Golgotha School of Ministry

 

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

 

Rabu, tgl 21 Februari 2018, pk 19.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

Providence of God (12)

 

C) Ayat-ayat Kitab Suci yang menunjukkan hubungan Providence dan dosa.

 

Ada sangat banyak ayat Kitab Suci yang menunjukkan hubungan Providence dan dosa, seperti:

 

1) Kej 45:5-8 - “(5) Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu. (6) Karena telah dua tahun ada kelaparan dalam negeri ini dan selama lima tahun lagi orang tidak akan membajak atau menuai. (7) Maka Allah telah menyuruh aku mendahului kamu untuk menjamin kelanjutan keturunanmu di bumi ini dan untuk memelihara hidupmu, sehingga sebagian besar dari padamu tertolong. (8) Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah; Dialah yang telah menempatkan aku sebagai bapa bagi Firaun dan tuan atas seluruh istananya dan sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir.”.

 

Khususnya perhatikan kata-kata ‘Allah menyuruh aku mendahului kamu’ (ay 5,7) dan ‘bukan kamu yang menyuruh aku ke sini tetapi Allah’ (ay 8).

 

Bdk. Maz 105:17 - diutusNyalah seorang mendahului mereka: Yusuf, yang dijual sebagai budak.”.

 

Semua ini menunjukkan bahwa penjualan Yusuf ke Mesir, yang jelas adalah suatu dosa, merupakan pekerjaan Allah, yang melakukan semua itu untuk melaksanakan rencana tertentu (memelihara Israel dalam 7 tahun kelaparan).

 

Dalam tafsirannya tentang bagian ini, Calvin berkata:

This is a remarkable passage, in which we are taught that the right course of events is never so disturbed by the depravity and wickedness of men, but that God can direct them to a good end. Good men are ashamed to confess, that what men undertake cannot be accomplished except by the will of God; fearing lest unbridled tongues should cry out immediately, either that God is the author of sin, or that wicked men are not to be accused of crime, seeing they fulfil the counsel of God. But although this sacrilegious fury cannot be effectually rebutted, it may suffice that we hold it in detestation. Meanwhile, it is right to maintain, what is declared by the clear testimonies of Scripture, that whatever men may contrive, yet, amidst all their tumult, God from heaven overrules their counsels and attempts; and, in short, does, by their hands, what he himself decreed.” [= Ini adalah text yang patut diperhatikan, dalam mana kita diajar bahwa jalan yang benar dari peristiwa-peristiwa tidak pernah diganggu oleh kebejatan dan kejahatan manusia, tetapi bahwa Allah bisa mengarahkan mereka pada suatu tujuan yang baik. Orang-orang saleh malu mengakui, bahwa apa yang manusia usahakan tidak bisa tercapai kecuali oleh kehendak Allah; karena mereka takut bahwa lidah-lidah yang tidak dikekang akan segera berteriak, bahwa Allah adalah pencipta dosa, atau bahwa orang jahat tak boleh dituduh karena kejahatannya, mengingat mereka menggenapi rencana Allah. Tetapi sekalipun kemarahan yang tidak senonoh ini tidak bisa dibantah secara efektif, cukuplah kalau kita menganggapnya sebagai sesuatu yang menjijikkan. Sementara itu, adalah benar untuk mempertahankan, apa yang dinyatakan oleh kesaksian yang jelas dari Kitab Suci, bahwa apapun yang manusia usahakan / rencanakan, di tengah-tengah segala keributan mereka, Allah dari surga menguasai rencana dan usaha mereka, dan, singkatnya, melakukan dengan tangan mereka apa yang Ia sendiri tetapkan.].

