Khotbah Pekabaran Injil

oleh : Pdt. Budi Asali M.Div.


 Sekitar Jum’at Agung

IBRANI 2:9-18

 

I) Sebelum Jum’at Agung.

1) Yesus kasihan kepada manusia (ay 16).

a) Kata ‘kasihani’ oleh NASB diterjemahkan ‘give help’ (= memberi perto-longan), dan oleh NIV diterjemahkan ‘help’ (= menolong).

Tetapi Ia menolong, jelas karena adanya kasih / kasihan. Jadi Ia bukan hanya merasa kasihan tetapi tetap berdiam diri, tetapi Ia lalu bertindak menolong (bdk. 1Yoh 3:18).

Penerapan:

Ingatlah bahwa sikap ini salah! Saudara seharusnya kasihan dan menolongnya dengan memberitakan Injil kepadanya!

b) Ay 16 ini menunjukkan bahwa Ia tidak kasihan / menolong malaikat, tetapi kasihan / menolong manusia.

Mengapa? Karena Ia memilih manusia dan bukannya malaikat! Ini kedaulatan Allah. Orang yang tidak percaya pada doktrin tentang Predestinasi harus merenungkan hal ini!

Calvin berkata bahwa ajaran tentang Predestinasi sebetulnya juga terlihat dari akhir ay 13 yang berbunyi: "anak-anak yang telah diberi-kan Allah kepadaKu". Ini menunjukkan bahwa orang bisa percaya kepada Yesus hanya kalau Allah memberikan orang itu kepada Yesus. Bandingkan dengan Yoh 6:37: "semua yang diberikan Bapa kepadaKu akan datang kepadaKu".

Jadi jelas bahwa:

Apakah Allah memberikan seseorang kepada Yesus atau tidak, tergantung dari pemilihan / election / Predestinasi!

Tetapi berbeda dengan Allah, kita tidak mempunyai kedaulatan untuk memilih seperti itu! Kita harus berusaha menolong semua orang yang ada dalam dosa dengan memberitakan Injil kepada mereka semua tanpa pilih-pilih!

2) Yesus, yang adalah Allah, menjadi sama dengan manusia.

Ini terlihat dari beberapa ayat:

    1. Ay 14: ‘Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka’.

NIV: ‘he too shared in their humanity’ (= Ia juga mendapat bagian dalam kemanusiaan mereka).

    1. Ay 17: ‘maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudaraNya’.

Ia berbeda dengan kita hanya di dalam hal dosa, tetapi perlu dicam-kan bahwa dosa tidak termasuk dalam hakekat manusia. Sebelum Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa mereka sudah adalah manusia! Jadi, bahwa Yesus tidak berdosa tidak menunjukkan bahwa Ia bukan manusia!

    1. Ay 11a: ‘Ia yang menguduskan dan mereka yang dikuduskan, mereka semua berasal dari Satu’.

NASB: ‘are all of one Father’ (= semua dari satu Bapa).

KS Indonesia dan NASB salah, karena kata ‘satu’ diartikan menunjuk kepada Allah.

NIV: ‘are of the same family’ (= semua dari satu keluarga).

RSV: ‘have all one origin’ (= semua mempunyai satu asal mula).

KJV: ‘are all of one’ (= semua dari satu).

Terjemahan-terjemahan ini lebih benar karena kata ‘satu’ sebetulnya bukan menunjuk kepada Allah, tetapi menunjuk kepada Adam, karena maksud bagian ini adalah untuk menunjukkan bahwa Yesus betul-betul telah menjadi manusia yang sama dengan kita.

Ini menunjukkan bahwa Yesus betul-betul berasal dari benih / sel telur Maria! Ini terlihat dengan lebih jelas dalam Luk 1:42 dimana Elisabet, yang penuh dengan Roh Kudus, menyebut Yesus sebagai ‘buah rahim Maria’. Jadi jelaslah bahwa Yesus bukanlah semacam bayi tabung ‘made in heaven’ (= buatan surga) yang lalu dimasukkan ke dalam kandungan Maria!

    1. Ay 11b: ‘Ia tidak malu menyebut mereka saudara’.

Calvin: istilah ‘tidak malu’ menunjukkan besarnya beda tingkat antara kita dan Kristus. Tetapi toh Ia tidak malu untuk menjadi manusia / menyetingkatkan diriNya dengan kita dan menyebut kita saudara!

    1. Ay 9: ‘Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat’ (bdk. ay 7).

Ini (dan juga ay 7) salah terjemahan!

Dalam bahasa Yunaninya ada istilah BRACHU TI, yang artinya adalah a little (= sedikit). Ada 2 kemungkinan untuk istilah ini:

RSV: ‘who for a little while was made lower than the angels’ (= yang untuk waktu yang singkat dijadikan lebih rendah dari malaikat-malaikat).

