Golgotha School of Ministry

 

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

 

Rabu, tgl 12 September 2018, pk 19.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

Providence of God (29)

 

Mari kita melihat 3 contoh yang Calvin berikan, dan satu contoh lain yang saya tambahkan.

 

1. Yusuf dalam Kej 45:5-8  Kej 50:20.

 

Kej 45:5-8 - “(5) Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu. (6) Karena telah dua tahun ada kelaparan dalam negeri ini dan selama lima tahun lagi orang tidak akan membajak atau menuai. (7) Maka Allah telah menyuruh aku mendahului kamu untuk menjamin kelanjutan keturunanmu di bumi ini dan untuk memelihara hidupmu, sehingga sebagian besar dari padamu tertolong. (8) Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah; Dialah yang telah menempatkan aku sebagai bapa bagi Firaun dan tuan atas seluruh istananya dan sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir..

Catatan: bagian yang saya beri garis bawah ganda dan warna biru salah terjemahan!

KJV: ‘and to save your lives by a great deliverance.’ [= dan menyelamatkan hidupmu oleh suatu pembebasan yang besar.].

 

Kej 50:20 - Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar..

 

Calvin (tentang Kej 50:20): Joseph well considers (as we have said) the providence of God; so that he imposes it on himself as a compulsory law, not only to grant pardon, but also to exercise beneficence. ... Seeing that, by the secret counsel of God, he was led into Egypt, for the purpose of preserving the life of his brethren, he must devote himself to this object, lest he should resist God. ... he skillfully distinguishes between the wicked counsels of men, and the admirable justice of God, by so ascribing the government of all things to God, as to preserve the divine administration free from contracting any stain from the vices of men. The selling of Joseph was a crime detestable for its cruelty and perfidy; yet he was not sold except by the decree of heaven. ... Thus we may say with truth and propriety, that Joseph was sold by the wicked consent of his brethren, and by the secret providence of God. [=  Yusuf mempertimbangkan dengan baik (seperti telah kami katakan) Providensia Allah; sehingga ia menetapkan bagi dirinya sendiri sebagai suatu hukum yang mewajibkan, bukan hanya untuk memberikan pengampunan, tetapi juga untuk melaksanakan kebaikan. ... Melihat bahwa oleh rencana rahasia Allah, ia dibimbing ke Mesir dengan tujuan memelihara kehidupan saudara-saudaranya, ia harus membaktikan dirinya sendiri pada tujuan itu, supaya jangan ia menentang Allah. ... ia secara ahli membedakan antara rencana jahat manusia, dan keadilan yang mengagumkan dari Allah, dengan menganggap pemerintahan / pengaturan dari segala sesuatu berasal dari Allah, sehingga menjaga pelaksanaan pemerintahan ilahi bebas dari mendapatkan noda apapun dari kejahatan-kejahatan manusia. Penjualan Yusuf adalah suatu kejahatan / tindakan kriminal yang menjijikkan karena kekejaman dan pengkhianatannya; tetapi ia tidak dijual kecuali oleh ketetapan dari surga. ... Jadi kita bisa berkata dengan kebenaran dan kepantasan, bahwa Yusuf dijual oleh persetujuan jahat dari saudara-saudaranya, dan oleh Providensia rahasia dari Allah.] - hal 486,487.

 

2. Ayub dalam Ayub 1:21.

Ayub 1:21 - katanya: ‘Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!’.

 

Calvin (tentang Ayub 1:21): “For the story here written, showeth us how we be in God’s hand, and that it lieth in him to determine of our lives, and to dispose of the same according to his good pleasure: and that it is our duty to submit ourselves unto him with all humbleness and obedience: and that it is good reason, that we should be wholly his, both to live and die: and specially that when it pleaseth him to lay his hand upon us, although we perceive not for what cause he doth it, yet we should glorify him continually, acknowledging him to be just and upright, and not to grudge against him.” [= Karena cerita yang ditulis di sini menunjukkan kepada kita, bahwa kita ada dalam tangan Allah, dan Dialah yang menentukan hidup kita, dan mengatur / membuangnya sesuai kehendakNya: dan merupakan kewajiban kita untuk menundukkan diri kita sendiri kepadaNya dengan segala kerendahan hati dan ketaatan: dan merupakan pertimbangan yang baik bahwa kita adalah milikNya sepenuhnya, baik hidup atau mati: dan khususnya pada waktu Ia berkenan untuk ‘meletakkan tanganNya atas kita’, sekalipun kita tidak mengerti mengapa Ia melakukan hal itu, tetapi kita harus memuliakan Dia secara terus menerus, mengakui Dia sebagai adil dan lurus / benar, dan tidak bersungut-sungut terhadap Dia.] - ‘Sermons on Job’, hal 1.