 

Calvin melanjutkan dengan berkata: “Good men, who fear to expose the justice of God to the calumnies of the impious, resort to this distinction, that God wills some things, but permits others to be done. As if, truly, any degree of liberty of action, were he to cease from governing, would be left to men. If he had only permitted Joseph to be carried into Egypt, he had not ordained him to be the minister of deliverance to his father Jacob and his sons; which he is now expressly declared to have done. Away, then, with that vain figment, that, by the permission of God only, and not by his counsel or will, those evils are committed which he afterwards turns to a good account.” [= Orang-orang saleh, yang takut membuka keadilan Allah terhadap fitnahan dari orang-orang jahat, memutuskan untuk mengadakan pembedaan ini, yaitu bahwa Allah menghendaki beberapa hal, tetapi mengijinkan hal-hal yang lain untuk dilakukan. Seakan-akan Ia berhenti dari tindakan memerintah, dan memberikan kebebasan bertindak tertentu kepada manusia. Jika Ia hanya mengijinkan Yusuf untuk dibawa ke Mesir, Ia tidak menentukannya untuk menjadi pembebas bagi ayahnya Yakub dan anak-anaknya; yang dinyatakan secara jelas telah dilakukanNya. Maka singkirkanlah isapan jempol / khayalan yang sia-sia yang mengatakan bahwa hanya karena ijin Allah, dan bukan karena rencana atau kehendakNya, hal-hal yang jahat itu dilakukan, yang setelah itu Ia balikkan menjadi sesuatu yang baik.].

 

2) Kej 50:20 - “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.”.

 

Ini secara explicit menunjukkan bahwa sekalipun saudara-saudara Yusuf mereka-rekakan / memaksudkan yang jahat terhadap Yusuf, tetapi Allah telah mereka-rekakannya / memaksudkannya untuk kebaikan! Jadi, jelas bahwa Allah bekerja menggunakan dosa dari saudara-saudara Yusuf demi kebaikan Yusuf / Israel.

 

Dalam tafsirannya tentang bagian ini, Calvin berkata:

“The selling of Joseph was a crime detestable for its cruelty and perfidy; yet he was not sold except by the decree of heaven. For neither did God merely remain at rest, and by conniving for a time, let loose the reins of human malice, in order that afterwards he might make use of this occasion; but, at his own will, he appointed the order of acting which he intended to be fixed and certain. Thus we may say with truth and propriety, that Joseph was sold by the wicked consent of his brethren, and by the secret providence of God.” [= Penjualan terhadap Yusuf adalah suatu kejahatan yang menjijikkan karena kekejaman dan pengkhianatannya; tetapi ia tidak dijual kecuali oleh ketetapan dari surga. Karena Allah bukannya semata-mata berdiam diri, dan sambil menutup mata / pura-pura tidak melihat untuk sementara waktu, melepaskan kendali terhadap keinginan jahat manusia, supaya setelah itu Ia bisa menggunakan kejadian ini; tetapi, dalam kehendakNya sendiri, Ia menetapkan urut-urutan tindakan yang Ia maksudkan untuk menjadi tetap dan tertentu. Jadi kita bisa berkata dengan benar dan tepat, bahwa Yusuf dijual oleh persetujuan jahat dari saudara-saudaranya, dan oleh providensia rahasia dari Allah.].

 

3) Kel 1:8-10 - “(8) Kemudian bangkitlah seorang raja baru memerintah tanah Mesir, yang tidak mengenal Yusuf. (9) Berkatalah raja itu kepada rakyatnya: ‘Bangsa Israel itu sangat banyak dan lebih besar jumlahnya dari pada kita. (10) Marilah kita bertindak dengan bijaksana terhadap mereka, supaya mereka jangan bertambah banyak lagi dan - jika terjadi peperangan - jangan bersekutu nanti dengan musuh kita dan memerangi kita, lalu pergi dari negeri ini.’”.

 

Bdk. Maz 105:25 - diubahNya hati mereka (orang Mesir) untuk membenci umatNya, untuk memperdayakan hamba-hambaNya.”.

KJV/RSV/NASB: He turned their heart to hate his people,’ [= Ia membelokkan / mengubah hati mereka untuk membenci umat / bangsaNya,].

 

Jelas dikatakan bahwa Tuhanlah yang mengubah hati orang Mesir untuk membenci Israel, supaya dengan demikian rencanaNya bisa terlaksana.

