Golgotha School of Ministry

 

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

 

Rabu, tgl 7 Februari 2018, pk 19.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

Providence of God (10)

 

B) Terjadinya dosa.

 

1) Dalam hal ini Allah bekerja secara pasif.

Dalam terjadinya hal-hal yang baik, Allah bekerja secara aktif. Dengan kasih karuniaNya, Allah mengekang / menahan manusia sehingga tidak berbuat dosa, bahkan bisa berbuat baik.

Tetapi dalam terjadinya dosa, Allah bekerja secara pasif. Ia mengangkat kasih karuniaNya itu yang memang Ia tidak punya kewajiban untuk berikan kepada siapapun), dan dosapun terjadi. Perhatikan:

 

a) Istilah ‘Allah menyerahkan’ dalam Ro 1:24,26,28.

 

Ro 1:24-28 - “(24) Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka akan kecemaran, sehingga mereka saling mencemarkan tubuh mereka. (25) Sebab mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja dan menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-lamanya, amin. (26) Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar. (27) Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki, dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka. (28) Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas:”.

 

Calvin (tentang Ro 1:24): “It is indeed certain, that he not only permits men to fall into sin, by allowing them to do so, and by conniving at them; but that he also, by his equitable judgment, so arranges things, that they are led and carried into such madness by their own lusts, as well as by the devil. He therefore adopts the word, ‘give up,’ according to the constant usage of Scripture; which word they forcibly wrest, who think that we are led into sin only by the permission of God: for as Satan is the minister of God’s wrath, and as it were the executioner, so he is armed against us, not through the connivance, but by the command of his judge. ... we must make this exception, that the cause of sin is not from God, the roots of which ever abide in the sinner himself;” [= Memang pasti, bahwa Ia bukan hanya mengijinkan manusia jatuh ke dalam dosa, dengan mengijinkan mereka melakukan demikian, dan dengan mengijinkan secara diam-diam / pura-pura tidak tahu akan mereka; tetapi bahwa Ia juga, oleh penghakimanNya yang adil, mengatur hal-hal sedemikian rupa, sehingga mereka dibimbing dan dibawa ke dalam kegilaan seperti itu oleh nafsu mereka sendiri, maupun oleh setan. Karena itu ia menggunakan kata ‘menyerahkan’, menurut penggunaan yang tetap dalam Kitab Suci; kata mana mereka puntir dengan paksa, yang mengira bahwa kita dibimbing ke dalam dosa hanya oleh ijin Allah: karena Iblis adalah pelayan dari murka Allah, dan juga algojonya, sehingga ia dipersenjatai menentang kita, bukan melalui ijin / pura-pura tidak tahu, tetapi oleh perintah dari Hakimnya. ... kita harus membuat perkecualian ini, bahwa penyebab dosa bukan dari Allah, akar-akar mana selalu ada / tinggal dalam diri orang berdosa itu sendiri;].

Catatan: saya tak setuju dengan kata-kata yang warna hijau; karena Allah memang adalah penyebab pertama dari segala sesuatu. Saya tak tahu dalam arti apa Calvin mengatakan kata-kata itu.

 

Bdk. Maz 81:12-13 - “(12) Tetapi umatKu tidak mendengarkan suaraKu, dan Israel tidak suka kepadaKu. (13) Sebab itu Aku membiarkan dia dalam kedegilan hatinya; biarlah mereka berjalan mengikuti rencananya sendiri!”.

 

Ini menunjukkan bahwa Allah mencabut kasih karuniaNya yang tadinya menahan manusia untuk berbuat dosa, sehingga dosapun terjadi.

 

b) Kis 14:16 - “Dalam zaman yang lampau Allah membiarkan semua bangsa menuruti jalannya masing-masing,”.

 

c) Yes 64:7 - Tidak ada yang memanggil namaMu atau yang bangkit untuk berpegang kepadaMu; sebab Engkau menyembunyikan wajahMu terhadap kami, dan menyerahkan kami ke dalam kekuasaan dosa kami.”.

