, obtains wide currency amongst men. ... Scripture teaches us that it is a real practical power, by which he governs the whole world as he does according to his will. [= Ini adalah kebesaran Allah yang sangat besar / tak terukur itu, tentang mana ia baru berbicara. Ia bukan hanya pertama-tama menciptakan langit dan bumi, tetapi memerintah segala sesuatu sesuai / menurut kuasaNya. Mengakui bahwa Allah menciptakan dunia / alam semesta, tetapi mempertahankan bahwa Ia duduk bermalas-malasan di surga, dan tidak mempedulikan dalam pengaturannya, berarti melemparkan suatu fitnah / tuduhan palsu yang jahat pada kuasaNya; tetapi gagasan itu, bagaimanapun konyol / menggelikannya, mendapatkan penerimaan umum yang lebar di antara manusia. ... Kitab Suci mengajar kita bahwa itu merupakan suatu kuasa praktis yang nyata, dengan mana Ia memerintah seluruh dunia / alam semesta pada waktu Ia bertindak sesuai dengan kehendakNya.].

 

10)Amsal 16:1,9 - “(1) Manusia dapat menimbang-nimbang dalam hati, tetapi jawaban lidah berasal dari pada TUHAN. ... (9) Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi TUHANlah yang menentukan arah langkahnya.”.

 

Amsal 16:1 (NIV): ‘To man belong the plans of the heart, but from the LORD comes the reply of the tongue.’ [= Milik manusialah rencana-rencana dari hati, tetapi dari TUHAN datang jawaban lidah.].

 

Amsal 16:9 (NIV): In his heart a man plans his course, but the LORD determines his steps.’ [= Dalam hatinya seorang manusia merencanakan jalannya, tetapi TUHAN menentukan langkah-langkahnya.].

 

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa sekalipun manusia memikirkan / merencanakan mana jalan yang terbaik, tetapi baik kata-kata maupun arah langkahnya ditentukan oleh Tuhan.

 

Bdk. Amsal 20:24 - Langkah orang ditentukan oleh TUHAN, tetapi bagaimanakah manusia dapat mengerti jalan hidupnya?.

 

Bdk. Yer 10:23 - “Aku tahu, ya TUHAN, bahwa manusia tidak berkuasa untuk menentukan jalannya, dan orang yang berjalan tidak berkuasa untuk menetapkan langkahnya.”.

 

Biarlah orang-orang Arminian / non-Reformed yang mempercayai free will / kehendak bebas, menafsirkan apa arti dari ayat-ayat di atas ini!

 

Calvin (tentang Yer 10:23): “The Prophet, I doubt not, referred to the Jews, who had for a long time been accustomed to dismiss every fear, as though they were able by their own counsels to consult in the best way for the public good: for we know, that whenever any danger was apprehended from the Assyrians, they usually fled for aid to Egypt or to Chaldea. Thus, then, they provided for themselves, so that they thought that they took good care of their affairs, while they had recourse to this or that expedient; and then, when the prophets denounced on them the vengeance of God, they usually regarded only their then present state, as though God could not; in one instant vibrate his lightnings from the rising to the setting sun.” [= ].

 

Calvin (tentang Yer 10:23): he treats not here of counsels, but that though men wisely guided their affairs, the Prophet denies that the issue is in their own hands or at their own will: and hence he expressly speaks of a man walking. He concedes that men walk, but yet he intimates that they cannot move a foot, except they receive strength from God. ... We may hence gather a general truth - that men greatly deceive themselves, when they think that fortune or the issue of events is in their own hands: for though they may consult most wisely, yet things will turn out unsuccessfully, unless God blesses their counsels. [= di sini ia tidak membahas rencana, tetapi bahwa sekalipun manusia secara bijaksana mengarahkan urusan-urusan mereka, sang Nabi menyangkal bahwa hasilnya ada dalam tangan / kuasa mereka sendiri atau pada kehendak mereka sendiri: dan karena itu ia secara explicit berbicara tentang seseorang yang berjalan. Ia mengakui bahwa manusia berjalan, tetapi ia menyatakan secara tak langsung bahwa mereka tidak bisa menggerakan satu kaki, kecuali mereka menerima kekuatan dari Allah. ... Karena itu kami menyimpulkan suatu kebenaran umum - bahwa manusia sangat menipu diri mereka sendiri, pada waktu mereka berpikir bahwa sukses atau hasil dari peristiwa-peristiwa ada dalam tangan mereka sendiri; karena sekalipun mereka bisa mempertimbangkan dengan sangat bijaksana, tetapi hal-hal akan berakhir secara tidak sukses, kecuali Allah memberkati rencana mereka.].

