Golgotha School of Ministry

 

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

 

Rabu, tgl 8 November 2017, pk 19.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

Providence of God (3)

 

c) Ayat-ayat Kitab Suci yang menunjukkan bahwa hal-hal yang kelihatannya seperti ‘kebetulan’ juga hanya bisa terjadi karena itu merupakan Rencana Allah. Contoh:

 

1. Kel 21:13 - Tetapi jika pembunuhan itu tidak disengaja, melainkan tangannya ditentukan Allah melakukan itu, maka Aku akan menunjukkan bagimu suatu tempat, ke mana ia dapat lari.”.

Kata-kata ‘melainkan tangannya ditentukan Allah melakukan itu’ sebetulnya merupakan terjemahan yang terlalu keras. Bandingkan dengan KJV di bawah ini.

KJV: ‘but God deliver him into his hand;’ [= tetapi Allah menyerahkannya ke dalam tangannya].

 

Tentang ‘suatu tempat, kemana ia dapat lari’ menunjuk pada kota-kota perlindungan, yang dibahas dalam text di bawah ini.

 

Bil 35:10-11 - “(10) ‘Berbicaralah kepada orang Israel dan katakanlah kepada mereka: Apabila kamu menyeberangi sungai Yordan ke tanah Kanaan, (11) maka haruslah kamu memilih beberapa kota yang menjadi kota-kota perlindungan bagimu, supaya orang pembunuh yang telah membunuh seseorang dengan tidak sengaja dapat melarikan diri ke sana..

 

Yang dimaksud dengan ‘pembunuhan yang tidak disengaja’ itu dijelaskan / diberi contoh dalam:

 

a. Bil 35:22-25 - “(22) Tetapi jika ia sekonyong-konyong menumbuk orang itu dengan tidak ada perasaan permusuhan, atau dengan tidak sengaja melemparkan sesuatu benda kepadanya, (23) atau dengan kurang ingat menjatuhkan kepada orang itu sesuatu batu yang mungkin menyebabkan matinya seseorang, sehingga orang itu mati, sedangkan dia tidak merasa bermusuh dengan orang itu dan juga tidak mengikhtiarkan celakanya, (24) maka haruslah rapat umat mengadili antara orang yang membunuh itu dan penuntut darah, menurut hukum-hukum ini, (25) dan haruslah rapat umat membebaskan pembunuh dari tangan penuntut darah, dan haruslah rapat umat mengembalikan dia ke kota perlindungan, ke tempat ia telah melarikan diri; di situlah ia harus tinggal sampai matinya imam besar yang telah diurapi dengan minyak yang kudus..

 

Catatan: kata-kata ‘dengan kurang ingat’ dalam ay 23 lebih tepat diterjemahkan ‘dengan tidak melihatnya’ seperti dalam KJV/RSV/NIV/NASB.

 

b. Ul 19:4-5, yaitu orang yang pada waktu mengayunkan kapak, lalu mata kapaknya terlepas dan mengenai orang lain sehingga mati.

 

Ul 19:4-5 - “(4) Inilah ketentuan mengenai pembunuh yang melarikan diri ke sana dan boleh tinggal hidup: apabila ia membunuh sesamanya manusia dengan tidak sengaja dan dengan tidak membenci dia sebelumnya, (5) misalnya apabila seseorang pergi ke hutan dengan temannya untuk membelah kayu, ketika tangannya mengayunkan kapak untuk menebang pohon kayu, mata kapak terlucut dari gagangnya, lalu mengenai temannya sehingga mati, maka ia boleh melarikan diri ke salah satu kota itu dan tinggal hidup..

 

Hal-hal seperti ini kelihatannya ‘kebetulan’, tetapi toh Kel 21:13 itu mengatakan bahwa hal itu bisa terjadi karena ‘tangannya ditentukan Allah melakukan itu’. Jadi, jelas bahwa hal-hal yang kelihatannya kebetulan sekalipun, hanya bisa terjadi kalau itu sesuai kehendak / Rencana Allah.

