kebaktian online

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)

 

Minggu, tgl 17 Mei 2020, pk 09.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

kristenisasi (1)

 

Matius 28:19-20

 

Mat 28:19-20 - “(19) Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, (20) dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.’”.

 

I) Perintah Yesus untuk memberitakan Injil.

 

Mungkin saudara sudah sering mendengar ayat ini dikhotbahkan, tetapi hari ini saya akan mengkhotbahkannya dengan suatu latar belakang yang sangat berbeda.

 

Dalam Koran Jawa Pos, tanggal 27 Juli 2003, hal 4, ada suatu wawancara antara seorang Islam (mungkin wartawan) dengan Pdt. Kuntadi, ketua Sinode GKI Jabar. Pendeta ini diwawancarai berkenaan dengan artikel dalam majalah Time tanggal 30 Juni 2003, dengan topik ‘Should Christians Convert Muslims?’ [= Haruskah orang-orang Kristen mempertobatkan orang-orang Islam?], yang mengatakan bahwa saat ini di Amerika, orang-orang kristen yang mau memberitakan Injil ke negara-negara Islam, khususnya di Timur Tengah, meningkat dengan tajam.

 

Hebatnya, pendeta ini mengatakan bahwa ia tidak setuju dengan penginjilan! Dengan adanya perintah Yesus seperti ini dalam Mat 28:19-20, pendeta ini bisa berkata demikian!

 

1)   ‘Jadikanlah semua bangsa muridKu’.

 

a)   Dalam bahasa Yunaninya, ‘jadikan murid’ adalah satu-satunya kata perintah dalam bagian ini. Sedangkan kata-kata ‘pergilah’, ‘baptislah’, dan ‘ajarlah’ merupakan participles (kalau diterje­mahkan ke bahasa Inggris menjadi ‘kata kerja + ing’, yaitu: going, baptizing, teaching).

Ini menunjukkan bahwa penekanan utama dari bagian ini adalah perintah untuk ‘menjadikan murid Yesus’. Sedangkan ‘pergi’, ‘membaptis’ dan ‘mengajar’ adalah hal-hal yang harus dilakukan untuk bisa menjadikan murid.

 

b)   Ini juga secara implicit menunjukkan bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya jalan ke surga, karena kalau tidak mengapa Yesus menyuruh menjadikan semua bangsa muridNya?

 

Jawa Pos: Agenda agama-agama propagandis-misionaris sering ditentukan oleh seberapa besar kesuksesan mereka yang dicatat dalam mengkonversi agama orang lain. Paradigma yang diusung tak pernah beranjak dari konsepsi lama bahwa ‘tak ada keselamatan di luar Kristus’. Doktrin kuno yang sudah ditanggalkan banyak kalangan Kristen mainstream itu ...

Ulil Abshar-Abdalia: Bagaimana sikap kalangan Kristen mainstream terhadap gerakan evangelisme?

Pdt. Kuntadi: Hal tersebut tidak selalu bisa diungkapkan secara gamblang. Kebanyakan, Kristen mainstream tidak setuju terhadap cara-cara, paradigma, dan konsep yang dipakai oleh gerakan-gerakan pengabaran atau penyiaran Injil ini. Sikap itu tidak berarti bahwa kita meninggalkan apa yang diembankan dalam agama Kristen sebagai misi penyiaran. Hanya, kita merasa perlu memperbaiki metodologi, paradigma, dan pendekatan kita, sehingga aktivitas tersebut tidak menjadi sumber konflik baru pada abad ke-21 ini.

 

Tanggapan saya:

 

1.   Kepercayaan terhadap Yesus sebagai satu-satunya jalan keselamatan berhubungan erat dengan pemberitaan Injil. Kalau kita mempercayai Yesus sebagai satu-satunya jalan keselamatan, maka itu mendorong kita untuk memberitakan Injil. Tetapi sebaliknya, kalau kita tidak mempercayai hal itu, tidak mungkin kita memberitakan Injil. Jadi, adalah omong kosong kalau seseorang tidak mempercayai Yesus sebagai satu-satunya jalan keselamatan, tetapi ia tetap mau dan bisa menjalankan Amanat Agung Tuhan Yesus.