 

Calvin (tentang Yer 10:23): And this is what we ought carefully to notice, because we see how presumptuously men promise themselves this and that; and this presumption can hardly be arrested while men arrogate to themselves what belongs peculiarly to God alone. There are many warnings given in Scripture in order to check this rashness; but almost all proceed in their own course, and cannot, be induced to allow themselves to be ruled by God. James condemns this madness when he says, that men resolve what they would for a long time do: the merchant determines on a long voyage, not only for three or four months, but for many years; another undertakes war; another ventures to take this or that business in hand; in short, there is no end to such instances. The Holy Spirit has by this one passage checked the boldness of those who claim for themselves more than they ought: but the greater part, as I have already said, think that the event is in their own power. [= Dan ini adalah apa yang kita harus perhatikan dengan teliti, karena kita melihat betapa dengan sombong manusia menjanjikan diri mereka sendiri ini dan itu; dan sikap sombong ini hampir tidak bisa dihentikan / ditahan pada waktu manusia secara sombong mengclaim untuk diri mereka sendiri apa yang secara khusus adalah milik Allah saja.].

Catatan: saya hanya menterjemahkan bagian yang saya garis-bawahi.

 

Bdk. Yak 4:13-15 - “(13) Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: ‘Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung’, (14) sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. (15) Sebenarnya kamu harus berkata: ‘Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.’.

 

Calvin (tentang Yer 10:23): On this account Solomon says, that man deliberates, but that it is God who governs the tongue (Prov. 16:1). He had said in the former clause, that it is man who sets in order his ways; but he said this ironically, as it is what most believe; for when they undertake anything, they are not so solicitous about the event, but they always promise to themselves more than what they have a right to do. Men, he says, set in order or arrange their ways, but God governs the tongue; that is, they cannot speak a word unless the Lord lets loose the bridle of their tongues; and yet we know that many things are vainly said by men, for they are never accomplished. Since then the voice itself is not in the power of man, but depends on the will of God, what ought we to think of the issue? [= Karena itu Salomo berkata, bahwa manusia memutuskan, tetapi bahwa adalah Allah yang memerintah lidah (Amsal 16:1). Ia telah mengatakan, dalam anak kalimat sebelumnya, bahwa adalah manusia yang mengatur jalannya; tetapi ia mengatakan ini secara ironis, sebagaimana kebanyakan dipercaya; karena pada waktu mereka mulai melakukan apapun, mereka tidak kuatir tentang peristiwa itu, tetapi mereka selalu berjanji kepada diri mereka sendiri, lebih dari pada apa yang mereka berhak melakukannya. Manusia, ia berkata, mengatur jalan mereka, tetapi Allah memerintah lidah; artinya, mereka tidak bisa mengucapkan satu katapun kecuali Tuhan melepaskan kekang dari lidah mereka; tetapi kita tahu bahwa banyak hal dikatakan dengan sia-sia oleh manusia, karena hal-hal itu tidak pernah tercapai. Maka karena suara itu sendiri tidak berada dalam kuasa manusia, tetapi tergantung kehendak Allah, apa yang seharusnya kita pikirkan tentang pokok ini?].

 

Calvin (tentang Yer 10:23): We now then see the truth which may be learnt from this passage, - that men deceive themselves when they dare to undertake this or that business, and promise themselves a happy issue. But we must farther observe, that not only events are at the disposal of God, but counsels also; for God directs the hearts and minds of men as it seemeth him good. But all things are not said in every passage. The Prophet does not here avowedly speak of what men can do, but grants this to them - that they consult, that they decide; yet he teaches us that the execution is not in their own power.” [= Maka sekarang kita melihat kebenaran yang bisa dipelajari dari text ini, - bahwa orang-orang menipu diri mereka sendiri pada waktu mereka berani memulai / mencoba bisnis ini atau itu, dan menjanjikan diri mereka sendiri suatu hasil yang menggembirakan. Tetapi kita harus mengamati lebih lanjut, bahwa bukan hanya peristiwa-peristiwa ada dalam kuasa Allah untuk membagi-bagikan, tetapi juga rencana-rencana; karena Allah mengarahkan hati dan pikiran dari manusia seperti yang kelihatan baik bagiNya. Tetapi tak semua hal dibicarakan / dikatakan dalam setiap text. Di sini sang Nabi tidak secara positif berbicara tentang apa yang manusia bisa lakukan, tetapi mengakui / memberikan hal ini kepada mereka - bahwa mereka berkonsultasi / berunding, bahwa mereka memutuskan; tetapi ia mengajar kita bahwa pelaksanaannya bukanlah ada dalam kuasa mereka sendiri.].

 

Kata-kata Calvin di sini ini penting, karena berguna dalam menafsirkan secara benar banyak ayat.

 

Misalnya:

 

Ro 7:15-19 - “(15) Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat. (16) Jadi jika aku perbuat apa yang tidak aku kehendaki, aku menyetujui, bahwa hukum Taurat itu baik. (17) Kalau demikian bukan aku lagi yang memperbuatnya, tetapi dosa yang ada di dalam aku. (18) Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. (19) Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat..