 

Calvin (tentang Maz 105:25): “The Egyptians, though at first kind and courteous hosts to the Israelites, became afterwards cruel enemies; and this also the prophet ascribes to the counsel of God. They were undoubtedly driven to this by a perverse and malignant spirit, by pride and covetousness; but still such a thing did not happen without the providence of God, who in an incomprehensible manner so accomplishes his work in the reprobate, as that he brings forth light even out of darkness. The form of expression seems to some a little too harsh, and therefore they translate the verb passively, ‘their (i.e., the Egyptians’) hearts were turned.’ But this is poor, and does not suit the context; for we see that it is the express object of the inspired writer to put the whole government of the Church under God, so that nothing may happen but according to his will. If the delicate ears of some are offended at such doctrine, let it be observed, that the Holy Spirit unequivocally affirms in other places as well as here, that the minds of men are driven hither and thither by a secret impulse, (Prov. 21:1,) so that they can neither will nor do anything except as God pleases. What madness is it to embrace nothing but what commends itself to human reason? What authority will God’s word have, if it is not admitted any farther than we are inclined to receive it? Those then who reject this doctrine, because it is not very grateful to the human understanding, are inflated with a perverse arrogance. Others malignantly misrepresent it, not through ignorance or by mistake, but only that they may excite commotion in the Church, or to bring us into odium among the ignorant. Some over-timid persons could wish, for the sake of peace, that this doctrine were buried. They are surely ill qualified for composing differences. ... The Holy Spirit, we see, affirms that the Egyptians were so wicked, that God turned their hearts to hate his people. ... It is, however, to be observed, that the root of the malice was in the Egyptians themselves, so that the fault cannot be transferred to God. I say, they were spontaneously and innately wicked, and not forced by the instigation of another. In regard to God, it ought to suffice us to know, that such was his will, although the reason may be unknown to us.” [= Orang-orang Mesir, sekalipun mula-mula adalah tuan rumah yang baik dan sopan / menghormat kepada bangsa Israel, belakangan menjadi musuh-musuh yang kejam; dan ini sang nabi juga menganggap berasal dari rencana Allah. Mereka secara tak diragukan didorong pada hal ini oleh suatu roh / kecenderungan yang jahat dan membahayakan, oleh kesombongan dan ketamakan; tetapi tetap hal seperti itu tidak terjadi tanpa Providensia Allah, yang dengan suatu cara yang tak bisa dimengerti begitu mencapai pekerjaanNya dalam diri orang-orang yang ditentukan untuk binasa, sehingga Ia mengeluarkan terang bahkan dari kegelapan. Bentuk dari ungkapannya kelihatannya bagi sebagian orang terlalu keras, dan karena itu mereka menterjemahkan kata kerja itu secara pasif, ‘hati mereka (orang Mesir) dibelokkan / diubahkan’. Tetapi ini buruk, dan tak cocok dengan kontextnya; karena kita melihat bahwa merupakan tujuan yang nyata dari penulis yang diilhami untuk meletakkan seluruh pemerintahan Gereja di bawah Allah, sehingga tak ada apapun bisa terjadi kecuali sesuai kehendakNya. Jika telinga yang lembut dari sebagian orang tersinggung oleh doktrin seperti ini, hendaklah diperhatikan, bahwa Roh Kudus secara jelas meneguhkan di tempat-tempat lain maupun di sini, bahwa pikiran manusia didorong kesana kemari oleh suatu dorongan rahasia, (Amsal 21:1), sehingga mereka tidak bisa menghendaki atau melakukan apapun kecuali seperti yang Allah senangi. Kegilaan apa itu untuk tidak memeluk / mempercayai apapun kecuali yang cocok dengan akal manusia? Otoritas apa yang akan dimiliki firman Allah, jika itu tidak diijinkan lebih jauh dari pada yang kita cenderung untuk menerimanya? Karena itu, mereka yang menolak doktrin ini, karena doktrin ini tidak diterima oleh pengertian manusia, menggelembung dengan suatu keangkuhan yang jahat. Orang-orang lain secara membahayakan / jahat menggambarkan ini secara salah (memfitnah), bukan karena ketidak-tahuan atau karena kesalahan, tetapi hanya supaya mereka bisa memprovokasi keributan dalam Gereja, atau untuk membawa kita ke dalam ketidak-senangan dari orang-orang bodoh / tak berpengetahuan. Sebagian orang-orang yang kelewat takut berharap, demi perdamaian, supaya / bahwa doktrin ini dikuburkan. Mereka pasti tidak memenuhi syarat untuk memperdamaikan / menyesuaikan perbedaan-perbedaan. ... Roh Kudus, kita lihat, meneguhkan bahwa orang-orang Mesir begitu jahat, sehingga Allah membelokkan hati mereka untuk membenci umat / bangsaNya. ... Tetapi, harus diperhatikan, bahwa akar dari maksud jahat ini ada dalam diri orang-orang Mesir itu sendiri, sehingga kesalahannya tidak bisa ditransfer kepada Allah. Saya berkata, mereka adalah jahat secara alamiah, dan tidak dipaksa oleh hasutan dari orang lain. Berkenaan dengan Allah, cukup bagi kita untuk tahu, bahwa itu adalah kehendakNya, sekalipun alasannya tidak kita ketahui.] - hal 192,193,194.

