Golgotha School of Ministry

 

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

 

Rabu, tgl 29 November 2017, pk 19.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

Providence of God (5)

 

5. Agustinus dan pra-pengetahuan / foreknowledge.

 

John Calvin: But Ambrose, Origen, and Jerome held that God distributed his grace among men according as he foresaw that each would use it well. Besides, Augustine was of this opinion for a time, but after he had gained a better knowledge of Scripture, he not only retracted it as patently false, but stoutly refuted it.[= Tetapi Ambrose, Origen, dan Jerome menegaskan bahwa Allah membagikan kasih karuniaNya di antara manusia menurut apa yang Ia lihat lebih dulu bahwa masing-masing akan menggunakannya dengan baik. Juga, Agustinus tadinya mempunyai pandangan ini untuk suatu waktu, tetapi setelah ia mendapatkan pengetahuan yang lebih baik dari Kitab Suci, ia bukan hanya menariknya kembali sebagai salah secara terbuka / jelas, tetapi menyangkalnya dengan kuat.] - ‘Institutes of The Christian Religion’, Book III, Chapter 22, No 3.

Catatan: lihat Augustine, Retractations I. 23.2-4 (MPL 32. 62, f.); Exposition of Romans lv, lx (MPL 35. 2076, 2078).

 

Betul-betul salut bahwa orang sebesar Agustinus tidak malu untuk menarik kembali ajarannya yang salah, dan memperbaikinya!

 

c) Hubungan yang benar tentang kemahatahuan Allah dan penetapan Allah.

Penafsiran Arminian mengatakan bahwa Allah menetapkan karena Ia telah lebih dulu mengetahui bahwa hal itu akan terjadi, dan saya telah menunjukkan kesalahan pandangan ini. Sekarang saya ingin menunjukkan bahwa pandangan Reformed adalah sebaliknya, yaitu: Allah menetapkan, dan karena itu Ia mengetahui.

 

Sesuatu yang belum ditetapkan, tidak bisa diketahui, bahkan oleh Allah!

 

Kata-kata yang saya beri warna biru dari komentar Barnes tentang Kis 2:23 di atas, sebetulnya sudah menunjukkan hal itu. Untuk jelasnya, saya ulang kata-kata Barnes itu di bawah ini.

 

Barnes’ Notes (tentang Kis 2:23): “To foresee a contingent event, that is, to foresee that an event will take place when it may or may not take place, is an absurdity.” [= Melihat lebih dulu suatu peristiwa yang bisa terjadi bisa tidak, berarti melihat lebih dulu bahwa suatu peristiwa akan terjadi, pada saat itu bisa terjadi atau bisa tidak terjadi, merupakan sesuatu yang menggelikan.].

 

Atau bisa diganti dengan kalimat seperti ini:

 

Mengetahui lebih dulu dengan pasti, apa yang bisa terjadi dan bisa tidak terjadi, atau, mengetahui lebih dulu secara pasti apa yang tidak pasti, merupakan sesuatu yang menggelikan!

 

Saya memberi contoh tentang kejatuhan Adam. Kalau itu tidak / belum ditentukan, maka Adam bisa jatuh, atau, tidak jatuh. Ini tidak / belum pasti, bahkan dari sudut pandang Allah. Sekarang pertanyaannya, bisakah Allah mengetahui lebih dulu, dengan pasti, apa yang tidak pasti ini?

 

Kalau saudara mengatakan Allah tahu dengan pasti, maka itu berarti hal itu sudah tertentu, dan kalau tertentu, pasti ditentukan. Dan kalau ditentukan, pasti Allah yang menentukan. Maka ini akan bertentangan dengan premise / anggapan di atas tadi (yang mengatakan bahwa hal itu belum / tidak ditentukan).

 

Jadi, pertanyaan tadi harus dijawab: TIDAK, Allahpun tak bisa tahu Adam akan jatuh atau tidak, kalau hal itu belum ditentukan, dan masih merupakan sesuatu yang tidak pasti.