 

Apakah dari text ini kita harus menyimpulkan bahwa Paulus, sebagai manusia, bisa menghendaki yang baik, tetapi hanya tidak bisa melakukannya? Tidak mungkin, karena manusia dari dirinya sendiri, bukan hanya tak bisa melakukan apa yang baik, tetapi bahkan menghendaki yang baikpun juga tak bisa. Baik kehendak yang baik, maupun pelaksanaannya, merupakan pekerjaan Tuhan dalam diri kita.

 

Fil 2:13 - “karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaanNya.”.

Ini terjemahannya kurang jelas. Bandingkan dengan KJV di bawah ini.

KJV: “For it is God which worketh in you both to will and to do of his good pleasure” [= Karena Allahlah yang bekerja dalam kamu baik untuk menghendaki maupun untuk melakukan dari kesenanganNya yang baik].

 

Calvin (tentang Yer 10:23): Some foolishly elicit from this passage, that something belongs to man, that he possesses some power of free-will. There seems indeed to be here something plausible at the first view. Jeremiah says, that his way is not in man’s power, and that it is not in the power of him who walks to direct his steps; he then, it is said, has left something to man - he walks; it hence follows that free-will is not reduced to nothing, but that a defect is proved, for man of himself has no sufficient power unless he is helped from above. These are only puerile trifles; for, as we have said, the Prophet does not shew here what are the powers of free-will, and what power man has to deliberate, but he takes this as granted; yet the children of this world, though they seem to themselves to be very acute in all things, and take their own counsels, and rely on their own resources, are yet deceived, because God can in one moment dissipate all their hopes, as the events of things are wholly in his power. It is therefore by way of concession that he says that man walks, according to what Paul says in Romans 9:16, though in that passage he ascends higher; yet in saying, that it is not of him who wills nor of him who runs, he seems to concede to men the power of willing and running. But there is to be understood here a species of irony; for we know that men can never be stripped of that vain and deceptive conceit which fills them, while they think that they can obtain righteousness by their own strength. They dare not, indeed, actually to boast that they are the authors of their own salvation, and that righteousness is within their own power, but they wish to be associates with God. Though they admit him as a partner, they yet wish to divide with him. This is the folly which Paul ridicules; and he says, that it is not of him who wills, or of him who runs, but of God only who shews mercy; that is, that man’s salvation is alone from the mercy of God, and that it is not from the toil and running of man. When the Pelagians sought by this cavil to evade the sentence of Paul, ‘It is not of him who wills and runs,’ deducing hence, that man has some liberty to will and to run, Augustine said wisely, ‘If it be so, then, on the other hand, we may infer, that it is not of God who shews mercy, but of him who wills and runs.’ How so? If men co-operate in half with God, and if there is a concurrence of human power with the grace and aid of the Holy Spirit, and if this sentence, ‘It is not of him who wills, or of him who runs,’ is true according to the sense given to it, so we may also say, that it is not only of God who shews mercy, but also of him who wills and runs. Why? Because the mercy of God is not sufficient if it is to be aided by man’s power. But this is extremely absurd, and there is no one who does not abhor the thought, that man’s salvation is not from God’s mercy, but from their willing and running. It then follows, that all human power, and all labours, are wholly excluded by these words of Paul. [= ].

 

Dalam kutipan di atas ini Calvin memberi contoh yang lain, yaitu Ro 9:16.

Ro 9:16 - Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah..

KJV: So then it is not of him that willeth, nor of him that runneth, but of God that sheweth mercy.’ [= Maka itu bukan dari dia yang menghendaki, ataupun dari dia yang berlari / berusaha, tetapi dari Allah yang menunjukkan belas kasihan / kemurahan hati.].

 

Apakah dari text ini kita harus menarik ajaran bahwa manusia mempunyai kebebasan untuk menghendaki dan mengusahakan? Tentu tidak. Penjelasannya seperti dalam penjelasan tentang ayat-ayat di atas.

