Golgotha School of Ministry

 

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

 

Rabu, tgl 25 April 2018, pk 19.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

Providence of God (15)

 

24)Yer 25:8-12 - “(8) Sebab itu beginilah firman TUHAN semesta alam: Oleh karena kamu tidak mendengarkan perkataan-perkataanKu, (9) sesungguhnya, Aku akan mengerahkan semua kaum dari utara - demikianlah firman TUHAN - menyuruh memanggil Nebukadnezar, raja Babel, hambaKu itu; Aku akan mendatangkan mereka melawan penduduknya dan melawan bangsa-bangsa sekeliling ini, yang akan Kutumpas dan Kubuat menjadi kengerian, menjadi sasaran suitan dan menjadi ketandusan untuk selama-lamanya. (10) Aku akan melenyapkan dari antara mereka suara kegirangan dan suara sukacita, suara pengantin laki-laki dan pengantin perempuan, bunyi batu kilangan dan cahaya pelita. (11) Maka seluruh negeri ini akan menjadi reruntuhan dan ketandusan, dan bangsa-bangsa ini akan menjadi hamba kepada raja Babel tujuh puluh tahun lamanya. (12) Kemudian sesudah genap ketujuh puluh tahun itu, demikianlah firman TUHAN, maka Aku akan melakukan pembalasan kepada raja Babel dan kepada bangsa itu oleh karena kesalahan mereka, juga kepada negeri orang-orang Kasdim, dengan membuatnya menjadi tempat-tempat yang tandus untuk selama-lamanya.”.

 

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan bekerja sehingga Babilonia menghancurkan Yehuda, tetapi sama seperti Asyur, akhirnya Babilonia juga dihukum Tuhan.

 

Calvin (tentang Yer 25:8-9): “So God now by these words intimates that the Chaldeans were under his power, so that they were ready, as soon as he gave them a signal; ... The Scripture is full of expressions of this kind, which shew that all mortals are prepared to obey God whenever he intends to employ their services; not that it is their purpose to serve God, but that he by a secret influence so rules them and their tongues, their minds and hearts, their hands and their feet, that they are constrained, willing or unwilling, to do his will and pleasure. And in the same sense he calls Nebuchadnezzar his servant, for that cruel tyrant never meant to offer his service to God; but God employed him as his instrument, as though he had been hired by him. ... And it ought to be noticed, for we hence learn the fact, that many are God’s servants who are yet wholly unworthy of so honorable a title; but they are not so called with respect to themselves. Nebuchadnezzar thought that he was making war with the God of Israel when he invaded Judea; and only ambition, and avarice, and cruelty impelled him to undertake so many wars. When, therefore, we think of him, of his designs and his projects, we cannot say that he was God’s servant; but this is to be referred to God only, who governs by his hidden and incomprehensible power both the devil and the ungodly, so that they execute, though unwittingly, whatever he determines. There is a great difference between these and God’s servants, who, when anything is commanded them, seek to render that obedience which they ought - all such are faithful servants. They are, then, justly called God’s servants, for there is a mutual concord between God and them: God commands, and they obey. But it is a mutilated and a half service when the ungodly are led beyond the purpose of their own minds, and God uses them as instruments when they think of and design another thing. ... There was also another reason, even that the Jews might know that whatever they were to suffer would be inflicted by God’s hand, and that they might not otherwise think of Nebuchadnezzar than as God’s scourge, in order that they might thus be led to confess their sins and be really humbled.” [= Maka sekarang Allah dengan kata-kata ini menunjukkan bahwa orang-orang Kasdim berada di bawah kuasaNya, sehingga mereka siap, begitu Ia memberi suatu tanda kepada mereka; ... Kitab Suci penuh dengan ungkapan-ungkapan dari jenis ini, yang menunjukkan bahwa semua yang bisa mati / tidak kekal siap untuk mentaati Allah kapanpun Ia bermaksud untuk menggunakan pelayanan-pelayanan mereka; bukan bahwa adalah tujuan mereka untuk melayani Allah, tetapi bahwa Ia oleh suatu pengaruh rahasia begitu memerintah mereka dan lidah mereka, pikiran dan hati mereka, tangan mereka dan kaki mereka, sehingga mereka dipaksa, mau atau tidak mau, untuk melakukan kehendak dan kesenanganNya. Dan dalam arti yang sama Ia menyebut Nebukadnezar pelayanNya, karena tiran yang kejam itu tidak pernah bermaksud untuk menawarkan pelayanannya kepada Allah; tetapi Allah menggunakan dia sebagai alatNya, seakan-akan ia telah disewa olehNya. ... Dan harus diperhatikan, karena dari sini kita mempelajari fakta ini, bahwa banyak orang adalah pelayan-pelayan Allah tetapi yang sama sekali tak layak untuk gelar yang begitu terhormat; tetapi mereka tidak disebut demikian berkenaan dengan diri mereka sendiri. Nebukadnezar mengira / berpikir bahwa ia sedang berperang melawan Allah dari Israel pada waktu ia menginvasi Yehuda; dan hanya ambisi, dan ketamakan, dan kekejaman, yang mendorong dia untuk memulai dengan sengaja begitu banyak peperangan. Karena itu, pada waktu kita berpikir tentang dia, tentang rancangannya dan usahanya, kita tidak bisa berkata bahwa ia adalah pelayan Allah; tetapi ini harus diarahkan kepada Allah saja, yang memerintah / menguasai dengan kuasaNya yang tersembunyi dan tak bisa dimengerti, baik setan maupun orang-orang jahat, sehingga mereka melaksanakan, sekalipun tanpa menyadarinya, apapun yang Ia tentukan. Ada suatu perbedaan besar antara ini, dan pelayan-pelayan Allah, yang pada waktu apapun diperintahkan kepada mereka, berusaha untuk memberikan ketaatan yang seharusnya - semua orang seperti itu adalah pelayan-pelayan yang setia. Maka mereka secara benar disebut pelayan-pelayan Allah, karena ada suatu persetujuan yang berhubungan antara Allah dengan mereka: Allah memerintahkan, dan mereka mentaati. Tetapi itu merupakan suatu pelayanan yang terpotong dan setengah-setengah pada waktu orang-orang jahat dibimbing melampaui tujuan dari pikiran mereka sendiri, dan Allah menggunakan mereka sebagai alat-alat pada waktu mereka memikirkan tentang dan merancang hal yang lain. ... Juga ada alasan yang lain, yaitu supaya orang-orang Yahudi bisa tahu bahwa apapun yang akan mereka derita diberikan oleh tangan Allah, supaya mereka tidak berpikir lain tentang Nebukadnezar selain dari pada sebagai cambuk Allah, supaya dengan demikian mereka bisa dibimbing untuk mengakui dosa-dosa mereka dan betul-betul merendahkan diri.].