Amsal 21:1 - Hati raja seperti batang air di dalam tangan TUHAN, dialirkanNya ke mana Ia ingini..

 

4) Kel 4:21  7:3,22  8:15,19,32  9:12  9:15-16 (bdk. Ro 9:15-18)  9:34-35  10:1-2,20,27  11:10  14:4,8,17. Berulang kali dikatakan bahwa Allah mengeraskan hati Firaun! Dan itulah yang menyebabkan hati Firaun menjadi keras. Bahkan setelah Firaun terpaksa membiarkan Israel meninggalkan Mesir, Tuhan lalu bekerja mengeraskan hati Firaun lagi, sehingga ia memerintahkan tentaranya untuk mengejar Israel. Tujuan Allah ialah supaya baik Israel maupun Mesir bisa melihat kuasaNya (Kel 10:1-2 14:4,17-18,30-31).

 

5) Ul 2:30 - “Tetapi Sihon, raja Hesybon, tidak mau memberi kita berjalan melalui daerahnya, sebab TUHAN, Allahmu, membuat dia keras kepala dan tegar hati, dengan maksud menyerahkan dia ke dalam tanganmu, seperti yang terjadi sekarang ini.”.

 

Ayat ini mengatakan bahwa Allahlah yang mengeraskan hati Sihon supaya bisa menyerahkannya ke tangan Israel.

 

Calvin (tentang Ul 2:24-dst): “the cause is there specified why (Sihon) had been so arrogant and contemptuous in his rejection of the embassy, viz, because God had ‘hardened his spirit, and made his heart obstinate.’ From whence again it appears how poor is the sophistry of those who imagine that God idly regards from heaven what men are about to do.” [= penyebabnya di sini dinyatakan secara explicit mengapa (Sihon) telah menjadi begitu arogan dan menghina dalam penolakannya terhadap utusan itu, yaitu, karena Allah telah ‘mengeraskan rohnya, dan membuat hatinya tegar tengkuk’. Dari mana lagi-lagi kelihatan betapa buruk metode argumentasi dari mereka yang membayangkan / mengkhayalkan bahwa Allah secara malas melihat dari surga apa yang manusia akan lakukan.] - hal 171.

 

6) Yos 11:20 - “Karena TUHAN yang menyebabkan hati orang-orang itu menjadi keras, sehingga mereka berperang melawan orang Israel, supaya mereka ditumpas, dan jangan dikasihani, tetapi dipunahkan, seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa.”.

 

Ayat ini mengatakan bahwa Allah mengeraskan hati orang Kanaan supaya mereka tidak dikasihani tetapi ditumpas.

 

