Kebaktian pembukaan S.T.R.I.S.

12 Februari 1999

Krisis dalam Providence of God

ROMA 8:28

(oleh: Pdt. Budi Asali, M. Div.)

 

I) Allah turut bekerja dalam segala sesuatu.

 

Indonesia mengalami krisis. Kalau kita mau mencari penyebab yang pasti dari krisis ini secara jasmani, maka mungkin kita tidak akan pernah tahu dengan pasti. Tetapi kalau kita melihatnya secara rohani, maka kita bisa tahu penyebabnya pasti adalah Allah sendiri. Adakah dasar kitab Suci untuk mengatakan hal ini? Tentu saja, misalnya:

 

1)   Kalau kita melihat hidup Ayub, maka kita melihat bahwa ia juga mengalami krisis. Apa penyebabnya?

·         Ayub 1:21 - “katanya: ‘Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!’”.

·         Ayub 42:11b - “Mereka menyatakan turut berdukacita dan menghibur dia oleh karena segala malapetaka yang telah ditimpakan TUHAN kepadanya ...”.

 

2)   Kalau kita melihat hidup Yesus, maka juga bisa dikatakan bahwa Ia mengalami krisis. Dan apa yang Ia katakan tentang krisis itu?

·         Yoh 18:11 - ‘bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepadaKu?’.

·         Yoh 19:10-11b - “Maka kata Pilatus kepadaNya: ‘Tidakkah Engkau tahu, bahwa aku berkuasa untuk membebaskan Engkau, dan berkuasa juga untuk menyalibkan Engkau?’ Yesus menjawab: ‘Engkau tidak mempunyai kuasa apapun terhadap Aku, jikalau kuasa itu tidak diberikan kepadamu dari atas’”.

 

3)   Ro 8:28 menunjukkan bahwa segala sesuatu diatur oleh Tuhan. Kalau ada sedikit saja yang tidak, maka Ro 8:28 ini tidak berlaku.

 

Calvin: “But we must remember that Paul speaks here only of adversities, as though he had said, ‘All things which happen to the saints are so overruled by God, that what the world regards as evil, the issue shows to be good.’ For though what Augustine says is true, that even the sins of the saints are, through the guiding providence of God, so far from doing harm to them, that, on the contrary, they serve to advance their salvation; yet this belongs not to this passage, the subject of which is the cross” (= Tetapi kita harus ingat bahwa di sini Paulus berbicara hanya tentang kesengsaraan / kemalangan, seakan-akan ia telah berkata: ‘Segala sesuatu yang terjadi pada orang-orang kudus begitu dikuasai dipengaruhi oleh Allah, sehingga apa yang dianggap bencana oleh dunia, hasilnya menunjukkan bahwa itu adalah baik’. Karena sekalipun apa yang dikatakan Agustinus adalah benar, bahwa bahkan dosa-dosa dari orang-orang kudus, melalui pimpinan dari providensia Allah, adalah begitu jauh dari merugikan mereka, tetapi sebaliknya melayani untuk memajukan keselamatan; tetapi ini tidak termasuk dalam text ini, karena subyek dari text ini adalah salib / penderitaan) - hal 315.

 

Charles Hodge: “‘All things,’ as usually the case with such general expressions, is to be limited to the things spoken of in the context, i.e., the suffering of the present time. ... Of course it is not intended that other events, besides afflictions, do not work together for the good of Christians, but merely that the apostle is here speaking of the sufferings of believers” (= Segala sesuatu, seperti biasanya dalam kasus ungkapan umum seperti itu, harus dibatasi pada hal-hal yang dibicarakan dalam kontex, yaitu, penderitaan masa ini. ... Tentu saja bukan dimaksudkan bahwa peristiwa / kejadian yang lain, selain penderitaan, tidak bekerja bersama-sama untuk kebaikan orang-orang Kristen, tetapi hanya bahwa di sini sang rasul berbicara tentang penderitaan orang percaya) - hal 280.

 

John Murray (NICNT): “‘All things’ may not be restricted, though undoubtedly the things contemplated are particularly those that fall within the compass of believers’ experience, especially suffering and adversity” (= ‘Segala sesuatu’ tidak boleh dibatasi, sekalipun tidak diragukan bahwa hal-hal yang direnungkan terutama adalah hal-hal yang ada dalam batasan pengalaman orang percaya, khususnya penderitaan dan kesengsaraan / kemalangan) - hal 314.

 

William Hendriksen: “‘All things,’ - no less! - cooperate for good. Not only prosperity is included but also is adversity; not only joy and happiness but also suffering and sadness (Rom. 8:18,35-37). Evil designs are by God overruled for good (Gen. 50:20; Neh. 4:15). Not only what the saints themselves experience is included but also whatever lies outside the sphere of their personal experience. Specifically, the following entities are among those that are divinely ordered and directed so that they work together for good to those who love God: the good angels (Heb. 1:14) and Satan together with his hosts (Rom. 16:20; Eph. 6:10-16); the nations of the world and their rulers (Ps. 2:2-9; 48:4-8; 149:9; Acts 9:15); rain and thunder (1Sam. 12:18-20); streams, mountains, and clouds (Ps. 46:4; 72:3; Matt. 24:30; Rev. 1:7); and even the stars in their courses (Judg. 5:20)” [= ‘Segala sesuatu’, - tidak kurang dari itu! - bekerja sama untuk kebaikan. Bukan hanya kemakmuran yang termasuk tetapi juga kesengsaraan / kemalangan; bukan hanya sukacita dan kebahagiaan tetapi juga penderitaan dan kesedihan (Ro 8:18,35-37). Rencana jahat dikuasai / dipengaruhi oleh Allah untuk kebaikan (Kej 50:20; Neh 4:15). Bukan hanya apa yang dialami oleh orang-orang kudus sendiri yang tercakup, tetapi juga apapun yang terletak di luar lingkungan pengalaman pribadi mereka. Khususnya, hal-hal berikut ini adalah hal-hal yang diatur / ditentukan dan diarahkan secara ilahi, sehingga mereka bekerja bersama-sama untuk kebaikan dari mereka yang mengasihi Allah: malaikat yang baik (Ibr 1:14) dan Setan bersama-sama dengan kelompoknya (Ro 16:20; Ef 6:10-16); bangsa-bangsa dunia dan pemerintahnya (Maz 2:2-9; 48:5-9; 149:9; Kis 9:15); hujan dan guntur (1Sam 12:18-20); sungai, gunung, dan awan (Maz 46:5; 72:3; Mat 24:30; Wah 1:7); dan bahkan bintang-bintang dalam peredarannya (Hak 5:20)] - hal 280.

 

Matthew Poole: “All things, even sin itself; because from their falls, God’s children arise more humble and careful. Afflictions are chiefly intended; the worst and crossest providences, those things that are evil in themselves, they work for good to the children of God” (= Segala sesuatu, bahkan dosa sendiri; karena dari kejatuhan mereka, anak-anak Allah bangun dengan lebih rendah hati dan berhati-hati. Penderitaan adalah yang terutama dimaksudkan; providensia yang paling buruk dan menjengkelkan, hal-hal yang dalam dirinya sendiri adalah buruk / merupakan bencana, mereka bekerja untuk kebaikan bagi anak-anak Allah) - hal 506.

 

Sekarang saya mengajak saudara untuk melihat detail-detail / hal-hal kecil dari krisis yang dialami Indonesia ini, dan saya ingin menunjukkan bahwa setiap hal yang berhubungan dengan krisis ini, ditetapkan dan diatur oleh Tuhan.

 

a)      Kekeringan (El Nino) dan hujan / banjir (La Nina).

·         Amos 4:7 - Akupun telah menahan hujan dari padamu, ketika tiga bulan lagi sebelum panen; Aku menurunkan hujan ke atas kota yang satu dan tidak menurunkan hujan ke atas kota yang lain; ladang yang satu kehujanan, dan ladang, yang tidak kena hujan, menjadi kering”.

Ayat ini menunjukkan bahwa kekeringan / tidak ada hujan maupun hujan / banjir merupakan pekerjaan Tuhan.

·         Maz 135:6-7 - “TUHAN melakukan apa yang dikehendakiNya, di langit dan di bumi, di laut dan di segenap samudera raya; Ia menaikkan kabut dari ujung bumi, Ia membuat kilat mengikuti hujan, Ia mengeluarkan angin dari dalam perbendaharaanNya”.

Ayat ini menunjukkan bahwa semua yang terjadi di bumi, di laut / samudera raya, baik kabut, kilat, angin, hujan, dsb merupakan pekerjaan Allah.

·         dalam jaman Elia Tuhan yang memberikan kekeringan selama 3 1/2 tahun (1Raja 17:1), dan Tuhan yang lalu memberi hujan (1Raja 18:1). Bdk. Yak 5:17-18.

