Golgotha School of Ministry

 

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

 

Rabu, tgl 26 September 2018, pk 19.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

Providence of God (31)

 

William G. T. Shedd:

 

William G. T. Shedd: “When God executes his decree that Saul of Tarsus shall be ‘a vessel of mercy’, he works efficiently within him by his Holy Spirit ‘to will and to do’. When God executes his decree that Judas Iscariot shall be ‘a vessel of wrath fitted for destruction’, he does not work efficiently within him ‘to will and to do’, but permissively in the way of allowing him to have his own wicked will. He decides not to restrain him or to regenerate him, but to leave him to his own obstinate and rebellious inclination and purpose; and accordingly ‘the Son of man goeth, as it was determined, but woe unto that man by whom he is betrayed’ (Luke 22:22; Acts 2:23). The two Divine methods in the two cases are plainly different, but the perdition of Judas was as much foreordained and free from chance, as the conversion of Saul.” [= Pada waktu Allah melaksanakan ketetapanNya bahwa Saulus dari Tarsus akan menjadi ‘bejana / benda belas kasihan’, Ia bekerja secara efisien di dalamnya dengan Roh KudusNya ‘untuk mau / menghendaki dan untuk melakukan’. Pada waktu Allah melaksanakan ketetapanNya bahwa Yudas Iskariot akan menjadi ‘bejana kemurkaan yang cocok untuk kehancuran / benda kemurkaan yang telah dipersiapkan untuk kebinasaan’, Ia tidak bekerja secara efisien dalam dirinya ‘untuk mau / menghendaki dan untuk melakukan’, tetapi secara mengijinkan dengan cara mengijinkan dia mempunyai kehendak jahatnya sendiri. Ia memutuskan untuk tidak mengekang dia atau melahirbarukan dia, tetapi membiarkan dia pada kecondongan dan rencananya sendiri yang keras kepala dan bersifat memberontak; dan karena itu ‘Anak Manusia memang akan pergi seperti yang telah ditetapkan, akan tetapi, celakalah orang yang olehnya Ia diserahkan’ (Luk 22:22; Kis 2:23). Kedua metode ilahi dalam kedua kasus ini jelas berbeda, tetapi kebinasaan Yudas sudah ditentukan lebih dahulu dan bebas dari kebetulan, sama seperti pertobatan Saulus.] - ‘Calvinism: Pure & Mixed’, hal 31 (Libronix hal 32).

 

William G. T. Shedd: “Whatever undecreed must be by hap-hazard and accident. If sin does not occur by the Divine purpose and permission, it occurs by chance. And if sin occurs by chance, the deity, as in the ancient pagan theologies, is limited and hampered by it. He is not ‘God over all’. Dualism is introduced into the theory of the universe. Evil is an independent and uncontrollable principle. God governs only in part. Sin with all its effects is beyond his sway. This dualism God condemns as error, in his words to Cyrus by Isaiah, ‘I make peace and create evil’; and in the words of Proverbs 16:4, ‘The Lord hath made all things for himself; yea, even the wicked for the day of evil’.” [= Apapun yang tidak ditetapkan pasti ada karena kebetulan. Jika dosa tidak terjadi karena rencana dan ijin Ilahi, maka itu terjadi karena kebetulan. Dan jika dosa terjadi karena kebetulan, Allah, seperti dalam teologi kafir kuno, dibatasi dan dirintangi / dicegah olehnya. Ia bukanlah ‘Allah atas segala sesuatu’. Dualisme dimasukkan ke dalam teori alam semesta. Kejahatan merupakan suatu elemen hakiki yang tak tergantung dan tak terkontrol. Allah memerintah hanya sebagian. Dosa dengan semua akibatnya ada di luar pengaruh / kontrol / kekuasaanNya. Dualisme ini dikecam Allah sebagai salah, dalam kata-kata kepada Koresy oleh Yesaya, ‘Aku membuat damai dan menciptakan malapetaka / kejahatan’; dan dalam kata-kata dari Amsal 16:4, ‘Tuhan telah membuat segala sesuatu untuk diriNya sendiri; ya, bahkan orang jahat untuk hari malapetaka’.] - ‘Calvinism: Pure & Mixed’, hal 36 (Libronix hal 37).

Catatan: kata-kata Yesaya kepada Koresy itu diambil dari Yes 45:7 versi KJV. Demikian juga Amsal 16:4 diambil dan diterjemahkan dari KJV.

 

William G. T. Shedd: “Nothing comes to pass contrary to his decree. Nothing happens by chance. Even moral evil, which he abhors and forbids, occurs by ‘the determinate counsel and foreknowledge of God’; and yet occurs through the agency of the unforced and self-determining will of man as the efficient.” [= Tidak ada yang terjadi bertentangan dengan ketetapanNya. Tidak ada yang terjadi karena kebetulan. Bahkan kejahatan moral, yang Ia benci dan larang, terjadi oleh ‘rencana yang ditentukan dan pengetahuan lebih dulu dari Allah’; tetapi terjadi melalui perantaraan dari kehendak manusia yang tidak dipaksa dan ditentukan sendiri sebagai sesuatu yang efisien.] - ‘Calvinism: Pure & Mixed’, hal 37 (Libronix hal 38).

 

William G. T. Shedd: “The Divine decree is formed in eternity, but executed in time. ... the Divine decree, in reference to God, are one single act only.” [= Ketetapan ilahi dibentuk dalam kekekalan, tetapi dilaksanakan dalam waktu. ... ketetapan Ilahi, dalam hubungannya dengan Allah, adalah satu tindakan saja.] - ‘Shedd’s Dogmatic Theology’, vol I, hal 394 (Libronix hal 311).

 

William G. T. Shedd: “‘God willeth not one thing now, and another anon; but once, and at once, and always, he willeth all things that he willeth; not again and again, nor now this, now that; nor willeth afterwards, what before he willed not, nor willeth not, what before he willed; because such a will is mutable; and no mutable thing is eternal.’” [= ‘Allah tidak menghendaki sesuatu hal sekarang, dan sebentar lagi menghendaki yang lain; tetapi sekali, dan serentak, dan selalu, Ia menghendaki semua hal yang Ia kehendaki; bukannya lagi dan lagi / berulang-ulang, atau sebentar ini sebentar itu; atau menghendaki belakangan apa yang sebelumnya tidak Ia kehendaki, ataupun tidak menghendaki, apa yang sebelumnya Ia kehendaki; karena kehendak seperti itu bisa berubah / tidak tetap; dan tidak ada hal yang bisa berubah / tidak tetap yang kekal’.] - ‘Shedd’s Dogmatic Theology’, vol I, hal 395 (Libronix hal 312).

Catatan: kata-kata di atas ini ia kutip dari kata-kata Augustine (dari buku ‘Confession’, XII. xv.).

 

William G. T. Shedd: “The Divine decree is the necessary condition of the Divine foreknowledge. If God does not first decide what shall come to pass, he cannot know what will come to pass. An event must be made certain, before it can be known as a certain event. ... So long as anything remains undecreed, it is contingent and fortuitous. It may or may not happen. In this state of things, there cannot be knowledge of any kind.” [= Ketetapan Ilahi adalah syarat yang perlu dari pra-pengetahuan Ilahi. Jika Allah tidak lebih dulu menentukan apa yang akan terjadi, Ia tidak bisa mengetahui apa yang akan terjadi. Suatu peristiwa / kejadian harus dibuat pasti, sebelum itu bisa diketahui sebagai suatu peristiwa tertentu. ... Selama sesuatu apapun tidak ditetapkan, maka itu bersifat tergantung / mungkin dan kebetulan. Itu bisa terjadi atau bisa tidak terjadi. Dalam keadaan demikian, tidak bisa ada pengetahuan apapun tentang hal itu.] - ‘Shedd’s Dogmatic Theology’, vol I, hal 396-397 (Libronix hal 313).

 

William G. T. Shedd: “The Divine decree is universal. It includes ‘whatsoever comes to pass,’ be it physical or moral, good or evil:” [= Ketetapan ilahi adalah universal. Itu mencakup ‘apapun yang akan terjadi’, apakah itu bersifat fisik atau moral, baik atau jahat:] - ‘Shedd’s Dogmatic Theology’, vol I, hal 400 (Libronix hal 314).

 

William G. T. Shedd: “The Divine decree is immutable. There is no defect in God, in knowledge, power, and veracity. His decree cannot therefore be changed because of a mistake of ignorance, or of inability to carry out his decree, or of unfaithfulness to his purpose.” [= Ketetapan ilahi itu tetap / tak bisa berubah. Tidak ada cacat dalam Allah, dalam pengetahuan, kuasa, dan kebenaran. Karena itu, ketetapanNya tidak bisa diubah karena suatu kesalahan dari ketidak-tahuan, atau karena ketidak-mampuan untuk melaksanakan ketetapanNya, atau karena ketidak-setiaan pada rencanaNya.] - ‘Shedd’s Dogmatic Theology’, vol I, hal 401 (Libronix hal 315).

 

William G. T. Shedd: “For the Divine mind, there is, in reality, no future event, because all events are simultaneous, owing to that peculiarity in the cognition of an eternal being whereby there is no succession in it. All events thus being present to him are of course all of them certain events.” [= Untuk pikiran Ilahi, dalam kenyataannya tidak ada kejadian / peristiwa yang akan datang, karena semua peristiwa / kejadian adalah serempak, berdasarkan kekhasan dalam pemikiran / pengertian dari makhluk kekal untuk mana tidak ada urut-urutan di dalamnya. Semua peristiwa ‘bersifat present / sekarang’ bagiNya dan karenanya tentu saja semuanya merupakan peristiwa-peristiwa yang pasti.] - ‘Shedd’s Dogmatic Theology’, vol I, hal 402 (Libronix hal 316).

 

=====================================================

 

Loraine Boettner:

 

Loraine Boettner: “Since the universe had its origin in God and depends on Him for its continued existence it must be, in all its parts and at all times, subject to His control so that nothing can come to pass contrary to what He expressly decrees or permits. Thus the eternal purpose is represented as an act of sovereign predestination or foreordination, and unconditioned by any subsequent fact or change in time. Hence it is represented as being the basis of the divine foreknowledge of all future events, and not conditioned by that foreknowledge or by anything originated by the events themselves.” [= Karena alam semesta mempunyai asal usulnya dalam Allah dan tergantung kepadaNya untuk keberadaan seterusnya, maka alam semesta itu harus, dalam semua bagian-bagiannya dan pada setiap saat, tunduk pada kontrolNya sedemikian rupa sehingga tidak ada apapun bisa terjadi bertentangan dengan apa yang Ia secara jelas tetapkan atau ijinkan. Jadi rencana kekal digambarkan sebagai suatu tindakan dari predestinasi atau penentuan lebih dulu yang berdaulat, dan tidak disyaratkan oleh fakta atau perubahan apapun yang terjadi berikutnya dalam waktu. Karena itu maka hal itu digambarkan sebagai dasar dari pengetahuan lebih dulu dari Allah tentang semua peristiwa yang akan datang, dan tidak disyaratkan oleh pengetahuan lebih dulu itu atau oleh apapun yang ditimbulkan oleh peristiwa itu sendiri.] - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 14.