 

Matthew Henry (tentang Kel 21:13): “when a man, in doing a lawful act, without intent of hurt to any, happens to kill another, or, as it is here described, God delivers him into his hand; for nothing comes to pass by chance; what seems to us purely casual is ordered by the divine Providence, for wise and holy ends secret to us. In this case God provided cities of refuge for the protection of those whose infelicity it was, but not their fault, to occasion the death of another, v. 13.” [= pada waktu seseorang, dalam melakukan suatu tindakan yang benar / sah, tanpa maksud untuk melukai siapapun, kebetulan membunuh orang lain, atau, seperti digambarkan di sini, Allah menyerahkannya ke dalam tangannya; karena tak ada apapun terjadi oleh kebetulan; apa yang kelihatan bagi kita sepenuhnya kebetulan / tak direncanakan, diatur oleh Providensia Ilahi, untuk tujuan-tujuan yang bijaksana dan kudus, yang dirahasiakan bagi kita. Dalam kasus ini Allah menyediakan kota-kota perlindungan untuk perlindungan dari mereka yang nasib buruknya, tetapi bukan kesalahan mereka, menyebabkan kematian orang lain, ay 13.].

 

Calvin (tentang Kel 21:13): “it must be remarked, that Moses declares that accidental homicide, as it is commonly called, does not happen by chance or accident, but according to the will of God, as if He himself led out the person, who is killed, to death. By whatever kind of death, therefore, men are taken away, it is certain that we live or die only at His pleasure; and surely, if not even a sparrow can fall to the ground except by His will, (Matthew 10:29,) it would be very absurd that men created in His image should be abandoned to the blind impulses of fortune. Wherefore it must be concluded, as Scripture elsewhere teaches, that the term of each man’s life is appointed, with which another passage corresponds, ‘Thou turnest man to destruction, and sayest, Return, ye children of men.’ (Psalm 90:3.) It is true, indeed, that whatever has no apparent cause or necessity seems to us to be fortuitous; and thus, whatever, according to nature, might happen otherwise we call accidents, (contingentia;) yet in the meantime it must be remembered, that what might else incline either way is governed by God’s secret counsel, so that nothing is done without His arrangement and decree.” [= harus diperhatikan, bahwa Musa menyatakan bahwa pembunuhan yang bersifat kebetulan, seperti yang biasanya disebut, tidak terjadi oleh kebetulan, tetapi sesuai / menurut kehendak Allah, seakan-akan Ia sendiri membimbing orang, yang dibunuh / terbunuh, pada kematian. Karena itu, oleh jenis kematian apapun, orang-orang diambil, adalah pasti bahwa kita hidup dan mati hanya pada perkenanNya; dan pastilah, jika bahkan seekor burung pipit tidak bisa jatuh ke tanah kecuali oleh kehendakNya (Mat 10:29), adalah sangat menggelikan bahwa manusia yang diciptakan menurut gambarNya harus ditinggalkan pada perubahan nasib yang buta. Karena itu haruslah disimpulkan, sebagaimana Kitab Suci di bagian lain mengajarkan, bahwa masa hidup dari setiap orang ditetapkan, dengan mana text yang lain sesuai, "Engkau membelokkan manusia kepada kehancuran / kebinasaan, dan berkata: ‘Kembalilah, hai anak-anak manusia!’" (Maz 90:3, KJV). Memang benar bahwa apapun yang tidak mempunyai penyebab yang jelas atau keharusan, bagi kita kelihatannya merupakan kebetulan; dan demikianlah, apapun, menurut alam, bisa terjadi sebagai apa yang kita sebut kebetulan, tetapi pada saat yang sama harus diingat, bahwa apa yang bisa menyimpangkan ke arah manapun, diperintah oleh rencana rahasia Allah, sehingga tak ada apapun yang terjadi tanpa pengaturan dan ketetapanNya.] - hal 37.

 

Maz 90:3 - Engkau mengembalikan manusia kepada debu, dan berkata: ‘Kembalilah, hai anak-anak manusia!’”.

 

2. 1Sam 6:7-12 - “(7) Oleh sebab itu ambillah dan siapkanlah sebuah kereta baru dengan dua ekor lembu yang menyusui, yang belum pernah kena kuk, pasanglah kedua lembu itu pada kereta, tetapi bawalah anak-anaknya kembali ke rumah, supaya jangan mengikutinya lagi. (8) Kemudian ambillah tabut TUHAN, muatkanlah itu ke atas kereta dan letakkanlah benda-benda emas, yang harus kamu bayar kepadaNya sebagai tebusan salah, ke dalam suatu peti di sisinya. Dan biarkanlah tabut itu pergi. (9) Perhatikanlah: apabila tabut itu mengambil jalan ke daerahnya, ke Bet-Semes, maka Dialah itu yang telah mendatangkan malapetaka yang hebat ini kepada kita. Dan jika tidak, maka kita mengetahui, bahwa bukanlah tanganNya yang telah menimpa kita; kebetulan saja hal itu terjadi kepada kita.’ (10) Demikianlah diperbuat orang-orang itu. Mereka mengambil dua ekor lembu yang menyusui, dipasangnya pada kereta, tetapi anak-anaknya ditahan di rumah. (11) Mereka meletakkan tabut TUHAN ke atas kereta, juga peti berisi tikus-tikus emas dan gambar benjol-benjol mereka. (12) Lembu-lembu itu langsung mengikuti jalan yang ke Bet-Semes; melalui satu jalan raya, sambil menguak dengan tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri, sedang raja-raja kota orang Filistin itu berjalan di belakangnya sampai ke daerah Bet-Semes.”.