·         Im 26:3-4  Ul 11:13-14  Ul 28:12 - Tuhan yang memberi hujan. Tetapi Tuhan juga menutup langit / tak memberi hujan (Im 26:19-20).

·         Yunus 1:4 - “Tetapi TUHAN menurunkan angin ribut ke laut, lalu terjadilah badai besar, sehingga kapal itu hampir-hampir terpukul hancur”.

Mengomentari ayat ini, Calvin berkata:

“He then says that a tempest arose in the sea; but he at the same time tells us, that this tempest did not arise by chance, as ungodly men are wont to say, who ascribe everything that happens to fortune. God, he says, sent a strong wind on the sea. ... Though indeed the Prophet speaks here only of one tempest, we may yet hence generally gather that no storms, nor any changes in the air, which produce rain or stir up tempests on the sea, happen by chance, but that heaven and earth are so regulated by a Divine power, that nothing takes place without being foreseen and decreed” (= Ia lalu mengatakan bahwa badai muncul di laut; tetapi pada saat yang sama ia menceritakan kepada kita bahwa badai ini tidak muncul secara kebetulan, seperti yang biasa dikatakan oleh orang-orang yang tak beriman, yang menganggap bahwa segala sesuatu yang terjadi sebagai kebetulan. Allah, ia berkata, mengirimkan angin yang kuat ke laut. ... Sekalipun memang sang nabi di sini hanya berbicara tentang satu badai, tetapi kita boleh menyimpulkan secara umum bahwa tidak ada badai, ataupun perubahan apapun di udara, yang menghasilkan hujan atau menimbulkan badai di laut, terjadi secara kebetulan, tetapi bahwa langit / surga dan bumi begitu diatur oleh kuasa Ilahi, sehingga tidak ada suatu apapun yang terjadi tanpa dilihat lebih dulu dan ditentukan) - hal 32,33.

 

Calvin: “... it is certain that not one drop of rain falls without God’s sure command” (= ... adalah pasti bahwa tidak satu titik hujanpun yang jatuh tanpa perintah yang pasti dari Allah) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter XVI, no 5.

 

b)   Dalam krismon ini banyak orang menjadi bangkrut / melarat, tetapi juga ada orang-orang tertentu yang bahkan bertambah kaya.

Kitab Suci mengatakan bahwa Tuhanlah yang membuat orang naik atau turun, jadi kaya atau jadi miskin!

·         1Sam 2:6-7 - “TUHAN membuat miskin dan membuat kaya; Ia merendahkan, dan meninggikan juga”.

·         Yes 45:6b-7 - “Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain, yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang; Akulah TUHAN yang membuat semuanya ini”.

·         Pengkhotbah 7:14 - “Pada hari mujur bergembiralah, tetapi pada hari malang ingatlah, bahwa hari malang inipun dijadikan Allah seperti juga hari mujur, supaya manusia tidak dapat menemukan sesuatu mengenai masa depannya”.

·         Ratapan 3:37-38 - “Siapa berfirman, maka semuanya jadi? Bukankah Tuhan yang memerintahkannya? Bukankah dari mulut Yang Mahatinggi keluar apa yang buruk dan apa yang baik?”.

·         Amsal 22:2 (NIV) - ”Rich and poor have this in common: The LORD is the Maker of them all” (= orang kaya dan miskin mempunyai persamaan dalam hal ini: Tuhan adalah pembuat mereka semua).

 

c)      Pergantian Presiden / pemerintahan.

·         Maz 75:7-8 - “Sebab bukan dari timur atau dari barat dan bukan dari padang gurun datangnya peninggian itu, tetapi Allah adalah Hakim: direndahkanNya yang satu dan ditinggikanNya yang lain”.

·         Ro 13:1 - “Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah”.

 

d)      Pergolakan politik.

·         Hak 9:22-23 - “Setelah tiga tahun lamanya Abimelekh memerintah atas orang Israel, maka Allah membangkitkan semangat jahat di antara Abimelekh dan warga kota Sikhem, sehingga warga kota Sikhem itu menjadi tidak setia kepada Abimelekh”.

·         1Raja 11:14 - “Kemudian TUHAN membangkitkan seorang lawan Salomo, yakni Hadad, orang Edom; ia dari keturunan raja Edom”.

·         1Raja 11:23 - Allah membangkitkan pula seorang lawan Salomo, yakni Rezon bin Elyada, yang telah melarikan diri dari tuannya, yakni Hadadezer, raja Zoba”.

·         1Raja 12:15 - “Jadi raja tidak mendengarkan permintaan rakyat, sebab hal itu merupakan perubahan yang disebabkan TUHAN, supaya TUHAN menepati firman yang diucapkanNya dengan perantaraan Ahia, orang Silo, kepada Yerobeam bin Nebat”.

·         1Raja 12:24 - “Beginilah firman TUHAN: Janganlah kamu maju dan janganlah kamu berperang melawan saudara-saudaramu, orang Israel. Pulanglah masing-masing ke rumahnya, sebab Akulah yang menyebabkan hal ini terjadi.’ Maka mereka mendengarkan firman TUHAN dan pergilah mereka pulang sesuai dengan firman TUHAN itu”.

 

e)   Dalam krismon ini banyak orang yang bukannya bertobat, tetapi bahkan bertekun dan terjun makin dalam ke dalam dosa, misalnya dengan menjadi maling / perampok. Kitab Suci mengatakan bahwa orang bertekun dalam dosa karena pekerjaan Tuhan.

·         1Sam 2:25b - “Tetapi tidaklah didengarkan mereka perkataan ayahnya itu, sebab TUHAN hendak mematikan mereka”.

Ayat ini menunjukkan bahwa karena Tuhan merencanakan / menetapkan kematian mereka, maka Tuhan bekerja sehingga mereka tidak mendengar nasehat ayah mereka.

·         Ul 2:30 - “Tetapi Sihon, raja Hesybon, tidak mau memberi kita berjalan melalui daerahnya, sebab TUHAN, Allahmu, membuat dia keras kepala dan tegar hati, dengan maksud menyerahkan dia ke dalam tanganmu, seperti yang terjadi sekarang ini”.

·         Yos 11:20 - “Karena TUHAN yang menyebabkan hati orang-orang itu menjadi keras, sehingga mereka berperang melawan orang Israel, supaya mereka ditumpas, dan jangan dikasihani, tetapi dipunahkan, seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa”.

·         2Taw 25:16b,20 - “Waktu nabi sedang berbicara, berkatalah Amazia kepadanya: ‘Apakah kami telah mengangkat engkau menjadi penasihat raja? Diamlah! Apakah engkau mau dibunuh?’ Lalu diamlah nabi itu setelah berkata: ‘Sekarang aku tahu, bahwa Allah telah menentukan akan membinasakan engkau, karena engkau telah berbuat hal ini, dan tidak mendengarkan nasihatku!’ ... Tetapi Amazia tidak mau mendengarkan; sebab hal itu telah ditetapkan Allah yang hendak menyerahkan mereka ke dalam tangan Yoas, karena mereka telah mencari allah orang Edom”.

·         Kel 4:21b  7:3  9:12,16  10:1-2,20,27  11:10  14:4,8,17-18 berulang-ulang mengatakan bahwa Allah mengeraskan hati Firaun.

·         Ro 9:14-18 - “Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah Allah tidak adil? Mustahil! Sebab Ia berfirman kepada Musa: ‘Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati.’ Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah. Sebab Kitab Suci berkata kepada Firaun: ‘Itulah sebabnya Aku membangkitkan engkau, yaitu supaya Aku memperlihatkan kuasaKu di dalam engkau, dan supaya namaKu dimasyhurkan di seluruh bumi.’ Jadi Ia menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendakiNya dan Ia menegarkan hati siapa yang dikehendakiNya”.

 

f)      Kerusuhan dalam suatu kota.

Amos 3:6 - “Adakah sangkakala ditiup di suatu kota, dan orang-orang tidak gemetar? Adakah terjadi malapetaka di suatu kota, dan TUHAN tidak melakukannya?”.

·         Waktu terjadi kerusuhan terjadi penjarahan / perampokan. Apakah ini perampokan adalah pekerjaan Tuhan? Ya! Lihat Ayub. Semua hartanya dirampok, tetapi tentang hal itu dikatakan:

Ayub 1:21b - “TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!’”.

Ayub 2:10 - “Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?’”.

Ayub 42:11b - “Mereka menyatakan turut berdukacita dan menghibur dia oleh karena segala malapetaka yang telah ditimpakan TUHAN kepadanya ...”.

·         Waktu terjadi kerusuhan terjadi banyak pemerkosaan. Apakah ini juga tindakan Allah?