 

Sekarang saya akan menambahkan komentar-komentar para ahli theologia Reformed berkenaan dengan hal itu.

 

Louis Berkhof: “A distinction is made between the ‘necessary’ and ‘free’ knowledge of God. The former is the knowledge which God has of Himself and of all things possible, a knowledge resting on the consciousness of His omnipotence. It is called ‘necessary knowledge’, because it is not determined by an action of the divine will. ... ‘The free knowledge of God’ is the knowledge which He has of all things actual, that is, of things that existed in the past, that exists in the present, or that will exist in the future. It is founded on God’s infinite knowledge of His own all-comprehensive and unchangeable eternal purpose, and is called ‘free knowledge’, because it is determined by a concurrent act of the will.” [= Suatu pembedaan dibuat antara pengetahuan yang ‘perlu / harus’ dan ‘bebas’ dari Allah. Yang pertama adalah pengetahuan yang dimiliki Allah tentang DiriNya sendiri dan tentang segala sesuatu yang mungkin akan terjadi, suatu pengetahuan yang didasarkan pada kesadaran akan kemaha-kuasaanNya. Itu disebut ‘pengetahuan yang perlu / harus’, karena itu tidak ditentukan oleh suatu tindakan dari kehendak ilahi. ... ‘Pengetahuan yang bebas dari Allah’ adalah pengetahuan yang Ia miliki tentang segala sesuatu yang sungguh-sungguh / nyata, yaitu tentang hal-hal yang ada pada masa lalu, yang ada pada masa ini, dan yang akan ada pada masa yang akan datang. Ini didasarkan pada pengetahuan yang tak terbatas dari Allah tentang rencana kekalNya yang tak berubah dan mencakup segala sesuatu, dan disebut ‘pengetahuan bebas’, karena itu ditentukan oleh suatu tindakan yang sesuai dari kehendak.] - ‘Systematic Theology’, hal 66-67.

 

Contoh tentang pengetahuan yang pertama: Allah menyadari kemahakuasaanNya, sehingga Ia tahu bahwa Ia mampu menciptakan 10 alam semesta, membuat 10 Adam dan 10 Hawa, menciptakan manusia yang tidak bisa jatuh ke dalam dosa, dsb, kalau Ia mau.

 

Tetapi, sekarang ini yang kita bicarakan adalah pengetahuan yang kedua.

 

Louis Berkhof: “Actions that are in no way determined by God, directly or indirectly, but are wholly dependent on the arbitrary will of man, can hardly be the object of divine foreknowledge.” [= Tindakan-tindakan yang tidak ditentukan oleh Allah dengan cara apapun, secara langsung atau tidak langsung, tetapi sepenuhnya tergantung pada kehendak manusia yang mutlak, tidak mungkin bisa merupakan obyek dari pra-pengetahuan ilahi.] - ‘Systematic Theology’, hal 68.

 

Catatan: kata ‘hardly’ di sini tidak boleh diterjemahkan ‘hampir tidak’ seperti biasanya, tetapi harus diterjemahkan ‘improbable’ [= ‘tidak mungkin’] atau ‘not at all’ [= ‘sama sekali tidak’]. Arti seperti ini memang diberikan dalam Webster’s New World Dictionary (College Edition).

 

Loraine Boettner: “Foreordination in general cannot rest on foreknowledge; for only that which is certain can be foreknown, and only that which is predetermined can be certain.” [= Secara umum, penentuan lebih dulu tidak bisa didasarkan pada pengetahuan lebih dulu; karena hanya apa yang tertentu yang bisa diketahui lebih dulu, dan hanya apa yang ditentukan lebih dulu yang bisa tertentu.] - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 99.

