Golgotha School of Ministry

 

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

 

Rabu, tgl 8 Agustus 2018, pk 19.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

Providence of God (25)

 

Loraine Boettner: In the light of modern scientific exegesis, it is quite evident that the objections which are raised against the Reformed Theology are emotional or philosophical rather than exegetical. And had men been content to interpret the language of Scripture according to the acknowledged principles of interpretation, the faith of Christians might have been far more harmonious. Our opponents, says Cunningham, are able to ‘argue with some plausibility only when they are dealing with single passages, or particular classes of passages, but keeping out of view, or throwing into the background, the general mass of Scripture evidence bearing upon the whole subject. When we take a conjunct view of the whole body of Scripture statements, manifestly intended to make known to us the nature, causes, and consequences of Christ’s death, literal and figurative - view them in combination with each other - and fairly estimate what they are fitted to teach, there is no good ground for doubt as to the general conclusions which we should feel ourselves constrained to adopt.’ So long as we hold to the Reformed principle that the Scriptures are to be accepted as the sole authority in matters of doctrine the Calvinistic system will stand as the only one which adequately treats of God, man, and redemption. [= Dalam terang dari exegesis yang sesuai dengan ilmu yang modern, adalah cukup jelas bahwa keberatan-keberatan yang diajukan menentang / terhadap Theologia Reformed adalah bersifat emosi atau filsafat dari pada bersifat exegesis. Dan seandainya orang-orang puas / mau untuk menafsirkan bahasa / kata-kata dari Kitab Suci sesuai dengan prinsip-prinsip penafsiran yang diakui, iman dari orang-orang Kristen bisa telah jauh lebih harmonis. Lawan-lawan kita, kata Cunningham, bisa untuk ‘berargumentasi dan kelihatan sebagai sah / bisa dipercaya hanya pada waktu mereka sedang menangani dengan text-text tunggal, atau golongan-golongan dari text-text khusus, tetapi menghindari, atau melemparkan ke latar belakang, mayoritas dari bukti Kitab Suci yang umum yang mempengaruhi seluruh pokok ini. Pada waktu kita mengambil suatu pandangan gabungan dari pernyataan-pernyataan dari seluruh Kitab Suci, yang secara jelas dimaksudkan untuk menyatakan kepada kita sifat dasar / hakekat, penyebab-penyebab, dan konsekwensi-konsekwensi dari kematian Kristus, secara hurufiah maupun kiasan - memandang mereka dalam suatu gabungan satu dengan yang lain - dan secara adil / jujur menilai apa yang mereka ajarkan secara harmonis, di sana tidak ada dasar yang baik untuk keraguan berkenaan dengan kesimpulan umum yang kita rasakan harus kita ambil / terima’. Selama kita memegang prinsip-prinsip Reformed bahwa Kitab Suci harus diterima sebagai satu-satunya otoritas tunggal dalam persoalan-persoalan doktrin, sistim Calvinist akan berdiri sebagai satu-satunya yang secara cukup menangani Allah, manusia, dan penebusan.] - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 53.

Catatan: kutipan kata-kata Loraine Boettner ini diulang dari pelajaran minggu lalu, karena minggu lalu terputus di tengah jalan.

 

Karena itu jangan terlalu cepat percaya pada pandangan tertentu apapun, tetapi lihatlah seluruh ayat-ayat dalam Alkitab, yang berhubungan dengan topik yang sedang dibahas, untuk melihat apakah ajaran itu memang sesuai dengan seluruh Alkitab, atau hanya sesuai dengan tafsiran mereka tentang ayat-ayat tertentu saja, dan pada saat yang sama mereka mengabaikan ayat-ayat lain dari Alkitab.

 

Contoh: ada orang-orang yang mau menentang doktrin keselamatan / pembenaran oleh iman saja. Pada waktu kepada mereka diberikan Ef 2:8-9 sebagai dasar dari doktrin itu, mereka mengajak untuk melihat pada Ef 2:10. Argumentasi apa ini??? Coba kita lihat text itu.

