Golgotha School of Ministry

 

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

 

Rabu, tgl 14 Maret 2018, pk 19.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

Providence of God (13)

 

Saya agak menyimpang sedikit, untuk menunjukkan suatu peristiwa dimana hal yang sangat buruk akhirnya menghasilkan hal yang sangat bagus bagi seorang anak Allah, yaitu Yakub.

 

Kej 42:36 - “Dan Yakub, ayah mereka, berkata kepadanya: ‘Kamu membuat aku kehilangan anak-anakku: Yusuf tidak ada lagi, dan Simeon tidak ada lagi, sekarang Benyaminpun hendak kamu bawa juga. Aku inilah yang menanggung segala-galanya itu!’”.

Catatan: Kata-kata yang saya garis-bawahi itu salah terjemahan.

NIV: ‘Everything is against me’ [= Segala sesuatu menentang aku].

KJV/NASB/ASV/NKJV: ‘all these things are against me’ [= semua hal ini menentang aku].

 

The Bible Exposition Commentary: “‘All these things are against me!’ was a valid statement from a human point of view, but from God’s perspective, everything that was happening was working for Jacob’s good and not for his harm (Rom 8:28).” [= ‘Semua hal ini menentang aku!’ merupakan suatu pernyataan yang sah dari sudut pandang manusia, tetapi dari sudut pandang Allah, segala sesuatu yang sedang terjadi sedang mengerjakan untuk kebaikan Yakub dan bukan untuk kerugiannya (Ro 8:28).].

 

Adam Clarke: “All these things are against me, said poor desponding Jacob; whereas, instead of being against him, all these things were for him,” [= Semua hal-hal ini menentang aku, kata Yakub yang putus asa; padahal semua hal-hal itu bukannya menentang dia, tetapi untuk dia,].

 

Matthew Henry: “Jacob gives up Joseph for gone, and Simeon and Benjamin as being in danger; and he concludes, ‘All these things are against me.’ It proved otherwise, that all these were for him, were working together for his good and the good of his family: yet here he thinks them all against him. Note, Through our ignorance and mistake, and the weakness of our faith, we often apprehend that to be against us which is really for us. We are afflicted in body, estate, name, and relations; and we think all these things are against us, whereas these are really working for us the weight of glory.” [= Yakub menganggap Yusuf mati, dan Simeon dan Benyamin sebagai ada dalam bahaya; dan ia menyimpulkan, ‘Semua hal-hal ini menentang aku’. Tetapi terbukti sebaliknya, bahwa semua ini adalah untuk dia, bekerja bersama-sama untuk kebaikannya dan kebaikan keluarganya: tetapi ia berpikir semua itu menentang dia. Perhatikan, Melalui ketidak-tahuan dan kesalahan kita, dan kelemahan dari iman kita, kita sering melihat itu sebagai menentang kita apa yang sebetulnya adalah untuk kita. Kita menderita dalam tubuh, milik / kekayaan, nama, dan hubungan; dan kita berpikir bahwa semua hal-hal ini menentang kita, sedangkan ini sebetulnya sedang mengerjakan untuk kita kemuliaan yang besar.].

Catatan: dalam bahasa Inggris, lawan kata dari kata depan ‘for’ [= untuk] adalah kata depan ‘against’ [= terhadap / menentang].

 

Kalau saudara adalah seorang anak Allah yang sungguh-sungguh, maka Tuhan tidak pernah dan tidak akan pernah bekerja menentang saudara. Sebaliknya Ia selalu bekerja untuk saudara!

 

Bdk. Ro 8:28 (KJV): “... all things work together for good to them that love God,” [= ... segala sesuatu bekerja bersama-sama untuk kebaikan bagi mereka yang mengasihi Allah,].

 

Pulpit Commentary: “So God’s providences are often misinterpreted by his saints.” [= Demikianlah providensia Allah sering disalah-mengerti / disalah-tafsirkan oleh orang-orang kudusNya.] - hal 480.