 

Loraine Boettner: “The Pelagian denies that God has a plan; the Arminian says that God has a general plan but not a specific plan; but the Calvinist says that God has a specific plan which embraces all events in all ages.” [= Seorang Pelagian menyangkal bahwa Allah mempunyai rencana; seorang Arminian berkata bahwa Allah mempunyai suatu rencana yang umum tetapi bukan suatu rencana yang spesifik; tetapi seorang Calvinist berkata bahwa Allah mempunyai suatu rencana yang spesifik yang mencakup semua peristiwa / kejadian dalam semua jaman.] - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 22-23.

 

Loraine Boettner: “His choice of the plan, or His making certain that the creation should be on this order, we call His foreordination or His predestina­tion. Even the sinful acts of men are included in this plan. They are foreseen, permitted, and have their exact place. They are controlled and overruled for the divine glory.” [= Pemilihan rencanaNya, atau penetapanNya supaya penciptaan terjadi sesuai urut-urutan ini, kami sebut pra-penentuanNya atau predestinasiNya. Bahkan tindakan-tindakan berdosa dari manusia tercakup dalam rencana ini. Mereka itu dilihat lebih dulu, diijinkan, dan mempunyai tempat mereka yang persis / tepat. Mereka dikontrol dan dikuasai untuk kemuliaan Ilahi.] - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 24.

 

Loraine Boettner: “Even the sinful acts of men are included in the plan and are overruled for good.” [= Bahkan tindakan-tindakan berdosa manusia termasuk dalam rencana ini dan dikuasai untuk kebaikan.] - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 29.

 

Loraine Boettner: “Although the sovereignty of God is universal and absolute, it is not the sovereignty of blind power. It is coupled with infinite wisdom, holiness and love. And this doctrine, when properly understood, is a most comforting and reassuring one. Who would not prefer to have his affairs in the hands of a God of infinite power, wisdom, holiness and love, rather than to have them left to fate, or chance, or irrevocable natural law, or to short-sighted and perverted self? Those who reject God’s sovereignty should consider what alternatives they have left.” [= Sekalipun kedaulatan Allah itu bersifat universal dan mutlak, tetapi itu bukanlah kedaulatan dari kuasa yang buta. Itu digabungkan dengan kebijaksanaan, kekudusan dan kasih yang tidak terbatas. Dan doktrin ini, jika dimengerti dengan tepat, adalah suatu doktrin yang paling menghibur dan menenteramkan. Siapa yang tidak lebih menghendaki perkaranya ada dalam tangan Allah yang mempunyai kuasa, kebijaksanaan, kekudusan dan kasih yang tidak terbatas, dari pada menyerahkannya pada nasib / takdir, atau kebetulan, atau hukum alam yang tidak bisa dibatalkan, atau pada diri sendiri yang cupet dan sesat? Mereka yang menolak kedaulatan Allah harus mempertimbangkan alternatif-alternatif lain yang tersisa.] - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 32.

 

Loraine Boettner: “But while the Bible repeatedly teaches that this providential control is universal, powerful, wise, and holy, it nowhere attempts to inform us how it is to be reconciled with man’s free agency. All that we need to know is that God does govern His creatures and that His control over them is such that no violence is done to their natures. Perhaps the relationship between divine sovereignty and human freedom can best be summed up in these words: ‘God so presents the outside inducements that man acts in accordance with his own nature, yet does exactly what God has planned for him to do.’” [= Tetapi sementara Alkitab berulangkali mengajar bahwa penguasaan providensia ini bersifat universal, berkuasa, bijaksana, dan suci, dimanapun Alkitab tidak pernah berusaha untuk memberi informasi kepada kita tentang bagaimana hal itu bisa diperdamaikan / diharmoniskan dengan kebebasan manusia. Semua yang perlu kita ketahui adalah bahwa Allah memang memerintah makhluk-makhluk ciptaanNya dan bahwa penguasaan / kontrolNya atas mereka adalah sedemikian rupa sehingga tidak ada pemaksaan terhadap sifat dasar mereka. Mungkin hubungan antara kedaulatan ilahi dan kebebasan manusia bisa disimpulkan dengan cara terbaik dengan kata-kata ini: ‘Allah memberikan dorongan / bujukan dari luar sedemikian rupa sehingga manusia bertindak sesuai dengan sifat dasarnya, tetapi melakukan secara tepat apa yang Allah telah rencanakan baginya untuk dilakukan’.] - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 38.

 

Loraine Boettner: “The Arminian objection against foreordination bears with equal force against the foreknowledge of God. What God foreknows must, in the very nature of the case, be as fixed and certain as what is foreordained; and if one is inconsistent with the free agency of man, the other is also. Foreordination renders the events certain, while foreknowledge presupposes that they are certain.” [= Keberatan Arminian terhadap penentuan lebih dulu, mengandung / menghasilkan  kekuatan yang sama terhadap pengetahuan lebih dulu dari Allah. Apa yang Allah ketahui lebih dulu pastilah sama tertentunya dan pastinya seperti apa yang ditentukan lebih dulu; dan jika yang satu tidak konsisten dengan kebebasan manusia, yang lain juga demikian. Penentuan lebih dulu membuat peristiwa-peristiwa pasti / tertentu, sedangkan pengetahuan lebih dulu mensyaratkan bahwa mereka itu pasti / tertentu.] - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 42.

 

Loraine Boettner: “Common sense tells us that no events can be foreknown unless by some means, either physical or mental, it has been predetermined. Our choice as to what determines the certainty of future events narrows down to two alternatives - the foreordination of the wise and merciful heavenly Father, or the working of blind, physical fate.” [= Akal sehat memberitahu kita bahwa tidak ada peristiwa apapun yang bisa diketahui lebih dulu kecuali hal itu telah ditentukan lebih dulu dengan cara tertentu, baik secara fisik atau mental / pikiran. Pilihan kita berkenaan dengan apa yang menentukan kepastian dari peristiwa-peristiwa yang akan datang menyempit menjadi hanya dua pilihan / kemungkinan - penentuan lebih dulu dari Bapa surgawi yang bijaksana dan penuh belas kasihan, atau pekerjaan dari nasib / takdir fisik yang buta.] - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 42.

 

Loraine Boettner: “Yet unless Arminianism denies the foreknowledge of God, it stands defenseless before the logical consistency of Calvinism; for foreknowledge implies certainty and certainty implies foreordination.” [= Kecuali Arminianisme menyangkal pengetahuan lebih dulu dari Allah, ia tidak mempunyai pertahanan di depan kekonsistenan yang logis dari Calvinisme; karena pengetahuan lebih dulu secara tidak langsung menunjuk pada kepastian, dan kepastian secara tidak langsung menunjuk pada penetapan lebih dulu.] - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 44.

 

Loraine Boettner: “This fixity or certainty could have had its ground in nothing outside of the divine Mind, for in eternity nothing else existed.” [= Ketertentuan atau kepastian ini tidak bisa mempunyai dasar apapun selain Pikiran Ilahi, karena dalam kekekalan tidak ada apapun yang lain yang ada.] - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 45.

 

Loraine Boettner: These doctrines, now so disregarded or unknown if not openly opposed, were universally believed and maintained by the reformers, and following the Reformation were written into the creeds, catechisms, or articles of every one of the Protestant churches. Any one who will compare the printed pulpit utterances of our own day with those of the Reformers will have no difficulty in perceiving how contradictory and irreconcilably hostile they are to each other. [= Doktrin-doktrin ini, yang sekarang begitu tidak dianggap atau tidak diketahui jika bukannya ditentang secara terbuka, dulunya dipercaya dan dipertahankan secara universal oleh para tokoh reformasi, dan setelah Reformasi dituliskan ke dalam credo-credo / Pengakuan-pengakuan Iman, katekisasi-katekisasi, atau artikel-artikel dari setiap gereja-gereja Protestan. Siapapun yang mau membandingkan ucapan-ucapan mimbar yang dicetak dari jaman kita sendiri dengan ucapan-ucapan dari para tokoh Reformasi tidak akan mendapatkan kesukaran dalam mengerti betapa bertentangan dan bermusuhan secara tak bisa diperdamaikan mereka satu dengan yang lain.] - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 353.

 

Untuk membuktikan kebenaran kata-kata Loraine Boettner bahwa semua tokoh-tokoh Reformasi mempercayai doktrin ini, saya akan mengutip dari buku sejarah di bawah ini.

 

David Schaff: “He (Luther) inseparably connects divine foreknowledge and foreordination, and infers from God’s almighty power that all things happen by necessity, and that there can be no freedom in the creature.” [= Ia (Luther) menghubungkan secara tak terpisahkan pra-pengetahuan ilahi dan penentuan lebih dulu, dan menyimpulkan dari kuasa yang maha kuasa dari Allah bahwa segala sesuatu terjadi oleh keharusan, dan bahwa di sana tidak bisa ada kebebasan dalam makhluk ciptaan.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 430.

 

David Schaff: “2. The doctrine of eternal election and providence. Zwingli gives prominence to God’s sovereign election as the primary source of salvation.” [= 2. Doktrin tentang pemilihan kekal dan Providensia. Zwingli memberikan kemenonjolan bagi pemilihan berdaulat Allah sebagai sumber utama dari keselamatan.] - ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 91.