Illustrasi: kalau ruko ini terbakar, dan hanya ada satu jalan, maka saya akan dorong semua untuk ikut saya lewat jalan itu. Tetapi kalau saya tahu ada banyak jalan, saya akan biarkan semua orang memilih jalannya sendiri-sendiri.

 

2.   Ajaran bahwa ‘di luar Kristus tidak ada keselamatan’ dikatakan sebagai ‘konsepsi lama’, ‘doktrin kuno’, dan ‘sudah ditanggalkan’.

Ini menunjukkan bahwa dalam pemikiran Pdt. Kuntadi yang sesat ini, Injil / ajaran Kitab Suci bisa berubah-ubah. Ajaran yang lama menjadi ketinggalan jaman dan harus dibuang, lalu muncul yang ajaran baru, dan sebagainya.

Ini jelas bodoh, karena menunjukkan bahwa Firman Tuhan menjadi suatu kebenaran yang relatif, dan itu juga berarti bahwa apa yang sekarang ia percayai bisa saja suatu saat kelak menjadi ajaran kuno dan harus ditinggalkan dan diganti dengan yang baru lagi.

Pengertian sesat seperti ini bertentangan dengan:

a.   Yes 40:8 - “Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya.’”.

b.   Mat 24:35 - “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataanKu tidak akan berlalu.”.

c.   Maz 119:152,160 - “(152) Sejak dahulu aku tahu dari peringatan-peringatanMu, bahwa Engkau telah menetapkannya untuk selama-lamanya. ... (160) Dasar firmanMu adalah kebenaran dan segala hukum-hukumMu yang adil adalah untuk selama-lamanya.”.

d.   Wah 14:6 - “Dan aku melihat seorang malaikat lain terbang di tengah-tengah langit dan padanya ada Injil yang kekal untuk diberitakannya kepada mereka yang diam di atas bumi dan kepada semua bangsa dan suku dan bahasa dan kaum,”.

 

3.   Hal lain yang ingin saya tekankan dalam persoalan ini adalah: kepercayaan terhadap Yesus sebagai satu-satunya jalan keselamatan merupakan suatu keyakinan, bukan kesombongan. Bandingkan ini dengan cara Pdt. Kuntadi ini menyatakannya.

 

Pdt. Kuntadi: Yang paling mendasar, mereka masih menganut pemikiran-pemikiran para orientalis zaman dulu yang melihat agama lain sebagai agama yang lebih rendah derajatnya dan kurang berharga. Pandangan seperti itulah yang dalam sejarah Kristianitas disebut sebagai Triumphalistik, selalu merasa lebih dan unggul dari pada yang lain. Nah, pandangan itu tentu akan sangat mempengaruhi ‘metodologi’ pekabaran Injil mereka. Misalnya, ketika melakukan pelayanan atau penyiaran, paradigma seperti itu akan menimbulkan anggapan bahwa kebenaran dan keselamatan hanya milik mereka (truth claim). Sementara itu, yang di luar mereka dianggap salah dan tidak mengerti apa-apa.

 

Tanggapan saya:

a.   Harus saya akui bahwa saya mempunyai pandangan bahwa agama Kristen adalah yang terbaik, yang paling benar, dan satu-satunya yang bisa menyelamatkan. Kalau saya tidak menganggap agama saya paling benar, mengapa gerangan saya menganutnya?

b.   Dalam agama lain ada kebenaran, tetapi tidak ada keselamatan.