 

William G. T. Shedd: “The Divine decree is the necessary condition of the Divine foreknowledge. If God does not first decide what shall come to pass, he cannot know what will come to pass. An event must be made certain, before it can be known as a certain event. ... So long as anything remains undecreed, it is contingent and fortuitous. It may or may not happen. In this state of things, there cannot be knowledge of any kind.” [= Ketetapan Ilahi adalah syarat yang perlu dari pengetahuan lebih dulu dari Allah. Jika Allah tidak lebih dulu menentukan apa yang akan terjadi, Ia tidak bisa mengetahui apa yang akan terjadi. Suatu peristiwa / kejadian harus dipastikan, sebelum peristiwa itu bisa diketahui sebagai peristiwa yang tertentu. ... Selama sesuatu tidak ditetapkan, maka sesuatu itu bersifat tidak pasti / memungkinkan (contingent) dan bersifat kebetulan (fortuitous). Itu bisa terjadi atau tidak terjadi. Dalam keadaan demikian, tidak bisa ada pengetahuan apapun tentang hal itu.] - ‘Shedd’s Dogmatic Theology’, vol I, hal 396-397.

 

B. B. Warfield: “... God foreknows only because He has pre-determined, and it is therefore also that He brings it to pass; His foreknowledge, in other words, is at bottom a knowledge of His own will,” [= ... Allah mengetahui lebih dulu hanya karena Ia telah menentukan lebih dulu, dan karena itu Ia juga menyebabkannya terjadi; dengan kata lain, pengetahuan lebih dulu ini pada hakekatnya adalah pengetahuan tentang kehendakNya sendiri,] - ‘Biblical and Theological Studies’, hal 281.

 

John Owen: “Out of this large and boundless territory of things possible, God by his decree freely determineth what shall come to pass, and makes them future which before were but possible. After this decree, as they commonly speak, followeth, or together with it, as others more exactly, taketh place, that prescience of God which they call ‘visionis,’ ‘of vision,’ whereby he infallibly seeth all things in their proper causes, and how and when they shall some to pass.” [= Dari daerah yang besar dan tak terbatas dari hal-hal yang mungkin terjadi ini, Allah dengan ketetapanNya secara bebas menentukan apa yang akan terjadi, dan membuat mereka yang tadinya ‘mungkin terjadi’ menjadi ‘akan datang’. Setelah ketetapan ini, seperti yang pada umumnya mereka katakan, berikutnya, atau bersama-sama dengan ketetapan itu, seperti orang lain katakan dengan lebih tepat, terjadilah ‘pengetahuan lebih dulu’ dari Allah yang mereka sebut VISIONIS, ‘dari penglihatan’, dengan mana Ia, secara tidak mungkin salah, melihat segala sesuatu dalam penyebabnya yang tepat, dan bagaimana dan kapan mereka akan terjadi.] - ‘The Works of John Owen’, vol 10, hal 23.

 

Louis Berkhof: “It is perfectly evident that Scripture teaches the divine foreknowledge of contingent events, 1Sam 23:10-13; 2Kings 13:19; Ps. 81:14,15; Isa. 42:9; 48:18; Jer. 2:2,3; 38:17-20; Ezek. 3:6; Matt. 11:21.” [= Adalah sangat jelas bahwa Kitab Suci mengajarkan pra-pengetahuan ilahi tentang peristiwa-peristiwa yang tidak pasti / memungkinkan (contingent), 1Sam 23:10-13; 2Raja 13:19; Maz 81:15,16; Yes 42:9; 48:18; Yer 2:2,3; 38:17-20; Yeh 3:6; Mat 11:21.] - ‘Systematic Theology’, hal 67.