 

Ef 2:8-10 - “(8) Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, (9) itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. (10) Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya..

 

Dengan mengajak melihat ay 10, mereka mengabaikan ay 8-9nya, yang merupakan dasar dari doktrin keselamatan oleh iman saja. Ay 10 memang mengharuskan orang untuk berbuat baik, tetapi apakah perbuatan baik itu menyebabkan terjadinya keselamatan itu?? Ay 10 tidak membicarakan hal itu. Yang membicarakan hal itu adalah ay 8-9nya, dan di sana jelas dikatakan imanlah yang menyebabkan kita diselamatkan, sedangkan perbuatan (pekerjaan / usaha) kita dibuang jauh-jauh sebagai penyebab dari keselamatan!!!

 

Saya ingin memberi contoh lain yang lebih sesuai dengan topik yang kita bahas. Suhento Liauw dan kelompoknya menggunakan ayat-ayat di bawah ini untuk menentang doktrin Calvinisme yang mengajarkan penentuan segala sesuatu termasuk dosa.

Yer 7:31 - Mereka telah mendirikan bukit pengorbanan yang bernama Tofet di Lembah Ben-Hinom untuk membakar anak-anaknya lelaki dan perempuan, suatu hal yang tidak pernah Kuperintahkan dan yang tidak pernah timbul dalam hatiKu..

Bdk. Yer 19:5 dan Yer 32:35 yang bunyinya kurang lebih sama dengan Yer 7:31 itu.

 

Mereka menafsirkan bahwa pengorbanan anak, yang jelas merupakan dosa, tidak pernah timbul dalam hati Allah. Ini yang mereka jadikan argumentasi bahwa Allah tak pernah merencanakan / menentukan terjadinya dosa.

 

Mereka tidak pernah membahas ayat-ayat yang saya gunakan untuk mendukung doktrin penentuan segala sesuatu termasuk dosa, seperti Luk 22:22, Kis 4:27-28, Ro 9:19-21 dan banyak ayat lainnya. Dengan kata lain, mereka menghindari / mengabaikan ayat-ayat itu! Dan dengan hanya berbekalkan satu ayat (dan ayat-ayat lain yang bunyinya sama) dalam kitab Yeremia, sambil mengabaikan banyak ayat dalam Alkitab, mereka mau menghancurkan doktrin tentang predestinasi dan penentuan dosa. Betul-betul konyol.

 

Sekarang bandingkan dengan bagaimana Calvin (atau saya) membuat ajaran. Ia bukan hanya bisa memberikan dasar Alkitab tentang doktrin penentuan segala sesuatu termasuk dosa (seperti yang sudah banyak sekali kita lihat dalam sepanjang pelajaran providence of God ini), tetapi Calvin juga bisa menafsirkan ayat ini sehingga tidak menabrak doktrin tentang predestinasi / penentuan segala sesuatu termasuk dosa.

 

Yer 7:31 - Mereka telah mendirikan bukit pengorbanan yang bernama Tofet di Lembah Ben-Hinom untuk membakar anak-anaknya lelaki dan perempuan, suatu hal yang tidak pernah Kuperintahkan dan yang tidak pernah timbul dalam hatiKu..

 

Pertama-tama, perlu diperhatikan bahwa bagian akhir dari Yer 7:31 (bagian yang saya garis-bawahi dan beri warna merah), diterjemahkan sebagai berikut oleh KJV dan NIV:

KJV: ‘which I commanded them not, neither came it into my heart.’ [= yang tidak Aku perintahkan kepada mereka, juga itu tidak masuk ke dalam hatiKu.].

NIV: ‘something I did not command, nor did it enter my mind.’ [= sesuatu yang tidak Aku perintahkan, ataupun memasuki pikiranKu.].