 

Calvin (tentang Ayub 1:21): “there is nothing better, than to submit ourselves unto God, and to suffer peaceably whatsoever he sendeth us, until he deliver us of his own mere goodness.” [= tidak ada yang lebih baik, dari pada menundukkan diri kita sendiri kepada Allah, dan memikul dengan tenang apapun yang Ia kirimkan kepada kita, sampai Ia membebaskan kita semata-mata karena kebaikanNya sendiri.] - ‘Sermons on Job’, hal 1.

 

Catatan: dalam kasus kita dirampok seperti Ayub, sekalipun kita harus percaya bahwa Allah menentukan dan mengatur terjadinya hal itu, dan karena itu kita harus sabar dsb, tetapi itu tidak berarti kita tidak boleh melaporkan hal itu kepada polisi dan mengusahakan supaya para perampok itu ditangkap dan dihukum, selama semuanya itu memungkinkan, demi tegaknya keadilan, dan juga supaya orang-orang lain tidak mengalami perampokan sebagaimana kita mengalaminya.

 

3. Daud dalam 2Sam 16:5-11.

2Sam 16:5-11 - “(5) Ketika raja Daud telah sampai ke Bahurim, keluarlah dari sana seorang dari kaum keluarga Saul; ia bernama Simei bin Gera. Sambil mendekati raja, ia terus-menerus mengutuk. (6) Daud dan semua pegawai raja Daud dilemparinya dengan batu, walaupun segenap tentara dan semua pahlawan berjalan di kiri kanannya. (7) Beginilah perkataan Simei pada waktu ia mengutuk: ‘Enyahlah, enyahlah, engkau penumpah darah, orang dursila! (8) TUHAN telah membalas kepadamu segala darah keluarga Saul, yang engkau gantikan menjadi raja, TUHAN telah menyerahkan kedudukan raja kepada anakmu Absalom. Sesungguhnya, engkau sekarang dirundung malang, karena engkau seorang penumpah darah.’ (9) Lalu berkatalah Abisai, anak Zeruya, kepada raja: ‘Mengapa anjing mati ini mengutuki tuanku raja? Izinkanlah aku menyeberang dan memenggal kepalanya.’ (10) Tetapi kata raja: ‘Apakah urusanku dengan kamu, hai anak-anak Zeruya? Biarlah ia mengutuk! Sebab apabila TUHAN berfirman kepadanya: Kutukilah Daud, siapakah yang akan bertanya: mengapa engkau berbuat demikian?’ (11) Pula kata Daud kepada Abisai dan kepada semua pegawainya: ‘Sedangkan anak kandungku ingin mencabut nyawaku, terlebih lagi sekarang orang Benyamin ini! Biarkanlah dia dan biarlah ia mengutuk, sebab TUHAN yang telah berfirman kepadanya demikian. (12) Mungkin TUHAN akan memperhatikan kesengsaraanku ini dan TUHAN membalas yang baik kepadaku sebagai ganti kutuk orang itu pada hari ini.’ (13) Demikianlah Daud melanjutkan perjalanannya dengan orang-orangnya, sedang Simei berjalan terus di lereng gunung bertentangan dengan dia dan sambil berjalan ia mengutuk, melemparinya dengan batu dan menimbulkan debu..

 

Maz 39:10 - Aku kelu, tidak kubuka mulutku, sebab Engkau sendirilah yang bertindak..

 

4. Yesus dalam Yoh 18:11 (ini contoh yang saya tambahkan).

Yoh 18:11 - Kata Yesus kepada Petrus: ‘Sarungkan pedangmu itu; bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepadaKu?’.

