Golgotha School of Ministry

 

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

 

Rabu, tgl 15 Agustus 2018, pk 19.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

Providence of God (26)

 

b) Bagaimana pandangan kita terhadap orang yang menganggap diri bukan Arminian ataupun Calvinist / Reformed?

 

Loraine Boettner: It must be evident that there are just two theories which can be maintained by evangelical Christians upon this important subject; that all men who have made any study of it, and who have reached any settled conclusions regarding it, must be either Calvinists or Arminians. There is no other position which a ‘Christian’ can take. Those who deny the sacrificial nature of Christ’s death turn to a system of self-salvation or naturalism, and cannot be called ‘Christians’ in the historical and only proper sense of the term. [= Haruslah jelas / dimengerti bahwa di sana hanya ada dua teori yang bisa diterima / dipertahankan oleh orang-orang Kristen Injili tentang pokok yang penting ini; bahwa semua orang yang telah mempelajarinya, dan yang telah mencapai kesimpulan yang tetap mengenainya, harus adalah atau orang-orang Calvinist atau orang-orang Arminian. Di sana tidak ada posisi lain yang bisa diambil / diterima oleh seorang ‘Kristen’. Mereka yang menyangkal hakekat dari kematian Kristus yang bersifat pengorbanan berbalik pada suatu sistim keselamatan oleh diri sendiri atau naturalisme, dan tidak bisa disebut ‘orang-orang Kristen’ dalam arti yang bersifat sejarah dan satu-satunya arti yang tepat dari istilah itu.] - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 333.

 

Catatan: dua teori yang lain adalah Pelagianisme, dan Semi-Pelagianisme, dan keduanya tidak bisa dianggap sebagai kristen / injili, karena dipercaya bahwa perbuatan baik menyelamatkan, atau punya andil dalam menyelamatkan. Keduanya kita anggap sebagai ajaran sesat.

 

Catatan: sebetulnya berkenaan dengan doktrin keselamatan, ada 2 pandangan sesat yang lain, yaitu Universalisme dan Pluralisme.

 

Loraine Boettner: Universalism, - which holds that Christ died for all men and that eventually all shall be saved, either in this life or through a future probation. This view perhaps makes the strongest appeal to our feelings, but is un-Scriptural, and has never been held by an organized Christian church. [= Universalisme, - yang mempercayai bahwa Kristus mati untuk semua orang dan bahwa pada akhirnya semua akan diselamatkan, atau dalam kehidupan ini atau melalui suatu masa percobaan yang akan datang. Pandangan ini mungkin membuat daya tarik terkuat pada perasaan kita, tetapi adalah tidak Alkitabiah, dan tidak pernah dipercayai oleh suatu gereja Kristen yang terorganisir.] - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 47.

 

Sedangkan Pluralisme, yang mempercayai bahwa selain Kristus ada jalan-jalan yang lain (agama-agama lain), harus dianggap sebagai termasuk dalam Pelagianisme, yang jelas mempercayai keselamatan karena perbuatan baik.

 

Sekarang mari kita melihat konfrontasi antara Agustinus dan Pelagius, pada awal abad 5 M., yang akhirnya menyebabkan adanya 4 pandangan:

 

1. Pelagianisme.

 

2. Augustinianisme. Ini boleh dikatakan sama dengan Calvinisme / Reformed.

 

3. Pandangan-pandangan di antara kedua pandangan itu, yaitu:

 

a. Semi-Pelagianisme. Ini seperti Katolik.

 

b. Semi-Augustinianisme. Ini yang menjadi Arminianisme.

 

Konfrontasi Agustinus vs Pelagius.