 

Calvin (tentang Yer 7:31): ‘Which I commanded them not, and which never came to my mind.’ This reason ought to be carefully noticed, for God here cuts off from men every occasion for making evasions, since he condemns by this one phrase, ‘I have not commanded them,’ whatever the Jews devised. There is then no other argument needed to condemn superstitions, than that they are not commanded by God: for when men allow themselves to worship God according to their own fancies, and attend not to his commands, they pervert true religion. ... The Prophet’s words then are very important, when he says, that God had commanded no such thing, and that it never came to his mind; as though he had said, that men assume too much wisdom, when they devise what he never required, nay, what he never knew. It is indeed certain, that there was nothing hid from God, even before it was done: but God here assumes the character of man, as though he had said, that what the Jews devised was unknown to him, as his own law was sufficient. [= ‘Yang tidak Aku perintahkan kepada mereka, dan yang tidak pernah masuk ke pikiranKu’. Alasan ini harus diperhatikan dengan hati-hati / teliti, karena Allah di sini memotong dari manusia setiap penyebab / alasan untuk membuat penghindaran / penipuan, karena Ia mengecam dengan satu ungkapan ini, ‘Aku tidak memerintahkan mereka’, apapun yang orang-orang Yahudi rancangkan / khayalkan. Jadi di sana tidak ada argumentasi lain yang dibutuhkan untuk mengecam takhyul, dari pada bahwa mereka tidak diperintahkan oleh Allah: karena pada waktu manusia mengijinkan diri mereka sendiri untuk menyembah Allah sesuai dengan khayalan mereka sendiri, dan tidak memperhatikan perintah-perintahNya, mereka membengkokkan agama yang benar. ... Jadi kata-kata sang Nabi adalah sangat penting, pada waktu ia berkata, bahwa Allah tidak memerintahkan hal seperti itu, dan itu tidak pernah masuk ke dalam pikiranNya; seakan-akan ia telah berkata, bahwa manusia mengambil bagi dirinya sendiri terlalu banyak hikmat, pada waktu mereka merancang / mengkhayalkan apa yang tidak pernah Ia tuntut, bahkan apa yang Ia tak pernah tahu. Memang pasti, bahwa di sana tak ada apapun yang tersembunyi dari Allah, bahkan sebelum itu dilakukan: tetapi Allah di sini memakaiani diriNya sendiri dengan karakter / peran manusia, seakan-akan Ia telah berkata bahwa apa yang orang-orang Yahudi rancangkan / khayalkan tidak dikenal bagiNya, karena hukumNya sendiri adalah cukup.].

 

Catatan: bagian yang saya loncati dalam kutipan dari tafsiran Calvin ini berbicara tentang Gereja Roma Katolik (yang juga ia anggap menciptakan hal-hal dalam ibadah yang tidak diperintahkan oleh Allah), dan saya loncati karena saya anggap tidak relevan berkenaan dengan contoh tentang penafsiran Suhento Liauw dan kelompoknya yang saya bahas di sini.

 

Hal lain yang saya ingin saudara ketahui adalah: bahwa Adam Clarke, yang adalah seorang Arminian yang sangat terpelajar, sama sekali tidak menggunakan 3 ayat dalam kitab Yeremia itu untuk menentang predestinasi ataupun doktrin penentuan segala sesuatu / dosa. Dan saya tak pernah tahu ada ahli theologia / penafsir Arminian manapun yang menggunakan ayat-ayat itu sebagaimana Suhento Liauw dan kelompoknya menggunakannya.

 

Sekarang mari kita kembali kepada Loraine Boettner.

