Golgotha School of Ministry

 

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

 

Rabu, tgl 5 September 2018, pk 19.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

Providence of God (28)

 

2) Pada saat kita mengalami penderitaan, kesedihan, bahkan penganiayaan dan kejahatan orang lain terhadap diri kita, dsb, kita harus ingat bahwa segala sesuatu terjadi karena kehendak / Rencana Allah (bdk. Kej 50:20  Ayub 1:21  Yoh 18:11), dan kita juga harus percaya bahwa semua itu terjadi untuk kebaikan kita yang adalah anak-anakNya / orang pilihanNya (bdk. Ro 8:28).

 

Kej 50:20 - Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar..

 

Ayub 1:21 - katanya: ‘Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!’.

 

Yoh 18:11 - Kata Yesus kepada Petrus: ‘Sarungkan pedangmu itu; bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepadaKu?.

 

Ro 8:28 - Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah..

 

Charles Haddon Spurgeon: “All events are under the control of Providence; consequently all the trials of our outward life are traceable at once to the great First Cause.” [= Semua peristiwa ada di bawah kontrol dari Providensia; dan karenanya semua pencobaan dari kehidupan luar / lahiriah kita bisa langsung diikuti jejaknya sampai kepada sang Penyebab Pertama yang agung.] - ‘Morning and Evening’, September 3, evening.

 

Calvin (tentang Kej 50:20): “Let the impious busy themselves as they please, let them rage, let them mingle heaven and earth; yet they shall gain nothing by their ardour; and not only shall their impetuosity prove ineffectual, but shall be turned to an issue the reverse of that which they intended, so that they shall promote our salvation, though they do it reluctantly. So that whatever poison Satan produces, God turns it into medicine for his elect.” [= Biarlah orang jahat menyibukkan diri mereka sendiri semau mereka, biarlah mereka marah, biarlah mereka mencampur-adukkan langit dan bumi; tetapi mereka tidak akan mendapatkan keuntungan apapun oleh semangat mereka; dan bukan hanya tindakan tanpa berpikir dari mereka terbukti tidak berhasil, tetapi akan dibalikkan pada suatu hasil yang berlawanan dengan yang mereka maksudkan, sehingga mereka akan memajukan keselamatan kita, sekalipun mereka melakukan hal itu dengan segan. Sehingga apapun racun yang dihasilkan oleh Setan, Allah membalikkannya menjadi obat untuk orang pilihanNya.] - hal 488.

 

Calvin (tentang Ro 8:28): “so far are the troubles of this life from hindering our salvation, that, on the contrary, they are helps to it.” [= begitu jauhnya kesukaran-kesukaran hidup ini dari pada menghalangi keselamatan kita, sehingga sebaliknya, mereka adalah pertolongan bagi keselamatan itu.] - hal 314.

 

Calvin (tentang Ro 8:28): “Though the elect and the reprobate are indiscriminately exposed to similar evils, there is yet a great difference; for God trains up the faithful by afflictions, and thereby promotes their salvation.” [= Sekalipun orang pilihan dan orang yang ditentukan untuk binasa tanpa pandang bulu terbuka terhadap bencana yang sama, tetapi ada perbedaan yang besar; karena Allah melatih / mendidik orang setia / percaya menggunakan penderitaan-penderitaan, dan dengan demikian memajukan keselamatan mereka.] - hal 315.

 

Kalau kita bisa melihat dan mempercayai bahwa segala penderitaan yang disebabkan oleh siapapun kepada kita, yang adalah anak-anak Allah, bisa terjadi karena Rencana dan Providensia Allah, dan pasti ditujukan untuk kebaikan kita, maka:

 

a) Ini akan merupakan penghiburan yang luar biasa di tengah-tengah segala penderitaan / kesedihan.

 

John Owen: “Amidst all our afflictions and temptations, under whose pressure we should else faint and despair, it is no small comfort to be assured that we do nor can suffer nothing but what his hand and counsel guides unto us, what is open and naked before his eyes, and whose end and issue he knoweth long before; which is a strong motive to patience, a sure anchor of hope, a firm ground of consolation.” [= Di tengah-tengah semua penderitaan dan pencobaan, yang tekanannya bisa membuat kita lemah / takut dan putus asa, bukan penghiburan kecil untuk yakin bahwa kita tidak bisa menderita apapun kecuali apa yang tangan dan rencanaNya pimpin kepada kita, yang adalah terbuka dan telanjang di depan mataNya, dan yang akhirnya dan hasilnya Ia ketahui jauh sebelumnya; yang merupakan suatu motivasi yang kuat pada kesabaran, suatu jangkar pengharapan yang pasti, suatu dasar penghiburan yang teguh.] - ‘The Works of John Owen’, vol 10, hal 29.