Saya tidak menganggap bahwa kebenaran itu terdapat hanya dalam Kristen. Dalam agama lain ada kebenaran, misalnya kalau mereka mengajar bahwa dusta, zinah dsb, merupakan dosa, maka itu adalah kebenaran. Tetapi memang dalam agama-agama lain tidak ada keselamatan, karena mereka menolak Kristus, yang adalah satu-satunya jalan keselamatan.

c.   Kalau saya merasa agama Kristen sebagai yang paling benar dan satu-satunya yang memang mempunyai keselamatan, maka itu merupakan iman / keyakinan, bukan suatu kesombongan. Tetapi Pdt. Kuntadi yang sesat ini secara memfitnah menggambarkan hal itu sedemikian rupa sehingga hal itu terlihat sebagai suatu kesombongan, bukan sebagai suatu iman / keyakinan.

 

4.   Ajaran bahwa Kristus adalah satu-satunya jalan ke surga harus diterima dan dipertahankan karena:

 

a.         Kitab Suci mengajar demikian.

 

(1) Yoh 14:6 - “Kata Yesus kepadanya: ‘Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”.

 

Ayat ini hanya mempunyai 3 kemungkinan:

 

(a) Kitab Sucinya salah / ngawur. Yesus tidak pernah mengatakan pernyataan ini, tetapi Kitab Suci mencatat seolah-olah Yesus mengatakan pernyataan ini.

 

(b) Kitab Sucinya betul; Yesus memang pernah mengucapkan pernyataan ini. Tetapi Yesusnya berdusta, karena Ia menyatakan diri sebagai satu-satunya jalan kepada Bapa padahal sebetulnya tidak demikian.

 

(c)  Kitab Sucinya betul, dan Yesusnya tidak berdusta, sehingga Ia memang adalah satu-satunya jalan kepada Bapa / ke surga.

 

Renungkan: yang mana dari 3 kemungkinan ini yang saudara terima? Kalau saudara menerima yang pertama atau yang kedua, sebaiknya saudara pindah agama saja, karena apa gunanya menjadi Kristen tetapi mempercayai bahwa Kitab Sucinya salah / ngawur, atau Tuhannya pendusta?

 

Pdt. Dr. Budyanto, Pendeta GKJW dan Dekan Fakultas Teologi Universitas Duta Wacana, Yogyakarta, menulis dalam Majalah DUTA terbitan GKJW, bulan April 2000, hal 8-9, suatu artikel yang berjudul ‘Pemikiran ulang Amanah Agung Yesus Kristus (Mat 28:19-20)’. Bunyinya adalah sebagai berikut:

 

“Amanat Agung Yesus Kristus ini biasanya dipahami sebagai perintah untuk mengabarkan Injil, dalam arti sempit mengkristenkan umat lain, bahkan lebih sempit lagi menjadikan orang lain menjadi warga gereja tertentu. Pandangan ini biasanya disertai dengan keyakinan, bahwa keselamatan hanya ada dalam Yesus Kristus dan di luar Yesus Kristus manusia akan binasa, seperti yang terdapat dalam Yohanes 14:6: ‘Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak seorang pun datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku’. Dua ayat inilah yang membuat gereja sangat bersikap eksklusif dan merasa diri sebagai umat pilihan Allah. Yang lebih benar, lebih baik dari umat lain. Pemahaman ini akan membuat gereja kesulitan dalam menjalankan tugas panggilannya di dunia ini. Karena itu dua ayat ini perlu mendapat penjelasan ulang.

 

Pertama, Matius 28:19-20: ‘Pergilah, jadikan semua bangsa murid-Ku dan baptiskanlah mereka dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang Kuperintahkan kepadamu.’ Kata ‘baptiskanlah mereka’ selama ini dipahami sebagai tanda bahwa seseorang menjadi orang Kristen atau menjadi anggota gereja tertentu. Padahal baptis dalam Alkitab tidak dihubungkan dengan gereja, tetapi dihubungkan dengan kematian dan kebangkitan Kristus, sebagai simbol seseorang dipersekutukan dengan kematian dan kebangkitan Kristus (Rm. 6:3,4; Kol. 2:12), sebagai simbol pembebasan dari dosa dan dilibatkannya manusia dalam hadirnya kerajaan Allah dalam diri Kristus, yang mendatangkan syalom. Itulah sebabnya perkataan ini dihubungkan dengan menjadi murid Kristus. Adapun menjadi murid Kristus itu berarti ‘mengajar melakukan apa yang diperintahkan oleh Kristus, bukan mengajar perintah Kristus, tetapi mengajar melakukan’.