Zakh 14:2 - Aku akan mengumpulkan segala bangsa untuk memerangi Yerusalem; kota itu akan direbut, rumah-rumah akan dirampoki dan perempuan-perempuan akan ditiduri. Setengah dari penduduk kota itu harus pergi ke dalam pembuangan, tetapi selebihnya dari bangsa itu tidak akan dilenyapkan dari kota itu”.

Ayat ini mengatakan bahwa Tuhanlah yang bekerja mengumpulkan segala bangsa untuk memerangi Yehuda / Yerusalem dan mengalahkannya, lalu merampok dan bahkan melakukan pemerkosaan di sana.

Bdk. 2Sam 12:11-12 & 2Sam 16:22 yang menunjukkan bahwa incest (= perzinahan dalam keluarga) yang dilakukan oleh Absalom dengan istri-istri Daud adalah pekerjaan Tuhan!

·         Orang yang rumahnya dibakar atau yang diperkosa itu katanya ada yang bunuh diri. Apakah ini juga pekerjaan Tuhan?

1Taw 10:4b - “Kemudian Saul mengambil pedang itu dan menjatuhkan dirinya ke atasnya”.

Tetapi 1Taw 10:14 berkata: “... dan tidak meminta petunjuk TUHAN. Sebab itu TUHAN membunuh dia ...”.

Jadi, sekalipun dalam ay 4b itu dikatakan bahwa Saul mati bunuh diri, tetapi dalam ay 14 tetap dikatakan ‘Tuhan membunuh dia’, yang menunjukkan bahwa semua itu ditetapkan dan diatur oleh Tuhan.

·         Ada yang mengatakan bahwa dalam kerusuhan di Ambon ada perempuan yang mengandung yang perutnya dibelah, lalu bayinya dipotong-potong. Apakah ini juga pekerjaan Tuhan?

2Raja-raja 8:11-13 - “Elisa menatap dengan lama ke depan, lalu menangislah abdi Allah itu. Hazael berkata: ‘Mengapa tuanku menangis?’ Jawab Elisa: ‘Sebab aku tahu bagaimana malapetaka yang akan kaulakukan kepada orang Israel: kotanya yang berkubu akan kaucampakkan ke dalam api, terunanya akan kaubunuh dengan pedang, bayinya akan kauremukkan dan perempuannya yang mengandung akan kaubelah.’ Sesudah itu berkatalah Hazael: ‘Tetapi apakah hambamu ini, yang tidak lain dari anjing saja, sehingga ia dapat melakukan hal sehebat itu?’ Jawab Elisa: ‘TUHAN telah memperlihatkan kepadaku, bahwa engkau akan menjadi raja atas Aram.’”.

Ini menunjukkan bahwa kekejaman Hazael sudah ditentukan sebe­lumnya. Bdk. juga dengan 1Raja 19:15,17 dimana Tuhanlah yang memerintahkan pengurapan Hazael menjadi raja Aram.

 

Mungkin saudara berkata bahwa semua hal-hal berdosa / terkutuk ini bukan ditentukan / diatur terjadinya oleh Allah, tetapi hanya diijinkan oleh Allah.

Banyak orang senang menggunakan istilah ini untuk melindungi kesucian Allah. Mereka berpikir bahwa kalau Allah menentukan dosa maka Allah sendiri berdosa / tidak suci. Tetapi kalau Allah hanya mengijinkan terjadinya dosa, maka Allah tidak bersalah dan tetap suci. Tetapi ini adalah pemikiran yang bodoh, karena kalau ‘penentuan Allah tentang terja­dinya dosa’ dianggap sebagai dosa (aktif), maka ‘pemberian ijin dari Allah sehingga dosa terjadi’ juga harus dianggap sebagai dosa, yaitu dosa pasif. Sama halnya kalau saya membunuh orang, maka itu adalah dosa (dosa aktif). Tetapi kalau saya membiarkan / mengijinkan seseorang bunuh diri atau dibunuh di depan saya, padahal saya bisa mencegahnya, maka saya juga berdosa (dosa pasif) - bdk. Yak 4:17!

 

Herman Hoeksema:

“Nor must we, in regard to the sinful deeds of men and devils, speak only of God’s permission in distinction from His determination. Holy Scripture speaks a far more positive language. We realize, of course, that the motive for speaking God’s permission rather than of His predetermined will in regard to sin and the evil deeds of men is that God may never be presented as the author of sin. But this purpose is not reached by speaking of God’s permission or His permissive will: for if the Almighty permits what He could just as well have prevented, it is from an ethical viewpoint the same as if He had committed it Himself. But in this way we lose God and His sovereignty: for permis­sion presupposes the idea that there is a power without God that can produce and do something apart from Him, but which is simply permitted by God to act and operate. This is dualism, and it annihilates the complete and absolute sovereignty of God. And therefore we must main­tain that also sin and all the wicked deeds of men and angels have a place in the counsel of God, in the counsel of His will. Thus it is taught by the Word of God” (= Juga kita tidak boleh, berkenaan dengan tindakan-tindakan berdosa dari manusia dan setan, berbicara hanya tentang ijin Allah dan membedakannya dengan penentuan / penetapanNya. Kitab Suci berbicara dengan suatu bahasa yang jauh lebih positif. Tentu saja kita menyadari bahwa motivasi untuk menggunakan istilah ‘ijin Allah’ dari pada ‘kehendakNya yang sudah ditetapkan lebih dulu’ berkenaan dengan dosa dan tindakan-tindakan jahat dari manusia adalah supaya Allah tidak pernah dinyatakan sebagai pencipta dosa. Tetapi tujuan ini tidak tercapai dengan menggunakan ‘ijin Allah’ atau ‘kehendak yang mengijinkan dari Allah’: karena jika Yang Maha Kuasa mengijinkan apa yang bisa Ia cegah, dari sudut pandang etika itu adalah sama seperti jika Ia melakukan hal itu sendiri. Tetapi dengan cara ini kita kehilangan Allah dan kedaulatanNya: karena ijin mensyaratkan suatu gagasan bahwa ada suatu kekuatan di luar Allah yang bisa menghasilkan dan melakukan sesuatu terpisah dari Dia, tetapi yang diijinkan oleh Allah untuk bertindak dan beroperasi. Ini merupakan dualisme, dan ini menghapuskan kedaulatan Allah yang lengkap dan mutlak. Dan karena itu kita harus mempertahankan bahwa juga dosa dan semua tindakan-tindakan jahat dari manusia dan malaikat mempunyai tempat dalam rencana Allah, dalam keputusan kehendakNya. Demikianlah diajarkan oleh Firman Allah) - ‘Reformed Dogmatics’, hal 158.

 

Komentar-komentar Calvin tentang istilah ‘Allah mengijinkan’, menunjukkan kebencian Calvin terhadap istilah itu.

Calvin:

¨       “God wills that the false king Ahab be deceived; the devil offers his services to this end; he is sent, with a definite command, to be a lying spirit in the mouth of all the prophets (1Kings 22:20,22). If the blinding and insanity of Ahab be God’s judgment, the figment of bare permission vanishes: because it would be ridiculous for the Judge only to permit what he wills to be done, and not also to decree it and to command its execution by his ministers [= Allah menghendaki bahwa raja Ahab yang tidak benar ditipu; setan menawarkan pelayanannya untuk tujuan ini; ia dikirim, dengan perintah yang pasti, untuk menjadi roh dusta dalam mulut semua nabi (1Raja-raja 22:20,22). Jika pembutaan dan kegilaan Ahab adalah penghakiman Allah, isapan jempol tentang ‘sekedar ijin’ hilang: karena adalah menggelikan bagi sang Hakim untuk hanya mengijinkan apa yang Ia kehendaki untuk dilakukan, dan tidak juga menetapkannya dan memerintahkan pelaksanaannya oleh pelayan-pelayanNya] - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter XVIII, no 1.

¨       “Those who are moderately versed in the Scriptures see that for the sake of brevity I have put forward only a few of many testimonies. Yet from these it is more than evident that they babble and talk absurdly who, in place of God’s providence, substitute bare permission - as if God sat in a watchtower awaiting chance events, and his judgments thus depended upon human will”(= Mereka yang betul-betul mengetahui Kitab Suci melihat bahwa untuk singkatnya saya hanya memberikan sedikit dari banyak kesaksian. Tetapi dari kesaksian-kesaksian ini adalah lebih dari jelas bahwa mereka mengoceh dan berbicara secara menggelikan yang, menggantikan providence Allah dengan ‘sekedar ijin’ - seakan-akan Allah duduk di menara pengawal menunggu kejadian-kejadian yang terjadi secara kebetulan, dan dengan demikian penghakimanNya tergantung pada kehendak manusia) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter XVIII, no 1.