 

David Schaff: “All the Reformers were originally strong Augustinian predestinarians and denied the liberty of the human will. Augustin and Luther proceeded from anthropological premises, namely, the total depravity of man, and came to the doctrine of predestination as a logical consequence, ... Zwingli, anticipating Calvin, started from the theological principle of the absolute sovereignty of God and the identity of foreknowledge and foreordination. His Scripture argument is chiefly drawn from the ninth chapter of Romans, which, indeed, strongly teaches the freedom of election,” [= Semua tokoh Reformasi secara orisinil / dengan cara yang sangat khusus adalah pengikut-pengikut doktrin predestinasi Agustinus dan menyangkal kebebasan dari kehendak manusia. Agustinus dan Luther mulai dari premis / dasar yang bersifat anthropology, yaitu, kebejatan total dari manusia, dan sampai pada doktrin tentang predestinasi sebagai suatu konsekwensi logis, ... Zwingli, mengantisipasi / mendahului Calvin, memulai dari prinsip theology tentang kedaulatan mutlak dari Allah dan kesamaan dari pra-pengetahuan dan penentuan lebih dulu. Argumentasi Kitab Sucinya terutama diambil dari pasal ke 9 dari kitab Roma, yang memang secara kuat mengajar kebebasan dari pemilihan,] - ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 92.

Catatan: dalam ‘the Free Dictionary’, kata ‘originally’ diberi bermacam-macam arti, seperti:

1.     ‘at first’ [= mula-mula].

2.     ‘in an original way’ [= dengan suatu cara yang orisinil].

3. ‘in a highly distinctive manner’ [= dengan suatu cara yang sangat khusus / tersendiri].

Saya menganggap arti no 1 tidak mungkin, karena mereka tak pernah berubah pandangan dalam hal ini. Jadi yang memungkinkan adalah arti no 2 dan no 3. Tetapi dilihat dari kata-kata selanjutnya yang membedakan jalan dari Agustinus dan Luther di satu pihak, dan Zwingli dan Calvin di pihak lain, maka rasanya arti no 3 itu yang paling memungkinkan.

 

David Schaff: “Zwingli does not shrink from the abyss of supralapsarianism. God, he teaches, is the supreme and only good, and the omnipotent cause of all things. He rules and administers the world by his perpetual and immutable providence, which leaves no room for accidents. Even the fall of Adam, with its consequences, is included in his eternal will as well as his eternal knowledge.” [= Zwingli tidak mengkerut / ragu-ragu dari jurang / kedalaman dari supralapsarianisme. Allah, ia mengajar, adalah kebaikan yang tertinggi dan satu-satunya, dan penyebab yang maha kuasa dari segala sesuatu. Ia memerintah dan mengatur dunia oleh ProvidensiaNya yang kekal dan tak bisa berubah, yang tidak menyisakan tempat bagi kebetulan-kebetulan. Bahkan kejatuhan Adam, dengan konsekwensi-konsekwensinya, tercakup dalam kehendak kekalNya maupun dalam pengetahuan kekalNya.] - ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 92.

 

David Schaff: “It is very easy to caricature the doctrine of predestination, and to dispose of it by the plausible objections that it teaches the necessity of sin, that it leads to fatalism and pantheism, that it supersedes the necessity of personal effort for growth in grace, and encourages carnal security. But every one who knows history at all knows also that the strongest predestinarians were among the most earnest and active Christians. It will be difficult to find purer and holier men than St. Augustin and Calvin, the chief champions of this very system which bears their name.” [= Adalah sangat mudah untuk menggambarkan secara salah doktrin predestinasi, dan membuangnya oleh keberatan-keberatan yang kelihatannya sah bahwa doktrin itu mengajarkan keharusan dari dosa, bahwa doktrin itu membimbing pada fatalisme dan pantheisme, bahwa doktrin itu menyingkirkan keharusan dari usaha pribadi untuk pertumbuhan dalam kasih karunia, dan mendorong keamanan yang bersifat daging. Tetapi setiap orang yang mengetahui sejarah apapun juga tahu bahwa pengikut-pengikut doktrin predestinasi yang terkuat ada di antara orang-orang Kristen yang paling sungguh-sungguh dan aktif. Adalah sukar untuk menemukan orang-orang yang lebih murni dan kudus / suci dari Santo Agustinus dan Calvin, pembela-pembela utama dari sistim ini yang membawa nama mereka.] - ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 93-94.

 

Perlu diketahui bahwa David Schaff bukanlah seorang Calvinist, dan itu bisa dilihat dari kata-katanya di bawah ini.

 

David Schaff: “Calvinism emphasizes divine sovereignty and free grace; Arminianism emphasizes human responsibility. The one restricts the saving grace to the elect: the other extends it to all men on the condition of faith. Both are right in what they assert; both are wrong in what they deny. ... The Bible gives us a theology which is more human than Calvinism, and more divine than Arminianism, and more Christian than either of them. [= Calvinisme menekankan kedaulatan ilahi dan kasih karunia yang cuma-cuma; Arminianisme menekankan tanggung jawab manusia. Yang satu membatasi kasih karunia yang menyelamatkan kepada orang pilihan: yang lain memperluasnya kepada semua manusia dengan syarat iman. Keduanya benar dalam apa yang mereka tegaskan; keduanya salah dalam apa yang mereka sangkal. ... Alkitab memberi kita suatu theologia yang lebih manusiawi dari pada Calvinisme, dan lebih ilahi dari pada Arminianisme, dan lebih kristiani dari yang manapun dari mereka.] - ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 816.

Catatan: menurut saya ini adalah kata-kata bodoh. Perlu dimaklumi, dia adalah seorang ahli sejarah, bukan ahli theologia.

 

=====================================================

 

Herman Hoeksema:

 

Herman Hoeksema: “For this same reason the Bible always emphasizes the fact that God ordained all things and knew them from before the foundation of the world.” [= Untuk alasan yang sama Alkitab selalu menekankan fakta bahwa Allah menentukan segala sesuatu dan mengetahui mereka sejak dunia belum dijadikan.] - ‘Reformed Dogmatics’, hal 157.

 

Herman Hoeksema: “Nor must we, in regard to the sinful deeds of men and devils, speak only of God’s permission in distinction from His determination. Holy Scripture speaks a far more positive language. We realize, of course, that the motive for speaking God’s permission rather than of His predetermined will in regard to sin and the evil deeds of men is that God may never be presented as the author of sin. But this purpose is not reached by speaking of God’s permission or His permissive will: for if the Almighty permits what He could just as well have prevented, it is from an ethical viewpoint the same as if He had committed it Himself. But in this way we lose God and His sovereignty: for permis­sion presupposes the idea that there is a power without God that can produce and do something apart from Him, but which is simply permitted by God to act and operate. This is dualism, and it annihilates the complete and absolute sovereignty of God. And therefore we must main­tain that also sin and all the wicked deeds of men and angels have a place in the counsel of God, in the counsel of His will. Thus it is taught by the Word of God. For it is certainly according to the deter­minate counsel of God that Christ is nailed to the cross, and that Pilate and Herod, with the Gentiles and Israel, are gathered together against the holy child Jesus. It is therefore much better to say that the Lord also in His counsel hates sin and determined that that which He hates should come to pass in order to reveal His hatred and to serve the cause of God’s covenant.” [= Juga kita tidak boleh, berkenaan dengan tindakan-tindakan berdosa dari manusia dan setan, berbicara hanya tentang ijin Allah dan membedakannya dengan penentuan / penetapanNya. Kitab Suci berbicara dengan suatu bahasa yang jauh lebih positif. Tentu saja kita menyadari bahwa motivasi untuk menggunakan istilah ‘ijin Allah’ dari pada ‘kehendakNya yang sudah ditetapkan lebih dulu’ berkenaan dengan dosa dan tindakan-tindakan jahat dari manusia adalah supaya Allah tidak pernah dinyatakan sebagai pencipta dosa. Tetapi tujuan ini tidak tercapai dengan menggunakan ‘ijin Allah’ atau ‘kehendak yang mengijinkan dari Allah’: karena jika Yang Maha Kuasa mengijinkan apa yang bisa Ia cegah, dari sudut pandang etika itu adalah sama seperti jika Ia melakukan hal itu sendiri. Tetapi dengan cara ini kita kehilangan Allah dan kedaulatanNya: karena ijin mensyaratkan suatu gagasan bahwa ada suatu kekuatan di luar Allah yang bisa menghasilkan dan melakukan sesuatu terpisah dari Dia, tetapi yang diijinkan oleh Allah untuk bertindak dan beroperasi. Ini merupakan dualisme, dan ini menghapuskan kedaulatan Allah yang lengkap dan mutlak. Dan karena itu kita harus mempertahankan bahwa juga dosa dan semua tindakan-tindakan jahat dari manusia dan malaikat mempunyai tempat dalam rencana Allah, dalam keputusan kehendakNya. Demikianlah diajarkan oleh Firman Allah. Karena adalah pasti bahwa sesuai dengan rencana yang sudah ditentukan dari Allah bahwa Kristus dipakukan di kayu salib, dan bahwa Pilatus dan Herodes, dengan orang-orang non Yahudi dan Israel, berkumpul bersama-sama menentang anak Yesus yang kudus. Karena itu lebih baik berkata bahwa Tuhan juga dalam rencanaNya membenci dosa dan menentukan hal itu supaya apa yang Ia benci itu terjadi sehingga Ia bisa menyatakan kebencianNya atas hal itu dan untuk melayani penyebab dari perjanjian Allah.] - ‘Reformed Dogmatics’, hal 158.

 

=====================================================

 

Herman Bavinck:

 

Herman Bavinck: “All events are included in that counsel, even the sinful deeds of man,” [= Semua kejadian / peristiwa termasuk / tercakup dalam rencana itu, bahkan juga tindakan-tindakan berdosa dari manusia,] - ‘The Doctrine of God’, hal 342.

 

Herman Bavinck: “God’s decree is his eternal purpose whereby he has foreordained whatsoever comes to pass. Scripture everywhere affirms that whatsoever is and comes to pass is the realization of God’s thought and will, and has its origin and idea in God’s eternal counsel or decree, ... apart from his knowledge and will nothing can ever come to pass.” [= Ketetapan Allah adalah rencana kekalNya dengan mana Ia telah menentukan lebih dulu apapun yang akan terjadi. Kitab Suci dimana-mana menegaskan bahwa apapun yang ada dan yang akan terjadi merupakan perwujudan dari pikiran dan kehendak Allah, dan mempunyai asal mula dan gagasannya dalam rencana atau ketetapan kekal Allah, ... terpisah dari pengetahuan dan kehendakNya tak ada apapun bisa pernah terjadi.] - ‘The Doctrine of God’, hal 369.