 

Bdk. Mat 26:52-54 - “(52) Maka kata Yesus kepadanya: ‘Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang. (53) Atau kausangka, bahwa Aku tidak dapat berseru kepada BapaKu, supaya Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku? (54) Jika begitu, bagaimanakah akan digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci, yang mengatakan, bahwa harus terjadi demikian?.

 

Calvin (tentang Yoh 18:11): “‘Shall I not drink the cup which my Father hath given to me?’ This appears to be a special reason why Christ ought to be silent, that he might be ‘led as a lamb to be sacrificed,’ (Isaiah 53:7;) but it serves the purpose of an example, for the same patience is demanded from all of us. Scripture compares afflictions to medicinal draughts; for, as the master of a house distributes meat and drink to his children and servants, so God has this authority over us, that he has a right to treat every one as he thinks fit; and whether he cheers us by prosperity, or humbles us by adversity, he is said to administer a sweet or a bitter draught. The draught appointed for Christ was, to suffer the death of the cross for the reconciliation of the world. He says, therefore, that he must ‘drink the cup which his Father’ measured out and delivered to him. In the same manner we, too, ought to be prepared for enduring the cross. [= ‘Bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepadaKu?’ Ini kelihatannya merupakan suatu alasan khusus mengapa Kristus harus diam, supaya Ia bisa ‘dibawa seperti anak domba untuk dikorbankan’, (Yes 53:7); tetapi itu juga berguna sebagai suatu contoh / teladan, karena kesabaran yang sama dituntut dari semua kita. Kitab Suci membandingkan penderitaan-penderitaan dengan cairan obat; karena, seperti Tuan dari sebuah rumah membagikan daging / makanan dan minuman kepada anak-anak dan pelayan-pelayannya, demikian juga Allah mempunyai otoritas ini atas kita, sehingga Ia mempunyai suatu hak untuk memperlakukan setiap kita seperti yang Ia anggap cocok; dan apakah Ia menggembirakan kita dengan kesuksesan / kekayaan, atau merendahkan kita dengan penderitaan / bencana, Ia dikatakan memberikan suatu minuman obat yang manis atau pahit. Cairan obat yang ditetapkan untuk Kristus adalah untuk menderita / mengalami kematian dari salib untuk pendamaian dunia. Karena itu, Ia mengatakan, bahwa Ia harus ‘meminum cawan yang BapaNya’ curahkan dan berikan kepadaNya. Dengan cara yang sama, kita juga harus disiapkan untuk menahan salib.].

 

3) Dalam keadaan bahaya / kritis, doktrin ini memberikan ketenangan kepada kita.

 

John Calvin: Secondly, they may safely rest in the protection of him to whose will are subject all the harmful things which, whatever their source, we may fear; whose authority curbs Satan with all his furies and his whole equipage; and upon whose nod depends whatever opposes our welfare. And we cannot otherwise correct or allay these uncontrolled and superstitious fears, which we repeatedly conceive at the onset of dangers. We are superstitiously timid, I say, if whenever creatures threaten us or forcibly terrorize us we become as fearful as if they had some intrinsic power to harm us, or might wound us inadvertently and accidentally, or there were not enough help in God against their harmful acts.[= Kedua, mereka bisa dengan aman beristirahat / bersandar pada perlindungan dari Dia, bagi kehendak siapa semua hal-hal yang membahayakan tunduk, yang apapun sumber mereka, bisa kita takuti; yang otoritasnya mengekang / mengendalikan Iblis dengan semua kemarahannya dan seluruh perlengkapannya; dan pada anggukan siapa tergantung apapun yang menentang kesejahteraan kita. Dan kalau tidak kita tidak bisa mengkoreksi atau menenangkan / mengurangi rasa takut yang tak terkontrol dan bersifat takhyul ini, yang berulang-ulang kita pikirkan pada permulaan dari bahaya-bahaya. Kita takut-takut secara takhyul, saya katakan, jika kapanpun makhluk-makhluk ciptaan mengancam kita atau secara kuat menteror kita, kita menjadi setakut seakan-akan mereka mempunyai suatu kuasa yang bersifat hakiki untuk merugikan kita, atau bisa melukai kita secara tidak sengaja dan secara kebetulan, atau di sana tidak ada pertolongan yang cukup dalam Allah terhadap tindakan-tindakan mereka yang merugikan / membahayakan.] - ‘Institutes of The Christian Religion’, Book I, Chapter XVI, no 3.

