Golgotha School of Ministry

 

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

 

Rabu, tgl 25 Juli 2018, pk 19.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

Providence of God (23)

 

2. Perhatikan beberapa kutipan di bawah ini berkenaan dengan penentuan Allah dan kebebasan / tanggung jawab manusia.

 

John Calvin: “Accordingly, man falls according as God’s providence ordains, but he falls by his own fault.” [= Karena itu, manusia jatuh sebagaimana yang Providensia Allah tentukan, tetapi ia jatuh oleh kesalahannya sendiri.] - ‘Institutes of The Christian Religion’, Book III, Chapter XXIII, no 8.

 

John Murray: “There is divine predetermination or foreordination in connection with sin. The fall was foreordained by God and its certainty was therefore guaranteed. ... God is not the author of sin. For sin as sinfulness, man alone was responsible, and he alone is the agent of execution.” [= Di sana ada keputusan / perencanaan atau penentuan sebelumnya yang bersifat Ilahi / dari Allah dalam hubungannya dengan dosa. Kejatuhan ditentukan lebih dulu oleh Allah dan karena itu kepastiannya dijamin. ... Allah bukan Pencipta dosa. Karena / untuk dosa sebagai keberdosaan, manusia saja yang bertanggung-jawab, dan ia saja yang merupakan agen dari pelaksanaan.] - ‘Collected Writings of John Murray’, Vol 2, hal 73.

 

Loraine Boettner: “But while the Bible repeatedly teaches that this providential control is universal, powerful, wise, and holy, it nowhere attempts to inform us how it is to be reconciled with man’s free agency.” [= Tetapi sementara Alkitab berulangkali mengajar bahwa pengendalian providensia ini bersifat universal, berkuasa, bijaksana, dan suci, Alkitab tidak pernah berusaha untuk memberi informasi kepada kita tentang bagaimana hal itu bisa diperdamaikan / diharmoniskan dengan kebebasan manusia.] - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 38.

 

Loraine Boettner: “Perhaps the relationship between divine sovereignty and human freedom can best be summed up in these words: God so presents the outside inducements that man acts in accordance with his own nature, yet does exactly what God has planned for him to do.” [= Mungkin hubungan antara kedaulatan ilahi dan kebebasan manusia bisa disimpulkan dengan cara terbaik dengan kata-kata ini: Allah memberikan dorongan / bujukan / pencobaan dari luar sedemikian rupa sehingga manusia bertindak sesuai dengan dirinya, tetapi melakukan secara tepat apa yang Allah telah rencanakan baginya untuk dilakukan.] - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 38.

 

Charles Haddon Spurgeon: “man, acting according to the device of his own heart, is nevertheless overruled by that sovereign and wise legislation ... How these two things are true I cannot tell. ... I am not sure that in heaven we shall be able to know where the free agency of man and the sovereignty of God meet, but both are great truths. God has predestinated everything yet man is responsible, for he acts freely, and no constraint is put upon him even when he sinneth and disobeyeth wantonly and wickedly the will of God.” [= manusia, bertindak sesuka hatinya, bagaimanapun dikalahkan / dikuasai oleh pemerintahan yang berdaulat dan bijaksana ... Bagaimana dua hal ini bisa benar saya tidak bisa mengatakan. ... Saya tidak yakin bahwa di surga kita akan bisa mengetahui dimana tindakan bebas manusia dan kedaulatan Allah bertemu, tetapi keduanya adalah kebenaran yang besar. Allah telah mempredestinasikan segala sesuatu tetapi manusia bertanggung jawab, karena ia bertindak secara bebas, dan tak ada paksaan diberikan kepadanya bahkan pada waktu ia berbuat dosa dan tidak mentaati kehendak Allah secara memberontak dan secara jahat.] - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 7, hal 10.

 

Charles Haddon Spurgeon: (tentang tentara yang tidak mematahkan kaki Kristus tetapi menusukNya dengan tombak - Yoh 19:33-34).