 

Karena itu penulis setuju dengan pendapat Moltmann yang mengatakan, misi Kristen itu tidak lagi dipahami sebagai membaptiskan dan mengumpulkan orang sebanyak-banyaknya menjadi warga gereja serta mendirikan gereja dimana-mana. Itu adalah misi kuantitatif, yang lebih penting adalah misi yang kualitatif, yaitu menulari manusia apa pun agamanya, dengan roh pengharapan, kasih dan tanggung jawab kepada dunia dengan segala macam persoalannya. Agama harus mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mengatasi masalah manusia saat ini yaitu: kelaparan, dominasi satu kelas terhadap kelas lain, imperialisme ideologi, perang atom dan perusakan terhadap lingkungan hidup dan sebagainya.

 

Kedua, Yohanes 14:6: Kata Yesus kepadanya: ‘Akulah jalan dan kebenaran dan hidup, tidak seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.’ Ayat inilah yang sering dipakai oleh kelompok Kristen eksklusif sebagai dasar pemutlakan Yesus, bahkan pemutlakan agama Kristen, bahwa tidak ada jalan lain menuju Bapa kalau tidak lewat Yesus Kristus atau bahkan kalau tidak lewat gereja. Sedangkan kelompok pluralis cenderung melupakan dan tidak menyinggung-nyinggung ayat ini, karena ayat ini sukar dipahami dalam konteks pluralisme agama-agama. Secara eksklusif William Barclay menafsirkan ayat ini sebagai berikut: Memang banyak orang yang mengajar tentang jalan yang harus ditempuh, tetapi hanya Yesuslah jalan itu dan di luar Dia manusia akan tersesat. Banyak orang yang berbicara tentang kebenaran, tetapi hanya Yesuslah yang dapat mengatakan ‘Akulah kebenaran’ itu. Orang lain mengajarkan tentang jalan kehidupan, tetapi hanya dalam Yesus orang menemukan kehidupan itu. Karena itu hanya Dia saja yang dapat membawa manusia kepada Tuhan.

 

Tafsiran Barclay ini bertolak belakang dengan hakikat gereja sebagai umat Allah, yang sejajar dengan umat-umat lain dan bertolak belakang dengan semangat pluralisme agama-agama. Mungkin lebih cocok dengan tafsiran Samartha yang mengatakan bahwa dalam agama Kristen, Yesus Kristus memang Juru Selamat namun orang Kristen tidak dapat mengklaim bahwa juru selamat hanya Yesus Kristus. Demikian pula Yesus adalah jalan, tetapi jalan itu bukan hanya Yesus, seperti yang dikatakan Kenneth Cracknell bahwa di luar agama Kristen-pun dikenal banyak jalan menuju keselamatan.

 

Dalam agama Yahudi dikenal istilah Halakhah, yang secara hurufiah artinya berjalan. Kata ini merupakan istilah teknis dalam pengajaran agama Yahudi yang berhubungan dengan semua materi hukum dan tatanan hidup sehari-hari. Istilah ini diambil dari Keluaran 18:20: ‘Kemudian haruslah engkau mengajarkan kepada mereka ketetapan-ketetapan dan keputusan-keputusan yang memberitahukan kepada mereka jalan yang harus mereka jalani dan pekerjaan yang harus mereka lakukan’. Dalam agama Islam konsep jalan itu terdapat dalam Sura 1:5-7: ‘... Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan. Pimpinlah kami ke jalan yang lurus (yaitu), jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka ...’