 

Jadi, penyembunyian wajah Allah itu boleh dikatakan diidentikkan atau menyebabkan kita dikuasai oleh dosa. Tetapi ayat ini diterjemahkan dalam 2 versi. RSV/NASB menterjemahkan seperti Kitab Suci Indonesia, tetapi KJV/NIV berbeda.

RSV: ‘for thou hast hid thy face from us, and hast delivered us into the hand of our iniquities’ [= sebab Engkau telah menyembunyikan wajahMu dari kami, dan telah menyerahkan kami ke dalam tangan dari kejahatan-kejahatan kami].

NASB: For Thou hast hidden Thy face from us, And hast delivered us into the power of our iniquities [= Sebab Engkau telah menyembunyikan wajahMu dari kami, Dan telah menyerahkan kami ke dalam kuasa dari kejahatan-kejahatan kami].

KJV: ‘for thou hast hid thy face from us, and hast consumed us, because of our iniquities’ [= karena Engkau telah menyembunyikan wajahMu dari kami, dan telah menghabiskan kami, karena kejahatan-kejahatan kami].

NIV: for you have hidden your face from us and made us waste away because of our sins [= karena Engkau telah menyembunyikan wajahMu dari kami dan membuat kami merana karena dosa-dosa kami].

 

Catatan: Kitab Suci sering menyatakan seolah-olah Allah bekerja secara aktif dalam terjadinya dosa. Untuk ini lihat komentar Calvin di bawah ini, dan juga no 2a di bawah.

 

Calvin: “For after his light is removed, nothing but darkness and blindness remains. When his Spirit is taken away, our hearts harden into stones. When his guidance ceases, they are wrenched into crookedness. Thus it is properly said that he blinds, hardens, and bends those whom he has deprived of the power of seeing, obeying, and rightly following.” [= Karena setelah terangNya disingkirkan, tidak ada apapun kecuali kegelapan dan kebutaan yang tertinggal. Pada waktu RohNya diambil, hati kita mengeras menjadi batu. Pada waktu bimbinganNya berhenti, mereka dipelintir sehingga menjadi bengkok. Jadi bisa dikatakan secara benar bahwa Ia membutakan, mengeraskan hati, dan membengkokkan mereka dari siapa Ia mencabut / menghilangkan kuasa untuk melihat, mentaati dan mengikut dengan benar.] - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book II, Chapter IV, No 3.

 

2) Allah sebagai ‘first cause’ [= penyebab pertama] menggunakan ‘second causes’ [= penyebab-penyebab kedua] sehingga dosa terjadi sesuai dengan rencanaNya.

 

a)     Allah sebagai first cause [= penyebab pertama].

Allah merupakan ‘first cause’ dari segala sesuatu (termasuk dosa) karena Ialah yang menetapkan / merencanakan segala sesuatu dan mengatur pelaksanaan seluruh rencanaNya itu. Karena Allah adalah ‘first cause’ dari segala sesuatu inilah maka Allah sering digambarkan seakan-akan Ia adalah pelaku langsung / aktif dari sesuatu yang dalam faktanya tidak Ia lakukan secara langsung / aktif. Misalnya:

 

1. Allah ‘menyuruh’ Yusuf ke Mesir (Kej 45:5,7,8  bdk. Maz 105:17).

 

Kej 45:5,7-8 - “(5) Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu. ... (7) Maka Allah telah menyuruh aku mendahului kamu untuk menjamin kelanjutan keturunanmu di bumi ini dan untuk memelihara hidupmu, sehingga sebagian besar dari padamu tertolong. (8) Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah; Dialah yang telah menempatkan aku sebagai bapa bagi Firaun dan tuan atas seluruh istananya dan sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir.”.

 

Bdk. Maz 105:17 - diutusNyalah seorang mendahului mereka: Yusuf, yang dijual menjadi budak.”.