“They acted of their own free will, and yet at the same time they fulfilled the eternal counsel of God. Shall we never be able to drive into men’s mind the truth that predestination and free agency are both facts? Men sin as freely as birds fly in the air, and they are altogether responsible for their sin; and yet everything is ordained and foreseen of God. The foreordination of God in no degree interferes with the responsibility of man. I have often been asked by persons to reconcile the two truths. My only reply is - They need no reconciliation, for they never fell out. Why should I try to reconcile two friends? Prove to me that the two truths do not agree. In that request I have set you a task as difficult as that which you propose to me. These two facts are parallel lines; I cannot make them unite, but you cannot make them cross each other.” [= Mereka bertindak dengan kehendak bebas mereka, tetapi pada saat yang sama mereka menggenapi rencana yang kekal dari Allah. Apakah kita tidak akan pernah bisa menancapkan ke dalam pikiran manusia kebenaran bahwa predestinasi dan kebebasan agen / manusia dua-duanya merupakan fakta? Manusia berbuat dosa sebebas burung-burung yang terbang di udara, dan mereka semuanya bertanggung jawab untuk dosa mereka; tetapi segala sesuatu ditetapkan dan dilihat lebih dulu oleh Allah. Penetapan lebih dulu dari Allah sama sekali tidak mengganggu tanggung jawab manusia. Saya sering ditanya oleh orang-orang untuk mendamaikan dua kebenaran ini. Jawaban saya hanyalah - Mereka tidak membutuhkan pendamaian, karena mereka tidak pernah bertengkar. Mengapa saya harus mendamaikan 2 orang sahabat? Buktikan kepada saya bahwa dua kebenaran itu tidak setuju / cocok. Dalam permintaan itu saya telah memberimu suatu tugas yang sama sukarnya seperti yang kaukemukakan kepada saya. Kedua fakta ini adalah garis-garis yang paralel; saya tidak bisa membuat mereka bersatu, tetapi engkau tidak bisa membuat mereka bersilangan.] - ‘A Treasury of Spurgeon on The Life and Work of Our Lord, vol VI - The Passion and Death of Our Lord’,  hal 670-671.

 

Arthur W. Pink: “Two things are beyond dispute: God is sovereign, man is responsible. ... To emphasize the sovereignty of God, without also maintaining the accountability of the creature, tends to fatalism; to be so concerned in maintaining the responsibility of man, as to lose sight of the sovereignty of God, is to exalt the creature and dishonour the Creator.” [= Dua hal tidak perlu diragukan: Allah itu berdaulat, manusia itu bertanggung jawab. ... Menekankan kedaulatan Allah, tanpa juga mempertahankan pertanggungan jawab dari makhluk ciptaan, cenderung kepada fatalisme; terlalu memperhatikan pemeliharaan tanggung jawab manusia, sehingga tidak mengindahkan kedaulatan Allah, sama dengan meninggikan makhluk ciptaan dan merendahkan sang Pencipta.] - ‘The Sovereignty of God’, hal 9.

 

Arthur W. Pink melanjutkan: “We are enjoined to take ‘no thought for the morrow’ (Matt 6:34), yet ‘if any provide not for his own, and specially for those of his own house, he hath denied the faith, and is worse than an infidel’ (1Tim 5:8). No sheep of Christ’s flock can perish (John 10:28,29), yet the Christian is bidden to make his ‘calling and election sure’ (2Peter 1:10). ... These things are not contradictions, but complementaries: the one balances the other. Thus, the Scriptures set forth both the sovereignty of God and the responsibility of man.” [= Kita dilarang untuk ‘menguatirkan hari esok’ (Mat 6:34), tetapi ‘jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman’ (1Tim 5:8). Tidak ada domba Kristus yang bisa binasa (Yoh 10:28-29), tetapi orang kristen diperintahkan untuk membuat ‘panggilan dan pilihannya teguh’ (2Pet 1:10). ... Hal-hal ini tidaklah bertentangan tetapi saling melengkapi: yang satu menyeimbangkan yang lain. Demikian Kitab Suci menyatakan kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia.] - ‘The Sovereignty of God’, hal 11.

 

Louis Berkhof: the Bible certainly does not proceed on the assumption that the divine decree is inconsistent with the free agency of man. It clearly reveals that God has decreed the free acts of man, but also that the actors are none the less free and therefore responsible for their acts, Gen. 50:19, 20; Acts 2:23; 4:27, 28. It was determined that the Jews should bring about the crucifixion of Jesus; yet they were perfectly free in their wicked course of action, and were held responsible for this crime. There is not a single indication in Scripture that the inspired writers are conscious of a contradiction in connection with these matters. They never make an attempt to harmonize the two. This may well restrain us from assuming a contradiction here, even if we cannot reconcile both truths.[= Alkitab jelas tidak melanjutkan asumsi bahwa ketetapan ilahi tidak konsisten dengan kebebasan manusia. Itu secara jelas menyatakan bahwa Allah telah menetapkan tindakan-tindakan bebas manusia, tetapi juga bahwa bagaimanapun aktor-aktor itu bebas dan karena itu bertanggung jawab untuk tindakan-tindakan mereka, Kej 50:19,20; Kis 2:23; 4:27,28. Telah ditentukan bahwa orang-orang Yahudi harus menyebabkan penyaliban Kristus terjadi; tetapi mereka secara sempurna bebas dalam jalan yang jahat dari tindakan mereka, dan dianggap bertanggung jawab untuk kejahatan ini. Di sana tidak ada satu petunjukpun dalam Kitab Suci bahwa penulis-penulis yang diilhami sadar tentang suatu kontradiksi berhubungan dengan persoalan-persoalan ini. Mereka tidak pernah mengusahakan untuk mengharmoniskan kedua hal itu. Ini bisa dengan baik mengekang kita dari menganggap ada suatu kontradiksi di sini, bahkan jika kita tidak bisa mendamaikan kedua kebenaran itu.] - ‘Systematic Theology’, hal 106 (Libronix).