 

John Calvin: “Therefore the Christian heart, since it has been thoroughly persuaded that all things happen by God’s plan, and that nothing takes place by chance, will ever look to him as the principal cause of things, yet will give attention to the secondary causes in their proper place. Then the heart will not doubt that God’s singular providence keeps watch to preserve it, and will not suffer anything to happen but what may turn out to its good and salvation.[= Karena itu hati orang Kristen, karena itu telah secara mutlak / sepenuhnya diyakinkan bahwa segala sesuatu terjadi oleh rencana Allah, dan bahwa tak ada apapun yang terjadi oleh kebetulan, akan selalu memandang kepada Dia sebagai penyebab utama dari hal-hal, tetapi akan memberi perhatian pada penyebab-penyebab kedua dalam tempat mereka yang tepat. Karena itu hati itu tidak akan meragukan bahwa Providensia Allah yang bersifat individuil tetap menjaga untuk memeliharanya, dan tidak akan membiarkan apapun terjadi kecuali yang bisa menghasilkan / berakhir dengan kebaikan dan keselamatannya.] - ‘Institutes of The Christian Religion’, Book I, Chapter XVII, no 6.

 

John Calvin: 11. CERTAINTY ABOUT GOD’S PROVIDENCE PUTS JOYOUS TRUST TOWARD GOD IN OUR HEARTS. Yet, when that light of divine providence has once shone upon a godly man, he is then relieved and set free not only from the extreme anxiety and fear that were pressing him before, but from every care. For as he justly dreads fortune, so he fearlessly dares commit himself to God. His solace, I say, is to know that his Heavenly Father so holds all things in his power, so rules by his authority and will, so governs by his wisdom, that nothing can befall except he determine it.[= 11. Kepastian tentang Providensia Allah memberikan kepercayaan yang bersifat sukacita terhadap Allah dalam hati kita. Tetapi, pada waktu terang dari Providensia ilahi itu sekali telah bersinar pada seorang manusia yang saleh, maka ia dibebaskan dari kekuatiran dan dibebaskan bukan hanya dari kekuatiran dan rasa takut yang extrim yang tadinya menekan dia, tetapi dari setiap kekuatiran. Karena sebagaimana ia secara benar takut terhadap nasib, demikian juga ia dengan tanpa rasa takut berani menyerahkan dirinya sendiri kepada Allah. Penghiburannya, saya katakan, adalah mengetahui bahwa Bapa Surgawinya begitu memegang segala sesuatu dalam kuasaNya, begitu mengendalikan oleh otoritas dan kehendakNya, begitu memerintah oleh hikmatNya, sehingga tak ada apapun bisa menimpa kecuali Ia menentukannya.] - ‘Institutes of The Christian Religion’, Book I, Chapter XVII, no 11.

 

Misalnya anak saudara mengalami kecelakaan dan pendarahan yang parah. Ini dengan mudah membuat saudara menjadi kuatir, takut dan bahkan panik. Tetapi kalau pada saat itu saudara bisa mengingat dan mempercayai bahwa Allah toh sudah menetapkan segala sesuatu (termasuk apakah anak itu akan sembuh atau akan mati), dan bahwa Allah mengontrol segala sesuatu sehingga ketetapanNya itu pasti terjadi, maka saudara akan berhenti kuatir. Mengapa?

 

a) Karena kekuatiran toh tidak akan mengubah ketetapan Allah.

Bandingkan ini dengan Mat 6:27 - “Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?”.

 

b) Karena ketetapan Allah itu pasti ditujukan untuk kebaikan saudara (Ro 8:28  Yer 29:11). Tetapi ingat bahwa ini hanya berlaku kalau saudara adalah anak Allah.

 

Saudara memang tetap harus melakukan hal yang terbaik (dan benar!) untuk anak saudara itu, tetapi saudara bisa melakukannya dengan tenang.

 

4) Bisa mencegah kita dari tindakan berbuat dosa dalam ‘keadaan terpaksa’.

Contoh: Yesus sendiri dalam Mat 4:1-4.