 

Kalau kita tetap mau menggunakan istilah ‘Allah mengijinkan’, maka artinya harus benar. Ini tidak berarti bahwa sebetulnya Allah merencanakan seseorang berbuat baik / tidak berbuat dosa, tetapi karena orangnya memaksa berbuat dosa, lalu Allah mengijinkan. Kalau diartikan seperti ini, maka itu berarti bahwa Rencana Allah sudah gagal, dan ini bertentangan dengan ayat-ayat seperti:

*        Ayub 42:1-2 - “Maka jawab Ayub kepada TUHAN: ‘Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencanaMu yang gagal’”.

*        Maz 33:10-11 - “TUHAN menggagalkan rencana bangsa-bangsa; Ia meniadakan rancangan suku-suku bangsa; tetapi rencana TUHAN tetap selama-lamanya, rancangan hatiNya turun-temurun”.

*        Yes 14:24,26-27 - “TUHAN semesta alam telah bersumpah, firmanNya: ‘Sesungguhnya seperti yang Kumaksud, demikianlah akan terjadi, dan seperti yang Kurancang, demikianlah akan terlaksana: ... Itulah rancangan yang telah dibuat mengenai seluruh bumi, dan itulah tangan yang teracung terhadap segala bangsa. TUHAN semesta alam telah merancang, siapakah yang dapat menggagalkannya? TanganNya telah teracung, siapakah yang dapat membuatnya ditarik kembali?”.

*        Yes 25:1 - “Ya TUHAN, Engkaulah Allahku; aku mau meninggikan Engkau, mau menyanyikan syukur bagi namaMu; sebab dengan kesetiaan yang teguh Engkau telah melaksanakan rancanganMu yang ajaib yang telah ada sejak dahulu”.

*        Yes 37:26 - “Bukankah telah kaudengar, bahwa Aku telah menentukannya dari jauh hari dan telah merancangnya dari zaman purbakala? Sekarang Aku mewujudkannya, bahwa engkau membuat sunyi senyap kota-kota yang berkubu menjadi timbunan batu”.

*        Yes 43:13 - “Juga seterusnya Aku tetap Dia, dan tidak ada yang dapat melepaskan dari tanganKu; Aku melakukannya, siapakah yang dapat mencegahnya?”.

*        Yes 46:10-11 - “yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: KeputusanKu akan sampai, dan segala kehendakKu akan Kulaksanakan, yang memanggil burung buas dari timur, dan orang yang melaksanakan putusanKu dari negeri yang jauh. Aku telah mengatakannya, maka Aku hendak melangsungkannya, Aku telah merencanakannya, maka Aku hendak melaksanakannya”.

*        Yer 4:28 - “Karena hal ini bumi akan berkabung, dan langit di atas akan menjadi gelap, sebab Aku telah mengatakannya, Aku telah merancangnya, Aku tidak akan menyesalinya dan tidak akan mundur dari pada itu”.

 

‘Allah mengijinkan’ berarti bahwa Allah bekerja secara pasif dan Ia menggunakan second causes (= penyebab-penyebab kedua), tetapi dosa yang diijinkan itu pasti terjadi, persis sesuai dengan Rencana Allah! Jadi digunakannya istilah ‘Allah mengijinkan’ hanyalah karena dalam pelaksanaannya Allah bekerja secara pasif dan Allah menggunakan second causes (= penyebab-penyebab kedua), yang bisa berupa setan atau manusia.

 

Charles Hodge: “Whatever occurs, He for wise reasons permits to occur. He can prevent whatever He sees fit to prevent. If, therefore, sin occurs, it was God’s design that it should occur. If misery follows in the train of sin, such was God’s purpose. If some men only are saved, while others perish, such must have entered into the all comprehending purpose of God” (= Apapun yang terjadi, Ia mengijinkan hal itu terjadi karena alasan yang bijaksana. Ia bisa mencegah apapun yang Ia anggap layak untuk dicegah. Karena itu, jika dosa terjadi, adalah rencana Allah bahwa itu terjadi. Jika kesengsaraan menyusul dalam rentetan dosa, maka demikianlah rencana Allah. Jika sebagian orang saja yang diselamatkan, sementara yang lain binasa, maka semua itu pasti telah masuk ke dalam rencana Allah yang meliputi segala sesuatu) - ‘Systematic Theology’, vol II, hal 332.

 

Louis Berkhof: “It is customary to speak of the decree of God respecting moral evil as permissive. By His decree God rendered the sinful actions of man infallibly certain without deciding to effectuate them by acting immediately upon and in the finite will. This means that God does not positively work in man ‘both to will and to do’, when man goes con­trary to His revealed will. It should be carefully noted, however, that this permissive decree does not imply a passive permission of something which is not under the control of the divine will. It is a decree which renders the future sinful acts absolutely certain, but in which God determines (a)not to hinder the sinful self-determination of the finite will; and (b)to regulate and control the result of this sinful self-determination” [= Merupakan kebiasaan untuk berbicara tentang ketetapan Allah berkenaan dengan kejahatan moral sebagai bersifat mengijinkan. Oleh ketetapanNya Allah membuat tindakan-tindakan berdosa dari manusia menjadi pasti tanpa menetapkan untuk menyebabkan mereka terjadi dengan bertindak langsung dan bertindak dalam kehendak terbatas (kehendak manusia) itu. Ini berarti bahwa Allah tidak secara positif bekerja dalam manusia ‘baik untuk menghendaki dan untuk melakukan’, pada waktu manusia berjalan bertentangan dengan kehendakNya yang dinyatakan. Tetapi harus diperhatikan baik-baik bahwa ketetapan yang bersifat mengijinkan tidak berarti suatu ijin pasif dari sesuatu yang tidak ada di bawah kontrol dari kehendak ilahi. Itu merupakan suatu ketetapan yang membuat tindakan berdosa yang akan datang itu pasti secara mutlak, tetapi dalam mana Allah menentukan (a) tidak menghalangi keputusan yang berdosa yang dilakukan sendiri oleh kehendak terbatas / kehendak manusia; dan (b) mengatur dan mengontrol akibat / hasil dari keputusan berdosa ini] - ‘Systematic Theology’, hal 105.

 

William G. T. Shedd: “When God executes his decree that Saul of Tarsus shall be ‘a vessel of mercy’, he works efficiently within him by his Holy Spirit ‘to will and to do’. When God executes his decree that Judas Iscariot shall be ‘a vessel of wrath fitted for destruction’, he does not work efficiently within him ‘to will and to do’, but permissively in the way of allowing him to have his own wicked will. He decides not to restrain him or to regenerate him, but to leave him to his own obstinate and rebellious inclination and purpose; and accordingly ‘the Son of man goeth, as it was determined, but woe unto that man by whom he is betrayed’ (Luke 22:22; Acts 2:23). The two Divine methods in the two cases are plainly different, but the perdition of Judas was as much foreordained and free from chance, as the conversion of Saul” [= Pada waktu Allah melaksanakan ketetapanNya bahwa Saulus dari Tarsus akan menjadi ‘bejana / benda belas kasihan’, Ia bekerja secara efisien di dalamnya dengan Roh Kudus-Nya ‘untuk mau / menghendaki dan untuk melakukan’. Pada waktu Allah melaksanakan ketetapanNya bahwa Yudas Iskariot akan menjadi ‘bejana kemurkaan yang cocok untuk kehancuran / benda kemurkaan yang telah dipersiapkan untuk kebinasaan’, Ia tidak bekerja secara efisien dalam dirinya ‘untuk mau / menghendaki dan untuk melakukan’, tetapi dengan cara mengijinkan dia mempunyai kehendak jahatnya sendiri. Ia memutuskan untuk tidak mengekang dia atau melahirbarukan dia, tetapi membiarkan dia pada kecondongan dan rencananya sendiri yang keras kepala dan bersifat memberontak; dan karena itu ‘Anak Manusia memang akan pergi seperti yang telah ditetapkan, akan tetapi, celakalah orang yang olehnya Ia diserahkan’ (Luk 22:22; Kis 2:23). Kedua metode ilahi dalam kedua kasus ini jelas berbeda, tetapi kebinasaan Yudas ditentukan lebih dulu dan bebas dari kebetulan, sama seperti pertobatan Saulus] - ‘Calvinism: Pure & Mixed’, hal 31.

 

Kalau tadi kita sudah melihat banyak detail-detail yang merupakan pekerjaan Tuhan, dalam arti bahwa semua itu ditentukan dan diatur terjadinya oleh Tuhan, maka sekarang saya masih akan menambahkan satu hal lagi yang juga ditentukan dan diatur oleh Tuhan, yaitu ‘waktu terjadinya segala sesuatu’.

1)      Waktu kematian kita sudah ditentukan (Mat 6:27  Maz 39:5-6).

2)      Waktu kedatangan Kristus yang pertama (Gal 4:4).