 

Pelagius adalah seorang biarawan Inggris, yang datang ke Roma sekitar tahun 400 M, dan tinggal di Roma selama beberapa tahun. Ia sangat terkejut melihat moral yang begitu rendah di sana, dan ia mulai berusaha untuk mendesak Roma supaya memperbaiki diri mereka. Ia menekankan tanggung jawab dan kemampuan manusia. Ia menolak doktrin tentang dosa asal dan akibatnya pada manusia. Ia berpendapat bahwa semua manusia ada dalam kondisi seperti Adam yang mempunyai kebebasan untuk berbuat dosa atau tidak berbuat dosa. Ia percaya bahwa Allah tidak memilih (Predestinasi), kuasa memilih ada dalam diri manusia. Allah mengirimkan Yesus untuk menunjukkan jalan, dan semua manusia diberi Allah kekuatan sehingga mempunyai kekuatan untuk mengikuti. Pelagius ‘memenangkan jiwa’ seorang yang bernama Caelestius, yang pada tahun 412 M dikecam sebagai bidat dan dikucilkan oleh Synod setempat, karena pandangan sesatnya yang menyatakan bahwa:

 

1. Adam akan mati sekalipun tidak berdosa.

 

2. Dosa Adam hanya berakibat negatif pada dirinya sendiri dan tidak pada seluruh umat manusia.

 

3. Bayi yang baru lahir ada dalam keadaan seperti Adam sebelum jatuh ke dalam dosa.

 

4. Bukan karena dosa atau oleh Adam maka seluruh umat manusia mati, dan bukan oleh kebangkitan (Yesus) maka semua dibangkitkan.

 

5. Taurat maupun Injil membawa manusia pada Kerajaan Allah. Seseorang bisa masuk surga dengan mentaati hukum Taurat.

 

6. Bahkan sebelum Kristus, ada orang yang hidup suci / tanpa dosa.

 

Ini jelas bertentangan dengan pandangan Agustinus, yang berpendapat bahwa:

 

1. Pada waktu Adam yang suci itu jatuh ke dalam dosa, semua manusia yang diturunkannya dengan cara biasa, jatuh ke dalam dosa dengan dia.

 

2. Karena kejatuhan Adam dan adanya dosa asal itu, sekarang manusia mati secara rohani, dan terpisah dari Allah, dan layak untuk dihukum.

 

3. Tetapi, Allah menetapkan sebagian untuk diselamatkan, dan sisanya untuk dibinasakan.

 

4. Jumlah orang pilihan ini sudah ditetapkan dan tidak bisa berubah.

 

5. Orang pilihan diselamatkan oleh kasih karunia yang tidak bisa ditolak dan mereka akan terus bertekun sampai akhir.

 

Semua ini saya ambil dari buku Dr. Albert H. Freundt, Jr., ‘History of Early Christianity’, hal 57.

 

Setelah pandangan Pelagius ini dikecam dan dinyatakan sebagai sesat, beserta para pengajarnya, lalu muncul pandangan-pandangan kompromi di antara Pelagianisme dan Augustinianisme, yaitu Semi-Pelagianisme dan Semi-Augustinianisme.

 

Schema Augustinianisme, Pelagianisme, dan pandangan-pandangan kompromi di antaranya.

 

Pelagianisme - Manusia dilahirkan dalam keadaan baik dan bisa melakukan apa yang perlu untuk keselamatan.

 

Semi-pelagianisme - Kasih karunia Allah dan kehendak manusia bekerja sama dalam keselamatan, dan manusia harus berinisiatif / mengambil langkah pertama.

 

Semi-Augustinianisme - Kasih karunia Allah diberikan kepada semua orang, memampukan seseorang untuk memilih dan melakukan apa yang perlu untuk keselamatan.

 

Augustinianisme - Manusia mati dalam dosa; keselamatan diberikan secara total oleh kasih karunia Allah, yang hanya diberikan kepada orang pilihan.

 

Kalau mau lebih mendetail maka ini schemanya:

 

Pelagianisme:

1. Tentang Manusia - Kemampuan moral sepenuhnya.

2. Tentang Pemilihan / predestinasi - tidak ada.

3. Tentang kasih karunia - tidak ada, kecuali Allah telah menyatakan kehendakNya dalam Kristus.

 

Semi-Pelagianisme:

1. Tentang Manusia - Kemampuan moral sebagian (manusia bisa layak mendapat kasih karunia).

2. Tentang pemilihan / predestinasi - Bersyarat (berdasarkan pengetahuan lebih dulu dari Allah).

3. Tentang kasih karunia - Perlu (manusia bergerak; Allah menolong).

 

Semi-Augustinianisme:

1. Tentang manusia - ketidakmampuan moral (tetapi manusia bisa menerima atau menolak kasih karunia ilahi).

2. Tentang pemilihan / predestinasi - tidak ada penentuan binasa (Allah tidak menentukan siapapun untuk terhilang secara kekal).