 

Mat 4:1-4 - “(1) Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis. (2) Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus. (3) Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepadaNya: ‘Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.’ (4) Tetapi Yesus menjawab: ‘Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.’.

 

Ia digoda untuk mengubah batu menjadi roti. Kalau Yesus mau menuruti godaan itu, maka:

a) Ia menggunakan kekuatanNya untuk diriNya sendiri / secara egois.

b) Ia bersandar pada kekuatanNya dan usahaNya sendiri, bukan kepada BapaNya.

 

Yesus menolak godaan itu dengan berkata: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (Mat 4:4). Ada 2 penafsiran tentang arti dari kata-kata ‘setiap firman yang keluar dari mulut Allah’ ini:

 

1. Ini menunjuk pada Firman Allah atau pengajaran Kitab Suci.

Kalau diambil arti ini, maka seluruh jawaban Yesus itu maksudnya adalah: karena manusia terdiri dari tubuh dan jiwa / roh, maka manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi juga dari Firman Allah / pengajaran Kitab Suci.

Tetapi penafsiran ini rasanya tidak cocok dengan:

a.     Konteks Mat 4:3-4 / Luk 4:3-4.

Setan menyuruh Yesus mengubah batu menjadi roti, dan Yesus menjawab: manusia hidup bukan dari roti saja tetapi dari pengajaran Kitab Suci. Ini tidak cocok.

b. Ul 8:3 (dari mana Yesus mengutip kata-kata itu), yang lengkapnya berbunyi: “Jadi Ia merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna, yang tidak kaukenal dan yang juga tidak dikenal oleh nenek moyangmu, untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN.”.

Kalau kata-kata ‘segala yang diucapkan TUHAN’ itu diartikan pengajaran Kitab Suci, maka Ul 8:3 itu juga menjadi kacau artinya.

 

2. Ini menunjuk pada kehendak Allah (Calvin).

 

Calvin (tentang Mat 4:4): “In like manner, the Apostle says, that he ‘upholdeth all things by his powerful word’ (Hebrews 1:3;) that is, the whole world is preserved, and every part of it keeps its place, by the will and decree of Him, whose power, above and below, is everywhere diffused.” [=  Dengan cara yang sama, sang rasul berkata bahwa Ia ‘menopang segala yang ada dengan firmanNya yang penuh kekuasaan’ (Ibr 1:3); artinya, seluruh dunia / alam semesta dipelihara, dan setiap bagiannya dijaga pada tempatnya, oleh kehendak dan ketetapanNya, yang kuasaNya, di atas dan di bawah, tersebar dimana-mana.].

 

Ibr 1:3 - Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firmanNya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi,.

 

Maksud Calvin adalah: kalau kata ‘firman’ dalam Ibr 1:3 itu bisa diartikan ‘kehendak Allah’, maka dalam Mat 4:4 kata ini juga bisa ditafsirkan seperti itu.

 

Jadi maksud Yesus adalah: sekalipun tidak ada roti, kalau Allah menghendaki Ia hidup, Ia akan hidup. Penaf­siran ini lebih cocok dengan konteks Mat 4:3-4 maupun Ul 8:3!

 

Kalau kita menerima penafsiran Calvin ini, maka ini menunjukkan bahwa kepercayaan Yesus terhadap kehendak / rencana Allah itu ternyata berguna untuk mencegah Dia dari berbuat dosa sekalipun keadaan kelihatannya memaksa Dia untuk melakukan hal itu. Karena itu, pada waktu saudara ada dalam keadaan dimana saudara kelihatannya harus berbuat dosa, apakah itu mencuri, berdusta atau apapun juga, renungkan doktrin Providence of God ini!

 

Karena adanya manfaat-manfaat yang luar biasa itu maka doktrin Providence of God ini harus diajarkan!!

