Golgotha School of Ministry

 

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

 

Rabu, tgl 4 Juli 2018, pk 19.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

Providence of God (20)

 

V. Providence dan

kebebasan / tanggung jawab manusia

 

Sekalipun ajaran Reformed / Calvinisme percaya akan penentuan dosa, dan dosa yang ditentukan itu pasti terjadi, tetapi pada saat yang sama, ajaran Reformed / Calvinisme TIDAK MEMBUANG TANGGUNG JAWAB MANUSIA!!! Jadi sekalipun dosa ditentukan, tetapi manusia tetap bertanggung jawab!

 

A) Tanggung jawab manusia.

 

Adanya Rencana / penetapan Allah dan Providence of God tidak membuang tanggung jawab manusia! Yang saya maksud dengan ‘tanggung jawab manusia’ adalah:

 

1) Manusia tetap bertanggung jawab, dalam arti manusia mempunyai kewajiban, untuk melakukan hal yang terbaik sesuai dengan Firman Tuhan (dan juga sesuai dengan akal sehat).

Catatan: firman Tuhan tetap ada di atas akal sehat!

 

Contoh:

a) Sekalipun Allah menentukan saat kematian kita, dan itu pasti terjadi, kita tetap perlu, dan bahkan harus, berusaha menjaga nyawa kita.

b) Sekalipun Allah menentukan penyakit / kesehatan kita, kita tetap perlu, dan bahkan harus, menjaga kesehatan kita.

c) Sekalipun Allah menentukan dosa-dosa kita, kita tetap perlu, dan bahkan harus, berusaha menguduskan diri, menjauhi dosa, dan melawan godaan setan.

d) Sekalipun Allah menentukan tentang ketidak-percayaan / kebinasaan seseorang (reprobation), kita tetap perlu, dan bahkan harus, memberitakan Injil kepada semua orang yang bisa kita jangkau, mendoakan pertobatan mereka, dsb.

 

Charles Haddon Spurgeon: “Let the providence of God do what it may, your business is to do what you can.” [= Biarlah providensia Allah melakukan apapun, urusanmu adalah melakukan apa yang kamu bisa.] - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 7, hal 43.

 

John Calvin: 3. GOD’S PROVIDENCE DOES NOT RELIEVE US FROM RESPONSIBILITY. All who will compose themselves to this moderation will not murmur against God on account of their adversities in time past, nor lay the blame for their own wickedness upon him as did the Homeric Agamemnon, saying: ‘I am not the cause, but Zeus and fate.’ ... But rather let them inquire and learn from Scripture what is pleasing to God so that they may strive toward this under the Spirit’s guidance.” [= 3. Providensia Allah tidak melepaskan / membebaskan kita dari tanggung jawab. Semua yang mau menyesuaikan diri mereka sendiri pada keseimbangan ini tidak akan bersungut-sungut terhadap Allah karena penderitaan / kesukaran / bencana pada masa lalu, ataupun menyalahkan kejahatan mereka sendiri kepada Dia seperti yang dilakukan Agamemnon dalam cerita oleh Homer, yang berkata: ‘Aku bukanlah penyebabnya, tetapi Zeus dan nasib’. ... Tetapi sebaliknya hendaklah mereka menanyakan dan belajar dari Kitab Suci apa yang menyenangkan / memperkenan Allah sehingga mereka bisa berjuang menuju hal ini di bawah bimbingan Roh.] - ‘Institutes of The Christian Religion’, Book I, Chapter XVII, no 3.

 

Catatan: perhatikan kata-kata ‘keseimbangan ini’. Itu jelas menunjuk pada keseimbangan antara penentuan dosa dan pelaksanaannya oleh Allah, dan tanggung jawab manusia! Keseimbangan ini merupakan ajaran Calvin / Calvinisme / Reformed yang sejati! Yang hanya menekankan yang pertama, tetapi mengabaikan yang kedua adalah Hyper-Calvinisme; sedangkan yang sebaliknya adalah Arminianisme / non Reformed!