 

John Calvin: 10. WITHOUT CERTAINTY ABOUT GOD’S PROVIDENCE LIFE WOULD BE UNBEARABLE. Hence appears the immeasurable felicity of the godly mind. Innumerable are the evils that beset human life; innumerable, too, the deaths that threaten it. We need not go beyond ourselves: since our body is the receptacle of a thousand diseases - in fact holds within itself and fosters the causes of diseases - a man cannot go about unburdened by many forms of his own destruction, and without drawing out a life enveloped, as it were, with death. For what else would you call it, when he neither freezes nor sweats without danger? Now, wherever you turn, all things around you not only are hardly to be trusted but almost openly menace, and seem to threaten immediate death. Embark upon a ship, you are one step away from death. Mount a horse, if one foot slips, your life is imperiled. Go through the city streets, you are subject to as many dangers as there are tiles on the roofs. If there is a weapon in your hand or a friend’s, harm awaits. All the fierce animals you see are armed for your destruction. But if you try to shut yourself up in a walled garden, seemingly delightful, there a serpent sometimes lies hidden. Your house, continually in danger of fire, threatens in the daytime to impoverish you, at night even to collapse upon you. Your field, since it is exposed to hail, frost, drought, and other calamities, threatens you with barrenness, and hence, famine. I pass over poisonings, ambushes, robberies, open violence, which in part besiege us at home, in part dog us abroad. Amid these tribulations must not man be most miserable, since, but half alive in life, he weakly draws his anxious and languid breath, as if he had a sword perpetually hanging over his neck? You will say: these events rarely happen, or at least not all the time, nor to all men, and never all at once. I agree; but since we are warned by the examples of others that these can also happen to ourselves, and that our life ought not to be excepted any more than theirs, we cannot but be frightened and terrified as if such events were about to happen to us. What, therefore, more calamitous can you imagine than such trepidation? Besides that, if we say that God has exposed man, the noblest of creatures, to all sorts of blind and heedless blows of fortune, we are not guiltless of reproaching God. But here I propose to speak only of that misery which man will feel if he is brought under the sway of fortune. [= 10. Tanpa kepastian tentang Providensia Allah hidup akan tak tertahankan. Karena itu terlihat kebahagiaan yang tak terukur dari pikiran yang saleh. Tak terhitung banyaknya kejahatan-kejahatan / bencana-bencana yang menyerang / mengelilingi kehidupan manusia; dan tak terhitung juga kematian-kematian yang mengancamnya. ... Kamu akan berkata: peristiwa-peristiwa ini jarang terjadi, atau setidaknya tidak pada setiap waktu, atau pada setiap orang, dan tidak pernah semuanya pada satu saat. Saya setuju; tetapi karena kita diperingatkan oleh contoh-contoh dari orang-orang lain bahwa hal-hal ini juga bisa terjadi pada diri kita sendiri, dan bahwa hidup kita seharusnya tidak lebih dikecualikan dari hidup mereka, kita tidak bisa bersikap lain kecuali takut seakan-akan peristiwa-peristiwa seperti itu akan terjadi pada diri kita. Karena itu, hal yang lebih menyebabkan bencana apa yang bisa kamu bayangkan dari pada rasa takut / gemetar seperti itu? Disamping itu, jika kami katakan bahwa Allah telah membuka manusia, yang paling mulia dari semua makhluk ciptaan, terhadap semua jenis dari hembusan nasib yang buta dan ceroboh / tak punya pikiran, kita bukannya tanpa salah tentang mengkritik Allah. Tetapi di sini saya bermaksud untuk berbicara hanya tentang keadaan penderitaan yang manusia akan rasakan jika ia dibawa di bawah pemerintahan dari nasib.] - ‘Institutes of The Christian Religion’, Book I, Chapter XVII, no 10.

 

Catatan: bagian yang saya beri garis bawah ganda tidak saya terjemahkan, karena hanya merupakan contoh-contoh yang Calvin berikan yang menunjukkan bermacam-macam bencana yang bisa menimpa kita dimanapun kita berada dan apapun yang kita lakukan.

