kebaktian online

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)

 

Minggu, tgl 24 Mei 2020, pk 09.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

kristenisasi (2)

 

Matius 28:19-20

 

Mat 28:19-20 - “(19) Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, (20) dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.’”.

 

c)   Perintah untuk menjadikan semua bangsa murid Yesus ini, jelas merupakan suatu perintah yang ditujukan kepada semua orang Kristen untuk memberitakan Injil kepada orang-orang yang belum mengenal Kristus.

Sebetulnya perintah ini jelas mencakup kristenisasi, karena menjadikan seseorang sebagai murid Kristus jelas mencakup tindakan mengkristenkan dia.

 

Perlu diketahui bahwa istilah ‘Kristen’, relatif sangat jarang digunakan dalam Kitab Suci. Istilah ‘Kristen’ hanya muncul 3 x dalam seluruh Kitab Suci, yaitu dalam:

1.   Kis 11:26b - “Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen.”.

NIV: ‘Christians’ [= orang-orang Kristen].

2.   Kis 26:28 - “Jawab Agripa: ‘Hampir-hampir saja kauyakinkan aku menjadi orang Kristen!’”.

3.   1Pet 4:16 - “Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu.”.

 

Dalam Kitab Suci Indonesia istilah ‘Kristen’ itu muncul dalam beberapa ayat lain, tetapi sebetulnya terjemahannya salah. Ayat-ayat itu adalah:

a.   Ro 16:7 - “Salam kepada Andronikus dan Yunias, saudara-saudaraku sebangsa, yang pernah dipenjarakan bersama-sama dengan aku, yaitu orang-orang yang terpandang di antara para rasul dan yang telah menjadi Kristen sebelum aku.”.

NIV: ‘and they were in Christ before I was’ [= mereka sudah ada dalam Kristus sebelum aku].

b.   1Kor 9:5 - “Tidakkah kami mempunyai hak untuk membawa seorang isteri Kristen, dalam perjalanan kami, seperti yang dilakukan rasul-rasul lain dan saudara-saudara Tuhan dan Kefas?”.

NIV: ‘a believing wife’ [= seorang istri yang percaya].

Lit: ‘a sister, a wife’ [= seorang istri yang adalah seorang saudari].

c.   2Kor 12:2 - “Aku tahu tentang seorang Kristen; empat belas tahun yang lampau - entah di dalam tubuh, aku tidak tahu, entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya - orang itu tiba-tiba diangkat ke tingkat yang ketiga dari sorga.”.

NIV: ‘a man in Christ’ [= seorang laki-laki dalam Kristus].

 

Sekarang mari kita soroti Kis 11:26b itu sekali lagi.

Kis 11:26b - “Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen.”.

NIV: The disciples were called Christians first at Antioch [= Murid-murid disebut orang-orang Kristen pertama-kalinya di Antiokhia].

 

Barnes’ Notes: “The name was evidently given because they were the followers of Christ. But by whom, or with what views it was given, is not certainly known.” [= Nama itu jelas diberikan karena mereka adalah pengikut-pengikut Kristus. Tetapi oleh siapa, atau dengan pandangan apa nama itu diberikan, tidak diketahui dengan pasti.].

 

Dari Kis 11:26b ini kita bisa tahu bahwa:

(1) Istilah ‘Kristen’ baru dipakai setelah Yesus naik ke surga. Dan karena itu jelas tidak mungkin Yesus memberikan perintah ‘jadikanlah semua bangsa orang Kristen’.

(2) ‘murid-murid’ disebut ‘orang-orang Kristen’.

Calvin: “and what it is else to be a disciple of Christ but to be a Christian?” [= dan apakah ‘menjadi seorang murid Kristus’ selain ‘menjadi seorang Kristen’?] - hal 472.

Jadi kata-kata Yesus ‘jadikanlah semua bangsa muridKu’, tidak berbeda dengan ‘jadikanlah semua bangsa kristen / orang Kristen’.

Dengan demikian, Kristus sendiri memerintahkan kita untuk menjadikan semua bangsa orang Kristen, atau dengan kata lain, Kristus sendiri memerintahkan untuk melakukan kristenisasi!

 

Sekarang kita perhatikan text ini.

Kis 26:28-29 - “(28) Jawab Agripa: ‘Hampir-hampir saja kauyakinkan aku menjadi orang Kristen!’ (29) Kata Paulus: ‘Aku mau berdoa kepada Allah, supaya segera atau lama-kelamaan bukan hanya engkau saja, tetapi semua orang lain yang hadir di sini dan yang mendengarkan perkataanku menjadi sama seperti aku, kecuali belenggu-belenggu ini.’”.