 

Pulpit Commentary: “How often the believer says, ‘All these things are against me.’ when he is already close upon that very stream of events which will carry him out of his distress into the midst of plenty, peace, and joy of a healed heart in its recovered blessedness.” [= Betapa sering orang percaya berkata: ‘Semua hal ini menentang aku’ pada saat ia sudah dekat dengan aliran peristiwa-peristiwa yang akan membawanya keluar dari kesukaran / penderitaan ke tengah-tengah kelimpahan, damai dan sukacita dari hati yang disembuhkan dalam keadaan diberkati yang dipulihkan.] - hal 481.

 

Memang, Yakub sebetulnya sudah dekat sekali dengan kebahagiaan yang luar biasa dimana ia bertemu kembali dengan Yusuf, dan semua yang ia alami ini mengarahkan ia kepada pertemuan yang berbahagia itu, tetapi saat ini ia justru menjadi putus asa.

Bagi kita, karena kita mengetahui Kej 43-dst, maka kita bisa melihat betapa bodohnya Yakub. Tetapi bagi Yakubnya sendiri pada saat itu, segalanya terlihat gelap gulita, sehingga ia menjadi putus asa.

 

Penerapan: kalau saudara adalah anak Allah, dan pada saat ini segalanya kelihatan gelap gulita bagi saudara, jangan putus asa seperti Yakub. Percayalah bahwa Allah mengarahkan semua itu pada kebaikan saudara, dan mungkin sekali, sama seperti Yakub, saudara sudah dekat sekali dengan saat yang akan sangat membahagiakan saudara!

 

11)2Sam 16:10-11 - “(10) Tetapi kata raja: ‘Apakah urusanku dengan kamu, hai anak-anak Zeruya? Biarlah ia mengutuk! Sebab apabila TUHAN berfirman kepadanya: Kutukilah Daud, siapakah yang akan bertanya: mengapa engkau berbuat demikian?’ (11) Pula kata Daud kepada Abisai dan kepada semua pegawainya: ‘Sedangkan anak kandungku ingin mencabut nyawaku, terlebih lagi sekarang orang Benyamin ini! Biarkanlah dia dan biarlah ia mengutuk, sebab TUHAN yang telah berfirman kepadanya demikian.”.

 

Daud / ayat ini mengatakan bahwa Tuhan ‘menyuruh’ Simei mengutuki Daud. Tetapi kata ‘menyuruh’ di sini tentu tidak bisa diartikan seakan-akan Tuhan betul-betul berfirman kepada Simei supaya mengutuki Daud. Kata ‘menyuruh’ di sini harus diartikan bekerja / mengatur sehingga Simei mengutuk Daud. Ini sudah dibahas di depan, dan tak perlu diulang di sini.

 

12)1Raja 11:14,23 - “(14) Kemudian TUHAN membangkitkan seorang lawan Salomo, yakni Hadad, orang Edom; ia dari keturunan raja Edom. ... (23) Allah membangkitkan pula seorang lawan Salomo, yakni Rezon bin Elyada, yang telah melarikan diri dari tuannya, yakni Hadadezer, raja Zoba.”.

 

Ayat ini mengatakan bahwa Tuhanlah membangkitkan lawan-lawan untuk memberontak terhadap Salomo, padahal pemberontakan adalah suatu dosa (bdk. Ro 13:1-7). Dalam 1Sam 8:10-17 yang membicarakan hak-hak raja, jelas bahwa harus ada ketundukan dari rakyat terhadap raja, dan ini pasti bertentangan dengan suatu pemberontakan.