 

Calvin (tentang Yer 25:12): God says also, that at the end of seventy years he would ‘visit the iniquity of the king of Babylon,’ and of his whole people. We hence learn that Nebuchadnezzar was not called God’s servant because he deserved anything for his service, but because God led him while he was himself unconscious, or not thinking of any such thing, to do a service which neither he nor his subjects understood to be for God. Though, then, the Lord employs the ungodly in executing his judgments, yet their guilt is not on this account lessened; they are still exposed to God’s judgment. And these two things well agree together, - that the devil and all the ungodly serve God, though not of their own accord, but whenever he draws them by his hidden power, and that they are still justly punished, even when they have served God; for though they perform his work, yet not because they are commanded to do so. They are therefore justly liable to punishment, according to what the Prophet teaches us here. [= Allah juga berkata, bahwa pada akhir dari 70 tahun Ia akan ‘menghukum kejahatan dari raja Babel’, dan seluruh bangsanya. Karena itu kami mendapatkan bahwa Nebukadnezar tidak disebut pelayan / hamba Allah karena ia layak dalam hal apapun untuk pelayananNya, tetapi karena Allah membimbing dia pada saat ia sendiri tidak menyadarinya, atau tidak berpikir tentang hal apapun seperti itu, untuk melakukan suatu pelayanan yang baik ia ataupun para bawahannya tidak mengertinya sebagai sesuatu untuk Allah. Karena itu, sekalipun Tuhan menggunakan orang-orang jahat dalam pelaksanaan penghakimanNya, tetapi kesalahan mereka bukannya berkurang karena hal ini; mereka tetap terbuka bagi penghakiman Allah. Dan dua hal ini sesuai dengan baik, - bahwa setan dan semua orang jahat melayani Allah, sekalipun bukan dari persetujuan mereka, tetapi kapanpun Ia menarik mereka oleh kuasaNya yang tersembunyi, dan bahwa mereka tetap secara adil / benar dihukum, bahkan pada waktu mereka telah melayani Allah; karena sekalipun mereka melakukan pekerjaanNya, tetapi bukan karena mereka diperintahkan untuk melakukan demikian. Karena itu mereka secara adil / benar terbuka terhadap penghukuman, sesuai dengan apa yang sang Nabi ajarkan kepada kita di sini.].