3)      Waktu penghakiman akhir jaman / kedatangan Kristus yang keduakalinya (Kis 17:31).

4)      Waktu terjadinya apapun dalam hidup Kristus juga ditentukan oleh Tuhan.

Ini terlihat dari banyak ayat di bawah ini, yang semua saya kutip / ambil dari Injil Yohanes.

 

·         Yoh 2:4 - waktuKu belum tiba.

William Hendriksen: “The words, ‘My hour has not yet come,’ clearly indicate Christ’s consciousness of the fact that he was accomplishing a task entrusted to him by the Father, every detail of which had been definitely marked off in the eternal decree, so that for each act there was a stipulated moment. (See also 7:6,8; 7:30; 8:20; 12:23; 13:1; and 17:1.) When Jesus knew that this moment had arrived, he would act, not before” [= kata-kata ‘waktuKu belum tiba’ secara jelas menunjukkan kesadaran Yesus terhadap fakta bahwa Ia sedang mengerjakan suatu tugas yang dipercayakan kepadaNya oleh Bapa, yang mana setiap bagiannya telah ditandai dengan pasti dalam ketetapan kekal, sehingga untuk setiap tindakan ada waktu yang telah ditentukan. (Lihat juga 7:6,8; 7:30; 8:20; 12:23; 13:1; and 17:1.) Pada waktu Yesus tahu bahwa saat ini sudah tiba, Ia bertindak, tidak sebelumnya] - hal 115.

“Jesus knew that all his deeds had been predetermined as to the exact hour of their occurence” (= Yesus tahu bahwa semua tindakanNya telah ditentukan lebih dulu berkenaan dengan saat yang tepat terjadinya hal itu) - hal 119.

Calvin menerapkannya ke dalam hidup kita sebagai berikut:

“Whenever the Lord holds us in suspense, and delays His aid, He is not therefore asleep, but, on the contrary, regulates all His works in such a manner that He does nothing but at the proper time” (= pada saat Tuhan membiarkan kita menunggu, dan menunda pertolonganNya, Ia tidaklah tertidur, tetapi sebaliknya, Ia mengatur semua pekerjaanNya sedemikian rupa sehingga Ia tidak melakukan apapun kecuali pada waktu yang tepat / benar) - hal 85.

Calvin: “Those who have applied this passage to prove that the time is appointed by Fate, are too ridiculous to require a single word to be said for refuting them. The hour of Christ sometimes denotes the hour which had been appointed to him by the Father; and by his time he will afterwards designates what he found to be convenient and suitable for executing the commands of his Father; but in this place he claims the right to take and choose the time for working and for displaying his Divine power” (= Mereka yang menerapkan bagian ini untuk membuktikan bahwa waktu ditetapkan oleh takdir / nasib, terlalu menggelikan untuk membutuhkan satu katapun untuk membantah mereka. Waktu Kristus kadang-kadang menunjukkan waktu yang telah ditetapkan bagiNya oleh Bapa; dan oleh waktuNya Ia akan menunjuk / menandakan apa yang Ia anggap sesuai untuk melaksanakan perintah BapaNya; tetapi di tempat ini Ia mengclaim hak untuk mengambil dan memilih waktu untuk mengerjakan dan untuk menunjukkan kuasa ilahiNya) - hal 85.

Catatan: hati-hati dalam membaca kata-kata Calvin ini. Ini tidak berarti bahwa ia tidak percaya bahwa waktu itu sudah ditentukan. Yang tidak ia percayai adalah bahwa waktu ditentukan oleh takdir, tetapi ia percaya bahwa waktu ditentukan oleh Allah.

 

·         Yoh 7:6,8 - WaktuKu belum tiba / genap.

Calvin dan Hendriksen berkata ini bukan menunjuk pada waktu kematian Kristus, tetapi waktu untuk pergi ke pesta.

William Hendriksen: “Hence, verse 6 definitely shows that for every deed and action of the Lord (not only for his death on the cross) there is a definite moment, determined from all eternity in the plan of God. ... The will of Jesus being in complete accord with this eternal counsel of God, he naturally waits for the proper moment to arrive. For the brothers of Jesus there were no such considerations. They had no such conscious contact with the clock of God’s eternal counsel. ... When the further question is asked; namely, ‘Why was it that Jesus delayed going up to the feast?’ the answer probably lies in this direction: had he gone up at once, with the firstcomers, there would have been ample time for the Sanhedrin to plan his arrest at this time, so as to put him to death now. But Jesus knew that his death as the Lamb of God must take place at the time of the next Passover, not during this feast of Tabernacles. Hence, he delays.” [= Karena itu, ay 6 secara pasti menunjukkan bahwa untuk setiap tindakan dan perbuatan dari Tuhan (bukan hanya untuk kematianNya pada salib) di sana ada waktu yang pasti / tertentu, ditentukan dari kekekalan dalam rencana Allah. ... Karena kehendak Yesus sesuai secara sempurna dengan rencana kekal Allah, maka tentu saja ia menunggu sampai saat yang benar tiba. Saudara-saudara Yesus tidak mempunyai pertimbangan seperti itu. Mereka tidak mengetahui waktu dari rencana Allah. ... Pada waktu pertanyaan selanjutnya ditanyakan; yaitu, ‘Mengapa Yesus menunda untuk pergi ke pesta?’, jawabannya mungkin ada dalam arah ini: andaikata Ia pergi dengan segera, bersama dengan para pendatang pertama, maka akan ada cukup waktu bagi Sanhedrin / Mahkamah Agama untuk merencanakan penangkapan terhadapNya pada saat ini, sehingga akan membunuhNya sekarang / pada saat itu. Tetapi Yesus tahu bahwa kematianNya sebagai Anak Domba Allah harus terjadi pada Paskah yang akan datang, bukan selama pesta / hari raja Pondoh Daun ini. Karena itu, Ia menunda] - hal 6.

 

·         Yoh 7:30 - “Mereka berusaha menangkap Dia, tetapi tidak seorangpun menyentuh Dia, sebab saatNya belum tiba”.

Calvin: “They had no want of will to do him mischief; they even made the attempt, and they had strength to do it. Why, then, amidst so much ardour, are they benumbed, as if they had their hands and feet bound? The Evangelist replies, because Christ’s hour was not yet come; by which he means that, against all their violence and furious attacks, Christ was guarded by the protection of God. And at the same time he meets the offence of the cross; for we have no reason to be alarmed when we learn that Christ was dragged to death, not through the caprice of men, but because he was destined for such a sacrifice by the decree of the Father. And hence we ought to infer a general doctrine; for though we live from day to day, still the time of every man’s death has been fixed by God. It is difficult to believe that, while we are subject to so many accidents, exposed to so many open and concealed attacks both from men and beasts, and liable to so many diseases, we are safe from all risk until God is pleased to call us away. But we ought to struggle against our own distrust; and we ought to attend first to the doctrine itself which is here taught, and next, to the object at which it aims, and the exhortation which is drawn from it, namely, that each of us, casting all his cares on God, (Psal. 55:22; 1Pet. 5:7,) should follow his own calling, and not be led away from the performance of his duty by any fears. Yet let no man go beyond his own bounds; for confidence in the providence of God must not go farther than God himself commands” [= Mereka tidak kekurangan keinginan untuk melakukan hal yang jahat kepadaNya; mereka bahkan mengusahakannya, dan mereka mempunyai kekuatan untuk melakukannya. Lalu mengapa, di tengah-tengah semangat / keinginan yang begitu hebat,  mereka menjadi kaku, seakan-akan tangan dan kaki mereka terikat? Sang Penginjil (Yohanes) menjawab, ‘sebab saatNya belum tiba’; dengan mana ia memaksudkan, bahwa terhadap semua kebengisan dan serangan yang penuh kemarahan, Kristus dijaga oleh perlindungan Allah. Dan pada saat yang sama Ia menemui serangan salib; karena kita tidak mempunyai alasan untuk terkejut pada waktu kita mempelajari bahwa Kristus ditarik / diseret kepada kematian, bukan melalui perubahan pikiran manusia, tetapi karena Ia ditentukan untuk menjadi korban seperti itu oleh ketetapan Bapa. Dan karena itu kita harus menyimpulkan suatu doktrin yang umum; karena sekalipun kita hidup dari hari ke hari, tetap saja saat kematian setiap orang sudah ditetapkan oleh Allah. Adalah sukar untuk percaya bahwa, sementara kita menjadi sasaran dari begitu banyak kecelakaan, terbuka terhadap begitu banyak serangan yang terbuka dan tersembunyi baik dari manusia dan binatang, dan bisa terkena begitu banyak penyakit, kita aman dari semua resiko sampai Allah berkenan memanggil kita. Tetapi kita harus bergumul melawan ketidakpercayaan kita sendiri; dan kita harus memperhatikan pertama-tama kepada doktrin itu sendiri, yang diajarkan di sini, dan kemudian, kepada tujuan yang dituju oleh doktrin ini, dan nasihat yang ditarik darinya, yaitu bahwa setiap kita, sambil menyerahkan segala kuatirnya kepada Allah (Maz 55:23; 1Pet 5:7), harus mengikuti panggilannya sendiri, dan bukannya disimpangkan dari pelaksanaan kewajibannya oleh rasa takut. Tetapi janganlah ada orang yang melewati batasannya; karena keyakinan dalam providensia Allah tidak boleh berjalan lebih jauh dari yang Allah sendiri perintahkan] - hal 300-301.