 

Herman Bavinck: “The fact that things and events, including the sinful thoughts and deeds of men, have been eternally known and fixed in that counsel of God does not rob them of their own character but rather establishes and guarantees them all, each in its own kind and nature and in its own context and circumstances. Included in that counsel of God are sin and punishment, but also freedom and responsibility, sense of duty and conscience, and law and justice. In that counsel of God everything that happens is in the very same context it is in when it becomes manifest before our eyes. The conditions are defined in it quite as well as the consequences, the means quite as much as the ends, the ways as the results, the prayers as the answers to prayer, the faith as the justification, sanctification, and glorification.” [= Fakta bahwa hal-hal dan peristiwa-peristiwa, termasuk pikiran-pikiran dan tindakan-tindakan berdosa dari manusia, telah diketahui dan ditetapkan secara kekal dalam rencana Allah, tidak menghapuskan karakter mereka sendiri tetapi sebaliknya meneguhkannya dan menjamin semuanya, masing-masing dalam jenisnya dan sifatnya sendiri dan dalam kontex dan keadaannya sendiri. Termasuk dalam rencana Allah itu dosa dan penghukuman, tetapi juga kebebasan dan tanggung jawab, perasaan kewajiban dan hati nurani, dan hukum dan keadilan. Dalam rencana Allah itu segala sesuatu yang terjadi ada dalam kontex yang sama seperti pada waktu itu terwujud di depan mata kita. Dalam rencana Allah itu syarat ditetapkan sama seperti akibat / konsekwensi, caranya maupun tujuannya, jalannya maupun hasilnya, doanya maupun jawaban doanya, imannya maupun pembenaran, pengudusan dan pemuliaannya.] - ‘Our Reasonable Faith’, hal 163.

 

J. I. Packer: “God’s sovereignty and man’s responsibility are taught us side by side in the same Bible; sometimes, indeed, in the same text. Both are thus guaranteed to us by the same divine authority; both, therefore, are true. It follows that they must be held together, and not played off against each other. Man is a responsible moral agent, though he is also divinely controlled; man is divinely controlled, though he is also a responsible moral agent. God’s sovereignty is a reality, and man’s responsibility is a reality too.” [= Kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia diajarkan bersama-sama dalam Alkitab yang sama; kadang-kadang bahkan dalam text yang sama. Jadi keduanya dijamin / dipastikan bagi kita oleh otoritas ilahi yang sama; karena itu keduanya adalah benar. Sebagai akibatnya mereka harus dipegang bersama-sama, dan tidak diadu / dipertentangkan satu dengan yang lain. Manusia adalah agen moral yang bertanggung jawab, sekalipun ia juga dikontrol oleh Allah; manusia dikontrol oleh Allah, sekalipun ia juga adalah agen moral yang bertanggung jawab. Kedaulatan Allah adalah suatu realita, dan tanggung jawab manusia adalah suatu realita juga.] - ‘Evangelism & The Sovereignty of God’, hal 22-23.

 