 

Herman Bavinck: “Furthermore, God’s thought, embodied in creation, cannot be conceived of as an uncertain idea, doubtful of realization; it is not a ‘bare foreknowledge’ that receives its contents from creation; it is not a plan, a project, or a purpose whose execution can be frustrated. But it is an act both of God’s mind and of his will.” [= Selanjutnya, pikiran Allah, diwujudkan dalam ciptaan, tidak bisa dimengerti sebagai suatu gagasan yang tidak pasti, meragukan dalam perwujudannya; itu bukan ‘sekedar suatu pra-pengetahuan’ yang menerima isinya dari ciptaan; itu bukanlah suatu rencana, suatu proyek, atau suatu tujuan yang pelaksanaannya bisa bisa digagalkan / dihalangi. Tetapi itu adalah suatu tindakan baik dari pikiran Allah dan dari kehendakNya.] - ‘The Doctrine of God’, hal 370.

 

Herman Bavinck: God’s counsel is no more an act that pertains to the past than is the generation of the Son; it is eternal, divine act, eternally finished, yet continuing forevermore, apart from and raised above time. Scaliger correctly observed that God’s decree was not preceded by a long period of reflection and deliberation, so that for a long time God would have been without purpose and without a will; neither is it a plan once for all completed and finished and simply awaiting execution. But God’s decree is the eternally active will of God: it is the willing and purposing God himself; it is not something accidental to God, but being God’s will in action, it is one with his essence. It is impossi­ble to conceive of God as a being without a purpose and without an active and operative will. Nevertheless, all this does not conceal the fact that God’s decree is an ‘immanent work’ determined by nothing else than by God himself, and distinct in character from God’s works in time, Acts 15:18; Eph 1:4.” [= Rencana Allah, sama seperti tindakan Bapa memperanakkan Anak, bukanlah suatu tindakan yang berhubungan dengan waktu lampau; tetapi itu adalah suatu tindakan ilahi yang kekal, sudah selesai dilakukan secara kekal, tetapi tetap berlangsung selama-lamanya, terpisah dari dan diangkat di atas waktu. Scaliger secara benar mengamati bahwa ketetapan Allah tidak didahului oleh suatu periode pemikiran dan pertimbangan yang lama, sehingga untuk suatu waktu yang lama Allah ada tanpa rencana dan tanpa kehendak; juga itu bukanlah suatu rencana yang sudah dilengkapi dan diselesaikan sekali untuk selamanya dan hanya menunggu pelaksanaan. Tetapi ketetapan Allah merupakan kehendak yang aktif secara kekal dari Allah: itu adalah Allah yang menghendaki dan merencanakan sendiri; itu bukan sesuatu yang tidak bersifat hakiki yang ditambahkan pada diri Allah, tetapi merupakan kehendak Allah yang beraksi, itu adalah satu dengan hakekatNya. Adalah mustahil untuk membayangkan Allah sebagai makhluk tanpa rencana dan tanpa suatu kehendak yang aktif dan operatif. Sekalipun demikian, semua ini tidak menyembunyikan fakta bahwa ketetapan Allah adalah suatu ‘pekerjaan yang ada di dalam’ yang ditetapkan bukan oleh sesuatu yang lain apapun selain Allah sendiri, dan berbeda dalam sifatnya dengan pekerjaan Allah dalam waktu, Kis 15:18; Ef 1:4.] - ‘The Doctrine of God’, hal 370.

 

Kis 15:18 (KJV): Known unto God are all his works from the beginning of the world.’ [= Diketahui oleh Allah semua pekerjaan-pekerjaanNya dari permulaan dunia ini.].

 

Catatan: saya tidak pernah membaca tentang adanya ahli theologia Reformed lain yang mempunyai pandangan seperti yang dikatakan Bavinck di awal kutipan ini (bagian yang saya garis-bawahi). Saya tak setuju dengan dia dalam hal ini. Rencana Allah memang dibuat dalam kekekalan, dan seluruhnya selesai dalam kekekalan itu. Tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa itu merupakan suatu tindakan kekal dari Allah, seperti halnya ‘the eternal generation of the Son’ dan ‘the eternal procession of the Holy Spirit’.

 

Herman Bavinck: “The fact that things and events, including the sinful thoughts and deeds of men, have been eternally known and fixed in that counsel of God does not rob them of their own character but rather establishes and guarantees them all, each in its own kind and nature and in its own context and circumstances. Included in that counsel of God are sin and punishment, but also freedom and responsibility, sense of duty and conscience, and law and justice. In that counsel of God everything that happens is in the very same context it is in when it becomes manifest before our eyes. The conditions are defined in it quite as well as the consequences, the means quite as much as the ends, the ways as the results, the prayers as the answers to prayer, the faith as the justification, sanctification, and glorification.” [= Fakta bahwa hal-hal dan peristiwa-peristiwa, termasuk pikiran-pikiran dan tindakan-tindakan berdosa dari manusia, telah diketahui dan ditetapkan secara kekal dalam rencana Allah itu tidak menghapuskan karakter mereka sendiri tetapi sebaliknya meneguhkannya dan menjamin semuanya, masing-masing dalam jenisnya dan sifatnya sendiri dan dalam kontex dan keadaannya sendiri. Termasuk dalam rencana Allah itu dosa dan penghukuman, tetapi juga kebebasan dan tanggung jawab, perasaan kewajiban dan hati nurani, dan hukum dan keadilan. Dalam rencana Allah itu segala sesuatu yang terjadi ada dalam kontex yang sama seperti pada waktu itu terwujud di depan mata kita. Dalam rencana Allah itu syarat-syarat dinyatakan / ditentukan sama seperti akibat-akibat / konsekwensi-konsekwensi, caranya maupun tujuannya, jalannya maupun hasilnya, doa-doanya maupun jawaban-jawaban doanya, imannya maupun pembenaran, pengudusan dan pemuliaannya.] - ‘Our Reasonable Faith’, hal 163.

 

=====================================================

 

John Murray:

 

John Murray: “It is true that all our choices and acts are foreordained, and only foreordained acts come to pass.” [= Adalah benar bahwa semua pilihan-pilihan dan tindakan-tindakan kita ditentukan lebih dulu, dan hanya tindakan-tindakan yang ditentukan lebih dulu yang akan terjadi.] - ‘Collected Writings of John Murray’, vol II, hal 64.

 

John Murray: “The foreknowledge of God presupposes certainty of occurrence; his foreordination renders all occurrence certain; by his providence what is foreordained is unalterably put into effect.” [= Pengetahuan lebih dulu dari Allah mensyaratkan adanya kepastian dari kejadian / peristiwa; penentuan lebih duluNya membuat semua kejadian / peristiwa itu pasti; oleh providensiaNya apa yang ditentukan lebih dulu itu dilaksanakan secara tidak mungkin berubah.] - ‘Collected Writings of John Murray’, vol II, hal 65-66.

 

John Murray: “The question here is that of the divine causality in connection with sin. ... There is divine predetermination or foreordination in connection with sin. The fall was foreordained by God and its certainty was therefore guaranteed. ... The first sin, like all other sins, was committed within the realm of God’s all-sustaining, directing and governing power. Outside the sphere of his foreordination and providence the fall could not have occurred. The arch-crime of history - the crucifixion of our Lord - was perpetrated in accordance with the determinate counsel and foreknowledge of God (Acts 2:23). So, too, was the fall.” [= Yang dipertanyakan / dipersoalkan di sini adalah tentang penyebab ilahi dalam hubungannya dengan dosa. ... Ada penetapan lebih dulu atau penentuan lebih dulu berkenaan dengan dosa. Kejatuhan (Adam) ditentukan lebih dulu oleh Allah dan karena itu kepastiannya dijamin. ... Dosa pertama, seperti semua dosa yang lain, dilakukan dalam batas-batas kuasa Allah yang menopang, mengarahkan dan memerintah segala sesuatu. Di luar ruang lingkup penentuan lebih dulu dan providensiaNya kejatuhan itu tidak akan bisa terjadi. Kejahatan terbesar dalam sejarah - penyaliban Tuhan kita - dilaksanakan sesuai dengan rencana yang sudah ditentukan dan pengetahuan lebih dulu dari Allah (Kis 2:23). Demikian juga dengan kejatuhan (Adam).] - ‘Collected Writings of John Murray’, vol II, hal 72-73.

 

=====================================================

 

Gresham Machen:

 

Gresham Machen: “How much is embraced in that eternal counsel of God? The true answer to that question is very simple. The true answer is ‘Everything’. Everything that happens is embraced in the eternal purpose of God; nothing at all happens outside of His eternal plan. It is obvious that nothing is too great for God. ... He made all and He rules all, and all is embraced in His eternal purpose. It is equally clear that nothing is too small for God. ... No, nothing is too trivial to form a part of God’s eternal plan. That plan embraces the small as well as the great.” [= Berapa banyak yang dicakup dalam rencana kekal Allah itu? Jawaban yang benar terhadap pertanyaan itu sangat sederhana. Jawaban yang benar adalah ‘Segala sesuatu’. Segala sesuatu yang terjadi tercakup dalam rencana kekal Allah; sama sekali tidak ada yang terjadi di luar rencana kekalNya. Adalah jelas bahwa tak ada apapun yang terlalu besar bagi Allah. ... Ia membuat / mencipta semua dan Ia memerintah semua, dan semua tercakup dalam rencana kekalNya. Adalah sama jelasnya bahwa tak ada apapun yang terlalu kecil bagi Allah. ... Tidak, tak ada apapun yang terlalu remeh untuk membentuk sebagian dari rencana kekal Allah. Rencana itu mencakup yang kecil maupun yang besar.] - ‘The Christian View of Man’, hal 35.

 

Gresham Machen: “If wicked actions of wicked men have a place in God’s plan, if they are foreordained of God, then is man responsible for them, and is not God the author of sin? ... Yes, man is responsible for his wicked actions; and No, God is not the author of sin.” [= Jika tindakan-tindakan jahat dari orang-orang jahat mempunyai suatu tempat dalam rencana Allah, jika mereka ditentukan lebih dulu oleh Allah, maka apakah manusia bertanggung-jawab untuk mereka, dan bukankah Allah adalah Pencipta dosa? ... Ya, manusia bertanggung-jawab untuk tindakan-tindakan jahatnya; dan Tidak, Allah bukan Pencipta dosa.] - ‘The Christian View of Man’, hal 43.

 

=====================================================

 

Arthur Pink:

 

Arthur Pink: “To declare that the Creator’s original plan has been frustrated by sin, is to dethrone God. To suggest that God was taken by surprise in Eden and that He is now attempting to remedy an unforeseen calamity, is to degrade the Most High to the level of a finite, erring mortal.” [= Menyatakan bahwa rencana orisinil dari sang Pencipta telah digagalkan oleh dosa, sama dengan menurunkan Allah dari tahta. Mengusulkan bahwa Allah dikejutkan di Eden dan bahwa Ia sekarang sedang mencoba mengobati bencana yang tadinya tidak terlihat, sama dengan merendahkan Yang Maha Tinggi sampai pada tingkat manusia yang terbatas dan bisa salah.] - ‘The Sovereignty of God’, hal 21-22.

