Golgotha School of Ministry

 

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

 

Rabu, tgl 27 Juni 2018, pk 19.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

Providence of God (19)

 

D) Allah mempunyai tujuan yang baik.

 

Sekalipun ada dosa dalam Providence of God, itu tentu tidak berarti bahwa dosa itu merupakan tujuan akhir dari Allah. Kalau Allah menetapkan terjadinya dosa dan lalu melaksanakan rencanaNya itu, maka tentu Ia mempunyai tujuan yang baik.

 

John Calvin: Moreover, as men’s dispositions are inclined to vain subtleties, any who do not hold fast to a good and right use of this doctrine can hardly avoid entangling themselves in inscrutable difficulties. Therefore it is expedient here to discuss briefly to what end Scripture teaches that all things are divinely ordained.[= Selanjutnya, karena karakter manusia condong pada kelicikan / kecerdikan yang sia-sia, siapapun yang tidak berpegang kuat-kuat pada suatu penggunaan yang baik dan benar dari doktrin ini tak bisa terhindar dari melibatkan diri mereka sendiri dalam kesukaran-kesukaran yang tidak bisa dimengerti. Karena itu adalah tepat di sini untuk mendiskusikan secara singkat pada tujuan apa Kitab Suci mengajar bahwa segala sesuatu ditentukan secara ilahi / oleh Allah.] - ‘Institutes of The Christian Religion’, Book I, Chapter 17, no 1.

 

John Calvin: “It is, indeed, true that if we had quiet and composed minds ready to learn, the final outcome would show that God always has the best reason for his plan: either to instruct his own people in patience, or to correct their wicked affections and tame their lust, or to subjugate them to self-denial, or to arouse them from sluggishness; again, to bring low the proud, to shatter the cunning of the impious and to overthrow their devices.” [= Memang benar bahwa jika kita mempunyai pikiran tenang yang siap untuk belajar, hasil akhir akan menunjukkan bahwa Allah selalu mempunyai alasan yang terbaik untuk rencanaNya: atau untuk mengajar umatNya sendiri dalam kesabaran, atau untuk membetulkan / mengkoreksi perasaan jahat mereka dan menjinakkan nafsu mereka, atau untuk menundukkan mereka pada penyangkalan diri; atau untuk membangunkan mereka dari kemalasan mereka; selanjutnya, untuk merendahkan orang sombong, menghancurkan kelicikan dari orang-orang jahat dan membalikkan rencana-rencana mereka.] - ‘Institutes of The Christian Religion’, Book I, Chapter 17, no 1.

 

Bdk. Yoh 9:1-3 - “(1) Waktu Yesus sedang lewat, Ia melihat seorang yang buta sejak lahirnya. (2) Murid-muridNya bertanya kepadaNya: ‘Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?’ (3) Jawab Yesus: ‘Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia..

 

John Calvin: For concerning the man born blind he says: ‘Neither he nor his parents sinned, but that God’s glory may be manifested in him’ (John 9:3 p.). For here our nature cries out, when calamity comes before birth itself, as if God with so little mercy thus punished the undeserving. Yet Christ testifies that in this miracle the glory of his Father shines, provided our eyes be pure.[= Karena berkenaan dengan orang yang lahir buta Ia berkata: ‘Bukan dia ataupun orang tuanya berdosa, tetapi supaya kemuliaan Allah bisa dinyatakan dalam dia’ (Yoh 9:3). Karena di sini kecenderungan kita berteriak, pada waktu bencana datang sebelum kelahiran itu sendiri, seakan-akan Allah dengan begitu sedikit belas kasihan menghukum seperti itu orang yang tak layak dihukum. Tetapi Kristus menyaksikan bahwa dalam mujijat ini kemuliaan dari BapaNya bersinar, asal mata kita murni.] - ‘Institutes of The Christian Religion’, Book I, Chapter 17, no 1.

 

John Calvin: “When dense clouds darken the sky, and a violent tempest arises, because a gloomy mist is cast over our eyes, thunder strikes our ears and all our senses are benumbed with fright, everything seems to us to be confused and mixed up; but all the while a constant quiet and serenity ever remain in heaven. So must we infer that, while the disturbances in the world deprive us of judgment, God out of the pure light of his justice and wisdom tempers and directs these very movements in the best-conceived order to a right end.” [= Pada waktu awan-awan yang pekat menggelapkan langit, dan suatu badai yang ganas muncul, karena suatu kabut yang suram melingkupi mata kita, guruh memukul telinga kita dan semua panca indera kita ditumpulkan oleh rasa takut, segala sesuatu kelihatan bagi kita membingungkan dan campur aduk; tetapi selama itu suatu ketenangan dan damai yang terus menerus tetap ada di surga. Jadi kita harus menyimpulkan bahwa, pada waktu gangguan-gangguan dalam dunia menghilangkan penilaian dari kita, Allah dari terang yang murni dari keadilan dan hikmatNya memodifikasi dan mengarahkan gerakan-gerakan ini dalam urut-urutan terbaik yang bisa dipikirkan pada suatu tujuan yang benar.] - ‘Institutes of The Christian Religion’, Book I, Chapter 17, no 1.

