Golgotha School of Ministry

 

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

 

Rabu, tgl 18 Juli 2018, pk 19.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

Providence of God (22)

 

B) Mengapa manusia tetap mempunyai tanggung jawab?

 

1) Kita harus hidup sesuai dengan kehendak Allah yang dinyatakan kepada kita (yaitu Firman Tuhan / Kitab Suci), bukan berdasarkan kehendak / rencana Allah yang tersembunyi / yang tidak kita ketahui.

 

Ul 29:29 - Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini.’”.

 

Perhatikan bahwa ayat ini berkata bahwa:

a)     ‘hal-hal yang tersembunyi’ itu ialah ‘bagi Tuhan’.

Jadi, Rencana Allah yang tersembunyi / tidak kita ketahui itu, bukan untuk kita, dan karenanya itu bukan pedoman hidup kita.

b)     ‘hal-hal yang dinyatakan’ ialah ‘bagi kita’.

‘Hal-hal yang dinyatakan’ ini ialah hukum Taurat, atau Firman Tuhan. Ini dikatakan ‘bagi kita’, dan karena itu inilah pedoman hidup kita.

 

Calvin (tentang Ul 29:29): “To me there appears no doubt that, by antithesis, there is a comparison here made between the doctrine openly set forth in the Law, and the hidden and incomprehensible counsel of God, concerning which it is not lawful to inquire. In my opinion, therefore, the copula is used for the adversative particle; as though it were said, ‘God indeed retains to Himself secret things, which it neither concerns nor profits us to know, and which surpass our comprehension; but these things, which He has declared to us, belong to us and to our children.’” [= Bagi saya disana terlihat tak ada keraguan bahwa, oleh suatu pengkontrasan, disana ada suatu perbandingan yang dibuat disini antara ajaran yang dinyatakan dengan kata-kata dalam hukum Taurat, dan rencana yang tersembunyi dan tak bisa dimengerti dari Allah, berkenaan dengan mana merupakan sesuatu yang salah untuk menanyakan / menyelidiki. Karena itu, dalam pandangan saya, kata kerja penghubung digunakan untuk bagian yang menyatakan pertentangan / kontras; seakan-akan dikatakan, ‘Allah memang menahan bagi diriNya sendiri hal-hal yang bersifat rahasia, yang tidak penting ataupun berguna bagi kita untuk mengetahuinya, dan yang melampaui pengertian kita; tetapi hal-hal ini, yang telah Ia nyatakan kepada kita, adalah milik kita dan anak-anak kita’.].

Catatan: saya tak terlalu mengerti bagaimana menterjemahkan bagian yang saya beri warna hijau.

a) ‘copula’ seharusnya berarti ‘kata kerja penghubung’, dan itu dalam bahasa Inggris biasanya adalah kata kerja ‘to be’ (am, is, are).

b) ‘adversative particle’ kalau diterjemahkan adalah ‘bagian yang menyatakan pertentangan’. Kalau dilihat dalam Bible Works 8 maka dalam LXX / Septuaginta digunakan kata Yunani DE [= but / tetapi] yang disebut sebagai  ‘adversative particle’, dan dalam bahasa Ibrani itu adalah huruf Vaw, yang memang bisa berarti ‘but’ / ‘tetapi’.

 

Tetapi bagaimanapun, kita bisa mengerti apa yang Calvin maksudkan. Ayat ini memang mengkontraskan 2 hal:

1. Yang pertama rencana Allah yang tersembunyi dan melampaui pengertian kita. Ini tak penting ataupun berguna bagi kita untuk mengetahuinya.