 

25)Yer 43:1-13 - “(1) Ketika Yeremia selesai mengatakan kepada seluruh rakyat segala firman TUHAN, Allah mereka, yang disuruh TUHAN, Allah mereka, disampaikannya kepada mereka, yaitu segala firman yang tersebut di atas, (2) maka berkatalah Azarya bin Hosaya dan Yohanan bin Kareah serta semua orang congkak itu kepada Yeremia: ‘Engkau berkata bohong! TUHAN, Allah kita, tidak mengutus engkau untuk berkata: Janganlah pergi ke Mesir untuk tinggal sebagai orang asing di sana, (3) tetapi Barukh bin Neria menghasut engkau terhadap kami dengan maksud untuk menyerahkan kami ke dalam tangan orang-orang Kasdim, supaya mereka membunuh kami dan mengangkut kami ke dalam pembuangan ke Babel.’ (4) Demikianlah Yohanan bin Kareah dan semua perwira tentara serta seluruh rakyat tidak mau mendengarkan suara TUHAN untuk tinggal di tanah Yehuda. (5) Lalu Yohanan bin Kareah dan semua perwira tentara itu mengumpulkan seluruh sisa Yehuda, yakni semua orang yang telah kembali dari antara segala bangsa, ke mana mereka telah berserak-serak, untuk menetap di tanah Yehuda, (6) laki-laki, perempuan, anak-anak, puteri-puteri raja dan setiap orang yang telah dibiarkan Nebuzaradan, kepala pasukan pengawal, pada Gedalya bin Ahikam bin Safan; juga nabi Yeremia dan Barukh bin Neria. (7) Lalu mereka pergi ke tanah Mesir, sebab mereka tidak mau mendengarkan suara TUHAN. Maka sampailah mereka di Tahpanhes. (8) Kemudian datanglah firman TUHAN kepada Yeremia di Tahpanhes, bunyinya: (9) ‘Ambillah di tanganmu batu-batu besar dan sembunyikanlah itu di tanah liat dekat pintu masuk istana Firaun di Tahpanhes di hadapan mata orang-orang Yehuda itu, (10) lalu katakanlah kepada mereka: Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Sesungguhnya, Aku mengutus orang untuk menjemput Nebukadnezar, raja Babel, hambaKu itu, supaya ia mendirikan takhtanya di atas batu-batu yang telah Kusuruh sembunyikan ini, dan membentangkan permadani kebesarannya di atasnya. (11) Dan apabila ia datang, ia akan memukul tanah Mesir: Yang ke maut, ke mautlah! Yang ke tawanan, ke tawananlah! Yang ke pedang, ke pedanglah! (12) Ia akan menyalakan api di kuil-kuil para allah Mesir dan akan membakar atau mengangkutnya sebagai tawanan. Dan ia akan membersihkan tanah Mesir dari kutu-kutu seperti seorang gembala membersihkan pakaiannya dari kutu-kutu, kemudian ia akan pergi dari sana tanpa gangguan. (13) Ia akan memecahkan tugu-tugu berhala Bet-Syemes yang ada di Mesir dan akan menghanguskan kuil para allah Mesir itu dengan api.’.

 

Catatan: dalam Yer 42:1-6 orang-orang Yehuda meminta Yeremia meminta petunjuk dari Tuhan apa yang harus mereka lakukan, dan mereka berjanji akan mentaati perintah Tuhan, apapun itu adanya. Yeremia memberitahu petunjuk Tuhan bahwa mereka harus tetap di Yehuda, maka Tuhan akan melindungi mereka dari Babilonia (ay 10-12). Tetapi kalau mereka tetap pergi ke Mesir, mereka akan dihancurkan (ay 13-18). Lalu dalam Yer 43:1-dst terlihat bahwa mereka tidak mempercayai firman Tuhan yang diberikan melalui nabi Yeremia, dan mereka tetap pergi ke Mesir, dan mereka membawa Yeremia beserta mereka ke Mesir.

 

Dan selanjutnya dalam Yer 43 ditunjukkan bahwa Tuhan berfirman kalau Babilonia akan menghancurkan Mesir, dan itu tak bisa dihentikan, karena itu merupakan pekerjaan Tuhan.

 

Calvin (tentang Yer 43:8-10): “This passage shews that the Prophet was by force drawn away with others, so that he became an exile in Egypt contrary to his own wishes; for he did not go there of his own accord, inasmuch as we have seen how strictly he forbade them all to go down to Egypt. He was, however, compelled to go there, as though he had been bound with chains. He did not then go there designedly, nor did he through despair follow those miserable men; for he would have preferred to die a hundred times through famine and want in the land of Judah rather than to have sought in this way the lengthening of his life. It then appears that he was driven there as it were by enemies. But as nothing happens except through God’s purpose, so from this prophecy it appears that God ordered the going down of his servant, and that he was not so subjected to the will of the wicked, but that he was always guided by the hidden influence of God; for it was God’s will to have his herald even in the midst of Egypt, that he might declare to the Jews what was to be.” [= Text ini menunjukkan bahwa sang Nabi diseret dengan paksa bersama orang-orang lain, sehingga ia menjadi seorang buangan di Mesir bertentangan dengan keinginannya sendiri; karena ia tidak pergi ke sana oleh persetujuannya sendiri, melihat bahwa, seperti telah kita lihat, betapa secara ketat ia melarang mereka semua untuk pergi ke Mesir. Tetapi ia dipaksa untuk pergi ke sana, seakan-akan ia telah dibelenggu dengan rantai. Jadi ia tidak pergi ke sana dengan perencanaan, ataupun melalui keputus-asaan ia mengikuti orang-orang yang menderita itu; karena ia lebih memilih untuk mati seratus kali melalui kelaparan dan kekurangan di tanah Yehuda dari pada mencari dengan cara ini perpanjangan kehidupannya. Maka terlihat bahwa ia seakan-akan didorong ke sana oleh musuh-musuh. Tetapi karena tak ada apapun yang terjadi kecuali melalui rencana Allah, maka dari nubuat ini terlihat bahwa Allah memerintahkan kepergian pelayanNya, dan bahwa ia tidaklah begitu ditundukkan pada kemauan dari orang-orang jahat, tetapi bahwa ia selalu dibimbing oleh pengaruh rahasia dari Allah; karena merupakan kehendak Allah untuk mempunyai utusan / pemberitaNya bahkan di tengah-tengah Mesir, sehingga ia bisa menyatakan kepada orang-orang Yahudi apa yang akan terjadi.].