William G. T. Shedd: The first characteristic of the Confessional statement that we mention is, that it brings sin within the scope, and under the control of the Divine decree. Sin is one of the ‘whatsoevers’ that have ‘come to pass,’ all of which are ‘ordained.’ ... First, by the permissive decree, sin is brought within the Divine plan of the universe, and under the Divine control. Whatever is undecreed must be by hap-hazard and accident. If sin does not occur by the Divine purpose and permission, it occurs by chance. And if sin occurs by chance, the deity, as in the ancient pagan theologies, is limited and hampered by it. He is not ‘God over all.’ Dualism is introduced into the theory of the universe. Evil is an independent and uncontrollable principle. God governs only in part. Sin with all its effects is beyond his sway. ... If God could permissively decree the fall of Adam and his posterity without being the cause and author of it, he can also permissively decree the eternal death of an individual sinner without being the cause and author of it. ... He permitted the whole human species to fall in Adam in such a manner that they were responsible and guilty for the fall, and he permits an individual of the species to remain a sinner and to be lost by sin, in such a manner that the sinner is responsible and guilty for this. [= Ciri pertama dari pernyataan Pengakuan Iman (Westminster) yang kami sebutkan adalah, bahwa itu membawa dosa ke dalam ruang lingkup, dan di bawah kontrol dari ketetapan Ilahi. Dosa adalah salah satu dari ‘apapun’ yang telah ‘terjadi’, yang semuanya ‘ditentukan’. ... Pertama, oleh ketetapan yang mengijinkan, dosa dibawa ke dalam rencana Ilahi dari alam semesta, dan di bawah kontrol Ilahi. Apapun yang tidak ditetapkan pasti ada karena kebetulan. Jika dosa tidak terjadi karena rencana dan ijin Ilahi, maka itu terjadi karena kebetulan. Dan jika dosa terjadi karena kebetulan, keilahian / Allah, seperti dalam teologi kafir kuno, dibatasi dan dirintangi olehnya. Ia bukanlah ‘Allah atas segala sesuatu’. Dualisme dimasukkan ke dalam teori alam semesta. Kejahatan merupakan suatu elemen hakiki yang bebas / tak tergantung dan tak terkontrol. Allah memerintah hanya sebagian. Dosa dengan semua akibatnya ada di luar kekuasaanNya. ... Jika Allah bisa menetapkan secara mengijinkan kejatuhan Adam dan keturunannya tanpa menjadi penyebab dan penciptanya, Ia juga bisa  menetapkan secara mengijinkan kematian kekal dari seorang berdosa individuil tanpa menjadi penyebab dan penciptanya. ... Ia mengijinkan seluruh umat manusia untuk jatuh di dalam Adam dengan suatu cara sedemikian rupa sehingga mereka bertanggung jawab dan bersalah untuk kejatuhan itu, dan Ia mengijinkan seorang individu dari umat manusia untuk tetap menjadi seorang berdosa dan untuk terhilang oleh / karena dosa, dengan suatu cara sedemikian rupa sehingga orang berdosa itu bertanggung jawab dan bersalah untuk hal ini.] - ‘Calvinism: Pure & Mixed’, hal 31,36,37.

 

Herman Hoeksema: “For this reason we may never separate the fall from the providential government of God. Not only must we never hesitate to say that the fall of man took place according to the determinate counsel of the Most High, in order to serve Him as a means to an end; but we must also understand that it occurred entirely by His own providential power and government. ... This does not mean that we chime in with the morbid exclamation: ‘O blessed fall into sin!’ For the fall itself is not blessed, but is our great guilt.” [= Karena alasan ini kita tidak pernah boleh memisahkan kejatuhan dari pemerintahan yang bersifat providensia dari Allah. Bukan hanya kita tidak pernah boleh ragu-ragu untuk berkata bahwa kejatuhan manusia terjadi sesuai dengan Rencana yang tertentu dari Yang Maha Tinggi, supaya melayani Dia sebagai suatu cara / jalan kepada suatu tujuan; tetapi kita juga harus mengerti bahwa itu terjadi sepenuhnya oleh kuasa dan pemerintahan ProvidensiaNya sendiri. ... Ini tidak berarti bahwa kita setuju dengan teriakan yang tidak sehat / mengerikan: ‘Oh diberkatilah kejatuhan ke dalam dosa!’. Karena kejatuhan itu sendiri tidak diberkati, tetapi merupakan kesalahan besar kita.] - ‘Reformed Dogmatics’, hal 240.

 