Calvin (tentang Yos 11:20): “the Israelites, though they were forbidden to shew them any mercy, were met in a hostile manner, in order that the war might be just. And it was wonderfully arranged by the secret providence of God, that, being doomed to destruction, they should voluntarily offer themselves to it, and by provoking the Israelites be the cause of their own ruin. The Lord, therefore, besides ordering that pardon should be denied them, also incited them to blind fury, that no room might be left for mercy. ... God hardens them for this very end, that they may shut themselves out from mercy. Hence that hardness is called his work, because it secures the accomplishment of his design. Should any attempt be made to darken so clear a matter by those who imagine that God only looks down from heaven to see what men will be pleased to do, and who cannot bear to think that the hearts of men are curbed by his secret agency, what else do they display than their own presumption? They only allow God a permissive power, and in this way make his counsel dependent on the pleasure of men. But what saith the Spirit? That the hardening is from God, who thus precipitates those whom he means to destroy.” [= bangsa Israel, sekalipun mereka dilarang untuk menunjukkan belas kasihan apapun kepada mereka, dihadapi dengan suatu cara / sikap yang bermusuhan, supaya perang itu bisa benar. Dan itu diatur secara ajaib oleh providensia rahasia dari Allah, sehingga, karena ditentukan pada kehancuran, mereka secara sukarela menawarkan diri mereka sendiri kepadanya, dan dengan memprovokasi bangsa Israel mereka menjadi penyebab dari kehancuran mereka sendiri. Karena itu, Tuhan, disamping memerintahkan bahwa pengampunan tak boleh diberikan kepada mereka, juga menggerakkan mereka pada kemarahan yang buta, sehingga tak ada tempat yang tersisa untuk belas kasihan. ... Allah mengeraskan mereka untuk tujuan ini, supaya mereka bisa menutup diri mereka sendiri dari belas kasihan. Maka / jadi kekerasan itu disebut pekerjaanNya, karena itu memastikan pencapaian dari rancanganNya. Kalau ada usaha apapun yang dibuat untuk menggelapkan / mengaburkan suatu persoalan yang begitu jelas oleh mereka yang mengkhayalkan bahwa Allah melihat ke bawah dari surga untuk melihat apa yang manusia senang untuk lakukan, dan yang tak bisa tahan untuk berpikir bahwa hati manusia dikekang oleh pekerjaan / pemerintahan rahasiaNya, apa yang mereka tunjukkan / pamerkan selain anggapan mereka sendiri? Mereka hanya mengijinkan / memberikan Allah suatu kuasa yang mengijinkan, dan dengan cara ini membuat rencanaNya tergantung pada kesenangan manusia. Tetapi apa yang dikatakan Roh? Bahwa pengerasan itu adalah dari Allah, yang dengan demikian menjatuhkan mereka yang Ia maksudkan untuk hancurkan.] - hal 174-175.

 

7) Hak 9:22-24 - “(22) Setelah tiga tahun lamanya Abimelekh memerintah atas orang Israel, (23) maka Allah membangkitkan semangat jahat di antara Abimelekh dan warga kota Sikhem, sehingga warga kota Sikhem itu menjadi tidak setia kepada Abimelekh, (24) supaya kekerasan terhadap ketujuh puluh anak Yerubaal dibalaskan dan darah mereka ditimpakan kepada Abimelekh, saudara mereka yang telah membunuh mereka dan kepada warga kota Sikhem yang membantu dia membunuh saudara-saudaranya itu.”.

 

Ayat ini mengatakan bahwa Allah membangkitkan semangat jahat dalam diri orang-orang tertentu, supaya memberontak terhadap Abimelekh (anak Yerubaal / Gideon), supaya Ia bisa menghukum baik Abimelekh maupun orang-orang Sikhem karena pembunuhan yang mereka lakukan terhadap anak-anak Yerubaal / Gideon yang lain dalam Hak 9:1-5.

 

8) Hak 14:1-4 - “(1) Simson pergi ke Timna dan di situ ia melihat seorang gadis Filistin. (2) Ia pulang dan memberitahukan kepada ayahnya dan ibunya: ‘Di Timna aku melihat seorang gadis Filistin. Tolong, ambillah dia menjadi isteriku.’ (3) Tetapi ayahnya dan ibunya berkata kepadanya: ‘Tidak adakah di antara anak-anak perempuan sanak saudaramu atau di antara seluruh bangsa kita seorang perempuan, sehingga engkau pergi mengambil isteri dari orang Filistin, orang-orang yang tidak bersunat itu?’ Tetapi jawab Simson kepada ayahnya: ‘Ambillah dia bagiku, sebab dia kusukai.’ (4) Tetapi ayahnya dan ibunya tidak tahu bahwa hal itu dari pada TUHAN asalnya: sebab memang Simson harus mencari gara-gara terhadap orang Filistin. Karena pada masa itu orang Filistin menguasai orang Israel.”.