 

Calvin (tentang Yer 10:23): “Now, the Prophet does not speak of eternal salvation, but only of the actions of the present life. As then the Israelites thought that they had sufficient protection in their own wisdom, in their own power, in their own numbers, and also in their confederacies with other nations, the Prophet says, that they were deceived, for they arrogated to themselves the ruling power, which belongs to God alone; for what men commonly call fortune is nothing else but God’s providence. Since then God by his hidden counsel governs the affairs of men, it follows that all events, prosperous or adverse, are at his will. Whatever, then, men may consult, determine, and attempt, they yet can execute nothing, for God gives such an issue as he pleases. We now see what the Prophet speaks of, and also see that he touches not on the powers of free-will; for he does not refer here to man’s will, but only shews that after men have arranged their affairs in the best manner, all their counsels, strivings, and toils come to nothing, and that God disappoints their confidence, because they dare rashly to promise to themselves more than what is right.” [= sang Nabi berkata, bahwa mereka ditipu, karena mereka mengclaim dengan sombong bagi diri mereka sendiri kuasa memerintah, yang hanyalah milik dari Allah saja; karena apa yang manusia biasanya sebut sebagai ‘nasib baik’ bukan lain dari Providensia Allah. Maka karena Allah oleh rencanaNya yang tersembunyi memerintah urusan-urusan manusia, konsekwensinya adalah bahwa semua peristiwa-peristiwa, yang sukses / menyenangkan atau yang merugikan / tak menyenangkan, ada / tergantung pada kehendakNya. Jadi, apapun yang manusia pertimbangkan, tentukan, dan usahakan, mereka tidak bisa melakukan apapun, karena Allah memberikan hasil sedemikian rupa seperti yang Ia berkenan.].

Catatan: saya hanya menterjemahkan bagian yang saya garis-bawahi.

 

John Calvin: 6. GOD’S PROVIDENCE ESPECIALLY RELATES TO MEN. But because we know that the universe was established especially for the sake of mankind, we ought to look for this purpose in his governance also. The prophet Jeremiah exclaims, ‘I know, O Lord, that the way of man is not his own, nor is it given to man to direct his own steps’ (Jeremiah 10:23, cf. Vg.). Moreover, Solomon says, ‘Man’s steps are from the Lord (Proverbs 20:24 p.) and how may man dispose his way?’ (Proverbs 16:9 p., cf. Vg.). Let them now say that man is moved by God according to the inclination of his nature, but that he himself turns that motion whither he pleases. Nay, if that were truly said, the free choice of his ways would be in man’s control. Perhaps they will deny this because he can do nothing without God’s power. Yet they cannot really get by with that, since it is clear that the prophet and Solomon ascribe to God not only might but also choice and determination. Elsewhere Solomon elegantly rebukes this rashness of men, who set up for themselves a goal without regard to God, as if they were not led by his hand. ‘The disposition of the heart is man’s, but the preparation of the tongue is the Lord’s.’ (Proverbs 16:1, 9, conflated.) It is an absurd folly that miserable men take it upon themselves to act without God, when they cannot even speak except as he wills![= Merupakan suatu kebodohan yang konyol / menggelikan bahwa orang-orang yang menjijikkan / memalukan menganggap diri mereka sendiri melakukan tanpa Allah, pada waktu mereka bahkan tidak bisa berbicara kecuali sebagaimana Ia menghendakinya!] - ‘Institutes of The Christian Religion’, Book I, Chapter 16, No 6.

Catatan: saya hanya menterjemahkan bagian yang saya garis-bawahi.

 

Dari semua kutipan dari Calvin dalam point ini kita bisa melihat betapa kerasnya pandangan Calvin dalam hal ini, karena ia mengatakan bahwa manusia tak bisa melakukan hal-hal terkecil sekalipun, seperti melangkah, atau bahkan berbicara, kalau bukan karena Providensia Allah!

 

11)Amsal 16:33 - “Undi dibuang di pangkuan, tetapi setiap keputusannya berasal dari pada TUHAN.”.

 

Jatuhnya undian kelihatannya terjadi secara kebetulan, tetapi ayat ini mengatakan bahwa itu juga datang dari Tuhan / diatur oleh Tuhan.

 

John Calvin: But the Lord does not allow this, claiming for himself the determining of them. He teaches that it is not by their own power that pebbles are cast into the lap and drawn out, but the one thing that could have been attributed to chance he testifies to come from himself (Proverbs 16:33).[= ] - ‘Institutes of The Christian Religion’, Book I, Chapter 16, No 6.

 