 

Kata-kata Agripa ini menunjukkan bahwa Paulus memang bertujuan untuk menjadikan dia orang Kristen. Dengan kata lain, Paulus melakukan kristenisasi.

 

Matthew Henry: “it is an acknowledgement that Paul spoke very much to the purpose,” [= itu merupakan suatu pengakuan bahwa Paulus berbicara untuk tujuan itu,].

 

Dan hal yang perlu diperhatikan adalah: jawaban Paulus dalam Kis 26:29 sama sekali tidak menyangkal hal itu, tetapi bahkan membenarkannya dan lebih menekankannya lagi, karena ia mengatakan bahwa ia berdoa supaya bukan hanya Agripa, tetapi semua orang yang hadir saat itu, menjadi orang Kristen.

 

Wycliffe Bible Commentary: “Paul took Agrippa’s light comment seriously and replied solemnly, whether in short or at length ... he wished that all men who heard him might become Christians as he was - with the exception of the chains he was wearing because he was a Christian.” [= Paulus menganggap serius komentar ringan Agripa dan menjawab dengan khidmat, apakah segera atau lama kelamaan ... ia berharap bahwa semua orang yang mendengarnya bisa menjadi orang-orang kristen seperti dia, dengan perkecualian tentang belenggu yang ia pakai karena ia adalah seorang Kristen.].

 

2)   ‘Pergilah’.

 

a)   Untuk bisa pergi mencari jiwa, kita sendiri harus sudah datang kepada Kristus!

Bdk. Mat 4:19 yang mengatakan: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.”. Jadi, harus ikut Yesus dulu baru menjadi penjala manusia!

 

b)   Kata ‘pergi’ ini jelas menunjukkan bahwa kita tidak boleh hanya menunggu sampai orang luar mau datang ke gereja. Kita harus pergi mencari mereka!

Penerapan: pernahkah saudara betul-betul pergi dari rumah dengan tujuan khusus untuk memberitakan Injil?

 

3)   ‘Baptislah mereka dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus’.

Di atas sudah saya bahas bahwa sebetulnya perintah ‘menjadikan murid Yesus’ jelas sudah menunjukkan bahwa dalam pemberitaan Injil ada kristenisasi! Tetapi kalau itu masih kurang jelas, maka kata ‘baptislah’ ini menunjukkan secara lebih menyolok lagi.

 

Ulil Abshar-Abdalia: Konkretnya, bagaimana pandangan gereja-gereja mainstream terhadap gerakan pengabaran Injil dalam konteks keragaman agama yang sudah tak bisa ditolak itu?

 

Pdt. Kuntadi: Kalau dalam GKI, kami sering berkata begini: ‘Pekabaran Injil itu tidak sama dengan mengkristenkan orang.’ Tugas kita hanya menyiarkan, bukan melakukan proselitisme (konversi agama). Kalau sudah melakukan proselitisme, kita perlu kembali melihat kenyataan sejarah bahwa setiap kegiatan proselitisme selalu berhadapan dengan konsekuensi yang tidak bisa kita tanggung nantinya. Itulah perbedaan antara proselitisme dan pengabaran Injil. Penyiaran atau pengabaran tersebut bermakna menyiarkan kabar baik, tapi tidak memaksa dan menyudutkan orang untuk masuk ke agama kita. Sedangkan proselitisme adalah usaha untuk memindahkan orang ke agama kita. Gereja-gereja mainstream mestinya memakai istilah dialog untuk melakukan pengabaran Injil. Sebagai ketua Sinode GKI Jabar, saya mengatakan, ‘Kalau kita mempunyai kabar baik dan mau didengarkan oleh orang lain, ingatlah pesan Yesus supaya kita juga mau mendengarkan orang lain.’ Jangan cuma mau didengar, tapi tidak mau mendengar.

 

Ketika saya ingin menyiarkan Injil kepada seorang muslim, saya juga mesti bersedia mendengarkan muslim itu melakukan dakwah kepada saya. Ada mutualisme yang merupakan inti dialog. Niat saya bukan mengkristenkan orang muslim. Sebaliknya, kaum muslim mestinya juga tidak mengislamkan orang Kristen. Ada pertukaran kabar baik. Dan masing-masing bisa belajar tentang sisi-sisi positif dari pengabaran atau dakwah.