 

1Sam 23:10-13 - “(10) Berkatalah Daud: ‘TUHAN, Allah Israel, hambaMu ini telah mendengar kabar pasti, bahwa Saul berikhtiar untuk datang ke Kehila dan memusnahkan kota ini oleh karena aku. (11) Akan diserahkan oleh warga-warga kota Kehila itukah aku ke dalam tangannya? Akan datangkah Saul seperti yang telah didengar oleh hambaMu ini? TUHAN, Allah Israel, beritahukanlah kiranya kepada hambaMu ini.’ Jawab TUHAN: ‘Ia akan datang.’ (12) Kemudian bertanyalah Daud: ‘Akan diserahkan oleh warga-warga kota Kehila itukah aku dengan orang-orangku ke dalam tangan Saul?’ Firman TUHAN: ‘Akan mereka serahkan.’ (13) Lalu bersiaplah Daud dan orang-orangnya, kira-kira enam ratus orang banyaknya, mereka keluar dari Kehila dan pergi ke mana saja mereka dapat pergi. Apabila kepada Saul diberitahukan, bahwa Daud telah meluputkan diri dari Kehila, maka tidak jadilah ia maju berperang.”.

 

2Raja 13:19 - “Tetapi gusarlah abdi Allah itu kepadanya serta berkata: ‘Seharusnya engkau memukul lima atau enam kali! Dengan berbuat demikian engkau akan memukul Aram sampai habis lenyap. Tetapi sekarang, hanya tiga kali saja engkau akan memukul Aram.’”.

 

Maz 81:12-16 - “(12) Tetapi umatKu tidak mendengarkan suaraKu, dan Israel tidak suka kepadaKu. (13) Sebab itu Aku membiarkan dia dalam kedegilan hatinya; biarlah mereka berjalan mengikuti rencananya sendiri! (14) Sekiranya umatKu mendengarkan Aku! Sekiranya Israel hidup menurut jalan yang Kutunjukkan! (15) Seketika itu juga musuh mereka Aku tundukkan, dan terhadap para lawan mereka Aku balikkan tanganKu. (16) Orang-orang yang membenci TUHAN akan tunduk menjilat kepadaNya, dan itulah nasib mereka untuk selama-lamanya.”.

 

Yes 42:9 - “Nubuat-nubuat yang dahulu sekarang sudah menjadi kenyataan, hal-hal yang baru hendak Kuberitahukan. Sebelum hal-hal itu muncul, Aku mengabarkannya kepadamu.’”.

 

Yes 48:18 - Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintahKu, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti.”.

 

Yer 2:2-3 - “(2) ‘Pergilah memberitahukan kepada penduduk Yerusalem dengan mengatakan: Beginilah firman TUHAN: Aku teringat kepada kasihmu pada masa mudamu, kepada cintamu pada waktu engkau menjadi pengantin, bagaimana engkau mengikuti Aku di padang gurun, di negeri yang tiada tetaburannya. (3) Ketika itu Israel kudus bagi TUHAN, sebagai buah bungaran dari hasil tanahNya. Semua orang yang memakannya menjadi bersalah, malapetaka menimpa mereka, demikianlah firman TUHAN.”.

Catatan: saya tak mengerti mengapa ayat ini digunakan di sini karena kelihatannya tidak ada hubungannya dengan hal yang sedang dibahas. Apakah ay 3b itu hanya pengandaian / ancaman, tetapi tak pernah betul-betul terjadi?

 

Yer 38:17-20 - “(17) Sesudah itu berkatalah Yeremia kepada Zedekia: ‘Beginilah firman TUHAN, Allah semesta alam, Allah Israel: Jika engkau keluar menyerahkan diri kepada para perwira raja Babel, maka nyawamu akan terpelihara, dan kota ini tidak akan dihanguskan dengan api; engkau dengan keluargamu akan hidup. (18) Tetapi jika engkau tidak menyerahkan diri kepada para perwira raja Babel, maka kota ini akan diserahkan ke dalam tangan orang-orang Kasdim yang akan menghanguskannya dengan api; dan engkau sendiri tidak akan luput dari tangan mereka.’ (19) Kemudian berkatalah raja Zedekia kepada Yeremia: ‘Aku takut kepada orang-orang Yehuda yang menyeberang kepada orang Kasdim itu; nanti aku diserahkan ke dalam tangan mereka, sehingga mereka mempermainkan aku.’ (20) Yeremia menjawab: ‘Hal itu tidak akan terjadi! Dengarkanlah suara TUHAN dalam hal apa yang kukatakan kepadamu, maka keadaanmu akan baik dan nyawamu akan terpelihara.”.