NASB: ‘who has been made for a little while lower than the angels’ (= yang untuk waktu yang singkat telah dijadikan lebih rendah dari malaikat-malaikat).

NIV: ‘who was made a little lower than angels’ (= yang dijadikan sedikit lebih rendah dari malaikat-malaikat).

KJV: ‘who was made a little lower than the angels’ (= yang dijadi-kan sedikit lebih rendah dari malaikat-malaikat).

Ada 2 alasan dari pandangan ini:

o        Bandingkan ini dengan ay 7 yang dikutip dari Maz 8:6 yang da-lam terjemahan KJV (Psalm 8:5) berbunyi: ‘For thou hast made him a little lower than angels’, maka kelihatannya tafsiran no 2 yang benar.

o        Arti ‘a little while’ (= waktu yang singkat) tidak cocok karena Yesus tidak menjadi manusia untuk sementara waktu saja, tetapi untuk seterusnya / selama-lamanya.

Jadi arti bagian ini: pada waktu Yesus menjadi manusia Ia dijadikan sedikit lebih rendah dari malaikat.

II) Pada Jum’at Agung.

1) Yesus mengalami penderitaan (ay 10) dan kematian / maut (ay 9).

a) Inilah sebabnya Yesus menjadi manusia! Sebagai Allah Ia tidak bisa menderita ataupun mati. Kalau Ia mau menebus / memikul hukuman dosa manusia, Ia harus menjadi manusia lebih dulu, maka barulah Ia bisa menderita dan mati!

Jadi, supaya Jum’at Agung bisa ada, Natal harus ada!

b) Penderitaan dan kematian yang dialami oleh Yesus.

Hal-hal yang secara khusus perlu direnungkan dari penderitaan Yesus adalah:

Cambuk Romawi yang diberi benda-benda tajam itu secara huruf-iah merobek-robek punggung Yesus. Kitalah yang seharusnya menerima hukuman itu, tetapi Yesus rela menggantikan kita untuk memikul hukuman itu!

Bayangkan / renungkan bagaimana rasanya pada waktu paku-paku menembus tangan dan kaki Yesus. Bayangkan / renungkan juga pada waktu salib yang mula-mula ditidurkan itu diberdirikan, betapa sakitnya lubang di tangan Yesus yang harus menahan berat badan Yesus! Kitalah yang seharusnya merasakan semua ini sebagai hukuman atas dosa-dosa kita, tetapi Yesus rela memikul semua ini bagi kita!

Hubungan Yesus dengan Bapa adalah hubungan yang paling de-kat / intim yang bisa dibayangkan. Karena itu jelas bahwa perpi-sahan ini adalah sangat menyakitkan bagi Yesus! Kalau suami istri / orang yang berpacaran yang saling mencintai harus mengalami perpisahan, itu pasti merupakan sesuatu yang berat dan sangat menyakitkan. Lebih-lebih Yesus, yang hubungannya dengan Bapa lebih dekat / intim dibandingkan suami istri / orang berpacaran yang manapun juga, pastilah merasakan rasa sakit yang luar biasa akibat perpisahan tersebut.

Kitalah yang seharusnya terpisah selama-lamanya dengan Bapa karena segala dosa kita (2Tes 1:9), tetapi Yesus rela mengalami keterpisahan yang menyakitkan itu, supaya kita bisa diperdamai-kan dengan Allah!

2) Ia mengalami maut bagi semua manusia (ay 9 akhir).

a) ‘untuk semua manusia’ (for everyone).

Ini tidak menunjuk pada semua manusia, karena ini harus ditafsirkan sesuai dengan:

Seharusnya adalah many sons (= banyak anak).

Jadi, hanya menunjuk kepada anak Allah.

Sebagai orang Reformed / Calvinist, saya percaya pada doktrin Limited Atonement, yang mengatakan bahwa tujuan penebusan Kris-tus bukanlah untuk seluruh dunia, tetapi hanya untuk orang pilihan.

Sebagai salah satu argumentasi bisa saya berikan sebagai berikut: kalau Kristus mati untuk menebus / membayar dosa semua umat manusia, lalu bagaimana dengan orang yang tidak percaya kepada Kristus? Kalau mereka masuk neraka, maka itu berarti bahwa dosa mereka yang sudah dibayar oleh Kristus, ditagih lagi dari mereka oleh Allah. Berarti dosa yang sama dihukum 2 x, 1 x pada diri Kristus, dan 1 x pada diri mereka. Ini jelas tidak adil!

b) Ay 9 akhir (Inggris): taste death (= mengecap / mencicipi kematian).