 

Dalam agama Hindu juga dikenal adanya jalan menuju mokhsa, menuju kelepasan dari kelahiran kembali, menuju keselamatan, yaitu Jnana marga atau jalan pengetahuan, Karma marga atau jalan perbuatan baik, serta Bhakti marga yaitu jalan kesetiaan atau ibadah. Sedangkan dalam agama Budha dikenal Dhama pada, jalan kebenaran menuju nirwana.

 

Lalu bagaimana hubungan jalan-jalan ini dengan Kristus yang adalah jalan? Pemahaman ini bisa ditarik ke paradigma inklusif, artinya ada banyak jalan kecil-kecil (path), tetapi hanya satu jalan besar (way) yaitu jalan Kristus. Atau, ditarik ke paradigma pluralis indiferen, artinya banyak jalan, termasuk jalan Kristus, tetapi hanya ada satu tujuan yaitu Allah. Kalau kita memilih yang pertama, memang tidak cocok dengan semangat pluralisme agama-agama, tetapi lebih sesuai dengan teks Yohanes 14:6

 

Ada banyak jalan tetapi hanya ada satu jalan yang menuju Bapa, yaitu jalan Kristus. Kalau memilih alternatif kedua, hal itu sesuai dengan semangat pluralisme, tetapi persoalan tentang ‘Tidak seorang sampai kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku’ tidak terpecahkan. Dengan memilih alternatif kedua, berarti menempatkan Yesus sebagai jalan (cara) untuk mencapai suatu tujuan. Padahal menurut banyak penafsir Yesus itu bukan jalan (cara) untuk mencapai tujuan, tetapi Ia sendiri jalan sekaligus tujuan. Dalam teks dikatakan ‘Aku adalah ... (tiga kata berikutnya mempunyai kedudukan yang sejajar) jalan, kebenaran dan hidup’. Bukan Aku jalan menuju kebenaran dan menuju hidup, juga bukan Aku jalan kebenaran dan jalan hidup.

 

Penulis setuju bahwa di luar agama Kristen ada jalan (minhaj, marga, dhama pada), ada jalan kebenaran, ada keselamatan, tetapi tidak berarti bahwa semua jalan itu sama saja, sehingga semua agama sama saja. Juga tidak berarti bahwa jalan Yesus itu jalan yang luar biasa, sedangkan jalan yang lain jalan biasa.

 

Lalu persoalannya adalah bagaimana kalimat ‘Tidak seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku’ harus ditafsirkan? Konteks ayat ini adalah: ketika itu Tuhan Yesus berkata kepada para murid-Nya, Ia pergi untuk menyediakan tempat bagi murid-murid-Nya, kemudian Ia akan kembali menjemput mereka, supaya di mana Yesus berada, murid-murid juga berada di sana (Yohanes 14:3). Kemudian Thomas berkata, ‘Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi, jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?’. Dengan perkataan itu Thomas ingin tahu jalannya supaya bisa sampai ke tempat itu dengan cara dan kekuatannya sendiri. Kemudian Tuhan Yesus menjawab, ‘Akulah jalan dan kebenaran dan hidup, tidak seorangpun datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku’. Yang dimaksud Tuhan Yesus dengan perkataan itu adalah Thomas tidak dapat datang ke tempat itu dengan usaha dan kekuatannya sendiri. Kalau toh ia bisa datang di tempat itu karena Tuhan Yesus yang membawa dia (Bdk. ay. 3 yang berkata: ‘Aku akan datang kembali membawa kamu’). Dengan kata lain, kalau Thomas bisa datang di tempat itu, semua itu semata-mata hanya karena anugerah Allah yang nyata dalam kehadiran Yesus Kristus.