 

John Calvin: 4. GOD’S PROVIDENCE DOES NOT EXCUSE US FROM DUE PRUDENCE. But with respect to future events, Solomon easily brings human deliberations into agreement with God’s providence. For just as he laughs at the dullness of those who boldly undertake something or other without the Lord, as though they were not ruled by his hand, so elsewhere he says: ‘Man’s heart plans his way, but the Lord will direct his steps’ (Proverbs 16:9 p.). This means that we are not at all hindered by God’s eternal decrees either from looking ahead for ourselves or from putting all our affairs in order, but always in submission to his will. [= 4. Providensia Allah tidak membebaskan kita dari kehati-hatian / kebijaksanaan yang seharusnya. Tetapi berkenaan dengan peristiwa-peristiwa yang akan datang Salomo dengan mudah mengharmoniskan pertimbangan-pertimbangan manusia dengan Providensia Allah. Karena sama seperti ia mentertawakan ketumpulan / kebodohan dari mereka yang dengan berani melakukan suatu hal atau yang lain tanpa Tuhan, seakan-akan mereka tidak diperintah / dikuasai oleh tanganNya, demikian juga di tempat lain ia berkata: ‘Hati manusia merencanakan jalannya, tetapi Tuhan akan mengarahkan langkah-langkahnya’ (Amsal 16:9). Ini berarti bahwa kita sama sekali tidak dihalangi oleh ketetapan-ketetapan kekal Allah dari melihat ke depan untuk diri kita sendiri atau dari tindakan mengatur semua urusan-urusan kita, tetapi selalu dalam ketundukan pada kehendakNya.] - ‘Institutes of The Christian Religion’, Book I, Chapter XVII, no 4.

Amsal 16:9 - Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya..

 

John Calvin: “The reason is obvious. For he who has set the limits to our life has at the same time entrusted to us its care; he has provided means and helps to preserve it; he has also made us able to foresee dangers; that they may not overwhelm us unaware, he has offered precautions and remedies. Now it is very clear what our duty is: thus, if the Lord has committed to us the protection of our life, our duty is to protect it; if he offers helps, to use them; if he forewarns us of dangers, not to plunge headlong; if he makes remedies available, not to neglect them.” [= Alasannya jelas. Karena Ia yang telah menentukan batasan-batasan pada kehidupan kita pada saat yang sama telah mempercayakan kepada kita pemeliharaannya; Ia telah menyediakan cara / jalan dan pertolongan untuk memeliharanya; Ia juga telah membuat kita bisa melihat lebih dulu bahaya-bahaya; supaya bahaya-bahaya itu bisa tidak menenggelamkan / mengalahkan kita tanpa disadari, Ia telah menawarkan tindakan berjaga-jaga dan pembetulan-pembetulan. Sekarang adalah sangat jelas apa kewajiban kita: jadi, jika Tuhan telah mempercayakan / memberikan kepada kita perlindungan dari kehidupan kita, kewajiban kita adalah melindunginya; jika Ia menawarkan pertolongan-pertolongan, kewajiban kita adalah menggunakannya; jika Ia memperingatkan kita lebih dulu tentang bahaya-bahaya, kewajiban kita adalah tidak menceburkan diri dengan ceroboh; jika Ia membuat pembetulan-pembetulan tersedia, kewajiban kita adalah tidak mengabaikannya.] - ‘Institutes of The Christian Religion’, Book I, Chapter XVII, no 4.

 