John Calvin: What then? you will ask. Does nothing happen by chance, nothing by contingency? I reply: Basil the Great has truly said that ‘fortune’ and ‘chance’ are pagan terms, with whose significance the minds of the godly ought not to be occupied. For if every success is God’s blessing, and calamity and adversity his curse, no place now remains in human affairs for fortune or chance. And that saying of Augustine also ought to impress us: "It grieves me that in my books ‘Against the Academics’ I have so often mentioned Fortune; although I did not mean some goddess or other to be understood by this name, but only a fortuitous outcome of things in outward good or evil. From fortuna also come those words which we should have no scruple about using: forte, forsan, forsitan, fortasse, fortuito (haply, perchance, mayhap, perhaps, fortuitously); which nevertheless must be wholly referred to divine providence. And I did not pass over this in silence but said it, for perhaps what is commonly called ‘fortune’ is also ruled by a secret order, and we call a ‘chance occurrence’ only that of which the reason and cause are secret. Indeed, I said this: but I regret having thus mentioned ‘fortune’ here, since I see that men have a very bad custom, that where one ought to say ‘God willed this,’ they say, ‘fortune willed this.’" In fine, Augustine commonly teaches that if anything is left to fortune, the world is aimlessly whirled about. And although in another place he lays down that all things are carried on partly by man’s free choice, partly by God’s providence, yet a little after this he sufficiently demonstrates that men are under, and ruled by, providence; taking as his principle that nothing is more absurd than that anything should happen without God’s ordaining it, because it would then happen without any cause. For this reason he excludes, also, the contingency that depends upon men’s will; soon thereafter he does so more clearly, denying that we ought to seek the cause of God’s will.[= tetapi sedikit setelahnya, ia (Agustinus) secara cukup menunjukkan bahwa orang-orang ada di bawah, dan diperintah oleh, providensia; mengambil sebagai prinsipnya bahwa tak ada apapun yang lebih menggelikan dari pada bahwa ada apapun yang terjadi tanpa Allah menentukannya, karena itu berarti itu terjadi tanpa penyebab apapun.] - ‘Institutes of The Christian Religion’, Book I, Chapter 16, No 8.

Catatan: saya hanya menterjemahkan bagian yang saya garis-bawahi.

 

12)Amsal 19:21 - “Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan TUHANlah yang terlaksana.”.

 

Ayat ini menunjukkan bahwa manusia bisa merencanakan, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana.

 

13)Amsal 21:1 - Hati raja seperti batang air dalam tangan TUHAN, dialirkannya ke mana Ia ingini.”.

 

Hati raja diarahkan oleh Tuhan sesuai kehendakNya. Sebetulnya tentu saja bukan hati raja saja yang diarahkan oleh Tuhan, tetapi juga hati / pikiran semua manusia. Karena itu, kalau tadi dalam Amsal 16:1,9 dan Amsal 19:21 dikatakan bahwa manusia bisa memikirkan / menimbang jalannya, maka semua itu tetap ada dalam penentuan dan kontrol dari Allah!

 

John Calvin: Solomon’s statement that the heart of a king is turned about hither and thither at God’s pleasure (Proverbs 21:1) certainly extends to all the human race, and carries as much weight as if he had said: ‘Whatever we conceive of in our minds is directed to his own end by God’s secret inspiration.’[= pernyataan Salomo bahwa hati dari seorang raja dibelokkan kesana kemari sesuai kesenangan Allah (Amsal 21:1) pasti meluas / mencakup pada semua umat manusia, dan membawa / mempunyai kekuatan yang sama seakan-akan ia telah berkata: ‘Apapun yang kita mengerti dalam pikiran kita diarahkan pada tujuannya sendiri oleh bimbingan rahasia Allah’.] - ‘Institutes of The Christian Religion’, Book I, Chapter 18, No 2.

 

John Calvin: And surely unless he worked inwardly in men’s minds, it would not rightly have been said that he removes speech from the truthful, and prudence from the old men (Ezekiel 7:26); that he takes away the heart of the princes of the earth so they may wander in trackless wastes (Job 12:24; cf. Psalm 107:40; 106:40, Vg.). To this pertains what one often reads: that men are fearful according as dread of him takes possession of their minds (Leviticus 26:36). So David went forth from Saul’s camp without anyone’s knowing it, because the sleep of God had overtaken them all. (1 Samuel 26:12.) But one can desire nothing clearer than where he so often declares that he blinds men’s minds (Isaiah 29:14), smites them with dizziness (cf. Deuteronomy 28:28; Zechariah 12:4), makes them drunk with the spirit of drowsiness (Isaiah 29:10), casts madness upon them (Romans 1:28), hardens their hearts (Exodus 14:17 and passim).[= Dan pastilah, kecuali Ia bekerja di dalam pikiran manusia, akan dikatakan secara tidak benar bahwa Ia menghilangkan ucapan dari orang yang mengatakan kebenaran, dan hikmat dari orang-orang tua (Yeh 7:26); bahwa Ia mengambil / menyingkirkan hati dari pangeran-pangeran bumi sehingga mereka bisa mengembara di daerah liar yang tak ada jalannya (Ayub 12:24; bdk. Maz 107:40; 106:40, Vg.). Pada hal ini berhubungan / sesuai apa yang orang sering baca: bahwa manusia takut sesuai dengan rasa takut dari Dia menguasai pikiran mereka (Im 26:36). Demikianlah Daud keluar dari perkemahan Saul tanpa seorangpun mengetahuinya, karena tidur dari Allah telah secara tiba-tiba menimpa mereka semua. (1Sam 26:12). Tetapi seseorang tidak bisa menginginkan apapun yang lebih jelas dari dimana Ia begitu sering menyatakan bahwa Ia membutakan pikiran manusia (Yes 29:14), memukul mereka dengan kepusingan / kebingungan (bdk. Ul 28:28; Zakh 12:4), membuat mereka mabuk dengan roh mengantuk (Yes 29:10), menjatuhkan kegilaan atas mereka (Ro 1:28), mengeraskan hati mereka (Kel 14:17 dan banyak ayat lain dalam kitab itu).] - ‘Institutes of The Christian Religion’, Book I, Chapter 18, No 2.