 

Arthur Pink: “It was no accident that the Lord of Glory was crucified between two thieves. There are no accidents in a world that is governed by God. Much less could there have been any accident on that Day of all days, or in connection with that Event of all events - a Day and an Event which lie at the very centre of the world’s history. No; God was presiding over that scene. From all eternity He had decreed when and where and how and with whom His Son should die. Nothing was left to chance or the caprice of man. All that God had decreed came to pass exactly as He had ordained, and nothing happened save as He had eternally purposed. Whatsoever man did was simply that which God’s hand and counsel ‘determined to be done’ (Acts 4:28). When Pilate gave orders that the Lord Jesus should be crucified between the two malefactors, all unknown to himself, he was but putting into execu­tion the eternal decree of God and fulfilling His prophetic word. Seven hundred years before this Roman officer gave command, God had declared through Isaiah that His Son should be ‘numbered with the transgressors’ (Isa 53:12). ... Not a single word of God can fall to the ground. ‘Forever, O Lord, Thy word is settled in heaven’ (Psa. 119:89). Just as God had or­dained, and just as He had announced, so it came to pass.” [= Bukanlah suatu kebetulan bahwa Tuhan Kemuliaan disalibkan di antara 2 pencuri. Tidak ada kebetulan dalam suatu dunia yang diperintah oleh Allah. Lebih-lebih lagi tidak ada kebetulan pada Hari dari segala hari itu, atau berhubungan dengan Peristiwa dari segala peristiwa itu - suatu Hari dan suatu Peristiwa yang terletak di pusat sejarah dunia. Tidak; Allah mengontrol adegan / peristiwa itu. Dari kekekalan Allah telah menentukan kapan dan dimana dan bagaimana dan dengan siapa AnakNya harus mati. Tidak ada yang terjadi karena kebetulan atau karena perubahan pikiran manusia. Semua yang telah Allah tetapkan terjadi persis seperti yang telah Ia tentukan, dan tidak ada apapun yang terjadi kecuali yang sudah Ia rencanakan secara kekal. Apapun yang manusia lakukan hanyalah apa yang kuasa / tangan dan rencana / kehendak Allah ‘tentukan untuk terjadi / dilakukan’ (Kis 4:28). Ketika Pilatus memberikan perintah supaya Tuhan Yesus disalibkan di antara 2 kriminil, tanpa ia sendiri ketahui, ia sedang melaksanakan ketetapan kekal dari Allah dan menggenapi firman nubuatanNya. Tujuh ratus tahun sebelum pejabat Romawi ini memberikan perintah, Allah telah menyatakan melalui nabi Yesaya bahwa AnakNya harus ‘diperhitungkan sebagai pemberontak / pelanggar’ (Yes 53:12). ... Tidak satupun dari firman Allah bisa jatuh ke tanah / gagal. ‘Untuk selama-lamanya, ya TUHAN, firmanMu ditetapkan di surga’ (Maz 119:89 - diterjemahkan dari KJV). Persis seperti yang Allah telah tentukan, dan persis seperti yang Ia beritakan / umumkan, begitulah itu terjadi.] - ‘The Seven Sayings of the Saviour on the Cross’, hal 24-25.

 

=====================================================

 

J. I. Packer:

 

J. I. Packer: “For it is not true that some Christians believe in divine sovereignty while others hold an opposite view. What is true is that all Christians believe in divine sovereignty, but some are not aware that they do, and mistakenly imagine and insist that they reject it.” [= Karena tidak benar bahwa sebagian orang kristen percaya pada kedaulatan ilahi sedangkan yang lain memegang pandangan yang sebaliknya. Yang benar adalah bahwa semua orang kristen percaya pada kedaulatan ilahi, tetapi sebagian tidak menyadari hal itu, dan secara salah membayangkan dan berkeras bahwa mereka menolaknya.] - hal 16.

 

J. I. Packer: “God’s sovereignty and man’s responsibility are taught us side by side in the same Bible; sometimes, indeed, in the same text. Both are thus guaranteed to us by the same divine authority; both, therefore, are true. It follows that they must be held together, and not played off against each other. Man is a responsible moral agent, though he is also divinely controlled; man is divinely controlled, though he is also a responsible moral agent.” [= Kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia diajarkan bersama-sama dalam Alkitab yang sama; kadang-kadang bahkan dalam text yang sama. Jadi keduanya dijamin bagi kita oleh otoritas ilahi yang sama; karena itu keduanya adalah benar. Sebagai akibatnya / karena itu mereka harus dipegang / dipercayai bersama-sama, dan bukannya dipertentangkan satu sama lain. Manusia adalah seorang agen moral yang bertanggung jawab, sekalipun ia juga dikontrol oleh Allah; manusia dikontrol oleh Allah, sekalipun ia juga adalah seorang agen moral yang bertanggung jawab.] - hal 22-23.

 

J. I. Packer: “In the Bible, divine sovereignty and human responsibility are not enemies. They are not uneasy neighbours; they are not in an endless state of cold war with each other. They are friends, and they work together.” [= Dalam Alkitab, kedaulatan ilahi dan tanggung jawab manusia bukanlah musuh-musuh. Mereka bukanlah tetangga yang tidak cocok; mereka tidak ada dalam suatu keadaan perang dingin yang tidak ada akhirnya satu dengan yang lain. Mereka adalah sahabat-sahabat, dan mereka bekerja bersama-sama.] - hal 35-36.

 

=====================================================

 

Jerome Zanchius:

 

Jerome Zanchius: “We assert that God did from eternity decree to make man in His own image, and also decreed to suffer him to fall from that image in which he should be created, and thereby to forfeit the happiness with which he was invested, which decree and consequences of it were not limited to Adam only, but included and extended to all his natural posterity.” [= Kami menegaskan bahwa Allah dari kekekalan menetapkan untuk membuat manusia menurut gambarNya, dan juga menetapkan untuk membiarkannya jatuh dari gambar itu di dalam mana ia diciptakan, dan dengan demikian kehilangan kebahagiaan dengan mana ia dilingkupi / diperlengkapi, dan ketetapan dan konsekwensi tentang hal itu tidak dibatasi pada Adam saja, tetapi mencakup dan mencapai semua keturunan alamiah / jasmaninya.] - ‘The Doctrine of Absolute Predestination’, hal 87-88.

 

Jerome Zanchius: “That he fell in consequence of the Divine decree we prove thus: God was either willing that Adam should fall, or unwilling, or indifferent about it. If God was unwilling that Adam should transgress, how came it to pass that he did? ... Surely, If God had not willed the fall, He could, and no doubt would, have prevented it; but He did not prevent it: ergo, He willed it. And if he willed it, He certainly decreed it, for the decree of God is nothing else but the seal and ratification of His will. He does nothing but what He decreed, and He decreed nothing which He did not will, and both will and decree are absolutely eter­nal, though the execution of both be in time. The only way to evade the force of this reasoning is to say that ‘God was indifferent and unconcerned whether man stood or fell’. But in what a shameful, unwor­thy light does this represent the Deity! Is it possible for us to imagine that God could be an idle, careless spectator of one of the most important events that ever came to pass? Are not ‘the very hairs of our head are numbered’? Or does ‘a sparrow fall to the ground without our heavenly Father’? If, then, things the most trivial and worthless are subject to the appointment of His decree and the control of His providence, how much more is man, the masterpiece of this lower creation?” [= Bahwa ia jatuh sebagai akibat dari ketetapan ilahi kami buktikan demikian: Allah itu atau menghendaki Adam jatuh, atau tidak menghendaki, atau acuh tak acuh / tak peduli tentang hal itu. Jika Allah tidak menghendaki Adam melanggar, bagaimana mungkin ia melanggar? ... Tentu saja, jika Allah tidak menghendaki kejatuhan itu, Ia bisa, dan tidak diragukan Ia akan, telah mencegahnya; tetapi Ia tidak mencegahnya: jadi, Ia menghendakinya. Dan jika Ia menghendakinya, Ia pasti menetapkannya, karena ketetapan Allah tidak lain adalah meterai dan pengesahan dari kehendakNya. Ia tidak melakukan apapun kecuali apa yang telah Ia tetapkan, dan Ia tidak menetapkan apapun yang tidak Ia kehendaki, dan baik kehendak maupun ketetapan adalah kekal secara mutlak, sekalipun pelaksanaan keduanya ada dalam waktu. Satu-satunya cara untuk menghindarkan kekuatan dari pemikiran ini adalah dengan mengatakan bahwa ‘Allah bersikap acuh tak acuh dan tidak peduli apakah manusia itu jatuh atau tetap berdiri’. Tetapi alangkah memalukan dan tak berharganya terang seperti ini dalam menggambarkan Allah! Mungkinkah bagi kita untuk membayangkan bahwa Allah bisa menjadi penonton yang malas dan tak peduli terhadap salah satu peristiwa yang terpenting yang akan terjadi? Bukankah ‘rambut kepala kita dihitung’? Atau apakah ‘seekor burung pipit jatuh ke tanah tanpa Bapa surgawi kita’? Jika hal-hal yang paling remeh dan tak berharga tunduk pada penentuan ketetapanNya dan pada kontrol dari providensiaNya, betapa lebih lagi manusia, karya terbesar dari ciptaan yang lebih rendah ini?] - ‘The Doctrine of Absolute Predestination’, hal 88-89.

 

Catatan: Jerome Zanchius sebetulnya tidak bisa disebut sebagai seorang Calvinist / Reformed, karena ia hidup sejaman dengan Calvin, yaitu tahun 1516-1590, tetapi dalam persoalan ini jelas bahwa pandangannya adalah pandangan Calvinisme.

 

=====================================================

 

William Hendriksen:

 

William Hendriksen (tentang Yoh 13:19): “He knows that the treachery of Judas will have a tendency to upset the disciples and to undermine their faith. They might even begin to think of their Master as having become the victim of the plotting of that very shrewd fellow, Judas. This will happen unless the Lord is able to convince them that whatever befalls him, far from taking him by surprise, was included in God’s eternal and all-comprehensive plan.” [= Ia tahu bahwa pengkhianatan Yudas akan mempunyai kecenderungan untuk menyedihkan / membingungkan murid-murid dan meruntuhkan iman mereka. Bahkan mereka mungkin mulai berpikir bahwa Guru mereka telah menjadi korban dari persekongkolan dari orang yang sangat licik itu, yaitu Yudas. Hal ini akan terjadi kecuali Tuhan bisa meyakinkan mereka bahwa apapun yang menimpaNya, sama sekali tidak mengejutkanNya, tetapi sudah termasuk dalam rencana yang kekal dan mencakup segala sesuatu dari Allah.] - hal 239.