John Calvin: These fools do not consider what is under their very eyes, that the Lord has inspired in men the arts of taking counsel and caution, by which to comply with his providence in the preservation of life itself. Just as, on the contrary, by neglect and slothfulness they bring upon themselves the ills that he has laid upon them. How does it happen that a provident man, while he takes care of himself, also disentangles himself from threatening evils, but a foolish man perishes from his own unconsidered rashness, unless folly and prudence are instruments of the divine dispensation in both cases? For this reason, God pleased to hide all future events from us, in order that we should resist them as doubtful, and not cease to oppose them with ready remedies, until they are either overcome or pass beyond all care. I have therefore already remarked that God’s providence does not always meet us in its naked form, but God in a sense clothes it with the means employed.[= Orang-orang tolol ini tidak mempertimbangkan apa yang ada di depan mata mereka, bahwa Tuhan telah memberikan ilham dalam diri manusia keahlian dari perundingan / pertimbangan dan kehati-hatian, dengan mana ia mentaati ProvidensiaNya dalam pemeliharaan / penjagaan dari hidup itu sendiri. Sama seperti, sebaliknya, oleh pengabaian dan kemalasan / sikap tidak berbuat apa-apa, mereka membawa kepada diri mereka sendiri penyakit / penderitaan yang telah Ia berikan kepada mereka. Bagaimana bisa terjadi bahwa seorang yang bijaksana, sementara ia memelihara dirinya sendiri, juga membebaskan dirinya sendiri dari bencana yang mengancam, tetapi seorang tolol binasa dari tindakan tergesa-gesa tanpa pertimbangan, kecuali baik ketololan dan kebijaksanaan adalah alat-alat dari pengaturan ilahi dalam kedua kasus? Karena alasan ini, Allah berkenan untuk menyembunyikan semua peristiwa yang akan datang dari kita, supaya kita berjaga-jaga untuk menahan mereka sebagai sesuatu yang meragukan, dan tidak berhenti untuk menentang mereka dengan pengobatan / pembetulan yang tersedia, sampai atau mereka dikalahkan atau melampaui semua penjagaan. Karena itu, saya telah menyatakan bahwa Providensia Allah tidak selalu menemui kita dalam bentuk telanjangnya, tetapi Allah, dalam arti tertentu, memakaianinya dengan cara-cara yang digunakan.] - ‘Institutes of The Christian Religion’, Book I, Chapter XVII, no 4.

 

Contoh: Ada cerita tentang orang terkena banjir dan berada di atap rumah sementara banjir terus naik. Ia berdoa supaya Allah menolongnya. Lalu ada perahu datang untuk menolongnya, tetapi ia menolak dengan alasan ia sudah berdoa, dan ia yakin Allah pasti menolongnya. Datang perahu yang kedua, dan ia bersikap sama. Lalu datang helikopter yang mau mengangkat dia, tetapi dia tetap bersikap sama. Akhirnya banjir naik terus dan orang itu mati tenggelam. Pada saat ketemu Allah, ia protes, ‘Tuhan, aku berdoa, mengapa Engkau tak menolongku?’. Tuhan jawab: ‘Kamu ngomong apa? Aku kirim 2 perahu dan 1 helikopter!’.

 

2) Pada waktu manusia berbuat dosa, ia tetap bertanggung jawab terhadap Allah akan dosanya itu, artinya ia dianggap bersalah karena dosanya itu, dan tetap akan dihukum karena dosanya itu.

Memang dalam kasus orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Kristus, semua dosanya sudah dipikul hukumannya oleh Kristus di atas kayu salib, sehingga orang itu tidak lagi bisa dihukum (Ro 8:1), tetapi Allah tetap bisa menghajar / mendisiplin dia (Ibr 12:5-11). Karena itu jangan sembarangan berbuat dosa, apalagi dengan alasan bahwa dosa itu sudah ditentukan oleh Allah!

 

John Calvin: GOD’S PROVIDENCE DOES NOT EXCULPATE OUR WICKEDNESS.” [= Providensia Allah tidak membersihkan / memaafkan kita dari kejahatan kita.] - ‘Institutes of The Christian Religion’, Book I, Chapter XVII, no 5.

 

John Calvin: The same men wrongly and rashly lay the happenings of past time to the naked providence of God. For since on it depends everything that happens, therefore, say they, neither thefts, nor adulteries, nor murders take place without God’s will intervening. Why therefore, they ask, should a thief be punished, who plundered someone whom the Lord would punish with poverty? Why shall a murderer be punished, who has killed one whose life the Lord had ended? If all such men are serving God’s will, why shall they be punished? On the contrary, I deny that they are serving God’s will. For we shall not say that one who is motivated by an evil inclination, by only obeying his own wicked desire, renders service to God at His bidding.[= Orang-orang yang sama secara salah dan secara terburu-buru meletakkan kejadian-kejadian dari masa lalu pada Providensia Allah yang telanjang. Karena padanya tergantung segala sesuatu yang terjadi, karena itu, kata mereka, pencurian, atau perzinahan, atau pembunuhan, tidak terjadi tanpa terlibatnya kehendak Allah. Karena itu mengapa, mereka bertanya, seorang pencuri, yang mencuri / merampok seseorang yang Tuhan mau hukum dengan kemiskinan, harus dihukum? Mengapa seorang pembunuh, yang telah membunuh seseorang yang kehidupannya telah Tuhan akhiri, harus dihukum? Jika semua orang-orang seperti itu melayani kehendak Allah, mengapa mereka harus dihukum? Sebaliknya, saya menyangkal bahwa mereka melayani kehendak Allah. Karena kita tidak akan berkata bahwa seseorang yang dimotivasi oleh suatu kecondongan yang jahat, dengan hanya mentaati keinginan jahatnya sendiri, memberikan pelayanan kepada Allah atas perintahNya.] - ‘Institutes of The Christian Religion’, Book I, Chapter XVII, no 5.