 

Kalau akhirnya terjadi perpindahan agama, biarlah itu menjadi hak asasi orang. Kalau orang pindah agama bukan dengan pikiran penuh, tapi karena manipulasi, itu hanya menurunkan kualitas agama Artinya, sekalipun kuantitasnya banyak, kualitasnya sangat menurun.

 

Catatan: kata ‘proselitisme’ saya cari dalam KBBI. Kata ‘proselit’ dikatakan berarti: Pada masa sekarang, proselit mendapat arti lain yaitu orang yang pindah agama karena tergoda keuntungan duniawi..

 

Tanggapan saya:

 

a)   Penolakan ‘mengkristenkan orang’ ini lagi-lagi merupakan omong kosong yang sesat.

Pada waktu rasul-rasul memberitakan Injil, mereka memberitakan Injil kepada orang-orang yang sudah beragama (agama Yahudi / Yudaisme). Dan pada waktu orang-orang itu bertobat, mereka membaptis orang-orang itu, misalnya 3000 orang pada hari Pentakosta, dan itu berarti melakukan kristenisasi!

 

Kis 2:38 - “Jawab Petrus kepada mereka: ‘Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.”.

 

Kis 2:41-42 - “(41) Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. (42) Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.”.

 

Pemberitaan Injil, kalau itu diterima oleh orang yang diinjili, harus dilanjutkan dengan baptisan / kristenisasi. Memang bukan saudara sendiri yang membaptis, tetapi saudara mendorong orang itu untuk mau menyerahkan diri dibaptis.

 

Dan dalam tulisan Pdt. Budyanto di atas (khotbah minggu lalu), dikatakan olehnya bahwa:

 

1.   baptis dalam Alkitab tidak dihubungkan dengan gereja’.

Tetapi dari Kis 2:41-42 di atas dikatakan bahwa ‘orang-orang yang memberi diri dibaptis itu lalu bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.’. Apakah ini kalau bukan masuk ke dalam gereja / menjadi orang Kristen?

 

2.   Ia tidak setuju dengan kristenisasi, tetapi setuju dengan Kristusisasi!

Ini lucu dan bodoh. Kristenisasi berarti menjadikan Kristen, lalu Kristusisasi berarti apa? Menjadikan Kristus?

 

b)        Kristenisasi yang salah.

Memang ada kristenisasi yang salah, yaitu yang tidak didahului oleh penginjilan. Ini sering dilakukan oleh orang-orang Pentakosta / Kharismatik yang asal mendorong orang untuk masuk gereja dan dibaptis, tidak peduli orangnya sudah mengerti dan percaya Injil atau tidak. Ini tentu salah.

 

Jadi, apakah saya / kita mendukung ‘kristenisasi’ atau tidak, tergantung dari definisi kata itu!

 

4)   ‘Ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu’.

 

a)   Kita disuruh ‘mengajar melakukan perintah Kristus’ atau ‘mengajarkan perintah Kristus’?

Pdt. Dr. Budyanto di atas mengatakan Adapun menjadi murid Kristus itu berarti ‘mengajar melakukan apa yang diperintahkan oleh Kristus, bukan mengajar perintah Kristus, tetapi mengajar melakukan’”.

 

Ini luar biasa bodohnya! Bagaimana mungkin kita ‘mengajar melakukan perintah Kristus’ tanpa lebih dulu ‘mengajarkan perintah Kristus’?

 

b)   Kita disuruh mengajar orang agama lain, bukan belajar dari mereka, atau saling belajar.

Kalau dalam agama lain tidak ada keselamatan, kabar baik apa yang bisa ada dalam agama mereka? Jadi kata-kata Pdt. Kuntadi tadi, jelas merupakan suatu omong kosong.

 

Ia juga mengatakan bahwa “‘Kalau kita mempunyai kabar baik dan mau didengarkan oleh orang lain, ingatlah pesan Yesus supaya kita juga mau mendengarkan orang lain.’ Jangan cuma mau didengar, tapi tidak mau mendengar.”.

 

Ini lucu, karena Yesus tidak pernah mengatakan kata-kata seperti itu, dan Kitab Suci justru melarang kita mendengar ‘orang lain’!

 

1.   Yoh 10:5,8 - “(5) Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka lari dari padanya, karena suara orang-orang asing tidak mereka kenal.’ ... (8) Semua orang yang datang sebelum Aku, adalah pencuri dan perampok, dan domba-domba itu tidak mendengarkan mereka.”.