R. L. Dabney: “both Scripture and consciousness tell us, that in using man’s acts as means, God’s infinite skill does it always without marring his freedom in the least. But it is objected, second, that if there were an absolute decree, man could not be free; and so, could not be responsible. But consciousness and God’s word assure us we are free. I reply, the facts cannot be incompatible because Scripture most undoubtedly asserts both, and both together. See Is. 10:5-15; Acts 2:23. Second, feeble man procures free acts from his fellow-man, by availing himself of the power of circumstances as inducements to his known dispositions, and yet he regards the agent as free and responsible, and the agent so regards himself. If man can do this sometimes, why may not an infinite God do it all the time? Third, If there is anything about absolute decrees to impinge upon man’s freedom of choice, it must be in their mode of execution, for God’s merely having such a purpose in His secret breast could affect man in no way. But Scripture and consciousness assure us that God executes this purpose as to man’s acts, not against, but through and with man’s own free will.” [= baik Kitab Suci maupun kesadaran memberitahu kita, bahwa dalam menggunakan tindakan-tindakan manusia sebagai cara / jalan, keahlian yang tak terbatas dari Allah melakukan itu selalu tanpa merusak kebebasannya sedikitpun. Tetapi diajukan keberatan, yang kedua, bahwa seandainya di sana ada ketetapan yang mutlak, manusia tidak bisa bebas; dan jika demikian, tidak bisa bertanggung-jawab. Tetapi kesadaran dan firman Allah meyakinkan kita bahwa kita bebas. Saya menjawab, fakta-fakta itu tidak bisa tidak cocok karena Kitab Suci dengan sangat tidak meragukan menegaskan keduanya, dan keduanya bersama-sama. Lihat Yes 10:5-15; Kis 2:23. Kedua, manusia yang lemah mendapatkan / menghasilkan tindakan-tindakan bebas dari sesama manusianya, dengan menggunakan kuasa dari keadaan-keadaan sebagai bimbingan / pengaruh / dorongan pada kecondongannya yang diketahui, tetapi ia menganggap agen itu sebagai bebas dan bertanggung-jawab, dan agen itu menganggap dirinya sendiri demikian. Jika manusia bisa kadang-kadang melakukan hal ini, mengapa Allah yang tak terbatas tidak bisa melakukan ini pada setiap saat? Ketiga, Jika di sana ada apapun tentang ketetapan-ketetapan yang mutlak yang menabrak / melanggar kebebasan pemilihan manusia, itu haruslah dalam cara pelaksanaan, karena dengan Allah hanya mempunyai rencana seperti itu dalam dada rahasiaNya, tidak bisa mempengaruhi manusia dengan cara apapun. Tetapi Kitab Suci dan kesadaran meyakinkan kita bahwa Allah melaksanakan rencana berkenaan dengan tindakan-tindakan manusia ini, bukan menentang, tetapi melalui dan bersama kebebasan kehendak manusia sendiri.] - ‘Lectures In Systematic Theology’, hal 222-223.

 

Charles Hodge: God can control the free acts of rational creatures without destroying either their liberty or their responsibility.” [= Allah bisa mengontrol tindakan-tindakan bebas dari makhluk-makhluk rasionil tanpa menghancurkan kebebasan ataupun tanggung jawab mereka.] - ‘Systematic Theology’, vol II, hal 332.

 

Saya berpendapat bahwa bagian yang harus diperhatikan dalam kata-kata Charles Hodge ini adalah ‘God can’ [= Allah bisa].

 

Kalau saya membuat sebuah film, maka saya akan menyusun naskah, dimana setiap pemain sudah ditentukan harus bertindak apa atau berkata apa. Tetapi sedikit atau banyak selalu ada kebebasan bagi para pemain. Kalau saya tidak memberikan kebebasan sama sekali, maka para pemain itu akan menjadi robot, yang tidak lagi mempunyai kebebasan apapun.

 

Tetapi Allah berbeda dengan saya atau dengan manusia lain. Allah bisa menentukan dan mengontrol segala sesuatu sampai detail-detail yang sekecil-kecilnya, tanpa menghancurkan kebebasan manusia! Bagaimana Ia bisa melakukan hal itu, merupakan suatu mystery bagi kita, tetapi yang jelas Kitab Suci menunjukkan bahwa Allah memang menentukan dan menguasai segala sesuatu, tetapi manusia tetap mempunyai kebebasan dan tanggung jawab.

 

3. Jika / andaikata penentuan lebih dulu dari Allah itu bertentangan dengan kebebasan manusia, maka perlu saudara ketahui bahwa pengetahuan lebih dulu dari Allah, yang jelas harus dipercaya oleh semua orang kristen, juga bertentangan dengan kebebasan manusia. Bukankah kalau Allah tahu bahwa hari ini saudara akan berbuat ini atau itu, maka hal itu pasti terjadi? Lalu dimana kebebasan saudara?

 

Loraine Boettner: “The Arminian objection against foreordination bears with equal force against the foreknowledge of God. What God foreknows must, in the very nature of the case, be as fixed and certain as what is foreordained; and if one is inconsistent with the free agency of man, the other is also. Foreordination renders the events certain, while foreknowledge presupposes that they are certain.” [= Keberatan Arminian terhadap penentuan lebih dulu mengandung / menghasilkan  kekuatan yang sama terhadap / menentang pengetahuan lebih dulu dari Allah. Apa yang Allah ketahui lebih dulu pastilah sama tertentunya dan pastinya seperti apa yang ditentukan lebih dulu; dan jika yang satu tidak konsisten dengan kebebasan manusia, yang lain juga demikian. Penentuan lebih dulu membuat peristiwa-peristiwa pasti / tertentu, sedangkan pengetahuan lebih dulu mensyaratkan bahwa mereka itu pasti / tertentu.] - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 42.