 

Orang Filistin yang merampas tabut Tuhan dihajar oleh Tuhan dengan bermacam-macam bencana, dan mereka ingin tahu apakah wabah / bencana yang menimpa mereka (1Sam 5) berasal dari Tuhan atau hanya kebetulan saja. Dan untuk mengetahui hal itu mereka melakukan percobaan dengan menggunakan lembu-lembu yang menarik kereta yang membawa tabut itu. Hasil dari percobaan itu adalah jelas. Itu bukan kebetulan, tetapi Tuhanlah yang melakukan semua itu.

 

Jamieson, Fausset & Brown (tentang 1Sam 6:9): “Their frequent lowings attested their ardent longing for their young, and at the same time the supernatural influence that controlled their movements in a contrary direction.” [= Lenguhan / kuakan mereka yang sering, menunjukkan kerinduan mereka yang berkobar-kobar untuk anak-anak mereka, dan pada saat yang sama pengaruh supranatural yang mengontrol gerakan-gerakan mereka ke arah yang berlawanan.].

 

Barnes’ Notes (tentang 1Sam 6:12): “Nature would obviously dispose the cows to go toward their calves; their going in an opposite direction was therefore plainly a divine impulse overruling their natural inclination.” [= Alam dengan jelas akan mengatur lembu-lembu itu untuk pergi menuju anak-anak mereka; karena itu kepergian mereka ke arah yang berlawanan secara jelas merupakan suatu dorongan ilahi yang mengalahkan kecondongan alamiah mereka.].

 

Matthew Henry (tentang 1Sam 6:9-dst): “God’s providence is conversant about the motions even of brute-creatures, and serves its own purposes by them.” [= Providensia Allah berhubungan dekat / mempunyai perhatian / minat tentang gerakan-gerakan bahkan dari makhluk-makhluk tak berakal, dan melayani / mempersiapkan tujuan-tujuan / rencana-rencanaNya sendiri oleh mereka.].

 

Pulpit Commentary: “It was contrary to their nature, as ordinarily exercised, to go from home. It was not contrary to the nature of things for them to do the will of their Maker. 1. It is a reality in every case of animal life that God’s will is done. All creatures are ‘his.’ He formed their powers and gave them tendencies. Therefore every creature, in following its ordinary course, is actually carrying out a Divine intent. ... 2. There are other instances of special control. Balaam’s ass was used to reprove the prophet. The lions were restrained from touching Daniel.” [= Merupakan sesuatu yang bertentangan dengan sifat alamiah mereka, sebagaimana biasanya dilakukan, untuk pergi dari rumah. Bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan sifat alamiah dari hal-hal bagi mereka untuk melakukan kehendak dari sang Pencipta mereka. 1. Merupakan suatu kenyataan dalam setiap kasus dari kehidupan binatang bahwa kehendak Allah terjadi. Semua makhluk adalah milikNya. Ia membentuk kekuatan mereka dan memberikan mereka kecondongan. Karena itu, setiap makhluk, dalam mengikuti jalannya yang biasa, sebetulnya sedang mengikuti / mentaati suatu maksud Ilahi. ... 2. Ada contoh-contoh lain tentang kontrol yang khusus. Keledai Bileam digunakan untuk mencela sang nabi. Singa-singa dikekang sehingga tidak menyentuh Daniel.] - hal 115.

 

3. 1Raja 22:34 - “Tetapi seseorang menarik panahnya dan menembak dengan sembarangan saja dan mengenai raja Israel di antara sambungan baju zirahnya. Kemudian ia berkata kepada pengemudi keretanya: ‘Putar! Bawa aku keluar dari pertempuran, sebab aku sudah luka.’”.

Kitab Suci Indonesia: ‘menembak dengan sembarangan.

KJV/RSV: ‘drew a bow at a venture [= menarik busurnya secara untung-untungan].

NIV/NASB: ‘drew his bow at random [= menarik busurnya secara sembarangan].