3. Tentang kasih karunia - mendahului (iman manusia adalah tanggapan terhadap Allah yang lebih dulu mendekati dia).

 

Augustinianisme:

1. Tentang manusia - Kebejatan total (ketidakmampuan sepenuhnya / total dalam hal moral).

2. Tentang pemilihan / predestinasi - Tidak bersyarat (tidak didasarkan atas pengetahuan lebih dulu dari Allah).

3. Tentang kasih karunia - Tidak bisa ditolak.

 

Loraine Boettner: “Arminianism in its radical and more fully developed forms is essentially a recrudescence of Pelagianism, a type of self-salvation. ... Arminianism at its best is a somewhat vague and indefinite attempt at reconciliation, hovering midway between the sharply marked systems of Pelagius and Augustine, taking off the edges of each, and inclining now to the one, now to the other. Dr. A.A. Hodge refers to it as a ‘manifold and elastic system of compromise.’” [= Arminianisme dalam bentuknya yang radikal dan berkembang penuh pada dasarnya adalah bangkit kembalinya Pelagianisme, suatu type keselamatan oleh diri sendiri. ... Arminianisme, sebaik-baiknya adalah usaha memperdamaikan yang agak samar-samar dan tidak pasti, melayang di tengah-tengah antara sistim yang ditandai dengan jelas dari Pelagius dan Agustinus, mengurangi kekuatan / ketajaman dari masing-masing pihak, dan kadang-kadang condong kepada yang satu, kadang-kadang kepada yang lain. Dr. A. A. Hodge menunjuk kepadanya sebagai suatu ‘sistim kompromi yang bermacam-macam dan bersifat elastis’.] - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 48.

 

Perlu diketahui bahwa ini bukan pertama kalinya terjadi konfrontasi antara ajaran yang benar dan sesat, yang lalu menghasilkan pandangan antara.

 

Dalam sejarah pada waktu terjadi pertentangan antara pandangan yang benar dan sesat, memang sering lalu muncul pandangan kompromi yang tidak mau melepaskan kesesatan secara tuntas.

 

Contoh:

 

a. Dalam persoalan keselamatan karena iman saja.

Orang Yahudi / Yudaisme mengajarkan keselamatan karena perbuatan baik / ketaatan / usaha manusia. Tetapi Yesus dan rasul-rasul mengajarkan keselamatan hanya karena iman (Yoh 3:16  Ro 3:27-28  Gal 2:16,21  Ef 2:8-9). Lalu muncul orang Yahudi kristen, dengan pandangan komprominya, yang sekalipun beriman kepada Yesus sebagai Juruselamat, tetapi tetap menekankan sunat dan adat istiadat Yahudi (Kis 15:1-2  bdk. seluruh surat Galatia).

 

b. Dalam persoalan Allah Tritunggal.

Seorang yang bernama Arius (pendiri dari Arianisme, yang akhirnya ‘ber-reinkarnasi’ menjadi Saksi Yehuwa), mengatakan bahwa Anak berbeda hakekat (bahasa Yunaninya: HETERO-OUSION) dengan Bapa.

Gereja lalu mengadakan sidang, yaitu The Council of Nicea, pada tahun 325 M, dan menimbulkan Pengakuan Iman Nicea, yang menyatakan bahwa Anak mempunyai hakekat yang sama / satu dengan Bapa (bahasa Yunaninya: HOMO-OUSION).

Tetapi lalu muncul pandangan Semi-Arianisme, yaitu pandangan kompromi, yang menggunakan istilah bahasa Yunani HOMOI-OUSION [= of the similar substance / dari zat yang serupa / mirip].

 

c. Dalam persoalan Kristologi.

Seorang yang bernama Eutyches mengajarkan ajaran sesatnya yang mengatakan bahwa setelah inkarnasi, Kristus hanya mempunyai satu hakekat saja, yaitu hakekat ilahi (karena hakekat manusianya diserap oleh hakekat ilahinya).