 

2.   Ul 13:3,8 - “(3) maka janganlah engkau mendengarkan perkataan nabi atau pemimpi itu; sebab TUHAN, Allahmu, mencoba kamu untuk mengetahui, apakah kamu sungguh-sungguh mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu. ... (8) maka janganlah engkau mengalah kepadanya dan janganlah mendengarkan dia. Janganlah engkau merasa sayang kepadanya, janganlah mengasihani dia dan janganlah menutupi salahnya.”.

 

3.   1Yoh 4:1-6 - “(1) Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia. (2) Demikianlah kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah, (3) dan setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar, bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia. (4) Kamu berasal dari Allah, anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu; sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia. (5) Mereka berasal dari dunia; sebab itu mereka berbicara tentang hal-hal duniawi dan dunia mendengarkan mereka. (6) Kami berasal dari Allah: barangsiapa mengenal Allah, ia mendengarkan kami; barangsiapa tidak berasal dari Allah, ia tidak mendengarkan kami. Itulah tandanya Roh kebenaran dan roh yang menyesatkan.”.

 

Calvin: “he therefore forbids them to hear those who denied that the Son of God appeared in the flesh.” [= karena itu ia melarang mereka untuk mendengar mereka yang menyangkal bahwa Anak Allah muncul / tampil dalam daging.] - hal 228.

 

c)   Memang bukan berarti kalau kita memberitakan Injil kita tak boleh mendengar orang itu sama sekali, karena kalau demikian, ia juga tak akan mau mendengar kita. Kita boleh mendengar dia, tetapi itu bukan tujuan kita. Itu cuma taktik / strategi, supaya ia mau mendengar kita! Tujuan kita: kita mengajar dia, dan dia mendengar kita!

 

Kesimpulan: Dari Mat 28:19-20a kita mendapatkan bahwa kita memang diperintahkan untuk melakukan kristenisasi (selama itu dalam arti yang positif).

 

Berapa banyak / sering saudara memberitakan Injil? Apakah saudara mendukung gereja-gereja / pendeta-pendeta / badan-badan / organisasi-organisasi yang memberitakan Injil? Bisa dengan doa, bisa dengan uang, bisa dengan ikut menyebarkan kegiatan mereka, bisa juga dengan betul-betul bergabung dengan mereka dalam kegiatan mereka!

 

Gereja yang tidak memberitakan Injil, bukan gereja! Pendeta yang sama sekali tidak memberitakan Injil, adalah nabi palsu! Orang Kristen yang sama sekali tidak memberitakan Injil, hanyalah orang kristen KTP!

 

II) Konflik dan penyertaan Tuhan.

 

1)   Kalau kita taat pada perintah untuk memberitakan Injil ini, pasti akan ada konflik.

Jangan berharap kalau saudara memberitakan Injil, lalu seluruh dunia menerima saudara dan memuji / berterima kasih kepada saudara. Memang akan ada orang-orang yang percaya, tetapi pasti ada yang menolak, membenci, bahkan mungkin menganiaya dan membunuh saudara. Dengan kata lain, pasti terjadi konflik.

 

Pdt. Kuntadi: apakah penyiaran Injil yang kalau diterjemahkan berarti kabar baik akan betul-betul bisa tersalur sebagai kabar baik atau justru menjadi kabar buruk ketika menjadi konflik?

 

a)   Apa yang dikatakan oleh Pdt. Kuntadi ini merupakan penghujatan.

Yesus sendiri datang untuk memberitakan Injil (Mark 1:38), dan Ia sendiri sering mengalami konflik. Jadi Ia memberitakan kabar buruk?

 

b)   Ini juga merupakan penghinaan terhadap rasul-rasul dan orang-orang kristen sepanjang jaman, yang dalam memberitakan Injil pasti akan mengalami konflik. Apakah semua orang-orang ini adalah pemberita kabar buruk?

 

Bdk. Kis 24:5 - “Telah nyata kepada kami, bahwa orang ini adalah penyakit sampar, seorang yang menimbulkan kekacauan di antara semua orang Yahudi di seluruh dunia yang beradab, dan bahwa ia adalah seorang tokoh dari sekte orang Nasrani”.

 

NIV: ‘We have found this man to be a troublemaker, stirring up riots among the Jews all over the world. He is a ringleader of the Nazarene sect [= Kami mendapati orang ini sebagai seorang pembuat kekacauan, menimbulkan huru hara di antara orang-orang Yahudi di seluruh dunia. Ia adalah seorang tokoh dari sekte Nasrani].