2. Yang kedua adalah hukum Taurat, yang telah Allah nyatakan kepada kita. Ini yang berguna bagi kita dan anak-anak kita.

 

Calvin (tentang Ul 29:29): “It is a remarkable passage, and especially deserving of our observation, for by it audacity and excessive curiosity are condemned, whilst pious minds are aroused to be zealous in seeking instruction. We know how anxious men are to understand things, the knowledge of which is altogether unprofitable, and even the investigation of them injurious. ... On the other hand, what God plainly sets before us, and would have familiarly known, is either neglected, or turned from in disgust, or put far away from us, as if it were too obscure. In the first clause, then, Moses briefly reproves and restrains that temerity which leaps beyond the bounds imposed by God; and in the latter, exhorts us to embrace the doctrine of the Law, in which God’s will is declared to us, as if He were openly speaking to us; and thus he encounters the folly of those who fly from the light presented to them, and wrongfully accuse of obscurity that doctrine, wherein God has let Himself down to the measure of our understanding.” [= Ini merupakan text yang layak diperhatikan, dan secara khusus layak mendapatkan perhatian kita, karena olehnya keberanian dan keingin-tahuan yang berlebihan dikecam, sedangkan pikiran yang saleh dibangkitkan untuk bersemangat dalam mencari instruksi / pengajaran. Kita tahu betapa sangat inginnya manusia untuk mengerti hal-hal, yang pengertian tentangnya sama sekali tak bermanfaat, dan bahkan penyelidikan tentangnya berbahaya. ... Di sisi yang lain, apa yang Allah secara jelas letakkan di depan kita, dan inginkan untuk kita ketahui secara akrab, atau kita abaikan, atau kita berpaling darinya dalam kejijikan, atau kita jauhkan itu dari kita, seakan-akan itu terlalu kabur. Jadi, dalam anak kalimat yang pertama, Musa secara singkat mencela dan mengekang kecerobohan / keberanian yang berlebihan yang meloncat melampaui batasan-batasan yang ditetapkan oleh Allah; dan dalam anak kalimat yang kedua, mendesak kita untuk menerima ajaran dari hukum Taurat, dalam mana kehendak Allah dinyatakan kepada kita, seakan-akan Ia secara terbuka berbicara kepada kita; dan demikianlah Ia menghadapi kebodohan dari mereka yang lari dari terang yang ditawarkan kepada mereka, dan secara salah menuduh kekaburan ajaran itu, dalam mana Allah telah menurunkan diriNya sendiri pada ukuran dari pengertian kita.].

 

Calvin (tentang Ul 29:29): “Lastly, Moses requires obedience of the people, and reminds them that the Law was not only given that the Israelites might know what was right, but that they might do all that God taught.” [= Yang terakhir, Musa menuntut ketaatan dari bangsa itu, dan mengingatkan mereka bahwa hukum Taurat bukan diberikan hanya supaya bangsa Israel bisa tahu apa yang benar, tetapi supaya mereka bisa melakukan semua yang Allah ajarkan.].

 

Bdk. Yak 1:22 - Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri..

 

Contoh:

 

a)     Dalam persoalan keselamatan.

Tuhan sudah menentukan / memilih orang-orang tertentu untuk selamat (Ef 1:4,5,11) dan orang-orang tertentu untuk binasa / masuk neraka (Yoh 17:12  Ro 9:22), tetapi kita tidak tahu siapa yang dipilih untuk selamat dan siapa yang dipilih untuk binasa. Jadi itu adalah kehendak Allah yang tersembunyi dan tidak boleh kita jadikan dasar / pedoman hidup kita, misalnya dengan berpikir / bersikap seperti ini:

 

1. Sekarang ini saya tidak perlu percaya kepada Yesus. Kalau saya memang ditentukan selamat, nanti saya pasti akan percaya dengan sendirinya. Dan sebaliknya, kalau saya ditentukan untuk binasa, bagaimanapun saya mau percaya, saya tak akan bisa percaya. Pikiran / sikap seperti ini jelas salah!

 

2. Mungkin orang yang mau saya injili itu bukan orang pilihan, sehingga hanya membuang-buang waktu dan tenaga untuk memberitakan Injil kepada dia. Biarkan saja dia, kalau ternyata dia orang pilihan, toh nanti dia akan percaya dengan sendirinya. Lagi-lagi, pikiran / sikap seperti ini jelas salah!