 

Loraine Boettner: The doctrine of sovereign Predestination, as well as the other distinctive doctrines of the Calvinistic system, should be publicly taught and preached in order that true believers may know themselves to be special objects of God’s love and mercy, and that they may be confirmed and strengthened in the assurance of their salvation. What a misfortune it is for the truth which reflects so much glory upon its Author and which is the very foundation of happiness in man to be suppressed or to be confined merely to those who are specializing in Theology! For the Christian this should be one of the most comforting doctrines in all the Scriptures. Furthermore, there is scarcely a distinctive Christian doctrine that can be preached in its purity and fullness without a reference to Predestination. ... Concerning the place of the doctrine of Predestination in the Christian system, Zanchius writes as follows: ‘The whole circle of arts have a kind of mutual bond and connection, and by a sort of reciprocal relationship are held together and interwoven with each other. Much the same may be said of this important doctrine; it is the bond which connects and keeps together the whole Christian system, which, without this, is like a system of sand, ever ready to fall to pieces. It is the cement which holds the fabric together; nay, it is the very soul that animates the whole frame. It is so blended and interwoven with the entire scheme of Gospel doctrine that when the former is excluded, the latter bleeds to death.’ We are commanded to go and ‘preach the gospel’; but in so far as any part of it is mutilated or passed over in silence we are unfaithful to that command. Certainly no Christian minister is at liberty to take his scissors and cut out of his Bible all of those passages which are not to his liking. Yet for all practical purposes is not that the effect when important doctrines are deliberately passed over in silence? Paul could say to his Christian converts, ‘I shrank not from declaring unto you anything that was profitable’; and again, ‘I testify unto you this day, that I am pure from the blood of all men. For I shrank not from declaring unto you the whole counsel of God,’ Acts 20:20, 26, 27. If the Christian minister today would be able to say this, let him beware of withholding such important truth. ... Augustine rebuked those in his day who were passing over the doctrine of Predestination in silence, and when he was sometimes charged with preaching it too freely he refuted the charge by saying that where Scripture leads we may follow. Luther, and especially Calvin, strongly emphasized these truths, and Calvin developed them so clearly and forcefully that the system has ever since been called ‘Calvinism.’ ... It was Calvin’s conviction that the doctrine of Election should be made the very center of the Church’s confession, and that if it were not thus emphasized the Church should be prepared to see this wonderful doctrine buried and forgotten. The correctness of his views is shown by the fact that those groups which did not emphasize it, whether in England, Scotland, Holland, the United States, or Canada, have, for all practical purposes, lost it completely. [= Doktrin dari / tentang Predestinasi yang berdaulat, maupun doktrin-doktrin khas yang lain dari sistim Calvinisme, harus diajarkan dan diberitakan / dikhotbahkan secara umum, supaya orang-orang percaya yang sejati bisa mengetahui bahwa diri mereka sendiri adalah obyek-obyek khusus dari kasih