 

Loraine Boettner: It is true that some verses taken in themselves do seem to imply the Arminian position. This, however, would reduce the Bible to a mass of contradictions; for there are other verses which teach Predestination, Inability, Election, Perseverance, etc., and which cannot by any legitimate means be interpreted in harmony with Arminianism. Hence in these cases the meaning of the sacred writer can be determined only by the analogy of Scripture. Since the Bible is the word of God it is self-consistent. Consequently if we find a passage which in itself is capable of two interpretations, one of which harmonizes with the rest of the Scriptures while the other does not, we are duty bound to accept the former. It is a recognized principle of interpretation that the more obscure passages are to be interpreted in the light of clearer passages, and not vice versa. We have shown that the evidence which is brought forward in defense of Arminianism, and which at first sight appears to possess considerable plausibility, can legitimately be given an interpretation which harmonizes with Calvinism. In view of the many Calvinistic passages, and the absence of any genuine Arminian passages, we unhesitatingly assert that the Calvinistic system is the true system. [= Adalah benar bahwa beberapa ayat, digunakan / dimengerti / ditafsirkan dalam diri mereka sendiri, memang kelihatannya menyatakan secara implicit posisi Arminian. Tetapi tindakan ini akan menurunkan / merendahkan Alkitab pada suatu tumpukan dari kontradiksi-kontradiksi; karena di sana ada ayat-ayat lain yang mengajarkan Predestinasi, Ketidakmampuan, Pemilihan, Ketekunan, dsb., dan yang tidak bisa dengan cara yang sah apapun ditafsirkan secara harmonis dengan Arminianisme. Karena itu dalam kasus-kasus ini arti dari penulis kudus bisa ditentukan hanya oleh analogi dari Kitab Suci. Karena Alkitab adalah firman Allah, itu konsisten dengan dirinya sendiri. Karena itu jika kita mendapati satu text yang dalam dirinya sendiri bisa mempunyai dua penafsiran, yang satu harmonis dengan sisa dari Kitab Suci sedangkan yang lain tidak, kita harus menerima yang pertama / terdahulu. Merupakan suatu prinsip penafsiran yang diakui bahwa text-text yang lebih kabur harus ditafsirkan dalam terang dari text-text yang lebih jelas, dan bukannya sebaliknya. Kami telah menunjukkan bahwa bukti yang diajukan dalam pembelaan dari Arminianisme, dan yang pada pandangan pertama kelihatannya memiliki kemungkinan sah / bisa diterima yang besar, bisa secara sah diberi suatu penafsiran yang harmonis dengan Calvinisme. Dengan mempertimbangkan banyak text-text Calvinisme, dan absennya text-text asli / sungguh-sungguh dari  Arminianisme, kami dengan tak ragu-ragu menegaskan bahwa sistim Calvinisme adalah sistim yang benar.] - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 295-296.

 

Loraine Boettner: It is not claimed that the doctrine of Predestination is free from all difficulties, but it is claimed that its denial is attended with more and greater difficulties. [= Tidak diclaim bahwa doktrin Predestinasi bebas dari semua kesukaran / problem, tetapi diclaim bahwa penyangkalan terhadap doktrin ini disertai dengan kesukaran / problem yang lebih banyak dan lebih besar.] - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 342.

 

Beberapa pertanyaan lain dengan jawabannya:

 

a) Mengapa hanya sedikit orang Reformed / Calvinist, dan mengapa banyak orang yang memusuhi ajaran Reformed / Calvinisme?

 