 

2. Allah mengeraskan hati Firaun (Kel 4:21b  7:3  9:12  10:1,20,27  11:10).

 

Kel 4:21 - Firman TUHAN kepada Musa: ‘Pada waktu engkau hendak kembali ini ke Mesir, ingatlah, supaya segala mujizat yang telah Kuserahkan ke dalam tanganmu, kauperbuat di depan Firaun. Tetapi Aku akan mengeraskan hatinya, sehingga ia tidak membiarkan bangsa itu pergi..

 

3. Ayub mengatakan bahwa Tuhanlah yang mengambil harta dan anak-anaknya (Ayub 1:21).

 

Ayub 1:21 - “katanya: ‘Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!’”.

 

4. Daud mengatakan bahwa Tuhanlah yang menyuruh Simei mengutukinya (2Sam 16:10-11).

 

2Sam 16:10-11 - “(10) Tetapi kata raja: ‘Apakah urusanku dengan kamu, hai anak-anak Zeruya? Biarlah ia mengutuk! Sebab apabila TUHAN berfirman kepadanya: Kutukilah Daud, siapakah yang akan bertanya: mengapa engkau berbuat demikian?’ (11) Pula kata Daud kepada Abisai dan kepada semua pegawainya: ‘Sedangkan anak kandungku ingin mencabut nyawaku, terlebih lagi sekarang orang Benyamin ini! Biarkanlah dia dan biarlah ia mengutuk, sebab TUHAN yang telah berfirman kepadanya demikian..

 

5. Tuhan menghasut Daud untuk mengadakan sensus (2Sam 24:1).

 

2Sam 24:1 - Bangkitlah pula murka TUHAN terhadap orang Israel; Ia menghasut Daud melawan mereka, firmanNya: ‘Pergilah, hitunglah orang Israel dan orang Yehuda.’.

 

Bdk. 1Taw 21:1 - Iblis bangkit melawan orang Israel dan ia membujuk Daud untuk menghitung orang Israel..

 

Dua ayat ini tidak akan bisa diharmoniskan, kecuali kita menerima doktrin yang sedang kita pelajari ini.

 

Ini bukan merupakan sesuatu yang aneh, karena kalau saya membangun sebuah rumah, sekalipun saya membangun rumah itu menggunakan orang lain (pemborong, kuli dsb) dan tidak membangunnya sendiri, saya tetap bisa berkata bahwa sayalah yang membangun rumah.

 

b) Allah menggunakan ‘second causes’ [= penyebab-penyebab kedua].

 

Dalam terjadinya dosa, Allah tidak bertindak langsung / aktif, tetapi menggunakan ‘second causes’ [= penyebab-penyebab kedua]. Yang bisa dijadikan sebagai ‘second causes’, adalah:

 

1. Setan.

 

Tentang Firaun yang dikeraskan hatinya oleh Allah, Calvin berkata: “Did he harden it by not softening it? This is indeed true, but he did something more. He turned Pharaoh over to Satan to be confirmed in the obstinacy of his breast.” [= Apakah Ia mengeraskannya dengan tidak melunakkannya? Ini memang benar, tetapi Ia melakukan sesuatu yang lebih dari itu. Ia menyerahkan Firaun kepada Setan untuk diteguhkan dalam kekerasan hatinya.] - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book II, Chapter IV, No 4.

 

Contoh:

 

a. Ayub 1:15,17 - “(15) datanglah orang-orang Syeba menyerang dan merampasnya serta memukul penjaganya dengan mata pedang. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan.’ ... (17) Sementara orang itu berbicara, datanglah orang lain dan berkata: ‘Orang-orang Kasdim membentuk tiga pasukan, lalu menyerbu unta-unta dan merampasnya serta memukul penjaganya dengan mata pedang. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan.’.

 

Di sini Allah menggunakan setan untuk menggoda orang-orang Syeba dan Kasdim sehingga mereka berbuat dosa dengan merampok harta Ayub.

 

b. 1Sam 16:14  18:10  19:9 - ‘roh jahat dari pada Tuhan’. Ini pasti menunjuk kepada setan.