dan belas kasihan Allah, dan bahwa mereka bisa diteguhkan dan dikuatkan dalam keyakinan keselamatan mereka. Betul-betul merupakan suatu kesialan jika kebenaran yang menyatakan / membawa begitu banyak kemuliaan bagi Penciptanya dan yang merupakan dasar kebahagiaan dalam diri manusia harus ditekan atau dibatasi semata-mata untuk mereka yang mengkhususkan diri dalam Theologia! Bagi orang Kristen doktrin ini harus menjadi salah satu dari doktrin-doktrin yang paling menghibur dalam seluruh Kitab Suci. Selanjutnya, di sana hampir tidak ada suatu doktrin Kristen yang khas yang bisa diberitakan / dikotbahkan dalam kemurnian dan kepenuhannya tanpa suatu hubungan dengan Predestinasi. ... Berkenaan dengan tempat dari doktrin Predestinasi dalam sistim Kristen, Zanchius menulis sebagai berikut: ‘Seluruh lingkungan / lingkaran dari seni mempunyai sejenis ikatan dan hubungan timbal balik, dan oleh sejenis hubungan timbal balik digabungkan bersama-sama dan dijalin satu dengan yang lain. Secara sama bisa dikatakan tentang doktrin yang penting ini; itu adalah ikatan yang menghubungkan dan menjaga bersama-sama seluruh sistim Kristen, yang tanpa ini, adalah seperti suatu sistim dari tanah, selalu siap untuk hancur berkeping-keping. Itu adalah semen yang memegang fondasi bersama; tidak, itu adalah jiwa yang menghidupkan seluruh struktur. Itu begitu dicampur dan dijalin dengan seluruh skhema dari doktrin Injil sehingga pada waktu yang terdahulu dikeluarkan / dibuang, yang belakangan mengalami pendarahan sampai mati’. Kita diperintahkan untuk pergi dan ‘memberitakan Injil’; tetapi jika bagian manapun darinya dipotong atau dilewati secara ke-diam-an, kita tidak setia pada perintah itu. Pastilah tak ada pelayan / pendeta Kristen yang bebas untuk mengambil guntingnya dan memotong dari Alkitabnya semua text-text yang tidak sesuai dengan kesenangannya. Tetapi secara hakiki, bukankah itu adalah hasilnya pada waktu doktrin-doktrin penting secara sengaja dilewati dalam ke-diam-an? Paulus bisa berkata kepada petobat-petobat Kristennya, ‘Aku tidak mengkerut / takut dari menyatakan kepadamu apapun yang berguna’; dan lagi, ‘Aku bersaksi kepadamu hari ini, bahwa aku murni dari darah dari semua orang. Karena aku tidak mengkerut / takut dari menyatakan kepadamu seluruh rencana Allah’, Kisah 20:20,26,27. Jika pelayan / pendeta Kristen jaman sekarang bisa mengatakan hal ini, hendaklah ia berhati-hati dari / tentang menahan kebenaran yang begitu penting. ... Agustinus mencela / memarahi mereka pada jamannya yang melewati doktrin Predestinasi dalam ke-diam-an, dan pada waktu ia kadang-kadang dituduh dengan memberitakannya secara terlalu bebas, ia membantah tuduhan itu dengan mengatakan bahwa dimana Kitab Suci membimbing, kita bisa / boleh mengikut. Luther, dan khususnya Calvin, secara kuat menekankan kebenaran-kebenaran ini, dan Calvin mengembangkan mereka dengan begitu jelas dan kuat sehingga sistim itu sejak saat itu disebut ‘Calvinisme’. ... Merupakan keyakinan Calvin bahwa doktrin tentang Pemilihan harus dibuat menjadi pusat dari pengakuan iman Gereja, dan bahwa seandainya itu tidak ditekankan seperti itu Gereja harus siap untuk melihat doktrin yang luar biasa / sangat bagus ini dikubur dan dilupakan. Kebenaran dari pandangannya ditunjukkan oleh fakta bahwa kelompok-kelompok yang tidak menekankannya itu, apakah di Inggris, Skotlandia, Belanda, Amerika Serikat, atau Kanada, secara hakiki, kehilangan doktrin itu sama sekali.] - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 344,345,346.