Loraine Boettner: That Calvinism has many adversaries is not to be wondered at. As long as the fact remains that, ‘The natural man receiveth not the things of the Spirit of God; for they are foolishness unto him; and he cannot know them, because they are spiritually judged’ (1 Cor. 2:14), so long will this be a strange, foolish system to the natural man. As long as fallen human nature remains as it is, and as long as the decree stands that Christ Himself is to be ‘a stone of stumbling and a rock of offence’ to the natural man (1 Peter 2:8), these things will be an offense to many. Nor was it to be marveled at that the immortal Swiss reformer who was called to such a prominent place in the development and defence of these doctrines has been on the one hand the most passionately loved and admired, and on the other the most bitterly hated and abused, among all the outstanding leaders in the Church. [= Bahwa Calvinisme mempunyai banyak musuh tak perlu membuat kita heran. Selama fakta ini tetap ada, bahwa ‘Manusia alamiah tidak menerima hal-hal dari Roh Allah; karena hal-hal itu adalah kebodohan bagi dia; dan ia tidak bisa mengetahui / mengenal hal-hal itu, karena mereka harus dinilai secara rohani’ (1Kor 2:14), maka selama itu juga ini akan merupakan suatu sistim yang aneh, bodoh, bagi manusia alamiah. Selama hakekat manusia yang telah jatuh tetap tinggal sebagaimana adanya, dan selama ketetapan itu tetap sah / benar bahwa Kristus sendiri akan / harus menjadi ‘suatu batu sentuhan dan suatu batu karang sandungan’ bagi manusia alamiah (1Pet 2:7), hal-hal ini akan menjadi batu sandungan bagi banyak orang. Juga tak perlu mengherankan bahwa tokoh Reformasi dari Swiss (Calvin), yang termasyhur secara kekal, yang dipanggil pada suatu tempat yang menonjol seperti itu dalam perkembangan dan pembelaan dari doktrin-doktrin ini, di satu sisi telah paling dicintai dan dikagumi dengan bergairah, dan di sisi lain paling dibenci dan dihina secara pahit, di antara semua pemimpin-pemimpin / tokoh-tokoh yang luar biasa bagus dalam Gereja.] - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 358.

1Kor 2:14 - Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani..

1Pet 2:6-8 - “(6) Sebab ada tertulis dalam Kitab Suci: ‘Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih, sebuah batu penjuru yang mahal, dan siapa yang percaya kepadaNya, tidak akan dipermalukan.’ (7) Karena itu bagi kamu, yang percaya, ia mahal, tetapi bagi mereka yang tidak percaya: ‘Batu yang telah dibuang oleh tukang-tukang bangunan, telah menjadi batu penjuru, juga telah menjadi batu sentuhan dan suatu batu sandungan.’ (8) Mereka tersandung padanya, karena mereka tidak taat kepada Firman Allah; dan untuk itu mereka juga telah disediakan..

Catatan: dalam text terakhir ini, ay 8 dalam Alkitab bahasa Inggris dimulai dari ay 7c dalam Alkitab Indonesia.

 

Loraine Boettner: This is a system which has always been strongly opposed by the world, and it is as strongly opposed now as ever. Indeed, how could it be otherwise when man by nature is at enmity and war with Him from whose mind it has emanated? It is not to be expected that God in His wisdom and man in his folly would agree. God is an all-wise and all-holy sovereign; man unchanged is a sin-blinded rebel, who wants no ruler and most certainly not an absolute ruler. Since the enmity of man’s heart toward the distinctive doctrines of the Cross is as great and as intense as ever, a system such as Pelagianism or Naturalism, which teaches salvation by our own good works, or such as Arminianism, which teaches salvation partly by works and partly by grace, strikes a quicker response in the unregenerate heart. When the Gospel becomes palatable to the natural man it ceases to be the Gospel that Paul preached. And it is worth remembering here that in nearly every town in which Paul preached his Gospel did cause either a riot or a revival and not infrequently both. ‘Calvinism may be unpopular in some quarters,’ says McFetridge. ‘But what of that? It cannot be more unpopular than the doctrines of sin and grace as revealed in the New Testament.’ [= Ini adalah suatu sistim yang telah selalu ditentang secara kuat oleh dunia, dan ini sekarang ditentang secara kuat seperti pada saat manapun. Memang, bagaimana itu bisa sebaliknya pada waktu manusia secara alamiah ada dalam permusuhan dan peperangan dari Dia, dari pikiran siapa ajaran itu telah keluar? Tidak bisa diharapkan bahwa Allah dalam hikmatNya dan manusia dalam kebodohannya akan setuju. Allah adalah seorang Raja / Penguasa yang maha bijaksana dan maha kudus; manusia yang tidak diubahkan adalah seorang pemberontak yang dibutakan oleh dosa, yang tak menghendaki penguasa, dan paling pasti tidak menghendaki seorang penguasa yang mutlak. Karena permusuhan dari hati manusia terhadap doktrin-doktrin khusus dari Salib adalah sama besarnya dan sama intensitasnya seperti pada saat manapun, suatu sistim seperti Pelagianisme atau Naturalisme, yang mengajarkan keselamatan oleh perbuatan baik kita sendiri, atau suatu sistim seperti Arminianisme, yang mengajarkan keselamatan sebagian oleh perbuatan baik / usaha dan sebagian oleh kasih karunia, menghasilkan suatu tanggapan yang lebih cepat dalam hati yang belum dilahirkan baru. Pada waktu Injil disesuaikan dengan selera dari manusia alamiah / duniawi, itu berhenti menjadi Injil yang Paulus beritakan. Dan adalah layak untuk diingat di sini bahwa dalam hampir semua kota dalam mana Paulus memberitakan Injilnya, menyebabkan atau suatu huru hara atau suatu kebangunan rohani, dan tidak jarang keduanya. ‘Calvinisme mungkin / bisa tidak populer di beberapa tempat’, kata McFetridge. ‘Tetapi apa nilai hal itu? Itu / Calvinisme tidak bisa lebih tidak populer dari pada doktrin-doktrin tentang dosa dan kasih karunia seperti yang dinyatakan dalam Perjanjian Baru’.] - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 359.