Ini menyebabkan terjadinya Sidang gereja di kota Chalcedon, pada tahun 451 M, yang menimbulkan Pengakuan Iman Chalcedon, yang menyatakan bahwa Kristus setelah inkarnasi tetap mempunyai 2 hakekat, yaitu hakekat ilahi dan hakekat manusia, yang masing-masing mempertahankan sifat-sifatnya sendiri-sendiri.

Lalu muncul pandangan kompromi yang disebut Monophysitism, yang mengatakan bahwa Kristus mempunyai hanya satu hakekat, yaitu hakekat ilahi, tetapi disertai dengan sifat-sifat manusia tertentu.

Juga muncul pandangan kompromi yang lain yang disebut Monothelitism, yang mengatakan bahwa Kristus memang mempunyai 2 hakekat, yaitu ilahi dan manusia, tetapi hanya mempunyai 1 kehendak.

 

Kesimpulan: Sekalipun Arminianisme tidak sesesat Pelagianisme, tetapi Arminianisme adalah pandangan kompromi yang tidak mau meninggalkan kesesatan / kesalahan secara tuntas! Kalau Augustinianisme adalah pandangan yang waras dan Pelagianisme adalah pandangan yang gila, maka Arminianisme adalah pandangan kompromi yang setengah gila.

 

Mungkin saudara bertanya: apa tujuan setan memberi pandangan kompromi yang setengah gila tersebut? Ada 2 kemungkinan alasan dari setan:

 

1. Setan mungkin bertujuan supaya pandangan yang gila (Pelagianisme) kelihatan sebagai extrim kiri, pandangan yang waras (Augustinianisme) sebagai extrim kanan, dan pandangan yang setengah gila (Arminianisme) sebagai pandangan yang benar!

 

Kalau saudara tergoda untuk berpikir begitu, maka pikirkan hal ini: itu berarti bahwa pada awal abad ke 5 itu terjadi pertentangan antara 2 pandangan extrim, extrim kanan (Augustinianisme) dan extrim kiri (Pelagianisme). Sebagai hasil dari pertentangan 2 pandangan yang extrim itu, justru lalu muncul pandangan yang benar / waras (Arminianisme). Masuk akalkah itu?

 

Masuk akalkah bahwa ada 2 ajaran sesat, yang sama-sama berasal dari setan, bertempur, lalu sebagai akibatnya muncul ajaran yang benar / dari Tuhan?

 

Apakah tidak lebih masuk akal kalau pada abad ke 5 itu terjadi pertentangan antara ajaran benar (Augustinianisme) dan ajaran sesat (Pelagianisme), dan sebagai hasilnya muncul ajaran kompromi yang setengah sesat (Arminianisme)?

 

2. Setan tahu bahwa ajaran yang setengah sesat lebih mudah diterima manusia dari pada ajaran yang sesat secara total.

Sama saja kalau saudara mau meracuni seseorang, jauh lebih mudah memberi dia makan yang dicampur racun dari pada memberi dia racun 100 %.

Dalam faktanya memang jaman sekarang boleh dikatakan tidak ada gereja yang menganut Pelagianisme, tetapi ada banyak gereja (mungkin mayoritas) yang menganut Arminianisme.

 

c) Apakah hanya orang Reformed yang akan masuk surga, sedangkan orang Arminian / non Reformed akan masuk neraka?

 

Kebenaran dari doktrin Calvinisme (termasuk Providence of God, dan doktrin tentang penentuan segala sesuatu), dan kesalahan dari doktrin Arminianisme, tidak berarti bahwa hanya Calvinist yang bisa masuk surga, atau bahwa semua orang Arminian akan masuk neraka. Mengapa? Karena masuk surga atau tidak hanya tergantung pada apakah orang itu percaya Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat secara benar atau tidak.