 

Calvin (tentang Yer 43:10): “God says that he would send to bring Nebuchadnezzar, the king of Babylon. This mission must not be understood otherwise than that of the secret providence of God; for he had no attendants by whom he might send for Nebuchadnezzar, but he called him, as it were, by his nod only. Moreover, this mode of speaking is borrowed, taken from men, who, when they wish anything to be done, intimate what their object is; and then, when they give orders, they issue their commands. This is what earthly kings do, because they can by a nod only accomplish whatever comes to their minds. But God, who needs no external aids, is said to send when he executes his own purpose, and that by his incomprehensible power. And further, God intimates that when Nebuchadnezzar came, it would by no means be by chance, but to take vengeance on the perverse Jews, who hoped for a safe retirement in Egypt, when yet God promised them a quiet habitation in the land of Judah, had they remained there. Then God declares that he would be the leader of that march when Nebuchadnezzar came into Egypt, as though he had said that the war would be carried on under his banner. Nebuchadnezzar did not from design render obedience to God; for ambition and pride led him to Egypt when he came, and for this reason, because the Egyptians had so often provoked him, so that without dishonor to himself he could no longer defer vengeance. It was, then, for this reason he came, if we look to his object. But God declares that he overruled the king as well as all the Babylonians, so that he would arm them when he pleased, and bring them into Egypt, and by their means carry on war with the Egyptians. For the same reason he calls him his servant; ... he is called God’s servant, because he executed what God himself had decreed: ... in this place, as in many other places, the Scripture calls those God’s servants whom he employs to effect his purpose, even when they themselves have no such design.” [= Allah mengatakan bahwa Ia akan mengutus orang untuk menjemput Nebukadnezar, raja Babel. Missi ini tak boleh dimengerti selain dari pada tentang Providensia rahasia Allah; karena Ia tidak mempunyai pelayan-pelayan oleh siapa Ia bisa mengutus Nebukadnezar, tetapi Ia memanggil dia, seakan-akan hanya dengan anggukanNya saja. Selanjutnya / lebih lagi, cara berbicara seperti ini dipinjam, diambil, dari manusia, yang pada waktu mereka menginginkan apapun untuk dilakukan, mengisyaratkan apa tujuan mereka; dan lalu, pada waktu mereka memberikan perintah, mereka mengeluarkan perintah-perintah mereka. Ini adalah apa yang raja-raja duniawi lakukan, karena mereka bisa dengan suatu anggukan saja mencapai apapun yang datang pada pikiran mereka. Tetapi Allah, yang tidak membutuhkan bantuan dari luar, dikatakan mengutus pada waktu Ia melaksanakan rencanaNya sendiri, dan itu oleh kuasaNya yang tak bisa dimengerti. Dan selanjutnya, Allah menunjukkan secara tak langsung bahwa apabila Nebukadnezar datang, itu sama sekali bukanlah oleh kebetulan, tetapi untuk membawa pembalasan pada orang-orang Yahudi yang jahat / bejat, yang mengharapkan suatu penyingkiran / pelarian yang aman di Mesir, pada waktu Allah menjanjikan mereka suatu tempat tinggal yang tenang di tanah Yehuda, seandainya mereka tetap tinggal di sana. Maka Allah menyatakan bahwa Ia akan menjadi pemimpin dari barisan itu pada waktu Nebukadnezar datang ke Mesir, seakan-akan Ia berkata bahwa perang itu akan dilaksanakan di bawah panjiNya. Nebukadnezar memberikan ketaatan kepada Allah bukan dari rancangannya; karena ambisi dan kesombongan membimbing dia ke Mesir pada waktu ia datang, dan untuk alasan ini, karena orang-orang Mesir telah begitu sering memprovokasi dia, sehingga ia tidak bisa menunda lagi pembalasan tanpa mempermalukan dirinya sendiri. Jadi, adalah untuk alasan ini ia datang, jika kita melihat pada tujuannya. Tetapi Allah menyatakan bahwa Ia memerintah atas raja maupun semua orang-orang Babel, sehingga Ia mempersenjatai mereka pada waktu Ia berkenan, dan membawa mereka ke Mesir, dan dengan menggunakan mereka melaksanakan perang dengan orang-orang Mesir. Dengan alasan yang sama Ia menyebut dia pelayanNya; ... ia disebut pelayan / hamba Allah, karena ia melaksanakan apa yang Allah sendiri telah tetapkan. ... di tempat ini, seperti di banyak tempat-tempat lain, Kitab Suci menyebut mereka pelayan-pelayan / hamba-hamba Allah orang-orang yang Ia gunakan untuk mencapai rencanaNya, bahkan pada saat mereka sendiri tidak mempunyai rancangan seperti itu.].