 

Simson mau kawin dengan orang Filistin / kafir (Hak 14:1-2), dan ayahnya menasehatinya untuk tidak melakukan hal itu, karena itu jelas adalah dosa (Hak 14:3). Dan dalam ay 4 dikatakan bahwa hal itu datang dari Tuhan, karena Tuhan menghendaki Simson mencari gara-gara terhadap orang Filistin!

 

9) 1Sam 2:25b - “Jika seseorang berdosa terhadap seorang yang lain, maka Allah yang akan mengadili; tetapi jika seseorang berdosa terhadap TUHAN, siapakah yang menjadi perantara baginya?’ Tetapi tidaklah didengarkan mereka perkataan ayahnya itu, sebab TUHAN hendak mematikan mereka.”.

 

Ayat ini mengatakan bahwa Tuhan bekerja sehingga anak-anak Eli tidak menuruti nasehat ayahnya, karena Tuhan hendak membunuh mereka.

 

10)2Sam 12:11-12 - “(11) Beginilah firman TUHAN: Bahwasanya malapetaka akan Kutimpakan ke atasmu yang datang dari kaum keluargamu sendiri. Aku akan mengambil isteri-isterimu di depan matamu dan memberikannya kepada orang lain; orang itu akan tidur dengan isteri-isterimu di siang hari. (12) Sebab engkau telah melakukannya secara tersembunyi, tetapi Aku akan melakukan hal itu di depan seluruh Israel secara terang-terangan.’” (bdk. 2Sam 16:20-23).

 

Ayat ini menunjukkan bahwa peristiwa hubungan sex antara Absalom dan gundik-gundik Daud, yang bisa dikatakan merupakan perkosaan dan incest (perzinahan dalam keluarga) merupakan pekerjaan Tuhan!

 