William Hendriksen: “Why did they not carry out their wish? Did fear of those pilgrims who were favorably disposed to Jesus restrain them? Verse 31 seems to point in that direction (see also 7:12a). The deeper reason for this failure to capture Jesus at this time is stated in words which have a familiar ring in the Fourth Gospel: But no one laid a hand on him (cf. Matt. 26:50) because his hour had not yet come. ... Though surrounded by danger - the anger of these Jerusalemites, the hostile desire and power of the leaders - , Jesus was in reality free from all danger, because it was not the will of God that he should die at this time” [= Mengapa mereka tidak melaksanakan keinginan mereka? Apakah rasa takut kepada para peziarah, yang senang kepada Yesus, mengekang mereka? Ay 31 kelihatannya menunjuk ke arah itu (lihat juga 7:12a). Alasan yang lebih dalam untuk kegagalan untuk menangkap Yesus pada saat ini dinyatakan dalam kata-kata yang mempunyai bunyi yang akrab dalam Injil yang ke empat ini: tetapi tidak seorangpun menyentuh Dia (bdk. Mat 26:50), sebab saatNya belum tiba. ... Sekalipun dikelilingi oleh bahaya - kemarahan dari orang-orang Yerusalem, Keinginan dan kekuatan yang bermusuhan dari para pemimpin - , Yesus dalam faktanya bebas dari semua bahaya, karena bukan kehendak Allah bahwa Ia mati pada saat ini] - hal 18.

 

·         Yoh 7:44 mau ditangkap tapi tak ada yang berani menyentuhnya, jelas juga karena waktuNya belum tiba.

Calvin: “That their efforts were unavailing, we ought to ascribe to the providence of God; for since Christ’s hour was not yet come, as has been formerly said, guarded by the protection of his Father, on which he relied, he surmounted all dangers” (= Bahwa usaha mereka sia-sia / tak berhasil, kita harus menganggapnya berasal dari providensia Allah; karena waktu Kristus belum tiba, seperti telah dikatakan sebelumnya, dijaga oleh perlindungan BapaNya, terhadap mana Ia bersandar, Ia berada di atas semua bahaya) - hal 313.

 

·         Yoh 8:20 - Yesus mengajar dalam Bait Allah tetapi tetap tidak ada yang menangkap karena saatnya belum tiba!

Calvin: “when he ventured to take upon himself the office of a teacher, why do they not instantly lay violent hands on him? We see then that God caused men to hear him, and guarded him by his protection, so that those savage beasts did not touch him, though they had their throats opened to swallow him. The Evangelist again mentions his hour, that we may learn that it is not by the will of men, but by the will of God, that we live and die” (= pada waktu Ia melakukan perbuatan yang mengandung resiko dengan mengambil bagi diriNya sendiri jabatan guru, mengapa mereka tidak langsung menangkapNya? Kita melihat bahwa Allah menyebabkan manusia untuk mendengar Dia, dan menjagaNya oleh perlindunganNya, sehingga binatang-binatang ganas itu tidak menyentuhNya, sekalipun kerongkongan mereka terbuka untuk menelan Dia. Sang Penginjil menyebutkan lagi saatNya, supaya kita boleh belajar bahwa bukanlah oleh kehendak manusia, tetapi oleh kehendak Allah, bahwa kita hidup dan mati) - hal 330.

 

·         Yoh 8:59 mau dirajam tetapi menghilang. Jelas karena belum waktunya untuk mati. Demikian pula dalam Yoh 10:31 Ia mau dirajam, tetapi tidak jadi, dan dalam Yoh 10:39 Ia mau ditangkap tetapi luput. Tentang ayat terakhir ini Calvin berkata:

“This reminds us that we are not exposed to the lawless passions of wicked men, which God restrains by his bridle, whenever he thinks fit” (= Ini mengingatkan kita bahwa kita tidak terbuka terhadap kebencian / kemarahan yang tidak mempedulikan hukum dari orang-orang jahat, yang ditahan oleh Allah dengan kekangNya, pada saat ia menganggapnya pantas) - hal 422.

 

·         Yoh 12:23 - “Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan”.

Selama ini berulangkali dikatakan bahwa waktunya belum tiba (Yoh 7:30  8:20). Tetapi sekarang dikatakan waktunya sudah tiba (bdk. Yoh 13:1  17:1  Mark 14:41).

 

·         Yoh 13:1 - “Yesus telah tahu bahwa saatNya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa”.

 

·         Yoh 13:31 - Sekarang Anak Manusia dipermuliakan’.

 

·         Yoh 16:16 - ‘Tinggal sesaat saja dan kamu tidak melihat Aku lagi dan tinggal sesaat saja pula dan kamu akan melihat Aku’.

 

·         Yoh 16:32 - “Lihat, saatnya datang, bahkan sudah datang, bahwa kamu dicerai-beraikan masing-masing ke tempatnya sendiri dan kamu meninggalkan Aku seorang diri. Namun Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku”.

Memang ini saat murid-murid tercerai berai, tetapi itu terjadi pada saat Yesus ditangkap.

 

·         Yoh 17:1 - ‘Bapa, telah tiba saatnya, permuliakanlah AnakMu, ...’.

Calvin: “not an hour which is determined by the fancy of men, but an hour which God had appointed” (= bukan saat yang ditentukan oleh kesukaan manusia, tetapi saat yang telah ditentukan Allah) - hal 164.

William Hendriksen: “The expression, ‘The hour has arrived’ shows once more that Jesus is conscious of the fact that for every event in the mighty drama of redemption (yes and for every event that ever takes place in history) there is a stipulated moment in the eternal decree” [= Ungkapan ‘telah tiba saatnya’ menunjukkan sekali lagi bahwa Yesus sadar akan fakta bahwa untuk setiap peristiwa dalam drama penebusan yang hebat (ya dan untuk setiap peristiwa yang terjadi dalam sejarah) ada saat yang ditentukan dalam ketetapan kekal] - hal 348.

 

·         Ada satu ayat yang sangat menarik dalam persoalan penyesuaian waktu dengan rencana Allah ini, yaitu Yoh 13:27, yang akan saya bahas di bawah ini.

Yoh 13:27 - “Maka Yesus berkata: ‘Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera’”.

NIV/NASB: ‘quickly’ (= dengan cepat).

Hendriksen: ‘more quickly’ (= dengan lebih cepat).

Kata Yunani yang dipakai adalah TACHION, yang juga dipakai dalam:

*        Yoh 20:4 dimana kata itu diterjemahkan ‘lebih cepat’.

*        Ibr 13:19,23 (‘lebih lekas’ dan ‘segera’).

Komentar A. T. Robertson tentang bagian ini:

“‘Do more quickly what thou art doing.’ TACHION is comparative of TACHEOS (John 11:31)” [= ‘Lakukanlah dengan lebih cepat apa yang sedang kaulakukan’. TACHION adalah pembanding dari TACHEOS (Yoh 11:31)] - hal 245.

Catatan: dalam Yoh 11:31 kata TACHEOS diterjemahkan ‘segera’.

Mengapa Yesus ‘menyuruh’ Yudas melakukan rencananya dengan lebih cepat? Karena Yesus sendiri telah menubuatkan dalam Mat 26:2 bahwa Ia akan ditangkap / disalibkan pada Paskah. Tetapi musuh-musuhNya merencanakan untuk menangkap / membunuh Dia setelah Paskah (Mat 26:5 - ‘jangan pada waktu perayaan, supaya jangan timbul keributan di antara rakyat’). Jadi rencana tokoh-tokoh Yahudi mula-mula adalah menangkap dan membunuh Yesus setelah masa hari raya (Paskah dan Roti tak beragi) lewat. Lalu muncul­lah Yudas (Mat 26:14-16), yang memberikan jalan bagi para tokoh Yahudi itu untuk mewujudkan rencananya. Tetapi waktunya masih kurang cepat. Lalu terjadilah cerita dalam Yoh 13 ini, dimana Yudas tahu bahwa Yesus mengetahui pengkhianatannya. Ini membuat Yudas mempercepat rencananya sehingga akhirnya pembunuhan / penyaliban terhadap Yesus dilakukan sesuai dengan ketetapan Allah dan nubuat Yesus, yaitu pada Paskah.