 

William Hendriksen (tentang Yoh 13:27): “Thus tersely Jesus dismissed Judas, and at the same time revealed that he, as the Lord of all, was complete Master of the situation. All the details of his passion, including the time-schedule, were in his own hands, not in the hands of the traitor. In the plan of God it had been decided that the Son of God would make himself an offering for sin by his death on the cross, and that this would happen on Friday, the fifteenth of Nisan. That was not the moment which had been selected by the Sanhedrin or by Judas. Hence, Judas must work faster. And Judas does work faster, probably because he now knew (Matt. 26:25) that he had been ‘discovered.’ He was probably afraid lest the whole plot fail if he did not act quickly.” [= Demikianlah dengan pendek dan cepat Yesus membubarkan / menghilangkan Yudas, dan pada saat yang sama menyatakan bahwa Ia, sebagai Tuhan dari semua, berkuasa sepenuhnya atas situasi saat itu. Semua hal-hal terperinci dari penderitaanNya, termasuk jadwal waktunya, ada dalam tanganNya, bukan dalam tangan si pengkhianat. Dalam rencana Allah telah diputuskan bahwa Anak Allah akan menjadikan diriNya sendiri korban untuk dosa melalui kematianNya pada kayu salib, dan bahwa hal ini akan terjadi pada Jum’at, tanggal ke 15 dari bulan Nisan. Itu bukanlah waktu yang telah dipilih oleh Sanhedrin atau oleh Yudas. Jadi, Yudas harus bekerja lebih cepat. Dan Yudas memang bekerja lebih cepat, mungkin karena sekarang ia tahu (Mat 26:25) bahwa ia telah ‘ditemukan / diketahui’. Mungkin ia takut kalau-kalau seluruh rencananya gagal jika ia tidak bertindak dengan cepat.] - hal 247-248.

 

William Hendriksen (tentang Yoh 13:31): “God’s eternal decree is absolutely unchangeable and is sure to be realized.” [= Ketetapan kekal Allah secara mutlak tidak bisa berubah dan pasti akan terwujud.] - ‘The Gospel of John’, hal 250.

 

William Hendriksen (tentang Yoh 21:18-19): “whatever happens in our lives has been wisely ordained by the Lord, just as the very manner of Peter’s glorious death had been foreseen and predicted.” [= apapun yang terjadi dalam kehidupan kita telah ditentukan secara bijaksana oleh Tuhan, sama seperti cara kematian Petrus yang mulia telah dilihat lebih dulu dan diramalkan.] - ‘The Gospel of John’, hal 475.

 

William Hendriksen (tentang Yoh 21:22): “Peter must not be so deeply interested in God’s secret counsel (regarding John) that he fails to pay attention to God’s revealed will! It is a lesson which every believer in every age should take to heart.” [= Petrus tidak boleh begitu dalam berminat dalam rencana rahasia Allah (berkenaan dengan Yohanes) sehingga ia gagal untuk memperhatikan kehendak Allah yang dinyatakan! Ini merupakan suatu pelajaran yang harus diperhatikan oleh setiap orang percaya dalam setiap jaman.] - ‘The Gospel of John’, hal 491.

 

=====================================================

 

R. C. Sproul:

 

R. C. Sproul: I began the class by reading the opening lines from Chapter III of the Westminster Confession: ‘God, from all eternity, did, by the most wise and holy counsel of His own will, freely, and unchangeably ordain whatsoever comes to pass.’ I stopped reading at that point. I asked, ‘Is there anyone in this room who does not believe the words that I just read?’ A multitude of hands went up. I then asked, ‘Are there any convinced atheists in the room?’ No hands were raised. I then said something outrageous: ‘Everyone who raised his hand to the first question should also have raised his hand to the second question.’ A chorus of groans and protests met my statement. How could I accuse someone of atheism for not believing that God foreordains whatever comes to pass? Those who protested these words were not denying the existence of God. They were not protesting against Christianity. They were protesting against Calvinism. I tried to explain to the class that the idea that God foreordains whatever comes to pass is not an idea unique to Calvinism. It isn’t even unique to Christianity. It is simply a tenet of theism - a necessary tenet of theism. [= Saya memulai kelas dengan membaca baris-baris pembukaan dari Pasal III dari Westminster Confession of Faith / Pengakuan Iman Westminster: ‘Allah, dari kekekalan, memang, oleh rencana yang paling bijaksana dan kudus dari kehendakNya sendiri, secara bebas, dan secara tak bisa berubah, menentukan apapun yang akan terjadi’. Saya berhenti membaca pada titik itu. Saya bertanya, ‘Adakah siapapun dalam ruangan ini yang tidak percaya kata-kata yang baru saya baca?’ Banyak tangan diangkat. Lalu saya bertanya, ‘Adakah atheis yang sepenuhnya yakin dalam ruangan ini?’ Tak ada tangan yang diangkat. Lalu saya mengatakan sesuatu yang sangat menggemparkan / kasar: ‘Setiap orang yang mengangkat tangannya pada pertanyaan pertama harus juga mengangkat tangannya pada pertanyaan kedua’. Suatu koor suara yang tak setuju dan protes menentang pernyataan saya. Bagaimana saya bisa menuduh seseorang tentang atheisme karena tidak percaya bahwa Allah menentukan apapun yang terjadi? Mereka yang memprotes kata-kata ini bukan sedang menyangkal keberadaan Allah. Mereka bukan sedang memprotes terhadap kekristenan. Mereka sedang memprotes terhadap Calvinisme. Saya mencoba untuk menjelaskan terhadap kelas itu bahwa gagasan bahwa Allah menentukan lebih dulu apapun yang terjadi, bukanlah suatu gagasan yang unik bagi Calvinisme. Itu bahkan tidak / bukan unik bagi kekristenan. Itu merupakan suatu doktrin dari theisme / kepercayaan terhadap Allah - suatu doktrin yang perlu dari theisme.] - ‘Chosen By God’, hal 25-26.

 

R. C. Sproul: “That God in some sense foreordains whatever comes to pass is a necessary result of his sovereignty. In itself it does not plead for Calvinism. It only declares that God is absolutely sovereign over his creation. God can foreordain things in different ways. But everything that happens must at least happen by his permission. If he permits something, then he must decide to allow it. If He decides to allow something, then is a sense he is foreordaining it. Who, among Christians, would argue that God could not stop something in this world from happening? If God so desires, he has the power to stop the whole world. To say that God foreordains all that comes to pass is simply to say that God is sovereign over his entire creation. If something could come to pass apart from his sovereign permission, then that which came to pass would frustrate his sovereignty. If God refused to permit something to happen and it happened anyway, then whatever caused it to happen would have more authority and power than God himself. If there is any part of creation outside of God’s sovereignty, then God is simply not sovereign. If God is not sovereign, then God is not God. ... Without sovereignty God cannot be God. If we reject divine sovereignty then we must embrace atheism. ... We must hold tightly to God’s sovereignty. Yet we must do it in such a way so as not to violate human freedom. [= Bahwa Allah dalam arti tertentu menentukan apapun yang akan terjadi merupakan akibat yang harus ada dari kedaulatanNya. Dalam dirinya sendiri itu tidak berargumentasi untuk Calvinisme. Itu hanya menyatakan bahwa Allah itu berdaulat secara mutlak atas ciptaanNya. Allah bisa menentukan lebih dulu hal-hal dengan cara-cara yang berbeda. Tetapi segala sesuatu yang terjadi setidaknya harus terjadi karena ijinNya. Jika Ia mengijinkan sesuatu, maka Ia pasti memutuskan untuk mengijinkannya. Jika Ia memutuskan untuk mengijinkan sesuatu, maka dalam arti tertentu Ia menentukannya. Siapa, di antara orang-orang Kristen, mau membantah bahwa Allah tidak bisa menghentikan sesuatu dalam dunia ini untuk terjadi? Jika Allah menghendaki demikian, Ia mempunyai kuasa untuk menghentikan seluruh dunia. Mengatakan bahwa Allah menentukan segala sesuatu yang akan terjadi adalah sama dengan mengatakan bahwa Allah itu berdaulat atas segala ciptaanNya. Jika ada sesuatu yang bisa terjadi di luar ijinNya yang berdaulat, maka apa yang terjadi itu menghalangi kedaulatanNya. Jika Allah menolak untuk mengijinkan sesuatu dan hal itu tetap terjadi, maka apapun yang menyebabkan hal itu terjadi mempunyai otoritas dan kuasa yang lebih besar dari Allah sendiri. Jika ada bagian dari ciptaan berada di luar kedaulatan Allah, maka Allah itu tidak berdaulat. Jika Allah tidak berdaulat, maka Allah itu bukanlah Allah. ... Tanpa kedaulatan Allah tidak bisa menjadi / adalah Allah. Jika kita menolak kedaulatan ilahi, maka kita harus mempercayai atheisme. ... Kita harus berpegang / percaya dengan teguh pada kedaulatan Allah. Tetapi kita harus melakukannya dengan suatu cara sedemikian rupa sehingga tidak melanggar kebebasan manusia.] - ‘Chosen By God’, hal 26-27.

 

R. C. Sproul: Then, as now, I realized that evil was a problem for the sovereignty of God. Did evil come into the world against God’s sovereign will? If so, then he is not absolutely sovereign. If not, then we must conclude that in some sense even evil is foreordained by God. [= Pada saat itu, seperti sekarang, saya menyadari bahwa kejahatan adalah suatu problem untuk kedaulatan Allah. Apakah kejahatan masuk ke dalam dunia menentang kehendak yang berdaulat dari Allah? Jika demikian, maka Ia tidak berdaulat secara mutlak. Jika tidak, maka kita harus menyimpulkan bahwa dalam arti tertentu bahkan kejahatan ditentukan lebih dulu oleh Allah.] - ‘Chosen By God’, hal 29.