 

Ayat-ayat Kitab Suci yang menunjukkan bahwa dalam menentukan dosa Allah mempunyai tujuan yang baik:

 

1) Ro 3:5-7 - “(5) Tetapi jika ketidakbenaran kita menunjukkan kebenaran Allah, apakah yang akan kita katakan? Tidak adilkah Allah - aku berkata sebagai manusia - jika Ia menampakkan murkaNya? (6) Sekali-kali tidak! Andaikata demikian, bagaimanakah Allah dapat menghakimi dunia? (7) Tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaanNya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa? (8) Bukankah tidak benar fitnahan orang yang mengatakan, bahwa kita berkata: ‘Marilah kita berbuat yang jahat, supaya yang baik timbul dari padanya.’ Orang semacam itu sudah selayaknya mendapat hukuman..

 

a) Ro 3:5 - Tetapi jika ketidakbenaran kita menunjukkan kebenaran Allah, apakah yang akan kita katakan? Tidak adilkah Allah - aku berkata sebagai manusia - jika Ia menampakkan murkaNya?.

 

Sebetulnya arti ayat ini adalah seperti yang Calvin katakan di bawah ini.

 

Calvin (tentang Ro 3:5): “If God seeks nothing else, but to be glorified by men, why does he punish them, when they offend, since by offending they glorify him? Without cause then surely is he offended, if he derives the reason of his displeasure from that by which he is glorified.” [= Jika Allah tidak mencari apapun yang lain, kecuali untuk dipermuliakan oleh manusia, mengapa Ia menghukum mereka, pada waktu mereka melanggar, karena dengan melanggar mereka memuliakan Dia? Maka jelaslah bahwa tanpa alasan Ia tersinggung, jika Ia mendapatkan alasan dari ketidak-senanganNya dari hal itu dengan mana Ia dipermuliakan.].

 

Tetapi jelas dari arti ini bahwa dosa kitapun, yang terjadi karena adanya ketetapan Allah, dan Providensia Allah, tetap membawa kemuliaan bagi Allah!

 

Kalau saudara tidak percaya akan hal ini, coba pikirkan dosa Yudas Iskariot dalam menyerahkan / mengkhianati Yesus! Apakah itu tidak membawa kemuliaan bagi Allah?

 

Contoh lain: dosa-dosa dari saudara-saudara Yusuf terhadap Yusuf, terlihat dengan jelas membawa kebaikan untuk mereka semua, karena itu pada akhirnya menyebabkan Yusuf menjadi orang kedua di Mesir, dan bisa memelihara mereka semua dalam 7 tahun kelaparan (Kej 37-dst). Tanpa itu mereka semua mati, dan Mesias yang dijanjikan akan muncul / lahir dari kalangan mereka, tidak mungkin bisa muncul / lahir.

 

Tetapi kalau dalam berbuat baik kita memuliakan Allah, maka kita mendapat pahala, sedangkan kalau dosa kita menyebabkan Allah dimuliakan, kita tetap harus dipersalahkan dan harus bertanggung-jawab atas dosa itu! Karena itu, berbuat dosa dengan sengaja, supaya Allah dipermuliakan, jelas-jelas tak boleh dilakukan (Ro 3:8).

 

b) Ro 3:7 - Tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaanNya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa?.

 

Calvin (tentang Ro 3:7): “This objection, I have no doubt, is adduced in the person of the ungodly; for it is a sort of an explanation of the former verse, and would have been connected with it, had not the Apostle, moved with indignation, broken off the sentence in the middle. The meaning of the objection is - ‘If by our unfaithfulness the truth of God becomes more conspicuous, and in a manner confirmed, and hence more glory redounds to him, it is by no means just, that he, who serves to display God’s glory, should be punished as a sinner.’” [= Keberatan ini, saya tak meragukan, dikutip sebagai suatu contoh / jalan pembuktian suatu argumentasi dalam diri orang jahat; karena itu adalah sejenis penjelasan dari ayat yang terdahulu (ay 5), dan akan telah dihubungkan dengannya, seandainya sang Rasul, digerakkan dengan kemarahan, tidak memutuskan kalimat itu di tengah-tengah. Arti dari keberatan ini adalah - ‘Jika oleh ketidak-setiaan kita, kebenaran Allah menjadi makin jelas, dan dengan suatu cara diteguhkan, dan karena itu lebih banyak kemuliaan dihasilkan bagiNya, sama sekali tidak adil, bahwa ia, yang melayani untuk menunjukkan kemuliaan Allah, harus dihukum sebagai seorang berdosa’.].