William Hendriksen: “Thus tersely Jesus dismissed Judas, and at the same time revealed that he, as the Lord of all, was complete Master of the situation. All the details of his passion, including the time-schedule, were in his own hands, not in the hands of the traitor. In the plan of God it had been decided that the Son of God would make himself an offering for sin by his death on the cross, and that this would happen on Friday, the fifteenth of Nisan. That was not the moment which had been selected by the Sanhedrin or by Judas. Hence, Judas must work faster. And Judas does work faster, probably because he now knew (Matt. 26:25) that he had been ‘discovered.’ He was probably afraid lest the whole plot fail if he did not act quickly” [= Demikianlah dengan pendek dan cepat Yesus membubarkan / menghilangkan Yudas, dan pada saat yang sama menyatakan bahwa Ia, sebagai Tuhan dari semua, berkuasa sepenuhnya atas situasi saat itu. Semua hal-hal terperinci dari penderitaanNya, termasuk jadwal waktunya, ada dalam tanganNya, bukan dalam tangan si pengkhianat. Dalam rencana Allah telah diputuskan bahwa Anak Allah akan menjadikan diriNya sendiri korban untuk dosa melalui kematianNya pada kayu salib, dan bahwa hal ini akan terjadi pada Jum’at, tanggal ke 15 dari bulan Nisan. Itu bukanlah waktu yang telah dipilih oleh Sanhedrin atau oleh Yudas. Jadi, Yudas harus bekerja lebih cepat. Dan Yudas memang bekerja lebih cepat, mungkin karena sekarang ia tahu (Mat 26:25) bahwa ia telah ‘ditemukan / diketahui’. Mungkin ia takut kalau-kalau seluruh rencananya gagal jika ia tidak bertindak dengan cepat] - hal 247-248.

Knox Chamblin: “Even as they plan his death, his enemies are under his sovereign lordship” (= Bahkan pada saat mereka merencanakan kematianNya, musuh-musuhNya ada di bawah pemerintahanNya yang berdaulat) - hal 229.

 

II) Untuk kebaikan orang percaya / pilihan.

 

1)   Ro 8:28 hanya berlaku untuk orang percaya / pilihan.

Ro 8:28 - “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah”.

Dalam bahasa aslinya, kata-kata ‘bagi mereka yang mengasihi Dia’ diletakkan sebelum kata-kata ‘Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan’. Jadi ini merupakan penekanan. Ayat ini hanya berlaku untuk orang yang mengasihi Allah. Siapa orang yang mengasihi Allah itu dijelaskan oleh bagian selanjutnya yaitu ‘yaitu mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah’. Panggilan di sini menunjuk pada ‘effectual calling’ (= penggilan yang efektif) yang memastikan pertobatan orang yang dipanggil; sedangkan ‘rencana Allah’ menunjuk pada rencana yang Allah tetapkan dalam kekekalan. Jadi, ‘mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah’ jelas menunjuk kepada orang yang percaya kepada Kristus.

Jadi bagian ini menunjukkan bahwa Ro 8:28 ini hanya berlaku untuk orang percaya / pilihan. Karena itu jangan menggunakan Ro 8:28 untuk menghibur orang kafir / orang kristen KTP!

 

2)   Untuk orang percaya, segala sesuatu membawa kebaikan.

Matthew Poole: “For good; sometimes for temporal good, Gen. 50:20; always for spiritual and eternal good, which is best of all” (= Untuk kebaikan; kadang-kadang kebaikan sementara, Kej 50:20; selalu untuk kebaikan rohani dan kekal, yang adalah yang terbaik dari semua) - hal 507.

John Brown: “The language of the apostle is peculiar, and deserves attention: he not only says all things shall work, but ‘all things shall work together for good;’ they shall not only operate, but co-operate. It is the wise connection of one thing with another that secures the desired result. There are many things in the case of many a saint which, taken by themselves, could produce nothing but evil. The envy of Joseph’s brethren, by itself, had no tendency but to destroy him. Left to the natural effect of that one evil thing, he would have dies in the pit; but, along with another great evil - his being sold as a slave to the Midianites - it wrought together with other things, in themselves only evil in their separate tendency, to the great good which resulted from Joseph’s becoming lord of all the land of Egypt. Every one of these calamities was a link in the chain which led him to so high a condition of honour and usefulness. This is the triumph of the wisdom and the power of Divine providence. Man finds it difficult to make one thing, in its nature evil, produce good. God makes innumerable evils so modify each other, that out of them all He brings a good” (= bahasa dari sang rasul adalah khas / aneh, dan layak diperhatikan: ia tidak hanya berkata bahwa segala sesuatu akan bekerja, tetapi ‘segala sesuatu akan bekerja bersama-sama untuk kebaikan’; hal-hal itu tidak hanya akan beroperasi / bekerja, tetapi akan beroperasi bersama-sama / bekerja sama. Adalah hubungan yang bijaksana antara hal yang satu dengan yang lain yang memastikan hasil / akibat yang diinginkan. Ada banyak hal dalam kasus banyak orang kudus, yang jika hanya sendirian hanya bisa menghasilkan bencana. Iri hati dari saudara-saudara Yusuf, dalam dirinya sendiri, tidak mempunyai kecenderungan lain selain menghancurkan dia. Jika dibiarkan pada akibat alamiah dari satu bencana itu, maka ia akan mati dalam sumur itu; tetapi bersama-sama dengan bencana besar yang lain - dijualnya ia sebagai budak kepada orang Midian - itu ditempa bersama-sama dengan hal-hal lain, dalam diri mereka hanya merupakan bencana dalam kecenderungan masing-masing, menjadi kebaikan besar yang diakibatkan oleh jadinya Yusuf sebagai tuan dari seluruh tanah Mesir. Setiap bencana adalah mata rantai dalam rantai yang memimpinnya kepada keadaan terhormat dan berguna yang begitu tinggi. Inilah kemenangan dari hikmat dan kuasa dari providensia ilahi. Manusia mendapatkan bahwa adalah sukar untuk membuat satu hal, yang bersifat bencana, untuk menghasilkan kebaikan. Allah membuat bencana-bencana yang sangat banyak begitu memodifikasi / mengubah satu sama lain, sehingga dari semua itu Ia menghasilkan suatu kebaikan) - hal 248.

Calvin: “so far are the troubles of this life from hindering our salvation, that, on the contrary, they are helps to it” (= begitu jauhnya kesukaran-kesukaran hidup ini dari pada menghalangi keselamatan kita, sehingga sebaliknya, mereka adalah pertolongan bagi keselamatan itu) - hal 314.

Calvin: “Though the elect and the reprobate are indiscriminately exposed to similar evils, there is yet a great difference; for God trains up the faithful by afflictions, and thereby promotes their salvation” (= Sekalipun orang pilihan dan orang yang ditentukan untuk binasa tanpa pandang bulu terbuka terhadap bencana yang sama, tetapi ada perbedaan yang besar; karena Allah melatih / mendidik orang setia / percaya menggunakan penderitaan-penderitaan, dan dengan demikian memajukan keselamatan mereka) - hal 315.

 

III) Sikap orang Kristen dalam krisis.

 

1)   Tetap percaya (trust) kepada Tuhan.

 

a)            Tidak bersungut-sungut, apalagi marah kepada Tuhan.

Ayub 1:21 - “katanya: ‘Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!’”.

Ayub 2:9-10 - “Maka berkatalah isterinya kepadanya: ‘Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!’ Tetapi jawab Ayub kepadanya: ‘Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?’ Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya”.

 

Salah satu bentuk sungut-sungut adalah dengan ingin kembali ke masa lalu.

Pengkhotbah 7:10 - “Janganlah mengatakan: ‘Mengapa zaman dulu lebih baik dari pada zaman sekarang?’ Karena bukannya berdasarkan hikmat engkau menanyakan hal itu”.

Orang yang percaya Ro 8:28 tidak seharusnya berkata demikian (bahwa masa lalu lebih baik dari sekarang).

 

b)      Tidak kuatir / takut / gelisah / panik.

Apa alasannya untuk tidak takut / kuatir / gelisah / panik?

 

1.   Tidak ada apapun yang bisa menggagalkan / mengubah Rencana Allah, termasuk segala ketakutan, kekuatiran, kegelisahan, dan kepanikan kita (bdk. Mat 6:27). Lalu apa gunanya takut, kuatir, gelisah, atau panik?

 

2.   Rencana Allah dan pelaksanaannya (Providence of God), sekalipun kadang-kadang terlihat tidak enak / tidak menyenangkan, tetapi tujuannya selalu untuk kebaikan kita yang adalah orang percaya (Ro 8:28).

Yer 29:11 - “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada padaKu mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan”.