 

1Sam 16:14 - Tetapi Roh TUHAN telah mundur dari pada Saul, dan sekarang ia diganggu oleh roh jahat yang dari pada TUHAN..

 

1Sam 18:10 - Keesokan harinya roh jahat yang dari pada Allah itu berkuasa atas Saul, sehingga ia kerasukan di tengah-tengah rumah, sedang Daud main kecapi seperti sehari-hari. Adapun Saul ada tombak di tangannya..

Catatan: untuk kata ‘kerasukan’, KJV/NIV menterjemahkan ‘bernubuat’, tetapi RSV/NASB menterjemahkan ‘mengoceh’.

 

1Sam 19:9 - Tetapi roh jahat yang dari pada TUHAN hinggap pada Saul, ketika ia duduk di rumahnya, dengan tombaknya di tangannya; dan Daud sedang main kecapi..

 

Calvin: “One passage will however be enough to show that Satan intervenes to stir up the reprobate whenever the Lord by his providence destines them to one end or another. For in Samuel it is often said that ‘an evil spirit of the Lord’ and ‘an evil spirit from the Lord’ has either ‘seized’ or ‘departed from’ Saul (1Sam. 16:14; 18:10; 19:9). It is unlawful to refer this to the Holy Spirit. Therefore, the impure spirit is called ‘spirit of God’ because it responds to his will and power, and acts rather as God’s instrument than by itself as the author.” [= Satu text akan cukup untuk menunjukkan bahwa Setan campur tangan untuk menghasut orang yang ditentukan untuk binasa kapanpun Tuhan, oleh providensiaNya, menentukan mereka ke suatu titik tertentu. Karena dalam kitab Samuel sering dikatakan bahwa ‘roh jahat dari pada Tuhan’ dan ‘roh jahat dari Tuhan’ telah ‘mencekam / menguasai’ atau ‘meninggalkan’ Saul (1Sam 16:14; 18:10; 19:9). Ini tidak boleh diartikan untuk menunjuk kepada Roh Kudus. Karena itu, roh yang kotor / najis itu disebut ‘roh dari Allah’ karena roh itu menanggapi kehendak dan kuasaNya, dan bertindak lebih sebagai alat Allah dari pada dari dirinya sendiri sebagai pencipta.] - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book II, Chapter IV, No 5.

Catatan: dalam kata-kata ‘meninggalkan Saul’, saya yakin Calvin bukan memaksudkan 1Sam 16:14a, karena itu memang menunjuk kepada Roh Kudus. Ia pasti memaksudkan 1Sam 16:23.

1Sam 16:23 - Dan setiap kali apabila roh yang dari pada Allah itu hinggap pada Saul, maka Daud mengambil kecapi dan memainkannya; Saul merasa lega dan nyaman, dan roh yang jahat itu undur dari padanya..

 

c. 1Raja 22:19-23 - Di sini Allah menggunakan setan / roh jahat untuk menggoda nabi-nabi palsu sehingga nabi-nabi palsu itu mengeluarkan suatu dusta.

 

1Raja 22:19-23 - “(19) Kata Mikha: ‘Sebab itu dengarkanlah firman TUHAN. Aku telah melihat TUHAN sedang duduk di atas takhtaNya dan segenap tentara sorga berdiri di dekatNya, di sebelah kananNya dan di sebelah kiriNya. (20) Dan TUHAN berfirman: Siapakah yang akan membujuk Ahab untuk maju berperang, supaya ia tewas di Ramot-Gilead? Maka yang seorang berkata begini, yang lain berkata begitu. (21) Kemudian tampillah suatu roh, lalu berdiri di hadapan TUHAN. Ia berkata: Aku ini akan membujuknya. TUHAN bertanya kepadanya: Dengan apa? (22) Jawabnya: Aku akan keluar dan menjadi roh dusta dalam mulut semua nabinya. Ia berfirman: Biarlah engkau membujuknya, dan engkau akan berhasil pula. Keluarlah dan perbuatlah demikian! (23) Karena itu, sesungguhnya TUHAN telah menaruh roh dusta ke dalam mulut semua nabimu ini, sebab TUHAN telah menetapkan untuk menimpakan malapetaka kepadamu.’.