 

Catatan: Kata bentuk jamaknya muncul dalam 2Sam 15:11 dan dalam Kitab Suci Indonesia diterjemahkan ‘tanpa curiga’.

 

2Sam 15:11 - Beserta Absalom turut pergi dua ratus orang dari Yerusalem, orang-orang undangan yang turut pergi tanpa curiga dan tanpa mengetahui apapun tentang perkara itu..

NIV: ‘quite innocently’ [= dengan tak bersalah].

NASB: ‘innocently’ [= dengan tak bersalah].

KJV/RSV: ‘in their simplicity’ [= dalam kesederhanaan mereka].

 

Pulpit Commentary (tentang 1Raja 22:34): “An unknown, unconscious archer. The arrow that pierced Ahab’s corselet was shot ‘in simplicity,’ without deliberate aim, with no thought of striking the king. It was an unseen Hand that guided that chance shaft to its destination. It was truly ‘the arrow of the Lord’s vengeance.’” [= Seorang pemanah yang tak dikenal, dan yang tak menyadari tindakannya. Panah yang menusuk pakaian perang Ahab ditembakkan ‘dalam kesederhanaan’, tanpa tujuan yang disengaja, dan tanpa pikiran untuk menyerang sang raja. Adalah ‘Tangan yang tak kelihatan’ yang memimpin ‘panah kebetulan’ itu pada tujuannya. Itu betul-betul merupakan ‘panah pembalasan Tuhan’.] - hal 545.

 

Pulpit Commentary (tentang 1Raja 22:34): “how useless are disguises when the providence of Omniscience is concerned! Ahab might hide himself from the Syrians, but he could not hide himself from God. Neither could he hide himself from angels and devils, who are instruments of Divine Providence, ever influencing men, and even natural laws, or forces of nature.” [= betapa tidak bergunanya penyamaran pada waktu providensia dari Yang Mahatahu yang dipersoalkan! Ahab bisa menyembunyikan dirinya dari orang Aram, tetapi ia tidak bisa menyembunyikan dirinya dari Allah. Ia juga tidak bisa menyembunyikan dirinya dari malaikat dan setan, yang merupakan alat-alat dari Providensia Ilahi, yang selalu mempengaruhi manusia, dan bahkan hukum-hukum alam, atau kuasa / kekuatan alam.] - hal 552.

 

Pulpit Commentary (tentang 1Raja 22:34): “The chance shot. The success of Ahab’s device only served to make the blow come more plainly from the hand of God. Benhadad’s purpose could be baffled, but not His. There is no escape from God.” [= Tembakan kebetulan. Sukses dari muslihat Ahab hanya berfungsi untuk membuat kelihatan dengan lebih jelas bahwa serangan itu datang dari tangan Allah. Tujuan / rencana Benhadad bisa digagalkan / dihalangi, tetapi tidak tujuan / rencanaNya. Tidak ada jalan untuk lolos dari Allah.] - hal 557.

 

Matthew Henry (tentang 1Raja 22:34): “The Syrian that shot him little thought of doing such a piece of service to God and his king; for he drew a bow at a venture, not aiming particularly at any man, yet God so directed the arrow that, 1. He hit the right person, the man that was marked for destruction, whom, if they had taken alive, as was designed, perhaps Ben-hadad would have spared. Those cannot escape with life whom God hath doomed to death. 2. He hit him in the right place, between the joints of the harness, the only place about him where this arrow of death could find entrance. No armour is of proof against the darts of divine vengeance. ... That which to us seems altogether casual is done by the determinate counsel and fore-knowledge of God.” [= Orang Aram yang memanahnya tak memikirkan tentang melakukan suatu potongan seperti itu untuk melayani Allah dan rajanya; karena ia menarik busurnya secara untung-untungan, tidak membidik secara khusus pada orang manapun, tetapi Allah begitu mengarahkan anak panah itu, sehingga, 1. Ia mengenai orang yang tepat, orang yang ditandai untuk kehancuran / kebinasaan, yang, seandainya mereka menangkapnya hidup-hidup, sebagaimana dirancangkan, mungkin akan dibiarkan hidup oleh Benhadad. Mereka tidak bisa lolos dengan nyawanya yang Allah telah tentukan pada kematian. 2. Ia mengenainya di tempat yang tepat, di antara sambungan baju zirahnya, satu-satunya tempat padanya dimana anak panah kematian ini bisa menemukan jalan masuk. Tak ada perlengkapan perang merupakan perlindungan terhadap anak-anak panah dari pembalasan ilahi. ... Apa yang bagi kita kelihatan sepenuhnya kebetulan dilakukan oleh rencana tertentu dan pra pengetahuan Allah.].