 

John Calvin: 11. CERTAINTY ABOUT GOD’S PROVIDENCE PUTS JOYOUS TRUST TOWARD GOD IN OUR HEARTS. Yet, when that light of divine providence has once shone upon a godly man, he is then relieved and set free not only from the extreme anxiety and fear that were pressing him before, but from every care. For as he justly dreads fortune, so he fearlessly dares commit himself to God. His solace, I say, is to know that his Heavenly Father so holds all things in his power, so rules by his authority and will, so governs by his wisdom, that nothing can befall except he determine it. Moreover, it comforts him to know that he has been received into God’s safekeeping and entrusted to the care of his angels, and that neither water, nor fire, nor iron can harm him, except in so far as it pleases God as governor to give them occasion.[= 11. Kepastian tentang Providensia Allah memberikan kepercayaan yang bersifat sukacita terhadap Allah dalam hati kita. Tetapi, pada waktu terang dari Providensia ilahi itu sekali telah bersinar pada seorang manusia yang saleh, maka ia dibebaskan dari kekuatiran dan dibebaskan bukan hanya dari kekuatiran dan rasa takut yang extrim yang tadinya menekan dia, tetapi dari setiap kekuatiran. Karena sebagaimana ia secara benar takut terhadap nasib, demikian juga ia dengan tanpa rasa takut berani menyerahkan dirinya sendiri kepada Allah. Penghiburannya, saya katakan, adalah mengetahui bahwa Bapa Surgawinya begitu memegang segala sesuatu dalam kuasaNya, begitu mengendalikan oleh otoritas dan kehendakNya, begitu memerintah oleh hikmatNya, sehingga tak ada apapun bisa menimpa kecuali Ia menentukannya. Lebih lagi / selanjutnya, merupakan sesuatu yang menghibur dia untuk mengetahui bahwa ia telah diterima ke dalam perlindungan Allah dan dipercayakan pada pemeliharaan dari malaikat-malaikatNya, dan bahwa tak ada air, atau api, atau besi bisa menyakiti / melukai dia, kecuali sejauh itu memperkenan Allah sebagai pemerintah memberi mereka kesempatan.] - ‘Institutes of The Christian Religion’, Book I, Chapter XVII, no 11.

 

Sebetulnya memang hanya ada dua kemungkinan:

1. Segala sesuatu tergantung Allah (Rencana dan ProvidensiaNya).

2.     Segala sesuatu tergantung nasib yang buta.

 

Orang Arminian / non Reformed yang menolak yang no 1, tidak bisa tidak memilih no 2. Yang tak setuju dengan ini, coba berikan alternatifnya. Kalau bukan tergantung Allah maupun nasib yang buta, lalu tergantung apa???

 

Orang yang percaya no 2, dan ini adalah orang Arminian / non Reformed, tak mungkin bisa hidup tenang. Dimanapun ia berada dan apapun yang dia lakukan, dia akan takut / kuatir, karena bencana apapun bisa menimpa tanpa pemberitahuan.

 

Tetapi orang yang percaya no 1, dan ini adalah orang Reformed, bisa hidup dengan tenang dan sukacita, karena percaya semua ada dalam tangan Bapa, yang mengasihinya, dan melakukan segala sesuatu untuk kebaikannya.

 

Loraine Boettner: “Although the sovereignty of God is universal and absolute, it is not the sovereignty of blind power. It is coupled with infinite wisdom, holiness and love. And this doctrine, when properly understood, is a most comforting and reassuring one. Who would not prefer to have his affairs in the hands of a God of infinite power, wisdom, holiness and love, rather than to have them left to fate, or chance, or irrevocable natural law, or to short-sighted and perverted self? Those who reject God’s sovereignty should consider what alternatives they have left.” [= Sekalipun kedaulatan Allah itu bersifat universal dan mutlak, tetapi itu bukanlah kedaulatan dari kuasa yang buta. Itu digabungkan dengan kebijaksanaan, kekudusan dan kasih yang tidak terbatas. Dan doktrin ini, jika dimengerti dengan tepat, adalah doktrin yang paling menghibur dan menenteramkan. Siapa yang tidak lebih menghendaki perkaranya ada dalam tangan Allah yang mempunyai kuasa, kebijaksanaan, kekudusan dan kasih yang tidak terbatas, dari pada menyerahkannya pada nasib / takdir, atau kebetulan, atau hukum alam yang tidak bisa dibatalkan, atau pada diri sendiri yang cupet dan sesat? Mereka yang menolak kedaulatan Allah harus mempertimbangkan alternatif-alternatif lain yang tersisa / ada.] - hal 32.