 

Karena itu, kalau ada orang Arminian yang menggunakan hal ini untuk menyerang doktrin Reformed ini, maka serangannya ini bisa menjadi boomerang bagi doktrin mereka sendiri!

 

4. Kebebasan manusia juga ditentukan oleh Allah.

Pada waktu Allah menentukan terjadinya tindakan tertentu dari seorang manusia, maka perlu saudara ingat bahwa Allah menentukan segala-galanya, dan itu berarti bahwa Allah juga menentukan bahwa orang itu akan melakukan tindakan itu secara bebas.

 

Saya ingin memberikan sebuah illustrasi sebagai berikut: misalnya ada suatu pertandingan sepakbola yang disiarkan di TV, dan saya lalu merekam pertandingan itu menggunakan video. Proses perekaman ini saya analogikan dengan penentuan Allah. Sekarang video itu saya putar dan saya tunjukkan kepada banyak orang. Apa yang akan terlihat semuanya sudah tertentu, yaitu persis seperti isi video itu. Tetapi semua orang yang menonton video itu tidak melihat bahwa para pemain sepak bola itu kehilangan kebebasannya. Mereka tetap bermain dan menendang bola dengan kemauannya sendiri. Mengapa? Karena kebebasan mereka juga ikut ditentukan dalam video itu.

 

c) Tetap adanya kebebasan manusia ini menyebabkan manusia tetap bertanggung jawab / dipersalahkan pada waktu ia berbuat dosa.

 

Mengomentari Luk 22:22 Spurgeon berkata: “The decree of God does not lessen the responsibility of man for his action. Even though it is predetermined of God, the man does it of his own free will, and on him falls the full guilt of it.” [= Ketetapan Allah tidak mengurangi tanggung jawab manusia untuk tindakannya. Sekalipun hal itu sudah ditentukan lebih dulu oleh Allah, manusia melakukannya dengan kehendak bebasnya sendiri, dan pada dialah jatuh kesalahan sepenuhnya.] - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 12, hal 18.

 

John Calvin: “For even though by God’s eternal providence man has been created to undergo that calamity to which he is subject, it still takes its occasion from man himself, not from God, since the only reason for his ruin is that he has degenerated from God’s pure creation into vicious and impure perversity.” [= Karena sekalipun oleh Providensia kekal dari Allah manusia telah diciptakan untuk mengalami bencana itu pada mana ia tunduk / dibuat untuk mengalami, itu tetap mendapat kejadiannya dari manusia itu sendiri, bukan dari Allah, karena satu-satunya alasan untuk kehancurannya adalah bahwa ia telah merosot dari ciptaan murni Allah ke dalam keadaan bejat yang jahat dan tidak murni.] - ‘Institutes of The Christian Religion’, Book III, Chapter XXIII, no 9.

 

d) Tetap adanya kebebasan dan tanggung jawab manusia ini, menyebabkan dalam theologia Reformed manusia tetap berbeda dengan robot / wayang. Ini juga menyebabkan Calvinisme / Reformed berbeda dengan Fatalisme maupun dengan Hyper-Calvinisme, yang karena percaya bahwa Allah telah menetapkan segala sesuatu, lalu hidup secara apatis / acuh tak acuh dan secara tak bertanggung jawab! Hendaknya ini diperhatikan oleh orang-orang yang menuduh / memfitnah ajaran saya tentang Providence of God ini sebagai Hyper-Calvinisme!

 

Karena banyaknya orang tolol yang menganggap bahwa asal seseorang percaya bahwa Allah menentukan segala sesuatu termasuk dosa, maka orang itu adalah seorang Hyper-Calvinist, maka saudara perlu tahu / mengerti, apakah Hyper-Calvinisme itu. Untuk bisa mengerti apa Hyper-Calvinisme itu, di sini saya memberikan sebuah kutipan, yang menjelaskan Hyper-Calvinisme tersebut.