 

13)1Raja 12:15,24 - “(15) Jadi raja tidak mendengarkan permintaan rakyat, sebab hal itu merupakan perubahan yang disebabkan TUHAN, supaya TUHAN menepati firman yang diucapkanNya dengan perantaraan Ahia, orang Silo, kepada Yerobeam bin Nebat. ... (24) Beginilah firman TUHAN: Janganlah kamu maju dan janganlah kamu berperang melawan saudara-saudaramu, orang Israel. Pulanglah masing-masing ke rumahnya, sebab Akulah yang menyebabkan hal ini terjadi.’ Maka mereka mendengarkan firman TUHAN dan pergilah mereka pulang sesuai dengan firman TUHAN itu.” (bdk. 2Taw 10:15  11:4).

 

Bagian ini menunjukkan bahwa Tuhan bekerja sehingga Rehabeam menolak nasehat yang baik dari tua-tua, karena Tuhan mau memecah Israel.

 

14)1Raja 22:19-23 - “(19) Kata Mikha: ‘Sebab itu dengarkanlah firman TUHAN. Aku telah melihat TUHAN sedang duduk di atas takhtaNya dan segenap tentara sorga berdiri di dekatNya, di sebelah kananNya dan di sebelah kiriNya. (20) Dan TUHAN berfirman: Siapakah yang akan membujuk Ahab untuk maju berperang, supaya ia tewas di Ramot-Gilead? Maka yang seorang berkata begini, yang lain berkata begitu. (21) Kemudian tampillah suatu roh, lalu berdiri di hadapan TUHAN. Ia berkata: Aku ini akan membujuknya. TUHAN bertanya kepadanya: Dengan apa? (22) Jawabnya: Aku akan keluar dan menjadi roh dusta dalam mulut semua nabinya. Ia berfirman: Biarlah engkau membujuknya, dan engkau akan berhasil pula. Keluarlah dan perbuatlah demikian! (23) Karena itu, sesungguhnya TUHAN telah menaruh roh dusta ke dalam mulut semua nabimu ini, sebab TUHAN telah menetapkan untuk menimpakan malapetaka kepadamu.’” (bdk. 2Taw 18:19-22).

 

Ini merupakan bagian Kitab Suci yang sangat aneh! Tuhan ‘kongkalikong’ / melakukan kolusi dengan setan? Tidak, karena ini lagi-lagi menunjukkan Tuhan sebagai first cause dan setan sebagai second cause pada peristiwa penyesatan oleh nabi-nabi palsu terhadap Ahab.

 

15)1Taw 10:4,14 - “(4) Lalu berkatalah Saul kepada pembawa senjatanya: ‘Hunuslah pedangmu dan tikamlah aku, supaya jangan datang orang-orang yang tidak bersunat ini memperlakukan aku sebagai permainan.’ Tetapi pembawa senjatanya tidak mau, karena ia sangat segan. Kemudian Saul mengambil pedang itu dan menjatuhkan dirinya ke atasnya. ... (14) dan tidak meminta petunjuk TUHAN. Sebab itu TUHAN membunuh dia dan menyerahkan jabatan raja itu kepada Daud bin Isai.”.

 

Sekalipun dalam ay 4 dikatakan bahwa Saul mati bunuh diri (bdk. 1Sam 31:4), tetapi dalam ay 14 dikatakan ‘Tuhan membunuh dia’.

Kalau ini hanya sekedar merupakan ijin Tuhan, dan bukannya penentuan dan pengaturanNya, tidak mungkin digunakan kata-kata ‘Tuhan membunuh dia’!

 

16)2Taw 21:16-17 - “(16) Lalu TUHAN menggerakkan hati orang Filistin dan orang Arab yang tinggal berdekatan dengan orang Etiopia untuk melawan Yoram. (17) Maka mereka maju melawan Yehuda, memasukinya dan mengangkut segala harta milik yang terdapat di dalam istana raja sebagai jarahan, juga anak-anak dan isteri-isterinya, sehingga tidak ada seorang anak yang tinggal padanya kecuali Yoahas, anaknya yang bungsu.”.

 

Ayat ini mengatakan bahwa Tuhan menggerakkan hati orang Filistin dan Arab untuk melawan Yoram. Dan dalam perang itu mereka merampok, menculik, dan sebagainya.