 

John Calvin: “God requires of us only what he commands. If we contrive anything against his commandment, it is not obedience but obstinacy and transgression. Yet, unless he willed it, we would not do it. I agree. But do we do evil things to the end that we may serve him? Yet he by no means commands us to do them; rather we rush headlong, without thinking what he requires, but so raging in our unbridled lust that we deliberately strive against him. And in this way we serve his just ordinance by doing evil, for so great and boundless is his wisdom that he knows right well how to use evil instruments to do good. And see how absurd their argument is: they would have transgressors go unpunished, on the ground that their misdeeds are committed solely by God’s dispensation.” [= Allah menuntut / menginginkan / meminta kita hanya apa yang Ia perintahkan. Jika kita merencanakan apapun menentang perintahNya, itu bukan ketaatan tetapi sikap keras kepala dan pelanggaran. Tetapi, kecuali Ia menghendakinya, kita tidak akan melakukannya. Saya setuju. Tetapi apakah kita melakukan hal-hal yang jahat dengan tujuan bahwa kita bisa melayani Dia? Tetapi Ia sama sekali tidak memerintahkan kita untuk melakukan hal-hal itu; melainkan kita melakukan dengan terburu-buru, tanpa berpikir apa yang Ia tuntut / inginkan / minta, tetapi begitu aktif dalam nafsu kita yang tak dikekang sehingga kita secara sengaja berjuang menentang Dia. Dan dengan cara ini kita melayani perintah / peraturanNya yang benar dengan melakukan kejahatan, karena begitu besar dan tak terbatas hikmatNya sehingga Ia tahu dengan baik bagaimana untuk menggunakan alat-alat yang jahat untuk melakukan yang baik. Dan lihatlah betapa menggelikan argumentasi mereka itu: mereka menginginkan pelanggar-pelanggar bebas tanpa dihukum, dengan dasar / alasan bahwa tindakan-tindakan jahat mereka dilakukan semata-mata oleh pengaturan khusus Allah.] - ‘Institutes of The Christian Religion’, Book I, Chapter XVII, no 5.

 

John Calvin: I grant more: thieves and murderers and other evildoers are the instruments of divine providence, and the Lord himself uses these to carry out the judgments that he has determined with himself. Yet I deny that they can derive from this any excuse for their evil deeds. Why? Will they either involve God in the same iniquity with themselves, or will they cloak their own depravity with his justice? They can do neither. In their own conscience they are so convicted as to be unable to clear themselves; in themselves they so discover all evil, but in him only the lawful use of their evil intent, as to preclude laying the charge against God. Well and good, for he works through them. And whence, I ask you, comes the stench of a corpse, which is both putrefied and laid open by the heat of the sun? All men see that it is stirred up by the sun’s rays; yet no one for this reason says that the rays stink. Thus, since the matter and guilt of evil repose in a wicked man, what reason is there to think that God contracts any defilement, if he uses his service for his own purpose? Away, therefore, with this doglike impudence, which can indeed bark at God’s justice afar off but cannot touch it.[= Saya mengakui lebih lagi: pencuri dan perampok dan pembuat kejahatan yang lain adalah alat-alat dari providensia ilahi, dan Tuhan sendiri menggunakan mereka untuk melaksanakan keputusan-keputusan / penghakiman-penghakiman yang Ia sendiri telah tentukan. Tetapi saya menyangkal bahwa mereka bisa mendapatkan dari sini dalih apapun untuk tindakan-tindakan jahat mereka. Mengapa? Apakah mereka mau, atau melibatkan Allah dalam kejahatan yang sama dengan diri mereka sendiri, atau mereka mau menutupi / menyembunyikan kebejatan mereka sendiri dengan keadilanNya? Mereka tidak bisa melakukan yang manapun. Dalam hati nurani mereka, mereka begitu dikecam / dinyatakan bersalah, sehingga tidak bisa membersihkan diri mereka sendiri; dalam diri mereka sendiri mereka menemukan semua kejahatan, tetapi dalam Dia hanya penggunaan yang sah dari maksud jahat mereka, sehingga membuatnya mustahil untuk memberikan tuduhan terhadap Allah. Baiklah, karena Ia bekerja melalui mereka. Dan dari mana, saya bertanya kepadamu, datang bau busuk dari suatu mayat, yang membusuk dan terbuka oleh panas dari matahari? Semua orang melihat bahwa itu dibangkitkan oleh sinar matahari; tetapi tak seorangpun karena alasan ini berkata bahwa sinar matahari itu berbau busuk. Jadi, karena persoalan dan kesalahan dari kejahatan terletak pada seorang manusia yang jahat, alasan apa yang ada untuk berpikir bahwa Allah mendapatkan pencemaran apapun, jika Ia menggunakan pelayanannya untuk tujuan / rencanaNya sendiri? Karena itu, enyahlah dengan kekurang-ajaran yang seperti anjing, yang memang bisa menggonggong pada keadilan Allah dari jauh tetapi tidak bisa menyentuhnya.] - ‘Institutes of The Christian Religion’, Book I, Chapter XVII, no 5.