 

Sebaliknya, kita harus hidup berda­sarkan Firman Tuhan (kehendak Allah yang dinyatakan bagi kita), misalnya:

 

a. Kis 16:31 merupakan perintah untuk percaya kepada Yesus. Jadi, apakah saya dipilih untuk selamat atau binasa, itu tidak saya ketahui, dan karenanya bukan urusan saya dan bukan pedoman hidup saya. Pedoman hidup saya adalah Firman Tuhan, dan Firman Tuhan dalam Kis 16:31 menyuruh saya percaya kepada Yesus.

 

Kis 16:30-31 - “(30) Ia mengantar mereka ke luar, sambil berkata: ‘Tuan-tuan, apakah yang harus aku perbuat, supaya aku selamat?’ (31) Jawab mereka: ‘Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.’.

 

b. Mat 28:19-20 merupakan perintah untuk memberitakan Injil kepada semua orang. Jadi pada waktu saya bertemu dengan seseorang, bukanlah urusan saya apakah orang itu dipilih untuk selamat atau binasa. Itu tidak saya ketahui dan karenanya bukan pedoman hidup saya. Urusan saya adalah melakukan perintah Firman Tuhan dalam Mat 28:19, yaitu menjadikan semua bangsa murid Yesus.

 

Mengingat adanya banyak fitnahan bahwa menjadi seorang Calvinist / Reformed berarti tidak perlu memberitakan Injil, mari kita lihat pandangan Calvin sendiri berkenaan dengan hal ini.

 

Calvin (tentang Mat 28:19): The meaning amounts to this, that by proclaiming the gospel everywhere, they should bring ‘all nations’ to the obedience of the faith, and next, that they should seal and ratify their doctrine by the sign of the gospel. ... Let us learn from this passage, that the apostleship is not an empty title, but a laborious office; and that, consequently, nothing is more absurd or intolerable than that this honor should be claimed by hypocrites, who live like kings at their ease, and disdainfully throw away from themselves the office of ‘teaching.’ ... no man can be a successor of the apostles who does not devote his services to Christ in the preaching of the gospel.” [= Artinya adalah ini, bahwa dengan memberitakan Injil dimana-mana, mereka harus membawa ‘semua bangsa’ pada ketaatan dari iman, dan selanjutnya, bahwa mereka harus memeteraikan dan meneguhkan ajaran mereka dengan tanda dari injil. ... Hendaklah kita belajar dari text ini, bahwa kerasulan bukanlah suatu gelar yang kosong, tetapi suatu jabatan yang ditandai oleh jerih payah / kerja keras; dan bahwa, karena itu, tak ada yang lebih menggelikan / konyol atau tak bisa ditoleransi dari pada bahwa kehormatan ini harus diclaim oleh orang-orang munafik, yang hidup seperti raja-raja dalam kenyamanan mereka, dan dengan bersikap jijik membuang dari diri mereka sendiri tugas dari ‘pengajaran’. ... tak seorangpun bisa adalah seorang pengganti dari rasul-rasul, yang tidak membaktikan pelayanan-pelayanannya kepada Kristus dalam pemberitaan Injil.].

Catatan: dalam bagian akhir dari kutipan ini (bagian yang saya beri warna hijau), Calvin jelas menyerang Gereja Katolik yang menganggap Paus sebagai pengganti rasul-rasul.

 

Bdk. Ro 10:13-15 - “(13) Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. (14) Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepadaNya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakanNya? (15) Dan bagaimana mereka dapat memberitakanNya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: ‘Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!’.

Catatan: aneh bahwa dalam terjemahan LAI ay 14b tidak diakhiri dengan tanda tanya, padahal ini jelas-jelas merupakan suatu kalimat tanya. Dalam terjemahan-terjemahan bahasa Inggris, semua kalimat-kalimat dalam ay 14-15a merupakan kalimat-kalimat tanya, dan diakhiri dengan tanda tanya.

 

Calvin (tentang Ro 10:14-17): “Where then there is a calling on God, there is faith; and where faith is, the seed of the word has preceded; where there is preaching there is the calling of God.” [= Jadi dimana ada suatu pemanggilan kepada Allah, disana ada iman; dan dimana iman ada, benih dari firman telah mendahuluinya; dimana disana ada pemberitaan disana ada panggilan dari Allah.].