 

26)Yer 47:6-7 - “(6) Ah, pedang TUHAN, berapa lama lagi baru engkau berhenti? Masuklah kembali ke dalam sarungmu, jadilah tenang dan beristirahatlah! (7) Tetapi bagaimana ia dapat berhenti? Bukankah TUHAN memerintahkannya? Ke Askelon dan ke tepi pantai laut, ke sanalah Ia menyuruhnya!’”.

 

Siapapun yang disebut ‘pedang Tuhan, akan melakukan pembantaian, dan itu tidak bisa dihentikan, karena itu ‘diperintahkan’ oleh Tuhan!!

 

Calvin (tentang Yer 47:6-7): There is, in the meantime, no doubt but that he intimates that the slaughter of which he speaks would be, as it were, by God’s sword, or by a sword hired by him. Thus he shews that the Chaldeans would do the work of God in destroying the land of the Philistines. ‘How long,’ he says, ‘ere thou restest! Hide thyself in thy sheath, rest and be still.’ Here the Prophet assumes the character of another, as though he wished to soothe with blandishments the sword of God, and mitigate its fury. ‘O sword,’ he says, ‘spare them, leave off to rage against the Philistines.’ The Prophet, it is certain, had no such feeling; but, as we have said elsewhere, it was a common thing with the Prophets to assume different characters while endeavoring more fully to confirm their doctrine. It is the same, then, as though he represented here the Philistines; and the Prophets speak also often in the person of those on whom they denounce the vengeance of God. It is here as though he had said, "The Philistines will humbly ask pardon of God’s sword, but it will be without advantage or profit; for when they seek to mitigate the wrath of God, the answer will be, ‘How can it rest?’" Here the Prophet, as it were, reproves himself, ‘I act foolishly in wishing to repress the sword of God; for how canst thou rest?’ It could not be; and why? ‘because God hath commanded it against Ashkelon.’ He now changes the person, but without any injury to the sense. ‘God,’ then, ‘hath commanded it,’ therefore the whole world would intercede in vain; in vain also will the Philistines deprecate it; for it will not be in their power to mitigate God’s wrath, when it shall burn against them and against Ashkelon. [= Sementara itu, tak diragukan bahwa ia mengisyaratkan bahwa pembantaian tentang mana ia berbicara akan datang, seakan-akan oleh pedang Allah, atau oleh suatu pedang yang disewa oleh Dia. Jadi ia menunjukkan bahwa orang-orang Kasdim akan melakukan pekerjaan Allah dalam menghancurkan tanah Filistin. ‘Berapa lama lagi’, katanya, ‘sebelum engkau beristirahat / berhenti! Masuklah kembali ke dalam sarungmu, beristirahatlah dan tenanglah’. Di sini sang Nabi mengambil karakter orang lain, seakan-akan ia ingin untuk menenangkan / mengurangi dengan bujukan, pedang Allah, dan mengurangi kemurkaannya. ‘Ah pedang’, ia berkata, ‘jangan bunuh mereka, berhentilah untuk marah terhadap orang-orang Filistin’. Adalah pasti bahwa sang Nabi tidak mempunyai perasaan seperti itu; tetapi, seperti telah kami katakan di tempat lain, merupakan hal yang umum bagi Nabi-nabi untuk mengambil karakter yang berbeda sementara berusaha secara lebih penuh untuk menegaskan ajaran mereka. Jadi, adalah sama seakan-akan ia di sini mewakili orang-orang Filistin; dan Nabi-nabi juga sering berbicara dalam diri dari mereka kepada siapa ia mengumumkan pembalasan Allah. Di sini seakan-akan ia telah berkata, "Orang-orang Filistin akan dengan merendahkan diri meminta ampun tentang pedang Allah, tetapi itu tidak akan ada manfaatnya; karena pada waktu mereka berusaha untuk meredakan murka Allah, jawabannya adalah, ‘Bagaimana itu bisa berhenti / beristirahat?’" Di sini sang Nabi seakan-akan mencela / marah kepada dirinya sendiri, ‘Aku bertindak secara bodoh dalam menginginkan untuk menghentikan pedang Allah; karena bagaimana engkau bisa berhenti?’ Itu tak bisa terjadi; dan mengapa? ‘karena Allah telah memerintahkannya terhadap Askelon’. Sekarang ia mengubah dirinya, tetapi tanpa melukai artinya. ‘Allah’, lalu, ‘telah memerintahkannya’, karena itu seluruh dunia akan menjadi juru syafaat dengan sia-sia; dengan sia-sia juga orang-orang Filistin berdoa untuk meringankannya; karena bukan dalam kuasa mereka untuk mengurangi murka Allah, pada waktu itu akan membakar terhadap mereka dan terhadap Askelon.].