Calvin tidak mengerti mengapa digunakan istilah taste (= mengecap mencicipi). Tetapi penterjemah Calvin Commentary (Surat Ibrani), yaitu John Owen, berkata: dalam Kitab Suci, ‘to taste food’ / mencicipi makanan sering diartikan sekedar ‘to eat it’ / memakan makanan itu (Kis 10:10 Kis 20:11 Kis 23:14). Jadi, ‘to taste death’ / mencicipi kematian artinya adalah ‘to die, to undergo death’ (= mati, mengalami kematian). Bandingkan dengan:

NIV: ‘will not taste death’ (= tidak akan mencicipi kematian).

NASB: ‘shall not taste death’ (= tidak akan mencicipi kematian).

NIV: ‘will not taste death’ (= tidak akan mencicipi kematian).

NASB: ‘shall not taste death’ (= tidak akan mencicipi kematian).

Jelas bahwa dalam kedua ayat ini, istilah ‘taste death’ (= mencicipi kematian) ini dipakai dalam arti ‘mati / mengalami kematian’.

c) ‘by the grace of God (= oleh kasih karunia Allah)’.

Kata-kata ini menunjukkan bahwa kita tidak layak menerima pengor-banan Yesus ini.

Kita semua adalah orang berdosa yang layaknya menerima kutukan, hukuman, kematian, dan neraka! Tetapi Allah yang penuh kasih ka-runia memberikan kepada kita apa yang tidak layak kita terima yaitu pengorbanan Kristus untuk menyelamatkan kita!

III) Setelah / akibat Jum’at Agung.

1) Bagi Yesus.

a) Yesus disempurnakan (ay 10).

Ini tentu tidak berarti bahwa Ia tadinya tidak sempurna!

Pada waktu dikatakan bahwa Allah menyempurnakan (to make per-fect) Yesus melalui penderitaan, artinya: Allah menjadikan Yesus ‘per-fectly qualified’ (= memenuhi syarat secara sempurna) dalam:

b) Yesus dimuliakan (ay 9).

Yesus mengalami perendahan dan derita maut, baru kemuliaan dan hormat!

Pulpit Commentary: "His crowning was the consequence of His suffering" (= pemahkotaanNya merupakan akibat dari penderitaanNya).

Penerapan:

Kalau jalan yang dilalui Yesus adalah mengalami penderitaan dan baru kemuliaan, maka kalau kita adalah pengikut Yesus, kita harus melalui jalan yang sama! Karena itu, hati-hatilah dengan ajaran po-puler jaman ini yang mengatakan bahwa kalau kita ikut Yesus maka segala sesuatu akan menjadi lancar dan enak! Bdk. Yoh 15:20.

c) Yesus adalah ‘the author of salvation’ (ay 10).

Kitab Suci Indonesia menterjemahkan ay 10: ‘yang memimpin mereka kepada keselamatan’. Ini terjemahan yang salah. Kitab Suci bahasa Inggris menterjemahkan ‘the author of salvation’. Istilah ‘author’ diter-jemahkan dari kata bahasa Yunani ARCHEGOS, yang artinya bisa bermacam-macam, yaitu: head (= kepala), chief (= kepala / ketua), founder (= pendiri), originator (= yang memulai), source (= sumber), origin (= asal usul). Jadi, ‘author of salvation’ artinya adalah ‘sumber / asal usul keselamatan’.

Ini menunjukkan bahwa keselamatan hanya bisa didapatkan dari / melalui Yesus.

Bandingkan ini dengan Kis 4:12 yang berbunyi:

"Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada kita yang olehnya kita dapat diselamatkan".

Ayat ini menunjukkan bahwa keselamatan ada (dan hanya ada) di dalam Yesus. Kalau saudara menerima Yesus, saudara secara oto-matis juga menerima keselamatan, tetapi kalau saudara menolak Ye-sus, saudara secara otomatis juga menolak keselamatan, tidak peduli apapun agama saudara (kristen sekalipun) dan tidak peduli betapa baiknya saudara hidup! Ingat bahwa sebaik-baik saudara hidup, saudara tetap mempunyai dosa, dan bahkan mempunyai banyak do-sa. Tanpa Yesus sebagai Penebus / Juruselamat dosa saudara, sau-dara harus membayar sendiri dosa-dosa saudara itu di dalam neraka!

2) Bagi setan.

Setan, yang berkuasa atas maut, dimusnahkan (ay 14).

a) Ini tidak berarti setannya betul-betul musnah dalam arti tidak ada lagi, dan juga tidak berarti bahwa setannya dimasukkan ke neraka. Setan baru dimasukkan ke neraka pada akhir jaman (Wah 20:10).