 

Calvin (tentang Ro 10:14): “It belongs not indeed to us to imagine a God according to what we may fancy; we ought to possess a right knowledge of him, such as is set forth in his word. ... it is therefore necessary to have the word, that we may have a right knowledge of God.” [= Tidak seharusnya bagi kita untuk membayangkan / mengkhayalkan seorang Allah sesuai dengan apa yang bisa kita bayangkan; kita harus mempunyai suatu pengetahuan yang benar tentang Dia, seperti yang dinyatakan dalam firmanNya. ... karena itu adalah perlu untuk mempunyai / mendapatkan firman, supaya kita bisa mempunyai suatu pengetahuan yang benar tentang Allah.].

 

Calvin (tentang Ro 10:15): But hence we also learn how much ought all good men to desire, and how much they ought to value the preaching of the gospel, which is thus commended to us by the mouth of the Lord himself. Nor is there indeed a doubt, but that God has thus highly spoken of the incomparable value of this treasure, for the purpose of awakening the minds of all, so that they may anxiously desire it.” [= Tetapi karena itu kita juga belajar betapa banyak seharusnya semua orang baik / saleh menginginkan, dan betapa banyak mereka harus menilai pemberitaan Injil, yang dipercayakan dengan cara seperti itu kepada kita oleh mulut Tuhan sendiri. Juga tak ada keraguan bahwa Allah telah berbicara dengan begitu tinggi tentang nilai yang tak ada bandingannya dari harta ini, untuk tujuan membangkitkan pikiran dari semua orang, sehingga mereka bisa menginginkannya dengan sungguh-sungguh.].

 

b)     Dalam persoalan kematian / kesehatan.

Misalnya saya terkena suatu penyakit. Dan saya lalu berpikir: ‘Mungkin saya sudah ditetapkan untuk mati, jadi percuma saya berusaha untuk sembuh’. Ini sikap yang salah! Memang Tuhan sudah menentukan saat kematian saya, dan juga apakah saya akan sembuh atau tidak, dan kalau Tuhan menentukan saya sembuh maka saat kesembuhannya juga sudah ditentukan, dan semua ketentuan Allah itu pasti terjadi. Tetapi persoalannya adalah: saya tidak tahu akan ketetapan Allah itu! Itu merupakan ‘hal yang tersembunyi’ bagi saya dan karena itu maka hal itu bukan pedoman hidup saya. Pedoman hidup saya adalah Kitab Suci, dan Kitab Suci menyuruh saya mengasihi diri saya sendiri (Mat 22:39  Ef 5:28-29).

 

Mat 22:39 - Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri..

 

Ef 5:28-29 - “(28) Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. (29) Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat,.

 

Catatan: mengasihi diri sendiri itu salah, kalau motivasinya egoisme!

 

Karena itu, pada saat saya sakit, saya harus berusaha untuk sembuh, dengan cara apapun yang memungkinkan, selama saya tidak mencari kesembuhan itu dengan jalan yang salah, misalnya dengan pergi ke dukun (atau dengan latihan yoga, yang jelas termasuk dalam okultisme!).

 

c)     Dalam hal yang bersifat dosa.

Kalau ada orang yang berbuat jahat kepada saudara, dan saudara digoda setan untuk membalasnya, maka saudara tidak boleh berpikir: Barangkali saya ditentukan untuk membalas.’. Faktanya adalah: saudara tidak mengetahui ketentuan Allah dalam persoalan itu, lalu mengapa menebak-nebak apa yang tidak saudara ketahui? Dan kalau menebak, mengapa tidak menebak sebaliknya? Karena hal itu tidak diketahui, maka itu bukan pedoman hidup saudara. Pedoman hidup saudara adalah apa yang dinyatakan kepada saudara dalam Kitab Suci, yaitu “Kasihilah musuhmu” (Mat 5:44).

 

Kalau saudara mencari pasangan hidup, dan lalu jatuh cinta kepada seseorang yang belum percaya kepada Kristus, maka jangan berpikir: Barangkali saya ditentukan untuk kawin dengan orang kafir.’. Pedoman hidup saudara adalah Kitab Suci yang berkata: “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya.” (2Kor 6:14a).