 

Jadi persoalannya bukan di luar Kristus tidak ada jalan, tetapi bagi umat Kristen kita bisa sampai ke tempat di mana Kristus berada, itu semata-mata karena anugerah Allah. Inilah yang membedakan jalan yang ditempuh umat Kristen dan jalan-jalan lainnya. Di sana bukan tidak ada jalan, di sana juga ada jalan, jalan di sana bukan kurang baik, sedangkan di sini lebih baik, tetapi memang jalan itu berbeda. Dengan demikian pemutlakan orang Kristen terhadap Yesusnya, tidak harus membuat orang Kristen menjadi eksklusif, atau menyamakan saja semua agama. Kita yakin seyakin-yakinnya bahwa hanya Yesus Kristuslah yang membawa kita kepada keselamatan, tetapi kita juga tidak harus mengatakan di sana, dalam agama-agama lain, sama sekali hanya ada kegelapan dan kesesatan. Kalau kita sendiri tidak rela orang menganggap dalam kekristenan hanya ada kegelapan dan kesesatan, mengapa hal yang sama kita tujukan kepada orang lain.

 

Apakah pandangan ini tidak memperlemah semangat pekabaran Injil? Tidak, hanya harus ada orientasi baru tentang Pekabaran Injil. Pekabaran Injil harus dipahami seperti pemahaman Yesus Kristus sendiri: ‘Roh Tuhan ada padaKu, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku untuk menyampaikan kabar baik (mengabarkan Injil) kepada orang-orang miskin, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang’ (Luk. 4:18,19).

 

Memberitakan Injil tidak lagi dipahami sebagai kristenisasi, tetapi kristusisasi. Menambah jumlah orang-orang yang diselamatkan dan menjadi anggota gereja bukan tujuan pekabaran Injil, tetapi sebagai akibat atau buah pekabaran Injil: ‘Mereka disukai semua orang dan setiap hari Tuhan menambahkan dengan orang-orang yang diselamatkan’ (Kis. 2:46). Buah pekabaran Injil ini mungkin tidak segera kita nikmati dalam kehadiran mereka di gereja, tetapi mungkin pada waktu dan di tempat lain.

 

Apakah pemahaman pekabaran Injil ini tidak sama saja dengan pemahaman sebelumnya? Tidak, pada pola pemahaman yang pertama mengesampingkan sikap toleransi yang karenanya dapat menimbulkan kecurigaan bahkan konflik sosial. Sering kekristenan mereka yang ‘bertobat’ lebih bersifat emosional. Sedangkan pola pekabaran Injil kedua, sangat bersifat tenggang rasa, toleran dan bahkan mungkin pekabaran Injil bisa dilakukan dengan kerja sama antar agama. Kalau akhirnya ada yang menjadi anggota gereja, kekristenan mereka tidak bersifat emosional, tetapi dengan kesadaran penuh..

 

(2) Kis 4:12 - “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.”.

 

(3) 1Yoh 5:11-12 - “(11) Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam AnakNya. (12) Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup.”.

 

(4) 1Tim 2:5 - “Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus.”.

 

Hanya orang sesat yang tidak menghargai otoritas Kitab Suci dan yang ingin memutarbalikkan Kitab Suci yang bisa menafsirkan bahwa ayat-ayat ini tidak menunjukkan Yesus sebagai satu-satunya jalan ke surga.

 

Perhatikan bahwa Kis 4:12 itu menyatakan bahwa ‘keselamatan itu ada di dalam Yesus’, dan 1Yoh 5:11-12 menyatakan bahwa ‘hidup yang kekal itu ada di dalam Yesus’.

Bayangkan Yesus sebagai sebuah kotak yang di dalamnya berisikan keselamatan / hidup kekal. Kalau seseorang menerima kotaknya (Yesus), maka ia menerima isinya (keselamatan / hidup yang kekal), dan sebaliknya kalau ia menolak kotaknya (Yesus), otomatis ia juga menolak isinya (keselamatan / hidup yang kekal).

 

Perhatikan juga kata-kata ‘di bawah kolong langit ini’ dalam Kis 4:12, dan kata-kata ‘barangsiapa tidak memiliki Anak’ dalam 1Yoh 5:12 itu. Ini menunjukkan bahwa tidak mungkin kata-kata ini ditujukan hanya untuk orang kristen. Ayat-ayat tersebut di atas ini berlaku untuk seluruh dunia!