 

Calvin: “God wills that the false king Ahab be deceived; the devil offers his services to this end; he is sent, with a definite command, to be a lying spirit in the mouth of all the prophets (1Kings 22:20,22). If the blinding and insanity of Ahab be God’s judgment, the figment of bare permission vanishes: because it would be ridiculous for the Judge only to permit what he wills to be done, and not also to decree it and to command its execution by his ministers.” [= Allah menghendaki bahwa raja Ahab yang tidak benar ditipu; setan menawarkan pelayanannya untuk tujuan ini; ia dikirim, dengan perintah yang pasti, untuk menjadi roh dusta dalam mulut semua nabi-nabi itu (1Raja 22:20,22). Jika pembutaan dan kegilaan Ahab adalah penghakiman Allah, isapan jempol tentang ‘sekedar ijin’ hilang: karena adalah menggelikan bagi sang Hakim untuk hanya mengijinkan apa yang Ia kehendaki untuk dilakukan, dan tidak juga menetapkannya dan memerintahkan pelaksanaannya oleh pelayan-pelayanNya.] - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter XVIII, no 1.

 

d. 2Sam 24:1 - “Bangkitlah pula murka TUHAN terhadap orang Israel; Ia menghasut Daud melawan mereka, firmanNya: ‘Pergilah, hitunglah orang Israel dan orang Yehuda.’”.

1Taw 21:1 - “Iblis bangkit melawan orang Israel dan ia membujuk Daud untuk menghitung orang Israel.”.

 

Kedua ayat di atas ini paralel, dan sama-sama berbicara tentang dosa Daud yang dalam kesombongannya melakukan sensus, tetapi 2Sam 24:1 mengatakan bahwa Tuhan yang menghasut Daud untuk melakukan hal itu, sedangkan 1Taw 21:1 mengatakan bahwa Iblislah yang membujuk Daud melakukan hal itu. Apakah kedua ayat ini bertentangan? Bagi orang yang menolak doktrin Reformed ini maka kedua ayat ini pasti bertentangan dan tidak bisa diharmoniskan. Tetapi bagi orang Reformed yang sejati, kedua ayat ini tidak menimbulkan problem. 2Sam 24:1 mengatakan bahwa Allahlah yang menghasut Daud, untuk menunjukkan bahwa Allah adalah ‘first cause’ [= penyebab pertama] dari peristiwa itu; sedangkan 1Taw 21:1 mengatakan bahwa Iblislah yang membujuk Daud, karena Allah memakainya sebagai ‘second cause’ [= penyebab kedua] untuk menjatuhkan Daud ke dalam dosa sesuai dengan rencanaNya.

 

2. Manusia.

Contoh:

 

a. 1Raja 22:19-23 - di sini Tuhan menggunakan nabi-nabi palsu untuk mendustai Ahab sehingga ia melakukan sesuatu yang salah yaitu berperang, dan akhirnya mati dalam peperangan itu.

 

b. Mat 24:4-5 - Tuhan menggunakan penyesat / nabi palsu untuk menyesatkan banyak orang.

 

Mat 24:4-5 - “(4) Jawab Yesus kepada mereka: ‘Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu! (5) Sebab banyak orang akan datang dengan memakai namaKu dan berkata: Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang..

 

Sikap yang benar terhadap terhadap second cause.