 

Loraine Boettner: While the Presbyterian Church is preëminently a doctrinal Church, she never demands the full acceptance of her standards by any applicant for admission to her fold. A credible profession of faith in Christ is her only condition of Church membership. She does demand that her ministers and elders shall be Calvinists; yet this is never demanded of lay members. As Calvinists we gladly recognize as our fellow Christians any who trust Christ for their salvation, regardless of how inconsistent their other beliefs may be. We do believe, however, that Calvinism is the only system which is wholly true. And while one can be a Christian without believing the whole Bible, his Christianity will be imperfect in proportion as he departs from the Biblical system of doctrine. In this connection Prof. F. E. Hamilton has well said: ‘A blind, deaf and dumb man can, it is true, know something of the world about him through the senses remaining, but his knowledge will be very imperfect and probably inaccurate. In a similar way, a Christian who never knows or never accepts the deeper teachings of the Bible which Calvinism embodies, may be a Christian, but he will be a very imperfect Christian, and it should be the duty of those who know the whole truth to attempt to lead him into the only storehouse which contains the full riches of true Christianity.’ ... We are not all Calvinists as we travel the road to heaven, but we shall all be Calvinists when we get there. It is our firm conviction that every redeemed soul in heaven will be a thorough-going Calvinist. Christians in general must admit that when we all ‘attain unto the unity of the faith’ (Eph. 4:13), and know the full truth, we shall be either all Calvinists or all Arminians. [= Sementara Gereja Presbyterian secara unggul merupakan suatu Gereja yang bersifat doktrinal, ia tidak pernah menuntut penerimaan penuh dari standard-standardnya oleh pemohon / pelamar manapun untuk bisa masuk ke dalam kandang / kawanannya. Suatu pengakuan iman yang bisa dipercaya kepada Kristus adalah satu-satunya syarat dari keanggotaan Gereja. Ia memang menuntut bahwa pendeta-pendeta dan tua-tuanya adalah orang-orang Calvinist; tetapi ini tidak pernah dituntut dari anggota-anggota awam. Sebagai orang-orang Calvinist kita dengan senang hati menerima sebagai sesama orang-orang Kristen kita, siapapun yang mempercayai Kristus untuk keselamatan mereka, tak peduli betapa tidak konsistennya kepercayaan-kepercayaan lain mereka. Tetapi kami percaya bahwa Calvinisme adalah satu-satunya sistim yang sepenuhnya benar. Dan sekalipun seseorang bisa menjadi seorang Kristen tanpa mempercayai seluruh Alkitab, kekristenannya akan tidak sempurna sebanding dengan penyimpangannya dari sistim doktrin Alkitabiah. Sehubungan dengan ini Prof. F. E. Hamilton telah mengatakan dengan bagus: ‘Adalah benar bahwa seorang manusia yang buta, tuli dan bisu, bisa mengetahui sesuatu tentang dunia di sekitarnya melalui indera-indera yang tersisa, tetapi pengetahuannya akan sangat tidak sempurna dan mungkin tidak tepat. Dengan cara yang serupa, seorang Kristen yang tidak pernah mengetahui atau tidak pernah menerima ajaran-ajaran yang lebih dalam dari Alkitab yang Calvinisme nyatakan, bisa adalah seorang Kristen, tetapi ia akan merupakan seorang Kristen yang tidak sempurna, dan merupakan kewajiban dari mereka yang mengetahui seluruh kebenaran untuk berusaha membimbingnya ke dalam satu-satunya gudang yang berisikan kekayaan yang penuh dari kekristenan yang benar. ... Kita tidak semuanya adalah Calvinist pada waktu kita menempuh jalan ke surga, tetapi kita akan semuanya adalah Calvinist pada saat kita sampai di sana. Merupakan keyakinan kami yang teguh bahwa di surga setiap jiwa yang ditebus akan menjadi seorang Calvinist sepenuhnya / yang mutlak. Orang-orang Kristen secara umum harus mengakui bahwa pada waktu kita semua ‘mencapai kesatuan iman’ (Ef 4:13), dan mengetahui seluruh kebenaran, kita akan menjadi semuanya Calvinist atau semuanya Arminian.] - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 353-354.

 

Catatan: menurut saya kata-kata tak peduli betapa tidak konsistennya kepercayaan-kepercayaan lain mereka” dan “yang sepenuhnya benar” yang saya beri garis bawah ganda dan cetak dengan huruf besar itu, tidak bisa dimutlakkan. Dan kata-kata ‘atau sepenuhnya Arminian’ yang saya cetak dengan huruf miring itu, rasanya aneh, dan seharusnya dihapuskan!

 

 

 

 

-o0o-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : buas22@yahoo.com

e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com

http://golgothaministry.org