Sama seperti Ro 8:28, Yer 29:11 ini juga berlaku hanya untuk orang percaya.

 

Waktu Yesus ditangkap murid-murid lari ketakutan, tetapi Yesusnya sendiri tetap tenang (Mat 26:47-56  Yoh 18:1-12). Mengapa bisa demikian? Salah satu alasannya adalah karena murid-murid tidak mengerti bahwa segala sesuatu ada dalam tangan Allah, atau mereka mengerti tetapi lupa atau tidak percaya akan hal itu, sedangkan Yesus mengerti, ingat, dan percaya akan hal itu (Yoh 18:11 - ‘bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepadaKu?’).

Ini juga terlihat dari Yoh 19:10-11b yang berbunyi: “Maka kata Pilatus kepadaNya: ‘Tidakkah Engkau tahu, bahwa aku berkuasa untuk membebaskan Engkau, dan berkuasa juga untuk menyalibkan Engkau?’ Yesus menjawab: ‘Engkau tidak mempunyai kuasa apapun terhadap Aku, jikalau kuasa itu tidak diberikan kepadamu dari atas’”.

 

Jadi, kalau suatu waktu terjadi bahaya yang bisa menyebabkan panik / kuatir / takut, ingatlah bahwa semua ada dalam tangan Tuhan, sudah ditentukan dan pasti terjadi, dan ditujukan untuk kebaikan kita. Karena itu tetaplah tenang dan percaya / trust kepada Tuhan.

 

2)   Banyak berdoa.

Yesus menghadapi krisis dengan berdoa di Taman Getsemani (Mat 26:36-44), dan karena itu Ia bisa menghadapi krisis itu dengan cara yang benar. Murid-murid, yang disuruh berdoa untuk menghadapi krisis (Mat 26:41), ternyata tidur / tidak berdoa (Mat 26:40,43), dan akibatnya mereka kalah dalam krisis itu.

Karena itu dalam krisis saat ini, kita harus banyak berdoa. Kita harus senantiasa meminta penyertaan, perlindungan dan pemeliharaan Tuhan, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk saudara seiman yang lain. Jadi kita harus saling mendoakan.

 

3)            Dekatkan diri kepada Allah (Yak 4:7-8), banyak belajar Firman Tuhan, buang segala dosa.

Hal-hal ini penting supaya:

·         doa kita jangan terhalang oleh dosa kita (Yes 59:1-2  Yoh 9:31).

·         kita bisa lebih beriman sehingga tidak kuatir, takut, gelisah, atau panik.

 

4)            Berserah dalam hal yang tidak bisa diubah, berusaha maximal dalam hal yang bisa diubah.

 

a)      Dalam hal-hal yang tidak bisa diubah, kita harus berserah, bukan sebagai seorang fatalist yang berserah kepada takdir / nasib, tetapi sebagai seorang anak yang berserah kepada kebijaksanaan, kasih, dan kesetiaan Bapanya.

Loraine Boettner: “Although the sovereignty of God is universal and absolute, it is not the sovereignty of blind power. It is coupled with infinite wisdom, holiness and love. And this doctrine, when properly understood, is a most comforting and reassuring one. Who would not prefer to have his affairs in the hands of a God of infinite power, wisdom, holiness and love, rather than to have them left to fate, or chance, or irrevocable natural law, or to short-sighted and perverted self? Those who reject God’s sovereignty should consider what alternatives they have left” (= Sekalipun kedaulatan Allah itu bersifat universal dan mutlak, tetapi itu bukanlah kedaulatan dari kuasa yang buta. Itu digabungkan dengan kebijaksanaan, kekudusan dan kasih yang tidak terbatas. Dan doktrin ini, jika dimengerti dengan tepat, adalah doktrin yang paling menghibur dan menenteramkan. Siapa yang tidak lebih menghendaki perkaranya ada dalam tangan Allah yang mempunyai kuasa, kebijaksanaan, kekudusan dan kasih yang tidak terbatas, dari pada menyerahkannya pada nasib / takdir, atau kebetulan, atau hukum alam yang tidak bisa dibatalkan, atau pada diri sendiri yang cupet dan sesat? Mereka yang menolak kedaulatan Allah harus mempertimbangkan alternatif-alternatif lain yang ada) - Loraine Boettner, ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 32.

John Owen: “Amidst all our afflictions and temptations, under whose pressure we should else faint and despair, it is no small comfort to be assured that we do nor can suffer nothing but what his hand and counsel guides unto us, what is open and naked before his eyes, and whose end and issue he knoweth long before; which is a strong motive to patience, a sure anchor of hope, a firm ground of consolation” (= Di tengah-tengah semua penderitaan dan pencobaan, yang tekanannya bisa membuat kita lemah / takut dan putus asa, bukan penghiburan kecil untuk yakin bahwa kita tidak bisa menderita apapun kecuali apa yang tangan dan rencanaNya pimpin kepada kita, apa yang terbuka dan telanjang di depan mataNya, dan yang akhirnya dan hasilnya Ia ketahui jauh sebelumnya; yang merupakan motivasi yang kuat pada kesabaran, jangkar pengharapan yang pasti, dasar penghiburan yang teguh) - ‘The Works of John Owen’, vol 10, hal 29.

 

b)      Dalam hal-hal yang bisa diubah / diperbaiki, kita tidak boleh bersikap apatis seperti seorang fatalist, tetapi kita harus berusaha semaximal mungkin, selama masih dalam batas-batas Firman Tuhan.

Calvinist bukan fatalist; yang bersikap fatalist adalah Hyper-Calvinist! Calvinist mempunyai tanggung jawab untuk melakukan yang terbaik. Memang segala sesuatu ditetapkan oleh Tuhan, tetapi:

·         Kita tidak tahu Tuhan menetapkan apa untuk masa depan.

·         Kita tidak boleh hidup sesuai dengan ketetapan Tuhan yang tidak kita ketahui itu; kita harus hidup sesuai dengan Firman Tuhan.

Ul 29:29 - “Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini”.

Charles Haddon Spurgeon: “Let the providence of God do what it may, your business is to do what you can” (= Biarlah providensia Allah melakukan apapun, urusanmu adalah melakukan apa yang kamu bisa) - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 7, hal 43.

 

Jadi, kita boleh dan bahkan harus melakukan apapun yang penting (dalam batas Firman Tuhan) untuk menjaga dan memelihara kehidupan kita, seperti:

¨       tidak keluar rumah kalau tidak perlu. Sekalipun kita tidak boleh kuatir / takut, dan sebaliknya harus percaya kepada Tuhan, tetapi itu tidak berarti bahwa kita boleh sengaja mencari bahaya dan lalu ‘beriman’ pada perlindungan dan penjagaan Tuhan. Itu bukan beriman tetapi mencobai Tuhan! Bdk. Mat 4:5-7.

¨       buat persediaan makanan di rumah (bdk. Kej 41:34-36,47-49).

¨       menyiapkan pembelaan diri kalau keadaan betul-betul sudah memaksa. Ingat bahwa kekristenan tidak menentang pembelaan diri dalam keadaan terpaksa. Jangan menggunakan Mat 5:39 untuk mengatakan bahwa orang kristen tidak boleh membela diri. Ingat bahwa ‘tampar’ dalam Mat 5:39 itu adalah serangan yang tidak membahayakan jiwa. Dalam hal itu kita tidak boleh membalas. Tetapi kalau kita mendapatkan serangan yang membahayakan jiwa, kita boleh membela diri. Kita bukan hanya harus mengasihi orang lain, tetapi juga diri kita sendiri (Mat 22:39).

¨       mengungsi / siap mengungsi kalau memang dibutuhkan (Mat 4:12  Kis 9:23-26).

 

5)      Menolong saudara seiman.

Pada waktu melihat ada orang kristen menderita, jangan berdasarkan Ro 8:28, saudara lalu berpikir: ‘Dia menderita, tetapi itu kan untuk kebaikannya. Jadi buat apa aku menolongnya?’. Ro 8:28 tidak pernah boleh digunakan dengan cara seperti itu.

Sebetulnya kita juga harus menolong orang non kristen, tetapi bagaimanapun kita harus mengutamakan / mendahulukan saudara seiman, sesuai dengan Gal 6:10 - “Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman”.

 

Kesimpulan:

 

Allah, yang adalah Gembala dan Bapa kita yang mengasihi kitalah yang menetapkan, menguasai dan mengatur segala sesuatu, dan Ia melakukan semuanya untuk kebaikan kita. Karena itu, tetaplah tenang dan percaya, dan jangan takut / kuatir pada krisis / bahaya apapun. Tetapi pada saat yang sama, tetap usahakanlah untuk melakukan hal yang terbaik, sesuai dengan firman Tuhan.

 

 

-AMIN-