 

Bdk. 1Yoh 5:14 - Dan inilah keberanian percaya kita kepadaNya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepadaNya menurut kehendakNya..

 

27)Yer 50:1-9 - “(1) Firman yang disampaikan TUHAN dengan perantaraan nabi Yeremia mengenai Babel, mengenai negeri orang-orang Kasdim: (2) ‘Beritahukanlah di antara bangsa-bangsa dan kabarkanlah, naikkanlah panji-panji dan kabarkanlah, janganlah sembunyikan, katakanlah: Babel telah direbut, dewa Bel menjadi malu, Merodakh telah terkejut! Berhala-berhalanya menjadi malu, dewa-dewanya yang keji telah terkejut! (3) Maka suatu bangsa maju menyerangnya dari utara, membuat negerinya menjadi tempat tandus; tidak ada lagi yang diam di dalamnya, baik manusia maupun binatang, semuanya lari lenyap. (4) Pada waktu itu dan pada masa itu, demikianlah firman TUHAN, orang Israel akan datang, bersama-sama dengan orang Yehuda; mereka akan berjalan sambil menangis dan mencari TUHAN, Allah mereka; (5) mereka menanyakan jalan ke Sion, ke sanalah mereka terarah: Marilah kita menggabungkan diri kepada TUHAN, bergabung dalam suatu perjanjian kekal yang tidak dapat dilupakan! (6) UmatKu tadinya seperti domba-domba yang hilang; mereka dibiarkan sesat oleh gembala-gembalanya, dibiarkan mengembara di gunung-gunung, mereka berjalan dari gunung ke bukit sehingga lupa akan tempat pembaringannya. (7) Siapapun yang menjumpai mereka, memakan habis mereka, dan lawan-lawan mereka berkata: Kami tidak bersalah! Karena mereka telah berdosa kepada TUHAN, tempat kebenaran, TUHAN, pengharapan nenek moyang mereka! (8) Larilah dari tengah-tengah Babel, dari negeri orang-orang Kasdim! Keluarlah! Jadilah seperti kambing-kambing jantan yang mengepalai kawanannya! (9) Sebab sesungguhnya, Aku menggerakkan dan membangkitkan terhadap Babel sekumpulan bangsa-bangsa yang besar dari utara; mereka akan mengatur barisan untuk melawannya, dari sanalah kota itu akan direbut. Panah-panah mereka adalah seperti pahlawan yang mujur (pejuang yang ahli), yang tidak pernah kembali dengan tangan hampa.”.

 

Catatan: untuk ay 2, Alkitab Indonesia menggunakan bentuk lampau / perfect, sama seperti NASB. Sedangkan KJV/RSV/ASV/NKJV menggunakan bentuk present, dan NIV menggunakan bentuk future / yang akan datang.

Secara hurufiah seharusnya memang bentuk lampau / perfect. Tetapi bagaimanapun ini merupakan suatu nubuat / ramalan.

Merupakan sesuatu yang umum dalam Alkitab bahwa suatu nubuat / ramalan dinyatakan dalam bentuk lampau / perfect, seakan-akan itu sudah terjadi, padahal sebetulnya akan terjadi. Ini untuk menekankan kepastian akan terjadinya hal tersebut.

 

Ay 3,9 menunjukkan bahwa Tuhan menggerakkan bangsa-bangsa besar dari Utara untuk menghancurkan Babel.

 

Calvin (tentang Yer 50:2): “He predicts the ruin of Babylon, not in simple words, for nothing seemed then more unreasonable than to announce the things which God at length proved by the effect. As Babylon was then the metropolis of the East, no one could have thought that it would ever be possessed by a foreign power. No one could have thought of the Persians, for they were far off. As to the Medes, who were nearer, they were, as we know, sunk in their own luxuries, and were deemed but half men. As then there was so much effeminacy in the Medes, and as the Persians were so far off and inclosed in their own mountains, Babylon peaceably enjoyed the empire of the whole eastern world. This, then, is the reason why the Prophet expresses at large what he might have set forth in a very few words.” [= Ia meramalkan kehancuran Babilonia, bukan dalam kata-kata yang sederhana, karena pada saat itu tak ada apapun yang terlihat lebih tidak masuk akal dari pada untuk mengumumkan hal-hal yang Allah pada akhirnya buktikan dari hasilnya. Karena Babilonia pada saat itu merupakan kota utama dari Timur, tak seorangpun bisa telah berpikir bahwa kota itu akan pernah dimiliki oleh suatu kuasa asing. Tak seorangpun bisa telah berpikir tentang orang-orang Persia, karena mereka itu sangat jauh. Berkenaan dengan orang-orang Madia, yang lebih dekat, mereka, seperti yang kami tahu, tenggelam dalam kemewahan mereka sendiri, dan dianggap hanya sebagai setengah laki-laki. Karena pada saaat itu ada begitu banyak keperempuan-perempuanan di Madia, dan karena orang-orang Persia begitu jauh di gunung-gunung mereka, Babilonia menikmati dengan damai kekaisaran dari seluruh dunia Timur. Jadi, ini adalah alasan mengapa sang Nabi menyatakan secara penuh apa yang ia bisa telah nyatakan dalam sedikit kata-kata.].