 

Juga perhatikan bahwa berbeda dengan Yoh 14:6 yang diucapkan oleh Yesus kepada murid-muridNya (orang-orang yang percaya / kristen), maka Kis 4:12 diucapkan oleh Petrus kepada orang-orang Yahudi yang anti kristen! Jadi jelas bahwa ayat ini tidak mungkin dimaksudkan hanya bagi orang kristen!

 

b.   Karena Kristus adalah Allah sendiri dan Ia satu dengan BapaNya (Yoh 10:30).

Yoh 10:30 - “Aku dan Bapa adalah satu.’”.

Karena itu sikap kepada Yesus Kristus merupakan sikap terhadap Allah Bapa (Yoh 5:23  14:9  15:23  1Yoh 2:22-23).

 

Yoh 5:23 - supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa, yang mengutus Dia.”.

 

Yoh 14:9 - “Kata Yesus kepadanya: ‘Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.”.

 

Yoh 15:23 - “Barangsiapa membenci Aku, ia membenci juga BapaKu.”.

 

1Yoh 2:22-23 - “(22) Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus? Dia itu adalah antikristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak. (23) Sebab barangsiapa menyangkal Anak, ia juga tidak memiliki Bapa. Barangsiapa mengaku Anak, ia juga memiliki Bapa.”.

 

Dengan demikian, orang yang tidak percaya kepada Yesus, sama dengan tidak percaya kepada Allah. Lalu bagaimana ia mau masuk surga yang adalah milik Allah?

 

c.   Karena Kristus adalah satu-satunya Penebus / Juruselamat dosa.

Orang yang tidak mau percaya dan menerima Yesus sebagai Jurusela­mat / Penebus dosanya, harus membayar dosanya sendiri, dan karena itu ia harus masuk ke neraka selama-lamanya!

 

d.   Dalam Perjanjian Lama, Allah berulang kali hanya memberikan 1 jalan untuk bebas dari hukuman, yang adalah TYPE / gambaran dari Kristus.

 

Contoh:

 

(1) Bahtera Nuh (Kej 6-8).

Pada jaman Nuh itu, kalau orang tidak mau masuk ke dalam bahtera, maka tidak ada jalan lain baginya melalui mana ia bisa selamat. Pada waktu banjir itu mulai meninggi, ia mungkin akan mencoba naik pohon, naik atap rumah, naik gunung yang tinggi, dsb, tetapi ia akan tetap mati, karena air bah itu merendam seluruh dunia bahkan gunung yang tertinggi sekalipun (bdk. Kej 7:19-20). Jadi jelas bahwa bahtera itu adalah satu-satunya jalan keselamatan.

 

(2) Darah pada ambang pintu (Kel 12:3-7,12-13,21-23,25-30  1Kor 5:7).

Pada waktu Allah mau menghukum orang Mesir dengan membunuh semua anak sulung, Allah memberikan jalan melalui mana bangsa Israel bisa lolos dari hukuman itu. Caranya adalah menyapukan darah domba Paskah pada ambang pintu. Dan ini adalah satu-satunya jalan melalui mana mereka bisa lolos dari hukuman Allah itu.

Selanjutnya, 1Kor 5:7b berbunyi: “Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus”. Jadi, jelaslah bahwa anak domba Paskah yang darahnya merupakan satu-satunya jalan keselamatan pada saat itu, merupakan TYPE / gambaran dari Kristus.

 

(3) Ular tembaga (Bil 21:4-9  Yoh 3:14-15).

Lagi-lagi dalam peristiwa ular tembaga, pada waktu Israel berdosa dan dihukum oleh Tuhan dengan ular berbisa, Tuhan memberikan hanya satu jalan keluar, yaitu dengan memandang kepada ular tembaga itu. Kalau mereka menolak jalan itu dan mencari jalan yang lain, apakah dengan berobat kepada tabib / dukun, atau dengan mengikat bagian yang digigit, atau dengan mencari obat lain manapun juga, mereka pasti mati. Hanya kalau mereka mau memandang kepada ular tembaga yang dibuat Musa barulah mereka bisa sembuh. Juga perlu dingat bahwa Tuhan tidak menyuruh Musa untuk membuat banyak patung ular tembaga, tetapi hanya satu patung ular tembaga!