Arti yang benar adalah: setan dikalahkan.

b) Apakah dengan kematianNya Yesus mengalahkan setan?

Memang dalam arti tertentu, kematian Yesus itu merupakan kekalahan (bdk. Kej 3:15 - ‘tumit yang diremukkan’), tetapi kematian Yesus itu jelas juga adalah suatu kemenangan, karena melalui kematian Yesus itulah keselamatan bisa datang kepada manusia berdosa!

Disamping itu kita perlu mengingat kata-kata Calvin sebagai berikut:

"So then, let us remember that whenever mention is made of His death alone, we are to understand at the same time what belongs to His resurrection. Also, the same synecdoche applies to the word ‘resurrection’: whenever it is mentioned separately from death, we are to understand it as including what has to do especially with His death" (= jadi, marilah kita mengingat bahwa kalau hanya disebutkan tentang kematianNya, kita harus mengartikan pada saat yang sama, apa yang termasuk dalam kebangkitanNya. Juga ‘synecdoche’ yang sama berlaku terhadap kata ‘kebangkitan’: kalau kata itu disebutkan terpisah dari kematian, kita harus menafsirkan kata itu beserta apa yang termasuk dalam kematian-Nya).

Catatan:

Synecdoche = suatu gaya bahasa dimana yang sebagian mewakili seluruhnya. Jadi yang dimaksud adalah seluruhnya, tetapi disebutkan hanya sebagian. Contoh: Amsal 15:3 berkata: "Mata TUHAN ada di segala tempat". Ini tentu tidak berarti bahwa hanya ‘mata TUHAN’ saja yang ada di segala tempat, tetapi ‘seluruh TUHANnya’ ada di segala tempat. Jadi, ‘mata TUHAN’ (sebagian) mewakili ‘TUHAN’ (seluruh).

c) Dengan demikian, setan cuma bisa menakuti, tetapi tidak mungkin merugikan atau mengalahkan / menghancurkan kita! Ini tidak berarti bahwa kita boleh meremehkan dia! Kita tidak perlu takut kepada dia, tetapi kita tetap harus waspada terhadap dia.

1Pet 5:8 - "Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti seekor singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya".

3) Bagi kita.

a) Kita dikuduskan (ay 11).

John Owen: istilah dikuduskan / menguduskan dalam ay 11 ini tidak menunjuk pada sanctification (= pengudusan), karena kontex menun-jukkan bahwa di sini istilah itu menunjuk pada expiation / atonement (= penebusan).

Bdk. ay 17: ‘mendamaikan dosa seluruh bangsa’.

NASB: ‘to make propitiation for the sins of the people’ (= untuk membuat pendamaian bagi dosa seluruh bangsa).

NIV: ‘he might make atonement for the sins of the people’ (= Ia bisa membuat penebusan untuk dosa seluruh bangsa).

b) Kita menjadi anak Allah / saudara Yesus (ay 12,13,14,17).

Dengan kita menjadi anak-anak Allah, maka kita pasti akan menjadi ahli waris Allah, dan karenanya pasti akan masuk ke surga.

c) Kita dilepaskan dari perhambaan oleh karena ketakutan kepada maut (ay 15).

Orang yang betul-betul percaya kepada Yesus harus yakin akan keselamatannya, dan dengan demikian ia seharusnya tidak lagi takut pada kematian. Orang kristen yang takut mati menunjukkan ada yang sangat tidak beres dengan imannya, karena dengan takut mati ia menunjukkan bahwa ia tidak yakin akan masuk surga pada saat ia mati! Kalau ia memang percaya bahwa Yesus sudah mati untuk mem-bayar semua dosa-dosanya (Kol 2:13 Tit 2:14), lalu dosa yang mana yang menyebabkan ia tidak yakin akan masuk surga? Kalau ia masih berpikir bahwa ia mungkin akan masuk ke neraka, itu menunjukkan bahwa ia tidak percaya bahwa Yesus telah mati untuk menebus semua dosa-dosanya. Mestinya semua orang kristen harus yakin akan keselamatannya, sehingga bisa berkata seperti Paulus: "Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan" (Fil 1:21).

Tetapi siapa yang dimaksud dengan ‘kita’? Hanya orang yang percaya kepada Kristus sebagai Juruselamat dan Tuhan! Hanya yang percaya kepada Kristuslah yang dijadikan anak Allah (Yoh 1:12)!

Sudahkah saudara betul-betul percaya kepada Yesus sebagai Jurusela-mat dan Tuhan saudara?

  - AMIN -


e-mail us at golgotha_ministry@yahoo.com