 

Jadi sebetulnya ay 7 adalah sambungan dari ay 5, tetapi diputus di tengah-tengah dan diberi ay 6 di antara keduanya. Ini muncul karena kemarahan / ketidak-sabaran sang rasul berkenaan dengan kesalahan pandangan yang ia bicarakan dalam ay 5b.

 

c) Ro 3:8 - Bukankah tidak benar fitnahan orang yang mengatakan, bahwa kita berkata: ‘Marilah kita berbuat yang jahat, supaya yang baik timbul dari padanya.’ Orang semacam itu sudah selayaknya mendapat hukuman..

 

Calvin (tentang Ro 3:8): “The pretense, indeed, is this, - ‘If God is by our iniquity glorified, and if nothing can be done by man in this life more befitting than to promote the glory of God, then let us sin to advance his glory!’ Now the answer to this is evident, - ‘That evil cannot of itself produce anything but evil; and that God’s glory is through our sin illustrated, is not the work of man, but the work of God; who, as a wonderful worker, knows how to overcome our wickedness, and to convert it to another end, so as to turn it contrary to what we intend, to the promotion of his own glory.’ God has prescribed to us the way, by which he would have himself to be glorified by us, even by true piety, which consists in obedience to his word. He who leaps over this boundary, strives not to honor God, but to dishonor him. That it turns out otherwise, is to be ascribed to the Providence of God, and not to the wickedness of man;” [= Pembayangan / khayalannya adalah ini, - ‘Jika Allah dipermuliakan oleh kejahatan kita, dan jika tak ada apapun yang dilakukan oleh manusia dalam hidup ini yang lebih cocok / tepat dari memajukan kemuliaan Allah, maka marilah kita berbuat dosa untuk memajukan kemuliaanNya!’ Sekarang jawaban terhadap hal ini adalah jelas, - ‘Bahwa kejahatan dari dirinya sendiri tidak bisa menghasilkan apapun kecuali bencana; dan bahwa kemuliaan Allah yang dijelaskan melalui dosa kita, bukanlah pekerjaan manusia, tetapi pekerjaan Allah; yang, sebagai Seorang Pekerja yang luar biasa, tahu bagaimana untuk mengalahkan kejahatan kita, dan untuk mengubahkannya pada suatu tujuan yang lain, sehingga membelokkannya bertentangan dengan apa yang kita maksudkan, pada pemajuan dari kemuliaanNya sendiri’.].

 

2) Ro 5:20 - Tetapi hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah,.

 

Untuk ay 20a, Calvin mengatakan bahwa banyak orang mengikuti pandangan Agustinus yang mengatakan bahwa dengan adanya hukum Taurat, orang justru makin melanggar. Pernah dengar kata-kata “Hukum ada untuk dilanggar”? Tetapi Calvin tidak setuju dengan tafsiran Agustinus ini.

Calvin menafsirkan bahwa artinya bukan bahwa dosa kita betul-betul menjadi makin banyak dengan adanya hukum Taurat. Tetapi artinya kita menjadi makin tahu tentang banyaknya dosa kita dengan kita makin mengerti hukum Taurat. William Hendriksen dan Charles Hodge setuju dengan Calvin.

Tetapi untuk Hodge, sekalipun ia setuju dengan Calvin berkenaan dengan penafsiran ayat ini, ia juga mengatakan bahwa adanya hukum Taurat memang bisa membuat dosa betul-betul jadi makin banyak. Alasannya:

 

a) Dengan kita tahu hukum Taurat, maka tanggung jawab kita jadi makin besar.

Bdk. Luk 12:47-48 - “(47) Adapun hamba yang tahu akan kehendak tuannya, tetapi yang tidak mengadakan persiapan atau tidak melakukan apa yang dikehendaki tuannya, ia akan menerima banyak pukulan. (48) Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.’.

 

b) Dengan adanya larangan, kita yang condong dosa memang makin terdorong untuk melanggar. Ini seperti pandangan Agustinus di atas. Dan ia memberi Ro 7:8 sebagai dasar.