 

Yeh 7:26 - Bencana demi bencana akan datang, kabar demi kabar akan tersiar. Mereka akan menginginkan suatu penglihatan dari nabi, pengajaran hilang lenyap dari imam, dan nasihat dari tua-tua..

 

Ayub 12:24 - Dia menyebabkan para pemimpin dunia kehilangan akal, dan membuat mereka tersesat di padang belantara yang tidak ada jalannya..

 

Maz 107:40 - DitumpahkanNya kehinaan ke atas orang-orang terkemuka, dan dibuatNya mereka mengembara di padang tandus yang tiada jalan;.

 

Im 26:36 - Dan mengenai mereka yang masih tinggal hidup dari antaramu, Aku akan mendatangkan kecemasan ke dalam hati mereka di dalam negeri-negeri musuh mereka, sehingga bunyi daun yang ditiupkan anginpun akan mengejar mereka, dan mereka akan lari seperti orang lari menjauhi pedang, dan mereka akan rebah, sungguhpun tidak ada orang yang mengejar..

 

1Sam 26:12 - Kemudian Daud mengambil tombak dan kendi itu dari sebelah kepala Saul, lalu mereka pergi. Tidak ada yang melihatnya, tidak ada yang mengetahuinya, tidak ada yang terbangun, sebab sekaliannya tidur, karena TUHAN membuat mereka tidur nyenyak..

 

Yes 29:14 - maka sebab itu, sesungguhnya, Aku akan melakukan pula hal-hal yang ajaib kepada bangsa ini, keajaiban yang menakjubkan; hikmat orang-orangnya yang berhikmat akan hilang, dan kearifan orang-orangnya yang arif akan bersembunyi.’.

 

Ul 28:28 - TUHAN akan menghajar engkau dengan kegilaan, kebutaan dan kehilangan akal,.

 

Zakh 12:4 - Pada waktu itu, demikianlah firman TUHAN, Aku akan membuat segala kuda menjadi bingung, penunggangnya menjadi gila. Atas kaum Yehuda, Aku akan membuka mataKu, tetapi segala kuda bangsa akan Kubuat menjadi buta..

 

Yes 29:10 - Sebab TUHAN telah membuat kamu tidur nyenyak; matamu - yakni para nabi - telah dipejamkanNya dan mukamu - yaitu para pelihat - telah ditudungiNya..

 

Ro 1:28 - Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas:.

 

Kel 14:17 - Tetapi sungguh Aku akan mengeraskan hati orang Mesir, sehingga mereka menyusul orang Israel, dan terhadap Firaun dan seluruh pasukannya, keretanya dan orangnya yang berkuda, Aku akan menyatakan kemuliaanKu..

 

14)Amsal 21:31 - “Kuda diperlengkapi untuk hari peperangan, tetapi kemenangan ada di tangan TUHAN.”.

 

Ayat ini menunjukkan bahwa kemenangan dalam perang bukan tergantung persiapan / kekuatan pasukan, tetapi tergantung Tuhan.

 

Text yang menunjukkan hal ini secara paling menyolok adalah text di bawah ini.

 

Kel 17:8-13 - “(8) Lalu datanglah orang Amalek dan berperang melawan orang Israel di Rafidim. (9) Musa berkata kepada Yosua: ‘Pilihlah orang-orang bagi kita, lalu keluarlah berperang melawan orang Amalek, besok aku akan berdiri di puncak bukit itu dengan memegang tongkat Allah di tanganku.’ (10) Lalu Yosua melakukan seperti yang dikatakan Musa kepadanya dan berperang melawan orang Amalek; tetapi Musa, Harun dan Hur telah naik ke puncak bukit. (11) Dan terjadilah, apabila Musa mengangkat tangannya, lebih kuatlah Israel, tetapi apabila ia menurunkan tangannya, lebih kuatlah Amalek. (12) Maka penatlah tangan Musa, sebab itu mereka mengambil sebuah batu, diletakkanlah di bawahnya, supaya ia duduk di atasnya; Harun dan Hur menopang kedua belah tangannya, seorang di sisi yang satu, seorang di sisi yang lain, sehingga tangannya tidak bergerak sampai matahari terbenam. (13) Demikianlah Yosua mengalahkan Amalek dan rakyatnya dengan mata pedang..