 

Kis 20:20,26-27 - (20) Sungguhpun demikian aku tidak pernah melalaikan apa yang berguna bagi kamu. Semua kuberitakan dan kuajarkan kepada kamu, baik di muka umum maupun dalam perkumpulan-perkumpulan di rumah kamu; ... (26) Sebab itu pada hari ini aku bersaksi kepadamu, bahwa aku bersih, tidak bersalah terhadap siapapun yang akan binasa. (27) Sebab aku tidak lalai memberitakan seluruh maksud Allah kepadamu..

 

Loraine Boettner melanjutkan dengan suatu peringatan!

 

Loraine Boettner: The doctrine of Predestination is a doctrine for genuine Christians. Considerable caution should be exercised in preaching it to the unconverted. It is almost impossible to convince a non-Christian of its truthfulness, and in fact the heart of the unregenerate man usually revolts against it. If it is stressed before the simpler truths of the Christian system are mastered, it will likely be misunderstood and in that case it may only drive the person into deeper despair. In preaching to the unconverted or to those who are just beginning the Christian life, our part consists mainly in presenting and stressing man’s part in the work of salvation, - faith, repentance, moral reform, etc. These are the elementary steps so far as man’s consciousness extends. At that early stage little need be said about the deeper truths which relate to God’s part. As in the study of Mathematics we do not begin with algebra and calculus but with the simple problems of arithmetic, so here the better way is to first present the more elementary truths. Then after the person is saved and has traveled some distance in the Christian way he comes to see that in his salvation God’s work was primary and his was only secondary, that he was saved through grace and not by his own works. As Calvin himself put it, the doctrine of Predestination is ‘not a matter for children to think much about’; and Strong says, ‘This doctrine is one of those advanced teachings of Scripture which requires for its understanding a mature mind and a deep experience. The beginner in the Christian life may not see its value or even its truth, but with increasing years it will become a staff to lean upon.’ But while it is true that this doctrine cannot be adequately appreciated by the unconverted nor by those who are just beginning the Christian life, it should be the common property of all those who have traveled some distance in that way. It is worthy of notice that in developing his ‘Institutes’ Calvin did not treat the doctrine of Predestination in the early chapters. He first developed the other doctrines of the Christian system and deliberately passed over this even in several cases where we might naturally have expected to find it. Then in the last part of his theological discussion it is developed fully and is made the crown and glory of the entire system. [= Doktrin Predestinasi adalah suatu doktrin bagi orang-orang Kristen yang sejati / asli. Sikap hati-hati yang besar harus digunakan dalam memberitakannya kepada orang-orang yang belum bertobat. Adalah hampir mustahil untuk meyakinkan seorang non Kristen tentang kebenarannya, dan sebenarnya hati dari orang yang belum dilahir-barukan biasanya memberontak terhadapnya / menentangnya. Jika doktrin ini ditekankan sebelum kebenaran-kebenaran yang lebih sederhana dari sistim Kristen dikuasai, itu sangat mungkin akan disalah-mengerti, dan dalam kasus itu, itu hanya akan mendorong orang itu pada keputus-asaan yang lebih dalam. Dalam memberitakan kepada orang-orang yang belum bertobat atau kepada mereka yang sedang baru memulai kehidupan Kristen, bagian kita terutama terdiri dari memberikan / memperkenalkan dan menekankan bagian manusia dalam pekerjaan keselamatan, - iman, pertobatan, reformasi moral, dsb. Ini adalah langkah-langkah dasar sejauh yang dijangkau oleh kesadaran manusia. Pada tingkat awal itu sedikit yang perlu dikatakan tentang kebenaran-kebenaran yang lebih dalam yang berhubungan dengan bagian Allah. Seperti dalam pelajaran Matematik kita tidak memulai dengan Aljabar dan Kalkulus tetapi dengan problem-problem yang sederhana dari Aritmatika, demikian juga di sini cara yang lebih baik adalah pertama-tama memberikan kebenaran-kebenaran yang lebih bersifat dasari. Lalu setelah orang itu diselamatkan dan telah berjalan pada jarak tertentu dalam jalan Kristen ia bisa melihat bahwa dalam keselamatannya pekerjaan Allah bersifat primer dan pekerjaannya hanya bersifat sekunder, bahwa ia diselamatkan melalui kasih karunia dan bukan oleh pekerjaannya sendiri. Seperti Calvin sendiri menyatakannya, doktrin Predestinasi ‘bukanlah suatu persoalan untuk anak-anak untuk berpikir banyak tentangnya’; dan Strong berkata, ‘Doktrin ini adalah salah satu dari ajaran-ajaran Kitab Suci lanjutan yang untuk pengertiannya membutuhkan suatu pikiran yang matang dan suatu pengalaman yang dalam. Pemula dalam hidup Kristen bisa tidak melihat nilainya atau bahkan kebenarannya, tetapi dengan bertambahnya tahun-tahun itu menjadi suatu tongkat untuk bersandar’. Tetapi sekalipun adalah benar bahwa doktrin ini tidak bisa dihargai secara cukup oleh orang-orang yang belum bertobat ataupun oleh mereka yang baru memulai kehidupan Kristen, itu harus menjadi milik umum dari semua mereka yang telah berjalan dalam jarak tertentu dalam jalan itu. Patut diperhatikan bahwa dalam mengembangkan ‘Institusio’nya Calvin tidak menangani doktrin Predestinasi dalam pasal-pasal awal. Ia mula-mula mengembangkan doktrin-doktrin yang lain dari sistim Kristen dan secara sengaja melewati doktrin ini bahkan dalam beberapa kasus dimana kita secara wajar bisa telah mengharapkan untuk menemukannya. Lalu dalam bagian terakhir dari diskusi theologianya itu dikembangkan secara penuh dan dibuat sebagai mahkota dan kemuliaan dari seluruh sistim.] - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 348-349.

 

 

-o0o-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : buas22@yahoo.com

e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com

http://golgothaministry.org