 

John Calvin: Meanwhile, nevertheless, a godly man will not overlook the secondary causes. And indeed, he will not, just because he thinks those from whom he has received benefit are ministers of the divine goodness, pass them over, as if they had deserved no thanks for their human kindness; but from the bottom of his heart will feel himself beholden to them, willingly confess his obligation, and earnestly try as best he can to render thanks and as occasion presents itself. In short, for benefits received he will reverence and praise the Lord as their principal author, but will honor men as his ministers; and will know what is in fact true: it is by God’s will that he is beholden to those through whose hand God willed to be beneficent. If this godly man suffers any loss because of negligence or imprudence, he will conclude that it came about by the Lord’s will, but also impute it to himself. Suppose a disease should carry off anyone whom he treated negligently, although it was his duty to take care of him. Even though he knows that this person had come to an impassable boundary, he will not on this account deem his misdeed less serious; rather, because he did not faithfully discharge his duty toward him, he will take it that through the fault of his negligence the latter had perished. Where fraud or premeditated malice enters into the committing of either murder or theft, he will even less excuse such a crime on the pretext of divine providence; but in this same evil deed he will clearly contemplate God’s righteousness and man’s wickedness, as each clearly shows itself. - ‘Institutes of The Christian Religion’, Book I, Chapter 17, No 9.

 

Catatan: saya tidak menterjemahkan bagian ini tetapi menceritakannya dengan kata-kata saya sendiri di bawah ini.

 

Baik dalam hal yang baik maupun buruk / jahat, Allah menggunakan second causes / penyebab-penyebab kedua.

Pada waktu ada penyebab kedua yang membawa kebaikan bagi kita, misalnya menolong kita dari problem yang kita alami, kita tak boleh mengabaikan second cause itu dengan berpikir bahwa toh first cause-nya adalah Tuhan sendiri. Kita memang harus berterima kasih kepada Tuhan sebagai First Cause, tetapi kita tetap juga harus berterima kasih kepada orang yang Tuhan gunakan sebagai second cause itu.

Sebaliknya pada waktu Tuhan menggunakan second cause untuk melakukan hal-hal yang buruk / jahat terhadap kita, itu tak berarti orang yang menjadi second cause itu tidak bersalah. Dan kalau Tuhan menyebabkan bencana karena kelalaian kita sendiri, maka kita sendiri tetap juga bersalah.

 

Kedua point di atas (Allah bekerja secara pasif & adanya penggunaan ‘second causes’) menyebabkan Allah bukanlah pencipta dosa (God is not the author of sin).

 

Dalam tafsirannya tentang Kej 50:20 Calvin mengatakan sebagai berikut: “This truly must be generally agreed, that nothing is done without his will; because he both governs the counsels of men, and sways their wills and turns their efforts at his pleasure, and regulates all events: but if men undertake anything right and just, he so actuates and moves them inwardly by his Spirit, that whatever is good in them, may justly be said to be received from him: but if Satan and ungodly men rage, he acts by their hands in such an inexpressible manner, that the wickedness of the deed belong to them, and the blame of it is imputed to them. For they are not induced to sin, as the faithful are to act aright, by the impulse of the Spirit, but they are the authors of their own evil, and follow Satan as their leader.” [= Ini harus disetujui secara umum, bahwa tidak ada apapun dilakukan tanpa kehendakNya; karena Ia memerintah rencana manusia, dan mengubah kehendak mereka dan membelokkan usaha mereka sesuai dengan kesenanganNya, dan mengatur semua peristiwa / kejadian: tetapi jika manusia melakukan apapun yang baik dan benar, Ia menjalankan dan menggerakkan mereka dari dalam oleh RohNya, sehingga apapun yang baik dalam mereka, bisa dengan benar dikatakan diterima dari Dia: tetapi jika Setan dan orang-orang jahat marah, Ia bertindak oleh tangan mereka dalam suatu cara yang tak terkatakan, sehingga kejahatan dari tindakan itu hanya menjadi milik mereka, dan kesalahan dari tindakan itu diperhitungkan kepada mereka. Karena mereka tidak dibujuk kepada dosa, seperti orang yang setia pada waktu melakukan hal yang benar, oleh dorongan Roh, tetapi mereka adalah pencipta dari kejahatan mereka sendiri, dan mengikuti Setan sebagai pemimpin / pembimbing mereka.] - hal 488.

 

 

-bersambung-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : buas22@yahoo.com

e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com

http://golgothaministry.org