 

17)2Taw 25:15-16 - “(15) Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap Amazia; Ia menyuruh seorang nabi kepadanya yang berkata: ‘Mengapa engkau mencari allah sesuatu bangsa yang tidak dapat melepaskan bangsanya sendiri dari tanganmu?’ (16) Waktu nabi sedang berbicara, berkatalah Amazia kepadanya: Apakah kami telah mengangkat engkau menjadi penasihat raja? Diamlah! Apakah engkau mau dibunuh?’ Lalu diamlah nabi itu setelah berkata: ‘Sekarang aku tahu, bahwa Allah telah menentukan akan membinasakan engkau, karena engkau telah berbuat hal ini, dan tidak mendengarkan nasihatku!’”.

 

2Taw 25:20 - “Tetapi Amazia tidak mau mendengarkan; sebab hal itu telah ditetapkan Allah yang hendak menyerahkan mereka ke dalam tangan Yoas, karena mereka telah mencari allah orang Edom.”.

 

Penolakan Amazia terhadap nasehat nabi (ay 15-16) membuat nabi itu yakin / tahu bahwa Allah telah menentukan supaya Amazia tidak mendengarkan nasehatnya, karena Allah hendak membinasakannya (ay 16b). Jelas bahwa penolakan Amazia terhadap nasehat nabi, yang jelas merupakan suatu dosa, termasuk dalam pelaksanaan Rencana Allah.

 

Dan penolakan Ahazia terhadap kata-kata Yoas, raja Israel (ay 18), juga terjadi karena ketetapan Allah, karena Allah hendak menyerahkannya ke tangan Yoas.

 

18)2Taw 36:17 - TUHAN menggerakkan raja orang Kasdim melawan mereka. Raja itu membunuh teruna mereka dengan pedang dalam rumah kudus mereka, dan tidak menyayangkan teruna atau gadis, orang tua atau orang ubanan - semua diserahkan TUHAN ke dalam tangannya.”.

 

Ini menunjukkan bahwa kekejaman orang Kasdim terhadap Yehuda, yang jelas merupakan suatu dosa, adalah pekerjaan Tuhan.

 

19)Ayub 1:21 - “katanya: ‘Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!’”.

 

Ayub 42:11b - “Mereka menyatakan turut berdukacita dan menghibur dia oleh karena segala malapetaka yang telah ditimpakan TUHAN kepadanya, ...”.

 

Kedua ayat di atas ini mengatakan bahwa semua malapetaka yang dialami Ayub, termasuk perampokan terhadap ternaknya, yang jelas merupakan dosa, adalah pekerjaan Tuhan.

 

20)Amsal 16:4 - “TUHAN membuat segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing, bahkan orang fasik dibuatNya untuk hari malapetaka.”.

 

Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan membuat orang fasik untuk hari malapetaka!

 

21)Yes 10:5-7,12,22-23 - “(5) Celakalah Asyur, yang menjadi cambuk murkaKu dan yang menjadi tongkat amarahKu! (6) Aku akan menyuruhnya terhadap bangsa yang murtad, dan Aku akan memerintahkannya melawan umat sasaran murkaKu, untuk melakukan perampasan dan penjarahan, dan untuk menginjak-injak mereka seperti lumpur di jalan. (7) Tetapi dia sendiri tidak demikian maksudnya dan tidak demikian rancangan hatinya, melainkan niat hatinya ialah hendak memunahkan dan hendak melenyapkan tidak sedikit bangsa-bangsa. ... (12) Tetapi apabila TUHAN telah menyelesaikan segala pekerjaanNya di gunung Sion dan di Yerusalem, maka Ia akan menghukum perbuatan ketinggian hati raja Asyur dan sikapnya yang angkuh sombong. ... (22) Sebab sekalipun bangsamu, hai Israel, seperti pasir di laut banyaknya, namun hanya sisanya akan kembali. TUHAN telah memastikan datangnya kebinasaan dan dari situ timbul keadilan yang meluap-luap. (23) Sungguh, kebinasaan yang sudah pasti akan dilaksanakan di atas seluruh bumi oleh Tuhan, TUHAN semesta alam.”.