 

Catatan:

 

1. ‘Naturalism’ [= Naturalisme] bisa berarti suatu pandangan yang membuang hal-hal yang bersifat supra natural atau rohani. Juga bisa berarti suatu agama yang alamiah.

 

2. Apakah ajaran Arminian sesuai dengan SOLA GRATIA [= hanya kasih karunia] atau tidak, bisa kita mengerti kalau kita membaca tulisan R. C. Sproul di bawah ini.

 

R. C. Sproul: “In answering a list of theological articles written against his views, Arminius complains at several points that he has been misunderstood or misrepresented. He was accused of teaching that faith is not the pure gift of God but depends partly on grace and partly on free will. He answered that he never said faith was not the pure gift of God, and he offered in response what he calls a simile: A rich man bestows, on a poor and famishing beggar, alms by which he may be able to maintain himself and his family. Does it cease to be a pure gift, because the beggar extends his hand to receive it? Can it be said with propriety, that ‘the alms depended partly on the liberality of the Donor, and partly on the liberty of the Receiver,’ though the latter would not have possessed the alms unless he had received it by stretching out his hand? Can it be correctly said, because the beggar is always prepared to receive, that ‘he can have the alms, or not have it, just as he pleases?’ If these assertions cannot be truly made about a beggar who receives alms, how much less can they be made about the gift of faith, for the receiving of which far more acts of Divine Grace are required! In Arminius’s simile it is hard to imagine a destitute beggar not assenting to such a gracious gift. But the fact remains that, to receive the alms, the beggar, while still destitute, must stretch out his hand. At the same time, he stretches out his hand because he wants to do so. To receive the gift of faith, according to Calvinism, the sinner also must stretch out his hand. But he does so only because God has so changed the disposition of his heart that he will most certainly stretch out his hand. By the irresistible work of grace, he will do nothing else except stretch out his hand. Not that he cannot not stretch out his hand even if he does not want to, but that he cannot not want to stretch out his hand. In Arminius’s simile, the beggar could conceivably be so obstreperous as to refuse the alms offered. In Augustinianism, this very obstinacy is effectively conquered by irresistible grace. For Calvin, the grace of God extends not only to the alms, but also to the very stretching out of the hand. For Arminius, the beggar possesses the natural power to stretch out his hand.” [= Dalam menjawab suatu daftar artikel theologia yang ditulis menentang pandangannya, Arminius mengeluh pada beberapa point bahwa ia telah disalah-mengerti atau disalah-gambarkan. Ia dituduh mengajarkan bahwa iman bukanlah karunia murni dari Allah tetapi tergantung sebagian pada kasih karunia dan sebagian pada kehendak bebas. Ia menjawab bahwa ia tidak pernah mengatakan bahwa iman bukanlah karunia murni dari Allah, dan ia menawarkan sebagai jawaban apa yang ia sebut sebagai