 

Kalau saudara sudah menikah dan lalu tergoda oleh seorang wanita lain, jangan berpikir: ‘Mungkin saya ditentukan untuk berzinah.’. Pedoman saudara adalah Kitab Suci yang berkata: “Jangan berzinah.” (Kel 20:14).

 

Ilustrasi: Ada cerita tentang seorang pendeta yang sudah menikah yang suatu hari pergi naik kereta api. Di depannya duduk seorang gadis yang sangat cantik dan sexy, dan pendeta ini merasa bahwa dirinya tergoda oleh kecantikan dan ke-sexy-an gadis itu, dan karena itu ia terus berdoa supaya Tuhan menolongnya menghadapi pencobaan tersebut. Tiba-tiba kereta api mengerem mendadak, dan gadis tersebut terlempar dari kursinya dan jatuh ke pelukan si pendeta. Si pendeta merangkul gadis itu sambil berkata: ‘Tuhan, jadilah kehendakMu!’.

 

Ini hanya lelucon, tetapi merupakan contoh yang salah dimana seseorang hidup berdasarkan Rencana kekal dari Allah (atau yang ia anggap sebagai Rencana kekal dari Allah), dan bukannya berdasarkan Firman Tuhan, yang jelas melarang perzinahan!

 

2) Sekalipun Allah menentukan dan mengatur terjadinya dosa, sehingga dosa itu pasti terjadi, tetapi pada saat dosa itu terjadi, manusia melakukan dosa itu dengan kemauannya sendiri! Ini menunjukkan bahwa kebebasan manusia tidak dibuang!

 

John Calvin: “we posited a distinction between compulsion and necessity from which it appears that man, while he sins of necessity, yet sins no less voluntarily.” [= kami menempatkan suatu perbedaan di antara pemaksaan dan kepastian dari mana terlihat bahwa manusia, sementara ia pasti berdosa, tetapi ia berdosa dengan sukarela.] - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book II, Chapter IV, No 1.

 

a)     Dasar Kitab Suci:

 

1. Dalam Kel 4:21 Allah berkata bahwa Ia akan mengeraskan hati Firaun, tetapi pada waktu ketetapan Allah itu terlaksana, ternyata Firaun mengeraskan hatinya sendiri (Kel 7:13,22  8:15,19,32  9:7,34-35).

 

Kel 4:21 - Firman TUHAN kepada Musa: ‘Pada waktu engkau hendak kembali ini ke Mesir, ingatlah, supaya segala mujizat yang telah Kuserahkan ke dalam tanganmu, kauperbuat di depan Firaun. Tetapi Aku akan mengeraskan hatinya, sehingga ia tidak membiarkan bangsa itu pergi..

 

Kel 7:3 - Tetapi Aku akan mengeraskan hati Firaun, dan Aku akan memperbanyak tanda-tanda dan mujizat-mujizat yang Kubuat di tanah Mesir..

 

Kel 9:34 - Tetapi ketika Firaun melihat, bahwa hujan, hujan es dan guruh telah berhenti, maka teruslah ia berbuat dosa; ia tetap berkeras hati, baik ia maupun para pegawainya..

KJV: ‘and hardened his heart’ [= dan mengeraskan hatinya].

 

Kel 14:4-5,8a - “(4) Aku akan mengeraskan hati Firaun, sehingga ia mengejar mereka. Dan terhadap Firaun dan seluruh pasukannya Aku akan menyatakan kemuliaanKu, sehingga orang Mesir mengetahui, bahwa Akulah TUHAN.’ Lalu mereka berbuat demikian. (5) Ketika diberitahukan kepada raja Mesir, bahwa bangsa itu telah lari, maka berubahlah hati Firaun dan pegawai-pegawainya terhadap bangsa itu, dan berkatalah mereka: ‘Apakah yang telah kita perbuat ini, bahwa kita membiarkan orang Israel pergi dari perbudakan kita?’ ... (8a) Demikianlah TUHAN mengeraskan hati Firaun, raja Mesir itu, sehingga ia mengejar orang Israel..