 

R. C. Sproul: In spite of this excruciating problem we still must affirm that God is not the author of sin. The Bible does not reveal the answers to all our questions. It does reveal the nature and character of God. One thing is absolutely unthinkable, that God could be the author or doer of sin. But this chapter is about God’s sovereignty. We are still left with the question that, given the fact of human sin, how does it relate to God’s sovereignty? If it is true that in some sense God foreordains everything that comes to pass, then it follows with no doubt that God must have foreordained the entrance of sin into the world. That is not to say that God forced it to happen or that he imposed evil upon his creation. All that means is that God must have decided to allow it to happen. If he did not allow it to happen, then it could not have happened, or else he is not sovereign. We know that God is sovereign because we know that God is God. Therefore we must conclude that God foreordained sin. [= Sekalipun ada problem yang sangat hebat ini kita tetap harus menegaskan bahwa Allah bukan Pencipta dosa. Alkitab tidak menyatakan jawaban-jawaban terhadap semua pertanyaan-pertanyaan kita. Tetapi Alkitab memang menyatakan sifat dasar dan karakter dari Allah. Satu hal yang secara mutlak tak bisa dipikirkan, bahwa Allah bisa adalah Pencipta atau Pelaku dari dosa. Tetapi pasal ini adalah tentang kedaulatan Allah. Kita tetap ditinggalkan dengan pertanyaan bahwa, dengan adanya fakta tentang dosa manusia, bagaimana hubungan hal itu dengan kedaulatan Allah? Jika adalah benar bahwa dalam arti tertentu Allah menentukan lebih dulu segala sesuatu yang akan terjadi, maka akibatnya tak ada keraguan bahwa Allah harus telah menentukan lebih dulu masuknya dosa ke dalam dunia. Itu tidak berarti bahwa Allah memaksakannya untuk terjadi atau bahwa Ia memaksakan kejahatan kepada ciptaanNya. Semua itu berarti bahwa Allah pasti / harus telah memutuskan untuk mengijinkannya untuk terjadi. Jika Ia tidak mengijinkan itu untuk terjadi, maka itu tidak bisa telah terjadi, atau Ia tidak berdaulat. Kita tahu bahwa Allah itu berdaulat karena kita tahu bahwa Allah adalah Allah. Karena itu kita harus menyimpulkan bahwa Allah menentukan lebih dulu dosa.] - ‘Chosen By God’, hal 31.

 

R. C. Sproul: The fact that God decided to allow us to sin does not absolve us from our responsibility for sin. [= Fakta bahwa Allah memutuskan untuk mengijinkan kita untuk berbuat dosa tidak membebaskan kita dari tanggung jawab kita untuk dosa.] - ‘Chosen By God’, hal 32.

 

=====================================================

 

C. H. Spurgeon:

 

C. H. Spurgeon: We are Calvinistic Baptists, [= Kami adalah orang-orang Baptis yang Calvinistik,] - ‘The Metropolitan Tabernacle’, hal 4 (AGES).

 

C. H. Spurgeon: “All events are under the control of Providence; consequently all the trials of our outward life are traceable at once to the great First Cause.” [= Semua peristiwa ada di bawah kontrol dari Providensia; dan karenanya semua pencobaan dari kehidupan luar / lahiriah kita bisa langsung diikuti jejaknya sampai kepada sang Penyebab Pertama yang agung.] - ‘Morning and Evening’, September 3, evening.

 

C. H. Spurgeon: “Let the providence of God do what it may, your business is to do what you can.” [= Biarlah providensia Allah melakukan apapun, urusanmu adalah melakukan apa yang kamu bisa.] - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 7, hal 43.

 

C. H. Spurgeon (tentang Luk 22:60-61): “God has all things in his hands, he has servants everywhere, and the cock shall crow, by the secret movement of his providence, just when God wills; and there is, perhaps, as much of divine ordination about the crowing of a cock as about the ascending of an emperor to his throne. Things are only little and great according to their bearings; and God reckoned not the crowing bird to be a small thing, since it was to bring a wanderer back to his Saviour, for, just as the cock crew, ‘The Lord turned, and looked upon Peter.’ That was a different look from the one which the girl had given him, but that look broke his heart.” [= Allah mempunyai / memegang segala sesuatu di tanganNya, Ia mempunyai pelayan di mana-mana, dan ayam akan berkokok, oleh gerakan / dorongan rahasia dari providensiaNya, persis pada saat Allah menghendakinya; dan di sana mungkin ada pengaturan / penentuan ilahi yang sama banyaknya tentang berkokoknya seekor ayam seperti tentang naiknya seorang kaisar ke tahtanya. Hal-hal hanya kecil dan besar menurut hubungannya / sangkut pautnya / apa yang diakibatkannya; dan Allah tidak menganggap berkokoknya burung / ayam sebagai hal yang kecil, karena itu akan membawa orang yang menyimpang kembali kepada Juruselamatnya, karena, persis pada saat ayam itu berkokok, ‘berpalinglah Tuhan memandang Petrus’. Ini adalah pandangan yang berbeda dengan pandangan yang tadi telah diberikan seorang perempuan kepadanya (Luk 22:56), tetapi pandangan itu menghancurkan hatinya.] - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 12, hal 20.

 

C. H. Spurgeon (tentang Rut 2:3): “Her hap was. Yes, it seemed nothing but an accidental happenstance, but how divinely was it planned! Ruth had gone forth with her mother’s blessing under the care of her mother’s God to humble but honorable toil, and the providence of God was guiding her every step. Little did she know that amid the sheaves she would find a husband, that he would make her the joint owner of all those broad acres, and that she, a poor foreigner, would become one of the progenitors of the great Messiah. ... Chance is banished from the faith of Christians, for they see the hand of God in everything. The trivial events of today or tomorrow may involve consequences of the highest importance.” [= ‘Kebetulan ia berada’. Ya, itu kelihatannya bukan lain dari pada suatu kejadian yang bersifat kebetulan, tetapi hal itu direncanakan secara ilahi! Rut telah pergi dengan berkat dari ibunya di bawah perhatian dari Allah ibunya kepada pekerjaan yang rendah tetapi terhormat, dan providensia Allah membimbing setiap langkahnya. Sedikitpun ia tidak menyangka bahwa di antara berkas-berkas jelai itu ia akan menemukan seorang suami, bahwa ia akan membuatnya menjadi pemilik dari seluruh tanah yang luas itu, dan bahwa ia, seorang asing yang miskin, akan menjadi salah seorang nenek moyang dari Mesias yang agung. ... Kebetulan dibuang dari iman orang-orang Kristen, karena mereka melihat bahwa tangan Allah ada dalam segala sesuatu. Peristiwa-peristiwa remeh dari hari ini atau besok bisa melibatkan konsekwensi-konsekwensi yang paling penting.] - ‘Morning and Evening’, October 25, evening.

 

C. H. Spurgeon: “man, acting according to the device of his own heart, is nevertheless overruled by that sovereign and wise legislation ... How these two things are true I cannot tell. ... I am not sure that in heaven we shall be able to know where the free agency of man and the sovereignty of God meet, but both are great truths. God has predestinated everything yet man is responsible, for he acts freely, and no constraint is put upon him even when he sinneth and disobeyeth wantonly and wickedly the will of God.” [= manusia, bertindak sesuka hatinya, bagaimanapun dikalahkan / dikuasai oleh pemerintahan yang berdaulat dan bijaksana ... Bagaimana dua hal ini bisa benar saya tidak bisa mengatakan. ... Saya tidak yakin bahwa di surga kita akan bisa mengetahui dimana tindakan bebas manusia dan kedaulatan Allah bertemu, tetapi keduanya adalah kebenaran yang besar. Allah telah mempredestinasikan segala sesuatu tetapi manusia bertanggung jawab, karena ia bertindak secara bebas, dan tak ada paksaan diberikan kepadanya bahkan pada waktu ia berbuat dosa dan tidak mentaati kehendak Allah secara memberontak dan secara jahat.] - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 7, hal 10.

 

C. H. Spurgeon (tentang tentara yang tidak mematahkan kaki Kristus tetapi menusukNya dengan tombak - Yoh 19:33-34):

“They acted of their own free will, and yet at the same time they fulfilled the eternal counsel of God. Shall we never be able to drive into men’s mind the truth that predestination and free agency are both facts? Men sin as freely as birds fly in the air, and they are altogether responsible for their sin; and yet everything is ordained and foreseen of God. The foreordination of God in no degree interferes with the responsibility of man. I have often been asked by persons to reconcile the two truths. My only reply is - They need no reconciliation, for they never fell out. Why should I try to reconcile two friends? Prove to me that the two truths do not agree. In that request I have set you a task as difficult as that which you propose to me. These two facts are parallel lines; I cannot make them unite, but you cannot make them cross each other.” [= Mereka bertindak dengan kehendak bebas mereka, tetapi pada saat yang sama mereka menggenapi rencana yang kekal dari Allah. Apakah kita tidak akan pernah bisa menancapkan ke dalam pikiran manusia kebenaran bahwa predestinasi dan kebebasan agen / manusia dua-duanya merupakan fakta? Manusia berbuat dosa sebebas burung-burung yang terbang di udara, dan mereka semuanya bertanggung jawab untuk dosa mereka; tetapi segala sesuatu ditetapkan dan dilihat lebih dulu oleh Allah. Penetapan lebih dulu dari Allah sama sekali tidak mengganggu tanggung jawab manusia. Saya sering ditanya oleh orang-orang untuk mendamaikan dua kebenaran ini. Jawaban saya hanyalah - Mereka tidak membutuhkan pendamaian, karena mereka tidak pernah bertengkar. Mengapa saya harus mendamaikan 2 orang sahabat? Buktikan kepada saya bahwa dua kebenaran itu tidak setuju / cocok. Dalam permintaan itu saya telah memberimu suatu tugas yang sama sukarnya seperti yang kaukemukakan kepada saya. Kedua fakta ini adalah garis-garis yang paralel; saya tidak bisa membuat mereka bersatu, tetapi engkau tidak bisa membuat mereka bersilangan.] - ‘A Treasury of Spurgeon on The Life and Work of Our Lord, vol VI - The Passion and Death of Our Lord’,  hal 670-671.

 

C. H. Spurgeon (tentang Luk 22:22): “The decree of God does not lessen the responsibility of man for his action. Even though it is predetermined of God, the man does it of his own free will, and on him falls the full guilt of it.” [= Ketetapan Allah tidak mengurangi tanggung jawab manusia untuk tindakannya. Sekalipun hal itu sudah ditentukan lebih dulu oleh Allah, manusia melakukannya dengan kehendak bebasnya sendiri, dan pada dialah jatuh kesalahan sepenuhnya.] - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 12, hal 18.