 

Ada satu text Alkitab yang sangat jelas menunjukkan bahwa sekalipun dosa seseorang ditentukan Allah, dan karena itu pasti terjadi, tetapi orang yang melakukan dosa itu tetap dipersalahkan, dan dihukum. Dan itu tidak bisa dianggap sebagai ketidak-adilan Allah!!

 

Ro 9:19-21 - “(19) Sekarang kamu akan berkata kepadaku: ‘Jika demikian, apa lagi yang masih disalahkanNya? Sebab siapa yang menentang kehendakNya?’ (20) Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: ‘Mengapakah engkau membentuk aku demikian?’ (21) Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa?.

 

Dalam ay 20-21, terlihat jawaban Paulus terhadap ‘protes Arminian’ yang ada dalam ay 19. Perlu diingat bahwa Ro 9, mulai ay 6-dst, membahas predestinasi. Dan dalam ay 19 itu ada ‘protes Arminian’ yang mengatakan: Kalau Allah memang menentukan keselamatan dan kebinasaan, lalu mengapa orang yang berdosa dan tidak percaya, akhirnya dihukum? Bukankah kehendak / rencana Allah itu tak bisa ditentang? Bukankah itu pasti terjadi?

Tetapi dari jawaban Paulus dalam ay 20-21 jelas bahwa sekalipun ia membenarkan kebenaran yang diprotes itu, ia tetap menolak bahwa Allah bisa diprotes. Alasannya hanyalah bahwa Allah berdaulat, dan mempunyai hak, untuk melakukan apapun yang Ia rencanakan.

 

Calvin (tentang Ro 9:19): “Here indeed the flesh especially storms, that is, when it hears that they who perish have been destined by the will of God to destruction. Hence the Apostle adopts again the words of an opponent; for he saw that the mouths of the ungodly could not be restrained from boldly clamouring against the righteousness of God: and he very fitly expresses their mind; for being not content with defending themselves, they make God guilty instead of themselves; and then, after having devolved on him the blame of their own condemnation, they become indignant against his great power. ... Thus then speak the ungodly in this passage, - ‘What cause has he to be angry with us? Since he has formed us such as we are, since he leads us at his will where he pleases, what else does he in destroying us but punish his own work in us? For it is not in our power to contend with him; how much soever we may resist, he will yet have the upper hand. Then unjust will be his judgment, if he condemns us; and unrestrainable is the power which he now employs towards us.’” [= Di sini memang daging secara khusus menyerang, artinya, pada waktu ia mendengar bahwa mereka yang binasa telah ditentukan oleh kehendak Allah pada kehancuran. Jadi sang Rasul mengadopsi lagi kata-kata dari seorang lawan / pendebat; karena ia melihat bahwa mulut-mulut dari orang-orang jahat tidak bisa dikekang dari berteriak dengan berani terhadap kebenaran Allah: dan ia dengan sangat cocok menyatakan pikiran mereka; karena tidak puas dengan mempertahankan diri mereka sendiri, mereka membuat Allah, dan bukannya diri mereka sendiri, yang bersalah; dan lalu, setelah mentransfer kepada Dia tanggung jawab dari keadaan bersalah dari diri mereka sendiri, mereka menjadi marah terhadap kuasaNya yang besar. ... Jadi orang-orang jahat berbicara dalam text ini, - ‘Penyebab apa yang Ia punyai untuk marah kepada kita? Karena Ia telah membentuk kita seperti adanya kita, karena Ia membimbing kita semauNya kemana Ia berkenan, apa yang Ia lakukan dalam menghancurkan / membinasakan kita selain menghukum pekerjaanNya sendiri di dalam kita? Karena bukan dalam kuasa kita untuk berjuang melawan Dia; bagaimanapun kita menentang, Ia tetap akan menang / mengendalikan. Jadi penghakimanNya akan tidak adil, jika Ia menghukum kita; dan kuasa yang sekarang Ia gunakan kepada kita tak bisa ditahan / dihalangi’.].