 

2. Dalam Ayub 1:21 Ayub berkata bahwa Tuhan yang mengambil’; tetapi dalam Ayub 1:15,17 orang-orang Syeba dan Kasdim melakukan perampokan itu dengan kemauan mereka sendiri.

 

3. Yes 10:5-7 - Asyur adalah alat Tuhan untuk menghukum Israel, tetapi Asyur melakukan sendiri dengan motivasi yang berbeda.

 

Yes 10:5-7 - “(5) Celakalah Asyur, yang menjadi cambuk murkaKu dan yang menjadi tongkat amarahKu! (6) Aku akan menyuruhnya terhadap bangsa yang murtad, dan Aku akan memerintahkannya melawan umat sasaran murkaKu, untuk melakukan perampasan dan penjarahan, dan untuk menginjak-injak mereka seperti lumpur di jalan. (7) Tetapi dia sendiri tidak demikian maksudnya dan tidak demikian rancangan hatinya, melainkan niat hatinya ialah hendak memunahkan dan hendak melenyapkan tidak sedikit bangsa-bangsa..

 

b) Salah satu pertanyaan yang paling sering keluar dalam persoalan ini adalah: Jika Allah sudah menentukan dan mengatur segala sesuatu, bagaimana mungkin manusia masih bisa mempunyai kebebasan, dan bahkan harus bertanggung jawab atas dosanya?

 

Jawab:

 

1. Terus terang, tidak ada orang yang bisa mengharmoniskan 2 hal yang kelihatannya bertentangan ini. Orang Reformed hanya melihat bahwa 2 hal itu sama-sama diajarkan oleh Kitab Suci (bdk. Ro 9:19-21  Luk 22:22), tetapi Kitab Suci tidak pernah mengharmoniskannya. Karena itu orang Reformed juga mengajarkan kedua hal itu, tanpa mengharmoniskannya. Ini merupakan wujud kesetiaan dan ketundukan kepada Kitab Suci, sekalipun Kitab Suci itu melampaui akal kita!

 

Ro 9:19-21 - “(19) Sekarang kamu akan berkata kepadaku: ‘Jika demikian, apa lagi yang masih disalahkanNya? Sebab siapa yang menentang kehendakNya?’ (20) Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: ‘Mengapakah engkau membentuk aku demikian?’ (21) Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa?.

 

Luk 22:22 - Sebab Anak Manusia memang akan pergi seperti yang telah ditetapkan, akan tetapi, celakalah orang yang olehnya Ia diserahkan!.

 

Sebetulnya dalam banyak hal yang lain, kita juga melihat hal yang sama.

Misalnya:

a. Kita percaya bahwa Allah itu maha kasih dan mahatahu.

b. Kita juga percaya bahwa Allah menciptakan neraka dan orang-orang tertentu yang Ia tahu bakal masuk ke neraka.

Kalau memang Ia maha kasih dan maha tahu, mengapa Ia tidak hanya menciptakan orang yang akan masuk ke surga?

Saya yakin tidak ada orang yang bisa mengharmoniskan 2 kebenaran di atas itu, termasuk orang Arminian, tetapi toh semua orang kristen (termasuk orang Arminian) percaya dan mengajarkan ke 2 kebenaran itu, karena Kitab Suci memang jelas mengajarkan kedua hal itu. Lalu mengapa dalam hal doktrin Providence of God ini kita tidak mau bersikap sama?

 

Calvin (tentang Kej 50:20): “If human minds cannot reach these depths, let them rather suppliantly adore the mysteries they do not comprehend, than, as vessels of clay, proudly exalt themselves against their Maker.” [= Jika pikiran manusia tidak bisa menjangkau hal-hal yang dalam ini, hendaklah mereka dengan rendah hati memuja misteri yang tidak mereka mengerti, dari pada, sebagai bejana tanah liat, dengan sombong meninggikan diri mereka sendiri terhadap Pencipta mereka.] - hal 488.

 

 

 

-bersambung-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : buas22@yahoo.com

e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com

http://golgothaministry.org