Catatan: Medes (Inggris) = Madia (Indonesia); Media (Inggris) = Media (Indonesia)

 

Calvin (tentang Yer 50:3): “After having then spoken of the power of Babylon and its idols, he now points out the way in which it was to be destroyed - a nation would come from the north, that is, with reference to Chaldea. And he means the Medes and Persians, as interpreters commonly think; and this is probable, because he afterwards adds that the Jews would then return. As then Jeremiah connects these two things together, the destruction of Babylon and the restoration of God’s Church, it is probable that he refers here to the Medes and Persians.” [= Jadi setelah berbicara tentang kuasa dari Babilonia dan berhala-berhalanya, sekarang ia menunjukkan cara dengan mana itu akan dihancurkan - suatu bangsa akan datang dari Utara, yaitu, berkenaan dengan Kasdim. Dan ia memaksudkan orang-orang Medes dan Persia, seperti penafsir-penafsir pada umumnya pikirkan; dan ini memungkinkan, karena ia belakangan menambahkan bahwa pada saat itu orang-orang Yahudi akan kembali. Jadi, pada waktu Yeremia menghubungkan kedua hal ini bersama-sama, kehancuran Babilonia dan pemulihan Gereja Allah, adalah mungkin bahwa ia di sini menunjuk kepada orang-orang Medes dan Persia.].

 

Calvin (tentang Yer 50:4): The Prophet now explains more clearly the purpose of God, that in punishing so severely the Chaldeans, his object was to provide for the safety of his Church. For had Jeremiah spoken only of vengeance, the Jews might have still raised an objection and said, ‘It will not profit us at all, that God should be a severe judge towards our enemies, if we are to remain under their tyranny.’ Then the Prophet shews that the destruction of Babylon would be connected with the deliverance of the chosen people; and thus he points out, as it were by the finger, the reason why Babylon was to be destroyed, even for the sake of the chosen people, so that the miserable exiles may take courage, and not doubt but that God would at length be propitious, as Jeremiah had testified to them, having, as we have seen, prefixed the term of seventy years.” [= Sekarang sang Nabi menjelaskan dengan lebih jelas rencana Allah, bahwa dalam menghukum dengan begitu keras orang-orang Kasdim, tujuanNya adalah untuk menyediakan keamanan dari GerejaNya. Karena seandainya Yeremia hanya berbicara tentang pembalasan, orang-orang Yahudi bisa tetap mengajukan suatu keberatan dan berkata, ‘Tak akan ada manfaatnya sama sekali bagi kami, bahwa Allah menjadi seorang Hakim yang sangat keras terhadap musuh-musuh kami, jika kami tetap berada di bawah tirani mereka’. Jadi, sang Nabi menunjukkan bahwa penghancuran Babilonia akan berhubungan dengan pembebasan dari bangsa / umat pilihan; dan demikianlah ia menunjukkan, seakan-akan dengan jari, alasan mengapa Babilonia akan dihancurkan, yaitu demi kepentingan dari bangsa / umat pilihan, sehingga orang-orang buangan yang keadaannya buruk bisa mengumpulkan kekuatan / semangat, dan tak diragukan bahwa Allah akhirnya akan bermurah hati, seperti Yeremia telah bersaksi kepada mereka, setelah, seperti yang kami telah lihat, memberikan lebih dulu waktu 70 tahun yang telah ditetapkan.].

 

Calvin (tentang Yer 50:4): “‘In those days,’ he says, ‘and at that time’ - he adds the appointed time, that the Jews might not doubt but that the Chaldeans would be subdued, because God had appointed them to destruction.” [= ‘Pada hari-hari itu’, katanya, ‘dan pada waktu itu’ - ia menambahkan waktu yang ditetapkan, sehingga orang-orang Yahudi tidak ragu-ragu bahwa orang-orang Kasdim akan ditundukkan, karena Allah telah menetapkan mereka pada kehancuran.].