Calvin: “is it appropriate for God to strip a man of his wives, and give them over not to a mere fornicator, but to someone who commits incest? ... We know that God hates iniquity (Heb. 1:9). Why, therefore, did he attribute this to himself? ... we see how God presides in admirable fashion in that he always remains just and beyond reproach, however much he uses the wicked as his instruments. It was Absalom who was the rod that God used to punish David. And in what way? By the incest that we have already mentioned. But how could God not be soiled? After all, it does seem that he involved himself with Absalom to be his partner in crime. Well, I have already said that God has an admirable way when he executes his judgment, a way which surpasses all human intelligence, so that it only remains for us to humble ourselves before him and to confess that everything that he does is just. If his judgments are a profound abyss, let us not fail to submit to them, in order to put a stop to the babble of these fanatics who would like to tell God what to do. For when someone tells them that nothing happens here below unless God ordains it, and that he disposes the whole thing according to his good will, then what will they say? They will reply that God commits sin and is the Author of it. Indeed, that seems to be so, but the Scripture does not explain it in that way. ... That is what these fanatics conclude out of their own presumption when they decide that God is the Author of sin if he controls everything by his providence. When Job confessed that it was God who had snatched away his assets, he immediately understood fully that human thieves were like the hands of God, like rods which he was guiding by his providence (Job 1:21). He certainly knew that the devil was the instrument by which God was executing his sentence, in order to prove his patience. So he did not fail to say: ‘God has done it’. And how were his assets stolen, his houses ruined, and all his possessions taken as prey? God did it by the hands of thieves. Will this make us say that God is contaminated? Indeed not, for he does it by his counsel, which is quite other than human. This is why Psalm 39 says: ‘I have made myself silent, and have not opened my mouth, for you have done it’ (v. 9). The Psalmist wanted to despise himself, unable to bear his afflictions, in utter anguish and great distress. But since he knew that it was God who was pursuing him, he quieted himself and kept silent, confessing that this was reason enough for him to submit himself to all that God would give him. What was it that David endured? Persecution, violence, and cruelty at the hands of his enemies; he suffered it all. It is true that he asked vengeance for it, but yet he attributed it to God. When he thus spoke, it was not to make God an accomplice in his murders, but to show that when we are afflicted by men, God is in charge of it, secretly ordaining everything that they do, so that he should be considered just in all his deeds, and men should be condemned. Now that is how God presided by the hand of Absalom when he violated his father’s wives. God planned it, yet without Absalom knowing that God was doing it. In fact, what would happen if the wicked - and even the devil, who is their father - could do something by themselves without the express permission of God? What would our condition be like?  ... would he not soon have swallowed us up? If, therefore, the devil were not held in control, and all the wicked were not governed by the counsel and the secret and incomprehensible power of God, where would we be? Thus, let us realise that whenever the wicked are in control over us, and trouble us, although they do it unjustly, God is still in charge of it, ... though the wicked are pursuing their disordered lusts, yet God is guiding them nevertheless. ... Let us learn, therefore, to discern the fact that however much men fail to understand the meaning of their iniquities, and however much we must always detest the evil that they commit against the Law, God does not fail to exercise his justice in such a way that the evil is turned into good. That is to say, as far as he is concerned, he knows how to use evil beyond our thoughts, so that he converts it into good - that is, to a good end - in such a way that he will not only always remain just, but we shall have occasion, all the time of our life, to glorify him everywhere, in every way.” [= apakah tepat bagi Allah untuk mengambil istri-istri seseorang, dan memberikan mereka kepada seseorang yang bukan semata-mata seorang pencabul, tetapi kepada seseorang yang melakukan incest? ... Kita tahu bahwa Allah membenci kejahatan (Ibr 1:9). Karena itu, mengapa Ia menganggap ini berasal dari diriNya sendiri? ... kita melihat bagaimana Allah mengontrol dalam cara yang sangat bagus / mengagumkan sehingga Ia selalu tetap benar dan di luar / di atas celaan, betapapun banyaknya Ia menggunakan orang-orang jahat sebagai alat-alatNya. Absalomlah yang merupakan tongkat yang Allah gunakan untuk menghukum Daud. Dan dengan cara apa? Dengan incest yang telah kami sebutkan. Tetapi bagaimana Allah bisa tidak menjadi kotor / dinajiskan? Bagaimanapun, itu memang terlihat bahwa Ia melibatkan diriNya sendiri dengan Absalom