suatu kiasan: Seorang kaya memberi, kepada seorang pengemis yang miskin dan sangat lapar, sedekah dengan mana ia bisa memelihara dirinya sendiri dan keluarganya. Apakah itu berhenti menjadi suatu karunia / pemberian yang murni, karena sang pengemis mengulurkan tangannya untuk menerimanya? Bisakah dikatakan dengan benar, bahwa ‘sedekah itu tergantung sebagian pada kedermawanan dari Sang Pemberi, dan sebagian pada kebebasan dari Sang Penerima’, sekalipun yang belakangan tidak akan memiliki sedekah itu kecuali ia telah menerimanya dengan mengulurkan tangannya? Bisakah dengan benar dikatakan, karena sang pengemis itu selalu siap untuk menerima, bahwa ‘ia bisa mendapatkan sedekah, atau tidak mendapatkannya, seperti yang ia senangi?’ Jika pernyataan-pernyataan ini tidak bisa dibuat dengan benar tentang seorang pengemis yang menerima sedekah, betapa pernyataan-pernyataan itu lebih lagi tidak bisa dibuat tentang karunia iman, untuk penerimaan mana jauh lebih dibutuhkan tindakan dari Kasih Karunia Ilahi! Dalam kiasan Arminius adalah sukar untuk membayangkan seorang pengemis yang miskin tidak menyetujui karunia yang murah hati / bersifat kasih karunia seperti itu. Tetapi faktanya tetap bahwa untuk menerima sedekah, sang pengemis, sementara tetap miskin, harus mengulurkan tangannya. Pada saat yang sama, ia mengulurkan tangannya karena ia mau berbuat demikian. Untuk menerima karunia iman, menurut Calvinisme, orang berdosa juga harus mengulurkan tangannya. Tetapi ia berbuat demikian, hanya karena Allah telah mengubah kecondongan hatinya sedemikian rupa sehingga ia pasti akan mengulurkan tangannya. Oleh pekerjaan yang tak bisa ditolak dari kasih karunia, ia tidak akan melakukan apapun yang lain kecuali mengulurkan tangannya. Bukan bahwa ia tidak bisa mengulurkan tangannya bahkan jika ia mau / ingin melakukannya, tetapi bahwa ia tidak bisa mau / ingin untuk mengulurkan tangannya. Dalam kiasan Arminius, sang pengemis bisa dibayangkan sebagai begitu tegar sehingga menolak sedekah yang ditawarkan. Dalam Augustinianisme, sikap tegar tengkuk inilah yang secara efektif ditundukkan oleh kasih karunia yang tidak bisa ditolak. Bagi Calvin, kasih karunia Allah meluas bukan hanya pada sedekah itu, tetapi juga pada penguluran dari tangan itu. Bagi Arminius, sang pengemis memiliki kuasa alamiah untuk mengulurkan tangannya.] - ‘Willing to Believe’, hal 133-134 (Libronix).

 

Loraine Boettner: We need not be surprised, then, when the adherents to these doctrines are found to be in the minority. The truth or falsity of Scripture doctrines cannot be left to the outcome of a popular vote. [= Jadi, kita tidak perlu heran, pada waktu pengikut-pengikut / pndukung-pendukung dari doktrin-doktrin ini didapati dalam keadaan minoritas. Kebenaran atau kepalsuan dari doktrin-doktrin Kitab Suci tidak bisa diserahkan pada hasil dari suatu jumlah pemilih populer.] - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 359-360.

 

 

 

 

 

 

 

-bersambung-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : buas22@yahoo.com

e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com

http://golgothaministry.org