 

Jadi, ini lagi-lagi menunjukkan bahwa tidak ada ‘kebetulan’. Semua yang kelihatannya merupakan kebetulan, diatur oleh Allah.

 

4. Amsal 16:33 - Undi dibuang di pangkuan, tetapi setiap keputusannya berasal dari pada TUHAN.”.

 

Tidak ada yang kelihatan lebih bersifat kebetulan dari pada undi yang dibuang di pangkuan, tetapi toh ayat ini mengatakan bahwa setiap keputusannya berasal dari Tuhan.

 

Matthew Henry (tentang Amsal 16:33): “The divine Providence orders and directs those things which to us are perfectly casual and fortuitous. Nothing comes to pass by chance, nor is an event determined by a blind fortune, but every thing by the will and counsel of God.” [= Providensia ilahi mengatur dan mengarahkan hal-hal itu, yang bagi kita sepenuhnya adalah sembarangan dan kebetulan. Tidak ada yang terjadi karena kebetulan, juga tidak ada peristiwa yang ditentukan oleh nasib / takdir yang buta, tetapi segala sesuatu terjadi / ditentukan oleh kehendak dan rencana Allah.].

 

Barnes’ Notes (tentang Amsal 16:33): Where everything seemed the merest chance, there the faithful Israelite teacher recognized the guidance of a higher will. Compare the case of Achan (Josh 7:18), and of Jonathan (1 Sam 14:37-42). The process here described would seem to have been employed ordinarily in trials where the judges could not decide on the facts before them (compare Prov 18:18). [= Dimana segala sesuatu kelihatannya semata-mata kebetulan, di sana guru Israel yang setia mengenali bimbingan dari suatu kehendak yang lebih tinggi. Bandingkan kasus dari Akhan (Yos 7:18), dan dari Yonatan (1Sam 14:37-42). Proses yang digambarkan di sini kelihatannya telah digunakan secara umum dalam pengadilan-pengadilan dimana hakim-hakim tidak bisa memutuskan tentang fakta-fakta di hadapan mereka (bandingkan Amsal 18:18).].

 

Yos 7:16-18 - (16) Keesokan harinya bangunlah Yosua pagi-pagi, lalu menyuruh orang Israel tampil ke muka suku demi suku, maka didapatilah suku Yehuda. (17) Ketika disuruhnya tampil ke muka kaum-kaum Yehuda, maka didapatinya kaum Zerah. Ketika disuruhnya tampil ke muka kaum Zerah, seorang demi seorang, maka didapatilah Zabdi. (18) Ketika disuruhnya keluarga orang itu tampil ke muka, seorang demi seorang, maka didapatilah Akhan bin Karmi bin Zabdi bin Zerah, dari suku Yehuda..

Catatan: sekalipun tak dinyatakan caranya tetapi besar kemungkinan mereka menggunakan pengundian.

 

1Sam 14:40-42 - “(40) Kemudian berkatalah ia kepada seluruh orang Israel: ‘Kamu berdiri di sebelah yang satu dan aku serta anakku Yonatan akan berdiri di sebelah yang lain.’ Lalu jawab rakyat kepada Saul: ‘Perbuatlah apa yang kaupandang baik.’ (41) Lalu berkatalah Saul: ‘Ya, TUHAN, Allah Israel, mengapa Engkau tidak menjawab hambaMu pada hari ini? Jika kesalahan itu ada padaku atau pada anakku Yonatan, ya TUHAN, Allah Israel, tunjukkanlah kiranya Urim; tetapi jika kesalahan itu ada pada umatMu Israel, tunjukkanlah Tumim.’ Lalu didapati Yonatan dan Saul, tetapi rakyat itu terluput. (42) Kata Saul: ‘Buanglah undi antara aku dan anakku Yonatan.’ Lalu didapati Yonatan..

 

Amsal 18:18 - Undian mengakhiri pertengkaran, dan menyelesaikan persoalan antara orang-orang berkuasa..

 

Catatan: ini tidak berarti bahwa pada jaman sekarang kita boleh mencari kehendak Tuhan dengan cara ini. Pada jaman sekarang, dimana kita sudah mempunyai Kitab Suci yang lengkap, maka kita harus mencari kehendak Tuhan melalui Kitab Suci / Firman Tuhan.

 

5. Rut 2:3 - Pergilah ia, lalu sampai di ladang dan memungut jelai di belakang penyabit-penyabit; kebetulan ia berada di tanah milik Boas, yang berasal dari kaum Elimelekh.”.