Ro 7:8 - Tetapi dalam perintah itu dosa mendapat kesempatan untuk membangkitkan di dalam diriku rupa-rupa keinginan; sebab tanpa hukum Taurat dosa mati..

Catatan: ayat inipun oleh Calvin ditafsirkan hanya sebagai pengetahuan kita yang bertambah tentang dosa kita karena adanya hukum Taurat. Calvin memang mengakui fakta bahwa adanya hukum Taurat justru membangkitkan nafsu-nafsu untuk berdosa, tetapi ia beranggapan bahwa arti dari ayat ini sendiri bukanlah seperti itu.

 

Tetapi penekanan kita sekarang adalah Ro 5:20b. Dan ini komentar Calvin tentang bagian itu.

 

Calvin (tentang Ro 5:20b): “After sin has held men sunk in ruin, grace then comes to their help: for he teaches us, that the abundance of grace becomes for this reason more illustrious, - that while sin is overflowing, it pours itself forth so exuberantly, that it not only overcomes the flood of sin, but wholly absorbs it.” [= Setelah dosa menenggelamkan manusia dalam kehancuran, lalu kasih karunia datang untuk menolong mereka: karena ia mengajar kita, bahwa kelimpahan kasih karunia untuk alasan ini menjadi makin mulia / besar, - sehingga pada waktu dosa meluap, kasih karunia mencurahkan dirinya sendiri dengan begitu berlimpah-limpah, sehingga itu bukan hanya mengalahkan banjir dosa, tetapi sepenuhnya menyerapnya.].

 

Jadi, kalau dalam Rencana Allah dan Providensia Allah tercakup dosa, tujuannya tetap untuk memuliakan Allah! Makin besar / hebat / terkutuk dosa seseorang, makin dimuliakan Allah, kalau orang itu Ia pertobatkan dan ubahkan.

Contoh: Paulus (1Tim 1:15-16). Text ini akan kita bahas di bawah.

 

3) Ro 11:32 - “Allah telah mengurung semua orang dalam ketidaktaatan, supaya Ia dapat menunjukkan kemurahanNya atas mereka semua.”.

 

Kata-kata ‘telah mengurung semua orang dalam ketidaktaatan’ menunjukkan bahwa dalam Providence of God ada dosa, dan kata-kata ‘supaya Ia dapat menunjukkan kemurahanNya atas mereka semua’ menunjukkan adanya tujuan yang baik di dalam semua itu.

 

Calvin (tentang Ro 11:32): “he does not mean, that God so blinds all men that their unbelief is to be imputed to him; but that he hath so arranged by his providence, that all should be guilty of unbelief, in order that he might have them subject to his judgment, and for this end, - that all merits being buried, salvation might proceed from his goodness alone.” [= ia tidak memaksudkan, bahwa Allah begitu membutakan semua manusia sehingga ketidak-percayaan mereka harus diperhitungkan kepadaNya; tetapi bahwa Ia telah mengatur sedemikian rupa oleh ProvidensiaNya, sehingga semua orang bersalah tentang ketidak-percayaan, supaya Ia bisa meletakkan mereka di bawah penghakimanNya, dan ini tujuannya, - supaya dengan semua jasa dikuburkan, keselamatan bisa keluar hanya dari kebaikanNya saja.].

 

4) 1Tim 1:13-16 - “(13) aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi aku telah dikasihaniNya, karena semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu di luar iman. (14) Malah kasih karunia Tuhan kita itu telah dikaruniakan dengan limpahnya kepadaku dengan iman dan kasih dalam Kristus Yesus. (15) Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: ‘Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa.’ dan di antara mereka akulah yang paling berdosa. (16) Tetapi justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaranNya. Dengan demikian aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepadaNya dan mendapat hidup yang kekal.”.

 

Text ini menunjukkan bahwa kebejatan Paulus sebelum ia menjadi kristen justru akhirnya menjadi suatu contoh bagi orang bejat lainnya. Tentu saja bukan supaya mereka meniru kebejatan itu, tetapi supaya mereka melihat dalam diri Paulus, bahwa orang bejatpun bisa diampuni asal ia percaya kepada Yesus. Dengan demikian ini menjadi suatu dorongan bagi orang-orang bejat yang lain untuk percaya kepada Yesus, dan sekaligus menjadi suatu jaminan bahwa kalau mereka percaya kepada Yesus, maka sama seperti Paulus, merekapun akan diampuni. Jadi kebejatan Paulus ada dalam Rencana Allah dan Providence of God, dengan suatu maksud / tujuan yang baik.