 

Yeh 3:6 - “bukan kepada banyak bangsa-bangsa yang berbahasa asing dan yang berat lidah, yang engkau tidak mengerti bahasanya. Sekiranya aku mengutus engkau kepada bangsa yang demikian, mereka akan mendengarkan engkau.”.

 

Mat 11:21 - “‘Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung.”.

 

Kata-kata Louis Berkhof ini membingungkan bagi saya, karena bertentangan dengan kata-kata para ahli theologia Reformed yang lain, yang mengatakan bahwa Allahpun tidak mungkin bisa tahu tentang peristiwa-peristiwa yang tidak pasti. Bahkan kata-kata Louis Berkhof di sini bertentangan dengan kata-kata Louis Berkhof sendiri selanjutnya, dimana ia berkata sebagai berikut:

 

Louis Berkhof: “His foreknowledge of future things and also of contingent events rests on His decree.” [= Pengetahuan lebih duluNya tentang hal-hal yang akan datang dan juga tentang peristiwa-peristiwa yang tidak pasti / memungkinkan (contingent) bersandar pada ketetapan-ketetapanNya.] - ‘Systematic Theology’, hal 67,68.

 

Louis Berkhof: “Actions that are in no way determined by God, directly or indirectly, but are wholly dependent on the arbitrary will of man, can hardly be the object of divine foreknowledge.” [= Tindakan-tindakan yang tidak ditentukan oleh Allah dengan cara apapun, secara langsung atau tidak langsung, tetapi sepenuhnya tergantung pada kehendak manusia yang berubah-ubah, tidak mungkin bisa merupakan obyek dari pra-pengetahuan ilahi.] - ‘Systematic Theology’, hal 68.

 

Saya kira ada 3 kemungkinan untuk menafsirkan kata-kata Louis Berkhof yang membingungkan di atas.

 

a) Di sana ia menggunakan kata ‘contingent’ dengan arti yang berbeda. Kata ini memang sukar diterjemahkan. Dalam Webster’s New World Dictionary (College Edition) arti yang diberikan untuk kata ini bermacam-macam:

1. “that may or may not happen” [= yang bisa terjadi atau bisa tidak terjadi].

2.     “possible” [= memungkinkan].

3. “happening by chance; accidental; fortuitous” [= kebetulan / terjadi secara kebetulan].

4. “dependent (on or upon something uncertain)” [= tergantung (pada sesuatu yang tidak pasti)].

5.     “conditional” [= bersyarat].

6.     dsb.

 

Kalau dalam arti ke 2 maka saya kira Allah tahu. Tetapi kalau dalam arti no 1 atau no 4, saya tidak percaya Allah bisa tahu lebih dulu.

 

b) Louis Berkhof mungkin memaksudkan bahwa kalau dilihat sepintas lalu Kitab Suci secara jelas mengajar demikian. Tetapi kalau diteliti lebih jauh / mendalam, faktanya tidak demikian.

 

c) Louis Berkhof berbicara tentang 2 macam ‘contingency’.

 

1. Yang pertama adalah contingency dari sudut pandang Allah. Ini menunjuk pada hal-hal yang akan datang, yang betul-betul sama sekali tidak ditentukan terjadi atau tidak terjadinya dengan cara apapun. Yang ini Allah tak mungkin bisa mempunyai foreknowledge (pra pengetahuan).

 

2. Yang kedua adalah contingency dari sudut pandang manusia. Apa yang contingent (tidak pasti) dari sudut pandang manusia tidak contingent (tidak pasti) dari sudut pandang Tuhan!

Misalnya sebelum undi dilemparkan, bagi manusia hasilnya bersifat contingent (tidak pasti), tetapi bagi Tuhan tidak. Bdk Amsal 16:33.