 

=====================================================

 

G. C. Berkouwer:

 

G. C. Berkouwer:the traditional confession of the Church, the confession of God’s Providence over all things. This total and universal aspect of the Church’s confession renders it unacceptable to many as too simple an answer to the urgency of our times. Can all this, all this that fills men’s hearts, fall within the circle of a Divine Providence? Can man with honesty and clear conscience still believe it? It seems as though this confession - God’s rule over all things, more than other confessions - were thrown into the crucible of the times. This does not mean that in fairer days the Providence of God was never doubted or denied. Even in eras of peace and quiet, when man still had confidence in the inevitable gradual improvement of life, there were burning questions to disturb the honest mind. The lot of man in sickness, suffering, and death has always raised questions about God’s Providence. But the question forces itself far more directly and disturbingly upon us in times of all-embracing crisis, in times when nihilism has become a fad. [= pengakuan tradisionil dari Gereja, pengakuan tentang Providensia Allah atas segala sesuatu. Aspek total dan universal dari pengakuan Gereja menyebabkannya menjadi tidak bisa diterima bagi banyak orang sebagai suatu jawaban yang terlalu sederhana terhadap keadaan mendesak dari jaman kita. Bisakah semua ini, semua ini yang memenuhi hati manusia, jatuh di dalam lingkaran dari suatu Providensia Ilahi? Bisakah manusia dengan kejujuran dan hati nurani yang bersih tetap mempercayainya? Kelihatannya seakan-akan pengakuan ini - pemerintahan Allah atas segala sesuatu, lebih dari pengakuan-pengakuan yang lain - dilemparkan ke dalam suatu jaman / masa yang sukar. Ini tidak berarti bahwa dalam hari-hari yang lebih baik / menyenangkan Providensia Allah tidak pernah diragukan atau disangkal. Bahkan pada masa damai dan tenang, pada waktu manusia tetap mempunyai keyakinan pada kemajuan bertahap yang tak terhindarkan dari kehidupan, di sana ada pertanyaan-pertanyaan yang mendesak untuk mengganggu pikiran yang jujur. Nasib manusia dalam penyakit, penderitaan, dan kematian telah selalu menimbulkan pertanyaan-pertanyaan tentang Providensia Allah. Tetapi pertanyaan itu menekankan / mendesakkan dirinya sendiri dengan jauh lebih langsung dan mengganggu kepada kita pada masa dari krisis yang mencakup segala sesuatu, pada masa pada waktu nihilisme telah menjadi suatu mode yang banyak diterima.] - ‘Studies In Dogmatics: The Providence of God’, hal 9-10.

Catatan: ‘nihilism’ = The doctrine that nothing actually exists or that existence or values are meaningless.” [= Ajaran bahwa tak ada apapun yang sungguh-sungguh ada / mempunyai keberadaan atau bahwa keberadaan atau nilai tidak mempunyai arti.] - ‘The Free Dictionary’.

 

G. C. Berkouwer:When the person and work of Christ was in the center of dispute, the Providence doctrine had not yet became a serious stumbling block. Providence seemed to be a ‘truth’ which could rely upon universal assent - in distinction from other truths like the virgin birth, the resurrection, and the ascension, which were the scandalon of the nineteenth century. Anyone who accepted the existence of God usually believed as well that He sustained and ruled the world. ... All this in our century is radically altered. The friendliness of God, which man thought he saw reflected in the stream of history, has become increasingly disputable. ... The facts of experience which used to be the most striking illustrations of God’s Providence have become an even more convincing counter-argument. Everywhere profound doubts have risen as to the reality of God; men not only deny Providence over all things, but ridicule the idea by pointing to the reality around us. True, the confessions of the Church also speak of human suffering and grievous distress. They avoid adversity no more than prosperity, and embrace barren with fruitful years, sickness with health, and ‘all that can yet come over us.’ They even include the evil that God in His ‘pity’ sends. But the proportion of this evil has become so great and frightful that the word ‘pity’ must, it seems, be forced to take on a new meaning. [= Pada waktu Pribadi dan pekerjaan Kristus ada di pusat dari perdebatan, doktrin Providensia belum / tidak menjadi suatu batu sandungan yang serius. Providensia kelihatan sebagai suatu ‘kebenaran’ yang bisa bersandar pada persetujuan universal - dalam perbedaan dari kebenaran-kebenaran yang lain seperti kelahiran (Yesus) dari perawan, kebangkitan, dan kenaikan ke surga, yang merupakan batu sandungan dari abad 19. Siapapun yang menerima keberadaan Allah biasanya juga percaya bahwa Ia menopang dan memerintah dunia / alam semesta. ... Semua ini dalam abad kita berubah secara radikal. Sikap bersahabat dari Allah, yang manusia pikir / kira ia lihat ditunjukkan dalam aliran sejarah, telah menjadi makin diperdebatkan. ... Fakta-fakta dari pengalaman yang dulunya merupakan ilustrasi / penjelasan tentang Providensia Allah telah menjadi suatu argumentasi kontra / balasan yang bahkan lebih meyakinkan. Dimana-mana keraguan yang mendalam telah muncul berkenaan dengan realita dari Allah; manusia bukan hanya menyangkal Providensia atas segala sesuatu, tetapi membuat gagasan itu sebagai lelucon dengan menunjuk pada realita di sekitar kita. Benar, pengakuan-pengakuan dari Gereja juga berbicara tentang penderitaan manusia dan kesukaran yang menyedihkan. Mereka menghindari kesukaran / penderitaan maupun kemakmuran, dan memeluk / mempercayai tahun-tahun yang tandus dan berbuah, penyakit dan kesehatan, dan ‘semua yang bisa datang ke atas kita’. Mereka bahkan mencakup bencana yang Allah kirimkan dalam ‘belas kasihan’Nya. Tetapi proporsi dari bencana ini telah menjadi begitu besar dan menakutkan sehingga kata ‘belas kasihan’ kelihatannya harus dipaksa untuk mengambil suatu arti yang baru.] - ‘Studies In Dogmatics: The Providence of God’, hal 11-12.

 

G. C. Berkouwer:We have remarked that sustenance and government should not be isolated from each other, but must be seen as two aspects of the one almighty and omnipresent act of God. In thinking of Providence as government, we accent the purpose that God proposes and achieves in His holy activity. The sustaining of the world, as we have noted, is also related to His purpose for the future. The only difference is that in the government of God we deal with the purposefulness more explicitly. This rule has neither spatial nor temporal boundaries. ... As God’s rule is incomprehensible, so is it invincible. ... The invincibility of God’s purposeful ruling cannot be measured with human standards, nor exhausted by analogies of human might and power. But that the rule of God is invincible is certain. He is invincible in a Divine way; his method is strange to human techniques. [= Kami telah menyatakan bahwa penyokongan / penopangan dan pemerintahan tidak boleh dipisahkan satu dengan yang lain, tetapi harus dilihat sebagai dua aspek dari satu tindakan yang maha kuasa dan maha hadir dari Allah. Dalam berpikir tentang Providensia sebagai pemerintahan, kami menekankan rencana yang Allah rencanakan dan capai dalam aktivitas kudusNya. Penyokongan / penopangan dunia, seperti telah kami tunjukkan, juga berhubungan dengan rencanaNya untuk masa yang akan datang. Satu-satunya perbedaan adalah bahwa dalam pemerintahan Allah kami menangani adanya rencana / tujuan secara lebih explicit.  Pemerintahan ini tidak mempunyai baik batasan ruang maupun waktu. ... Sebagaimana pemerintahan Allah itu tidak bisa dipahami, demikian juga itu tidak bisa dikalahkan. ... Tidak bisa dikalahkannya pemerintahan Allah yang mempunyai tujuan tidak bisa diukur dengan standard manusia, ataupun didiskusikan dengan analogi-analogi dari kekuatan dan kuasa manusia. Tetapi bahwa pemerintahan Allah itu tak bisa dikalahkan adalah jelas. Ia tak bisa dikalahkan dalam suatu cara Ilahi; metodeNya adalah aneh bagi tehnik-tehnik manusia.] - ‘Studies In Dogmatics: The Providence of God’, hal 83,84.

 

G. C. Berkouwer:The believer is never the victim of the powers of nature or fate. Chance is eliminated. [= Orang percaya tidak pernah merupakan korban dari kuasa-kuasa dari alam atau nasib. Kebetulan dibuang / disingkirkan.] - ‘Studies In Dogmatics: The Providence of God’, hal 85.

 

G. C. Berkouwer:God’s purposes are in all His activity. When He seems most distant, even concealed, He is often near in judgment. But in the judgment He never loses sight of His purpose. [= Rencana-rencana Allah ada dalam semua aktivitasNya. Pada waktu Ia kelihatannya paling jauh, bahkan tersembunyi, Ia sering dekat dalam penghakiman. Tetapi dalam penghakiman Ia tidak pernah mengabaikan rencanaNya.] - ‘Studies In Dogmatics: The Providence of God’, hal 86.

 

G. C. Berkouwer:Scripture stands, thus, in polar opposition to every form of deism which isolates God from the affairs of the world. His immanent leading spans all the ways of man and reaches into the intents of the heart: [= Jadi, Kitab Suci berdiri dalam pertentangan yang extrim terhadap setiap bentuk dari Deisme, yang mengisolasi Allah dari urusan-urusan dunia. PimpinanNya yang dekat mencakup semua jalan-jalan dari manusia dan menjangkau ke dalam maksud-maksud dari hati:] - ‘Studies In Dogmatics: The Providence of God’, hal 87-88.

Catatan: Berkouwer lalu mengutip 3 ayat Alkitab, yaitu Amsal 16:9  Amsal 21:1 dan Amsal 21:30.

 

Saya telah memberikan sangat banyak kutipan-kutipan dari Calvin, Westminster Confession of Faith, dan sangat banyak ahli-ahli theologia / penafsir-penafsir Reformed, untuk membuktikan bahwa apa yang saya ajarkan dalam doktrin Providence of God ini memang merupakan ajaran Calvin / Calvinist / Reformed.

 

Terhadap orang-orang yang memfitnah bahwa ajaran saya adalah ajaran Hyper-Calvinisme, saya menantang mereka, untuk memberikan satu kutipan saja dari Calvin / ahli theologia / penafsir Reformed yang menunjukkan bahwa mereka tidak mempercayai doktrin Providence of God ini!!!

 

 

 

-o0o-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : buas22@yahoo.com

e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com

http://golgothaministry.org