 

Edwin H. Palmer: “Hyper-Calvinism. Diametrically opposite to the Arminian is the hyper-Calvinist. He looks at both sets of facts - the sovereignty of God and the freedom of man - and, like the Arminian, says he cannot reconcile the two apparently contradictory forces. Like the Arminian, he solves the problem in a rationalistic way by denying one side of the problem. Whereas the Arminian denies the sovereignty of God, the hyper-Calvinist denies the responsibility of man. He sees the clear Biblical statements concerning God’s foreordination and holds firmly to that. But being logically unable to reconcile it with man’s responsibility, he denies the latter. Thus the Arminian and the hyper-Calvinist, although poles apart, are really very close together in their rationalism.” [= Hyper-Calvinisme. Bertentangan frontal dengan orang Arminian adalah orang yang hyper-Calvinist. Ia melihat pada kedua fakta - kedaulatan Allah dan kebebasan manusia - dan, seperti orang Arminian, ia mengatakan bahwa ia tidak dapat mendamaikan kedua kekuatan yang tampaknya bertentangan itu. Seperti orang Arminian, ia memecahkan problem itu dengan cara yang logis dengan menyangkal satu sisi dari problem itu. Sementara orang Arminian menyangkal kedaulatan Allah, maka penganut Hyper-Calvinisme meninggalkan fakta tanggung jawab manusia. Ia melihat pernyataan yang jelas dari Alkitab mengenai penentuan lebih dulu dari Allah dan memegang hal itu dengan teguh. Tetapi karena tidak mampu mendamaikannya secara logis dengan tanggung jawab manusia, ia menyangkal tanggung jawab manusia itu. Jadi orang Arminian dan orang hyper-Calvinist, sekalipun merupakan kutub-kutub yang bertentangan, sebetulnya sangat dekat dalam cara berpikirnya.] - ‘The Five Points of Calvinism’, hal 84.

 

Sebaliknya, Calvin maupun para Calvinist / orang Reformed yang sejati, mempunyai cara pikir yang berbeda. Sekalipun Calvin / Calvinist / orang Reformed juga melihat kedua fakta itu kelihatannya bertentangan, tetapi karena keduanya secara jelas diajarkan dalam Alkitab, maka Calvin / Calvinist / orang Reformed menerima keduanya.

 

E. J. Young (tentang Yes 45:7): “The Bible teaches that there is a decretum absolutum, that God has foreordained whatsoever comes to pass. Likewise, the Bible also teaches the responsibility of the creature. Both are scriptural truths and both are to be accepted. To stress the first aspect of the truth at the expense of the second is to fall into the error of fatalism or hyper-Calvinism. To stress the second at the expense of the first is to fall into the error of Arminianism. There is a third position, namely to accept both aspects even though one cannot harmonize nor reconcile them. They can, however, be reconciled by God. Hence, even though we say that God has foreordained whatsoever comes to pass, we are not thereby denying the responsibility of the creature.” [= Alkitab mengajarkan bahwa di sana ada suatu decretum absolutum {= ketetapan mutlak}, bahwa Allah telah menentukan lebih dulu apapun yang akan terjadi. Dengan cara yang sama, Alkitab juga mengajarkan tanggung jawab dari makhluk ciptaan. Keduanya adalah kebenaran-kebenaran Alkitabiah dan keduanya harus diterima. Menekankan aspek yang pertama dari kebenaran dengan mengorbankan yang kedua berarti jatuh dalam kesalahan dari fatalisme atau hyper-Calvinisme. Menekankan yang kedua dengan mengorbankan yang pertama berarti jatuh ke dalam kesalahan dari Arminianisme. Di sana ada posisi yang ketiga, yaitu menerima kedua aspek sekalipun seseorang tidak bisa mengharmoniskan ataupun memperdamaikan mereka. Tetapi mereka bisa diperdamaikan oleh Allah. Jadi, sekalipun kami berkata bahwa Allah telah menentukan lebih dulu apapun yang akan terjadi, hal itu tidak menyebabkan kita menyangkal tanggung jawab dari makhluk ciptaan.].

 

Saya sendiri, sekalipun menekankan penetapan Allah, tetapi saya juga sangat menekankan tanggung jawab manusia (lihat pelajaran V). Karena itu adalah omong kosong / fitnah kalau dikatakan bahwa ajaran saya adalah Hyper-Calvinisme. Kalau saya adalah seorang Hyper Calvinist, maka pastilah Calvin sendiri juga adalah seorang Hyper Calvinist, demikian juga dengan para ahli theologia Reformed yang lain, karena ajaran ini saya dapatkan dari mereka.