 

15)Amsal 22:2 - “Orang kaya dan orang miskin bertemu; yang membuat mereka semua ialah TUHAN.”.

NIV: ‘Rich and poor have this in common: The LORD is the Maker of them all.’ [= Orang kaya dan miskin mempunyai persamaan dalam hal ini: Tuhan adalah Pembuat mereka semua.].

 

Ini sesuai dengan Maz 75:7-8 di atas, dan menunjukkan bahwa orang bisa jadi kaya / miskin karena pekerjaan Tuhan.

 

John Calvin: In the same vein is that saying of Solomon, ‘The poor man and the usurer meet together; God illumines the eyes of both’ (Proverbs 29:13; cf. ch. 22:2). He points out that, even though the rich are mingled with the poor in the world, while to each his condition is divinely assigned, God, who lights all men, is not at all blind. And so he urges the poor to patience; because those who are not content with their own lot try to shake off the burden laid upon them by God.[= ] - ‘Institutes of The Christian Religion’, Book I, Chapter 16, No 6.

 

Amsal 29:13 - Si miskin dan si penindas bertemu, dan TUHAN membuat mata kedua orang itu bersinar..

KJV: the LORD lighteneth both their eyes.’ [= TUHAN mencerahi / membuat terang mata mereka berdua.].

 

16)Pkh 7:14 - “Pada hari mujur bergembiralah, tetapi pada hari malang ingatlah, bahwa hari malang inipun dijadikan Allah seperti juga hari mujur, supaya manusia tidak dapat menemukan sesuatu mengenai masa depannya.”.

 

Ayat ini menunjukkan bahwa hari mujur maupun hari malang juga dijadikan oleh Allah. Jadi, siapapun mengalami kemujuran atau kesialan, itu bukan kebetulan, tetapi merupakan pekerjaan Tuhan.

 

17)Yes 45:6b-7 - “(6b) Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain, (7) yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang; Akulah TUHAN yang membuat semuanya ini.”.

KJV: ‘I form the light, and create darkness: I make peace, and create evil: I the LORD do all these things.’ [= Aku membentuk terang, dan menciptakan kegelapan: Aku membuat damai, dan menciptakan bencana: Aku TUHAN melakukan semua hal-hal ini.].

RSV: I form light and create darkness, I make weal and create woe, I am the LORD, who do all these things.’ [= Aku membentuk terang dan menciptakan kegelapan, Aku membuat kemakmuran dan menciptakan kesialan, Aku adalah TUHAN, yang melakukan semua hal-hal ini.]

NIV: I form the light and create darkness, I bring prosperity and create disaster; I, the LORD, do all these things.’ [= Aku membentuk terang dan menciptakan kegelapan, Aku membawa kemakmuran dan menciptakan bencana / malapetaka; Aku, TUHAN, melakukan semua hal-hal ini.].

NASB: The One forming light and creating darkness, Causing well-being and creating calamity; I am the LORD who does all these.’ [= Yang membentuk terang dan menciptakan kegelapan, Menyebabkan kesejahteraan dan menciptakan bencana; Aku adalah TUHAN yang melakukan semua ini.].

 

Calvin (tentang Yes 45:7): Making peace, and creating evil.’ By the words ‘light’ and ‘darkness’ he describes metaphorically not only peace and war; but adverse and prosperous events of any kind; and he extends the word ‘peace,’ according to the custom of Hebrew writers, to all success and prosperity. This is made abundantly clear by the contrast; for he contrasts ‘peace’ not only with war, but with adverse events of every sort. Fanatics torture this word ‘evil,’ as if God were the author of evil, that is, of sin; but it is very obvious how ridiculously they abuse this passage of the Prophet. This is sufficiently explained by the contrast, the parts of which must agree with each other; for he contrasts ‘peace’ with ‘evil,’ that is, with afflictions, wars, and other adverse occurrences. If he contrasted ‘righteousness’ with ‘evil,’ there would be some plausibility in their reasonings, but this is a manifest contrast of things that are opposite to each other. Consequently, we ought not to reject the ordinary distinction, that God is the author of the ‘evil’ of punishment, but not of the ‘evil’ of guilt. But the Sophists are wrong in their exposition; for, while they acknowledge that famine, barrenness, war, pestilence, and other scourges, come from God, they deny that God is the author of calamities, when they befall us through the agency of men. This is false and altogether contrary to the present doctrine; for the Lord raises up wicked men to chastise us by their hand, as is evident from various passages of Scripture. (1 Kings 11:14, 23.) The Lord does not indeed inspire them with malice, but he uses it for the purpose of chastising us, and exercises the office of a judge, in the same manner as he made use of the malice of Pharaoh and others, in order to punish his people. (Exodus 1:11 and 2:23.) We ought therefore to hold this doctrine, that God alone is the author of all events; that is, that adverse and prosperous events are sent by him, even though he makes use of the agency of men, that none may attribute it to fortune, or to any other cause. [= ‘Membuat damai, dan menciptakan bencana’. Dengan kata ‘terang’ dan ‘kegelapan’ ia menggambarkan secara kiasan bukan hanya damai dan perang; tetapi peristiwa-peristiwa yang tidak menyenangkan dan yang menyenangkan dari jenis apapun; dan ia memperluas kata ‘damai’, sesuai dengan kebiasaan dari penulis-penulis Ibrani, pada semua kesuksesan dan kemakmuran. ... Karena itu, kita harus memegang / mempercayai doktrin ini, bahwa Allah saja adalah pencipta dari semua peristiwa; artinya, bahwa peristiwa-peristiwa yang tidak menyenangkan dan yang menyenangkan dikirim oleh Dia, sekalipun Ia menggunakan manusia sebagai alat, sehingga / supaya tak seorangpun bisa menganggapnya berasal dari nasib baik, atau dari penyebab lain apapun.].