Ada orang yang sakit. Bagi manusia, merupakan sesuatu yang tidak pasti apakah orang itu akan sembuh total, atau memburuk, atau mati. Tetapi bagi Tuhan itu merupakan hal yang pasti. Ia punya pra-pengetahuan tentang hal itu.

 

Jadi, yang dikatakan oleh Louis Berkhof sebagai diketahui lebih dulu oleh Allah, jelas bukan hal-hal yang contingent dalam arti pertama tetapi dalam arti kedua!

 

Dari 3 kemungkinan di atas ini, saya yakin yang benar adalah kemungkinan yang terakhir.

 

3) Allah tidak terbatas oleh waktu, atau Allah ada di atas waktu.

Satu hal lagi yang menunjukkan bahwa Rencana / ketetapan Allah itu mencakup segala sesuatu, adalah bahwa Allah tidak terbatas oleh waktu, atau ada di atas waktu.

 

Calvin: When we attribute foreknowledge to God, we mean that all things always were, and perpetually remain, under his eyes, so that to his knowledge there is nothing future or past, but all things are present. And they are present in such a way that he not only conceives them through ideas, as we have before us those things which our minds remember, but he truly looks upon them and discerns them as things placed before him. And this foreknowledge is extended throughout the universe to every creature. [= Pada waktu kami menganggap Allah mempunyai pra-pengetahuan, kami memaksudkan bahwa segala sesuatu selalu ada (were), dan selalu tetap, di bawah mataNya, sehingga bagi pengetahuanNya di sana tidak ada ‘akan datang’ atau ‘lampau’, tetapi segala sesuatu adalah ‘present’. Dan mereka adalah present dengan cara sedemikian rupa sehingga Ia bukan hanya mengerti mereka melalui gagasan, seperti kita mempunyai di hadapan kita hal-hal itu yang diingat oleh pikiran kita, tetapi Ia betul-betul memandang mereka dan mengenali mereka sebagai hal-hal yang ditempatkan di hadapanNya. Dan pra-pengetahuan ini diperluas melalui alam semesta pada setiap makhluk ciptaan.] - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, Chapter XXI, no 5.

 

Bandingkan dengan ayat-ayat ini:


2Pet 3:8 -
Akan tetapi, saudara-saudaraku yang kekasih, yang satu ini tidak boleh kamu lupakan, yaitu, bahwa di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari..

 

Yoh 8:58 - Kata Yesus kepada mereka: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku (telah) ada.’.

KJV: ‘Before Abraham was, I am.’ [= Sebelum Abraham ada, Aku ada.].

 

William G. T. Shedd: “For the Divine mind, there is, in reality, no future event, because all events are simultaneous, owing to that peculiarity in the cognition of an eternal being whereby there is no succession in it. All events thus being present to him are of course all of them certain events.” [= Untuk pikiran Ilahi, dalam kenyataannya tidak ada kejadian / peristiwa yang akan datang, karena semua peristiwa / kejadian adalah serempak, berdasarkan kekhasan dalam pemikiran / pengertian dari ‘makhluk’ kekal untuk mana tidak ada urut-urutan di dalamnya. Semua peristiwa ‘bersifat present / sekarang’ bagiNya dan karenanya tentu saja semuanya merupakan peristiwa yang pasti.] - ‘Shedd’s Dogmatic Theology’, vol I, hal 402.

Catatan: kata ‘being’ dengan terpaksa saya terjemahkan ‘makhluk’. Sebetulnya tak cocok, tetapi saya tak tahu harus diterjemahkan bagaimana. Yang jelas ini menunjuk kepada Allah.