 

Sebagai suatu catatan tambahan, saya percaya bahwa seorang Hyper-Calvinist yang sejati dan konsisten, tidak mungkin bisa hidup. Karena kalau dia sakit, dia tidak akan mencari dokter ataupun obat. Kalau dia menyeberang jalan atau mengemudikan mobil / motor, dia akan melakukannya sambil menutup matanya. Dia bahkan tak akan merasa perlu untuk makan dan minum. Semua ini terjadi karena ia hanya mempercayai penentuan oleh Allah, dan ia menyangkal tanggung jawab manusia. Jadi Hyper-Calvinisme itu sebetulnya hanya ada dalam teori, dan tidak ada dalam faktanya (atau kalau ada, ia pasti tidak konsisten).

 

Tetapi kalau Hyper-Calvinist yang konsisten dalam faktanya tidak ada, maka sangat berbeda dengan Arminian. Orang-orang Arminian jelas ada dan sangat banyak (sekalipun sebagian dari mereka tidak menyadari, atau tidak mengakui, kalau mereka adalah orang Arminian!).

 

C) Problem Kej 45:8.

 

Ada satu ayat dalam Kitab Suci yang kalau disalah-mengerti bisa menimbulkan kesan bahwa karena Allah telah menentukan dan mengatur segala sesuatu, maka manusia tidak bertanggung jawab. Ayat itu adalah Kej 45:8.

 

Kej 45:7-8 - “(7) Maka Allah telah menyuruh aku mendahului kamu untuk menjamin kelanjutan keturunanmu di bumi ini dan untuk memelihara hidupmu, sehingga sebagian besar dari padamu tertolong. (8) Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah; Dialah yang telah menempatkan aku sebagai bapa bagi Firaun dan tuan atas seluruh istananya dan sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir..

 

Dalam Kej 45:8 itu, waktu Yusuf menghibur saudara-saudaranya yang ketakutan, ia berkata: “Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah”. Kata-kata ‘bukanlah kamu’ dalam Kej 45:8 ini diucapkan Yusuf untuk menghibur saudara-saudaranya, tetapi ini tetap adalah salah dan merupakan suatu dusta, karena:

 

1. Sekalipun memang Allahlah yang menetapkan peristiwa penjualan Yusuf itu, sehingga Ia adalah The First Cause [= Penyebab Pertama] dari peristiwa ini, tetapi saudara-saudara Yusuflah yang melaksanakan penjualan itu, sehingga Yusuf seharusnya tidak boleh berkata ‘bukanlah kamu’.

 

2. Kata-kata ini menunjukkan bahwa saudara-saudaranya tidak bertanggung-jawab atas dosa yang mereka lakukan itu, dan ini jelas salah.

 

Calvin (tentang Kej 45:8): Let us now examine the words of Joseph. For the consolation of his brethren he seems to draw the veil of oblivion over their fault. But we know that men are not exempt from guilt, although God may, beyond expectation, bring what they wickedly attempt, to a good and happy issue. [= Sekarang marilah kita memeriksa kata-kata Yusuf. Untuk penghiburan terhadap saudara-saudaranya kelihatannya ia menggunakan kerudung pengabaian terhadap kesalahan mereka. Tetapi kita tahu bahwa manusia tidak bebas dari kesalahan, sekalipun Allah bisa, di luar / melampaui pengharapan, membawa apa yang mereka usahakan secara jahat, pada suatu hasil yang baik dan membahagiakan.].

 

Tetapi belakangan, dalam Kej 50:20, Yusuf berkata dengan lebih terus terang / jujur.

 

Kej 50:20 - Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar..

 

Kata-kata ‘memang kamu’ dalam Kej 50:20 ini kontras / bertentangan dengan kata-kata ‘bukanlah kamu’ dalam Kej 45:8, dan menunjukkan bahwa saudara-saudaranya memang melakukan kejahatan itu dan tetap bertanggung jawab atas apa yang telah mereka lakukan.

 

Calvin (tentang Kej 50:20): we must notice this difference in his language: for whereas, in the former passage, Joseph, desiring to soothe the grief, and to alleviate the fear of his brethren, would cover their wickedness by every means which ingenuity could suggest; he now corrects them a little more openly and freely; [= kita harus memperhatikan perbedaan dalam bahasa / kata-kata ini: karena sementara, dalam text yang terdahulu, Yusuf, karena menginginkan untuk menenangkan / meringankan kesedihan, dan untuk mengurangi rasa takut dari saudara-saudaranya, menutupi kejahatan mereka dengan setiap cara yang bisa diusulkan oleh kepandaian; sekarang ia mengkoreksi mereka dengan sedikit lebih terbuka dan lebih bebas;].

 

 

 

-o0o-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : buas22@yahoo.com

e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com

http://golgothaministry.org