 

Calvin (tentang Ro 9:20): “No doubt, if the objection had been false, that God according to his own will rejects those whom he honors not with his favor, and chooses those whom he gratuitously loves, a refutation would not have been neglected by Paul. The ungodly object and say, that men are exempted from blame, if the will of God holds the first place in their salvation, or in their perdition. Does Paul deny this? Nay, by his answer he confirms it, that is, that God determines concerning men, as it seems good to him, and that, men in vain and madly rise up to contend with God; for he assigns, by his own right, whatever lot he pleases to what he forms.” [= Tak diragukan, seandainya keberatan itu salah, bahwa Allah sesuai dengan kehendakNya sendiri menolak mereka yang tidak Ia hormati dengan kebaikanNya, dan memilih mereka yang Ia kasihi secara murah hati / penuh kasih karunia, suatu bantahan tidak akan diabaikan / gagal diberikan oleh Paulus. Orang-orang jahat keberatan dan berkata, bahwa manusia bebas dari kesalahan, jika kehendak Allah memegang tempat pertama dalam keselamatan mereka, atau dalam kebinasaan / hukuman kekal mereka. Apakah Paulus menyangkal hal ini? Tidak, oleh jawabannya ia meneguhkan hal ini, yaitu, bahwa Allah menentukan berkenaan dengan manusia, seperti yang kelihatan baik bagi Dia, dan bahwa, manusia dengan sia-sia dan dengan gila / marah bangkit untuk berjuang melawan Allah; karena Ia menetapkan, dengan hakNya sendiri, nasib apapun yang Ia perkenan kepada apapun yang Ia bentuk.].

 

Mari kita baca text itu sekali lagi.

 

Ro 9:19-21 - “(19) Sekarang kamu akan berkata kepadaku: ‘Jika demikian, apa lagi yang masih disalahkanNya? Sebab siapa yang menentang kehendakNya?’ (20) Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: ‘Mengapakah engkau membentuk aku demikian?’ (21) Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa?.

 

Catatan:

·       Ay 19 merupakan bantahan dari orang-orang jahat (kalau pakai istilah saya, itu ‘bantahan dari orang-orang Arminian’).

·       Lalu jawaban Paulus (ay 20), yang jelas-jelas bukannya menyangkal kebenaran dari kata-kata orang-orang jahat itu, bahwa Allah memang menentukan kebinasaan orang-orang tertentu, tetapi sebaliknya meneguhkannya. Jadi, Paulus jelas-jelas setuju bahwa Allah memang menentukan kebinasaan dari orang-orang tertentu, dan tidak ada apapun yang bisa mereka lakukan untuk menahan supaya penentuan Allah itu tidak terjadi.

·       Yang Paulus bantah adalah tuduhan bahwa Allah tidak adil, kalau Ia menghukum orang yang Ia tentukan untuk binasa. Karena Paulus berkata bahwa Allah berhak menentukan Ia mau membentuk seseorang menjadi apa, sama seperti tukang periuk berhak membentuk tanah liat menjadi apapun, sesuka hatinya (ay 20b-21).

 

 

 

 

-bersambung-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : buas22@yahoo.com

e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com

http://golgothaministry.org