 

Calvin: “He shews that it was profitable to the Church that he had been such a person as he actually was before he was called to the apostleship, because Christ, by giving him as a pledge, invited all sinners to the sure hope of obtaining pardon. For when he, who had been a fierce and savage beast, was changed into a Pastor, Christ gave a remarkable display of his grace, from which all might be led to entertain a firm belief that no sinner, how heinous and aggravated soever might have been his transgression, had the gate of salvation shut against him.” [= Ia menunjukkan bahwa merupakan sesuatu yang bermanfaat untuk Gereja bahwa ia tadinya adalah seseorang seperti bagaimana adanya ia sebelum ia dipanggil pada kerasulan, karena Kristus, dengan memberikan dia sebagai suatu jaminan, mengundang semua orang berdosa pada pengharapan yang pasti dari penerimaan pengampunan. Karena ketika ia, yang dahulunya adalah binatang yang galak dan buas, diubah menjadi seorang Pendeta / Gembala, Kristus memberikan pertunjukan yang luar biasa tentang kasih karuniaNya, dari mana semua bisa dibimbing untuk mempunyai kepercayaan yang teguh bahwa tidak ada orang berdosa, bagaimanapun mengerikan dan buruknya pelanggarannya, mendapati bahwa pintu gerbang keselamatan telah tertutup baginya.] - hal 38-39.

 

William Hendriksen (tentang 1Tim 1:17): “Man proposes; God disposes. Man - for instance Paul before his conversion - may try to destroy the church; God will establish it. And for that purpose he will use the very man who tried to destroy it! Hence, though man is a mere creature of time, God is the King of the ages, over-ruling evil for good; directing to its predetermined goal whatever happens throughout each era of the world’s history.” [= Manusia bermaksud / berniat; Allah yang mengatur / menentukan. Manusia - sebagai contoh Paulus sebelum pertobatannya - boleh mencoba untuk menghancurkan gereja; Allah akan meneguhkan gereja. Dan untuk tujuan itu Ia akan menggunakan orang yang mencoba untuk menghancurkan gereja! Karena itu, sekalipun manusia hanyalah suatu makhluk yang terbatas oleh waktu, Allah adalah Raja dari semua jaman, menggunakan kejahatan untuk kebaikan; mengarahkan kepada tujuan yang telah ditentukan sebelumnya, apapun yang terjadi dalam sepanjang sejarah dunia.] - hal 83.

 

Hal-hal lain yang perlu diingat:

 

a) Adanya dosa memang menunjukkan kasih / kemurahan Allah secara lebih menyolok, karena kalau tidak ada dosa, kita tidak bisa melihat bagaimana Allah mengampuni manusia berdosa melalui salib.

 

Ro 5:6-8 - “(6) Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah. (7) Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar - tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati -. (8) Akan tetapi Allah menunjukkan kasihNya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa..

 

b) Adanya dosa juga menunjukkan kesabaran Allah, yang tidak langsung menghukum pada waktu melihat dosa.

 

Ro 2:4 - Maukah engkau menganggap sepi kekayaan kemurahanNya, kesabaranNya dan kelapangan hatiNya? Tidakkah engkau tahu, bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan?.

 

1Tim 1:16a - Tetapi justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaranNya..

 

c) Adanya dosa juga lebih bisa menunjukkan keadilan dan kesucian Allah, dan kebencian Allah terhadap dosa. Ini terjadi pada saat Allah menjatuhkan hukuman kepada orang-orang yang berdosa itu.

 

Herman Hoeksema: “It is therefore much better to say that the Lord also in His counsel hates sin and determined that that which He hates should come to pass in order to reveal His hatred ...” [= Karena itu lebih baik berkata bahwa Tuhan juga dalam rencanaNya membenci dosa dan menentukan hal itu supaya apa yang Ia benci itu terjadi sehingga Ia bisa menyatakan kebencianNya atas hal itu ...] - ‘Reformed Dogmatics’, hal 158.

 

Jadi jelas dari semua contoh di atas ini bahwa dosa akhirnya memang bisa membawa kemuliaan bagi Allah!

 

Tetapi lagi-lagi saya menekankan, bahwa ini tidak berarti bahwa kita boleh / harus berbuat dosa karena hal itu toh akhirnya membawa kemuliaan bagi Allah.

 

Ro 3:7-8 - “(7) Tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaanNya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa? (8) Bukankah tidak benar fitnahan orang yang mengatakan, bahwa kita berkata: ‘Marilah kita berbuat jahat, supaya yang baik timbul dari padanya.’ Orang semacam itu sudah selayaknya mendapat hukuman.”.

 

Ro 6:1-2 - “(1) Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? (2) Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?”.

 

 

 

-o0o-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : buas22@yahoo.com

e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com

http://golgothaministry.org