 

b) Ini juga bisa membuat kita lebih tenang / sabar dalam penderitaan, lebih sabar / tidak mendendam, dan lebih mudah mengampuni terhadap orang yang menyebabkan penderitaan itu bagi kita.

 

John Calvin: If Joseph had stopped to dwell upon his brothers’ treachery, he would never have been able to show a brotherly attitude toward them. But since he turned his thoughts to the Lord, forgetting the injustice, he inclined to gentleness and kindness, even to the point of comforting his brothers and saying: ‘It is not you who sold me into Egypt, but I was sent before you by God’s will, that I might save your life’ (Genesis 45:5, 7-8 p.). ‘Indeed you intended evil against me, but the Lord turned it into good.’ (Genesis 50:20, cf. Vg.) If Job had turned his attention to the Chaldeans, by whom he was troubled, he would immediately have been aroused to revenge; but because he at once recognized it as the Lord’s work, he comforts himself with this most beautiful thought: ‘The Lord gave, the Lord has taken away; blessed be the name of the Lord’ (Job 1:21). Thus David, assailed with threats and stones by Shimei, if he had fixed his eyes upon the man, would have encouraged his men to repay the injury; but because he knows that Shimei does not act without the Lord’s prompting, he rather appeases them: ‘Let him alone,’ he says, ‘because the Lord has ordered him to curse’ (2 Samuel 16:11). By this same bridle he elsewhere curbs his inordinate sorrow: ‘I have kept silence and remained mute,’ says he, ‘because thou hast done it, O Jehovah’ (Psalm 39:9 p.). ... To sum this up: when we are unjustly wounded by men, let us overlook their wickedness (which would but worsen our pain and sharpen our minds to revenge), remember to mount up to God, and learn to believe for certain that whatever our enemy has wickedly committed against us was permitted and sent by God’s just dispensation.[= Seandainya Yusuf berhenti pada pengkhianatan saudara-saudaranya, ia tidak akan pernah bisa menunjukkan suatu sikap persaudaraan terhadap mereka. Tetapi karena ia mengarahkan pikirannya kepada Tuhan, sambil melupakan ketidak-adilan, ia cenderung pada kelembutan dan kebaikan, bahkan sampai pada titik menghibur saudara-saudaranya dan berkata: ‘Bukanlah kamu yang menjual aku ke Mesir, tetapi aku diutus sebelum / di depan kamu oleh kehendak Allah, supaya aku bisa menyelamatkan nyawa / kehidupanmu’ (Kej 45:5,7-8). ‘Memang kamu mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Tuhan membalikkannya menjadi kebaikan’. (Kej 50:20, bdk. Vulgate). Seandainya Ayub mengarahkan perhatiannya kepada orang-orang Kasdim, oleh siapa ia diganggu, ia sudah akan segera dibangkitkan pada pembalasan; tetapi karena ia segera mengenalinya sebagai pekerjaan Tuhan, ia menghibur dirinya sendiri dengan pemikiran yang paling indah ini: ‘Tuhan memberikan, Tuhan telah mengambil; terpujilah nama Tuhan’ (Ayub 1:21). Demikian juga Daud, diserang dengan ancaman-ancaman dan batu-batu oleh Simei, seandainya ia mengarahkan matanya pada orang itu, ia sudah akan mendorong orang-orangnya untuk membalas kerugian / luka itu; tetapi karena ia tahu bahwa Simei tidak bertindak tanpa dorongan Tuhan, ia sebaliknya menenangkan mereka: ‘Biarkanlah dia’, ia berkata, ‘karena Tuhan telah memerintahkannya untuk mengutuk’ (2Sam 16:11). Oleh kekang yang sama ini di tempat lain ia mengendalikan kesedihannya yang melampaui batas: ‘Aku telah berdiam diri dan tetap membisu’, katanya, ‘karena Engkau telah melakukannya, Ya Yehovah’ (Maz 39:10). ... Menyimpulkan semua ini: pada waktu kita dilukai secara tidak adil oleh manusia, hendaklah kita mengabaikan kejahatan mereka (yang hanya akan memperburuk rasa sakit kita dan mempertajam pikiran kita untuk membalas), mengingat untuk naik kepada Allah, dan belajar untuk percaya secara pasti bahwa apapun yang musuh kita telah lakukan secara jahat terhadap kita diijinkan dan dikirim oleh pengaturan yang adil dari Allah.] - ‘Institutes of The Christian Religion’, Book I, Chapter XVII, no 8.

 

 

 

-bersambung-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : buas22@yahoo.com

e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com

http://golgothaministry.org