untuk menjadi partner dalam kejahatan. Saya sudah mengatakan bahwa Allah mempunyai suatu cara yang sangat bagus / mengagumkan pada waktu Ia melaksanakan penghakimanNya, suatu cara yang melampaui semua kecerdasan manusia, sehingga kita hanya bisa merendahkan diri kita sendiri di hadapanNya dan mengakui bahwa segala sesuatu yang Ia lakukan adalah benar. Jika penghakiman-penghakimanNya merupakan suatu kedalaman yang sangat dalam, hendaklah kita tidak gagal untuk tunduk kepada penghakiman-penghakiman itu, untuk menghentikan ocehan dari orang-orang fanatik yang mau memberitahu / memerintah Allah apa yang harus dilakukan. Karena pada waktu seseorang memberitahu mereka bahwa tak ada apapun yang terjadi di bawah sini kecuali Allah menentukannya, dan bahwa Ia mengatur seluruhnya sesuai dengan perkenanNya yang baik, lalu apa yang akan mereka katakan? Mereka akan menjawab bahwa Allah melakukan dosa dan adalah Pencipta dosa. Memang, itu kelihatan demikian, tetapi Kitab Suci tidak menjelaskannya dengan cara seperti itu. ... Itu adalah apa yang orang-orang fanatik ini simpulkan dari anggapan mereka sendiri pada waktu mereka memutuskan bahwa Allah adalah Pencipta dosa jika Ia mengontrol segala sesuatu oleh ProvidensiaNya. Pada waktu Ayub mengakui bahwa adalah Allah yang mengambil miliknya, ia segera / langsung mengerti sepenuhnya bahwa pencuri-pencuri manusia adalah seperti tangan Allah, seperti tongkat yang sedang Ia bimbing dengan ProvidensiaNya (Ayub 1:21). Ia pasti tahu bahwa Iblis adalah alat dengan mana Allah sedang melaksanakan ketetapanNya, untuk membuktikan kesabarannya. Maka ia tidak gagal untuk mengatakan: ‘Allah telah melakukannya’. Dan bagaimana miliknya dicuri, rumahnya dihancurkan, dan semua miliknya diambil sebagai jarahan? Allah melakukannya oleh tangan dari pencuri-pencuri. Akankah hal ini membuat kita berkata bahwa Allah tercemar / dikotori? Tidak, karena Ia melakukan itu dengan rencanaNya, yang sangat berbeda dengan rencana manusia. Ini sebabnya Maz 39 berkata: ‘Aku telah membuat diriku sendiri diam, dan tidak membuka mulutku, karena Engkau telah melakukannya’ (ay 10). Pemazmur ingin merendahkan / menghinakan dirinya sendiri karena tak mampu menahan penderitaan-penderitaannya, dalam siksaan yang hebat dan penderitaan yang besar. Tetapi karena ia tahu bahwa adalah Allah yang sedang mengejarnya, ia menenangkan dirinya sendiri dan tetap diam, dengan mengakui bahwa ini adalah alasan yang cukup baginya untuk menundukkan dirinya sendiri pada semua yang Allah akan berikan kepadanya. Apa yang Daud tahan? Penganiayaan, kekerasan, dan kekejaman dari tangan dari musuh-musuhnya; ia menderita itu semua. Adalah benar bahwa ia meminta pembalasan untuk hal itu, tetapi ia tetap menganggapnya berasal dari Allah. Pada waktu ia berbicara seperti itu, itu tidak membuat Allah seorang penolong / partner dalam pembunuhan-pembunuhannya, tetapi untuk menunjukkan bahwa pada waktu kita dibuat menderita oleh manusia, Allah mengontrolnya, secara rahasia menentukan segala sesuatu yang mereka lakukan, sehingga Ia harus dianggap benar dalam semua tindakan-tindakanNya, dan manusia harus dikecam / dihukum. Itulah cara bagaimana Allah mengontrol dengan tangan Absalom pada waktu ia memperkosa istri-istri ayahnya. Allah merencanakannya, tetapi tanpa sepengetahuan Absalom bahwa Allah sedang melakukannya. Sebetulnya, apa yang akan terjadi seandainya orang-orang jahat - dan bahkan Iblis, yang adalah bapa mereka - bisa melakukan sesuatu oleh diri mereka sendiri tanpa ijin yang spesifik dari Allah? Bagaimana jadinya keadaan kita? ... tidakkah ia akan segera menelan kita sampai habis? Karena itu, seandainya Iblis tidak dikontrol, dan semua orang-orang jahat tidak diperintah oleh rencana dan kuasa yang rahasia dan tak bisa dimengerti dari Allah, dimana kita akan berada? Jadi, hendaklah kita menyadari bahwa kapanpun orang-orang jahat bisa menguasai kita dan mengganggu kita, sekalipun mereka melakukan itu secara tidak benar / tidak adil, Allah tetap mengendalikannya, ... sekalipun orang-orang jahat sedang mengejar nafsu-nafsu mereka yang kacau / tak terkendali, tetapi bagaimanapun Allah sedang membimbing mereka. ... Karena itu, hendaklah kita belajar untuk membedakan fakta bahwa betapapun manusia gagal untuk mengerti arti dari kejahatan-kejahatan mereka, dan betapapun kita harus selalu membenci kejahatan yang mereka lakukan terhadap Hukum (Taurat), Allah tidak gagal untuk melaksanakan keadilanNya sedemikian rupa sehingga kejahatan / bencana dibalikkan menjadi kebaikan. Artinya, sejauh berkenaan dengan Dia, Dia tahu bagaimana menggunakan kejahatan / bencana di luar pikiran-pikiran kita, sehingga Ia mengubahkannya menjadi kebaikan - yaitu, pada suatu tujuan baik - dengan suatu cara sehingga Ia bukan hanya selalu tetap adil / benar, tetapi kita akan mendapat kesempatan, pada seluruh waktu dari kehidupan kita, untuk memuliakan Dia dimanapun, dalam segala cara.] - ‘Sermons on 2Samuel’, hal 545-548 (khotbah ini berjudul ‘God is not the Author of sin’).

Maz 39:10 - Aku kelu, tidak kubuka mulutku, sebab Engkau sendirilah yang bertindak..

 

 

-bersambung-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : buas22@yahoo.com

e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com

http://golgothaministry.org