 

Ay 3 (KJV): ‘and her hap was to light on a part of the field belonging unto Boaz’ [= dan nasib baiknya / kemujurannya adalah hinggap pada suatu bagian dari ladang milik Boas].

Catatan: kata bahasa Inggris ‘hap’ bisa berarti ‘chance’ [= kebetulan], ‘fortune’ [= nasib baik], ‘luck’ [= nasib baik / kemujuran].

 

Kalau ditinjau dari sudut manusia, maka munculnya titik terang dalam kehidupan Rut itu, terjadi secara ‘kebetulan’! Boas bisa bertemu Rut, karena kebetulan ia berada di tanah milik Boas (ay 3), dan pada hari Rut mulai memungut jelai itu kebetulan Boas juga datang ke sana (ay 4). Lalu Boas senang / tertarik kepada Rut, karena kebetulan Rut cantik / sexy, dan kebetulan Rut mempunyai sifat-sifat yang baik, dan kebetulan Rut cocok dengan selera Boas. Tetapi kalau ditinjau dari sudut Allah, maka tidak ada kebetulan!

 

Semua ayat Alkitab yang menggunakan kata ‘kebetulan’ adalah ayat-ayat yang menyoroti dari sudut pandang manusia. Dalam arti sebenarnya, tidak ada kebetulan! Dari sejak semula, Allah sudah menentukan / merencanakan semuanya dan Allah lalu mengatur segala sesuatu sehingga semua terjadi sesuai dengan Rencana Allah yang kekal! Boas pasti mempunyai wanita idaman, tetapi hati Boas ada di tangan Tuhan, dan Tuhan bisa mengalirkan kemana saja Tuhan kehendaki, sehingga keputusan Tuhanlah yang terjadi. Rut mungkin memikir-mikir ke ladang mana ia akan pergi, sehingga kelihatannya ia sampai ke ladang Boas hanya secara kebetulan (ay 3), tetapi sebetulnya Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya.

 

Maz 37:23 - TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepadaNya;”.

Amsal 16:9 - “Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya.”.

Amsal 19:21 - “Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana.”.

Amsal 21:1- “Hati raja seperti batang air di dalam tangan TUHAN, dialirkanNya ke mana Ia ingini.”.

Yer 10:23 - “Aku tahu, ya TUHAN, bahwa manusia tidak berkuasa untuk menentukan jalannya, dan orang yang berjalan tidak berkuasa untuk menetapkan langkahnya.”.

 

Matthew Henry (tentang Rut 2:3): “‎She knew not whose field it was, nor had she any reason for going to that more than any other, and therefore it is said to be ‘her hap;’ but Providence directed her steps to this field. Note, God wisely orders small events; and those that seem altogether contingent serve his own glory and the good of his people. Many a great affair is brought about by a little turn, which seemed fortuitous to us, but was directed by Providence with design.” [= Ia tidak tahu itu ladang siapa, juga ia tidak mempunyai alasan apapun untuk pergi ke ladang itu dari pada ke ladang yang lain, dan karena itu dikatakan bahwa itu adalah ‘nasib baiknya / kemujurannya’; tetapi Providensia mengarahkan langkah-langkahnya ke ladang ini. Perhatikan, Allah dengan bijaksana mengatur / menentukan peristiwa-peristiwa yang kecil; dan hal-hal yang kelihatannya sepenuhnya kebetulan melayani kemuliaanNya sendiri dan kebaikan dari umatNya. Banyak peristiwa-peristiwa yang besar dihasilkan / ditimbulkan oleh suatu perubahan yang kecil, yang kelihatannya kebetulan bagi kita, tetapi diarahkan oleh Providensia dengan rancangan / tujuan.].

 

The Bible Exposition Commentary (tentang Rut 2:3): By the providence of God, Ruth gleaned in the portion of the field that belonged to Boaz. The record says Ruth ‘happened’ to come to this portion of the field, but it was no accident. Her steps were guided by the Lord. [= Oleh providensia Allah, Rut memungut di bagian dari ladang milik Boas. Catatannya mengatakan Rut ‘kebetulan’ datang ke bagian ladang ini, tetapi itu bukan suatu kebetulan. Langkah-langkahnya dipimpin oleh Tuhan.].