 

Kemanapun Paulus pergi, selalu timbul huru-hara sehingga ia disebut ‘a trouble maker’ [= seorang pembuat keributan / pengacau] dalam Kis 24:5! Tetapi apakah terjadinya huru hara ini merupakan kesalahan Paulus? Tentu saja tidak! Yesus sendiri sudah berkata bahwa Ia datang bukan membawa damai tetapi membawa pedang (Mat 10:34).

 

Mat 10:34-36 - “(34) ‘Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. (35) Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, (36) dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.”.

 

Karena itu dimanapun Injil diberitakan, bisa saja terjadi kekacauan. Tetapi ini adalah kesalahan dari orang-orang yang menolak Injil itu, bukan kesalahan pemberita Injilnya!

 

c)   Kata-kata Pdt. Kuntadi di atas menunjukkan bahwa apakah itu merupakan kabar baik atau kabar buruk, tergantung dari tanggapan para pendengarnya. Jadi itu menjadi sesuatu yang subyektif. Padahal Firman Tuhan / Injil merupakan sesuatu yang obyektif. Apakah didengar atau tidak, dimengerti atau tidak, dihargai atau tidak, diterima atau tidak, dipuji atau diejek, itu tetap adalah Firman Tuhan / Injil.

 

Mari kita membandingkan dengan beberapa ayat di bawah ini:

 

1.   Mark 8:35 - “Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya.”.

 

Ayat ini bicara tentang orang yang kehilangan nyawanya karena Yesus dan karena Injil. Berarti pada waktu ia memberitakan Injil terjadi konflik, dan ia dibunuh. Tetapi ayat ini tetap menyebut ‘Injil’, yaitu ‘kabar baik’ bukan ‘kabar buruk’.

 

2.   Kis 5:40-42 - “(40) Mereka memanggil rasul-rasul itu, lalu menyesah mereka dan melarang mereka mengajar dalam nama Yesus. Sesudah itu mereka dilepaskan. (41) Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus. (42) Dan setiap hari mereka melanjutkan pengajaran mereka di Bait Allah dan di rumah-rumah orang dan memberitakan Injil tentang Yesus yang adalah Mesias.”.

 

Baru terjadi konflik dimana Petrus dan Yohanes ditangkap, lalu dalam ay 40 mereka disesah dan dilarang mengajar dalam nama Yesus, tetapi dalam ay 42 dikatakan bahwa mereka ‘memberitakan Injil’. Mengapa tetap disebut ‘Injil’, yaitu ‘kabar baik’ dan bukan ‘kabar buruk’? Hal yang sama terjadi dengan text di bawah ini.

 

3.   Kis 11:19-20 - “(19) Sementara itu banyak saudara-saudara telah tersebar karena penganiayaan yang timbul sesudah Stefanus dihukum mati. Mereka tersebar sampai ke Fenisia, Siprus dan Antiokhia; namun mereka memberitakan Injil kepada orang Yahudi saja. (20) Akan tetapi di antara mereka ada beberapa orang Siprus dan orang Kirene yang tiba di Antiokhia dan berkata-kata juga kepada orang-orang Yunani dan memberitakan Injil, bahwa Yesus adalah Tuhan.”.

 

4.   Kis 14:5-7 - “(5) Maka mulailah orang-orang yang tidak mengenal Allah dan orang-orang Yahudi bersama-sama dengan pemimpin-pemimpin mereka menimbulkan suatu gerakan untuk menyiksa dan melempari kedua rasul itu dengan batu. (6) Setelah rasul-rasul itu mengetahuinya, menyingkirlah mereka ke kota-kota di Likaonia, yaitu Listra dan Derbe dan daerah sekitarnya. (7) Di situ mereka memberitakan Injil.”.

 

5.   2Tim 2:9 - Karena pemberitaan Injil inilah aku menderita, malah dibelenggu seperti seorang penjahat, tetapi firman Allah tidak terbelenggu.”.

 

Ayat ini jelas menunjukkan suatu konflik. Paulus dipenjara dan dibelenggu karena memberitakan Injil, tetapi ia tetap menyebutnya sebagai ‘Injil’, yaitu ‘kabar baik’, bukan ‘kabar buruk’.