Selanjutnya Yoh 3:14-15 berkata: “(14) Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, (15) supaya setiap orang yang percaya kepadaNya beroleh hidup yang kekal.”.

Dari ayat ini terlihat bahwa ular tembaga adalah TYPE / gambaran dari Kristus. Sama seperti pada saat itu ular tembaga itu merupakan satu-satunya jalan keselamatan, demikian juga Kristus merupakan satu-satunya jalan keselamatan.

 

Jadi, tetaplah percaya pada ajaran / doktrin bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan. Jangan peduli dengan istilah ‘kuno’, ‘ketinggalan jaman’ atau apapun juga yang dilontarkan oleh orang-orang sesat ini. Lebih baik ‘kuno tetapi Alkitabiah’ dari pada ‘modern tetapi sesat’!

 

5.   Satu hal yang harus ditekankan adalah: kalau kita percaya Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan, kita juga harus percaya bahwa orang yang bisa selamat, hanyalah orang yang percaya kepada Kristus.

Ini saya tekankan, karena saya berdebat dengan satu orang Katolik di internet, yang mengatakan bahwa ia mempercayai Yesus sebagai satu-satunya jalan keselamatan, tetapi pada saat yang sama juga mengakui bahwa orang-orang yang tidak percaya kepada Yesus bisa selamat. Bagaimana bisa demikian? Katanya, orang-orang itu tetap diselamatkan oleh jasa penebusan Kristus, jadi Yesus tetap adalah satu-satunya jalan keselamatan.

 

Tanggapan saya:

 

Ini sama sekali sesat dan tak memungkinkan, karena dalam seluruh Kitab Suci iman / percaya kepada Yesus Kristus merupakan syarat yang sangat ditekankan. Dan sebaliknya, Kitab Suci juga menyatakan bahwa orang-orang yang tidak percaya kepada Yesus Kristus akan dihukum.

 

Yoh 3:16,18 - “(16) Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. ... (18) Barangsiapa percaya kepadaNya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.”.

 

Yoh 3:36 - Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya.’”.

 

Yoh 8:24 - “Karena itu tadi Aku berkata kepadamu, bahwa kamu akan mati dalam dosamu; sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu.’”.

 

Kis 16:31 - “Jawab mereka: ‘Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.’”.

 

2Tes 1:6-10 - “(6) Sebab memang adil bagi Allah untuk membalaskan penindasan kepada mereka yang menindas kamu (7) dan untuk memberikan kelegaan kepada kamu yang ditindas, dan juga kepada kami, pada waktu Tuhan Yesus dari dalam sorga menyatakan diriNya bersama-sama dengan malaikat-malaikatNya, dalam kuasaNya, di dalam api yang bernyala-nyala, (8) dan mengadakan pembalasan terhadap mereka yang tidak mau mengenal Allah dan tidak mentaati Injil Yesus, Tuhan kita. (9) Mereka ini akan menjalani hukuman kebinasaan selama-lamanya, dijauhkan dari hadirat Tuhan dan dari kemuliaan kekuatanNya, (10) apabila Ia datang pada hari itu untuk dimuliakan di antara orang-orang kudusNya dan untuk dikagumi oleh semua orang yang percaya, sebab kesaksian yang kami bawa kepadamu telah kamu percayai.”.

 

Wah 21:8 - “Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua.’”.

 

 

NB: bagi yang akan mengikuti kebaktian online minggu depan, harap membaca makalah itu sebelumnya, karena sangat berhubungan dengan apa yang akan dibahas pada minggu yang akan datang.

 

 

-bersambung-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

buas22@yahoo.com

http://golgothaministry.org

Email : golgotha_ministry0@yahoo.com