 

Pulpit Commentary (tentang Rut 2:3): “Though it seemed of little consequence in which field Ruth gleaned, ‘her hap was to light on a part of the field belonging to Boaz,’ and from this fact sprang results of the greatest importance. ‘Her hap’ determined her marriage, her wealth, her happiness and that of her mother-in-law, her union with Israel, her motherhood, her position as an ancestress of David and of Christ. In such seemingly insignificant causes originate the most momentous issues. Thus oftentimes it comes to pass that family relationships are formed, a professional career is determined; nay, religious decision may be brought about, life-work for Christ may be appointed, eternal destiny is affected.” [= Sekalipun kelihatannya tidak terlalu berpengaruh di ladang mana Rut memungut jelai, ‘kebetulan ia berada di tanah milik Boas’, dan dari fakta ini muncul akibat-akibat yang terpenting. ‘Nasib baiknya / kemujurannya’ menentukan pernikahannya, kekayaannya, kebahagiaannya dan kebahagiaan mertua perempuannya, persatuannya dengan Israel, ke-ibu-annya, posisinya sebagai seorang nenek moyang dari Daud dan dari Kristus. Dalam penyebab-penyebab yang kelihatannya begitu tidak penting muncul persoalan-persoalan / hasil-hasil yang paling penting. Demikianlah seringkali terjadi bahwa hubungan keluarga dibentuk, karir profesional ditentukan; tidak, keputusan agamawi bisa dihasilkan / ditimbulkan, pekerjaan seumur hidup untuk Kristus bisa ditetapkan, tujuan kekal dipengaruhi.] - hal 34.

 

Charles Haddon Spurgeon memberikan renungan tentang Rut 2:3, dimana ia berkata sebagai berikut:

“Her hap was. Yes, it seemed nothing but an accidental happenstance, but how divinely was it planned! Ruth had gone forth with her mother’s blessing under the care of her mother’s God to humble but honorable toil, and the providence of God was guiding her every step. Little did she know that amid the sheaves she would find a husband, that he would make her the joint owner of all those broad acres, and that she, a poor foreigner, would become one of the progenitors of the great Messiah. ... Chance is banished from the faith of Christians, for they see the hand of God in everything. The trivial events of today or tomorrow may involve consequences of the highest importance.” [= ‘Kebetulan ia berada’. Ya, itu kelihatannya bukan lain dari pada suatu kejadian yang bersifat kebetulan, tetapi hal itu direncanakan secara ilahi! Rut telah pergi dengan berkat dari ibunya di bawah perhatian dari Allah ibunya kepada pekerjaan yang rendah tetapi terhormat, dan providensia Allah membimbing setiap langkahnya. Sedikitpun ia tidak menyangka bahwa di antara berkas-berkas jelai itu ia akan menemukan seorang suami, bahwa ia akan membuatnya menjadi pemilik dari seluruh tanah yang luas itu, dan bahwa ia, seorang asing yang miskin, akan menjadi salah seorang nenek moyang dari Mesias yang agung. ... Kebetulan dibuang dari iman orang-orang Kristen, karena mereka melihat bahwa tangan Allah ada dalam segala sesuatu. Peristiwa-peristiwa remeh dari hari ini atau besok bisa melibatkan konsekwensi-konsekwensi yang paling penting.] - ‘Morning and Evening’, October 25, evening.

 

6. 2Raja 9:21 - “Sesudah itu berkatalah Yoram: ‘Pasanglah kereta!’, lalu orang memasang keretanya. Maka keluarlah Yoram, raja Israel, dan Ahazia, raja Yehuda, masing-masing naik keretanya; mereka keluar menemui Yehu, lalu menjumpai dia di kebun Nabot, orang Yizreel itu.”.

 

Pulpit Commentary: “Humanly speaking, this was accidental. ... Had the king started a little sooner, or had Jehu made less haste, the meeting would have taken place further from the town, and outside the ‘portion of Naboth.’ But Divine providence so ordered matters that vengeance for the sin of Ahab was exacted upon the very scene of his guilt, and a prophecy made, probably by Elisha, years previously, and treasured up in the memory of Jehu (ver. 26), was fulfilled to the letter.” [= Berbicara secara manusia, ini merupakan suatu kebetulan. ... Seandainya sang raja berangkat sedikit lebih awal, atau seandainya Yehu mengurangi sedikit saja ketergesa-gesaannya, maka pertemuan itu akan terjadi lebih jauh dari kota, dan di luar ‘kebun dari Nabot’. Tetapi Providensia Ilahi mengatur hal-hal sedemikian rupa sehingga pembalasan untuk dosa Ahab ditetapkan pada tempat yang persis sama dengan tempat dari kesalahannya, dan suatu nubuat dibuat, mungkin oleh Elisa, bertahun-tahun sebelumnya, dan disimpan dalam ingatan Yehu (ay 26), digenapi sampai hal yang terkecil / secara persis.] - hal 192.