 

6.   2Kor 2:14-16a - “(14) Tetapi syukur bagi Allah, yang dalam Kristus selalu membawa kami di jalan kemenanganNya. Dengan perantaraan kami Ia menyebarkan keharuman pengenalan akan Dia di mana-mana. (15) Sebab bagi Allah kami adalah bau yang harum dari Kristus di tengah-tengah mereka yang diselamatkan dan di antara mereka yang (sedang) binasa. (16a) Bagi yang terakhir kami adalah bau kematian yang mematikan dan bagi yang pertama bau kehidupan yang menghidupkan.”.

 

Text ini menunjukkan bahwa bagi orang-orang yang sedang binasa / sedang menuju kebinasaan, Paulus dan pemberitaannya adalah bau kematian yang mematikan (ay 16a), dan ini yang menyebabkan mereka menimbulkan konflik. Tetapi bagi Allah Paulus dan pemberitaannya selalu adalah bau harum (ay 15).

 

Calvin: “they have the name of odour, not as if they emitted any fragrance of themselves, but because the doctrine which they bring is odoriferous, so that it can imbue the whole world with its delectable fragrance. ... this commendation is applicable to all the ministers of the gospel, because wherever there is a pure and unvarnished proclamation of the gospel, there will be found there the influence of that odour, of which Paul here speaks. ... faithful and upright ministers of the gospel have a sweet odour before God, not merely when they quicken souls by a wholesome savour, but also, when they bring destruction to unbelievers. Hence the gospel ought not to be less esteemed on that account. ‘Both odours,’ says he, ‘are grateful to God - that by which the elect are refreshed unto salvation, and that from which the wicked receive a deadly shock.’ Here we have a remarkable passage, by which we are taught, that, whatever may be the issue of our preaching, it is, notwithstanding, well-pleasing to God, if the Gospel is preached, and our service will be acceptable to him; and also, that it does not detract in any degree from the dignity of the Gospel, that it does not do good to all; for God is glorified even in this, that the Gospel becomes an occasion of ruin to the wicked, nay, it must turn out so.” [= mereka mendapat nama ‘bau (harum)’, bukan seakan-akan mereka memancarkan bau wangi dari diri mereka sendiri, tetapi karena doktrin / ajaran yang mereka bawa berbau harum, sehingga itu bisa memenuhi seluruh dunia dengan bau harumnya yang enak. ... pujian ini dapat diterapkan kepada semua pelayan-pelayan dari injil, karena dimanapun ada proklamasi injil yang murni dan sebenarnya, akan ditemukan di sana pengaruh dari bau tersebut, tentang mana Paulus di sini berbicara. ... pelayan-pelayan injil yang setia dan tulus / jujur mempunyai bau harum di hadapan Allah, bukan hanya pada waktu mereka menghidupkan jiwa-jiwa oleh bau yang sehat, tetapi juga, pada waktu mereka membawa kehancuran kepada orang-orang yang tidak percaya. Karena itu injil tidak boleh dinilai lebih rendah karena hal itu. ‘Kedua bau’, katanya, ‘menyenangkan bagi Allah - bau dengan mana orang-orang pilihan disegarkan kepada keselamatan, dan bau dari mana orang-orang jahat menerima suatu kejutan yang mematikan’. Di sini kita mempunyai suatu text yang hebat / luar biasa, oleh mana kita diajar bahwa bagaimanapun hasil dari pemberitaan kita, itu tetap menyenangkan bagi Allah, jika Injil diberitakan, dan pelayanan kita akan berkenan kepadaNya; dan juga, bahwa itu sama sekali tidak mengurangi kewibawaan dari Injil, bahwa itu tidak membawa kebaikan bagi semua; karena Allah dimuliakan bahkan dalam hal ini, dimana Injil menjadi penyebab dari kehancuran bagi orang-orang jahat, tidak, itu harus berakhir demikian.] - hal 159-160.

 

2)   Janji penyertaan Tuhan Yesus (ay 20b).

Ay 20b: “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.’”.

 

Perintah untuk memberitakan Injil dalam ay 19-20a memang berat, tetapi Tuhan berjanji untuk menyertai orang yang mau mentaati perintah itu!

 

Penerapan: kalau saudara mau untuk memberitakan Injil, saudara harus menyadari bahwa akan ada serangan setan bagi saudara. Tetapi jangan takut, karena Tuhan Yesus beserta dengan saudara, dan karena itu, sekalipun ada konflik, teruslah memberitakan Injil!

 

 

-AMIN-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

buas22@yahoo.com

http://golgothaministry.org

Email : golgotha_ministry0@yahoo.com