 

Calvin (tentang Yer 50:9): “Here, again, God declares that enemies would come and overthrow the monarchy of Babylon; but what has been before referred to is here more clearly expressed. For he says, first, that he would be the leader of that war - that the Persians and Medes would fight under his authority.” [= Di sini lagi-lagi Allah menyatakan bahwa musuh-musuh akan datang dan menjatuhkan pemerintahan / kerajaan Babilonia; tetapi apa yang sebelumnya telah ditunjukkan di sini dinyatakan dengan lebih jelas lagi. Karena ia mengatakan, pertama, bahwa Ia akan menjadi pemimpin dari peperangan itu - bahwa orang-orang Persia dan Madia akan berperang di bawah otoritasNya.].

 

28)Rat 2:6b - “Di Sion TUHAN menjadikan orang lupa akan perayaan dan sabat,”.

 

Merayakan hari raya dan hari Sabat adalah sesuatu yang diperintahkan oleh Tuhan, sehingga melupakan / melalaikan hal itu jelas merupakan suatu dosa. Tetapi ayat ini mengatakan bahwa Tuhanlah yang membuat hal itu!

 

Calvin menafsirkan secara aneh, seakan-akan Allah yang melupakan hari raya dan Sabat itu. Tafsirannya saya berikan di bawah, dan saya hanya menterjemahkan bagian yang saya garis-bawahi.

 

Calvin (tentang Rat 2:6): “He afterwards says, that God had ‘forgotten the assembly,’ the sacrifice, or the tabernacle; for it is the same word again, but it seems not to be taken in the same sense. Then I think that מועד, muod, is to be taken here for the assembly. As he had previously said, that the place where the holy assemblies met had been overthrown or destroyed, so now he says, that God had no care for all those assemblies, as though they had been buried in perpetual oblivion; for he mentions also the Sabbath, which corresponds with the subject. God, then, had forgotten all the assemblies as well as the Sabbath. There is, again, as to this last word, a part stated for the whole, for this word was no doubt intended to include all the festivals. The meaning of the passage then is, that the impiety of the people had been so great, that God, having, as it were, forgotten his covenant, had inflicted such a dreadful punishment, that religion, for a time, was in a manner trodden under foot.” [= ... Maka, Allah telah melupakan semua pertemuan-pertemuan maupun Sabat. ... kata ini tak diragukan dimaksudkan untuk mencakup semua perayaan hari-hari raya.].

 

Calvin (tentang Rat 2:6): “The meaning of the passage then is, that the impiety of the people had been so great, that God, having, as it were, forgotten his covenant, had inflicted such a dreadful punishment, that religion, for a time, was in a manner trodden under foot.” [= Jadi, arti dari text itu adalah, bahwa kejahatan dari bangsa itu adalah begitu besar, sehingga Allah, seakan-akan telah melupakan perjanjianNya, telah memberikan suatu hukuman yang menakutkan, sehingga agama, untuk suatu waktu, dengan cara tertentu dinjak-injak.].

 

Matthew Henry: “4. The solemn feasts and the sabbaths had been carefully remembered, and the people constantly put in mind of them; but now the Lord has caused those to be forgotten, not only in the country, among those that lived at a distance, but even in Zion itself; for there were none left to remember them, nor were there the places left where they used to be observed. Now that Zion was in ruins no difference was made between sabbath time and other times; every day was a day of mourning, so that all the solemn feasts were forgotten. Note, It is just with God to deprive those of the benefit and comfort of sabbaths and solemn feasts who have not duly valued them, nor conscientiously observed them, but have profaned them, which was one of the sins that the Jews were often charged with.” [= 4. Hari-hari raya yang khidmat dan sabat-sabat telah diingat dengan teliti, dan bangsa itu terus menerus mengingat mereka; tetapi sekarang Tuhan telah menyebabkan hal-hal itu untuk dilupakan, bukan hanya di negara, di antara mereka yang hidup di tempat yang jauh, tetapi bahkan di Sion sendiri; karena tak ada siapapun yang tertinggal untuk mengingat hal-hal itu, juga di sana tak ada tempat yang tertinggal dimana hal-hal itu biasanya diperingati. Sekarang bahwa Sion telah menjadi puing-puing tak ada perbedaan yang dibuat antara waktu sabat dan waktu-waktu yang lain; setiap hari adalah hari perkabungan, sehingga semua hari-hari raya yang khidmat dilupakan. Perhatikan, Merupakan sesuatu yang adil dengan Allah untuk mencabut manfaat dan penghiburan dari sabat-sabat dan hari-hari raya yang khidmat dari mereka yang tidak menilai / menghargai mereka dengan cara yang tepat, atau tidak memperingati hal-hal itu dengan rajin / sesuai peraturan, tetapi telah tidak menghormati hal-hal itu, yang merupakan salah satu dari dosa-dosa yang sering dituduhkan kepada orang-orang Yahudi.].

 

 

-bersambung-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : buas22@yahoo.com

e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com

http://golgothaministry.org