Catatan: saya hanya menterjemahkan bagian yang saya garis-bawahi.

 

1Raja 11:14,23 - “(14) Kemudian TUHAN membangkitkan seorang lawan Salomo, yakni Hadad, orang Edom; ia dari keturunan raja Edom. ... (23) Allah membangkitkan pula seorang lawan Salomo, yakni Rezon bin Elyada, yang telah melarikan diri dari tuannya, yakni Hadadezer, raja Zoba..

 

Kel 1:11 - Sebab itu pengawas-pengawas rodi ditempatkan atas mereka untuk menindas mereka dengan kerja paksa: mereka harus mendirikan bagi Firaun kota-kota perbekalan, yakni Pitom dan Raamses..

 

Kel 2:23 - Lama sesudah itu matilah raja Mesir. Tetapi orang Israel masih mengeluh karena perbudakan, dan mereka berseru-seru, sehingga teriak mereka minta tolong karena perbudakan itu sampai kepada Allah..

 

18)Rat 3:37-38 - “(37) Siapa berfirman, maka semuanya jadi? Bukankah Tuhan yang memerintahkannya? (38) Bukankah dari mulut Yang Mahatinggi keluar apa yang buruk dan apa yang baik?.

 

Ayat ini menunjukkan bahwa dari mulut Tuhan keluar apa yang buruk dan yang baik. Dengan kata lain, apa yang buruk ataupun yang baik bisa terjadi hanya karena Tuhan memerintahkan / mengatur supaya hal itu terjadi.

 

Banyak orang menggunakan Yer 29:11 untuk mengatakan bahwa Allah tidak merencanakan hal-hal yang buruk.

 

Yer 29:11 - Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada padaKu mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan..

 

Ada beberapa hal yang perlu dipikirkan sebelum menafsirkan ayat ini dengan cara seperti di atas:

 

a)     Tafsiran itu menabrak Rat 3:38 diatas.

 

b) Tafsiran itu menabrak kata-kata Yeremia sendiri dalam bagian lain dari kitab Yeremia.

 

Yer 21:10 - Sebab Aku telah menentang kota ini untuk mendatangkan kecelakaan dan bukan untuk mendatangkan keberuntungannya, demikianlah firman TUHAN. Kota ini akan diserahkan ke dalam tangan raja Babel yang akan membakarnya habis dengan api.’.

 

c)     Dalam Yer 29:11 itu ada kata-kata ‘mengenai kamu’.

‘Kamu’ itu harus diartikan sebagai orang pilihan / orang percaya.

Jadi untuk orang pilihan / orang percaya saja berlaku ayat ini (sama seperti Ro 8:28 juga berlaku hanya untuk orang pilihan / orang percaya), sedangkan untuk orang non pilihan / orang yang tidak percaya berlaku Yer 21:10.

Baca kontext dari kedua ayat dari Yeremia itu, maka semua akan menjadi jelas!

 

Dengan tafsiran ini semuanya menjadi harmonis!

 

19)Amos 3:6 - “Adakah sangkakala ditiup di suatu kota, dan orang-orang tidak gemetar? Adakah terjadi malapetaka di suatu kota, dan TUHAN tidak melakukannya?.

 

Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhanlah yang mengerjakan semua malapetaka.

 

20)Yak 4:13-16 - keberhasilan dalam usaha kita tergantung pada kehendak Tuhan.

 

Yak 4:13-16 - “(13) Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: ‘Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung’, (14) sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. (15) Sebenarnya kamu harus berkata: ‘Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.’ (16) Tetapi sekarang kamu memegahkan diri dalam congkakmu, dan semua kemegahan yang demikian adalah salah..

 

 

-bersambung-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : buas22@yahoo.com

e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com

http://golgothaministry.org