 

Semua ini menunjukkan bahwa dalam membuat RencanaNya, Allah bukan hanya merencanakan / menetapkan garis besarnya saja, tetapi lengkap dengan semua detail-detailnya, sampai hal-hal yang sekecil-kecilnya.

 

Loraine Boettner: “The Pelagian denies that God has a plan; the Arminian says that God has a general plan but not a specific plan; but the Calvinist says that God has a specific plan which embraces all events in all ages.” [= Orang yang menganut Pelagianisme menyangkal bahwa Allah mempunyai rencana; orang Arminian berkata bahwa Allah mempunyai rencana yang umum tetapi bukan rencana yang spesifik; tetapi orang Calvinist mengatakan bahwa Allah mempunyai rencana yang spesifik yang mencakup semua peristiwa / kejadian dalam semua jaman.] - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 22-23.

 

B. B. Warfield:

·       “Throughout the Old Testament, behind the processes of nature, the march of history and the fortunes of each individual life alike, there is steadily kept in view the governing hand of God working out His preconceived plan - a plan broad enough to embrace the whole universe of things, minute enough to concern itself with the smallest details, and actualizing itself with inevitable certainty in every event that comes to pass.” [= Sepanjang Perjanjian Lama, dibalik proses alam, gerakan dari sejarah dan nasib dari setiap kehidupan, terus menerus ditunjukkan tangan pemerintahan Allah yang melaksanakan rencana yang sudah direncanakanNya lebih dulu - suatu rencana yang cukup luas untuk mencakup seluruh alam semesta, cukup kecil / seksama untuk memperhatikan detail-detail yang terkecil, dan mewujudkan dirinya sendiri dengan kepastian yang tidak dapat dihindarkan / dielakkan dalam setiap peristiwa / kejadian yang terjadi.] - ‘Biblical and Theological Studies’, hal 276.

·       “But, in the infinite wisdom of the Lord of all the earth, each event falls with exact precision into its proper place in the unfolding of His eternal plan; nothing, however small, however strange, occurs without His ordering, or without its peculiar fitness for its place in the working out of His purpose; and the end of all shall be the manifestation of His glory, and the accumulation of His praise.” [= Tetapi, dalam hikmat yang tidak terbatas dari Tuhan seluruh bumi, setiap peristiwa / kejadian jatuh dengan ketepatan yang tepat pada tempatnya dalam pembukaan dari rencana kekalNya; tidak ada sesuatupun, betapapun kecilnya, betapapun anehnya, terjadi tanpa pengaturan / perintahNya, atau tanpa kecocokannya yang khusus untuk tempatnya dalam pelaksanaan RencanaNya; dan akhir dari semua adalah akan diwujudkannya kemuliaanNya, dan pengumpulan pujian bagiNya.] - ‘Biblical and Theological Studies’, hal 285.

 

Charles Hodge: “As God works on a definite plan in the external world, it is fair to infer that the same is true in reference to the moral and spiritual world. To the eye of an uneducated man the heavens are a chaos of stars. The astronomer sees order and system in this confusion; all those bright and distant luminaries have their appointed places and fixed orbits; all are so arranged that no one interferes with any other, but each is directed according to one comprehensive and magnificent conception.” [= Sebagaimana Allah mengerjakan rencana tertentu dalam dunia lahiriah / jasmani, adalah wajar untuk mengambil kesimpulan bahwa hal itu juga benar berkenaan dengan dunia moral dan rohani. Bagi mata seorang yang tidak berpendidikan langit merupakan bintang-bintang yang kacau. Ahli perbintangan / ilmu falak melihat keteraturan dan sistim dalam kekacauan ini; semua benda-benda bersinar yang terang dan jauh itu mempunyai tempat dan orbit tetap yang ditetapkan; semua begitu diatur sehingga tidak satupun mengganggu yang lain, tetapi masing-masing diarahkan menurut suatu konsep yang luas dan besar / indah.] - ‘Systematic Theology’, vol II hal 313.

 

Saya berpendapat bagian yang saya garis-bawahi tersebut merupakan hal yang perlu dicamkan. Analoginya dalam dunia theologia adalah: bagi orang yang tidak mengerti theologia, semua merupakan kekacauan, atau semua terjadi begitu saja, atau secara kebetulan. Tetapi bagi mata seorang ahli theologia, segala sesuatu ditetapkan dan diatur oleh Allah.

 

 

 

-bersambung-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : buas22@yahoo.com

e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com

http://golgothaministry.org