 

Text Kitab Suci ini menunjukkan bahwa penindasan oleh Asyur terhadap Israel merupakan pekerjaan Tuhan yang menggunakan Asyur sebagai ‘cambuk murka / tongkat amarah’ (ay 5). Tetapi karena penindasan itu sendiri adalah dosa, dan Asyur melakukannya dengan tujuan yang berbeda dengan tujuan Tuhan (ay 7), maka akhirnya Asyur sendiri dihukum oleh Tuhan (ay 12).

 

22)Yes 63:17a - “Ya TUHAN, mengapa Engkau biarkan kami sesat dari jalanMu, dan mengapa Engkau tegarkan hati kami, sehingga tidak takut kepadaMu?”.

Kitab Suci Indonesia: ‘mengapa Engkau biarkan kami sesat dari jalanMu’.

KJV: why hast thou made us to err from thy ways, [= mengapa Engkau membuat kami untuk tersesat dari jalanMu].

RSV/NIV/NASB mirip dengan KJV.

 

Ayat ini mengatakan bahwa kesesatan dan ketegaran hati merupakan pekerjaan Tuhan!

 

Calvin (tentang Yes 63:17): “the Prophet employs a mode of expression which is of frequent occurrence; for in the Scriptures it is frequently said that God drives men into error (2Thess 2:11;) ‘gives them up to a reprobate mind,’ (Rom. 1:28;) and ‘hardens them.’ (Rom. 9:18.) When believers speak in this manner, they do not intend to make God the author of error or of sin, as if they were innocent, or to free themselves from blame; ... God himself is said to harden and to blind when he gives up men to be blinded by Satan, who is the minister and executioner of his wrath. Without this we would be exposed to the rage of Satan; but, since he can do nothing without the command of God, to whose dominion he is subject, there will be no impropriety in saying that God is the author of blinding and hardening, as Scripture also affirmed in many passages. (Rom. 9:18.) And yet it cannot be said or declared that God is the author of sin, because he punishes the ingratitude of men by blinding them in this manner.” [= sang Nabi menggunakan suatu cara pengungkapan yang sering terjadi; karena dalam Kitab Suci sering dikatakan bahwa Allah mendorong manusia ke dalam kesalahan / kesesatan (2Tes 2:11); ‘menyerahkan mereka pada suatu pikiran yang jahat’, (Ro 1:28); dan ‘mengeraskan mereka’. (Ro 9:18). Pada waktu orang-orang percaya berbicara dengan cara ini, mereka tidak bermaksud untuk membuat Allah pencipta dari kesalahan atau dari dosa, seakan-akan mereka sendiri tidak bersalah, atau untuk membebaskan diri mereka sendiri dari kesalahan; ... Allah sendiri dikatakan mengeraskan dan membutakan pada waktu Ia menyerahkan manusia untuk dibutakan oleh Iblis, yang adalah pelayan dan pelaksana dari murkaNya. Tanpa ini kita akan terbuka terhadap kemarahan Iblis; tetapi karena ia tidak bisa berbuat apapun tanpa perintah dari Allah, pada penguasaan siapa ia tunduk, di sana tidak ada ketidak-benaran / ketidak-tepatan dalam mengatakan bahwa Allah adalah pencipta dari pembutaan dan pengerasan, seperti Kitab Suci juga menegaskannya dalam banyak text. (Ro 9:18). Tetapi tidak bisa dikatakan atau dinyatakan bahwa Allah adalah pencipta dosa, karena Ia menghukum rasa tidak tahu terima kasih manusia dengan membutakan mereka dengan cara ini.] - hal 356.

 

 

-bersambung-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : buas22@yahoo.com

e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com

http://golgothaministry.org