 

Loraine Boettner: “Much of the difficulty in regard to the doctrine of Predestination is due to the finite character of our mind, which can grasp only a few details at a time, and which understands only a part of the relations between these. We are creatures of time, and often fail to take into consideration the fact that God is not limited as we are. That which appears to us as ‘past,’ ‘present,’ and ‘future,’ is all ‘present’ to His mind. It is an eternal ‘now.’ He is ‘the high and lofty One that inhabits eternity.’ Is. 57:15. ‘A thousand years in thy sight are but as yesterday when it is past, And as a watch in the night,’ Ps. 90:4. Hence the events which we see coming to pass in time are only the events which He appointed and set before Him from eternity. Time is a property of the finite creation and is objective to God. He is above it and sees it, but is not conditioned by it. He is also independent of space, which is another property of the finite creation. Just as He sees at one glance a road leading from New York to San Francisco, while we see only a small portion of it as we pass over it, so He sees all events in history, past, present, and future at one glance. When we realize that the complete process of history is before Him as an eternal ‘now,’ and that He is the Creator of all finite existence, the doctrine of Predestination at least becomes an easier doctrine.” [= Banyak kesukaran berkenaan dengan doktrin Predestinasi disebabkan oleh sifat terbatas dari pikiran kita, yang hanya bisa menjangkau beberapa detail pada satu saat, dan yang mengerti hanya sebagian dari hubungan antara detail-detail itu. Kita adalah makhluk dari waktu, dan seringkali melupakan fakta bahwa Allah tidak terbatas seperti kita. Apa yang kelihatan bagi kita sebagai ‘lampau’, ‘sekarang’, dan ‘akan datang’, semuanya adalah ‘sekarang’ bagi pikiranNya. Itu adalah ‘sekarang’ yang kekal. Ia adalah ‘Yang tinggi dan mulia yang mendiami kekekalan’ Yes 57:15. ‘Seribu hari dalam pandanganMu adalah seperti kemarin, pada waktu itu berlalu, dan seperti suatu giliran jaga pada malam hari’ Maz 90:4. Karena itu peristiwa-peristiwa yang kita lihat terjadi dalam waktu hanyalah merupakan peristiwa-peristiwa yang telah Ia tetapkan dan tentukan di hadapanNya dari kekekalan. Waktu adalah milik / sifat dari ciptaan yang terbatas dan terpisah dari Allah. Ia ada diatasnya dan melihatnya, tetapi tidak dikuasai / diatur olehnya. Ia juga tidak tergantung pada tempat, yang merupakan milik / sifat yang lain dari ciptaan yang terbatas. Sama seperti Ia melihat dalam sekali pandang jalanan dari New York ke San Francisco, sementara kita melihat hanya sebagian kecil darinya pada waktu kita melewatinya, demikian pula Ia melihat semua peristiwa-peristiwa dalam sejarah, lampau, sekarang, dan yang akan datang dalam satu kali pandang. Pada waktu kita menyadari bahwa proses lengkap dari sejarah ada di depanNya sebagai ‘sekarang’ yang kekal, dan bahwa Ia adalah Pencipta dari semua keberadaan yang terbatas, doktrin Predestinasi sedikitnya menjadi doktrin yang lebih mudah.] - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 44-45.

Catatan: Yes 57:15 dan Maz 90:4 di atas dikutip dan diterjemahkan dari KJV.

 

Yes 57:15 - Sebab beginilah firman Yang Mahatinggi dan Yang Mahamulia, yang bersemayam untuk selamanya dan Yang Mahakudus namaNya: ‘Aku bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati, untuk menghidupkan semangat orang-orang yang rendah hati dan untuk menghidupkan hati orang-orang yang remuk.”.

KJV: ‘For thus saith the high and lofty One that inhabiteth eternity,’ [= Karena demikianlah kata Yang tinggi dan mulia yang mendiami kekekalan,].

 

Maz 90:4 - Sebab di mataMu seribu tahun sama seperti hari kemarin, apabila berlalu, atau seperti suatu giliran jaga di waktu malam..

 

 

 

-bersambung-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : buas22@yahoo.com

e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com

http://golgothaministry.org